cover
Filter by Year
Majalah Kedokteran Bandung
Articles by issue : Vol 42, No 2 (2010)
9
Articles
Respons Insulin Like Growth Factor-I Pascalatihan Fisik Sebagai Indikator Peningkatan Densitas Tulang pada Wanita Lanjut Usia

Almuktabar, Neng Tine Kartinah

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (148.178 KB)

Abstract

Latihan fisik merupakan salah satu upaya untuk mencegah osteoporosis pada wanita lanjut usia namun sampai saat ini indikator latihan fisik yang efektif, efisien, dan aman dalam meningkatkan densitas tulang pada wanita lanjut usia di Indonesia masih belum diketahui. Tujuan penelitian untuk mengetahui hubungan respons insulin like growth factor I (IGF-I) pascalatihan fisik, progressive resistance exercise (PRE), dan senam pencegahan osteoporosis (SPO) terhadap densitas tulang. Studi kasus eksperimen desain pretes dan postes dilakukan selama 16 minggu periode April-Juli 2005. Subjek penelitian terdiri 18 wanita lansia, usia 55-65 tahun di Puskesmas Ciwaruga Bandung yang memenuhi kriteria inklusi (usia 55-56 tahun, dan tidak mengkonsumsi obat-obatan yang berpengaruh buruk terhadap densitas tulang). Analisis statistik yang digunakan uji hubungan regresi linier berganda untuk menguji hubungan respons akut dan kronik IGF-I terhadap densitas tulang. Hasil uji regresi linier berganda respons akut dan kronik IGF-I terhadap densitas tulang pada kelompok PRE dan SPO menunjukkan titik defleksi nilai densitas tulang sebesar 0,88 dan 0,83 g/cm2 (p= 0,000). Persamaan regresi densitas tulang pada kelompok PRE =0,229 - 0,0005 respons akut + 0,00006 respons kronik (p<0,05). Persamaan regresi pada kelompok SPO menunjukan densitas tulang= 0,158 - 0,0002 respons akut + 0,00009 respons kronik (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa PRE lebih efektif dan efisien dibanding SPO.The Response of Insulin Like Growth Factor-I After Having Exercise As an Indicator for Increasing Bone Density in the Elderly WomenPhysical exercise is an effort for preventing osteoporosis in the elderly women. However, some indicators for effective, efficient, and safe physical exercises for increasing bone density in the elderly women in Indonesia are still questioning. The main purpose of research was to identify the responses correlation of IGF-I post-exercise progressive resistance exercise (PRE) and osteoporosis prevention exercise (SPO) on bone density. The experiment with pre-test and post-test design has been done for 16 weeks on April-July 2005. The subjects of this research were 18 elderly women in Ciwaruga Health Community Center (Puskesmas) that met some inclusion criteria (55-65 years old, health, and do not consume medicines which have bad effects to bone density). The multiple regression test used as statistical analysis to identify the correlation of acute and chronic responses of IGF-I on bone density. The multiple regression analysis of acute and chronic responses of IGF-1 on bone density on PRE and SPO group showed a deflection point of bone density as much as 0.88 and 0.83g/cm2 (p= 0.000). The regression model of bone density on PRE group=0.239 - 0.0005 acute response + 0.00006 chronic response (p< 0.05). The regression model on SPO:Bone density= 0.158 - 0.0002 acute response + 0.00009 chronic response (p< 0.05). Conclusion: the safe indicator for initial bone density before doing PRE and SPO exercises are 0.88 g/cm2 and 0.83 g/cm2 respectively. Therefore, PRE is relatively more effective and efficient than SPO because PRE has high exercise intensity that can increase bone density in short duration than SPO. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n2.11

Pengaruh Radioterapi Eksternal Terhadap Fungsi Sel Rambut Luar Koklea Penderita Karsinoma Nasofaring

Nurmasari, Shinta, Samiadi, Dindy, Purwanto, Bambang

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.213 KB)

Abstract

Pilihan utama pengobatan karsinoma nasofaring adalah radioterapi. Pemberian radioterapi dosis tinggi menimbulkan kerusakan struktur jaringan, salah satunya adalah gangguan pendengaran. Gangguan di koklea timbul akibat kerusakan struktur sel rambut akibat degenerasi stria vaskularis, atrofi spiral ligamen, dan membran basilaris. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui fungsi sel rambut luar koklea akibat radioterapi penderita karsinoma nasofaring. Tipe penelitian adalah studi analitik observasional dan dilakukan di Bagian IK.THT-KL/RS. Hasan Sadikin Bandung mulai Maret sampai September 2007. Dilakukan pemeriksaan audiometri, timpanometri, dan emisi otoakustik (otoacoustic emission)/OAE sebelum radioterapi, serta pemeriksaan timpanometri serta OAE saat radioterapi dan satu bulan pascaradioterapi. Untuk menguji pengaruh radioterapi eksternal digunakan uji McNemar dan uji Z. Diperoleh 42 telinga dari 27 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Didapat 18 lakilaki dan 9 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan insidens gangguan fungsi sel rambut luar koklea sebesar 9,6% pada dosis 2.000 cGy, 61,5% pada 4.000 cGy, 81,1% pada 6.600 cGy, dan 82,8% satu bulan pascaradiasi. Hubungan gangguan fungsi sel rambut luar koklea memberikan nilai sangat bermakna pada dosis 4.000 cGy sampai 6.600 cGy (p<0,001). Kesimpulan penelitian radioterapi eksternal penderita karsinoma nasofaring menyebabkan gangguan fungsi sel rambut luar koklea.Effect of External Radiotherapy to Cochlear Outer Hair Cells Function on Nasopharyngeal Carcinoma PatientsRadiotherapy is the main treatment of nasopharyngeal carcinoma. Exposure to high dose radiotherapy can cause damage to the surrounding tissue structure and hearing loss is one of it. Depraved cochlea is occur due to damaged outer hair cells (OHC) because of degeneration of striae vascularis, spiral ligament, and bacillar membrane atrophy. The purpose of this study was to understand the OHCs function due to radiotherapy in nasopharyngeal carcinoma patients. The type of study was observational analytic study with prospective design to determine the influence of radiotherapy to the function of OHC in the department of ENT-HNS Hasan Sadikin General Hospital Bandung and performed from March to September 2007. Pure tone audiometry examination, tympanometry, and otoacoustic emission (OAE) was performed before radiotherapy. Tympanometry and OAE was measured when radiotherapy performed and one month after radiotherapy. McNemar and Z test was performed to calculate the effects of radiotherapy to OHC. In this study 42 ears from 27 subjects that meet the inclusion criteria 18 men and 9 women. The result of this study showed that the prevalence of damaged OHC were 9.6% at 2,000 cGy, 61.5% at 4,000 cGy,81.1% at 6,600 cGy, and 82.8% after one month of radiotherapy. Damaged OHCs function was significance at dose radiation exposure from 4,000 to 6,600 cGy (p<0.001). The conclusion of this study is radiotherapy can alter OHCs function in patients with nasopharyngeal carcinoma.DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n2.12 

Perbandingan Pemberian Topikal Aqueous Leaf Extract of Carica Papaya (ALEC) dan Madu Khaula Terhadap Percepatan Penyembuhan Luka Sayat pada Kulit Mencit (Mus musculus)

Iwan, Januarsih, Atik, Nur

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (344.029 KB)

Abstract

Madu dan pepaya telah lama dipercaya oleh masyarakat kita memiliki efek penyembuhan luka. Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan percepatan penyembuhan luka sayat yang diberikan Aqueous Leaf Extract of Carica Papaya (ALEC) dengan madu Khaula. Penelitian dilakukan pada periode November 2006-April 2007 di Laboratorium Bagian Histologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung. Subjek penelitian eksperimental ini berupa mencit jantan galur ddy dibagi dalam 3 kelompok (setiap kelompok terdiri dari 9 mencit), kelompok gel solcoseryl sebagai kontrol standar, ALEC 10% dalam vaselin dan madu 1,0 g sebagai kelompok perlakuan. Mencit dibuat luka sayat pada daerah punggung kemudian diberikan pengobatan topikal sesuai dengan kelompoknya. Untuk melihat perubahan histologi kulit mencit dikorbankan pada hari ke-4, ke-7, dan ke-10 setelah perlukaan. Data berupa gambaran histologi kulit berdasarkan regenerasi epidermis, ketebalan granulasi jaringan dan angiogenesis, kemudian dianalisis menggunakan uji parametric independent T-test dengan nilai p< 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan perbedaan bermakna antara kelompok kontrol dan ALEC 10% dalam vaselin melalui tiga parameter di atas. Perbandingan antara kelompok kontrol dan madu Khaula menunjukkan perbedaan hanya pada regenerasi epidermis dan angiogenesis. Penggunaan ALEC 10% dalam vaselin dan penggunaan madu Khaula pada luka menunjukkan perbedaan bermakna pada regenerasi epidermis (rata-rata 2,19 (0,81) untuk ALEC 10% dan 2,67 (0,67) untuk kelompok madu, nilai p < 0,001) dan ketebalan jaringan granulasi (rata-rata 2,99 (0,94) untuk ALEC 10% dan 3,23 (0,99) untuk kelompok madu, nilai p 0,038). Hasil ini menunjukkan adanya perbedaan antara ALEC dan madu Khaula dalam percepatan penyembuhan luka, khususnya percepatan regenerasi epidermis dan granulasi jaringan. The Comparation Between Topical Aplication of the Aqueous Leaf Extract of Carica Papaya (ALEC) & Khaula Honey in Accelerating Skin Wound Healing in MiceTopical application of papaya and honey has been hypothesized to accelerate skin wound healing. The purpose of this research was to evaluate the differences between topical application of the ALEC and Khaula Honey in accelerating skin wound healing in mice. The experiment took place in Histology Laboratory, School of Medicine, Padjadjaran University, Bandung, November 2006-April 2007.The prospective experimental method was held in 10 days. Subjects were male ddy mice divided into 3 groups (each consisted of 9 mices), which were control group solcoseryl jelly, 10% ALEC in vaseline and 1.0 g Khaula honey treated group. The comparisons in accelerating skin wound healing were investigated by using full thickness skin wound model produced on the back of the mice. Solcoseryl jelly was applied topically to wound of group 1, group 2 and group 3 mice were treated topically with 10% ALEC in vaseline and Khaula honey, respectively. The mice were sacrificed on 4th, 7th, and 10th day of post wounding for evaluating the histological changes. Data was obtained by microscopically analysis of the skin based on the epidermal regeneration, granulation tissues thickness and angiogenesis and then analyzed by using parametric independent T-test. The level for statistical significant was set p < 0.05. The result of this experiment showed that there were significant difference between control group and ALEC10% in vaseline in three mentioned above. Comparison between control and Khaula honey showed differences only in epidermal regeneration and angiogenesis. Wound treated with ALEC 10% in vaseline and Khaula honey group showed significantly difference in epidermal regeneration (mean 2.19 (0.81) for ALEC 10% and 2.67 (0.67) for honey group, p value < 0.001) and granulation tissues thickness (mean 2.99 (0.94) for ALEC 10% and 3.23 (0.99) for honey group, p value 0.038).These result documented the differences of ALEC and Khaula honey for the acceleration of wound healing process in full thickness skin wound especially in epidermal regeneration and granulation tissues thickness.DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n2.13

Demografi Diabetes Melitus Tipe-I pada Anggota Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Anak dan Remaja (IKADAR)

Faisal, Endang Triningsih

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (211.203 KB)

Abstract

Diabetes melitus (DM) tipe-1 merupakan penyakit kronik karena ketergantungan insulin dari luar tubuh. Dalam pengobatan penyakit tipe ini perlu pegawasan yang ketat dan membutuhkan kesadaran dan pengertian pasien dan orangtua. Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Anak dan Remaja (IKADAR) merupakan perkumpulan anggota pasien DM, sehingga dapat saling membantu. IKADAR belum banyak dikenal luas. Dari data 167 anggota IKADAR, ditemukan perempuan lebih banyak dari laki-laki. Hanya 99 anggota yang dapat ditelusuri melalui telepon, Mayoritas bertempat tinggal di Jabotabek, 66 anggota berobat dengan biaya sendiri, 54% berkisar umur 5-10 tahun. Pengertian tentang penyakit DM ditemukan 22,2% belum mengerti penyakit maupun penanganan DM, namun sebagian besar pasien tersebut menyatakan IKADAR berperan bagi pengobatan.Demography Study Diabetes Mellitus Type 1 of Diabetes Mellitus Family MemberDiabetes mellitus (DM) is classified as a chronics disease due to its property of external insulin dependency. Intensive monitoring, as well as awareness and good understanding from the patients and their patients are prerequisite to achieve excellent result in the management this disease. Ikatan Keluarga Penyandang Diabetes Anak dan Remaja (IKADAR) is an association of DM patients together with their family which aims to facilitate the members to help and share each other. Unfortunately, IKADAR hasnt been widely known. Currently IKADAR has 167 members but only 99 members could be reached by telephone, the majority time in Jabotabek, sixty six had their medication paid out of pocket, fifty-four percent were 5-10 years of age. As many as 22.2% found to having no comprehensive understanding about DM and the management. The majority of patients suggest that IKADAR play a big role in their treatment. DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n2.14

Karakteristik dan Faktor Risiko Obstetrical Brachial Plexus Palsy pada Bayi Baru Lahir

Handoyo, Andreas Vincent, Ismiarto, Yoyos Dias

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.02 KB)

Abstract

Obstetrical brachial plexus palsy (OBPP) merupakan cedera sebagian/seluruh plexus brachialis akibat proses kelahiran. Insidensi di negara berkembang berkisar 0,15%. Faktor risiko meliputi intrapartum dan intrauterin. Dibedakan tiga jenis OBPP yaitu Duchenne Erb, Klumpke, dan whole arm palsy. Penelitian bersifat retrospektif, melihat karakteristik dan faktor risiko terjadinya OBPP di RS. Hasan Sadikin, Bandung, periode Januari 2002-April 2007. Data diperoleh dari catatan medik bagian perinatologi, kemudian dilakukan analisis binary logistic regression. Hasil penelitian menunjukkan insidensi OBPP 0,141%, seluruhnya Erb palsy dan kehamilan tunggal. Sebanyak 68,75% presentasi belakang kepala, 50% lahir spontan, 18,75% disertai meconeal staining, 62,5% berat lahir ≥3.500 g, 56,25% laki-laki, 68,75% asfiksia, 12,5% distosia bahu, dan 6,25% fraktur klavikula. Faktor risiko yang bermakna adalah presentasi kaki (OR 9,357; 95%CI), letak lintang (OR 5,136; 95%CI), ekstraksi vakum (OR 5,240;95%CI), ekstraksi forseps (OR 4,320; 95%CI), ekstraksi bokong/kaki (OR 14,411; 95%CI), berat lahir 3.500- 3.999 g (OR 4,571; 95%CI), berat lahir ≥ 4.500 g (OR 57,759; 95%CI), asfiksia (OR 5,992; 95%CI) dan asfiksia berat (OR 6,094; 95%CI). Sectio Cesarea cenderung protektif {OR 0,244; 95%CI; p=0,062 (>0,05)}. Pada penelitian ini dapat disimpulkan bahwa faktor risiko yang terutama berperan adalah presentasi kaki, ekstraksi bokong, dan berat lahir >4.500 g.Characteristics and Risk Factors of Obstetrical Brachial Plexus Palsy in Newborn BabyObstetrical brachial plexus palsy (OBPP) is an injury of entire or part of brachial plexus correlated with delivery process. Incidence in developing countries is around 0.15%. Risk factors include intrapartum and intrauterine. Three types of OBPP are Duchenne Erb, Klumpke, and whole arm palsy. This was a retrospective study of characteristic and risk factors of OBPP in Hasan Sadikin Hospital, Bandung, period January 2002-April 2007. Data were collected from perinatology ward medical records, and analyzed using binary logistic regression. OBPP incidence was 0.141%. All were Erb palsy and single pregnancy, 68.75% were head-occiput posterior presentation, 50% were spontaneous birth, 18.75% had meconeal staining, 62.5% had birth weight ≥3,500 g, 56.25% were male, 68.75% asphyxia, 12.5% shoulder dystocia, and 6.25% clavicle fracture. Risk factors significantly correlated were foot presentation (OR 9.357; 95%CI), transverse fetal position (OR 5.136; 95%CI), vacuum, forceps, breech/foot extraction (OR 5.240;95%CI, 4.320; 95%CI, 14.411; 95%CI, respectively), birth weight 3,500-3,999 g (OR 4.571;95%CI), birth weight ≥4,500 g (OR 57.759; 95%CI), asphyxia (ORs 5.992; 95%CI), and severe asphyxia (OR 6.094; 95%CI). Sectio cesarea tend to have protective effect {OR 0.244; 95%CI; p=0.062 (>0.05)}. The important risk factors of OBPP are foot presentation, breech/foot extraction, and birth weight >4,500 g.DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n2.9

Pengaruh Radioterapi Eksternal Terhadap Fungsi Sel Rambut Luar Koklea Penderita Karsinoma Nasofaring

Nurmasari, Shinta, Samiadi, Dindy, Purwanto, Bambang

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (105.973 KB)

Abstract

Pilihan utama pengobatan karsinoma nasofaring adalah radioterapi. Pemberian radioterapi dosis tinggi menimbulkan kerusakan struktur jaringan, salah satunya adalah gangguan pendengaran. Gangguan di koklea timbul akibat kerusakan struktur sel rambut akibat degenerasi stria vaskularis, atrofi spiral ligamen, dan membran basilaris.Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui fungsi sel rambut luar koklea akibat radioterapi penderita karsinoma nasofaring. Tipe penelitian adalah studi analitik observasional dan dilakukan di Bagian IK.THT-KL/RS. Hasan Sadikin Bandung mulai Maret sampai September 2007. Dilakukan pemeriksaan audiometri, timpanometri, danemisi otoakustik (otoacoustic emission)/OAE sebelum radioterapi, serta pemeriksaan timpanometri serta OAE saat radioterapi dan satu bulan pascaradioterapi. Untuk menguji pengaruh radioterapi eksternal digunakan uji McNemar dan uji Z. Diperoleh 42 telinga dari 27 subjek penelitian yang memenuhi kriteria inklusi. Didapat 18 lakilakidan 9 perempuan. Hasil penelitian menunjukkan insidens gangguan fungsi sel rambut luar koklea sebesar 9,6% pada dosis 2.000 cGy, 61,5% pada 4.000 cGy, 81,1% pada 6.600 cGy, dan 82,8% satu bulan pascaradiasi. Hubungan gangguan fungsi sel rambut luar koklea memberikan nilai sangat bermakna pada dosis 4.000 cGy sampai 6.600 cGy (p<0,001). Kesimpulan penelitian radioterapi eksternal penderita karsinoma nasofaring menyebabkan gangguan fungsi sel rambut luar koklea.

Daya Antibakteri dan Waktu Kontak Infusa Teh Hijau (Camellia sinensis) Terhadap Salmonella typhi Secara In Vitro

Setiawan, Dione Margareth, Masria, Sadeli, Chrysanti, Chrysanti

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.86 KB)

Abstract

The hijau (Camellia sinensis) memiliki beragam efek farmakologik, di antaranya sebagai antibakteri. Salmonella typhi penyebab demam tifoid, masih merupakan masalah kesehatan masyarakat di negara tropis terdapat 20 juta kasus dan 600.000 kematian per tahun di seluruh dunia. Penelitian ini ingin mengetahui daya antibakteri dan lamanya waktu kontak infusa teh hijau dari berbagai merek kemasan terhadap Salmonella typhi secara in vitro dengan menggunakan teknik difusi sumur, selanjutnya data dianalisis dengan ANAVA dan uji t-independen. Penelitian dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Bandung pada bulan Maret-April 2009. Hasil menunjukkan infusa dengan konsentrasi 40% (b/v) kemasan komersial Indonesia memberikan rata-rata diameter daerah hambat 3,376±0,334 mm dan 3,571± 0,217 mm pada kemasan Jepang (p<0,05); 0,707±0,000 mm pada konsentrasi di bawah 40% rata-rata daerah hambat. Tidak terdapat perbedaan antara kemasan Indonesia dan Jepang (p>0,551). Terdapat kekeruhan pada media cair Muller-Hinton dibandingkan dengan media kontrol pada konsentrasi di bawah 40% Teramatinya pertumbuhan koloni S. typhi pada agar Muller-Hinton konsentrasi 5% dan 10%. Tidak teramati penurunan jumlah koloni S. typhi konsentrasi kurang atau sama dengan 40% pada pengamatan waktu kontak 0 sampai 60 menit (p>0,05; á=0,05). Kesimpulan menunjukkan teramatinya daya antibakteri infusa teh hijau pada kemasan dengan konsentrasi 40%. Belum teramatinya daya antibakteri infusa dan pengaruh waktu kontak positif pada reduksi pertumbuhan koloni S. typhi pada kemasan dengan konsentrasi di bawah 40%.Antibacterial Activities and Time Contact Green Tea Infussion (Camellia Sinensis) Againsts Salmonella Typhi by In VitroGreen tea (Camellia sinensis) contains cathecin which has been reported to have various pharmacologic properties, such as an antibacterial agent. Salmonella typhi, as agent of typhoid fever, remains a public health problem in tropical countries; about 20 million cases and 600.000 deaths annually all over the world. Objectives of this research were to observe the antibacterial activities and contact time of green tea infusion againsts Salmonella typhi by in vitro experiment. The experiment took place in Microbiology Laboratory, School of Medicine, Padjadjaran University, Bandung, March-April 2009. Methods: In vitro laboratory analytic study has been conducted on green tea infusion of Indonesian and Japanese commercial package againsts Salmonella typhi. The study used agar well diffusion method and analyzed by ANAVA and t-independent test. Results: Only at concentration of 40% (w/v), Indonesian green tea infusion gave an average inhibition area of 3.376±0.334 mm diameter, and 3.571±0.217 mm on Japanese package, while below 40% were 0.707±0.000 mm with no differences between both packages (p>0.551). There has been observed any turbidity in all Muller Hinton liquid media on both packages compared with control medium, also any growth of Salmonella typhi collony in all Muller Hinton agar at concentrations below 40%. Green tea infussion on both packages has been observed to have antibacterial activities at 40% but neither been observed at concentration below 40%.DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n2.10

Korelasi Peningkatan Kadar Neuron Spesific Enolase dengan Derajat Keparahan dan Luaran Fungsional Pasien Stroke Infark Aterotrombotik Akut

Wardiyani, Neti Sri, Nurimaba, Nurdjaman, Kurniani, Nani

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (444.213 KB)

Abstract

Pada stroke iskemik terjadi kerusakan neuronal serta penurunan glikolisis aerob akibat menurunnya kadar glukosa. Neuron specific enolase (NSE) yang terdapat pada jaringan neuronal banyak tidak terpakai sehingga kadarnya meningkat. Pada kerusakan neuronal serta gangguan membran sel, sawar darah otak terganggu sehingga NSE berdifusi kedalam ekstraselular dan cairan serebrospinal. Peningkatan kadar NSE serum juga berhubungan dengan volume infark dan luasnya kerusakan otak. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan kadar NSE pasien stroke infark aterotrombotik akut, serta korelasinya dengan derajat keparahan stroke dan luaran fungsional. Rancangan penelitian adalah observational analytic dengan pendekatan kohort. Pasien stroke infark aterotrombotik fase akut sebagai kasus, sedangkan kontrolnya orang sehat. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin Bandung, mulai Februari sampai Agustus 2008. Pemeriksaan kadar NSE serum dan penilaian tingkat keparahan stroke berdasarkan National Institutes of Health Stroke Scale (NIHSS) dilakukan saat masuk rumah sakit, sedangkan luarannya dinilai pada hari ketujuh dengan indeks Barthel. Analisis yang digunakan adalah analisis bivariat dengan uji statistik Mann-Whitney dan uji Pearson. Dari 43 kasus dan 43 kontrol, didapatkan perbedaan kadar NSE serum yang bermakna rata-rata=11,41 [5,07] ng/mL berbanding 8,93 [3,03] ng/mL (p=0,019). Terdapat korelasi yang bermakna peningkatan kadar NSE serum dengan derajat keparahan yang dinilai berdasarkan skala NIHSS (p=0,024), juga dengan luaran fungsional (p=0,012). Nilai akurasi paling tinggi terdapat pada kadar NSE serum 12ng/mL, dengan sensitivitas 42% dan spesifisitas 84%. Kesimpulan dari penelitian ini adalah kadar NSE serum berkolerasi dengan derajat keparahan serta keluaran fungsional penderita stroke infark. [MKB. 2010;42(2):62-8].Kata kunci: Kadar neuron specific enolase,stroke infark, NIHSS, Indeks BarthelCorrelation of Serum Neuron Specific Enolase with Severity and Functional Outcome in Acute Atherothrombotic Infarction Stroke PatientsNeuronal damage and decreasing aerobic glicolysis process in ischaemic stroke are caused by lowering level of blood glucose. The amount of neuronal intrasitoplasmic glicolytic enolase enzyme, also known as neuron specific enolase, increases in blood circulation because it is not used anymore in damage neuron. So the mechanism failure in blood-brain barrier, as result of neuronal and cell membrane damage, causes NSE diffusion to extracellular and cerebrospinal fluid, then NSE level increases in blood serum and cerebrospinal fluid in acute cerebral infarction. Elevating NSE level is also connected with infarct volume and the extent of brain damage. The aim of this study was to evaluate connection between upgrading NSE serum level in acute atherothrombotic-stroke infarction patients, level of stroke incompatibility, and functional outcome. The method of study was observational analytic with kohort study. Subjects of study were divided into case group consisted of acute atherothrombotic-stroke infarction patients and control group consisted the healthy person. The data was collected in Hasan Sadikin Hospital between February to August 2008. Evaluating patients was performed to get descriptions on NSE serum level, level stroke incompability measuring by NIHSS scoring at the first time entering the hospital, and Barthel index scoring at seventh day of treatment. This study was analyzed by bivariat analysis using Mann Whitney statistic test and Pearson correlation test. There were 43 patients in each group. There was a significantly difference in NSE serum level on case group (mean was 11.41 [5.07] ng/mL) in comparison to those on control group (mean was 8.93 [3.03] ng/mL), p=0.019 . There was a significantly correlation between raising NSE serum level on case group and level of stroke incompatibility measuring by NIHSS scoring and also with functional outcome according to Barthel index scoring. The highest accuration value of NSE serum level was 12 ng/mL with 42% sensitivity and 84% specificity. The conclusion was neuron specific enolase serum level has correlation with severity and functional outcome in acute atherothrombotic infarction stroke patients. [MKB. 2010;42(2):62-8].Key words: Neuron specific enolase serum level, stroke infarction, NIHSS, Barthel index DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n2.218

Anterior Transpetrosal Untuk Lesi pada Fosa Kranialis Media dan Posterior: Review Literatur dan Diseksi Kadaver

Arifin, Muhammad Zafrullah, Sutiono, Agung Budi, Faried, Ahmad, Kawase, Takeshi, Wirjomartani, Beny Atmadja, Wiriadisastra, Kahdar

Majalah Kedokteran Bandung Vol 42, No 2 (2010)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2520.464 KB)

Abstract

Reseksi selektif pada bagian anterior piramid os petrosus (segitiga Kawase), dengan terlebih dahulu melakukan kraniotomi pada dinding lateral fosa kranialis media, dapat memberikan lapang pandang bedah yang cukup luas dari parasellar, clivus dan cerebellopontine angle (CPA), tanpa mengorbankan struktur organ pendengaran dalam (internal acoustics organ). Keuntungan utama teknik anterior transpetrosal ini adalah dapat langsung mengakses tumor yang melekat pada klivus melalui rongga kecil yang dibuat pada apeks os petrosus. Pengangkatan tumor dengan perdarahan yang minimal dapat dicapai dengan melakukan koagulasi pada arteri tentorium dan akses langsung ke arah anterior kanalis auditorius internus, juga dapat mengurangi cedera pada nervus fasialis dan vestibulokoklearis. Keuntungan lainnya, yaitu, rendahnya risiko komplikasi perdarahan vena, karena teknik ini tidak mengekspos sinus sigmoid ataupun vena Labbe. [MKB. 2010;42(2):86-91].Kata kunci: Anterior transpetrosal, fosa media dan posterior, diseksi kadaverAnterior Transpetrosal for Lession in Middle and Posterior Fossa: Literature Review and Cadaver DissectionResection of the anterior part of pyramid through the middle fossa craniotomy will give us a surgical field of the parasellar, clivus and cerebellopontine angle without sacrificing the auditory structure. The advantage of the anterior transpetrosal approach is the direct access to tumors that attached to the clivus via a keyhole created on the petrosus apex. Bloodless tumor removal can be achieved by detachment of the tentorial artery and direct access of the anterior internal auditory canal also can minimize the injury of the cranial nerve facialis and vestibulocochlearis. Another advantage is the low risk of venous damages since this approach is not exposing the sigmoid sinus and the vein of Labbe. [MKB. 2010;42(2):86-91].Key words: Anterior transpetrosal, middle and posterior fossa, cadaver dissection DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v42n2.219