cover
Filter by Year
WACANA, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi
Wacana, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi merupakan wujud karya ilmiah tentang kajian ilmu komunikasi yang melingkupi hasil penelitian dengan tema atau topik yang dibahasa dalam jurnal Wacana meliputi kajian ilmu komunikasi baik Komunikasi Politik atau pun Komunikasi Lintas Budaya; Strategic Communication meliputi Kehumasan, Periklanan, IMC, maupun Branding; Analisis Teks, Semiotika; dan juga Media Studies.
Articles by issue : Vol 4, No 2 (2005)
8
Articles
FILSAFAT ILMU KAJIAN PERSPEKTIF HISTORIS

Edhar, Bambang

WACANA, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Zaman dahulu ilmu menjadi  bagian dari filsafat. Difinisi tentang ilmu banyak dipengaruhi oleh system filsafat yang dianut. Setelah ilmumengalami  kemandirian, difinisi  tidak  lagi  dirumuskan   berdasarkan filsafat,  tetapi  didasarkan  pada  apa fungsi  dan metodologinya,  yang dengan tegas  memberi batasan  pengertian  ilmu.Menurut CA.Van  Peursen dalam J.Drost (1985; 1)  renungan mengenai    apakah    ilmu,   sama  tu any a dengan   ilmu  itu  sendiri. Filsafat ilmu mencakup dua kecondongan terten.Pertama, dapat disebut tendensi metafisik. Haluan ini menyelidiki dasar-dasar  ilmu. Berbagai gejala mengenai hukum realitas alam, hakikat makna, dan sifat pengetahuan serta berbagai gejala-gejala alam dan kehidupan lainnya,mendasari pemikiran manusia sepanjang abad. Demikian    halnya pemikiran Aristoteles dan Collingwood, Newton dan Kant, Descartes, serta Russell. Tendensi ini disebut metafisik, sebab (Opcit;2) mengatasi bahasa   "fisik".   Fisik dalam  arti apa yang  berasal  dari metode-metode     telaah   empiris ilmu   tertentu.    Maka   metafisik adalah  interaksi  dengan   data  di luar  ilmu,   suatu  interaksi  yang tidak  hanya  mempengaruhi   ahli- ahli ilmu pengetahuan,   suatu  hal yang kiranya diterima oleh semua, juga  struktur  ilmu itu sendiri.Kedua,disebut kecondongan metodologik. Peursen menjelaskan bahwa ilmu disepadani    terhadap    apa  yang terletak  diluar pagar. Dan yang di luar   pagar    dikecualikan     dari analisis    tentang    struktur    ilmu pengetahuan.Sebagai pengganti sangat berharga. Pada ilmu pengetahuan, nilainyadisebabkan oleh faedahnya, akan tetapi pada filsafat sebaliknya faedahnya berasal  dari nilainya  filsafat melampaui  kategori  kegunaan dan faedah".

SOCIAL MARKETING DAN PUBLIC RELATIONS Sebuah Pendekatan dalam Perubahan Perilaku Terencana

Hermawan, Herry

WACANA, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Banyak  orang beranggapan bahwa  public (PR) identik dengan publisitas, propaganda   dan  iklan  gratis.  Anggapan ini muncul karena  biasanya aktivitas  PR,  terutama  di lembaga-lembaga pemerintah, mempublikasikan  kebijakan-kebijakan   pemerintah. PR juga  sering  dipakai  oleh  banyak perusahaan   untuk  memenangkan persaingan baik melalui berita maupun iklan.  Karena iklan harus dibayar, maka berita tentang perusahaan sering   dianggap  iklan   gratis. Tampaknya  tugas  PR di sini sekedar menjaga hubungan  baik dengan media  massa.   Selain  itu  ada  juga  yang menyamakan    PR  dengan hubungan   pribadi  dan  pekerjaan   menjual  senyum.  Walaupun   para praktisi     PR   perlu    mengembangkan hubungan pribadi dan keramahtamahan,   tetapi  hal ini bukan PR

Organizational Discourse: Ideologi dan Relasi Kuasa dalam Organisasi

Prasetya, Hendri

WACANA, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Oganizational Discourse adalah kajian kritis keorganisasian yang berfokus  pada  proses relasi kuasa  dan dominasi  yang terbentuk    dalam   realitas sosial organisasi, melalui proses pewacanaan yang  terjadi.  Proses  pengorganisasian sendiri dilihat sebagai situs dominasi  (site  of  domination)  kelornpok  tertentu. Semuabentukan kuasa dan dominasi tersebut tertanam dalam pemaknaan wa-cana - wacana yang  berkembang  dalam organisasi dan  melebur sebagai  konsepsi  budaya oganisasi  itu sendiri.Secara  umum organisasi  kerap dipahami    sebagai    kumpulan sejumlah  orang   yang memiliki tujuan tertentu,  dengan struktur pembagian   kerja  yang jelas  dan terarah. lstilah "organisasi" didefinisikan   sebagai  sesuatu yang   nyata  merangkum    orang- orang,  hubungan-hubungan dan tujuan yang  jelas. Organisasi menjadi   semacam   wadah   kerja bagi  orang-orang   yang  memiliki tujuan yang sama

PANDUAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT FIKOM UPDM(B)

Gunadi, YS

WACANA, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Istilah "Pengabdian Kepada Masyarakat" oleh sementara perquruan tinggi lain telah di dudah namanya,  berdasarkan filosofis masing­masing, sepert ilnstitut Pertanian Bogor menggantinya dengan sebutan "Pemberdayaan Kepada Masyarakat". Pemberdayaan Kepada Masyarakat memiliki konotasi bahwa kalangan akademisi wajib mampu memberdayakan potensi masyarakat bersifat timbale balik, guna tercapainya kesejahteraan   yang bersangkutan.Kegiatan pengadian kepada sumber daya manusia pada masyarakat diIndonesia   pada tingkat pendidikan tinggi. Umumnya  dikelola oleh setiap Kehidupan  dan perkembangan Departemen Teknis di bawah akademik diperguruan tinggi tidak koordinasi Badan Penelitian dan terlepas dari perkembangan ilmu Pengembangan (BadanLitbang)     pengetahuan,  teknologidansenimasing­masing.    Pengabdian (IPTEKS) serta tuntutan Kepada Masyarakat dalam masyarakat seirama dengan operasionalisasinya, bekerja meningkatnya kualitas secara koordinatif ­ integrative kehidupannya.Dengan demikian dengan direktorat­direktorat lain di program  pembinaan mengarah bawah Direkturat Jenderal kepencapaian hasil optimal dari Pendidikan Tinggi (Dirjen Dikti) Tri Darma Perguruan Tinggi yang untuk menumbuhkan sinergi yang mencakup Pendidikan, Penelitian, positi fbaik penyepurnaan atau pundan.Pengabdian Kepada pengembangan penyiapan Masyarakat.

ISU ETIKA DAN PROFESIONALISME dalam HUMAS

Syuaib, Muhamad Fauzie

WACANA, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Setiap pembicaraan    mengenai   status  profesional humas  pada dasarnya diawali dengan etika. Etika dan profesionalisme adalah masalah yang mendunia,  dengan  tanggung_ jawab  sosial yang bukan lagi merupakan persoalan  yang  sepele.  ldealnya,  lembaga-lembaga sosial yang profesional  menggunakan   self-policing untuk  mencegah penyalahgunaan jabatan,  menjalankan  moralitas  bersama  dan untuk menjamin  bahwa sikap  profesionalisme    akan  melakukan   apa  yang disebut perilaku yang benar. Adanya self-policingdalam berbagai profesi bermanfaat  untuk menjaga  kepercayaan  public dan mendukung  sikap profesional.  

APA ITU INVESTIGATIVE REPORTING? Institut Studi Arus lnformasi

indriyani, indriyani

WACANA, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Apakah  semua  wartawan  menjalankan  fungsi investigasi? Jawabnya  bisa ya bisa tidak. Sebagian wartawan mengatakan  setiap Vreporter   juga  seorang  investigator.  Namun ada yang  mengatakan tidak  setiap  wartawan   melakukan   investigasi.   Wartawan  yang  ikut pertemuan  pers, menyodorkan  tape recorder dan sekali-kali menerima amp/op,  pasti bukan seorang  investigator. Namun   ada juga  yang  berpendapat   setiap  wartawan   seyogyanya menjadi    seorang    investigator.   Atau   dipertajam  /agi,   ada  ya.ng mengatakan    bahwa  setiap  wartawan   harus  bisa  menjadi   seorang investigator. Entah itu wartawan di ba/ai kola atau reporter bisnis. Bahkan wartawan  yang bertugas me/iput pakaian mode baru juga bisa menjadi investigator.    Logikanya,   kejahatan   tidak  mengenal   bidang-bidang liputan.  Di mana-mana  bisa terjadi kejahatan. Sebagian    wartawan   juga   mengatakan    bahwa  investigasi  adalah pekerjaan  jurnalisme  yang dikaitkan  dengan  upaya membongkar  apa- apa yang  dirahasiakan.   Namun  apakah  membongkar  skandal  antara seorang   manajer   dengan  mantan  sekretarisnya  juga  dikategorikan investigasi?   Berhakkah  masyarakat  maupun  media masuk  hingga  ke ruang   pribadi   ini?  Apa  beda  investigative    reporting   dan  in-depth reporting?

PEMBENTUKAN DAN PENGEMBANGAN HUBUNGAN PERTEMANAN ANTAR ETNIS DI JAKARTA( Suatu Studi Komunikasi Antarpribadi di Kalangan Etnis Betwati dan Non-Betawi di Jakarta)

nurkholisoh, nurkholisoh

WACANA, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil penelitian yang dimaksud dalam tulisan ini, adalah hasil temuan                       yang  diperoleh  dari observasi  dan wawancara  denqan  nara sumber.Sebagaimana    yang   dikemuka kan oleh Altman dan Taylor dalam teori penetrasi   sosial, bahwa setiap   interakst  awal   cenderung melalui   tahapan-tahapan dan berlangsung secara  periahan serta rnemsrlukan   waktu panjanq, rnaka   hubunqan   cenderunq diawali   dengan  perkenalan    yang bersifat xetidaxakraoan, kemudian dalam proses berikutnya berkembang menjadi hubungan yang lebih akrab.Tahapan-tahapan pembentukan dan pengembangan hubungan antarpribadi, sebagaimana teori penetrasi sosial,  juga  akan melalui      suatu proses yang berkesinambungan  dan terus berjalari dengan  malalui beberapa perubahan. lndividu  yang terlibat tidak  akan  melihat   hal  tersebut sebagai  proses  yang mekanistik dan  tidak  akan  membuat   suatu asurnsi untuk rnenunjukkan bahwa proses penetrasi sosial bergerak pada xecepatan yang sama dan  individu   yang berbeda.

DARI PUBLISISTIK KE KOMUNIKASI

Sundoro, Panggih

WACANA, Jurnal Ilmiah Ilmu Komunikasi Vol 4, No 2 (2005)
Publisher : Universitas Prof. Dr. Moestopo (Beragama)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Judul Diatas sebenarnya untuk mengetengahkan tentang bagaimana perkembangan dari llmu Publisistik sampai menjadi llmu. Komunikasi, juga perkembangan perubahannya Fakultas llmu Publislstik keFakultas llmu Komunikasi. Khususnya dalam hal ini Fakultas llmu Komunikasi Universitas prof.Dr.Moestopo (Beragama), dalam sejarah berdirinya, pendirinya yaitu Prof. Dr.Moestopo. Oleh karena itu ada sebutan dalam deretan namanya untuk Prof. Dr. Moestopo sebagai Bapak Publisistik. Selain pendiri Fakultas llmu Publisistik Universitas Prof. Dr. Moestopo didirikan oleh Mayor Jenderal prof. Dr. Moestopo tanggal 21 Januari 1963, juga pendiri Fakultas llmu Publisistik Universitas Padjajaran.                                          Dalam kuliah umum Prof.  Dr.   jurnalis, penerangan, Humas Moestopo, pada waktu penulis sebagaimana  yang dimaksud). Kuliah perdana tahun1964  dikatakan kalau seorang dokter Fakultas Umum Publisistik Unpad, salah menyuntik maka hanya beliau sudah mengatakan llmu seorang yang mati, tetapi kalau Publisistik itu sangat penting seorang komunikator salah karena untuk berkomunikasi. menyuntik, artinya salah Pemahaman tentang publisistik memberikan pemberitaan maka harus mendalam justru karena korbannya tidak hanya satu, inilah"kamu semuah arus belajar korban bias puluhan, ratusan, ilrnu publisistik seluas-luasnya". Ribua norang. Jadi pada waktu itu Prof.Moestopo memperbedakan PakMoestopo sudah melihat dan antara Dokter dengan memperhatikan perkembangan Komunikator (sebutan untuk dari Pubfisistik kekomunikasi).