cover
Filter by Year
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Articles by issue : Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
7
Articles
Pengaruh Diabetes Mellitus Gestasional Terhadap Sirkulasi Uteroplasenta

Isngadi, Isngadi, Sindharta, Redhy, Uyun, Yusmein, Rahardjo, Sri

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus pada kehamilan (Gestational diabetes mellitus/GDM) adalah intoleransi glukosa yang ditemukan pertama kali pada masa kehamilan dan sering menimbulkan komplikasi pada ibu yang mengandung maupun janin yang dikandung. Beberapa organ pada GDM mengalami perubahan struktur dan perubahan fungsi termasuk disfungsi endothel mikrosirkulasi dan makrosirkulasi fetoplasenta. Endothelium-derived Relaxing Factors (EDRF) khususnya prostasiklin dan nitrik oksid berperan penting dalam mengontrol sirkulasi fetoplasental. Endothel vaskuler pasien GDM mengalami disfungsi,  sehingga  sintesa dan pelepasan prostasiklin dan nitrik oksid (NO) mengalami gangguan sehingga tonus arteria meningkat. Peningkatan tonus arteri yang menuju uterus akan menurunkan aliran darah uteroplasenta dan akhirnya menurunkan umbilical blood flow (UmBF). Endothel  pembuluh darah merupakan target utama dari stress oksidatif. Sintesa NO merupakan mekanisme penting yang mendasari perubahan pembuluh darah sistemik dan pembuluh darah uterine selama kehamilan. Beberapa evidensi penelitian membuktikan peranan NO dan ADMA pada kehamilan normal dan insufiensi plasenta. Dengan berkembangnya pengetahuan akan mekanisme gangguan jalur ADMA-NO, pilihan tambahan untuk intervensi terapetik akan dapat ditemukan. Tatalaksana GDM secara umum adalah dengan pengaturan diet, latihan fisik selama tidak ada kontraindikasi, pengawasan dan kontrol gula darah, dan terapi farmakologi Berbagai penelitian lain terus berusaha menemukan terapi-terapi baru untuk memperbaiki endothel dan sirkulasi uteroplasenta pada pasien GDM.

Pengaruh Pemberian Minuman Karbohidrat Dan Protein Whey Pra Operasi Terhadap Kadar C- Reactive Protein Pasca Operasi Pada Pasien Mastektomi

Endrianto, Edwin Santoso, Primatika, Aria Dian, Pujo, Jati Listiyanto

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : CRP adalah protein fase akut yang kadarnya dalam darah sangat berkaitan erat dengan respon inflamasi akut yang terjadi.Tindakan pembedahan dan puasa yang berkepanjangan menyebabkan pelepasan sitokin-sitokin  proinflamasi dan  mediator inflamasifaseakut melalui proses yang rumit.Tujuan : Membuktikan pengaruh pemberian minuman karbohidrat dan protein whey praoperasi terhadap kadar CRP pascaoperasi pada pasien mastektomi.Metode : Penelitian jenis uji klinis acak terkontrol. Sampel penelitian sebanyak 26 dibagi menjadi 2 kelompok. Kelompok perlakuan (13 sampel) diberikan 400 mL minuman karbohidrat dan protein whey malam sebelum operasi dan 200 mL 4 jam sebelum operasi. Kelompok kontrol diberikan air mineral dengan jumlah dan waktu pemberian yang sama dengan kelompok perlakuan. Kedua kelompok diperiksa kadar CRP pra dan pascaoperasi.Hasil : Terdapat perbedaan bermakna ( p = 0,001) pada kadarCRP pascaoperasi antara kelompok kontrol yaitu 7,62 ± 2,074 dibandingkan dengan CRP pascaoperasi kelompok perlakuan yaitu 2,81 ± 2,920. Selain itu juga terdapat perbedaan yang bermakna (p = 0,000) dalam selisih kadar CRP praoperasi dan pascaoperasi pada kelompok kontrol yaitu 5,36 ± 0,535 dibandingkan dengan kelompok perlakuan yaitu 0,89 ± 0,938.Kesimpulan : Pemberian minuman karbohidrat dan protein whey pra operasi terbukti menurunkan respon inflamasi fase akut pascaoperasi, yang tergambar dari peningkatan kadar CRP pascaoperasi yang lebih rendah pada kelompok perlakuan dibandingkan dengan kelompok kontrol.

Perbandingan Efektifitas Larutan Antiseptik Kombinasi Chlorexidine Gluconate Cetrimide - Alkohol 70% Dengan Povidone Iodine 10 % Terhadap Kepadatan Kuman Pada Tindakan Anestesi Spinal

Indrawan, Khadafi, Jaya, Wiwi, Noorhamdani, Noorhamdani

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Infeksi bakteri dapat disebabkan oleh tehnik neuraxial. Salah satu faktor penyebab  infeksi bakteri adalah  peralatan yang digunakan, tehnik aseptik yang salah, atau larutan anti septik yang dipakai. Larutan antiseptik yang biasa digunakan pada anestesi spinal adalah chlorhexidine dan povidone iodine. Chlorhexidine gluconate adalah larutan antiseptik yang kuat dan  berspektrum luas,  efektif melawan hampir semua bakteri (gram positif dan gram negatif) dan jamur nosokomial . Povidone iodine memiliki aktivitas melawan mikroorganisme b gram negatif maupun gram postif dan dapat menembus dinding sel serta menghambat sintesis protein bakteriTujuan : Mengetahui Efektifitas  larutan antiseptik kombinasi Chlorhexdine gluconate cetrimide – alkohol 70% dengan pemakaian Povidone iodine 10%  terhadap kepadatan kuman pada tindakan  anestesi spinalMetode : Penelitian eksperimental dengan rancangan “single blind true experimental design” pada 32 pasien dengan usia 18 – 40 tahun, status fisik ASA I-II yang menjalani tindakan anestesi spinal. Terdiri dari 2 kelompok: kelompok Chlorexidine gluconate cetrimide-alkohol 70% (clor) dan kelompok Povidone Iodine 10% (pov). Dilakukan pengambilan swab I pada punggung pasien sebelum perlakuan. Dan pengambilan swab II setelah mendapat perlakuan dan mengambil cairan serebrospinal untuk dikultur. Analisa hasil dengan uji statistik dilakukan uji beda t berpasangan (sebelum dan sesudah perlakuan) dan uji t dua sampel bebas (sesudah perlakuan), dengan derajat kemaknaan yaitu nilai p< 0,05.Hasil : Insidensi kepadatan kuman pada kelompok clor sebesar 1,4% sedangkan pada kelompok pov 4,1%. Insidensi kepadatan kuman lebih banyak pada kelompok povidone iodine. Dari rata-rata penurunan kepadatan kuman sesudah perlakuan kelompok chlorexidine mean = 0,0625, sedangkan pada kelompok povidone mean = 1,0625. Rata-rata penurunan kepadatan kuman pada kelompok chlorexidine lebih kecil.Simpulan : Efektifitas antiseptik kombinasi Chlorexidine gluconate cetrimide-alkohol 70 % lebih baik bila dibandingkan antiseptik Povidone iodine 10%  terhadap kepadatan kuman pada tindakan anestesi spinal.

Perbandingan Waktu Pemberian Atrakurium Besylate Intravena 0,5 mg/kgbb 5 Detik dan 90 Detik Terhadap Peningkatan Nadi Saat Induksi Anestesi Umum di Rumah Sakit Saiful Anwar Malang

Santika, Suparno Adi, R.B, Djujuk, Karmini, Karmini

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Atracurium besylate, merupakan obat pelumpuh otot nondepolarisasi kelas bisquaternary benzylisoquinolinium yang menghasilkan beberapa efek samping selama uji klinis luas di berbagai penelitian, berupa pelepasan histamin yang dikaitkan dengan refleks takikardia, hipotensi berat dan ruam pada pengamatan klinis. Beberapa kasus reaksi anafilaksis parah dilaporkan setelah injeksi atrakurium, menyebabkan komplikasi yang mengancam jiwa. Pemberian lambat injeksi Atrakurium besylate, menurunkan manifestasi refleks peningkatan nadi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui, perbandingan waktu pemberian Atrakurium besylate intravena dapat menurunkan tingkat kejadian peningkatan nadi saat induksi anestesi umum di RSSA Malang.Metode : Penelitian ini merupakan uji klinis tersamar tunggal, bersifat eksperimental. Pasien dengan kriteria klinis ASA I-II sejumlah 32 orang dilakukan randomisasi sederhana menjadi 2 kelompok P dan mendapatkan perlakuan pemberian Atrakurium besylate 0,5 mg/kgBB iv dalam waktu 5 detik. Kelompok lainya dilakukan pemberian Atrakurium besylate 0,5 mg/kgBB iv dalam waktu 90 detikHasil : Penelitian ini didapatkan, perbedaan peningkatan nadi yang bermakna secara statistik (p < 0,05), pada saat kelompok O dan P dibandingkan pada menit ke 3 (0,005) dan ke 4 (0,004), sedangkan pada menit ke 5 (0,210) tidak didapatkan perbedaan peningkatan nadi pasienKesimpulan :  Disimpulkan bahwa, pemberian Atrakurium besylate intravena 0,5 mg/kgBB dalam waktu 90 detik menurunkan tingkat terjadinya peningkatan nadi daripada pemberian dalam waktu 5 detik.

Manajemen Anestesi Operasi Total Tiroidektomi Menggunakan Target Controlled Infusion (TCI) Propofol dan Blok Pleksus Servikal Superfisial pada Pasien Karsinoma Tiroid dengan Metastasis Paru

Fachrian, Dedy, Istanto, Widya, Harahap, M Sofyan

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Keganasan pada tiroid jarang terjadi, namun kanker tiroid merupakan keganasan endokrin yang paling sering terjadi. Kanker paru-paru muncul ketika terjadi mutasi genetik pada sel normal dalam paru-paru yang dapatbermetastasis ke seluruh tubuh atau juga dapat diakibatkan metastasis dari tempat lain, seperti payudara, tiroid, atau usus besar. Keganasan tiroid menimbulkan beberapa tantangan dalam tindakan anestesi yaitu kemungkinan kesulitan dalam pengelolaan jalan nafas dan kemungkinan terjadinya badai tiroid.Adanya massa pada paru menjadikan pengelolaan anestesi pada pasien ini menjadi lebih kompleks.Kasus : Wanita usia 36 tahun dengan karsinoma tiroid metastasis paru direncanakan tindakan total tiroidektomi. Dari pemeriksaan pra operasi didapatkan keluhan benjolan pada leher kanan sebesar bola bekel. Pasien berada dalam Kondisi eutiroid secara klinis dan laboratoris. Dari foto dada didapatkan massa dengan opasitas bentuk bulat, batas relatif tegas dengan kalsifikasi di tepinya pada hemithoraks kiri.Manajemen anestesi diawali dengan midazolam 2 mg sebagai premedikasi dilanjutkan dengan TCI Propofol target plasma 6 mcg/ml, Fentanyl 100 mcg dan Rocuronium 30 mg untuk induksi kemudian pasien diintubasi tanpa gejolak hemodinamik. Setelah itu, dilakukan blok pleksus servikal superfisial dengan bupivacaine konsentrasi 0,25% volume 10 cc di setiap sisi leher.Untukrumatantarget plasma TCI diturunkan menjadi 4 mcg/ml dan rocuronium intermiten.Ventilator dengan setting Pressure Cycle untuk menghindari hiperinflasi paru dengan O2 dan Air dengan perbandingan 1:1 tanpa menggunakan N2O dan Agen Anestesi Volatile. Operasi berlangsung selama 4 jam dengan hemodinamik stabil.Pada akhir operasi TCI Propofol diturunkan secara bertahap dan pasien diekstubasi setelah pernapasan spontan adekuat kemudian pasien kembali ke ruang perawatan.Ringkasan : Penggunaan kombinasi anestesi umum dengan intubasi menggunakan TCI Propofol dan blok servikalis superfisial dapat menjadi teknik anestesi pilihan pada kasus struma disertai tumor paru. Analgesi melalui blok pleksus servikal superfisial terbukti cukup memuaskan selama operasi.

Manajemen Anestesi pada bayi prematur dengan asosiasi VACTERL

Wibowo, Primartanto, Yahya, Corry Quando

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Sindrom VACTERL merupakan kelainan kongenital yang melibatkan malformasi vertebra, atresia anal, anomali kardiovaskular, malformasi ginjal dan kelainan struktur pada tungkai. Manajemen anestesi pada pasien tersebut memiliki risiko mortalitas tinggi karena adanya anomali jantung dan ginjal yang dapat mempengaruhi status hemodinamik.Kasus : Dilaporkan penanganan anestesi pada bayi prematur berusia 28 minggu berat 1,795gr menjalani operasi kolonostomi atresia ani.  Frekuensi nadi 157x/menit, frekuensi napas 40x/menit, terdapat ronki pada kedua lapang paru dan murmur sistolik. Saturasi oksigen pasien 98% menggunakan nasal continuous positive airway pressure (NCPAP) fraksi inspirasi oksigen 40%.Induksi menggunakan 0,2 mg midazolam, 2 mg ketamin, 2 mcg FentanylR . Rapid sequence intubation diberikan ventilasi dengan oksigen 100% menggunakan sirkuit Jackson-Rees frekuensi pernapasan 50-60 kali/menit. Rumatan anestesi dilakukan menggunakan oksigen 100% 4 liter per menit dan 1 volume percent isofluran. Setelah penggunaan isofluran, pasien mengalami desaturasi hingga 92% dan bradikardia hingga 125 kali per menit. Isofluran dihentikan diganti denganketamin. Setelah hemodinamik stabil, insisi dimulai. Selama prosedur operasi, denyut jantung berkisar di 125-155 kali per menit dengan saturasi oksigen 98-100%. Lama operasi 95 menit. Post operasi dirawat di NICU. Pasien meninggal pada hari ke-12 perawatan pasca operasi di NICU.Ringkasan : Tata laksana anestesi pada pasien VACTERL terutama di fokuskan pada kelainan kardiovaskuler yang ada  dengan memperhatikan keseimbangan antara SVR dan PVR.

Pengaruh Diabetes Mellitus Gestasional Terhadap Sirkulasi Uteroplasenta

Isngadi, Isngadi, Sindharta, Redhy, Uyun, Yusmein, Rahardjo, Sri

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 7, No 1 (2015): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes mellitus pada kehamilan (Gestational diabetes mellitus/GDM) adalah intoleransi glukosa yang ditemukan pertama kali pada masa kehamilan dan sering menimbulkan komplikasi pada ibu yang mengandung maupun janin yang dikandung. Beberapa organ pada GDM mengalami perubahan struktur dan perubahan fungsi termasuk disfungsi endothel mikrosirkulasi dan makrosirkulasi fetoplasenta. Endothelium-derived Relaxing Factors (EDRF) khususnya prostasiklin dan nitrik oksid berperan penting dalam mengontrol sirkulasi fetoplasental. Endothel vaskuler pasien GDM mengalami disfungsi, sehingga sintesa dan pelepasan prostasiklin dan nitrik oksid (NO) mengalami gangguan sehingga tonus arteria meningkat. Peningkatan tonus arteri yang menuju uterus akan menurunkan aliran darah uteroplasenta dan akhirnya menurunkan umbilical blood flow (UmBF). Endothel pembuluh darah merupakan target utama dari stress oksidatif. Sintesa NO merupakan mekanisme penting yang mendasari perubahan pembuluh darah sistemik dan pembuluh darah uterine selama kehamilan. Beberapa evidensi penelitian membuktikan peranan NO dan ADMA pada kehamilan normal dan insufiensi plasenta. Dengan berkembangnya pengetahuan akan mekanisme gangguan jalur ADMA-NO, pilihan tambahan untuk intervensi terapetik akan dapat ditemukan. Tatalaksana GDM secara umum adalah dengan pengaturan diet, latihan fisik selama tidak ada kontraindikasi, pengawasan dan kontrol gula darah, dan terapi farmakologi Berbagai penelitian lain terus berusaha menemukan terapi-terapi baru untuk memperbaiki endothel dan sirkulasi uteroplasenta pada pasien GDM.