cover
Filter by Year
Majalah Kedokteran Bandung
Articles by issue : Vol 41, No 2 (2009)
5
Articles
HUBUNGAN FAKTOR PENGGERAKAN PEMBERANTASAN SARANG NYAMUK DEMAM BERDARAH DENGUE DENGAN ANGKA BEBAS JENTIK DI KECAMATAN SUMBERJAYA KABUPATEN MAJALENGKA, JAWA BARAT

Rosidi, Abd. Rachman ( Unit Pelaksana Teknis Daerah Puskesmas Sumberjaya, Majalengka Jawa Barat ) , Adisasmito, Wiku ( Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan, Fakultas Kesehatan Masyarakat, Universitas Indonesia )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.105 KB)

Abstract

Sejak tahun lima puluhan, demam berdarah dengue telah menjadi masalah kesehatan di Asia Tenggara dan masukke Indonesia sejak tahun 1968. Di Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka, dalam lima tahun terakhir telahterjadi 68 kasus DBD dengan korban jiwa sejumlah 6 orang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktorpenggerakan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue (PSN-DBD) dengan angka bebas jentik (ABJ) di Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka. Penelitian ini merupakan penelitian analisis kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian adalah seluruh RT di wilayah Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka, sedangkan sampel penelitian angka bebas jentik adalah semua RT di 8 desa yang melaksanakan PSNDBDdi Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka. Responden penelitian hasil kegiatan PSN berjumlah 48 Ketua RT. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara dengan menggunakan kuesioner, dan observasi dilengkapi cheklist pemantauan jentik untuk melihat keberadaan jentik nyamuk penular DBD di rumah penduduk diwilayah tersebut. Data dianalisis secara analisis univariat dan analisis bivariat melalui uji Chi square (X2). Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor yang berhubungan antara penggerakan pemberantasan sarang nyamukdemam berdarah dengue dan angka bebas jentik di Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majalengka adalah: penyuluhan kelompok tentang demam berdarah dengue, kegiatan pemberantasan sarang nyamuk demam berdarah dengue, sarana pendukung PSN-DBD, serta pemantauan jentik secara berkala. Faktor yang tidak berhubungan adalah: musyawarah masyarakat desa, adanya kader jumantik, adanya dana, bimbingan teknis, dan kunjungan rumah. Kesimpulan: untuk mengupayakan ABJ diperlukan perbaikan dalam penyuluhan tentang demam berdarahdengue, penggalakan kegiatan pemberantasan sarang nyamuk, pemberdayaan penyediaan sarana PSN, serta perbaikan proses hingga pemantauan jentik dapat dilakukan secara berkalaKata kunci: Demam berdarah dengue, angka bebas jentikTHE ASSOCIATION BETWEEN EFFORT MOBILIZATION TO CONTROL MOSQUITO BREEDING PLACES AND LARVAL INDEX IN SUMBERJAYA SUBDISTRICT OF MAJALENGKA DISTRICT, WEST JAVAABSTRACTDengue hemorraghic fever has created quite a problem since 1968 in Indonesia. This disease is also vulnerable for community residing in Subdistrict Sumberjaya, Majalengka District, West Java. In the last five years there were 68 cases with 6 fatal cases. This cross sectional research in Sumberjaya aimed at exploring factors of community participation in vector control associated with larval index. The samples of larval index examination were selected from household neighborhoods (RT) in 8 villages conducted vector control in Sumberjaya. Respondents of vector control activities study were 48 head of RTs. The data were collected through interviews using a questionnaire. Observation was conducted to examine larval index of water containers in the household neighborhood. Univariate and bivariate analyses were conducted to data collected. The study showed factors associated with larval index, i.e. community dengue education, community action in vector control, facility to support vector control, and continouslylarval monitoring. Factors not associated with larval index were village community consensus, cadre for larval monitoring, availability of funds, provision of guidance from the health authority, and home visit.  Conclusions: for control the larval index, i.e. develop the community dengue education, force the community action in vector control, develop the accesibility of vector control supporting facility , and make a good system to assure larval monitoring working continously.Key words: Dengue hemorraghic fever, larval index

PERBEDAAN EFEK PEMBERIAN TOPIKAL GEL LIDAH BUAYA (Aloe vera L.) DENGAN SOLUSIO POVIDONE IODINE TERHADAP PENYEMBUHAN LUKA SAYAT PADA KULIT MENCIT (Mus musculus)

Atik, Nur, Iwan A. Rahman, Januarsih

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2 (2009)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (409.027 KB)

Abstract

Penyembuhan luka yang normal merupakan suatu proses kompleks dan dinamis. Proses penyembuhan dapat dibantu baik dengan pengobatan secara kimiawi maupun alami. Pengobatan kimiawi biasanya menggunakan povidone iodine sedangkan salah satu cara alami dengan pemberian topikal gel lidah buaya (Aloe vera L.) yang diduga dapat mempercepat proses penyembuhan luka. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perbedaan penyembuhan luka sayat yang diberikan topikal gel lidah buaya dengan povidone iodine pada kulit mencit. Penelitian ini menggunakan 18 mencit (Mus musculus) yang terbagi dalam 3 kelompok, yaitu kelompok luka sayat (kontrol), kelompok luka sayat – lidah buaya, dan kelompok luka sayat povidone iodine. Setiap kelompok dibuat full-thickness skin wound di punggung mencit. Luka pada grup kontrol tidak diberikan perlakuan, sementara gel lidah buaya diberikan secara topikal sebanyak 2 kali/hari pada grup kedua, dan solusio povidone iodine diberikan sebanyak 2 kali/hari pada grup ketiga. Pada hari kelima semua mencit dikorbankan untuk dievaluasi perubahan histologik dan ekspresi vascular endothelial growth factor A (VEGF-A). Data diperoleh melalui pengamatan mikroskopik terhadap jaringan kulit yang terluka, dengan parameter tebal epitel, jumlah rata-rata sel fibroblas, pembuluh darah dan ekspresi VEGF A, kemudian dianalisis statistik menggunakan independent samples T test, Analisis of variant (ANOVA) dan Chi square. Dari hasil penelitian didapatkan tebal epitel, jumlah rata-rata fibroblas, pembuluh darah, dan ekspresi VEGF A pada kelompok luka sayat -lidah buaya lebih tebal dan lebih banyak jika dibandingkan dengan kelompok povidone iodine. Melalui uji statistik dapat diketahui adanya perbedaan yang bermakna (p < 0,05) tebal epitel, jumlah rata-rata sel fibroblas; pembuluh darah dan ekspresi VEGF A pada kedua kelompok dengan taraf kepercayaan 95%. Hal ini menandakan bahwa pemberian topikal gel lidah buaya pada luka sayat kulit mencit sebanyak dua kali sehari lebih baik daripada pemberian solusio povidone iodine dilihat dari parameter tebal epitel, jumlah rata-rata fibroblas, pembuluh darah, dan ekspresi VEGF A.Kata kunci: Lidah buaya (Aloe vera L.), solusio povidone iodine, penyembuhan luka sayat, pemberian topikalTHE DIFFERENCES BETWEEN TOPICAL APLICATION OF THE ALOE VERA GEL WITH THE POVIDONE IODINE SOLUTIO FOR SKIN WOUND HEALING IN MICE (Mus Musculus)Normal wound healing is a complex and dynamic process. Wound healing process can accelerate, with chemical treatment or natural. The chemical treatment often used in healing process is povidone iodine. For natural treatment, topical application of Aloe vera gel may accelerate the full-thickness wound healing process. The purpose of this research was to evaluate the differences between topical application of povidone iodine and Aloe vera gel for skin wound healing in mice. This study used 18 mice that were divided into three groups. First group was the wounded (control) group, the second group was wounded – Aloe vera group, the third group was wounded - povidone iodine group. Full-thickness skin wound were created on the dorsal area of mice in each group. The control group were not given anything, while the second group were given Aloe vera gel twice a day, and the third group were given povidone iodine solution twice a day. At the fifth day, all mice were sacrificed for histologic evaluation and VEGF A expression. Data was obtained by microscopic observation of the wounded skin, based on quantitative parameter: epithelial thickness, total fibroblast, total blood vessels, and VEGF A expression. Then the data was statistically analyzed by using independent samples T test, ANOVA, and Chi square. The result demonstrated that the sum of epithelial thickness, fibroblast, blood vessels, and VEGF A expression in the Aloe vera group is higher than in povidone iodine group.  Statistic evaluation showed that there were significant differences between the two groups (p < 0.05), with 95% confidence interval. Based on this result, it can be concluded that the topical administration of Aloe vera gel twice a day is better than povidone iodine with parameter epithelial thickness, total fibroblass, total blood vessels and VEGF A expression.Key words: Aloe vera, povidone iodine solution, lacerating wound healing, topical application DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n2.188

PENCEGAHAN DAN PENATALAKSANAAN INFEKSI HIV/AIDS PADA KEHAMILAN

Suhaimi, Donel ( Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Riau/Rumah Sakit Arifin Ahmad Pekanbaru ) , Savira, Maya ( Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Riau Pekanbaru ) , Krisnadi, Sofie R. ( Bagian Obstetri dan Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (627.047 KB)

Abstract

Acquired immunodeficiency syndrome (AIDS) adalah penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus human immunodeficiency virus (HIV). AIDS dikarakteristikkan sebagai penyakit imunosupresif berat yang sering dikaitkan dengan infeksi oportunistik dan tumor ganas serta degenerasi susunan saraf pusat. Penyebaran HIV ini berkembang dengan cepat dan mengenai wanita dan anak-anak. AIDS menyebabkan kematian lebih dari 20 juta orang setahun. Tahun 2003 diperkirakan 700.000 bayi baru lahir terinfeksi HIV di seluruh dunia. Angka morbiditas dan mortalitas yang disebabkan oleh HIV semakin meningkat dan merupakan masalah kesehatan masyarakat yang paling penting di semua negara. Penggunaan obat antivirus seperti highly active antiretroviral therapy (HAART) dan persalinanberencana dengan seksio sesaria telah menurunkan angka transmisi perinatal mother to child trasmission (MTCT) penyakit ini dari 30% menjadi 20%. Manejemen antenatal, persalinan, dan perawatan pascasalin yang terkontrol dengan baik pada ibu hamil dengan HIV dapat mencegah transmisi perinatal.Kata kunci : AIDS, HAART, MTCTPREVENTION AND MANAGEMENT OF HIV INFECTION (AIDS) IN PREGNANCYAcquired immunodeficiency syndrome (AIDS) is a disease which caused by human immunodeficiency virus (HIV). Characteristic of AIDS is due to severe immunosupresive disease which related to opportunistic infection, malignant tumour and central nervous system degeneration. HIV spread widely and mostly infect women and children. Mortality rate of AIDS are more than 20 million people per year. In 2003, 700,000 newborn were infected by HIV in the world.Morbidity and mortality rate of HIV are highly increase dan become an important public health problem in all around the world. Using of antiviral drugs like highly active antiretroviral therapy (HAART) and ceasarean labor has decreased the perinatal transmission (mother-to-child trasmission=MTCT) rate of this disease from 30% to 20%. The intensive control in management of antenatal care, labor and delivery for the pregnant women with HIV can prevent the perinatal transmission.Key words: AIDS, HAART, MTCT

BINDING OF ENDOTHELIN-1 TO HUMAN BLOOD MONOCYTE

Achmad, Tri Hanggono ( Department of Biochemistry, Faculty of Medicine – Universitas Padjadjaran, Bandung, Indonesia ) , S. Rao, Govind ( Institute of Clinical Biochemistry, University of Bonn, Bonn Germany )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (248.072 KB)

Abstract

Monocyte attachment to the endothelium and migration into the vessel intima are the initiating steps in atherogenesis. This is thought to be facilitated by endothelin-1 (ET-1) as a potent chemoattractant to human blood monocytes. To explore the presence of ET-1 receptor(s) on the monocyte, we studied the binding of ET-1 to freshly isolated human blood monocytes, in the laboratory of the Institute of Clinical Biochemistry, University of Bon, Germany in 1995. Radioligand binding studies revealed the presence of two distinct subclasses of binding sites with apparent dissociation constants, K s, of 10.3 pM and 3.5 nM and maximal binding capacities, B s, of 0.027 fmol and 0.63 d max fmol/1.5x105 cells. Using monocyte migration as a response to ET-1, and ET-1 receptor antagonists BQ-123, BQ- 18257B and IRL-1038, the presence of two ET receptor subtypes, ET and ET , were detected. These results suggest A B that the chemotactic stimulus introduced by ET-1 can be activated ET-1 specific receptors on the monocytes.Key words: Endothelin-1, monocyte, receptor-bindingIKATAN ENDOTELIN-1 PADA MONOSIT DARAH MANUSIAABSTRAKMenempelnya monosit ke permukaan endotel dan bermigrasi kedalam tunika intima merupakan langkah awal pada aterogenesis. Hal ini diduga diperantarai oleh peran endotelin-1 (ET-1) yang dikenal sebagai chemoattractant poten bagi monosit. Untuk mengungkapkan adanya reseptor ET-1 pada monosit, dilakukan penelitian ikatan ET-1 pada monosit yang diisolasi dari darah manusia, di laboratorium Institute of Clinical Biochemistry, Universitas Bonn, Jerman pada tahun 1995. Penilaian ikatan radioligand menunjukkan adanya dua subkelas berbeda dari tempat ikatan dengan konstanta disosiasi (K ) masing-masing 10,3 pM dan 3,5 nM, serta kapasitas ikatan maksimal (B ) d max masing-masing sebesar 0,027 fmol dan 0,63 fmol/1,5x105 sel. Dari hasil penilaian tingkat migrasi monosit sebagai respons terhadap ET-1 dengan atau tanpa beberapa antagonis reseptor ET-1, BQ-123, BQ-18257B dan IRL-1038,terdeteksi adanya dua subtipe reseptor ET, yaitu ET dan ET . Hasil ini menunjukkan bahwa rangsangan kemotaksis A B yang ditimbulkan ET-1 dapat mengaktifkan reseptor spesifik ET-1 pada monosit.Kata kunci: Endotelin-1, monosit, ikatan-reseptor

KADAR ADIPONEKTIN SEBAGAI FAKTOR RISIKO PENEBALAN TUNIKA INTIMA MEDIA ARTERI KAROTIS

Juanda, Hadi ( Subbagian Kardiovaskular Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , MA, Toni ( Subbagian Kardiovaskular Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Ruhimat, Undang ( Bagian Radiologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/ Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung ) , Suardi, Ernijati ( Subbagian Kardiovaskular Bagian Ilmu Penyakit Dalam Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 2 (2009)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (223.421 KB)

Abstract

Penyakit kardiovaskular masih merupakan masalah kesehatan dan penyebab kematian utama di negara maju dan berkembang walaupun telah dilakukan upaya pencegahan dan tata laksana yang baik. Pemeriksaan ultrasonografi (USG) sebagai evaluasi/diagnosis dini adanya aterosklerosis subklinis untuk memprediksi kejadian kardiovaskular di masa mendatang. Pemeriksaan carotid intima media thickness (CIMT) dapat memberikan gambaran adanyakerusakan/disfungsi pembuluh darah secara umum terutama pembuluh koroner jantung. Adiponektin mempunyai efek antiinflamasi dan antiaterogenik sehingga disimpulkan adiponektin bermanfaat karena mempunyai efek kardioprotektif. Walaupun demikian penelitian peranan adiponektin terhadap penebalan tunika intima media arterikarotis pada manusia masih terbatas dan hasil penelitian menemukan hasil yang berbeda. Untuk mengetahui peranan adiponektin sebagai faktor risiko terhadap penebalan tunika intima media arteri karotis dilakukan penelitian dengan rancangan kasus kelola. Subjek penelitian adalah penderita obesitas abdominal pria dan wanita dengan rentang usia 40-59 tahun yang telah diperiksa ketebalan tunika intima media arteri karotis dengan USG. Kriteria eksklusi adalah gagal jantung kongestif, penyakit jantung koroner, stroke, dan penderita yang menggunakan obat glukokortikoid. Didapatkan 40 subjek dengan penebalan tunika intima media arteri karotis (kasus) dan 40 subjek tanpa penebalan tunika intima media arteri karotis (kontrol). Pada kelompok kasus kadar adiponektin lebih rendahdibanding kelompok kontrol, yaitu yaitu 4,1 ìg/mL (SB 1,7) berbanding 6,0 ìg/mL (SB 3,0). Hasil analisis statistik dengan uji chi square pada derajat kepercayaan 95% (1,05-12,78), OR 3,67 dengan nilai p=0,04 menunjukkan bahwa adiponektin bersama dengan DM, hipertensi dan MetS secara bermakna merupakan faktor risiko untuk terjadinya penebalan tunika intima media arteri karotis. Pada penelitian ini didapatkan titik potong (cut-off point) kadar adiponektin sebesar 5,09 ug/dL dengan ROC 0,682, derajat kepercayaan 95% (0,569-0,782), sensitivitas 77,5% dan spesifisitas 55,0%. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kadar adiponektin yang rendah (<5,09 ug/dL) merupakan faktor risiko untuk terjadinya penebalan tunika intima media arteri karotis.Kata kunci: Adiponektin, penyakit kardiovaskular, CIMTADIPONECTIN LEVEL AS A RISK FACTOR OF CAROTID ARTERY INTIMAMEDIAL THICKENINGABSTRACTCardiovascular diseases remain a major health problem and the leading cause of mortality both in industrialized and developing country, despite the improvement in its prevention and management. Ultrasonography (USG) can be used in the evaluation and early diagnosis of subclinical atherosclerosis to predict cardiovascular events in the future. Carotid intima-medial thickness (CIMT) is a surrogate of vascular dysfunction especially coronary vessels.Adiponectin has anti-inflammatory and anti-atherogenic properties, that is thought to be beneficial because of its cardioprotective effect. However the studies in the role of adiponectin in human is limited and earlier studies found conflicting results. To evaluate the role of adiponectin as a risk factor of carotid artery intima-medial thickening, we conducted this case-control study. The subjects were obese male and female between 40-59 years of age, who were evaluated by carotid artery intima-medial ultrasonography. Exclusion criteria were congestive heart failure, coronary heart disease, stroke and glucocorticoid treatment. Forty subjects with carotid artery intima-medial thickening (cases) and 40 subjects without thickening (control). Adiponectin levels in case group were lower than in control group, 4.1 ìg/mL (SB 1.7) and 6.0 ìg/mL (SB 3.0), respectively. Statistical analysis with chi square test with confidence interval(CI) 95% (1.05-12.78), OR 3.67 with p=0.04 (p<0.05) showed that adiponectin is a significant risk factor of carotid artery intima-medial thickening together with diabetes mellitus, hypertension, and metabolic syndrome.  This study found the cut-off point of adiponectin was 5.09 ug/dL with ROC 0.682, CI 95% (0.569-0.782), sensitivity 77.5% and specificity 55,0%. Conclusion: low adiponectin level (<5,09 ug/dL) is a risk factor of developing carotid artery intima-medial thickening.Key words : Adiponectin, cardiovascular disease, CIMT