cover
Filter by Year
Majalah Kedokteran Bandung
Articles by issue : Vol 1, No 42 (2010)
7
Articles
The Association Between Initial Solid Food and Atopy in Children with or without Family History of Atopic Disease

Surya, Nanan ( Departemen Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung ) , Setiabudiawan, Budi ( Departemen Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung ) , Kartasasmita, Cissy B. ( Departemen Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 1, No 42 (2010)
Publisher : Majalah Kedokteran Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (94.954 KB)

Abstract

Atopic diseases are the most common chronic diseases in childhood. Their incidence has a tendency to increase recently. The tendency of atopy could be triggered by many factors originated in the early life, including early introduction of solid food. To investigate the association between initial solid food and atopy, an analytic comparative study with historical cohort design was conducted from May to June 2006 in Pediatric Department of Hasan Sadikin Hospital Bandung. It was the second phase study of ´allergic prevalence and risk factors identificationin the first two years of life´. Out of 800 children in Garuda, Padasuka, and Babakansari Primary Health Care Center who were included in the first phase of the study, 749 children were eligible to continue the second phase of the study, 284 children were randomized into two groups of children with and without family history of atopic disease consisting of 142 children each. They then underwent skin prick test. History of initiation time of solid food were obtained from their parents. To analyze the data chi-square and odds ratio with 95% confidence interval were used. Among 284 children who fullfilled the inclusion criteria, 50% had family history of atopic disease. Atopy was found in 28.2% children, 32.4% with family history of atopic disease and 23.9% without family history of atopic disease. There was no significant correlation between family history of atopic disease and atopy (p=0.113). There was a high risk for atopy related to initial solid food (OR = 4.50, 95%CI = 1.96-10.74, p < 0.001). The difference of atopy was strongly significant between children who had initial solid food at the age of <6 months and at the age of >6 months whether or not the children had family history of atopic disease (p=0.016 and p=0.002). Conclusions: A significant increase in the risk of childhood atopy occured if initial solid food is given at the age of <6 months, whether or not the children have family history of atopic disease.Hubungan antara Waktu Pemberian Makanan Pendamping ASIdan Kejadian Atopi pada Anak dengan atau Tanpa Riwayat PenyakitAtopik dalam KeluargaPenyakit atopik merupakan penyakit kronik yang paling sering ditemukan pada anak. Angka kejadian penyakit atopik cenderung meningkat dari tahun ke tahun. Kecenderungan atopi atau timbulnya penyakit atopik dapat dicetuskan oleh faktor faktor yang berpengaruh di awal kehidupan, salah satunya adalah pemberian makanan pendamping ASI (MP ASI). Untuk mengetahui hubungan antara waktu pemberian MP ASI dan kejadian atopi dilakukan penelitian analitik komparatif dengan rancangan historical cohort. Penelitian dilakukan pada bulan Mei-Juni 2006 di Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung. Penelitian ini merupakan fase kedua dari penelitian “Prevalens alergi dan identifikasi faktor risiko pada dua tahun pertama kehidupan”. Penelitian dilakukan di Puskesmas Garuda, Padasuka, dan Babakansari. Dari 800 anak yang mengikuti fase I, sebanyak 749anak dapat diteliti pada penelitian fase II. Dengan teknik sampling secara acak terpilih 142 anak, masing-masing dari  kelompok dengan dan tanpa riwayat penyakit atopik dalam keluarga. Selanjutnya dilakukan pemeriksaan uji tusuk kulit dan ditanyakan mengenai riwayat pemberian MP ASI. Analisis statistik yang digunakan adalah uji kai-kuadrat dan Odds ratio dengan IK95%. Dua ratus delapan puluh empat anak memenuhi kriteria inklusi penelitian. Dari jumlah tersebut diperoleh 50% anak dengan riwayat penyakit atopik dalam keluarga. Atopi didapatkan pada 28,2% anak, 32,4% di antaranya dengan riwayat penyakit atopik dan 23,9% tanpa riwayat penyakit atopik dalam keluarga. Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara anak dengan riwayat penyakit atopik dalam keluarga dan kejadian atopi (p=0,113). Dua ratus delapan (73,2%) anak mendapat MP ASI pada usia <6 bulan, 76 (26,8%) anak mendapat ASI pada usia >6 bulan. Kejadian atopi berbeda bermakna antara anak yang mendapat MP ASI pada usia <6 bulan dan >6 bulan (OR=4,50; IK95%=1,96-10,47; p<0,001), baik pada kelompok anak dengan riwayat penyakit atopik (OR=3,38; IK95%=1,12-10,86; p=0,016) maupun tanpa riwayat penyakit atopik (OR=6,08; IK95%=1,63-26,72, p=0,002) dalam keluarga. Kesimpulan: Pemberian MP ASI pada usia <6 bulan meningkatkan risiko terjadinya atopi, baik pada kelompok anak dengan atau tanpa riwayat penyakit atopik dalam keluarga.

Perbedaan Indeks Apoptosis Plasenta Antara Preeklamsi dan Kehamilan Normal serta Hubungannya dengan Berat Badan Lahir dan Tekanan Darah Ibu

Teguh, Mintareja ( Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Mose, Johanes C. ( Bagian Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Effendi, Jusuf S. ( Bagian Obstetri dan Ginekologi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Hernowo, Betty S. ( Bagian Patologi Anatomi, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 1, No 42 (2010)
Publisher : Majalah Kedokteran Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.454 KB)

Abstract

AbstrakAngka kejadian preeklamsi di Indonesia pada tahun 1980-2001 adalah 6-8% dari seluruh kehamilan, dengan angka kematian maternal 9,8-25%. Terdapat dugaan bahwa pada preeklamsi terjadi peningkatan apoptosis akibat turunnya ekspresi Bcl-2 sebelum usia kehamilan aterm. Tujuan penelitian ini untuk menentukan perbedaan antara indeks apoptosis (IA) plasenta pada preeklamsi dan kehamilan normal serta hubungannya dengan berat badan lahir bayi dantekanan darah ibu. Desain penelitian adalah observasional analitik secara potong silang, terhadap 63 subjek yang terdiri dari 32 ibu preeklamsi dan 31 ibu hamil normal. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin. Selama periode bulan April-Juni 2008, dilakukan pemeriksaan IA (caspase 3) secara imunohistokimia di laboratorium Patologi Anatomi. Analisis data ditentukan dengan menggunakan tes Chi kuadrat dengan p<0,05 sebagai batas kemaknaan. Pada kelompok preeklamsi terdapat peningkatan IA (21,9%), sebaliknya tidak terdapat peningkatan IA pada kehamilan normal (0%) (p=0,006). Terdapat perbedaan IA menurut berat badan lahir bayi yang bermakna pada preeklamsi (p=0,046), sedangkan pada kehamilan normal tidak bermakna (p>0,05). Tidak terdapat perbedaan IA menurut tekanan darah ibu pada kedua kelompok (p>0,05). Disimpulkan bahwa terdapat perbedaan indeks apoptosis antara preeklamsi dan kehamilan normal, sedangkan hubungannya dengan berat badan lahir hanya berbeda pada preeklamsi. [MKB. 2010;42(1):1-5].Difference of Placental Apoptosis Index in Preeclampsia and NormalPregnancy and Its Correlation with Birth Weight andMother´s Blood PressureThe incidence of preeclampsia in Indonesia (1980–2001) was around 6-8% of the total pregnancies with maternal mortality rate 9.8-25%. In preeclampsia, an increase of apoptosis occurs as a result of a decrease of Bcl-2 expression before a pregnancy reached full term. The objectives of this study were to determine placental apoptosis index (AI) inpreeclampsia and normal pregnancy, and its correlation with birth weight and mother´s blood pressure. This study was an observational analytical study using cross sectional design among 63 patients consisted of 32 preeclampsia and 31 normal pregnancies. This study was performed at Dr. Hasan Sadikin Hospital, during April-June 2008.Immunohistochemical analysis was used to examine the placental AI (caspase 3). Chi square test was used to analysed the result using p<0.05 for the significant difference. AI was significantly higher in preeclampsia group (21.9%) than in the normal pregnancies (0%) (p=0.006). There was significantly difference of AI with birth weight in preeclampsia with p=0.046. On the otherhand, there was no significantly difference of AI with birth weight in normal pregnancies. There was no significantly difference of AI with mother´s blood pressure in the two

Angka Konversi Penderita Tuberkulosis Paru yang Diobati dengan Obat Antituberkulosis (OAT) Paket Kategori Satu di BP4 Garut

Kurniati, Iis ( Politeknik Kesehatan Jurusan Analis Kesehatan, Departemen Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Babakan Loa Cimahi Utara )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 1, No 42 (2010)
Publisher : Majalah Kedokteran Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (89.919 KB)

Abstract

Tuberkulosis paru adalah suatu penyakit menular yang menjangkiti organ paru disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis (M. tbc). Salah satu target program pemberantasan tuberkulosis paru ialah pencapaian angka konversi minimal 80% pada fase awal khususnya pada penderita paru Basil Tahan Asam (BTA) positif. Angka konversi adalah persentase penderita TBC paru BTA positif yang mengalami konversi menjadi BTA negatif setelah menjalani masa pengobatan intensif. Di BP4 Garut pada tahun 2005 pencapaian angka konversi 50,5%. Telah dilakukanpenelitian dengan metode deskriptif tentang angka konversi penderita TB paru BTA positif yang telah diobati dengan obat antituberkulosis (OAT) paket kategori 1 pada bulan Februari 2008 di BP4 Garut. Metode penelitian bersifat obsevasional yaitu pengobatan tahap intensif dilakukan terhadap 44 orang penderita TB paru BTA positifselama 2 bulan, kemudian diteruskan dengan tahap lanjutan yang diberikan tiga kali dalam seminggu selama 4 bulan dan diperiksa setiap bulan. Bahan pemeriksaan berupa dahak yang dikeluarkan sewaktu dan pagi hari terhadap 44 penderita TB paru BTA positif. Dari hasil penelitian didapatkan sebanyak 23 orang mengalami konversi sedangkanyang tidak konversi sebanyak 6 orang dan sebanyak 15 orang tidak ada hasil pemeriksaan BTA karena pindah berobat ke puskesmas. Penyakit TB paru dapat disembuhkan dengan pemberian OAT paru paket yang mengandung isoniazid, rifampisin, pirazinamid, streptomisin, dan etambutol. Keberhasilan angka konversi yang tinggi akandiikuti dengan angka kesembuhan yang tinggi pula. Dari hasil penelitian didapatkan angka konversi 52,30%. Untuk pencapaian angka konversi yang memenuhi target minimal program (80%), agar setiap Unit Pelayanan Kesehatan (UPK) dapat menjalankan program DOTS (directly observed treatment, shortcourse chemotheraphy) seoptimalmungkin dan meningkatkan kerjasama antar Unit Pelayanan Kesehatan di wilayah kerja UPK tersebut.The Conversion Number of Lung Tuberculosis Patient Treated with AntiTuberculosis Drugs Category One in BP4 GarutOne of the efforts to eliminate lung tuberculosis program is the achivement of the conversion number which have the minimum number about 80% in first phase, especially for the BTA positive. Conversion rate is the percentage of positive pulmonary TB patients who experienced a negative conversion after undergoing intensive treatment period.In BP4 Garut in the beginning of year 2005, the achivement of converstion number is 50.5%.The research has been done by descriptive method about the conversion number of lung tuberculosis which already get anti tuberculosis drugs category one on February 2008 in BP4 Garut. Obsevasional research methods are intensive phase of treatmentperformed on 44 patients with positive pulmonary TB during the 2 months, then continued with advanced stage given three times a week for 4 months and inspected every month. The spacement was sputum which produced in the morning by 44 patients of lung tuberculosis which positive acid fast. From the result of this research hopped that canbe informed to the people who work in the health side on that area for the research things to prevent the lung tuberculosis. This disease can recovered by giving anti tuberculosis pyrazinamid, streptomycin, and ethambutol. The success of the high conversion number will be followed by the high number of recovering. The number of conversion was 52.30%. The successful of the minimal programme conversion rate must have level at 80%, therefor every health care unit should do DOTS (directly observed treatment, shortcourse chemotheraphy) effectively and improve the cooperation among health care unit on that area.

Eosinofil Kerokan Mukosa Hidung Sebagai Diagnostik Rinitis Alergi

Sudiro, Melati ( Bagian Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadajaran, RS. Hasan Sadikin ) , Madiadipoera, Teti HS ( Bagian Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadajaran, RS. Hasan Sadikin ) , Purwanto, Bambang ( Bagian Ilmu Kesehatan Telinga, Hidung, Tenggorok, Bedah Kepala dan Leher, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadajaran, RS. Hasan Sadikin )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 1, No 42 (2010)
Publisher : Majalah Kedokteran Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (180.196 KB)

Abstract

AbstrakRinitis alergi merupakan gangguan fungsi hidung, terjadi setelah pajanan alergen melalui inflamasi mukosa hidung yang diperantarai IgE. Walaupun rinitis alergi bukan penyakit yang berat, penyakit ini dapat menurunkan kualitas hidup penderita. Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma (ARIA-WHO) menganjurkan tes kulit tusuk (TKT) sebagai pemeriksaan penunjang diagnostik, tetapi tidak semua sarana kesehatan memiliki fasilitas tersebut, oleh karena itu perlu dipilih pemeriksaan alternatif yang sesuai atau setara yaitu eosinofil kerokan mukosa hidung. Suatu uji diagnostik dilakukan pada 50 subjek tersangka rinitis alergi periode Februari-April 2005 di poliklinik alergiBagian THT-KL FKUP–RSHS. Sebanyak 78% penderita menunjukkan TKT positif, 76% terdapat eosinofil pada mukosa hidung, 64% positif terhadap kedua pemeriksaan. Uji statistik menunjukkan hubungan bermakna antara TKT positif dan eosinofil positif (X2= 3,559; p = 0,03), sensitivitas eosinofil kerokan mukosa hidung 82,1% (95%CI: 82,02-82,18), spesifisitas 64,3% (95% CI: 63,52-65,08), dan akurasi 74% (95% CI: 73,94–74,06). Penelitian ini menunjukkan pemeriksaan eosinofil kerokan mukosa hidung dapat digunakan sebagai pengganti tes kulit tusuk pada sarana kesehatan yang tidak mempunyai fasilitas tersebut. [MKB. 2010;42(1):6-11].Nasal Scrapping Eosinophil As a Diagnostic Test for Allergic RhinitisAllergic rhinitis is clinically defined as a symptomatic disorder of the nose induced by IgE mediated inflammation. Allergic Rhinitis and Its Impact on Asthma (ARIA-WHO) recommended the use of skin prick test (SPT) as a diagnostic test, but the facility to acquire this method is not always available at some of the health centres, therefore alternative diagnostic test should be performed such as nasal smear eosinophil count. The aim of this study was to assess the usefulness of nasal smear eosinophilia compared with SPT for the diagnosis of allergic rhinitis. A diagnostic study using the cross sectional design, conducted in Department of ORL-HNS at FKUP-RSHS (February-April 2005). Fifty patients with a clinical history suggestive of nasal allergy were studied. A positive SPTwas demonstrated in 78% of the study population, 76% of the patients demonstrated positive eosinophil count. There was 64% correlation between positive SPT and nasal eosinophil and it was statistically significant (X2= 3.559;p=0.03). The sensitivity of nasal smear eosinophilia count was 82.1% (95% CI 82.02-82.18), specificity 64.3% (95%CI 63.52-65.08), and accuracy 74% (95% CI 73.94-74.06). The eosinophil count of nasal scrapping can be used as the replacement of the SPT at the health centre which do not have the SPT facility.

Korelasi Ekspresi Protein Deleted in Colorectal Cancer (DCC) dengan Keganasan Kolorektal Stadium II dan III

Suraya A., Ida Bagus Budhi ( Bagian Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung ) , Rudiman, Reno ( Bagian Bedah, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin, Bandung )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 1, No 42 (2010)
Publisher : Majalah Kedokteran Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (635.412 KB)

Abstract

Gen deleted in colorectal cancer (DCC) merupakan salah satu gen supresor tumor yang memegang peranan untuk terjadinya keganasan kolorektal. Mutasi gen DCC didapatkan pada 70% kasus dan tidak adanya ekspresi protein DCC ini memberikan prognosis buruk pada kasus keganasan kolorektal. Tujuan penelitian ini adalah untukmengetahui apakah ekspresi protein DCC berhubungan dengan kemungkinan metastasis keganasan kolorektal. Penelitian ini merupakan penelitian cross–sectional, data diambil secara retrospektif. Data didapatkan dari sediaan blok parafin di Bagian Patologi Anatomi RS Hasan Sadikin Bandung periode bulan Mei sampai Agustus 2007. Dari 38 sampel, terdiri dari 19 sampel untuk stadium II dan 19 sampel stadium III, kemudian dilakukan pemeriksaan imunohistokimia. Hasil penelitian menunjukkan, usia termuda 18 tahun dan tertua 83 tahun. Berdasarkan jenis kelamin terdapat 18 sampel (47,4%) pria dan 20 sampel (52,6%) wanita. Sampel dengan stadium II memberikanekspresi protein DCC, sedangkan pada stadium III, didapatkan 5 sampel (13,16%) yang tidak memberikan ekspresi DCC. Dari uji statistik didapatkan nilai chi kuadrat sebesar 5,758 dengan p=0,016 (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang bermakna antara stadium keganasan kolorektal dan ekspresi protein DCC.Correlation Between Deleted in Colorectal Cancer (DCC) Protein Expression and Stage II – III of Colorectal CancerDeleted in colorectal cancer (DCC) gene is one of the tumor supressor genes which play a role in colorectal pathogenesis. Mutation of this DCC gene was found in approximately 70% cases and the absence of DCC protein expression give the poor prognosis. The aim of the study was to evaluate whether the expression of DCC protein hada correlation with metastasis probability of the stage II and III colorectal cancer. This was a cross-sectional study and data were obtained retrospectively. The data consisted of 38 colorectal carcinoma samples in second and third stadium, 19 samples in each stadium, during the period of May to August 2007. We perfomed imunohistochemistryexamination. On this study, the youngest was 18 years old and the oldest was 83 years old. According to gender, 18 samples (47.4%) were male and 20 samples (52.6%) were female. All samples in stage II stadium gave expression of the DCC protein and there were 5 samples (13.16%) with stadium III didn´t give expression. From statisticalanalysis, chi square 5.758 and the p-value was 0.016 (p < 0.05). We can conclude that there is a correlation between the colorectal carcinoma stadium and the expression of DCC protein. 

Efikasi Terapi Kombinasi Salep Kalsipotriol 0,005% dan Klobetasol Propionat 0,05% Dibanding Klobetasol Propionat 0,05% pada Psoriasis Vulgaris

Indriyani, Dian ( Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin ) , Sutedja, Endang ( Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin ) , Suwarsa, Oki ( Bagian Ilmu Kesehatan Kulit dan Kelamin, Fakultas Kedokteran Universitas Padjadjaran, Rumah Sakit Hasan Sadikin )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 1, No 42 (2010)
Publisher : Majalah Kedokteran Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (669.765 KB)

Abstract

Psoriasis adalah penyakit eritropapuloskuamosa kronik residif. Obat yang paling sering digunakan untuk terapi penyakit ini adalah kortikosteroid topikal, tetapi penggunaan jangka panjang dapat menyebabkan berbagai efek samping. Kalsipotriol merupakan obat topikal selain kortikosteroid yang memiliki efek samping yang lebih ringan. Tujuan penelitian ini adalah untuk membandingkan skor psoriasis area and severity index (PASI) sebelum dan sesudah pengobatan dengan kombinasi salep kalsipotriol 0,005% dengan salep klobetasol propionat 0,05% dan monoterapi salep klobetasol propionat 0,05% pada penderita psoriasis vulgaris. Skor psoriasis area severity index (PASI), digunakan untuk mengukur berat ringannya psoriasis dan mengevaluasi perbaikan lesi. Desain penelitian adalah uji klinik dengan rancangan acak secara double blind. Uji Mann-Whitney dan Wilcoxon digunakan untuk menganalisis data skor PASI sebelum dan sesudah pengobatan. Penelitian dilakukan di poliklinik I.K. Kulit danKelamin RS. Hasan Sadikin Bandung dari bulan November 2007- Januari 2008 dengan subjek penelitian sebanyak 44 orang yang dibagi dalam dua kelompok. Derajat keparahan penyakit dinilai dengan skor PASI yang dinilai sebelum, satu minggu, dan dua minggu setelah pengobatan. Kesimpulan: Penggunaan terapi kombinasi salep kalsipotriol 0,005% dan klobetasol propionat 0,05% selama dua minggu memiliki efikasi yang lebih baik dibandingkan monoterapi salep klobetasol propionat 0,05%, secara statistik sangat bermakna (p<0,001).Efficacy Combination Therapy of 0.005% Calcipotriol and 0.05%Clobetasol Propionat Compared to 0.05% Clobetasol Propionat Ointment in Psoriasis VulgarisPsoriasis is a chronic relapsing erythropapulosquamous skin disease. Topical corticosteroid is the most common treatment for psoriasis, but it can cause many side effect on longterm used. Calcipotriol ointment is the other topical treatment for psoriasis and has minimal side effect. The study was a double blind randomized clinical trial, compared psoriasis area and severity index score before and after treatment combination therapy of 0.005% calcipotriol ointment 0.05% and clobetasol propionat ointment with 0.05% clobetasol propionat alone. Psoriasis area severity index (PASI) score was used to evaluate severity degree and imprvoment of psoriasis. Mann-Whitney and Wilcoxon test were used for statistical analysis of PASI score before and after treatment. Study was conducted at Dermatology and Venereology outpatient Department of Hasan Sadikin Hospital Bandung period November 2007 to January 2008 with fourty four psoriasis vulgaris patients were enrolled in this study, divided into two groups. The assesment of the severity of skin lesions psoriasis area and severity index was performed at baseline, after one week and two weeks treatment. Conclusion: the use of daily 0.005% calcipotriol ointment combined with 0.05% clobetasol propionate

Kematian Neonatal dan Bayi Lahir Mati serta Hubungannya dengan Kepercayaan dan Perilaku Masyarakat

Machmud, Rizanda ( Bagian Ilmu Kesehatan Masyarakat dan Ilmu Kedokteran Komunitas, Fakultas Kedokteran Universitas Andalas ) , Yunarti, Yunarti ( Antropologi Kesehatan, Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Andalas, Padang )

Majalah Kedokteran Bandung Vol 1, No 42 (2010)
Publisher : Majalah Kedokteran Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.774 KB)

Abstract

Kabupaten Cirebon memiliki angka kematian ibu dan bayi yang tinggi. Berbagai upaya sudah dilakukan untuk menurunkan angka tersebut, namun belum berhasil. Penelitian ini bertujuan untuk menggali informasi yang lebih mendalam tentang keterkaitan kematian bayi lahir mati dan neonatal dengan latar belakang perilaku sertakepercayaan masyarakat tentang kehamilan, persalinan, dan perawatan bayi baru lahir di desa pesisir dan pedalaman. Pendekatan penelitian menggunakan paradigma gabungan antara kualitatif dan kuantitatif (mixed paradigm) dengan menggali informasi secara mendalam mengenai faktor predisposing, faktor enabling, dan faktor reinforcing kepercayaan serta perilaku masyarakat. Penelitian dilakukan di desa Weru Lor (pedalaman) dan Suranenggala (pesisir) di kabupaten Cirebon, Jawa Barat pada tahun 2006. Hasil penelitian menunjukkan adanya stigma-stigma yang melatarbelakangi perilaku tidak rasional dalam hubungannya dengan kematian bayi lahir mati dan neonatal. Tidak terdapat perbedaan kepercayaan antara desa pedalaman dan desa pesisir. Kesimpulan penelitian ini adalah perlunya kompetensi petugas kesehatan dalam penyebarluasan informasi rasional sehingga mampu menghilangkan stigma-stigma yang tumbuh dalam masyarakat.Relationship Between Neonatal Mortality and Still Birth with Believeand Behavior of Health SocietyCirebon´s district is one of highest infant mortality and maternal mortality rate. So many efforts have been done to reduce this rate but, it´s no effect yet. The etiology of these problems isn´t known. The aim of research was to discover deeper information about relationship between neonatal mortality and social behavior background and believe ofhealth society in pregnancy, delivery and antenatal care in mainland and coastal district. A qualitative and quantitative methods were used to exploring deeper information about predisposing, enabling, and reinforcing factors in health believe and behavior in society. Location of the study were in mainland (Weru Lor) and costal village (Suranenggala) in Cirebon-West Java in 2006. This research answered the reseach question, why neonatal death are happened and why health behavior in society seems irrational. There were stigmas in society that affectinfant mortality rate. The result of research showed there were existence of stigmas which was irrational background in its relation with infant and neonatal mortality. There were no difference of local culture, knowledge, and believe among mainland and coastal countryside. Conclusion of this research is the importance of provider of health competence in dissemination of rational information so that can eliminate stigmas which grow in society.