cover
Filter by Year
Majalah Kedokteran Bandung
Articles by issue : Vol 41, No 1 (2009)
8
Articles
PERBEDAAN KADAR ELASTASE KANALIS SERVIKALIS ANTARA KEHAMILAN DENGAN ANCAMAN PERSALINAN PRETERM DAN KEHAMILAN NORMAL

Effendi, Jusuf Sulaeman

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 1 (2009)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1693.993 KB)

Abstract

Elastase diketahui berperan dalam mengubah kondisi serviks wanita hamil yaitu menyebabkan serviks menjadi lunak, mendatar, dan membuka yang merupakan tanda bahwa proses persalinan sedang terjadi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan kadar elastase kanalis servikalis antara kehamilan dengan ancaman persalinan preterm dan kehamilan normal. Penelitian ini adalah penelitian potong silang pada 32 kasus ancaman persalinan preterm dan 34 kasus kehamilan normal yang disesuaikan dalam hal usia, paritas dan usia kehamilan periode Januari 2004-Februari 2005. Kriteria ancaman persalinan preterm berdasarkan Buku Pedoman Diagnosis dan Terapi Obstetri dan Ginekologi RS Dr. Hasan Sadikin Bandung. Kadar elastase kanalis servikalis diperiksa dengan metode ELISA dan diuji pada interval kepercayaan 95%. Didapatkan hasil rerata kadar elastase kanalis servikalis kelompok kasus ancaman persalinan preterm sebesar 1,72 ng/mL, lebih tinggi secara bermakna dibandingkan dengan rerata kadar elastase kanalis servikalis kehamilan normal sebesar 0,52 ng/mL (p=0,002). Didapatkan cut-off point kadar elastase kanalis servikalis untuk memprediksi terjadinya ancaman persalinan preterm dengan sensitivitas 87,5%, spesifisitas 52,9%, dan akurasi 69,7%.Kata kunci: Elastase kanalis servikalis, persalinan pretermTHE DIFFERENCE OF ELASTASE CONCENTRATION IN CANALIS CERVICALIS BETWEEN THREATENED PRETERM LABOR AND NORMAL PREGNANCY Elastase has a role in changing cervix condition in pregnancy as like as softening, effacement and dilatation and both are the signs of labor. The objective of this study was to know the difference of elastase concentration in canalis cervicalis between threatened preterm labor and normal pregnancy. A cross sectional study was done involving 32 patients with threatened preterm labor and 34 normal pregnant women as control has been done during January 2004 to February 2005. Some variables such as maternal age, gestational age and parity were matched for both groups. The criteria of threatened preterm labor is taken from Obstetry and Gynecology Protocol in Hasan Sadikin Hospital. Elastase concentration in canalis cervicalis was examined by ELISA method with 95% considered statistically significant. The mean value of elastase concentration in canalis cervicalis of threatened preterm labor women 1.72 mg/mL was significantly higher than that observed in normal pregnancy 0.52 ng/mL (p=0.002). It was found the cut-off point elastase concentration in canalis cervicalis as predictor in threatened preterm labor is 0.52 ng/mL with sensitivity 87.5%, specificity 52.9% and accuracy 69.7%.Key words: Elastase canalis cervicalis, preterm labor DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n1.183

EKSPEKTASI RENCANA MASA DEPAN MAHASISWA PROGRAM PENDIDIKAN KEPANITERAAN DOKTER (P3D) TAHAP DUA FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PADJADJARAN ANGKATAN 2000–2001

Gondodiputro, Sharon, Djuhaeni, Henni, Wiwaha, Guswan

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 1 (2009)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (630.742 KB)

Abstract

Kebutuhan dokter untuk memenuhi pelayanan kesehatan primer di Jawa Barat sangat besar. Untuk itu Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran (FKUP) yang terletak di Provinsi Jawa Barat mempunyai kontribusi yang besar dalam pemenuhan dokter. Kajian ini bertujuan mendapatkan gambaran ekspektasi lokasi dan tempat bekerja lulusan dokter FKUP yang dapat digunakan untuk pengembangan kurikulum sehingga memenuhi kebutuhan (need) pelayanan kedokteran dan kesehatan di masyarakat. Metode yang digunakan adalah cross sectional dengan subjek 156 peserta didik P3D tahap dua Angkatan 2000 - 2001 FK Unpad. Data dikumpulkan melalui angket/kuesioner kemudian dilakukan analisis deskriptif menggunakan distribusi frekuensi. Hasil kajian adalah kontribusi FK Unpad dalam menyumbangkan sumber daya manusia di sarana pelayanan kesehatan primer bagi Jawa Barat hanya 30–40%. Sebagian besar (75,64%) peserta akan bekerja terlebih dahulu, namun selanjutnya sebagian besar (97,46%)  akan melanjutkan pendidikan spesialisasi (81,69%). Hal ini menunjukkan bahwa peserta tidak berminat, bekerja hanya sementara di pelayanan primer sehingga mengakibatkan masalah besar dalam kesinambungan program kesehatan serta inefektif dan inefisiensi dana untuk pelatihan. Spesialisasi yang paling diminati adalah 4 bidang utama yaitu ilmu penyakit dalam, ilmu bedah, ilmu kesehatan anak dan ilmu kebidanan. Di pihak lain magister rumah sakit menjadi peminatan dengan proporsi terbesar diikuti dengan magister kesehatan masyarakat, hukum kesehatan, dan Ekonomi kesehatan. Kesimpulan: Fakultas Kedokteran Unpad perlu memberikan prioritas kepadacalon mahasiswa yang berasal dari Jawa Barat agar dapat berkontribusi dalam memenuhi kebutuhan dokter di Jawa Barat dan perlu pengembangan kurikulum pendidikan dokter agar lebih menarik, sehingga para calon dokter ini bersedia untuk tetap bekerja di sarana pelayanan kesehatan primer.Kata kunci: Peserta didik, pelayanan kesehatan primer, pelayanan kesehatan sekunder, pendidikan spesialisasi, pendidikan magister, kedokteran keluargaFUTURE PLAN OF FINAL SEMESTER MEDICAL STUDENTS, FACULTY OF MEDICINE UNIVERSITY PADJADJARAN YEAR 2000–2001The need of doctors which worked at the primary health centers in West Java was high. Faculty of Medicine Universitas Padjadjaran (FKUP) had the responsibility to fulfill the scarcity of doctors in West Java. The aim of this study was to know the expectation of work location of medical doctors “ to be “so that the faculty could develop the medical education currículum that fulfill the community needs. This study was a cross sectional study with 156 final semester medical students year 2000 – 2001, using questionnaire and analyzed by frequency distribution. The results were the contribution of FKUP to fulfill the health workforce in West Java is only 30 – 40% .Most of the students planned to work first (75.64%), but after that, most of them (97.46%) planned to continue their study especially for specialization (81.69%). This situation had an negative impact on the continuity of health programs for the community (primary care), because there would be always new doctors who would work at the primary health centres. The most interested specializations were internal medicine, surgery, pediatrics, obstetric-gynaecology. On the other hand, students who chose master program, were interested to study hospital administration/management and health management, health law and health economics. The reasons they wanted to work first were mostly to get experiences (35.18%) and to collect money for further study (32.16%). Most of the respondents planned to work at primary health center 26.72% mostly puskesmas and secondary health center (20.61%). Other choices were working at Industries and Non Governmental Organizations.  Conclusions: FKUP gives more opportunity for students from West Java studying at FKUP so that in the future they could fulfill the scarcity of doctors in West Java. Secondly medical curriculum must be developed so that the doctors “to be” are more interested to work at the primary health centers permanently.Key words: Final semester medical students, primary health center, secondary health center specialization, master program DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n1.179

HUBUNGAN LAJU FILTRASI GLOMERULUS DENGAN STATUS NUTRISI PADA PENDERITA PENYAKIT GINJAL KRONIK PREDIALISIS

Pura, Lukman, Supriyadi, Rudi, Nugraha, Gaga Irawan, Bandiara, Ria, Soelaeman, Rachmat

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 1 (2009)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1111.712 KB)

Abstract

Malnutrisi banyak terjadi pada penderita penyakit ginjal kronik (PGK). Prevalensi malnutrisi pada penderita predialisis sekitar 44%. Penyebab malnutrisi pada penderita PGK predialisis bersifat multifaktorial. Hubungan laju filtrasi glomerulus (LFG) dengan status nutrisi gabungan menggunakan albumin serum, indeks massa tubuh (IMT) dan subjective global assessment (SGA) masih belum banyak diteliti. Penelitian ini bertujuan mencari hubungan LFG dengan parameter nutrisi gabungan pada subjek PGK predialisis yang berkunjung ke poliklinik ginjal hipertensi RS Hasan Sadikin Bandung dari bulan September sampai Oktober 2008. Data sekunder dan primer dikumpulkan secara konsekutif. Pemeriksaan meliputi penilaian klinis, laboratorium, dan LFG dengan metode in vivo. Analisis statistik menggunakan uji Mann-Whitney untuk melihat hubungan LFG dengan status nutrisi gabungan dengan multiple utility assessment criteria (MUAC). Tujuh puluh dua subjek terdiri dari 48 laki-laki dan 24 perempuan memenuhi kriteria penelitian. Sebanyak 79,2% subjek dengan usia di atas 50 tahun dan 54,2% dengan penyebab sakit hipertensi. Rata-rata LFG 32,62 mL/mnt, albumin serum 4,10 g/dL dan IMT 23,87 kg/m2 . Terdapat 80,6% subjek dengan status gizi buruk dan 19,4% dengan gizi baik. Menggunakan metode MUAC, 70 subjek dengan kategori gizi baik dan 2 subjek dengan gizi buruk. Hubungan LFG terhadap parameter nutrisi ditentukan dengan uji Rank-Spearman dan hasil tidak bermakna terhadap semua variabel nutrisi (p >0,05). Hubungan LFG terhadap parameter nutrisi gabungan memberikan hasil tidak bermakna (p> 0,05). Kesimpulan: terdapat hubungan yang sangat kecil antara LFG terhadap perubahan parameter nutrisi gabungan, dengan jumlah sampel 72 subjek tidak dapat mendeteksi adanya hubungan yang bermakna.Kata kunci: PGK, LFG, albumin serum, IMT, SGATHE CORRELATION BETWEEN GLOMERULAR FILTRATION RATE (GFR) AND NUTRITIONAL STATUS INPEDIALYTIC CHRONIC KIDNEY DISEASE PATIENTSProtein-energy malnutrition (PEM) is common in chronic kidney disease (CKD) patients. The prevalence of malnutrition in predialytic patients was approximately 44%. The causes of malnutrition in CKD patients are multifactorial. The correlation of glomerular filtration rate (GFR) and combined nutritional parameter such as serum albumin, body mass index (BMI) and subjective global assessment (SGA) is more need to study. The study aimed to find the correlation GFR and the combined nutritional parameter in predialytic CKD patients who attended the Nephrology-Hypertension Clinic of Hasan Sadikin Hospital between September and October 2008. The secondary and primary data were collected consecutively. The evaluation consisted of clinical assessment of nutritional status, laboratory values, and GFR by in vivo method. The combined nutritional parameter was classified into two groups using multiple utility assessment criteria (MUAC). Statistical analysis with Mann-Whitney test was used to find the correlation. Seventy two subjects (48 men and 24 women) fulfilled the criteria. The majority (79.2%) were older than 50 years old and 54.2% the causes of CKD were hypertension. The median GFR was 32.62 mL/mnt, serum albumin was 4.10 g/dL, and BMI was 23.87 kg/m2 . There were 80.6% subjects with malnourished status, 19.4% with normal status. Using MUAC assessment, 70 subjects with normal nutritional status and 2 with severe malnutrition.We found no significant correlation between GFR and any nutritional parameter (p>0.05). The correlation of GFR and combined nutritional parameter was not significant (p>0.05). Conclusion: There is minimal correlation of GFR and combined nutritional parameter, with 72 samples size the correlation cannot be detectedsignificantly.Key words: CKD, GFR, serum albumin, BMI, SGA DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n1.180

EVALUASI PENGARUH LAMANYA PEMBERIAN ASI SAJA TERHADAP PERTUMBUHAN ANAK Suatu Studi di Kecamatan Ledo, Kabupaten Bengkayang, Provinsi Kalimantan Barat

Lepita, Lepita, Sukandar, Hadyana, Wirakusumah, Firman F.

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 1 (2009)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (392.575 KB)

Abstract

Air susu ibu (ASI) merupakan makanan yang kaya akan gizi dan sangat penting untuk pertumbuhan anak. Terganggunya pertumbuhan anak diawali dengan kekurangan gizi yang dapat diatasi dengan memberikan ASI saja sejak lahir. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh lamanya pemberian ASI saja pada pertumbuhan anak. Faktor yang dilihat adalah berat badan dan tinggi badan anak. Penelitian ini merupakan penelitian kohort retrospektif yaitu mencari efek yang muncul pada balita usia antara 12 sampai 36 bulan yang ketika bayinya menggunakan ASI saja di wilayah Kecamatan Ledo. Jumlah subjek yang diteliti sebanyak 101 anak. Sampel diambil dengan teknik cluster berdasarkan kriteria inklusi. Analisis statistik memakai analisis varians, uji Mann-Whitney, Kruskal-Wallis, dan korelasi regresi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa lamanya pemberian ASI saja mempengaruhi pertumbuhan anak berdasarkan persen terhadap median Berat Badan (BB)/Usia (U) dan Berat Badan (BB)/Tinggi Badan (TB) (p<0,001); tidak tampak pengaruh lamanya pemberian ASI dengan pertumbuhan anak berdasarkan persen terhadap median TB/U baku rujukan WHO-NCHS (p>0,05). Kesimpulan pada penelitian ini adalah lamanya pemberian ASI saja berpengaruh positif terhadap pertumbuhan yang diukur berdasarkan persen terhadap median BB/U dan BB/TBbaku rujukan WHO-NCHS.Kata kunci: Lamanya pemberian ASI, pertumbuhan anak, antropometriEVALUATION THE IMPACT BREASTFEEDING PERIOD OF TIME TO THE CHILD GROWTH: A Study In Ledo Subdistrict, Bengkayang Regency, West Kalimantan Province Breastfeeding is rich food nutrient and it is very important for the child growth. Neonatal growth disorders, it is initially revealed from the beginning by a lack of nutrient. The lack of nutrient can be minimized by giving breastfeeding since the first living without any additional food. The objective of this study was to know the impact of length duration influenced of breastfeeding to the child growth that was seen from the childs body weight and body height. This study designed as a retrospective cohort looking for an effect of weight and height growth of subject child age between 12 to 36 months used to have only breastfeeding in Ledo. The study carried out to 101 children. The samples collected by cluster technique, the inclusion criteria had been determined. Statistical analysis used, varians, Mann-Whitney, Kruskal-Wallis, and analysis regression.The result of study, it was shown that the duration of breastfeeding affect of child growth significantly different; the percentage of median body weight to age vs body weight to body height referred to WHO-NCHS standard (p<0.001); but there were no any correlation on the percentage of median body height to age referred to WHO-NCHS standard (>0.05). Conclusion: duration of breastfeeding has positive effect to the growth which is measured based on the percentage of median body weight/age and body weight/body height referred to WHO-NCHS standard.Key words: Duration of breastfeeding, child growth, anthropometry DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n1.181

MIKRODONT IA INSISIF LATERAL SEBAGAI SALAH SATU MANIFESTASI ORAL PENDERITA SINDROM DOWN TIPE MOSAIK DAN PENUH

Syarif, Willyanti

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 1 (2009)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (431.497 KB)

Abstract

Mikrodontia adalah kelainan ukuran gigi yang merupakan lebih kecilnya ukuran gigi dari normal disertai bentuk gigi yang mengerucut atau meruncing disebut conical teeth. Mikrodontia umumnya menyertai sindrom di antaranya sindrom Down. Tujuan penelitian ini adalah melihat manifestasi oral sindrom Down tipe mosaik dan penuh berdasarkan jumlah mikrodontia (conical teeth). Dilakukan studi kasus pada 33 penderita sindrom Down berusia 18–90 bulan yang terdiri dari 10 tipe mosaik dan 23 tipe penuh. Pemeriksaan gigi meliputi pemeriksaan bentuk dan ukuran gigi secara visual, dan disesuaikan dengan tabel ukuran gigi sulung menurut Wheeler. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 6,1% penderita sindrom Down tipe mosaik dan penuh mempunyai mikrodontia insisif lateral sejumlah satu gigi, 3% penderita mosaik dan 45,5% penderita tipe penuh memiliki mikrodontia insisif lateral sejumlah lebih dari satu gigi. Mikrodontia insisif lateral pada gigi sulung lebih banyak terdapat pada penderita tipe penuh (p=0,02). Hal ini menunjukkan bahwa hambatan pertumbuhan gigi pada anak sindrom Down tipe penuh lebih besar daripada tipe mosaik.Kata kunci: Mikrodontia, sindrom Down mosaik, penuhINCISIVE LATERAL MICRODONTIA AS ORAL MANIFESTATION FOR FULL AND MOSAIC TYPE DOWN SYNDROME Microdontia is the term when tooth size is smaller than normal, also called conical teeth. Etiology is multifactorial. Microdontia, commonly follow the syndromes. Down syndrome is common followed by microdontia. The aim of this study was to find out oral manifestation of mosaic and full trisomy based on the amount of microdontia in incisive lateral. Case study were done in 33 Down syndrome patients, aged 18-90 months consisted of 10 mosaic and 23 full types. Teeth examinations were done by visual examinations of size and form, and referred to Wheeler primary teeth table. The results showed 6.1% of mosaic and full trisomy have one conical teeth in insisifus lateral and 45.5% full trisomy and 3% mosaic have more than one conical teeth ini insisifus lateral. The percentage of the subject showed 60.60% had microdontia and 3.940% had normal size (p=0.02). It is Significant that the conical teeth in full Down syndrome is more than mosaic patient. It shows that full type trisomy has more delayed teeth development.Key words: Microdontia, mosaic, full Down syndrome DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n1.182

TROMBOEMBOLI PARU PADA ANAK

Wulandari, Diah Asri, Nataprawira, Heda Melinda D.

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 1 (2009)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4465.188 KB)

Abstract

Tromboemboli paru dapat terjadi akibat adanya obstruksi pembuluh darah paru oleh trombi. Tromboemboli paru jarang didiagnosis dan dilaporkan pada anak, kebanyakan bahkan tidak terdiagnosis sampai setelah dilakukan otopsi. Penyakit yang pada dewasa meningkatkan risiko terjadinya tromboemboli juga berlaku untuk anak dan remaja. Penderita dengan tromboemboli paru biasanya mempunyai penyakit yang mendasari ataupun faktor pencetus, seperti imobilisasi, penggunaan vena sentral, penyakit jantung, trauma, operasi, infeksi, dehidrasi, keganasan, kelainan hematologi, serta kegemukan. Lokasi anatomis trombus vena pada anak berbeda dengan dewasa yaitu pada vena kranialis dan abdominalis, serta seringkali manifestasi klinisnya tidak jelas. Pada anak, tomboemboli paru harus dipertimbangkan pada beberapa keadaan, antara lain dalam mengevaluasi hipertensi paru yang tidak bisa diterangkan penyebabnya, insufisiensi respirasi, dan koagulasi intravaskular diseminata (KID). Pemeriksaan angiografi paru masih merupakan gold-standard untuk mendiagnosis tromboemboli paru dan merupakan pemeriksaan yang invasif. Pemeriksaan non-invasif multidetector helical/spiral computerized tomography scanning yang mempunyai sensitivitas dan spesifisitas tinggi merupakan teknik yang diharapkan dapat menggantikan pemeriksaan angiografi paru. Protokol pengobatan untuk anak masih belum berkembang, tetapi hingga saat ini antikoagulasi merupakan obat yang digunakan untuk mencegah perluasan bekuan dan rekurensi tromboemboli.Kata kunci: Tromboemboli paru, angiografi paru, multidetector helical/spiral computerized tomography scanning, anakPULMONARY THROMBOEMBOLISM IN CHILDRENPulmonary thromboembolism could be happened because of pulmonary vessel obstruction by thrombi. Pulmonary thromboembolism is rarely diagnosed and reported in children, most of them are not diagnosed before autopsy was done. All adult diseases that increase the risk of thromboembolism occur in children and adolescent as well. Patients with pulmonary thromboembolism usually have serious underlying disorders or precipitating factors, such as immobility, central venous catheterization, heart disease, trauma, surgery, infection, dehydration, malignancies, hematologic disorders, and obesity. The anatomic site of venous thrombi in children differs from those in adult, which more likely to involve cranial or abdominal veins, and often asymptomatic. Pulmonary thromboembolism in children should be considered in the evaluation of unexplained pulmonary hypertension, respiratory insufficiency, and disseminated intravascular coagulation. Pulmonary angiography is considered to be the gold-standard for diagnosis of pulmonary thromboembolism, and it is an invasive procedure. Non-invasif procedure multidetector helical/spiral computerized tomography scanning with high sensitivity and specificity is promising technique may replace pulmonary angiography. Although definitive protocols for treatment of pulmonary thromboembolism in children have not been improved yet, but until now anticoagulation drugs is used to prevent clot extension and recurrent thromboembolim.Key words: Pulmonary thromboembolism, pulmonary angiography, multidetector helical/spiral computerized tomography scanning, children DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n1.257

HUBUNGAN ANTARA ATOPI DENGAN RIWAYAT PENYAKIT ALERGI DALAM KELUARGA DAN MANIFESTASI PENYAKIT ALERGI PADA BALITA

Weninggalih, Endah, Kartasasmita, Cissy B., Setiabudiawan, Budi

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 1 (2009)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (106.667 KB)

Abstract

Prevalensii penyakit alergi cenderung meningkat dalam dekade terakhir. Hal ini disebabkan karena faktor genetik dan lingkungan. Faktor genetik dibuktikan dengan riwayat penyakit alergi dalam keluarga. Penyakit alergi merupakan gejala alergi pada individu yang atopi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah atopi dan riwayat penyakit alergi dalam keluarga merupakan faktor risiko timbulnya manifestasi penyakit alergi. Penelitian dilakukan di Puskesmas Garuda, Babakan Sari dan Padasuka Bandung selama bulan Februari-Maret 2007 dengan rancangan cross sectional. Subjek yang telah mempunyai data hasil uji tusuk kulit (UTK) dan ada tidaknya riwayat penyakit alergi dalam keluarga dilakukan pengisian kuesioner standar The International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC) dan pemeriksaan fisis. Subjek dinyatakan atopi bila hasil UTK positif. Hubungan antara variabel dianalisis dengan metode Ki kuadrat dan rumus Mantel Haenszel untuk mengkontrol confounding variabel. Jumlah subjek sebanyak 260 anak (92%), terdiri dari 130 anak dengan riwayat penyakit alergi dalam keluarga dan 130 anak tanpa riwayat penyakit alergi dalam keluarga. Berdasarkan UTK didapat 70 anak atopi dan 190 anak nonatopi. Manifestasi penyakit alergi terdapat pada 86 anak (33,08%). Manifestasi terbanyak adalah rinitis alergika 41 anak (15,77%),kemudian dermatitis atopik 18 anak (6,92%), dan asma 5 anak (1,92%). Kejadian manifestasi penyakit alergi terdapat pada 57,1% anak atopi dan 24,2% anak nonatopi. Kejadian manifestasi penyakit alergi terdapat pada 41,5% anak dengan riwayat penyakit alergi dalam keluarga dan 24,6% anak tanpa riwayat penyakit alergi dalam keluarga. Atopi mempunyai hubungan yang lebih kuat dengan manifestasi penyakit alergi pada balita, namun riwayat penyakit alergi dalam keluarga juga mempunyai hubungan sehingga merupakan hal yang penting untuk ditanyakan kepada orang tua.Kata kunci: Manifestasi penyakit alergi, atopi, riwayat penyakit alergi dalam keluargaASSOSIATION BETWEEN ATOPY WITH ALLERGIC HISTORY IN THE FAMILY AND ALLERGIC DISEASE IN UNDER FIVE YEAR OLD CHILDRENThere was an increase in prevalence of allergic diseases in the last decade. This was because of genetic and environmental factors. Genetic factor were proven by allergic history in the family. Allergic reaction in individu with atopy determined as allergic disease.The aim of this study was to know whether atopy and family allergic disease were risk factors for the occurrence of allergic disease manifestation. This study was conducted at Garuda, Padasuka and Babakan Sari Primary Health Center in Bandung, Indonesia, during February-March 2007, with cross sectional designed. Subjects with skin prick test (SPT) result and history or no history allergic disease data were questioned by The International Study of Asthma and Allergies in Childhood (ISAAC) and physical examination. Data were analyzed >using chi square and Mantel Haenszel test for confounding variables. A total of 260 (92%) children joined the third phase; consisted of 130 children with family history of allergic and 130 children without family history of allergic. Based of SPT consisted of 70 children with positive results and 190 children with negative results. The incidence of allergic disease was confirmed in 86 (33.08%) children: 41 (15.77%) children with allergic rhinitis, 18 (6.92%) children withatopic dermatitis, and 5 (1.92%) with asthma. Allergic diseases manifestation were confirmed in 57.1% atopy children and 24.2% nonatopy children. Allergic diseases manifestation were confirmed in 41.5% children with and 24.6% children without family history of allergic. Atopy has stronger association with allergic disease manifestation in under five children, but family history of allergic also has association so its important to ask parents.Key words: Allergic diseases manifestation, atopy, family history of allergic

Penurunan imunoekspresi p63 pada mioepitel ductal carcinoma in situ (DCIS) payudara sebagai prediktor infiltrasi tumor

Wargasetia, Teresa Liliana, Mukawi, Tanwir J., Sjawqie, Achmad, Darjan, Murnisari, Silitonga, Lasma

Majalah Kedokteran Bandung Vol 41, No 1 (2009)
Publisher : Faculty of Medicine, Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4415.76 KB)

Abstract

Karsinoma payudara merupakan karsinoma yang sering terjadi pada wanita. Ductal carcinoma in situ (DCIS) payudara adalah karsinoma payudara dengan sel-sel tumor berada dalam duktus kelenjar payudara dan belum menginfiltrasi ke stroma. Telah dilakukan studi retrospektif pad a 23 buah blok parafin varian morfologis kribriform, solid, dan komedo DCIS payudara. Salah satu cara untuk mengetahui agresivitas DCIS adalah dengan mendeteksi sel-sel mioepitel di sekeliling duktus payudara yang menunjukkan integritas membran basal. Pendeteksian sel-sel miopitel melalui teknik imunohistokimia dilakukan dengan menggunakan petanda selektif untuk sel-sel mioepitel payudara yaitu p63. Tujuan penelitian ini untuk memprediksi infiltrasi tumor melalui penurunan imunoekspresi p63 pada sel-sel mioepitel pada varian morfologis kribriform, solid, dan komedo DCIS payudara. Penelitian dilakukan di Laboratorium Patologi Anatomi Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran/Rumah Sakit Umum Hasan Sadikin Bandung pada bulan Juli 2005 hingga September 2006. Hasil penelitian menunjukkan bahwa imunoekspresi p63 pada sel-sel mioepitel pada varian morfologis kribriform, solid, dan komedo DCIS payudara. tidak menunjukkan perbedaan yang nyata (p <: 0,05). Hal itu menunjukkan infiltrasi tumor dapat terjadi pad a setiap varian morfologis DCIS payudara yang dipelajari yaitu kribriform, solid, dan komedo. Simpulan dari penelitian ini adalah penurunan imunoekspresi p63 pad a sel-sel mioepitel varian morfologis kribriform, solid, dan komedo DCIS payudara memprediksi adanya infiltrasi tumor.The occurrence of breast carcinoma is common in women. Ductal carcinoma in situ (DCIS) of the breast is breast carcinoma with tumor cells which exist in the breast glandular duct and have not infiltrated into stroma. Retrospective study has been made on 23 paraffin blocks of morphological breast DCIS variants, namely kribriform, solid, and komedo. One way to find out DCIS aggressiveness is by detecting myoepithelial cells surrounding the breast duct indicating the integrity of the basal membrane. Detection of myoepithelial cells by means of immunohistochemical technique is done by using a selective marker for breast myoepithelial cells, namely p63. The aim of this research was predict tumor infiltration through decrease of immunoexpression of p63 in myoepithelial cells of morphological variants: cibriform, solid, and komedo of breast DCIS. This research was performed at Pathology Anatomy Laboratory of Medical Faculty of Padjadjaran University/RSUP Hasan Sadikin Bandung from Juli 2005 to September 2006. The result of the research indicated that immunoexpression of p63 in myoepithelial cells of morphological breast DCIS variants - cibriform, solid and komedo - did not show any significant difference (p<: 0,05). This indicated that tumor infiltration can occur in every breast DCIS morphological variant being studied, namely cribriform, solid, and comedo. The conclusion of this research is that decrease of immunoexpression of p63 in myoepithelial cells of morphological variants: cibriform, solid, and comedo of breast DCIS predict the presence of tumor infiltration.DOI: http://dx.doi.org/10.15395/mkb.v41n1.259