cover
Filter by Year
CAKRAWALA
Cakrawala is published twice a year in June and December. This journal encompasses original research articles, review articles, and short communications, including: 1. Government Issue 2. Ecomonic and Financial 3. Natural Resource and Technology, 4. Social Science
Articles by issue : Vol 10, No 1: Juni 2016
12
Articles
PEMODELAN SPASIAL DAYA DUKUNG LINGKUNGAN DALAM UPAYA KONSERVASI SUMBERDAYA ALAM DI JAWA TIMUR

Sukarno, Hari, Hisamudin, Nur, Fitriana, Nurul Isnaini

CAKRAWALA Vol 10, No 1: Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (8044.611 KB)

Abstract

Kegiatan konservasi dan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya berasaskan pelestarian dan kemampuan, serta pemanfaatan sumberdaya alam hayati dan ekosistemnya secara serasi dan seimbang.Asas tersebut merupakan landasan untuk mencapai tujuan, yaitu mengusahakan terwujudnya kelestarian sumberdaya alam hayati serta ekosistemnya dan selanjutnya dapat mendukung peningkatan kesejahteraan serta mutu kehidupan manusia. Tujuan penelitian antara lain : (1) Mengidentifikasi dan mengetahui keterkaitan antara daya dukung lingkungan dengan perubahan pemanfaatan ruang di Jawa Timur, (2) Mengidentifikasi dan mengetahui keterkaitan antara daya dukung lingkungan dalam upaya konservasi SDA dengan lokasi kegiatan manusia (dalam konteks sosial, ekonomi, budaya), dan (3) Membuat model spasial daya dukung lingkungan dalam upaya untuk konservasi sumber daya alam di Jawa Timur, (4) Memberikan rekomendasi kebijakan yang dapat diambil oleh pemerintah provisi Jawa Timur dalam upaya konservasi sumber daya alam di Jawa Timur. Jenis penelitian yang digunakan dalam kegiatan ini adalah penelitian kualitatif deskriptif dan kuantitatif deskriptif. Dimana peneliti akan menjabarkan data-data sekunder berupa data curah hujan dan populasi penduduk serta data primer hasil wawancara yang diperoleh dari empat lokasi penelitian yang meliputi (1) Kabupaten Malang, (2) Kabupaten Pasuruan, (3) kabupaten Mojokerto, dan (4) Kabupaten Jombang. Data ini kemudian dianalisis dan diambil kesimpulan. Pembahasan terakhir, terkait dengan rekomendasi/ saran untuk pemerintah provinsi Jawa Timur. Hasil analisis yang dilakukan pada tahun 2010 menunjukkan bahwa luas hutan terbesar berada di Kabupaten Malang yaitu seluas 796,44 km2, diikuti oleh Kabupaten Kediri dan Kabupaten Jombang dengan luas masing-masing 284,69 km2 dan 195,60 km2. Pola ini juga berlaku untuk penggunaan lahan Sawah Irigasi dan Pemukiman.Analisis penggunaan lahan ini sangat diperlukan untuk membuat estimasi seberapa jauh pengaruh faktor-faktor penggunaan lahan ini dapat mempengaruhi tingkat keberadaan kawasan dan tutupan hutan. Luas Sawah Tadah hujan terkait dengan posisi geografisnya dimana pada umumnya sawah tadah hujan terletak di kawasan dengan kelerengan besar (>25%) dan altitude tinggi. Analisis spasial overlay menunjukkan dari batas administratif tingkat Kecamatan dan Kabupaten dengan area Daerah Aliran Sungai (DAS), Sub DAS, dan Basin Block untuk mendapatkan luas daerah tangkapan hujan (Catchment Area), Debit aliran air sungai dan ketersediaan air. Kesimpulan kegiatan didapatkan fakta bahwasannya terdapat keterkaitan antara daya dukung lingkungan dengan perubahan pemanfaatan ruang di Taman Hutan Raya dengan indikator curah hujan dan  debit air rata-rata tahunan selama 20 tahun (R2  = 0,52). Terdapat keterkaitan yang cukup besar antara daya dukung lingkungan dalam upaya konservasi sumber daya alam dengan lokasi kegiatan manusia dalam konteks sosial-ekonomi (landuse-pendapatan, R2= 0,63) dan keterkaitan yang rendah terkait sosial- budaya (landuse-tingkat pendidikan, R2= 0,58 dan landuse-jenis pekerjaan, R2= 0,42).

FRONT COVER

Editor, Editor

CAKRAWALA Vol 10, No 1: Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1387.131 KB)

Abstract

KEBIJAKAN INDUSTRI KREATIF MENDORONG EKONOMI KERAKYATAN DI KABUPATEN BOJONEGORO

HT, M. Amir.

CAKRAWALA Vol 10, No 1: Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9113.867 KB)

Abstract

Metode dalam kajian ini, menggunakan metode kualitatif sesuai dengan topik kebijakan industri kreatif mendorong ekonomi kerakyatan di Kabupaten Bojonegoro, metode kualitatif dilakukan karena permasalahan yang diungkap adalah permasalahan yang tidak terungkap melalui data-data statistik, sehingga perlu pendekatan tertentu untuk memahaminya. Penelitian kualitatif merupakan cara untuk memahami perilaku sosial yang merupakan serangkaian kegiatan atau upaya menjaring informasi secara mendalam dari fenomena atau permasalahan yang ada di dalam kehidupan suatu objek, dihubungkan dengan pemecahan suatu masalah, baik dari sudut pandang teoritis maupun empiris. Indonesia saat ini membutuhkan suatu gebrakan dalam perkembangan ekonomi nyata, di antaranya adalah pemenuhan kebutuhan oleh Sumber Daya Manusia, improvisasi dari para pelaku ekonomi, serta kreativitas para pelaku ekonomi (Industri Kreatif). Maka tiga elemen tersebut menjadi sangat dibutuhkan, dalam upaya pengembangan potensi ekonomi kreatif memerlukan rantai nilai yang saling bertaut. Hal ini meliputi aspek penyediaan bahan dasar, proses produksi, sampai dengan distribusi dan konsumsi. Oleh karena itu, perlu mempertimbangkan potensi kewilayahan serta pengembangan tata ruang yang terintegrasi. Sebuah kota kreatif biasanya memiliki beberapa wilayah penyangga yang menjadi bagian dari keseluruhan rantai nilai yang ada. Pola relasi ini dapat dibentuk secara sistematis dengan menghubungkan potensi yang berkembang di beberapa kabupaten, ataupun desa sekaligus dalam satu koridor zona kreatif, melalui regulasi kebijakan. Bojonegoro, Selain kaya dengan potensi Minyak dan Gas Bumi (Migas), kabupaten yang terkenal dengan sebutan Bumi Angling Dharma tersebut juga memiliki banyak industri kreatif, seperti halnya industri Gerabah yang ada di Desa Rendeng Kecamatan Malo Kabupaten Bojonegoro. Namun, Industri tersebut tak sebesar namanya saat di suarakan di panggung-panggung elit pemkab, sebab pelaku industri tersebut banyak mengeluhkan minimnya upaya yang dilakukan pemkab untuk membesarkan industri dari bahan dasar tanah liat tersebut. Berdasarkan data terakhir, industri kreatif mampu berkontribusi terhadap PDB (produk domestik bruto) sebesar 7,29 persen pada tahun 2013 lalu atau senilai 486,1 triliun rupiah (Kemenparekraf dalam Koran Jakarta, 17 Mei 2014). Pada tahun 2010, industri kreatif mampu menyerap tenaga kerja sebanyak 8,6 juta orang dengan rata-rata tingkat partisipasi sejak tahun 2002 sebesar 7,8% (BPS dan Kemenparekraf,tanpa tahun dalam Renstra Kemenparekraf 2012-2014:52).

STRATEGI PENGEMBANGAN RUANG TERBUKA HIJAU DI KAWASAN INDUSTRI JAWA TIMUR

Wibowo, Yuli, Novita, Elida, Nusbantoro, Ariwan Joko

CAKRAWALA Vol 10, No 1: Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9266.756 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah menganalisis kondisi ruang terbuka hijau pada kawasan industri dan merumuskan strategi dalam mengembangkan ruang terbuka hijau di kawasan industri Provinsi Jawa Timur. Objek penelitian yang dikaji meliputi kawasan industri yang berada di Kabupaten Gresik (KIG), Kabupaten Pasuruan (PIER), dan Kabupaten Sidoarjo (SIEB). Metode analisis ruang terbuka hijau di kawasan industri menggunakan proses digitasi dengan GPS dan survey lapang dengan bantuan citra google earth dan software mapwindow. Metode perumusan strategi menggunakan analisis SWOT yang dilanjutkan dengan metode AHP untuk menentukan prioritas strategi yang tepat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa luas ruang terbuka hijau di kawasan industri KIG dan PIER telah memenuhi standar kecukupan luasan untuk RTH di industri sesuai dengan peraturan perundangan yang berlaku, sementara untuk kawasan industri SIEBkurang memenuhi luasan minimal untuk RTH yang telah dipersyaratkan. Strategi pengembangan ruang terbuka hijau di kawasan industri pada ketiga kawasan industri yang diamati cenderung memiliki kesamaan, namun berbeda pada penekanan prioritasnya. Strategi tersebut terkait dengan pengendalian tata ruang, pengembangan kawasan greenindustrial park, dan sosialisasi peran ruang terbuka hijau di kawasan industri baik kepada pihak industri dan pengelola kawasan maupun kepada masyarakat.

POLA PENGELOLAAN BINA KELUARGA REMAJA (BKR) DI PROVINSI JAWA TIMUR (STUDI KASUS DI KABUPATEN JOMBANG DAN KOTA MADIUN)

Mardiyono, Mardiyono

CAKRAWALA Vol 10, No 1: Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3962.15 KB)

Abstract

Peningkatan kualitas sumber daya manusia merupakan prasyarat mutlak untuk mencapai tujuan pembangunan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia adalah melalui program Bina Keluarga Remaja (BKR). Tujuan dari penelitian ini untuk melihat pola pengelolaan Bina Keluarga Remaja ( BKR) di Jawa Timur yang akan dijadikan model pengelolaan BKR di kabupaten/kota yang sejenis karakteristik maupun polanya dan metode yang digunakan adalah analisis diskriptif karena pendekatan diskriptif yang diharapkan ini dapat mengkaji permasalahan secara mendalam dan tidak bisa digeneralisasi hanya kabupaten/kota yang sejenis tipe dan permasalahannya. Sebagai sampelnya kelompok dengan lokasi Kabupaten Jombang dan Kota Madiun, karena sebagai juara tingkat Provinsi maupun Nasional. Dalam pengumpulan data ini digunakan tiga teknik yaitu dokumentasi, teknik FGD (Focus Group Discussion), dan teknik wawancara mendalam (Indepth Interview). Adapun hasil dari penelitian ini adalah bila ditinjau dari sisi pengembangan kemitraan hasil inovasi kelompok masih belum kelihatan, sedang pertemuan rutin kader sudah berjalan setiap bulan dan penyuluhan materi BKR oleh kader terhadap kelompok pengajian berjalan rutin; ada kegiatan inovasi kearah ekonomi produktif; jumlah anggota inti Kelompok BKR masih rendah; koordinasi di tingkat kecamatan sudah berjalan baik; sudah memiliki BKR percontohan, namun belum sesuai dengan kriteria BKR percontohan; dana operasional untuk kegiatan pertemuan masih kurang; dan yang perlu diperhatikan bahwa Pokjanal di tingkat kabupaten masih belum terbentuk terutama di Kota Madiun. Apabila program BKR bisa berjalan dengan baik dan berkesinambungan kegiatannya, maka perlu direkomendasikan agar pelaksanaan program BKR diintegrasikan dengan kegiatan pengajian yang dimiliki oleh LSM (Muslimat, Fatayat dan Aisyiah).

FRONT PAGE

Editor, Editor

CAKRAWALA Vol 10, No 1: Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (656.424 KB)

Abstract

PENGARUH EMPATI, KECEPATAN DAN KEMUDAHAN TERHADAP KEPUASAN PENANGANAN PENGADUAN DI PUSAT PELAYANAN PENGADUAN MASYARAKAT (P3M) KABUPATEN SIDOARJO

Sutanto, Slamet Hari

CAKRAWALA Vol 10, No 1: Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (4600.234 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah (i), Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh kualitas penanganan pengaduan yang terdiri dari empati, kecepatan dan kemudahan terhadap kepuasan penanganan pengaduan pada P3M Kab. Sidoarjo dan (ii), Untuk mengetahui dan menganalisis dimensi kepuasan penanganan pengaduan yang berpengaruh paling besar terhadap kepuasan penanganan pengaduan pada P3M Kab. Sidoarjo. Penelitian ini dilaksanakan pada P3M Kab. Sidoarjo dengan sampel sebanyak 62 orang diambil secara simple random sampling. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian adalah metode survey eksplanatif yang bersifat asosiatif dengan maksud menjelaskan hubungan (korelasi) antara variabel, sedangkan untuk menganalisis data kuantitatif menggunakan alat analisis regresi linier berganda. Hasil penelitian menyimpulkan bahwa variabel empati, kecepatan dan kemudahan secara parsial maupun bersama-sama (simultan) berpengaruh signifikan positif terhadap kepuasan penanganan pengaduan pada P3M Kab. Sidoarjo. Berdasarkan hasil perhitungan ditemukan bahwa dimensi kecepatan yang paling besar berpengaruh terhadap kepuasan penanganan pengaduan pada P3M Kab. Sidoarjo.

BACK PAGE

Editor, Editor

CAKRAWALA Vol 10, No 1: Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.007 KB)

Abstract

OPTIMALISASI BUDIDAYA TANAMAN TEBU (SACCHARUM OFFICINARUM. L) DI LAHAN KERING BERBASIS VARIETAS DAN PERBANYAKAN BIBIT BERORIENTASI HAMPARAN, MEKANISASI DAN KEBIJAKAN

Sudiarso, Sudiarso, Budi, Setyo, Tarno, Hagus, Sari, Sasmita

CAKRAWALA Vol 10, No 1: Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (6099.022 KB)

Abstract

Penelitian ini berfokus pada optimalisasi budidaya tanaman Tebu (Saccahrum Officinarum, L) di lahan kering berbasis varietas dan perbanyakan bibit berorientasi hamparan dan mekanisasi serta kebijakan.Penelitian ini dilaksanakan di Kebun Wotansari Kabupaten Gresik dari bulan Oktober 2014 sampai Desember 2015. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Kelompok Faktorial dengan dua faktor. Faktor I. Varietas terdiri 4 yaitu : Bululawang, VMC 76-16, Cokro, klon Columbia 2. Faktor II. Perbanyakan bibit terdiri 2 yaitu : Bagal dan Budchips. Masing-masing kombinasi perlakuan diulang 3 kali. Kombinasi perlakuan ada 24. Hasil penelitian : 1). Perlakuan varietas dan perbanyakan bibit menyebabkan interaksi nyata terhadap tinggi batang tebu waktu tanaman umur 3 bulan. Batang tebu tertinggi 361,7 Cm waktu umur 12 bulan dihasilkan varietas Bululawang dari bibit budchips yang ditanam secara double planting dan tidak berbeda nyata dengan klon Columbia 2. 2). Perlakuan varietas dan perbanyakan bibit menyebabkan interaksi nyata terhadap jumlah batang waktu umur 3 dan 6 bulan. Jumlah batang terbanyak 121 batang waktu umur 6 bulan dihasilkan varietas Cokro dari bibit bagal maupun budchips yang ditanam secara double planting dan tidak berbeda nyata dengan klon Columbia 2. Jumlah batang /10 meter terbanyak 129 batang waktu umur 12 bulan dihasilkan varietas Cokro dari bibit budchips dan tidak berbeda nyata dengan varietas Columbia 2 yang ditanam secara double planting.3). Waktu umur 12 bulan, varietas dan perbanyakan bibit tidak berpengaruh nyata terhadap brix batang tanaman kecuali perlakuan perbanyakan bibit waktu umur 9 bulan yang ditanam secara double planting. Waktu umur 12 bulan, brix batang tertinggi 25,4 % dihasilkan varietas Cokro dari bibit budchips dan tidak berbeda nyata dengan klon Columbia 2 yang ditanam secara double planting. 4). Perlakuan varietas dan perbanyakan bibit waktu umur 12 bulan secara analisa ragam tidak menunjukaan perbedaan nyata terhadap diameter batang tebu. 5). Waktu umur 12 bulan hanya perlakuan perbanyakan bibit yang berpengaruh terhadap rata-rata rendemen batang tebu. Rendemen tertinggi 11,2 % dihasilkan varietas Cokro dari bibit budchips yang secara analisa ragam tidak berbeda nyata dengan varietas lain yang ditanam secara double planting. 6). Waktu umur 12 bulan hanya perlakuan varietas yang berpengaruh pada berat tebu. Berat tebu per batang tertinggi adalah 2,1 kg dihasilkan varietas Cokro dari bibit budchips yang ditanam secara double planting.

IDENTIFIKASI WILAYAH KRISIS AIR BERSIH BERDASARKAN ANALISA KEBUTUHAN DAN KETERSEDIAAN AIR DI KABUPATEN BANYUWANGI

Husein, Acmad

CAKRAWALA Vol 10, No 1: Juni 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3910.318 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui wilayah kecamatan mana saja yang masih membutuhkan air bersih di wilayah Kabupaten Banyuwangi. Lokasi yang menjadi obyek penelitian meliputi 5 wilayah kecamatan, yaitu Kecamatan Wongsorejo, Kecamatan Licin, Kecamatan Songgon, Kecamatan Kalibaru dan Kecamatan Pesanggaran. Metode penelitian ini menggunakan 2 analisis, yaitu analisis kebutuhan air bersih dan analisis ketersediaan air bersih dengan pendekatan 4 parameter yakni : a). Luas kawasan hutan; b). Curah hujan; c). Luas wilayah; dan d). jumlah penduduk. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari ke lima wilayah kecamatan di Kabupaten Banyuwangi, hanya wilayah Kecamatan Kalibaru yang termasuk kategori daerah krisis air dengan jumlah penduduk 61.820 jiwa dan luas wilayah 18.741,80 Km2. Hal ini dapat dilihat dari hasil perhitungan kebutuhan air menunjukkan (K) = 1353.870,9 m3/tahun. Sedangkan hasil perhitungan imbuhan air tanah (RC) menunjukkan = 556.633 m3/tahun (belum tercukupi). Solusi yang harus dilakukan Pemerintah Kabupaten Banyuwangi adalah melaksanakan kegiatan reboisasi pada lahan hutan yang masih gundul seluas 0,78 % untuk mencapai target luas hutan minimal 30 % dari luas total wilayah Kecamatan Kalibaru sesuai amanat Undang-Undang No. 26 Tahun 2007, sehingga peran hutan menjadi optimal dan mampu memberikan manfaat terhadap lingkungan, sosial dan ekonomi masyarakat setempat.