cover
Filter by Year
Majalah Kedokteran Bandung
Articles by issue : Vol 43, No 2 (2011)
9
Articles
Pengaruh Hiperglikemia dan Vitamin E pada Kadar Malonaldehida dan Enzim Antioksidan Intrasel Jaringan Pankreas Tikus

Suarsana, I Nyoman ( Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana ) , Utama, Iwan H. ( Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana ) , Agung, I Gusti ( Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana ) , Suartini, Ayu ( Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Udayana )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (413.293 KB)

Abstract

Pencegahan kerusakan jaringan pankreas akibat radikal bebas pada kondisi hiperglikemia kronik sangat penting dan vitamin E dapat bertindak sebagai pemusnah radikal bebas dalam mencegah perkembangan diabetes melitus. Tujuan penelitian ini untuk mengamati pengaruh vitamin E pada kondisi hiperglikemia pada aktivititas enzim superoxide dismutase (SOD), glutathione peroxidase (GPx), dan kadar malondialdehyde (MDA) pada jaringan pankreas tikus. Penelitian dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Udayana, tahun 2010. Sebanyak 15 ekor tikus putih jantan strain Spraque Dawley umur 3 bulan digunakan dalam penelitian ini. Tikus percobaan dibagi menjadi tiga kelompok perlakuan. Kelompok kontrol negatif (K0), kelompok tikus hiperglikemia (K1), serta kelompok tikus hiperglikemia dan diberi vitamin E dosis 7 mg/200 g bb/hari (K2). Kelompok hiperglikemia diberi larutan 50% glukosa, dosis 1,5 cc/ekor per oral dua kali sehari. Perlakuan diberikan selama 1 bulan. Kadar glukosa darah diperiksa menggunakan metode biosensor glukosa oksidase. Enzim SOD, GPx, dan MDA dianalisis menggunakan metode spektrofotometri. Kadar glukosa darah perlakuan K2 sebesar 153,5±8,2 mg/dL tidak berbeda (p>0,05) bila dibandingkan dengan perlakuan K1 sebesar 154,1±5,7 mg/dL. Aktivitas SOD perlakuan K2 sebesar 43,21±3,32 U/g lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan K1 sebesar 31,99±3,55 U/g (p<0,05). Aktivitas GPx perlakuan K2 sebesar 10,44±0,54 U/g tidak berbeda bermakna (p>0,05) bila dibandingkan dengan perlakuan K1 sebesar 9,39±0,59 U/g. Kadar MDA perlakuan K2 sebesar 20,27±0,87 pmol/g lebih rendah dibandingkan dengan perlakuan K1 sebesar 25,24±0,82 pmol/g (p<0,05). Simpulan, kadar SOD dan GPx rendah, sedangkan kadar MDA tinggi pada pankreas tikus dalam kondisi hiperglikemia. Pada tikus hiperglikemia yang diberi vitamin E, aktivitas SOD dan GPx tinggi, sedangkan kadar MDA rendah. [MKB. 2011;43(2):72–6].Kata kunci: Enzim antioksidan, hiperglikemia, pankreas tikus, vitamin EHiperglycemic and Vitamin E Effect on Malondialdehyde and Antioxidant Intracellular Enzyme in Rat Pancreatic TissuePrevention of pancreatic tissue damage by free radicals under conditions of hyperglycemia chronic would be important and vitamin E can act as scavengers of these oxygen radicals in preventing the development of diabetes mellitus. This study aims was to evaluate the effect of vitamin E on the hyperglycemia conditions on the blood glucose, enzyme superoxide dismutase (SOD), glutathione peroxidase (GPx), and malondialdehyde (MDA) levels in rat pancreatic tissue. Research conducted at the Laboratory of Biochemistry Faculty of Veterinary Medicine Udayana University, in 2010. A total of 15 male rats white of strains Spraque Dawley old 3 months used in this study. All of rats were divided into three groups. Negative control group (K0), group of rats hyperglycemia (K1), and group of hyperglycemia and given vitamin E dose of 7 mg/200 g bw/day (K2). Hyperglycemia group was given 50% glucose solution doses of 1.5 cc/head orally twice daily. Treatment was conducted for 1 month. Blood glucose level was measured by using glucose oxidase biosensor method. Pancreatic SOD, GPx activities, and MDA levels were measured by using spectrophotometric methods. Blood glucose levels in the K2 treatment of 153.5±8.2 mg/dL was not significantly different (p>0.05) when compared with the K1 treatment of 154.1±5.7 mg/dL. Activities of SOD enzymes in the K2 treatment of 43.21±3.32 U/g higher than the K1 treatment of 31.99±3.55 U/g (p<0.05). Activities of GPx enzymes in the K2 treatment of 10.44±0.54 U/g was not significantly different (p>0.05) when compared with K1 treatment of 9.39±0.59 U/g. MDA level in the K2 treatment of 20.27±0.87 pmol/g lower than the K1 treatment of 25.24±0.82 pmol/g (p <0.05). In conclusion, SOD and GPx enzymes levels are low whereas MDA level is high in the rat pancreatic under conditions of hyperglycemia. The hyperglycemic rat by treatment with vitamin E shows high SOD and GPx levels and low MDA levels. [MKB. 2011;43(2):72–6].Key words: Enzyme antioxidant, hyperglycemia, pancreatic rat, vitamin E

Perbandingan Pemberian Susu Kedelai Bubuk dan Susu Kedelai Rumah Tangga terhadap Glukosa Darah Puasa pada Tikus Diabetes Melitus Hasil Induksi Aloksan Monohidrat

Khrisna, Ramon ( Departemen Kependidikan Rumah Sakit Mata Cicendo ) , Sudjatno, H. R. Muchtan ( Departemen Farmakologi dan Terapi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran- Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung ) , Firmansah, Abdullah ( Departemen Ilmu Gizi Medik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran- Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (474.071 KB)

Abstract

Berbagai penelitian menemukan bahwa kedelai dan produk olahannya memiliki banyak manfaat terhadap berbagai kelainan metabolisme, salah satunya terhadap diabetes melitus (DM). Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan membandingkan penurunan kadar glukosa darah puasa sesudah pemberian susu kedelai bubuk dan susu kedelai rumah tangga pada tikus DM hasil induksi aloksan. Penelitian ini dilakukan di Departemen Farmakologi Klinik RS Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Oktober−Desember 2008 dengan metode eksperimental di laboratorium, menggunakan 30 ekor tikus yang dibagi secara acak dalam lima kelompok, salah satunya kelompok kontrol positif. Kadar glukosa darah puasa (GDP) masing-masing kelompok diperiksa setelah 14 hari perlakuan. Hasil penurunan kadar GDP rata-rata tertinggi adalah pada kelompok tikus yang mendapatkan susu kedelai rumah tangga 2 kali/hari, yaitu sebesar 297,67 mg/dL, diikuti kelompok yang mendapatkan susu kedelai bubuk 2 kali/hari (270,17 mg/dL), kelompok yang mendapatkan susu kedelai bubuk 3 kali/hari (232,67 mg/dL), dan kelompok yang mendapatkan susu kedelai rumah tangga sebanyak 3 kali/hari (178 mg/dL), sedangkan hasil penurunan kadar GDP rata-rata kontrol positif adalah 16,17 mg/dL. Hasil penurunan kadar GDP rata-rata kelompok perlakuan berbeda signifikan terhadap kelompok kontrol positif (p=0,003), namun tidak terdapat perbedaan penurunan kadar GDP yang signifikan antara masing-masing kelompok perlakuan (p=0,425). Simpulan, kedua jenis susu kedelai, baik susu kedelai bubuk maupun susu kedelai rumah tangga dapat menurunkan kadar GDP pada tikus DM hasil induksi aloksan, namun tidak terdapat perbedaan antara pemberian susu kedelai bubuk dan susu kedelai rumah tangga. Frekuensi pemberian kedua jenis susu kedelai tidak memberikan perbedaan penurunan glukosa darah. [MKB. 2011;43(2):98–104].Kata kunci: Glukosa darah, susu kedelai bubuk, susu kedelai rumah tangga, tikus diabetes melitusThe Comparison of Powdered Soymilk and Domestic Soymilk Administration on Fasting Blood Glucose Level on Induced DiabeticMelitus Rats Aloxan MonohydrateSeveral researches had proven that soybean and its processed goods have many benefits for several metabolism disorders, one of which is diabetes mellitus (DM). The objective of this research was to determine and compare the decrease in fasting blood glucose level after administration of powdered soymilk to domestic soymilk which was injected into diabetic rats caused by aloxan injection. This research study was conducted in Farmacology Clinic Department Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung on October−December 2008, with as a randomized, positivecontrolled clinical trial. Thirty mice were randomly divided into 5 groups, one of which was a control group. Fasting blood glucose (FBG) level from each group were measured after 14 days of soymilk administration. The group which was administered domestic soymilk twice daily had the highest mean decrease of FBG level (297.67 mg/dL), followed by the group powdered soymilk twice daily (270.17 mg/dL), the group with powdered soymilk three times daily (232.67 mg/dL), and the group with domestic soymilk three times daily (178 mg/dL), meanwhile the positive-controlled group had mean decrease of FBG level as 16,67 mg/dL. The result was significant compared to positive-controlled group (p=0.003). However, the difference between each group was not significant (p=0.425). It is concluded that two types of soymilk, powdered and domestic, decrease the FBG level in diabetic rats, however, the difference between the two types are insignificant. The frequency of administration of the two types of soymilk also do not give difference in decreasing the blood glucose level. [MKB. 2011;43(2):98–104].Key words: Blood glucose level, diabetic mellitus rat, domestic soymilk, powdered soymilk

Karakteristik Gangguan Dengar Sensorineural Kongenital pada Anak yang Dideteksi dengan Brainstem Evoked Response Audiometry

Dewi, Yussy Afriani ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung ) , Agustian, Ratna Anggraeni ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (455.091 KB)

Abstract

Gangguan dengar merupakan salah satu kelainan yang sering timbul sejak lahir (kongenital), sehingga deteksi dan rehabilitasi dini yang tepat dapat meningkatkan perkembangan bicara dan berbahasa. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui berbagai aspek gangguan dengar kongenital dari segi klinik maupun sosiologik. Subjek penelitian adalah anak yang dilakukan brainstem evoked response audiometry (BERA) di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin dengan gangguan dengar sensorineural bilateral kongenital selama periode April 2002–April 2005. Penelitian dilakukan secara deskriptif retrospektif. Sebanyak 286 anak termasuk dalam penelitian terdiri atas 149 (52,1%) laki-laki dan 137 (47,9%) perempuan. Sebanyak 58,7% terdeteksi pada usia >1–3 tahun. Usia anak saat dicurigai menderita gangguan dengar mulai dari usia 5 bulan sampai 14 tahun. Tenggang waktu antara usia pada saat mulai dicurigai adanya gangguan dengar dan dilakukan BERA adalah 82 (28,7%) <6 bulan, 72 (25,2%) antara >6 bulan sampai <1 tahun, dan 70 (24,4%) antara >1 sampai< 2 tahun. Penderita lebih banyak berasal dari daerah perkotaan, yaitu 149 (52,1%) anak dan sebagian besar dirujuk oleh spesialis THT sebanyak 129 (45,1%). Derajat gangguan dengar terbanyak adalah berat 181 (63,3%) dan sangat berat 96 (33,6%), sebagian besar bersifat simetris (71%). Faktor risiko terbanyak tidak teridentifikasi (51,1%), prematur/BBLR (13,6%), asfiksia (13,3%), hiperbilirubinemia (8,7%), dan rubela (7,3%). Simpulan, usia curiga pada saat anak dideteksi mengalami gangguan dengar masih tinggi. Agar deteksi dapat lebih dini, perlu peningkatan pengetahuan tenaga kesehatan dan masyarakat serta upaya pencegahan terhadap faktor risiko. [MKB. 2011;43(2):77–82].Kata kunci: Anak, brainstem evoked response audiometry (BERA), gangguan dengar sensorineural bilateral kongenital Characteristic of Congenital Bilateral Sensorineural Hearing Loss inChildren Diagnosed by Brain Evoked Response AudiometryHearing loss is one of the most common congenital anomalies, therefore early detection and rehabilitation might enhance speech ability. The purpose of this study was to explore the clinical and sociological characteristics of congenital bilateral sensorineural hearing loss. Subjects were children who suffered from congenital bilateral sensorineural hearing loss diagnosed by brainstem evoked response audiometry (BERA) in Dr. Hasan Sadikin Hospital from period of April 2002–April 2005. Data obtained retrospectively from patient’s record and presented descriptively. There were 286 children included in the study consisted of 149 (52.1%) males and 137 (47.9%) females. More (58.8%) children were detected by BERA at age of >1–3 years. Children’s age that first suspected to have hearing disorder was between 5 months and 14 years old. The delay between suspected and diagnosis was 82 (28.7%) <6 months, 72 (25.2%) between >6 months–<1 year, 70 (24.4%) between >1–<2 years. There were 52.1% (149) subjects came from urban area and 45.1% (129) of them were referred by otolaryngology-head and neck surgery specialists. The degrees of hearing loss were severe 181 (63,3%) and profound 96 (33.6%). Most cases (71%) were symmetrical. The cause of hearing loss in 51.1% of children couldn’t be determined, 13.6% were premature/low birth weight, 13.6% asphyxia, 8.7% hyperbilirubinemia, and 7.3% rubella. Conclusions, age of children when suspected to have hearing disorder is still high. Early detection needs knowledge from health provider officer, society, and prevention of the risk factors. [MKB. 2011;43(2):77–82].Key words: Brainstem evoked response audiometry (BERA), child, congenital bilateral sensorineural hearing loss

Kejadian Atopi pada Bayi Usia 6 Bulan yang Mendapat Kombinasi ASI dan Susu Formula Mengandung Probiotik dan Nonprobiotik

Yuniati, Tetty ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung ) , Sukadi, Abdurachman ( Departemen Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (404.779 KB)

Abstract

Kelahiran seksio sesarea menyebabkan terlambatnya kolonisasi flora usus sehingga akan meningkatkan kejadian atopi. Probiotik menstimulasi respons imun sehingga akan menurunkan kejadian atopi. Tujuan penelitian ini untuk menentukan apakah terdapat perbedaan kejadian atopi pada bayi yang diberikan kombinasi ASI dengan susu formula yang mengandung probiotik dan tanpa probiotik. Randomized open label clinical trial dilakukan selama periode November 2009 sampai Oktober 2010 terhadap 96 bayi normal, berat badan lahir ≥2.500 g, lahir dengan seksio sesarea di RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Sejak lahir, selama 4 minggu sebanyak 48 bayi diberikan kombinasi ASI dan susu formula probiotik dan 48 bayi sebagai kontrol, selanjutnya pemberian minuman bergantung pada orangtua. Dilakukan pencatatan lama menyusui, jumlah formula, dan faktor risiko atopi. Skin prick test dilakukan pada usia 6 bulan. Diagnosis atopi ditegakkan jika terbentuk wheal ≥4 mm. Analisis statistik dilakukan dengan chi-square untuk data kategori dan uji t untuk data numerik. Lama menyusui, jumlah formula, dan faktor risiko atopi tidak berbeda secara bermakna pada kedua kelompok (p>0,05). Reaksi atopi ditemukan positif pada 4/23 bayi yang mendapat probiotik dan 10/28 bayi tanpa probiotik (p>0,05). Disimpulkan bahwa kejadian atopi tidak berbeda antara kelompok yang diberikan ASI dan susu formula mengandung probiotik dan tidak mengandung probiotik. [MKB. 2011;43(2):55–9].Kata kunci: Atopi, kelahiran seksio sesarea, probiotikAtopic Occurence on Six-month-old Infants between Probiotic Formula-fed and Non Probiotic Formula-fed Healthy Born by Cesarean DeliveryCesarean delivery might delayed the colonization of newborn intestine and increase atopic disorders. Probiotic shown to stimulate immune responses, which has implied in the development of atopic disorders. The aim of the study was to find out the difference of atopic occurence in breastfed infants born by cesarean delivery given probiotic formula and non probiotic formula. Randomized open label clinical trial was performed on 96 healthy infants, birth weight ≥2,500 g, born by cesarean delivery in Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung during November 2009 to October 2010. Since birth, 48 infants were breastfed combined with probiotic formula and 48 infants as control group for 4 weeks and afterwards the feeding pattern depend on the parents. Skin prick test reaction was performed at 6 months old and atopy was diagnosed if the wheal ≥4 mm. Statistical analysis using chi-square and t-test. The duration of daily breastfeeding, amount of formula and risk factor for atopic disorders were not significantly different in both groups (p>0.05). Atopy were positive in 4/23 infants with probiotic and 10/28 infants positive without probiotic. It was not significantly different (p>0.05). Conclusion, the atopic occurence is not different at 6 months-old receiving breastmilk with probiotic and non probiotic formula. [MKB. 2011;43(2):55–9].Key words: Atopy, caesarean delivery, probiotic

Kesesuaian antara Metode Microscopic Observation Drug Susceptibility Assay dan Ogawa pada Biakan Mycobacterium tuberculosis

Dewi B., Ni Sayu ( Balai Besar Laboratorium Kesehatan Jakarta ) , Parwati, Ida ( Balai Besar Laboratorium Kesehatan Jakarta ) , Alisjahbana, Bachti ( Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung ) , Turbawaty, Dewi Kartika ( Balai Besar Laboratorium Kesehatan Jakarta )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (441.825 KB)

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan masalah kesehatan masyarakat di berbagai negara di dunia. Diagnosis pasti TB ditegakkan berdasarkan penemuan kuman M. tuberculosis pada pemeriksaan mikroskopik atau biakan sputum. Biakan merupakan baku emas, namun metode yang digunakan saat ini membutuhkan waktu minimal 8 minggu. Microscopic observation drug susceptibility assay (MODS) merupakan metode biakan untuk M. tuberculosis menggunakan media cair yang dapat sekaligus menguji kepekaan obat TB secara mikroskopik. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kesesuaian metode MODS dengan metode Ogawa (media padat) untuk biakan M. tuberculosis pada penderita TB paru. Penelitian cross sectional telah dilakukan di Departemen Patologi Klinik RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung dan pemeriksaan spesimen dilakukan di Balai Pengembangan Laboratorium Kesehatan (BPLK) Provinsi Jawa Barat periode April–Agustus 2010. Subjek penelitian sebanyak 133 penderita yang didiagnosis tersangka TB paru. Setiap spesimen ditanam pada dua media, media cair MODS dan media padat Ogawa. Analisis statistik kesesuaian metode MODS dengan Ogawa menggunakan uji koefisien Kappa. Terdapat 172 spesimen dari 133 subjek. Kesesuaian antara hasil biakan M. tuberculosis metode MODS dan Ogawa didapatkan nilai Kappa 0,91 yang berarti terdapat kesesuaian yang tinggi antara metode MODS dan Ogawa. Perbandingan waktu pertumbuhan M. tuberculosis secara bermakna lebih cepat (p = 0,000) pada metode MODS, yaitu 10,1 hari (rentang 4–21 hari), dibandingkan dengan metode Ogawa, yaitu 24,8 hari (rentang 14–35 hari). Simpulan, metode MODS dan Ogawa mempunyai angka keberhasilan diagnostik yang relatif sama, keunggulan metode MODS adalah pertumbuhan M. tuberculosis lebih cepat dibandingkan dengan metode Ogawa. [MKB. 2011;43(2):83–8].Kata kunci: Microscopic observation drug susceptibility assay (MODS), M. tuberculosis, Ogawa, sputumConformity Method Between Microscopic Observation Drug Susceptibility Assay and Ogawa Mycobacterium CultureTuberculosis (TB) is a problem of public health that causing high morbidity and mortality rates in various countries in the world. The diagnosis of pulmonary tuberculosis in adults can be established based on the discovery of M. tuberculosis on smear or culture of sputum. Culture is the gold standard but the availlable method is time consuming, it is need minimal eight weeks. Microscopic observation drug susceptibility assay (MODS) is one of methods for M. tuberculosis culture using liquid medium that can be a simultaneously test for M. tuberculosis drug sensitivity. The purpose of this study was to determine the conformity of the MODS method compared with Ogawa method for cultivation of M. tuberculosis in pulmonary TB patients. The cross sectional research has been conducted at Clinical Pathology Department of Dr. Hasan Sadikin Hospital, Bandung and examination of the specimen done at Health Laboratory Development Unit (BPLK), West Java Province between April to August 2010. The subjects were patients who diagnosed as pulmonary TB suspect. Each collected specimen was cultured in liquid media MODS and solid media Ogawa. To analyze the conformity of MODS and Ogawa method, Kappa coefficient of agreement was used. There were 172 specimens collected from 133 subjects. The conformity between culture results of M. tuberculosis in MODS method and in Ogawa’s method using Kappa coefficient, was high (Kappa index 0.91). The difference of growth time of M. tuberculosis significant (p=0.000), in MODS was 10.1 days (range 4–21 days) and in Ogawa method was 24.8 days (range 14–35 days). Conclusion, MODS and Ogawa’s method have the relatively similar diagnostic success rate, the advantage of MODS method is, the growth of M. tuberculosis is faster than in Ogawa method. [MKB. 2011;43(2):83–8].Key words: Microscopic observation drug susceptibility assay (MODS), M. tuberculosis, Ogawa, sputum

Identifikasi Staphylococcal Cassette Chromosome Mec Methicillin Resistant Staphylococcus aureus dengan Polymerase Chain Reaction

-, Yuwono ( Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya/Rumah Sakit Moh. Hoesin, Palembang ) , SA, Sunarjati ( Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran- Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung ) , Masria, Sadeli ( Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran- Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung ) , Supardi, Imam ( Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran- Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (572.817 KB)

Abstract

Methicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA) merupakan salah satu galur multiresisten yang menjadi masalah kesehatan global sejak 50 tahun terakhir. Secara genetik, resistensi MRSA didasari adanya insersi mecDNA atau Staphylococcal cassette chromosome mec (SCCmec) pada kromosom S. aureus. Sejauh ini telah diidentifikasi 5 tipe SCCmec, yaitu SCCmec tipe I–V yang berasal dari isolat di seluruh dunia. Akhir-akhir ini ditemukan perubahan pola penyebaran, pola kepekaan terhadap antimikrob, dan perubahan kandungan SCCmec. Oleh karena itu identifikasi SCCmec menjadi demikian penting untuk mengetahui adanya perubahan tersebut. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tipe SCCmec dari isolat MRSA yang diperoleh di rumah sakit. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Klinik RSUP Moh. Hoesin Palembang dalam rentang waktu Oktober 2008–Maret 2009. Metode yang digunakan untuk mengidentifikasi SCCmec tersebut adalah metode polymerase chain reaction (PCR) multipleks. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 33 isolat (83%) memiliki SCCmec tipe III dan 7 isolat (17%) memiliki SCCmec tipe IV. Hasil ini berbeda dengan penelitian sebelumnya yang menemukan 100% MRSA di Indonesia memiliki SCCmec tipe III. Kesimpulan dari penelitian ini adalah teridentifikasi adanya perubahan kandungan SCCmec pada isolat MRSA yang berasal dari rumah sakit. [MKB. 2011;43(2):60–5].Kata kunci: Methicillin resistant Staphylococcus aureus, polymerase chain reaction, SCCmecIdentification of Staphylococcal Cassette Chromosome Mec Methicillin Resistant Staphylococcus aureus Using Polymerase Chain ReactionMethicillin resistant Staphylococcus aureus (MRSA) is one of multiresistant strain that becomes global health problem during 50 years. Resistance of MRSA is based on insertion mobile genetic element mecDNA or Staphylococcal cassette chromosome mec (SCCmec) into chromosome of S. aureus. Researchers had been isolated five types of SCCmec-type i.e. I–V. During last ten years, researchers have been finding alteration of spreading pattern, susceptibility pattern, and content of SCCmec. Identification of SCCmec is important to elucidate these alterations. The aim of this research was to identify type of SCCmec from hospital isolates MRSA.We did the research in Moh. Hoesin General Hospital (RSUP MH) Palembang period October 2008 to March 2009. We used polymerase chain reaction (PCR) multiplex method to identify SCCmec. The result showed that 33 isolates (83%) having type III of SCCmec and 7 isolates (17%) having type IV of SCCmec. The results were different from other researcher’s founding that in Indonesia, all of MRSA have SCCmec.The conclusion of this research content of SCCmec from hospital isolates of MRSA has already been changed. [MKB. 2011;43(2):60–5].Key words: Methicillin resistant Staphylococcus aureus, polymerase chain reaction, SCCmec

Perbandingan Sensasi Nyeri 48 Jam dan 42 Hari Pascasalin Menggunakan Benang Chromic Catgut dengan Fast Absorbing Polyglactin 910

Purwara, Benny Hasan ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung ) , Sukarsa, M. Rizkar Arev ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung ) , Sasotya, R. M. Sonny ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung ) , Achmad, Eppy Darmadi ( Departemen Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (412.988 KB)

Abstract

Nyeri perineum akibat robekan yang terjadi pada saat persalinan dapat dirasakan segera setelah melahirkan atau beberapa bulan kemudian, sehingga menyebabkan dispareunia. Episiotomi sebagai profilaktik untuk melindungi integritas dasar panggul merupakan insisi bedah yang lurus dan rapi akan menggantikan laserasi kasar. Sensasi nyeri akibat penjahitan luka episiotomi dapat dikurangi dengan menggunakan benang yang cepat diabsorbsi. Tujuan penelitian ini untuk membandingkan sensasi nyeri perineum pascapenjahitan luka episiotomi menggunakan benang chromic catgut dengan fast absorbing polyglactin 910 terhadap nyeri perineum 48 jam dan 42 hari pascasalin. Penelitian ini dilakukan di Departemen Obstetri dan Ginekologi FK Universitas Padjadjaran-RS Dr. Hasan Sadikin Bandung periode Desember 2009–Maret 2010. Penilaian nyeri menggunakan visual analog scale (VAS) yang dilakukan 48 jam dan 42 hari pascasalin. Lima puluh dari 100 subjek penelitian dilakukan penjahitan dengan benang chromic catgut dan 50 subjek menggunakan benang fast absorbing polyglactin 910. Analisis uji chi-kuadrat 48 jam pascasalin, didapatkan hasil tidak ada perbedaan bermakna pada penggunaan kedua benang tersebut terhadap nyeri perineum (p=0,645). Analisis 42 hari pascasalin didapatkan perbedaan bermakna (p<0,001), kejadian bebas nyeri perineum lebih baik dengan penjahitan menggunakan benang fast absorbing polyglactin 910 (46 kasus atau 92%) dibandingkan dengan pemakaian benang chromic catgut (29 kasus atau 58%). Simpulan, penjahitan luka perineum menggunakan benang fast absorbing polyglactin 910 memberikan kejadian bebas nyeri perineum yang lebih baik dibandingkan dengan benang chromic catgut pada 42 hari pascasalin. [MKB. 2011;43(2):89–92].Kata kunci: Chromic catgut, fast absorbing polyglactin 910, nyeri perineumComparative Study of Pain Sensation at 48 hours and 42 Days Postpartum Using Chromic Catgut and Polyglactin 910Perineal pain due to tears that occur during delivery can be felt immediately after birth or several months later, causing dyspareunia. Episiotomy as a prophylactic to protect the integrity of the pelvic floor is a straight and neat surgical incision will replace rough lacerations. Pain sensation due to episiotomy wound suturing can be reduced by using thread that quickly absorbed. The purpose of this study was to compare perineal pain sensation after suturing episiotomy wound using chromic catgut with using fast absorbing polyglactin 910. The perineal pain of both groups were evaluated 48 hours and 42 days post episiotomy using visual analog scale (VAS). This study was conducted at the Obstetrics and Gynecology Department, Faculty of Medicine Padjadjaran University/Dr. Hasan Sadikin Hospital period December 2009–March 2010. Fifty out of 100 subjects were sutured using chromic catgut and 50 were using fast-absorbing polyglactin 910. Chi-square test analysis at 48 hours postpartum, showed no significant perineal pain difference (p=0.645) of both groups but at 42 days the analysis showed a significant difference (p<0.001) between both groups, incidence of perineal pain free better with fast absorbing sutures using polyglactin 910 (46 cases or 92%) compared with the use of chromic catgut (29 cases or 58%). In conclusion, suturing perineal wound using fast-absorbing polyglactin 910 provide free events perineal pain better than chromic catgut in 42 days. [MKB. 2011;43(2):89–92].Key words: Chromic catgut, fast-absorbing polyglactin 910, perineal pain

Asam L Askorbat Meningkatkan Viabilitas HUVEC dalam Kultur P. falciparum yang Diinkubasi dengan Artemisinin Bergantung Konsentrasi

Tjahjani, Susy ( Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Maranatha ) , Achmad, Tri Hanggono ( Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung ) , Syafruddin, Din ( Eijkman Institute for Molecular Biology )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 2 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (850.609 KB)

Abstract

Artemisinin, antimalaria yang sangat ampuh terhadap parasit multiresisten, bekerja melalui produksi radikal bebas. Oleh karena terjadinya alur permeasi baru pada membran eritrosit yang terparasitisasi, asam L askorbat, suatu antioksidan hidrofilik, diharapkan tidak menembus membran tersebut sehingga tidak mempengaruhi daya antimalaria artemisinin melainkan hanya mempengaruhi sel inang di luar eritrosit yang terparasitisasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh asam L askorbat pada viabilitas human umbilical vein endothelial cell (HUVEC) sebagai sel inang, kadar glutation sulfil hidril (GSH), dan kadar malondialdehyde (MDA) dalam kultur Plasmodium falciparum yang diinkubasi dengan artemisinin IC50 dan asam L askorbat. Penelitian ini dilakukan di Eijkman Insitute for Molecular Biology, Jakarta dari Januari 2007 sampai Januari 2008. Kultur Plasmodium falciparum strain 3D7 diinkubasi dengan artemisinin IC50 dan berbagai konsentrasi asam L askorbat selama 24 jam dalam candle jar dan inkubator 37oC. Kadar GSH dan MDA pada supernatan diukur dengan spektrofotometri. Viabilitas HUVEC diukur dalam kokultur HUVEC- P. faciparum yang diinkubasi dengan artemisinin IC50 dan berbagai konsentrasi asam L askorbat. Data dianalisis dengan analysis of variance (ANOVA) dan Tukey honestly significant difference (HSD)/Scheffe. Eksperimen menunjukkan bahwa konsentrasi asam L askorbat 20 μM dan 100 μM dapat meningkatkan viabilitas HUVEC. Disimpulkan bahwa asam L askorbat meningkatkan viabilitas HUVEC dalam kultur P. falciparum yang diikubasi dengan artemisinin bergantung konsentrasi. [MKB. 2011;43(2):66–71].Kata kunci: Artemisinin, asam L askorbat, P. falciparum, viabilitas human umbilical vein endothelial cellL Ascorbic Acid Concentration Dependently Increases HUVEC Viability inP. falciparum Culture Incubated with ArtemisininArtemisinin via overproduction of free radical acts as a potent drug against multi-drug resistant Plasmodium. because of new permeation pathway evidence at parasitized red blood cell membrane, L ascorbic acid as hydrophilic antioxidant hopefully can’t penetrate the membrane so that it won’t interfere the artemisinin antimalarial effect rather it protects the host cell out of parasitized erythrocytes. The aim of this study was to determine its effect against human umbilical vein endothelial cell (HUVEC) viability, glutathione sulfa-hydryl (GSH), and malondialdehyde (MDA) concentration in Plasmodium falciparum culture treated with artemisinin. This experiment was conducted at Eijkman Insitute for Molecular Biology, Jakarta from January 2007 to January 2008. Plasmodium falciparum 3D7 strain culture was incubated with IC50 of artemisinin and a wide concentration range of L ascorbic acid for 24 hours in a candle jar at 37oC incubator. GSH and MDA concentration were measured from the supernatant using spectrophotometer. HUVEC viability was measured in P. falciparum-HUVEC co-cultivation incubated with artemisinin IC50 and L ascorbic acid. The result was examined and analyzed using analysis of variance (ANOVA) and Tukey honestly significant difference (HSD)/Scheffe. It showed that 20 μM and 100 μM L ascorbic acid raised the HUVEC viability. It was concluded that L ascorbic acid concentration dependently increases HUVEC viability in P. falciparum culture incubated with artemisinin. [MKB.2011;43(2):66–71].Key words: Artemisinin, human umbilical vein endothelial cell viability, L ascorbic acid, P. falciparum

Kadar Lipid Darah Mencit Betina Middle-Aged Galur Swiss Webster setelah Pemberian Jus Buah Pare (Momordica charantia L.)

Shintawati, Rita ( Jurusan Biologi-Fakultas Pendidikan MIPA Universitas Pendidikan Indonesia ) , Hernawati, -, Indraswati, Desi

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 2 (2011)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.71 KB)

Abstract

Penuaan sistem reproduksi (ovarian aging) telah diketahui pada beberapa spesies vertebrata dan manusia yang ditandai dengan kadar estrogen yang rendah. Hal ini berhubungan dengan peningkatan jumlah lipid (obesitas) dan sejumlah penyakit metabolik seperti hiperlipidemia, penyakit kardiovaskular, dll. Buah pare Momordica charantia L.) memiliki banyak manfaat yang menguntungkan bagi kesehatan manusia, seperti efek hipoglikemik, antioksidan, hipokolesterolemik, dan hipotrigliseridemik. Tujuan penelitian untuk mengetahui kadar lipid darah mencit pada usia middle-aged setelah diberikan jus buah pare. Dilakukan uji eksperimental pada Maret–April 2010 di Laboratorium Fisiologi Universitas Pendidikan Indonesia dan Kedokteran Hewan IPB terhadap 25 mencit galur Swiss Webster betina usia 10 bulan (middle-aged) yang terbagi dalam lima kelompok perlakuan berbeda (kontrol positif, kontrol negatif, 0,5 mL/40 g BB, 1,0 mL/40 g BB, dan 1,5 mL/40 g BB) yang diberikan jus buah pare selama 10 hari. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jus buah pare dapat menurunkan bobot badan mencit secara bermakna (p<0,05) pada semua dosis. Jus buah pare tidak dapat menurunkan kadar kolesterol total, tetapi meningkatkan kadar HDL (p<0,05) pada semua dosis perlakuan. Pada parameter lain, jus buah pare dapat menurunkan kadar trigliserida pada dosis 1,5 mL/40 g BB (p<0,05) dan menurunkan kadar LDL pada dosis 0,5 mL/40 g BB (136,49 mg/dL). Simpulan, jus buah pare dapat menstabilkan kadar trigliserida dan LDL kolesterol pada dosis 0,5 mL/40 g BB serta meningkatkan HDL kolesterol, tetapi tidak berpengaruh pada penurunan kadar kolesterol total. [MKB. 2011;43(2):93–7].Kata kunci: Buah pare, kadar lipid darah, mencit betina middle-agedLipid Level of Middle-Aged Female Mice Swiss Webster after Pare Juice Momordica charantia L. AdministrationOvarian aging has been noted in some vertebrate animals and human being, indicated by low estrogen level. This is related to enhancement of lipid (obesity) and some metabolic diseases such as hyperlipidemia, cardiovascular disease, etc. Pare juice (Momordica charantia L.), contains of abundant advantageous bioactivities, such as hypoglycemic effect, antioxidant, hypocholesterolemic, and hypotrigliseridemic. This research purposed was to determine blood lipid levels of mice at the age of middle-aged after being given pare juice. The experimental animal used 25 females mice of 10 months old (middle-aged) on March–April 2010 at Physiology Laboratory Universitas Pendidikan Indonesia and Veteriner Medicine IPB, divided into five different treatment groups (controle positive, controle negative, 0.5 mL/40 g bw, 1.0 mL/40 g bw, and 1.5 mL/40 g bw) which were fed with pare juice for 10 days. Completely randomized design was used in this research. Results showed that pare juice reduced lower body weight of mice (p<0.05) at all doses. Pare juice did not reduce total cholesterol levels, but increased HDL (p<0.05) at all doses. Other parameters to pare juice reduced triglyceride levels at doses of 1.5 mL/40 g BW (p<0.05) and LDL levels at dose 0.5 mL/40 g BW (136.49 mg/dL). In conclusions, pare juice can stabilize triglyseride and LDL cholesterol level at dose 0.5 mL/40 g BW and increases HDL cholesterol, but has no influence to total cholesterol. [MKB. 2011;43(2):93–7].Key words: Blood lipid, middle-aged female mice, pare fruit DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v43n2.50