cover
Filter by Year
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Articles by issue : Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
7
Articles
Perbandingan Efek Pemberian Ondansetron dan Petidin Intravena untuk Mencegah Menggigil Pasca Anestesi Umum

Fatoni, Arie Zainul, Isngadi, Isngadi, Jaya, Wiwi

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Menggigil merupakan komplikasi yang sering terjadi pasca tindakan anestesi umum yang berdampak tidak nyaman pada pasien dan menimbulkan berbagai resiko. Oleh sebab itu, menggigil perlu dicegah atau diatasi. Sampai saat ini obat yang paling sering digunakan di RSSA adalah petidin. Akan tetapi petidin mempunyai efek samping mual, muntah dan depresi napas. Ondansetron merupakan antagonis 5-HT3 yang mempunyai efek anti mual, anti muntah dan anti menggigil.Tujuan : Mengetahui perbedaan efek pemberian ondansetron 0.1 mg/kgbb dengan petidin 0.4 mg/kgbb intravena untuk mencegah menggigil pasca anestesi umum.Metode : Penelitian eksperimental dengan rancangan “single blind true experimental design” pada 32 pasien dengan usia 18 – 40 tahun yang menjalani operasi 1 – 3 jam dengan anestesi umum. Pada akhir operasi, pasien dibuat bernafas spontan. Dua puluh menit sebelum ekstubasi, pasien dibagi menjadi dua kelompok : kelompok I mendapatkan petidin 0.4 mg/kgbb dan kelompok II mendapatkan ondansetron 0.1 mg/kgbb. Ekstubasi dilakukan setelah pasien bernafas spontan adekuat dan refleks laring sudah ada. Pasca ekstubasi pasien diberi oksigen 8L/menit. Tanda vital, efek samping dan kejadian menggigil dicatat tiap lima menit selama 30 menit. Uji statistik dilakukan dengan menggunakan Mann Whitney, dengan derajat kemaknaan yaitu nilai p< 0.05.Hasil : Data karakteristik pasien antara kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p>0.05). Kejadian menggigil pada kelompok I terjadi pada 4 pasien (25%), menggigil derajat 1 pada 3 pasien dan sisanya derajat 2. Pada kelompok II, 3 pasien (18.75%) mengalami kejadian menggigil, menggigil derajat 1 pada 2 pasien dan sisanya derajat 2. Kejadian dan derajat menggigil antara kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p>0.05). Suhu membran timpani kelompok I dan kelompok II juga tidak bermakna (p>0.05). Dua pasien (12.5%) pada kelompok I mengalami mual sedangkan pada kelompok II tidak didapatkan efek samping (p=0.151) tetapi secara statistik tidak berbeda bermakna (p>0.05).Kesimpulan : Petidin 0.4 mg/kgbb dan ondansetron 0.1mg/kgbb mempunyai efek yang sama dalam mencegah menggigil pasca anestesi umum.

Pengaruh Ketorolac Dan Parecoxib Terhadap Ekspresi Sel T CD4+ Di Jaringan Luka Pada Tikus Wistar

Kurniaji, Kurniaji, Fachrian, Dedy, Witjaksono, Witjaksono

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Sel T CD4+ berperan dalam penyembuhan luka karena memproduksi sitokin dan faktor pertumbuhan. Nyeri pasca bedah dapat berpengaruh serius terhadap pemulihan pasien dan penyembuhan luka yang tertunda. Ketorolac dan parecoxib secara poten menghambat COX-1 dan COX-2 dengan potensi yang berbeda.Tujuan : Mengetahui perbedaan skor histologi sel T CD4+ di jaringan sekitar luka insisi pada tikus Wistar yang mendapatkan ketorolac dibandingkan parecoxib dengan dosis sebanding.Metode : Penelitian eksperimental laboratorik dengan desain randomized post test only design dilakukan pada 20 ekor tikus wistar jantan yang diinsisi subkutan sepanjang 2 cm pada punggungnya dan dibagi menjadi dua kelompok perlakuan secara acak. Kelompok 1 (K1) dan Kelompok 2 (K2) masing-masing mendapatkan injeksi ketorolac dan parecoxib IM dengan dosis yang sebanding dosis manusia 30 mg/6 jam dan 40 mg/12 jam. Potongan jaringan diambil pada hari ketiga dan kelima pasca perlakuan untuk dilakukan pemeriksaan immunohistokimia sel T CD4+. Data ekspresi sel T CD4+ dianalisis dengan uji beda One-way ANOVA dan dilanjutkan dengan analisis Post Hoc.Hasil : Rerata skor histologi sel T CD4+ lebih tinggi pada kelompok yang mendapakan injeksi parecoxib IM dibandingkan ketorolac IM baik pada hari ketiga (8,36 ± 0,805 vs 7,28 ± 0,228, p=0,009) ataupun hari kelima (9,12 ± 0,672 vs 7,68 ± 0,415; p=0,001) pasca insisi. Skor tersebut tidak berbeda secara signifikan pada hari ketiga dan kelima dalam satu kelompok yang sama (p=0,288 dan p=0,053 masing-masing pada K1 dan K2).Kesimpulan : Skor histologi sel T CD4+ di jaringan sekitar luka yang mendapatkan injeksi parecoxib IM secara signifikan lebih tinggi dibandingkan injeksi ketorolac IM.

Perbandingan Intensitas Nyeri Akut Setelah Pembedahan Pada Pasien dengan Regional Analgesia Epidural Teknik Kontinyu dibandingkan dengan Teknik Intermitten

Ferdinand, Teddy, Basuki, Djudjuk, Isngadi, Isngadi

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pendahuluan : Epidural analgesia merupakan teknik pilihan untuk mengurangi nyeri akut akibat pembedahan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perbandingan intensitas nyeri akut setelah pembedahan pada pasien yang mendapat regional analgesia epidural teknik kontinyu dengan teknik intermitten. Metode : Penelitian ini merupakan uji eksperimental klinis tersamar tunggal. Sampel penelitian adalah pasien dengan usia 17-60 tahun, kriteria klinis ASA I-II, dan BMI antara 18,5-25 kg/m2 yang menjalani pembedahan elektif maupun emergensi pada ekstremitas dan abdomen menggunakan epidural anestesi. Randomisasi sederhana dilakukan pada subjek sehingga didapatkan 2 kelompok yaitu kelompok epidural kontinyu dan kelompok epidural intermitten setelah pembedahan selesai, dengan jumlah sampel 20 pasien setiap kelompok penelitian. Pada kedua kelompok diberikan bolus bupivacaine 0,125% sebesar 8 ml melalui kateter epidural, kemudian pada kelompok epidural kontinyu dilanjutkan dengan pemberian kontinyu bupivacaine 0,125% sebanyak 2 ml/jam dan pada kelompok epidural intermitten diberikan bupivacaine 0,125% sebanyak 8 ml bolus setiap 4 jam selama 24 jam pertama setelah pembedahan. Intensitas nyeri pada semua sampel diamati setiap 4 jam selama 24 jam dengan menggunakan Verbal Numerical Analogue Scale (VNAS). Data penelitian dianalisa menggunakan analisismann-whitney pada SPSS 16.0 (p<0,05 menunjukkan perbedaan yang bermakna secara statistik). Hasil : Penelitian ini menunjukkan pemberian epidural kontinyu pada 4 jam pertama setelah pembedahan memiliki nilai median VNAS 0 dibandingkan pemberian epidural intermitten dengan nilai median VNAS 1 (p=0,009). Pemberian epidural intermitten pada jam ke-20 dan ke-24 setelah pembedahan memiliki nilai median VNAS 1 dibanding pemberian epidural kontinyu dengan nilai median VNAS 2 (p=0,020 pada jam ke-20, p=0,000 pada jam ke-24). VNAS pada kedua kelompok penelitian jam ke-8, ke-12 dan ke- 16 setelah pembedahan memiliki nilai median sama, yaitu 1. Pemberian epidural intermitten sangat stabil dalam 24 jam pertama setelah pembedahan dengan nilai median VNAS 1 pada evaluasi setiap 4 jam selama 24 jam pertama. Kesimpulan : Pemberian epidural analgesia menggunakan teknik intermitten lebih baikdari pada teknik kontinyu.

Pengaruh Pemberian Ketorolak dan Parecoxib Iintramuskuler Terhadap Gambaran Histopatologi Tubulus Proksimal Ginjal Tikus Wistar

Ferdinand, Jerry, Brahmani, Nur Hajriya, Sasongko, Himawan

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Nonsteroid Anti inflammation drugs has role in controlling inflammation through COX-1 and COX -2 inhibition. Ketorolac is one of COXinhibitor non selective that widely used, meanwhile Parecoxib is one of the newest drugs of COX-2 selective inhibitor. Both of the drugs mainly used as analgetics that have metabolit elimination in the kidneys, which has risk to cause renal cell injury especially in the proxymal tubuli. The changes of renalis structure can be observed from microscopic evaluation, including inflammation reaction, cell degenerative, necrosis and even cell fibrosis.Objectives : To observed the changes in histopathology proxymal tubuli renal of wistar rats after given ketorolac and parecoxib intramuscular.Methods : we’re conducting an experimental laboratoric research using randomized post test control group design with the population of 21 male wistar rats, devided into 3 randomized group, which consist of 7 wistar rats givien incision wounds each group. The 1st group which was the control group (I) were not given any medication, The 2nd group (K) were given 0,54 mg intramuscular ketorolac every 8 hours for 5 days, while the 3rd group (P) were given 0,72 mg parecoxib intramuscular every 12 hours for 5 days. After 5 days, we observed the histopthology structure of the rats in each groups. The data were analyzed statistically using Kruskal Wallis and Mann-Whitney test.Results: There’s significants results in all variables. The p values for first group (I) compare with second group (K) are 0,002 ; first group (I) with third group (P) (p=0,007) ; second group (K) to third group (P) with p values 0,002.Conclution: from the result we conclude that based on histopathologic proximal tubuli findings, rats which were given ketorolac had more significant changes compare with control group and rats that were given parecoxib.Keywords : ketorolac, parecoxib, histopathology proxymal tubuli renal ABSTRAKLatar Bekakang: Obat anti inflamasi non steroid (OAINS) berperan dalam mengendalikan inflamasi melalui inhibisi COX 1 dan COX 2.Ketorolak merupakan salah satu non selektif inhibitor COX yang sudah luas penggunaannya. Parecoxib merupakan inhibitor COX-2 selektif yang lebih baru.Ketorolak dan parecoxib sebagai analgesik yang sering dipakai eliminasi metabolitnya di ginjal.Pada batas-batas tertentu ginjal tidakdapat melakukan fungsinya dalam eliminasi obat sehingga menyebabkan cedera sel ginjal, terutama daerah tubulus proksimal. Perubahan struktur yang terjadi akibat kerusakan tersebut dapat diamati dari gambaran mikroskopis cedera sel yang dapat meliputi reaksi inflamasi, degenerasi, nekrosis bahkan fibrosis.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian ketorolak dan parecoxib intramuscular terhadap gambaran histopatogi tubulus proksimal ginjal tikus wistar.Metode: Dilakukan penelitian eksperimental laboratorik menggunakan randomized post test control group design pada 21 ekor tikus wistar jantan yang dibagi menjadi 3 kelompok secara acak masing- masing kelompok terdiri dari 7 ekor tikus wistar yangdiberi luka incisi.Kelompok kontrol (I) tidak mendapat ketorolak dan parecoxib,Kelompok I (K) mendapat ketorolak dengan dosis 0,54mg IM tiap 8 jam, Kelompok II (P) mendapat parecoxib 0,72mg IMtiap 12 jam selama 5 hari dan dilakukan terminasi serta pengambilan jaringan ginjal.Analisa statistik data tidak normalmenggunakan uji statistik Kruskal Wallis lalu dilanjutkan dengan uji statistik Mann-Whitney.Hasil: Nilai p antara kelompok I terhadap kelompok K = 0,002, terdapat perbedaan bermakna antara I dan K, nilai p antara kelompok I dan kelompok P = 0,007 terdapat perbedaan bermakna antara I dan P, sedangkan nilai p antara kelompok K dan P = 0,002 maka terdapat perbedaan bermakna antara K dan P.Kesimpulan: Ketorolak lebih merusak ginjal secara gambaran histopatologi tubulus proksimal dibandingkan dengan kontrol dan parecoxib.Kata kunci : Ketorolak, Parecoxib, Gambaran histopatologi tubulus proksimal ginjal

Perbedaan Kadar Vascular Endothelial Growth Factor (VEGF) Serum pada Pemberian Ketorolak dengan Deksketoprofen Sebagai Analgesia Pasca Bedah pada Penyembuhan Luka

Ihvarici, Arly, Purnomo, Ika Cahyo, Budiono, Uripno

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground : Nonsteroid anti inflammatory drugs like ketorolac and dexketoproven are able to inhibit pain and acute inflammation due to post operative tissue trauma with different potency through COX enzyme inhibition which inhibit prostaglandin. These drugs are suspected have effect on wound healing process where as inflammation process as the trigger of angiogenesis. The cytokine that has role in angiogenesis is VEGF, which will higher in concentration during wound healing process.Objective : To compare VEGF level score in Wistar rats that have analgetic ketorolac and dexketoproven in wound healing period.Methods : We did a laboratoric experimental research using randomized post test only group design in 21 wistar rats, devided into 3 groups, each consist 7 rats. The first group act as control group (K) which not given any analgetic after incision. The second group (P1) were given ketorolac every 8 hours as analgetic after incision. The third group (P2) were given dexketoproven every 8 hours as analgetic after incision. The VEGF blood serum were collected and analyzed 4 days after intervention using Quantikine rat VEGF Immunoassay kit , and continued with kruskal wallis test. Result: The data were not homogeneous and were not normally distributed (p<0.05). There was no difference in serum VEGF levels in the provision of meaningful between deksketoprofen and ketorolac as postoperative analgesia in the process of wound healing (p = 0.236)Conclusion: There was no difference in the serum levels of VEGF and deksketoprofen ketorolac administration. Although ketorolac and deksketoprofen inhibit COX 2 in a different way but did not affect serum levels of VEGF in the wound healing process.Keywords : ketorolac, deksketoprofen, serum VEGF ABSTRAKLatar belakang : Obat-obat OAINS seperti ketorolak dan deksketoprofen dapat menghambat proses nyeri dan inflamasi akut yang diakibatkan cedera jaringan akibat pembedahan dengan potensi yang berbeda melalui penghambatan enzim siklooksigenase sehingga pembentukan prostaglandin akan terhambat. Pemberian obat-obatan OAINS ini juga diduga mempengaruhi proses penyembuhan luka dimana proses inflamasi sebagai pemicu dari proses angiogenesis. Sitokin yang berperan pada proses angiogenesis adalah VEGF, yang akan meningkat pada saat proses penyembuhan.Tujuan : Membandingkan skor kadar VEGF serum pada tikus Wistar yang mendapatkan ketorolak dan deksketoprofen sebagai analgetik saat terjadi proses penyembuhan luka.Metode : Dilakukan penelitian eksperimental laboratorik menggunakan randomized post test only group design pada dua puluh satu ekor tikus wistar. Kelompok penelitian di bagi 3 kelompok secara acak, kelompok kontrol (K) tujuh ekor tikus dilakukan insisi tanpa diberi analgetik paska perlakuan, kelompok perlakuan 1 (P1) tujuh ekor tikus yang dilakukan insisi dan diberi ketorolak tiap 8 jam paska insisi, kelompok perlakuan 2 (P2)tujuh ekor tikus yang dilakukan insisi dan diberikan deksketoprofen tiap 8 jam paska insisi. Kadar serum VEGF dari darah diperiksa dengan menggunakan Quantikine Rat VEGF Immunoassay Kit pada hari ke 4. Metode perhitungan statistik menggunakan Kruskal wallis testHasil : Data hasil penelitian tidak homogen dan tidak terdistribusi normal (p<0,05). Tidak ada perbedaan kadar VEGF serum yang bermakna pada pemberian ketorolak dan deksketoprofen sebagai analgesia pasca bedah pada proses penyembuhan luka (p =0,236).Kesimpulan : Tidak ada perbedaan kadar VEGF serum pada pemberian ketorolak dan deksketoprofen. Walaupun ketorolak dan deksketoprofen bekerja menghambat COX 2dengan cara berbeda tetapi tidak mempengaruhi kadar VEGF serum pada proses penyembuhan luka.Kata kunci : ketorolak, deksketoprofen, serum VEGF

Prosedur Pemasangan TPM, Evakuasi Abses Otak dan Pintas BT pada Anak Usia 6 tahun dengan TOF yang Belum Dikoreksi

Susantio, Sersia Gillianthi, Sunarto, Ratna Farida

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Tetralogy of Fallot covers up to 6% of all congenital heart diseases. Patient with cyanotic congenital heart failure is at high risk of having neurological complication. Increased blood viscosity caused by polycitemia, chronic severe hypoxemic, and metabolic acidosis causes insufficient cerebral perfusion.Case: A 6 years old boy admitted into the hospital with headache, fever, and nausea vomitus for 2 weeks. Diagnosis of cerebral abcess, tetralogy of Fallot, and lack of nutrition concluded from physical and supporting examination. From multi diciplinary discussion, it is determined to do cardiac catheterization and TPM, burrholing, and Blalock-Taussig shunt. Anesthesia team evaluate the patient as ASA IV. During TPM, the patient is administered with midazolam 0,05 mg/kg/BB/IV and ketamin 0,3 mg/kg/IV. Premedication with atropine 0,01 mg/kg/BB/IV, midazolam 0,05mg/kg/BB/IV, methyl prednisolone 10 mg/kg/BB/IV, ranitidine 1 mg/kg/BB/IV, and ondancentron 0,1 mg/kg/BB/IV. Induction with titration of ketamin 1,5 mg/kg/BB/IV, fentanyl 2 mcg/kg/BB/IV, and pancuronium 0,2 mg/kg/BB/IV. Depth of anesthesia achieved with sevoflurane (0,8-1,5%), and sustained during the surgery. The surgery was done in 90 minutes. Postoperatively, patient taken to ICU. Weaning was done gradually. Extubation was done in the following day and the patient was taken to nursing ward.Summary: Right-to-left shunt in TOF is worsened by increased PVR, decreased SVR, and infundibular spasm. Anesthesia technique aim to prevent hypoxemia and infundibular spasm. This purpose achieved by: maintaining enough fluid status, SVR, decreasing PVR, controlled heart beats and mild myocardial depression, and sudden decrease oxygen demand.Keywords : TOF, Anesthesia technique ABSTRAKLatar Belakang : Tetralogi Fallot mencakup sebanyak 6% dari seluruh penyakit jantung kongenital. Pasien dengan penyakit jantung kongenital sianotik berisiko tinggi menderita komplikasi neurologis. Peningkatan viskositas darah akibat polisitemia, hipoksemia berat kronis, dan asidosis metabolik menyebabkan kekurangan perfusi otak.Kasus : Seorang anak laki-laki 6 tahun masuk rumah sakit dengan sakit kepala, demam, dan mual muntah selama 2 minggu. Dari pemeriksaan fisik dan penunjang, ditegakkan diagnosis abses otak, tetralogi Fallot, dan gizi kurang. Dari diskusi multi disiplin diputuskan untuk melakukan kateterisasi jantung dan pemasangan TPM, burr-holing, serta pemasangan Blalock-Taussig shunt. Evaluasi tim anestesi menentukan pasien ASAIV. Selama TPM pasien mendapat midazolam 0,05 mg/kg/BB/IV dan ketamin 0,3 mg/kg/ IV. Premedikasi dengan atropin 0,01 mg/kg/BB/IV, midazolam 0,05 mg/kg/BB/IV, metilprednisolon 10 mg/kg/BB/IV, ranitidin 1 mg/kg/BB/IV, dan ondansentron 0,1 mg/kg/ BB/IV. Induksi dengan titrasi ketamin 1,5 mg/kg/BB/IV, fentanyl 2 mcg/kg/BB/IV, dan pancuronium 0,2 mg/kg/BB/IV. Kedalaman anestesi dicapai dengan sevoflurane (0,8-1,5%), dan dipertahankan selama operasi. Operasi selesai dalam waktu 90 menit. Post op pasien dibawa ke ICU. Weaning dilakukan bertahap. Ekstubasi dilakukan pada hari berikutnya dan pasien pindah ke ruang rawat inap.Ringkasan : Right-to-left shunt pada TOF diperburuk dengan meningkatnya PVR, menurunnya SVR, serta spasme infundibular. Teknik anestesi bertujuan untuk mencegah hipoksemia dan spasme infundibular. Tujuan ini dapat dicapai dengan: mempertahankan kecukupan cairan dan SVR, mengurangi PVR, denyut jantung terkontrol dan depresi ringan myokardial, mengurangi peningkatan kebutuhan oksigen secara tiba-tiba.Kata kunci : TOF, Tehnik anestesia

Henti Jantung Pasca Koreksi Berlebih Natrium Bikarbonat pada Pasien Ketoasidosis Diabetikum di Bangsal Resusitasi Rumah Sakit Pusat Nasional Cipto Mangunkusumo

Djaja, Anne Suwan, Aditianingsih, Dita, Yohannes, George

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 2 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Infusion of sodium bicarbonate was given to patients acidosis with apH less than 7.1. Acidosis deadly / lethal, which means that the pH is less than 7.1, will deactivate enzymes and other modulators in the body and therefore must be corrected.Case: A 51-year-old woman admitted to the hospital with a chief complaint of atypical chest pain since one month ago. He had a history of type 2 diabetes mellitus, controlled with metformine 3x500 mg, chronic kidney disease with urine production of 0.6 cc / kg / h. History of loss of consciousness, cerebrovascular disease, and myocardial infarction denied. When entering care wards, he looked very ill, with a blood pressure of 110/70 mm Hg, pulse 65 beats per minute, and respiratory rate 32 times per minute.Summary: Only three independent variables that can alter the pH, ie strong ions (SID / Strong ions Differences), pCO2, and TOT. The mechanism of the role of sodium bicarbonate in increasing pH is to increase the level of SID / Strong Ion Differences. Giving the excess of sodium bicarbonate increases the pH level quickly. It makes oxygen can not separate from the hemoglobin, causing cellular hypoxia, and induce cell death.Keywords : Diabetic ketoacidosis, Sodium Bicarbonate ABSTRAKLatar Belakang : Infus sodium bikarbonat diberikan kepada pasien asidosis dengan pH kurang dari 7,1. Asidosis mematikan / letal, yang berarti pH kurang dari 7,1, akan menonaktifkan enzim dan modulator lain dalam tubuh dan oleh karena itu harus dikoreksi.Kasus : Seorang wanita berusia 51 tahun dirawat di rumah sakit dengan keluhanutama nyeri dada atipikal sejak satu hari yang lalu. Dia memiliki riwayat diabetes mellitus tipe 2, dikontrol dengan metformine 3x500 mg, penyakit ginjal kronis dengan urin produksi 0,6 cc / kg / jam. Riwayat penurunan kesadaran, penyakit serebrovaskular, dan infark miokard disangkal. Saat masuk bangsal perawatan, ia tampak sakit parah, dengan tekanan darah 110/70 mmHg, nadi 65 kali per menit, dan frekuensi napas 32 kali per menit.Ringkasan : Hanya tiga variabel independen yang bisa merubah pH, yaitu ion-ion kuat (SID/ Strong ion Differences), pCO2, dan ATOT. Mekanisme peran natrium bikarbonat dalam meningkatkan pH adalah dengan meningkatkan tingkat SID/ Strong Ion Differences. Pemberian berlebih dari natrium bikarbonat meningkatkan tingkat pH cepat. Itu membuat oksigen tidak dapat memisahkan dari hemoglobin, menyebabkan hipoksia seluler, dan menginduksi kematian sel.Kata kunci : Ketoasidosis Diabetikum, Natrium Bikarbonat