cover
Filter by Year
Gorga Jurnal Seni Rupa
Gorga Fine Arts of Journal is published 2 (two) times a year in June and December, containing writings / articles of thought, research results, and community service written by experts, scientists, practitioners (artists), and educational of science, art studies, and art and culture learning.
Articles by issue : Vol 7, No 2 (2018): Gorga Jurnal Seni Rupa
30
Articles
‚Äč
PEREMPUAN KERINCI SEBAGAI IDE DALAM PENCIPTAAN KARYA SENI LUKIS

Daniati, NIa, Sastra, Andar Indra, Dharsono, Dharsono

Gorga Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga Jurnal Seni Rupa
Publisher : Jurusan Seni Rupa Unimed

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPerempuan di daerah Kerinci sangat diistimewakan, seperti menarik garis keturunan dari pihak ibu (perempuan) yang disebut dengan sistem matrilineal. Selain menarik garis keturunan dari pihak ibu (perempuan) sistem pewarisan juga datangnya dari kaum perempuan, seperti sko (pusaka) yang berbentuk gelar, tetapi dipakai oleh mamak (saudara laki-laki ibu) dan orang sumendo (suami ibu); dan harta pusaka tinggi; seperti rumah dan sawah dikendalikan oleh perempuan. Perempuan Kerinci selalu menerapkan etika beradat kemanapun pergi, sehingga mereka dihormati dan disegani di dalam masyarakat. Etika beradat perempuan Kerinci yakni ‚??sesuai dengan Icopake.‚?Ě Icopakeperempuan Kerinci sifatnya lunak¬† atau lemah lembut, seperti malu pada laki-laki, takut pada janji, mulut manih kecindam murah (ketika berbicara lemah lembut tutur katanya dan sopan santun), pandai memilihara diri, rajin mengurus rumah tangga, , dan menurut kata junjungan (suami). Metode yang dipakai dalam penciptaan karya ini observasi, dokumentasi, dan eksperimen. Karya ini menggambarkan tentang kekaguman pengkarya terhadap perempuan Kerinci yang diwujudkan kedalam karya seni lukis dengan menghadirkan berbagai kegiatan yang dilakukan oleh perempuan Kerinci dalam kehidupan sehari-hari. Perwujudan karya menggunakan konsep reinterpretasi yang menggambarkan kembali aktivitas perempuan Kerinci dalam berbagai aspek mulai dari kesawah sampai pada aktivitasnya dalam adat yang diwujudkan ke dalam karya seni lukis dengan gayadekoratif.¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kata Kunci:Perempuan Kerinci, kekaguman dan seni lukis¬†AbstractKulouk is one Women in Kerinci regency are very special, such as drawing a bloodline from mother (female) called the matrilineal system. In addition to drawing a line frommother (female) inheritance system also came from women, such as sko (heirloom) in the form of a title, but was used by mamak (mothers brother) and sumendo (mothers husband); and high inheritance, like houses and rice fields controlled by women. Kerinci women always apply ethical ethics wherever they go, so they were respected in society. Kerincis civilized ethics are "in accordance with the Icopake." Icopake female Kerinci is soft or gentle, such as being ashamed of men, fear of promises, low-priced mouth when she speaks softly and politely), good at choosing herself , diligently taking care of the household, and according to the word lord (husband). The method used in the creation of this work is observation, documentation, and experimentation. This work illustrates the admiration of the artists for Kerinci women who embodied the work of painting by presenting various activities carried out by Kerinci women in their daily lives. The embodiment of the work uses the concept of reinterpretation which re-illustrates the activities of Kerinci women in various aspects ranging from the crater to the activities in adat which are embodied in painting with decorative style..¬†Keywords:Kerinci‚??s women, admiration and painting

LIMPAPEH PADA BAJU KURUANG BASIBA

Rahmawati, Rahmawati, Akmal, Ahmad, Awerman, Awerman

Gorga Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga Jurnal Seni Rupa
Publisher : Jurusan Seni Rupa Unimed

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakLimpapeh atau attacus atlas merupakan kupu-kupu besar dengan  bentangan sayap yang luas, yang memiliki warna coklat kemerahan dan dihiasi sedikit warna putih. Kebiasaan limpapeh hinggap pada rumah, bangunan, pepohonan, dedaunan dan bunga yang sedang bermekaran. Bagi masyarakat Minangkabau limpapeh adalah sebutan untuk  perempuan Minangkabau yang sudah beranjak dewasa yang bertanggung jawab menjaga garis keturunan berikutnya, berdasarkan garis keturunan ibu yang akan menjadi penghuni dalam rumah gadang. Bentuk limpapeh dalam penciptaan karya ini adalah sebagai motif dari baju kuruang basiba, baju kuruang basiba merupakan pakaian perempuan Minangkabau yang mempunyai ciri khas yaitu pada bagian samping baju  terdapatnya siba dan kikik. Bentuk sayap limpapeh yang terdapat pada bagian dada, lengan dan bawahan baju serta bentuk limpapeh yang berbentuk utuh yang berterbangan sehingga membuat baju kuruang basiba, ini lebih menarik.           Kata Kunci: limpapeh, baju kuruang, basiba AbstractLimpapeh or attacus atlas is a large butterfly with a broad stretch of wings, which has a reddish brown color and is decorated with a little white color. The habit of leaking on the house, building, trees, leaves and flowers are blooming. For Minangkabau people limpapeh is a term for Minangkabau women who have grown up who are responsible for maintaining the next lineage, based on the maternal lineage that will become residents in the gadang house. The form of limpapeh in the creation of this work is as a motif of kuruang basiba clothes, kuruang basiba clothes are Minangkabau womens clothing which has the characteristic that on the side of the shirt there is siba and kikik. The limpapeh wing shape that is found on the chest, arms and subordinates of the clothes as well as the full shape of the limpapeh which flies to make kuruang basiba clothes, this is more interesting. Keywords: limpapeh, kuruang basibas clothes

RAGAM HIAS DAN FUNGSI BATIK MINANG NAGARI PANYAKALAN KABUPATEN SOLOK

Dahlia, Putri, Akmal, Ahmad, Munaf, Yuniarti

Gorga Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga Jurnal Seni Rupa
Publisher : Jurusan Seni Rupa Unimed

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian ini berjudul ‚??Ragam Hias dan Fungsi Batik Minang Nagari Panyakalan Kabupaten Solok‚?Ě, membahas tentang bentuk motif dan fungsi batik Minang, serta dampak yang ditimbulkan dengan adanya batik tersebut terhadap masyarakat. Sebagai produk budaya, batik Minang mempunyai nilai strategis dalam sistem budaya dan perekonomian sebagian masyarakat. Nilai budaya dan filosofi yang dikandung dipahami melalui simbol berupa motif hias pada batik. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Teori estetis Edmund Burke Feldman menyangkut struktur, gaya, dan fungsi karya seni, digunakan dalampembahasan mengenai Batik Minang. Feldman membagi fungsi seni menjadi tiga bagian, yaitu fungsi personal (personal function of art), fungsi sosial (social function of art) dan fungsi fisik (physical function of art). Perkembangan batik Minang dewasa ini cenderung dipengaruhi aspek ekonomi dan sosial budaya. Begitu pula sistem keahlian dilakukan melalui pengembangan terhadap produk yang lebih kreatif dan variatif dalam bentuk maupun fungsi. Hal ini menjadi salah satu faktor penopang keberlangsungan seni batik Minang ini. Di era global ini batik Minang dikembangkan dan dimanfaatkan sebagai unsur estetik modern dengan maksud memberi nuansa eksotisme suatu penampilan, beberapa di antaranya berkembang menjadi produk industri seni sebagai material kebutuhan dan permintaan konsumen luarProvinsi¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kata Kunci:Batik Minang, Fungsi, Estetika, Panyakalan¬†AbstractThis research entitled "Decorative and Function Batik Minang in Panyakalan Solok Regency", discusses the form of motif contained in batik Minang art, and the impact that arises with the art of batik on society. As a cultural product, Minang batik art also has strategic value in cultural system and economy of some society. The value of culture and philosophy conceived through the symbol of decorative motifs on this batik art.This research uses qualitative method. Aestetic theory Edmund Burke Feldman about the structure, style, and function of artwork, used in the discussion of batik Minang. Feldman devides the function into three parts, that is personal function of art, fungsi sosial the social function of art, and physical function of art.The development of batik Minang today tend to be influenced by economic and socio-cultural aspects.Similarly, system expertise is done through the development of products that are more creative and varied in form and function. This became one of the factors supporting the continuity of batik Minang art. In this global era batik Minang is developed and utilized as an aesthetic element of modern interior with the intention to give feel of exoticism an appearance, some of which developed into art industry product as material requirement and demand of foreign consumer.¬†Keywords: Batik Minang, Function, Aesthetic, Panyakalan

ORNAMEN PADA MASJID TUANKU PAMANSIANGAN NAGARI KOTO LAWEH KABUPATEN TANAH DATARSUMATERA BARAT

Izzati, Fauziana, Munaf, Yuniarti, SK, Dharsono

Gorga Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga Jurnal Seni Rupa
Publisher : Jurusan Seni Rupa Unimed

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakMasjid Tuanku Pamansiangan merupakan masjid yang mempunyai nilai sejarah serta memiliki ornamen khas Minangkabau. Adapun motif -motif yang terdapat pada masjid yaitu: pucuak rabuang, sakek tagantuang, pandan tajulai, sikambang manih, aka cino, saik galamai, mangkuto, kuciang lalok, dan kaligrafi. Warna-warna yang terdapat pada ormanen masjid Tuanku Pamansiangan yaitu: merah, hijau putih, dan coklat keemasan. Ornamen yang terdapat pada masjid Tuanku Pamansiangan diterapkan pada tiang-tiang masjid, mimbar, dinding, serta jendela-jendela masjid. Adapun fungsi ornamentasi pada masjid Tuanku Pamansiangan yaitu sebagai penghias permukaan atau bidang-bidang pada bangunan tersebut, selain itu juga memiliki fungsi simbolis dapat ditemukan dalam bentuk ornamentasi berbentuk kaligrafi yang berisikan penjelesan tentang tahun pembuatan mesjid serta tahun selesai pembangunannya.           Kata Kunci :Masjid, Ornamen, Bentuk, Fungsi AbstractTuanku Pamansiangan Mosque is a mosque that has historical value and has a typical Minangkabau ornament. The motives found in the mosque are: rabuang pucuak, sakek tagantuang, pandan tajulai, sikambang manih, aka cino, saik galamai, mangkuto, kuciang lalok, and calligraphy. The colors found in the Tuanku Paman mosque are: red, white, green and golden brown. Ornaments in the Tuanku Pamansiangan mosque are applied to mosque pillars, pulpits, walls, and mosque windows. The ornamentation function of Tuanku Pamansiangan mosque is to decorate the surface or fields in the building, but it also has a symbolic function which can be found in the form of ornamentation in the form of calligraphy which contains descriptions of the year of the mosque and the year of its construction.. Keywords:Masjid, Ornaments, Shapes, Functions

KOREOGRAFI TARI SATAMPANG BANIAH OLEH SANGGAR SARI BUNIANNAGARI ANDALEH BARUAH BUKIK SEBAGAI PELESTARIAN BUDAYA LOKAL

Sari, Viola Vianda, Asril, Asril, Zebua, Edwar

Gorga Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga Jurnal Seni Rupa
Publisher : Jurusan Seni Rupa Unimed

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui ‚??Koreografi TariSatampang Baniah yang telah dikembangkan oleh Yeni Eliza di Sanggar Sari Bunian Nagari Andaleh Baruah Bukik Kecamatan Sungayang Kabupaten Tanah Datar sebagai bentuk pelestarian seni budaya lokal. Penelitian ini adalah penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif analisis yakni mendeskripsikan dan menganalisis unsur-unsur atau elemen-elemen yang mendukung pertunjukan TariSatampang Baniah. Untuk menbahas penelitian tentang koreografi ini digunakan teori koreografi oleh Robby Hidajat, teori bentuk oleh Soedarsono, teori pelestarian oleh Edi Sedyawati dan teori perkembangan oleh Umar Kayam.Penelitian yang dilakukan ini menemukan hasil bahwa, TariSatampang Baniah yang awalnya tari tradisi di Nagari Andaleh Baruah Bukik sekarang telah dikembangkan oleh Yeni Eliza di Sanggar Sari Bunian. Usaha pengembangan ini dilakukan untuk menghidupkan kembali dan melestarikan TariSatampang Baniah yang sudah hampir punah di Nagari Andaleh Baruah Bukik. Upaya Yeni Eliza ini membuahkan hasil, melalui koreografi yang dikembangkannya TariSatampang Baniah sekarang dikenal ditingkat Nasional dan Internasional. ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kata Kunci: tari satampang baniah, koreografi, pelestarian.¬†AbstractThe purpose of this study was to find out the ‚??choreography of satampang baniah dance which had been the developed by Yeni Eliza insari bunian bukik in Sungayang subdistrict Tanah Datar district as a from of preservation of local cultural art. This research that is qualitatif research that is describes and analyzes elements or elements that suport the performence of satampang baniah dance. To discuss this choreography theory was used by Robby Hidajat, from theory by Soedarsono , conservation theory by Edy Sedyawati and development theory by Umar Kayam. This research found that satampang baniah dance was originally dancethe tradition in nagari Andaleh Baruah Bukik has now been developed by Yeni Eluza in sari bunian studio. This development efforrt was carried out to revive and preserve the almost extinct satampang baniah dance in nagari andaleh baruah bukik. Yeni Eliza efforts paid off, through the choreograpy she developed satampang baniah dance now know at the national and international level. ¬†Keywords: satampang baniah dance, choreography, preservation.

APROPRIASI GITAR DALAM KESENIAN REJUNG PADA MASYARAKAT SUKU BASHEMAH KABUPATEN KAUR PROVINSI BENGKULU

Budrianto, Budrianto Budrianto, Sriwulan, Wilma, Rosa, Marta

Gorga Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga Jurnal Seni Rupa
Publisher : Jurusan Seni Rupa Unimed

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakPenelitian bertujuan untuk membahas peran gitar sebagai bentuk apropriasi dalam kesenian rejung pada masyarakat suku bashemah ,sekaligus bertujuan untuk menambah wawasan,mendeskripsikan dan mencari kebenaran tentang kesenian tersebut mengapa kesenian ini memakai iringan permainan gitar konvensional barat. Rejung adalah perpaduan antara sastralisan beserta iringan musik menggunakan petikan gitar. Irama-irama rejung sangatlah beragam dan khas.Sastralisan yangterkandung dalam rejung terletak pada tembang-tembangnya, berupa pantun nasehat, pesanmoral, sindiran, kisah seseorang, sebuah ungkapan perasaan antara muda-mudi dan ucapan-ucapan yang dirasakan dalam hati seperti merintih,meratapi nasib,dan menyesali hidup dengan menggunakan bahasa daerah. Gitar dalam kesenian rejung berfungsi sebagai melodi pokok sekaligus pengatur tempo. Dalam musik konvensional gitar difungsikan sebagai iringan musik modern atau musik barat. sementara berbeda halnya dengan kesenian rejung,secara musikal gitar tunduk  sebagai alat musik tradisi di dalam kesenian rejung. Metodologi yang digunakan ialah metodologikualitatif dalam lingkup musik. Dengan adanya  penelitian ini untuk menambah nilai historis sebuah kesenian daerah itu sendiri dan berharap menjadi suatu referensi literasi pengetahuan bagimasyarakat kabupaten kaurdan masyarakat umum. Dalam karya tulis ini disimpulkan bahwa musik rejung memiliki gaya khas musik timur dengan memakai instrumen musik barat dan memiliki ciri khas musik tradisional Indonesia.           Kata Kunci : Rejung, Gitar Konvensional, Apropriasi.  AbstractThe study aims to discuss the role of the guitar as a form of appropriation in the art of rejung to bashemah tribal people, as well as aiming to broaden insight, describe and seek truth about the art, why is this art using conventional Western guitar playing. Rejung is a combination of oral literature and musical accompaniment using guitar passages. The rhythm of the rejung is very diverse and distinctive. Oral literature contained in the rejung lies in the songs, in the form of rhymes of advice, moral messages, satire, the story of a person, an expression of feelings between young people and words that are felt in the heart such as moaning, lamenting fate, and regretting life by using local language. The guitar in the rejung art serves as the main melody as well as the tempo regulator. In conventional music the guitar is functioned as an accompaniment of modern music or western music. while in contrast to the rejung art, musical guitars are subject to traditional musical instruments in the art of rejung. The methodology used is a qualitative methodology in the scope of music. With the existence of this research to add the historical value of the regional art itself and hope to become a reference of knowledge literacy for the people of the district of Kaur and the general public. In this paper it was concluded that rejung music has a distinctive style of eastern music by using western music instruments and has the characteristics of traditional Indonesia music. Keywords: Rejung, conventional guitar, appropriation. 

KULOUK KERINCI DALAM KARYA MAHKOTA PUTAI

Nopia, Reno, Akmal, Ahmad, Munaf, Yuniarti

Gorga Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga Jurnal Seni Rupa
Publisher : Jurusan Seni Rupa Unimed

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakKulouk merupakan¬† salah satu pelengkap pakaian berupa penutup kepala yang dipakai sebagai mahkota pengantin perempuan masyarakat Melayu Kerinci. Penciptaan karya dengan judul ‚??Kulouk Kerinci dalam Karya Mahkota Putai‚?Ě bertujuan untuk menghadirkan kembali makna filosofis tentang perempuan Kerinci yang terdapat pada kulouk Kerinci yaitu pada bagian lingkaran gelang dan tujuh kunci pada kulouk Kerinci menjadikan karakter perbedaan perempuan Kerinci dengan perempuan daerah lainnya. Hiasan pelengkap kulouk mengandung makna filosofis tentang peran perempuan KerinciLingkaran gelang dan tujuh kunci di sebelah kanan gelang kulouk mencerminkan sifat-sifat perempuan yang harus dijunjung tinggi oleh para perempuan dalam kehidupan masyarakat Kerinci. Kulouk Kerinci sebagai ide penciptaan karya seni dalam perancangan kreasi dalam bentuk mahkota putai sebagai salah satu karakter yang mewakili bentuk kulouk Kerinci.Metode yang dipakai untuk penciptaan karya yaitu melalui observasi, wawancara, dokumentasi dan proses kreasi arstistik diantaranya eksperimen,perenungan serta pembentukan desain. Karya ini melahirkan penciptaan karya mahkota putai yangdirancang menjadi tiga bentuk desain yaitu difungsikan untuk perempuan remaja,¬† perempuan dewasa dan perempuan tua. Penciptaan karya memaknai perempuan yang diistimewakan, perempuan yang dijunjung tinggi mempunyai sifat dan peran perempuan yang terdapat pada kuloukKerinci. ¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kata Kunci:Kulouk, Hiasan Kepala Perempuan, Kerinci.¬†AbstractKulouk is one of the complementary clothing in the form of a head covering that is used as the crown of the Melayu Kerinci community bride. The creation of the work entitled "Kulouk Kerinci in Mahkota Putais Work" aims to bring back the philosophical meaning of Kerinci women contained in Kerincis kulouk in the circle section of the bracelet and the seven keys in the Kerinci kulouk make the character of Kerincis womens differences with other regional women. Kulouk complementary decoration contains philosophical meaning about the role of Kerinci women. The circle of the bracelet and the seven keys to the right of the kulouk bracelet reflect the qualities of women that women must uphold in the life of the Kerinci community. Kulouk Kerinci as an idea of the creation of works of art in the design of creations in the form of a putai crown as one of the characters representing the form of Kerincis kulouk. The method used for the creation of works is through observation, interviews, documentation and the process of artistic creation including experimentation, reflection and design formation This work gave birth to the creation of the Putai crown work which was designed into three forms of design, namely for young women, adult women and old women. Creation of works means women who are privileged, women who are upheld have the nature and role of women found in the Kerinci curriculum.¬†Keywords:Kulouk, Headdress for Women, Kerinci

ESTETIKA TEKS DENDANG KAMPAR BASIANG: CERMINAN BUDAYA MASYARAKAT AGRARIS DI MINANGKABAU (ANALISIS TEKS)

Koto, Hendri, Sastra, Andar Indra, Haris, Asep Saepul

Gorga Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga Jurnal Seni Rupa
Publisher : Jurusan Seni Rupa Unimed

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakDendang kampar basiang adalah salah satu dendang yang terdapat pada kesenian saluang dendang di Minangkabau. Dendang tersebut dinilai memiliki aspek estetis pada teks yang membangun struktur pantunnya. Dilihat dari frase kalimat sampiran maupun isi, kecenderungan dalam teks pantun dendang kampar basiang memiliki kata maupun kalimat yang mengambarkan fenomena kehidupan masyarakat agraris. Penelitian ini bermaksud untuk menganalisis teks yang terdapat pada dendang kampar basiang yang dihubung-kaitkan dengan aspek sosial masyarakat Minangkabau pada umumnya. Dalam mengkaji fenomena tersebut, digunakan beberapa pendekatan telaah sastra dan estetika paradoks, serta dengan metode kualitatif. Terkait dengan hasil penalaahan teks dendang kampar basiang, maka didapati bahwa dendang tersebut merupakan sebuah cerminan dari kehidupan masyarakat agraris di Minangkabau.¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kata Kunci: estetika, agraris, dendang kampar basiang¬†AbstractKampar basiang dendang is a kind of songs in Minangkabau saluang dendang. This Dendang is considered to have aesthetic aspects of the text that build the rhyme structure. Seeing from the sentences phrase ofsampiran, as well as it‚??s content, the tendency of dendang kampar basiangrhyme has a word or phrase that describes the phenomenon of agrarian society. This research intends to analyze the texts contained inkampar basiang dendang which is related to social aspect of Minangkabau society in general. Several approaches are used to examine this phenomenon, which is literary studies and paradox aesthetic, as well as qualitative methods.In relation to the study about the text of¬† kampar basiang dendang, it has been found that dendang is a kind of reflection about the life of agrarian society in Minangkabau ¬†Keywords: aesthetic, agrarian, kampar basiang dendang

BASOSOH: KOMPOSISI MUSIK ALEATORIC DALAM FORMAT ORKESTRA FLUXUS

Suhendra, Hadi, Martarosa, Martarosa, Haris, Asep Saepul

Gorga Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga Jurnal Seni Rupa
Publisher : Jurusan Seni Rupa Unimed

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakBasosoh merupakan karya seni bunyi yang terinspirasi dari fenomena ritual Tabuik di Pariaman Sumatra Barat. Basosoh merupakan kata sifat yang frontal, biasanya diungkapkan dengan berbagai media seperti permainan musik, mengguncang atau mengarak benda seperti Tabuik dengan meneriakan kata Sosoh. Seiring berkembangnya teknologi, Tabuik di tengah-tengah masyarakat telah terkontaminasi oleh desakan otonomi daerah, desakan pariwisata dan otoriter pemerintah yang lebih menggairahkan untuk menunjang sektor kepariwisataan. Posisi dan tujuan untuk pariwisata telah menjadikan Tabuik berubah dari ‚??ritual‚?? menjadi sekuler. Adanya sekularitas masyarakat secara sadar menyadari perubahan (transformasi) terhadap nilai, fungsi dan makna dalam ritual Tabuik. Berlatar belakang dari transformasi ritual Tabuik, pengkarya terinspirasi untuk menciptakan sebuah karya musik Aleatoric dengan memakai teknik komposisi avant garde serta teknik tradisional musik Barat seperti Canon, imitasi, repetisi dan sekuen. Metode penciptaan dilakukan dengan beberapa pengelompokan kerja: Metode Pengembangan Konsep (Observasi, Wawancara, Pengumpulan Data, dan Perumusan Konsep); dan Metode Mewujudkan Konsep (Eksplorasi, Eksperimentasi, dan Aplikasi). Dalam penggambaran ekspresi zeitgeist ritual Tabuik, karya komposisi musik ini dibuat dalam bentuk tiga bagian berbeda, yang masing-masing diberi judul: Ago, Oyak dan Sosoh. Selanjutnya karya komposisi ini disajikan dengan harapan agar mengetahui, menyadari dan mengkritisi peristiwa budaya masyarakat Pariaman serta memberi tawaran musik baru dalam setiap prosesi upacara Tabuik.¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kata Kunci: Basosoh,Tabuik, Aleatoric, Orkestra, Fluxus.¬†AbstractBasosoh is a sound artwork inspired by the phenomenon of Tabuik ritual in Pariaman, West Sumatra. Basosoh is a frontal adjective, usually with various media such as music games, shaking or parading objects like Tabuik by shouting Sosoh. Along with the development of technology, Tabuik in the midst of the community has been contaminated by the insistence of regional autonomy, the pressure of the government and the authoritarian government which is more exciting to support the tourism sector. The position and purpose to make Tabuik change from ritual to secular. The existence of societys secularity, especially towards changes (changes) in values, functions and meanings in the Tabuik ritual. Set from a change in ritual of Tabuik, a visual masterpiece to create an Aleatoric music by using avant garde techniques and traditional music techniques such as Canon, imitation, repetition and sequences. The method is done with several work groupings: Observation Method, Interview, Data Collection, and Concept Formulation); and Conceptualizing Methods (Exploration, Experimentation, and Applications). In describing the zeitgeist Tabuik ritual expressions, this musical composition work is made in the form of three different parts, each of which is entitled: Ago, Oyak and Sosoh. Furthermore, these tasks are carried out in ways to find out, and criticize Pariaman cultural events and provide new tasks in each Tabuik ceremony procession. ¬†Keywords: basosoh, tabuik, aleatorik, orchestra, fluxus.¬†

ASO GUMBALO SEBAGAI INSPIRAS DALAM PENCIPTAAN SENI LUKIS

Yadi, Satri, Munaf, Yuniarti, Dhasono, Dhasono

Gorga Jurnal Seni Rupa Vol 7, No 2 (2018): Gorga Jurnal Seni Rupa
Publisher : Jurusan Seni Rupa Unimed

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstrakAso Gumbalo¬†dalam penciptaan karya seni lukis diilhami dari kehidupan pengembala yang menjadi inspirasi pencipta yang diungkap melalui media seni lukis dengan mengambil ide ‚??Harapan Pengembala‚?Ě (Aso Gumbalo). Harapan Gembala dapat diartikan sebagai keinginan, kecendrungan dan dorongan hati yang kuat terhadap sesuatu hal yang ingin direalisasikan untuk menjadikan seorang lebih baik dimasa depan. Pengekspresian ide cipta berangkat dari fenomena¬†Aso Gumbalo¬†yang pencipta ungkap dengan ekspresi simbolik kedalam penciptaan karya seni lukis. Metode penciptaan karya ini melalui tahapan yaitu; 1) Tahap eksplorasi adalah tahap pencarian ide-ide dengan melakukan riset emik dan etik untuk pembuatan karya, 2) Tahap perancangan yaitu tahap pembuatan purwarupa yang akan diwujudkan kedalam bentuk karya seni lukis, 3) Tahap proses garapan karya. Konsep dari penciptaan karya merupakan ekspresi simbolik dengan memanfaatkan idiom tradisi, ekspresi tersebut digambarkan pada perwujudan karya menggunakan strategi media dan strategi visual dengan menggunakan konsep pengolahan bentuk, yaitu disformasi dan transformasi dengan melakukan penggabungan beberapa teknik antara lain, teknik plakat, transparan, tekstur semu dan tekstur nyata.¬†Aso Gumbalo¬†sebagai inspirasi yang diungkapkan dalam bentuk karya seni lukis ekspresi simbolik. Karya-karya yang diciptakan pengkarya disajikan dalam bentuk pameran.¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬†¬† Kata Kunci:¬†aso gumbalo, ekspresi simbolik, seni lukis.¬†¬†AbstractAso Gumbalo in the creation of painting works was inspired from the life of the shepherd who became the inspiration of the creator which revealed through the medium of painting by taking the idea of "Hope of the Shepherd" (Aso Gumbalo). Shepherd Hope can be interpreted as a strong desire, inclination and encouragement towards something that wants to be realized to make someone better in the future. The expression of copyrighted ideas departs from the phenomenon of Aso Gumbalo, which the creator expressed with a symbolic expression into the creation of painting. This method of creating works through several stages, namely; 1) The exploration phase is the stage of searching for ideas by conducting emic and ethical research for the production of works, 2) the design phase that is the prototype-making stage which will be realized in the form of painting, 3) the process stage of the work done. The concept of creation of works is a symbolic expression by utilizing traditional idioms, these expressions are depicted in the realization of the work using media strategies and visual strategies by using the concept of form processing, namely deformation and transformation by combining several techniques, such as plaque, transparent, pseudo-texture and real texture. Aso Gumbalo as an inspiration expressed in the form of paintings of symbolic expression.¬†works created by artists are presented in the form of¬†exhibitions.¬†Keywords:¬†aso gumbalo, symbolic expression, painting.