cover
Filter by Year
Majalah Kedokteran Bandung
Articles by issue : Vol 43, No 1 (2011)
8
Articles
Efek Pemberian Niasin terhadap Glukosa Darah pada Tikus Wistar dengan Obesitas

Hermawan, Robby ( Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin ) , Sitorus, Trully D. ( Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin ) , Sastramihardja, Herri S. ( Departemen Farmakologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (336.738 KB)

Abstract

Niasin memiliki kontroversi mengenai efeknya terhadap pengaturan glukosa darah. Penelitian bertujuan untuk mengetahui efek niasin terhadap kadar glukosa darah pada tikus Wistar dengan obesitas yang diinduksi diet. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratorik dengan desain paralel yang menggunakan randomisasi di laboratorium Farmakologi Fakultas Kedokteran Unpad periode Juli 2008–Maret 2009. Penelitian dilakukan pada tikus jantan galur Wistar. Pertama, semua subjek penelitian diinduksi menjadi obesitas dengan diet tinggi lemak selama 10 minggu. Tikus yang memenuhi kriteria dibagi dalam dua kelompok secara acak. Kelompok pertama diberikan plasebo. Kelompok kedua diberikan niasin. Niasin dan plasebo diberikan selama 20 hari. Dosis niasin yang diberikan sebesar 0,135 mg/gBB/hari. Glukosa darah puasa (GDP) dan tes toleransi glukosa oral (TTGO) diukur pada hari ke-21. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan perlakuan baik pada GDP maupun TTGO. GDP kelompok niasin lebih rendah 4,0 mg/dL (IK95% -0,342–8,4) dibandingkan dengan kelompok kontrol, dengan p=0,068, sedangkan hasil TTGO kelompok niasin lebih tinggi 0,8 mg/dL (IK95% -5,6–7,1) dibandingkan dengan kelompok kontrol, dengan p=0,800. Disimpulkan pemberian niasin tidak menyebabkan perbedaan kadar GDP dan TTGO pada tikus jantan galur Wistar dengan obesitas yang diinduksi diet. [MKB. 2011;43(1):16–20].Kata kunci: Glukosa darah puasa, niasin, obesitas, tes toleransi glukosa oralThe Effect of Niacin to the Blood Glucose in Obese Wistar RatsNiacin has many controversies about its effect to the management of the blood glucose. The objective of the research was to know the effect of niacin to the blood glucose in obese wistar rats. This research was an experimental laboratory study with a parallel design using randomization. Male Wistar rats were used in this research. All rats were induced to be obesed with high-fat feeding for 10 weeks. Rats that fulfill the criteria were randomly divided into two groups. The first group was given the placebo. The second group was given the niacin. The niacin and the placebo were given for the next 20 days. The niacin dose was 0.135 mg/g body weight/day. Fasting blood glucose (FBG) and oral glucose tolerance test (OGTT) were taken on the 21st day. The results showed that there were not any significant differences in FBG and OGTT between control and treated group. The FBG of the niacin group was 4.0 mg/dL (95% CI -0.342–8.4) lower than the control group, with p=0.068. The OGTT result of the niacin group was 0.8 mg/dL (95% CI -5.6 –7.1) higher than the control group, with p=0.800. This study concludes that taking niacin does not cause differences in FBG and OGTT results in the male Wistar rats with diet induced obesity. [MKB. 2011;43(1):16–20].Key words: Fasting blood glucose, niacin, obesity, oral glucose tolerance test

Prothrombin Time, Activated Partial Thromboplastin Time, Fibrinogen, dan D-dimer Sebagai Prediktor Decompensated Disseminated Intravascular Coagulation Sisseminated pada Sepsis

Fenny, Fenny ( Bagian Patololgi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin, ) , Dalimoenthe, Nadjwa Zamalek ( Bagian Patololgi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin, ) , Noormartany, Noormartany ( Bagian Patololgi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin, ) , Pranggono, Emmy ( Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Dewi, Nina Susana ( Bagian Patololgi Klinik Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin, )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (359.868 KB)

Abstract

AbstrakSepsis adalah respons sistemik terhadap infeksi dan terutama terjadi pada pneumonia. Sepsis dapat menyebabkan komplikasi disseminated intravascular coagulation (DIC) yang dibedakan menjadi compensated dan decompensated DIC. Tujuan penelitian ini adalah untuk menentukan apakah nilai prothrombin time (PT), activated partial thromboplastin time (aPTT), kadar fibrinogen, dan D-dimer dapat digunakan sebagai prediktor decompensated DIC pada penderita sepsis. Penelitian dilakukan di Laboratorium Patologi Klinik Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung mulai September 2008 sampai Juni 2010. Subjek penelitian adalah penderita sepsis yang disebabkan pneumonia. Nilai PT, aPTT, kadar fibrinogen, dan D-dimer semua subjek sepsis dicatat kemudian dilakukan pengamatan sampai subjek dinyatakan mengalami decompensated atau non-decompensated DIC; selanjutnya dilakukan analisis nilai PT, aPTT, kadar fibrinogen, dan D-dimer pada kelompok decompensated dan non-decompensated DIC. Penelitian menggunakan rancangan cohort. Subjek berjumlah 39 orang (58%) penderita sepsis dengan luaran decompensated DIC dan 28 orang (42%) penderita sepsis dengan luaran non-decompensated DIC. Dari parameter hemostasis yang diperiksa, didapatkan bahwa nilai PT, aPTT, dan fibrinogen merupakan prediktor decompensated DIC pada penderita sepsis dengan risiko relatif (RR) masing-masing 240,500; 7,157; dan 6,421. Simpulan, prothrombin time, aPTT, dan fibrinogen merupakan pemeriksaan untuk mengetahui aktivasi koagulasi. Parameter hemostasis yang merupakan prediktor decompensated DIC pada penderita sepsis adalah nilai PT dan aPTT yang memendek serta kadar fibrinogen yang meningkat. [MKB. 2011;43(1):49–54].Kata kunci: Activated partial thromboplastin time, D-dimer, disseminated intravascular coagulation, fibrinogen, prothrombin time, sepsisProthrombin Time, Activated Partial Thromboplastin Time, Fibrinogen,and D-dimer as a Predictor of Decompensated Disseminated Intravascular Coagulation in SepsisAbstractSepsis is a systemic response to infection especially in pneumonia case. Sepsis can cause complications such as disseminated intravascular coagulation (DIC) which can be divided into compensated and decompensated DIC. The purpose of this study was to assess whether the value of prothrombin time (PT), activated partial thromboplastin time (aPTT), fibrinogen, and D-dimer levels can be used as predictors of decompensated DIC in sepsis patients. This study was conducted at the Laboratory of Clinical Pathology Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung since September 2008 to June 2010. Subjects were patients with sepsis caused by pneumonia. PT and aPTT values, fibrinogen, and D-dimer levels was recorded from all sepsis patients then patients were observed until diagnosed decompensated or non-decompensated DIC, then the value of PT, aPTT, fibrinogen and D-dimer levels in the group of decompensated DIC and non-decompensated DIC were analysed. This study used cohort design. Subjects were 39 sepsis patients (58%) with outcome decompensated DIC and 28 sepsis patients (42%) with outcome non-decompensated DIC. From the hemostasis parameter test out, it was found that PT, aPTT, and fibrinogen were the predictor of decompensated DIC in patients with sepsis with relative risk 240.500, 7.157, and 6.421; respectively. Conclusions, prothrombin time, aPTT, fibrinogen are the test to know coagulation activation. Hemostasis parameter to predict decompensated DIC in sepsis patients are the shorten PT, aPTT, and the increased fibrinogen. [MKB. 2011;43(1):49–54].Key words: Activated partial thromboplastin time, D-dimer, disseminated intravascular coagulation, fibrinogen,prothrombin time, sepsi

Risk Factors to Growth Retardation in Major Thalassemia

Uda, Riva ( Department of Child Health, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran-Hasan Sadikin Hospital ) , Idjradinata, Ponpon S. ( Department of Child Health, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran-Hasan Sadikin Hospital ) , Djais, Julistio TB ( Department of Child Health, Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran-Hasan Sadikin Hospital )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (322.979 KB)

Abstract

The increasing in the life span of patients with major thalassemia should be followed by increased quality of life. There are factors which can affect growth retardation in these patients. The aim of this study was to find out the risk factors for growth retardation in patients with major thalassemia. An analytical study with cross-sectional design was conducted at Pediatric Thalassemia Clinics of Dr.Hasan Sadikin Hospital, Bandung, in June to July 2006. The subjects of this study were patients with major thalassemia. Inclusion criteria’s were age under 14 years old, had no chronic diseases like tuberculosis, cerebral palsy with complete medical records. Risk factors were the timing of diagnosis, initial and dose of deferoxamine, volume of transfused blood, mean pretransfusion hemoglobin level, family income, and age. Antropometric measurement indices were used to assess the growth which expressed in Z score. Growth evaluated based on height/age (H/A) and growth retardation if H/A <-2 SD. Risk factors for growth retardation were analyzed separately using chi-square test and odds ratio (OR) with 95% confidence interval (CI). Then they were analyzed simultaneously with logistic regression method. Subjects consisted of 152 patients with major thalassemia. Seventy three thalassemia patients were stunted. Analysis showed that age (OR: 5.42, 95% CI:2.32–12.65, p <0.001), dosage of deferoxamine (OR: 4.0, 95% CI: 1.29–12.41, p: 0.016), and family income (OR: 2.32, 95% CI: 1.06–5.06, p: 0.036) were risks factors for growth retardation. Conclusion, risk factors for growth retardation in major thalassemia are age, dosage of deferoxamine, and family income. [MKB. 2011;43(1):21–5].Key words: Major thalassemia, risk factors, stuntedFaktor Risiko terhadap Gangguan Tumbuh pada Thalassemia MayorBertambahnya harapan hidup penderita thalassemia, seyogianya diikuti dengan kualitas hidup seperti anak normal. Terdapat berbagai faktor risiko yang mempengaruhi terjadinya gangguan tumbuh pada penderita thalassemia mayor. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui berbagai faktor risiko terjadinya gangguan tumbuh pada penderitathalassemia mayor. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan rancangan cross sectional di Poliklinik Anak thalassemia Dr. Hasan Sadikin, Bandung, pada bulan Juni–Juli 2006. Subjek penelitian ini adalah penderita thalassemia mayor. Kriteria inklusi adalah penderita berusia <14 tahun, tidak mempunyai penyakit kronik seperti tuberkulosis, palsi serebral, dan rekam medis yang lengkap. Faktor risiko adalah usia saat penegakan diagnosis, usia mulai menggunakan desferoksamin, dosis desferoksamin, volume darah yang telah diterima, kadar hemoglobin rata-rata sebelum transfusi, penghasilan keluarga, dan usia penderita. Dengan antropometri akan ditentukan pertumbuhan berdasarkan skor-Z. Pertumbuhan dinilai dari indeks tinggi badan/usia dan penderita yang mengalami gangguan tumbuh bila tinggi badan/usia <-2 SD. Faktor risiko gangguan tumbuh dianalisis menggunakan uji ki kuadrat dan rasio odds (RO) dengan interval kepercayaaan (IK) 95%, selanjutnya dilakukan analisis dengan metode regresi logistik. Subjek terdiri atas 152 penderita thalassemia mayor. Terdapat 73 penderita yang mengalami gangguan tumbuh. Hasil analisis menunjukkan usia penderita (RO 5,42; IK 95%: 2,32–12,65, p <0, 001), dosis desferoksamin (RO 4,0; IK95%:1,29–12,41, p: 0,016), dan penghasilan keluarga (RO 2,32; IK 95%:1,06–5,06, p: 0,036). merupakan faktor risiko terjadinya gangguan tumbuh. Simpulan, faktor risiko terjadinya gangguan tumbuh pada thalassemia mayor adalah usia, dosis desferoksamin, dan penghasilan keluarga. [MKB. 2011;43(1):21–5].Kata kunci: Faktor risiko, gangguan tumbuh, thalassemia mayor

Efek Antidiabetes Kombinasi Ekstrak Bawang Putih (Allium sativum Linn.) dan Rimpang Kunyit (Curcumma domestica Val.) dengan Pembanding Glibenklamid pada Penderita Diabetes Melitus Tipe 2

Setiawan, Ame Suciati ( Departemen Oral Biologi-Farmakologi Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Padjadjaran ) , Yulinah, Elin ( Program Studi Farmakologi-Toksikologi Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung ) , Adnyana, I Ketut ( Program Studi Farmakologi-Toksikologi Sekolah Farmasi Institut Teknologi Bandung ) , Permana, Hikmat ( Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran- Rumah Sakit Hasan Sadikin ) , Sudjana, Primal ( Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran- Rumah Sakit Hasan Sadikin )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (400.638 KB)

Abstract

Kombinasi ekstrak bulbus bawang putih (Allium sativum Linn.) dan rimpang kunyit (Curcumma domestica Val.) dapat digunakan sebagai obat antidiabetes oral pada penderita diabetes melitus (DM) tipe 2, dan secara klinis telah terbukti dapat menurunkan kadar glukosa darah dengan dosis 2,4 g/hari. Penelitian klinis dilakukan untuk melihat efek antidiabetes kombinasi ekstrak dibandingkan dengan antidiabetik oral, glibenklamid. Subjek adalah usia >35 tahun dengan DM tipe 2 yang berobat ke poliklinik Penyakit Dalam dan Endokrin Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung periode November 2007–Agustus 2008 dan telah mendapat terapi gizi medis selama 2 minggu. Penelitian dilakukan secara paralel, acak, dan tersamar ganda. Penggunaan kombinasi ekstrak menunjukkan penurunan kadar glukosa darah puasa rata-rata 9,25 mg/dL, glukosa darah 2 jam postprandial (PP) 22,25 mg/dL, HbA1c 1,30%, serta insulin 12,57 mg/dL bila dibandingkan dengan baseline glibenklamid rata-rata kadar glukosa darah puasa 72,37 mg/dL, glukosa darah 2 jam PP 114,25 mg/dL, dan HbA1c 4,12%, tetapi meningkatkan insulin 3,34 mg/ dL. Kombinasi ekstrak tidak mempengaruhi fungsi hati, ginjal, dan profil hematologi. Kesimpulannya kombinasi ekstrak memiliki efek antidiabetes tetapi efek yang ditimbulkan tidak sebaik glibenklamid. [MKB. 2011;43(1):26–34].Kata kunci: Bawang putih, kunyit, diabetes melitus tipe 2, glibenklamid, glukosa darahAntidiabetic Effect of Combination Garlic Extract (Allium sativum Linn.)and Curcumin Extract (Curcumma domestica Val.) Compared withGlibenclamide in Type 2 Diabetes MellitusThe combination of garlic (Allium sativum Linn.) and curcumin extract (Curcumma domestica Val.) can be used as an antidiabetic oral to type 2 diabetes mellitus (DM) patients and the clinical trial showed that the extract can decrease blood glucose at a dose 2.4 g/day. This clinical trial was conducted to know the antidiabetic effect of the combination of garlic and curcumin extract compared with antidiabetic oral, glibenclamide. The subjects were >35 years of age with type 2 DM who came to internal and endocrine clinic RSUP. Hasan Sadikin Bandung and has been treated with medical nutrition therapy for 2 weeks period November 2007–December 2008. The research design was parallel, randomized and double blind. The combination of garlic and curcumin extract decreased mean value of fasting blood glucose 9.25 mg/dL, 2h PP blood glucose 22.25 mg/dL, HbA1c 1,30% and insulin 12.57 mg/ dL compared with baseline whereas glibenclamide decreased the mean value of fasting blood glucose 72.37 mg/dL, 2h PP 114,25 mg/dL, HbA1c 4.12% and increased insulin 3.34 mg/dL. In conclusion, the extract combination has antidiabetic effect eventhough the effect was not as high as glibenclamide. [MKB. 2011;43(1):26–34].Key words: Blood glucose, curcumin, garlic, glibenclamide, type 2 diabetes mellitus

Konsumsi Antioksidan dan Ekspresi Gen eNOS3 Alel -786T>C pada Penderita Hipertensi Etnik Minangkabau

Sulastri, Delmi ( Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas ) , Liputo, N.I. ( Bagian Gizi Fakultas Kedokteran Universitas Andalas )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (510.889 KB)

Abstract

AbstrakGen eNOS3 alel -786T>C merupakan salah satu gen yang berhubungan dengan kejadian hipertensi. Polimorfisme gen ini mengurangi kemampuan sintesis enzim nitric oxide synthase (NOS) sehingga sintesis nitric oxide (NO) menurun. Nitric oxide adalah senyawa vasoaktif yang menyebabkan vasodilatasi pembuluh darah. Penelitian bertujuan untuk melihat hubungan konsumsi antioksidan dengan ekspresi gen eNOS3 alel -786T>C pada penderita hipertensi etnik Minangkabau. Cross sectional study dilakukan pada 130 subjek hipertensi dan normotensi berusia 30–65 tahun di 4 kecamatan kota Padang Sumatera Barat periode 2009. Wawancara konsumsi antioksidan menggunakan food frequency questioner, kemudian dilakukan pemeriksaan gen eNOS3 dengan polymerase chain reaction dan kadar NO plasma dengan enzyme linked immunosorbent assay. Data dianalisis menggunakan uji T dan chi-square. Hasil penelitian menunjukkan kadar NO plasma subjek hipertensi 26,91±15,40 μM/L dan normotensi 25,79±15,04 μM/L. Substitusi thymine menjadi cytosine pada posisi 786 ditemukan sebanyak 1,5% pada kelompok hipertensi dan 9,2% kelompok normotensi. Kadar NO plasma rendah (67,2%) ditemukan pada subjek dengan alel heterozigot TC. Terdapat hubungan bermakna konsumsi antioksidan (vitamin E) dengan kadar NO plasma pada subjek hipertensi dengan alel heterozigot TC (p=0,03). Simpulan, terdapat hubungan konsumsi vitamin E dengan kadar NO plasma pada penderita hipertensi etnik Minangkabau yang memiliki alel heterozigot TC. [MKB. 2011;43(1):1–9].Kata kunci: Alel -786T>C, etnik Minangkabau, gen eNOS3, hipertensi, kadar NO plasmaAntioxidant Consumption and eNOS3 Gene -786T>C Allel Expressionin Hypertension Patients in Minangkabau EthnicityAbstractGene of eNOS 3 allel -786T>C is one of the important genes which is related to the high prevalence of hypertension. Polymorphism of this gene decreases nitric oxide synthase (NOS) enzyme synthesis result in reduction of nitric oxide (NO). Nitric oxide causes vasodilatation, which decreases peripheral resistant and blood pressure. The aim of this study was to evaluate the influence of an antioxidant consumption on eNOS3 gene -786T>C allel expression in hypertension patients with Minangkabau ethnicity. Cross sectional study was done on 130 hypertension and normotension subjects, 30–65 years old in 4 districts, Padang, Sumatera Barat during 2009. The interview about antioxidant consumption by food frequency questioner, the assessment of eNOS3 gene by polymerase chain reaction and NO plasma level by enzyme linked immunosorbent assay were done. The data were analyzed using t-test and chi-square. The results showed that the hypertensive’s and normotensive’s plasma NO concentration were 26.91±15.40 μM/L and 25.79±15.04 μM/L, respectively. There were thymine to cytosine substitution found at 786 position in 1.5% of the hypertensive subjects and 9.2% of the normotensive subjects. A low plasma NO levels (67.2%) was found in subjects with heterozygote TC alleles.There was a significant relationship between consumption of antioxidant (vitamin E) and NO plasma level in hypertension subjects with TC heterozygote allel. In conclusions, vitamin E influences NO plasma level in hypertension patients with heterozygote TC alleles. [MKB. 2011;43(1):1–9].Key words: Allel of -786T>C, eNOS3 gene, hypertension, Minangkabau ethnics, NO plasma level

Tinjau Ulang Nilai Faktor Penduga dan Rumus Diskriminan untuk Mendiagnosis Hipertiroid pada Mola Hidatidosa

Soetedjo, Nanny Natalia Mulyani ( Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin ) , Kariadi, Sri Hartini KS ( Departemen Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (351.956 KB)

Abstract

Penatalaksanaan mola hidatidosa hanya dengan suction curretage dapat mencetuskan krisis tiroid pada penderita hipertiroid klinis maupun subklinis. Penelitian sebelumnya menemukan bahwa frekuensi nadi >100 kali/menit, tinggi fundus uteri >20 minggu, dan kadar complete hCG >300.000 uIU/mL merupakan faktor penduga untuk diagnosis hipertiroid pada mola hidatidosa. Rumus diskriminan digunakan pada keadaan tidak didapatkan faktor penduga tersebut. Tujuan penelitian ini adalah meninjau ulang nilai faktor penduga dan rumus diskriminan untuk mendiagnosis hipertiroid pada penderita mola hidatidosa. Subjek penelitian adalah penderita mola hidatidosa yang dirawat di RS Hasan Sadikin Bandung periode tahun 2006–2008. Uji statistik menggunakan uji chi-square atau Fisher’s exact, dan uji Pearson atau Spearman. Usia rata-rata 95 kasus mola hidatidosa adalah 28,12+8,24 tahun, 79 kasus (83,2%) mempunyai kadar TSH <0,3 uIU/mL. Mempergunakan uji Fisher’s exact hanya didapatkan frekuensi nadi >100 kali/menit yang mempunyai hubungan signifikan dengan hipertiroid (p=0,000; p<0,05), Merpergunakan uji Fisher’s exact didapatkan pada kelompok frekuensi nadi <100 kali/menit dengan rumus diskriminan positif, mempunyai hubungan signifikan dengan hipertiroid (p=0,017; p<0,05). Mempergunakan uji Spearman didapatkan frekuensi nadi/menit dan kadar βhCG yang mempunyai hubungan signifikan (p=0,000 dan p=0,004; p<0,05). Kesimpulan frekuensi nadi >100 kali/menit dapat digunakan sebagai faktor penduga hipertiroid pada penderita mola hidatidosa. Pada penderita mola hidatidosa yang mempunyai frekuensi nadi <100 kali/menit, maka rumus diskriminan dapat dipakai untuk menduga hipertiroid. [MKB. 2011;43(1):35–41].Kata kunci: Frekuensi nadi, hipertiroid, mola hidatidosa, rumus diskriminanRe-review of Predictive Value and Discriminant Formula for DiagnosisHyperthyroid in Mole HydatidiformThe only treatment for mole hydatidiform patients is by suction curretage and this procedure can make thyroid storm in patient with clinical or subclinical hyperthyroid. They found that heart rate >100 beats per minute, uterus height >20 weeks, and βhCG levels >300,000 uIU/mL can be used as predictive value to diagnose hyperthyroid in mole hydatidiform patients. While discriminant formula can be used whether there were no those predictive values. The aim in this study was to see again whether predictive value and discriminant formula can be used to diagnose hyperthyroid in mole hydatidiform patients. Mole hydatidiform patients between 2006–2008 in Hasan Sadikin Hospital Bandung were entered in this study. Chi-square or Fisher’s exact test was using in this study and also Pearson or Spearman test. Means of 95 mole hydatidiform patients aged in this study was 28.12+8.24 years old, 79 patients (83,2%) had hyperthyroid with TSH level <0.3 uIU/mL. Only heart rate had significant association (p value 0.000 (p<0.05)) with hyperthyroid by using Fisher’s exact test. With Fisher’s exact test, only heart rate <100 beat per minute with positive discriminant formula had association with hyperthyroid with p value 0.017 (p<0.05), but not if they had uterus height <20 weeks. As conclusion that only heart rate >100 beats per minute can be used to predict hyperthyroid in mole hydatidiform patients. If mole hydatidiform patient has heart rate <100 beats per minute we can use discriminant formula to predict hyperthyroid. [MKB. 2011;43(1):35–41].Key words: Discriminant formula, heart rate, hyperthyroid, mole hydatidiform

Titer IgG Pertusis pada Usia Remaja, Dewasa, dan Orang Tua Mempergunakan Metode ELISA dan Mikroaglutinasi Pertusis

Bachtiar, Novilia Sjafri ( Bagian Evaluasi Produk, PT. Bio Farma, Bandung ) , Masria, Sadeli ( Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin ) , Husin, Usep Abdullah ( Departemen Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1 (2011)
Publisher : Majalah Kedokteran Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (311.225 KB)

Abstract

AbstrakImunisasi pertusis yang hanya diberikan pada masa bayi tidak dapat memberikan proteksi jangka panjang, sehingga terjadi reemerging pertusis. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan usia remaja, dewasa, dan orang tua dengan titer IgG pertusis menggunakan metode enzyme linked immunosorbent assay (ELISA) dan mikroaglutinasi pertusis (MAP). Penelitian observasi analitik dengan rancangan potong lintang ini dilakukan pada 402 subjek yang terdiri atas 134 remaja (12–18 tahun), 187 dewasa (19–49 tahun), dan 81 orang tua (50–64 tahun) di kota Bandung periode 2008–2010. IgG pertusis ditentukan dengan metode ELISA dan MAP. IgG pertusis positif berdasarkan ELISA ditemukan berturut-turut pada 92 (68,7%) remaja, 143 (76,5%) dewasa, dan 72 (88,9%) orang tua (p=0,003). Menggunakan metode MAP persentase IgG pertusis positif pada usia remaja, dewasa, dan orang tua berturut-turut sebesar 27 (20,1%), 9 (4,8%), dan 3 (3,37%), terjadi penurunan dengan bertambahnya usia (p<0,001), menunjukkan proteksi imunisasi tidak dapat bertahan lama. Bila sampel dengan MAP positif dikeluarkan untuk memperoleh titer IgG pertusis akibat infeksi pertusis alamiah maka diperoleh persentase IgG pertusis positif 68,9%. Simpulan, terdapat hubungan antara usia dan titer IgG pertusis positif pada populasi remaja, dewasa, dan orang tua di kota Bandung menggunakan metode ELISA dan MAP. Persentase IgG positif hasil pengukuran ELISA meningkat dengan semakin bertambahnya usia. [MKB. 2011;43(1):10–5].Kata kunci: Bordetella pertussis, enzyme linked immunosorbent assay, IgG, mikroaglutinasiPertussis IgG Titer Percentage in Adolescents, Adults, and Elderly UsingELISA Method and Pertussis MicroagglutinationAbstractPertussis antigen which only given in primary immunization, could not protect for a long period. In some countries whooping cough became an reemerging disease. The objective of this study was to evaluate the correlation between age and percentage of positive IgG pertussis in adolescent, adult, and elderly population using enzyme link immunosorbent assay (ELISA) and microagglutination. This observational analytic with cross sectional study was done on 402 subjects, consisted of 134 adolescents (12–18 years), 187 adults (19–49 years), and 81 elderly (50–64 years) in Bandung, period 2008–2010. Titer of pertussis IgG was measured using ELISA and microagglutinationof pertussis (MAP). The ELISA results showed positive IgG pertussis in 92 (68.7%) adolescent, 143 (76.5%) adults, and 72 (88.9%) elderly (p=0.003). The results of MAP showed positive pertussis IgG in adolescent, adults, and elderly were 27 (20.1%), 9 (4.8%), and 3 (3.37%), respectively, which was decreased with age (p<0.001).If MAP positive samples were excluded from the analysis in ELISA positive samples, which express the IgG pertussis due to contact with circulate B, the pertussis IgG positive was 68.9%. In conclusion, there is a correlation between age and percentage of positive IgG pertussis titer in adolescent, adult, and ederly population in Bandung using ELISA and MAP methods. Positive pertussis IgG by ELISA is increased with age. [MKB. 2011;43(1):10–5].Key words: Bordetella pertussis, enzyme linked immunosorbent assay, IgG, microagglutination

Pengaruh Pemakaian Pipa Nasogastrik pada Kejadian Otitis Media Efusi

Kamaludin, Deden ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok - Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Boesoirie, Thaufiq S. ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok - Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Soeseno, Bogi ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok - Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Purwanto, Bambang ( Departemen Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok - Bedah Kepala dan Leher Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran-Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 43, No 1 (2011)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (348.464 KB)

Abstract

Otitis media merupakan peradangan lapisan mukoperiosteum di telinga tengah tanpa melihat penyebab atau patogenesisnya. Angka kejadiannya bervariasi, di Bandung dan sekitarnya mencapai 6,9%. Penyebab otitis media karena terganggunya fungsi tuba eustakius dapat ditimbulkan oleh pemakaian pipa nasogastrik (PNG). Dilakukan penelitian analisis observasional untuk melihat pengaruh PNG pada kejadian otitis media efusi pada penderita rawat inap di Departemen Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok-Bedah Kepala dan Leher Rumah Sakit Hasan Sadikin. Sebanyak 34 orang subjek didapatkan dalam periode Januari 2007 yang memenuhi kriteria inklusi diikutsertakan dalam penelitian. Pada 34 subjek dilakukan pemeriksaan fisik THT dan timpanometri sebelum dan selama pemasangan PNG. Pemeriksaan timpanometri diulang tiap 24 jam sampai PNG dilepas. Timpanogram dibaca dan data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Friedman untuk membandingkan nilai tengah tekanan dan compliance antara sebelum dan sesudah pemasangan PNG. Uji Spearman correlation untuk mengetahui hubungan tekanan dengan compliance di telinga tengah. Besarnya kejadian ganguan otitis media efusi diuji dengan uji binomial. Terjadi penurunan puncak tekanan dan compliance di telinga tengah sampai hari ke-3 (p=0,197), sedangkan pada hari ke-4–ke-7 terjadi peningkatan kembali. Simpulan, penggunaan PNG tidak berpengaruh pada tingkat otitis media efusi, tetapi pada penurunan puncak tekanan (daPa) dan compliance (mmho) telinga tengah. [MKB. 2011;43(1):42–8].Kata kunci: Compliance, otitis media, pipa nasogastrik, tekanan, telinga tengah, tuba eustakiusThe Effect of Using Nasogastric Tube on Incidence of Otitis Media withEffusion Otitis media is an inflammation of the middle ear mucoperiosteal without reference to its cause or pathogenesis. The incidence rate in Bandung area was 6.9%. Otitis media caused by Eustachian tube dysfunction might be induced by the use of nasogastric tube (NGT). An observational analytic was conducted to know the effect of NGT on incidence rate of otitis media with effusion in hospitalized patients at Department of Otolaryngology-Head and Neck Surgery, Dr. Hasan Sadikin Hospital. There were 34 subjects in January 2007 were included in this study. Before NGT insertion all subjects had physical examination and tympanometry. Every 24 hours tympanometry was performed till exertion the NGT. Tympanogram was collected and analysed statistically by Friedman test to compared median value of pressure before and after NGT insertion, and that of compliance. Spearman correlation test to identify correlation between peak pressure and compliance in the middle ear, and binomial to test hypotesis. There was decreasing pressure and compliance in middle ear until day 3 (p=0.197) and increased on day -4 and -7. In conclusion, the incidence rate of otitis media with effusion is not affected by using of NGT. The using of NGT is associated with reduced peak middle ear pressure (daPa) and peak compliance (mmho). [MKB. 2011;43(1):42–8].Key words: Compliance, eustachian tube, middle ear, pressure, nasogastric tube, otitis media