cover
Filter by Year
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Articles by issue : Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
11
Articles
Perbandingan Kadar Laktat Antara Propofol-Fentanil dengan Isofluran-Fentanil Pada Operasi Kraniotomi Cedera Otak Sedang;

Rasyid, Harsakti, Tanra, Husni, Gaus, Syafruddin, P, Ilhamjaya

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Cedera otak menimbulkan gangguan beberapa sistem tubuh dan sering menyebabkan iskemia. Laktat terbentuk dari metabolisme anaerob glukosa otak akibat kurangnya oksigen.Tujuan : Membandingkan kadar laktat antara propofol-fentanil dengan isofluran-fentanil pada operasi kraniotomi cedera kepala sedang.Metode : Dilakukan penelitian eksperimental secara acak tersamar tunggal terhadap 42 pasien yang menjalani prosedur kraniotomi cedera kepala sedang. Subyek penelitian dibagi dalam dua kelompok, kelompok pertama mendapat pemeliharaan anestesi propofol 6 mg/kgBB/jam dan fentanil 1 mcg/kgBB/jam (n=21), sementara kelompok kedua mendapat pemeliharaan isofluran 1 vol% dan fentanil 1 mcg/kgBB/jam (n=21). Dilakukan pemeriksaan kadar laktat vena pra bedah, setelah intubasi, setelah kraniotomi, dan setelah ekstubasi. Data diuji berdasarkan Shapiro Wilk, bila distribusi data normal diuji dengan independent T test dan bila distribusi tidak normal dilakukan transformasi data dengan fungsi log. Tingkat kepercayaan 95% dengan kemaknaan p<0,05.Hasil : Hasil penelitian menunjukkan kadar laktat pada pemeliharaan anestesi propofol 6 mg/kgBB/jam dan fentanil 1 mcg/kgBB/jam lebih rendah setelah intubasi, setelah kraniotomi, dan setelah ekstubasi dan secara statistik bermakna (p<0,05) dsbanding pemeliharaan isofluran 1 vol% dan fentanil 1 mcg/kgBB/jam.Kesimpulan : Kadar laktat pada operasi kraniotomi cedera otak sedang dengan pemeliharaan anestesi propofol-fentanil lebih rendah dibanding kadar laktat  dengan pemeliharaan anestesi isofluran-fentanil. Propofol dan fentanil dapat dijadikan pemeliharaan anestesi bedah saraf traumatik.

Angka Kejadian dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Infeksi Paska Pemasangan Kateter Vena Sentral di Rumah Sakit Dr. Soetomo

Widiastuti, Eka Seprianti, Wahjuprajitno, Bambang

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Setiap tahun lebih dari 150 juta kateter intravena digunakan , dimana 5 juta dari mereka dipasang pada vena sentral . Sayangnya , lebih dari 500.000 infeksi yang terkait dengan pemasangan alat secara intravaskular melalui aliran darah terjadi di AS setiap tahun , 7-20 % disebabkan oleh central venous catheter - related blodstream infection ( CR - BSI ) . CR - BSI terkait dengan perpanjangan lama tinggal di rumah sakit , meningkatkan biaya dan kematian. Beberapa faktor yang mempengaruhi terjadinya CR - BSI seperti tempat penyuntikan, prosedur pemasangan yang steril maksimal, dressing transparan, perawatan tanpa teknik aseptik, penggunaan nutrisi parenteral dan inotropikik katekolamin, kondisi pasien , dan banyak lagi. Belum ada data tentang kejadian CR - BSI dan faktor-faktor yang mempengaruhinya di Rumah Sakit Umum Dr Soetomo, .Tujuan : Menghitung angka kejadian CR - BSI dan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhinya di Dr Soetomo Surabaya .Metode : Prosedur penelitian dimulai sejak CVC dipasang pada pasien, data dasar dicatat seperti identitas, kondisi awal, komorbiditas , dan teknik pemasangan. Pasien diikuti untuk mengevaluasi teknik perawatan CVC, pemakaian antibiotik sistemik, penggunaan nutrisi parenteral dan inotropikik katekolamin, serta dugaan CR - BSI. Kultur darah dilakukan bila dicurigai infeksi timbul ( baik secara klinis dan menggunakan Skor IPS), dan kemudian diagnosis CR - BSI dibuat . Semua data dicatat sampai CVC telah dilepas dan pasien keluar dari rumah sakit .Hasil : Ada 15 kasus CR - BSI pada 139 pasien, total durasi pemakaian CVC adalah 1.751 hari, sehingga tingkat CR - BSI 8.57 kasus per 1000 hari penggunaan CVC. Tingkat tertinggi adalah di bangsal neurologi, 35,71 kasus per 1000 hari penggunaan CVC. Lama tinggal di rumah sakit ( p = 0,032 ), durasi penggunaan CVC ( p = 0,002 ), penggunaan nutrisi parenteral ( p = 0,000 ), penggunaan inotropikik katekolamin ( p = 0,041 ), skor APACHE II ( p = 0,000 ), infeksi sebelum pemakaian CVC ( p = 0,039 ) dan infeksi di tempat lain ( p = 0,033 ) merupakan faktor signifikan yang mempengaruhi kejadian CR - BSI . Namun, jika faktor-faktor ini diperiksa bersama-sama, durasi penggunaan CVC ( p = 0,030 ), penggunaan nutrisi parenteral ( p = 0,005 ), dan skor APACHE II ( p = 0,006 ) memberikan pengaruh yang dominan terhadap CR - BSI .Kesimpulan : Angka kejadian CR - BSI di Dr Soetomo Rumah Sakit Umum tinggi, sedangkan durasi CVC digunakan, penggunaan nutrisi parenteral , dan skor APACHE II sebagai faktor paling dominan yang mempengaruhi kejadian infeksi tersebut .

Penentuan Dosis Efektif Bupivacaine Hiperbarik 0,5% Berdasarkan Tinggi Badan Untuk Bedah Sesar Dengan Blok Subarakhnoid

Listiarini, Dian Ayu, Harahap, Mohamad Sofyan, Budiono, Uripno

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Spinal anesthesia for cesarean section is preferred because of rapid onset, the technique is simple, relatively easy to perform, perfect muscle relaxation compared with epidural anesthesia, and greater maternal safety profile compared with general anesthesia. However, at high doses, it can cause high sensory and motor block and hypotension. The frequency and degree of hypotension is affected by subarachnoid dose of local anesthetic.Objectives: Assess the effectiveness of hyperbaric bupivacaine 0.5% dose based on body height for subarachnoid block at cesarean section.Methods: 40 pregnant women who met the inclusion criteria were randomly divided into two groups, 20 persons in group I received 0.5% hyperbaric bupivacaine 0,06 mg / cm body height, and 20 in group II received 0.5% hyperbaric bupivacaine 12.5 mg. Several variables, ie vital signs, incidence of hypotension, ephedrine given, time blocks sensory and motor block are recorded from before to 45 minutes after spinal anesthesia action against.Results: In group I, the onset of sensory block at the T10 dermatome was achieved in 1.61 - 0.617 min after injection of the drug, did not differ significantly when compared to Group II is 1.47 - 0.655 min (P> 0.05). All sensory block achieved in this study is dematom T4. The onset of sensory block at dermatome T4 reached at 2.55 - 0.56 min post-injection of drugs in group I, was not significantly different when compared to group II are 2.45 - 0.594 min (P> 0.05). Mean difference in systolic pressure, diastolic pressure, mean arterial pressure, heart rate and the amount of ephedrine used in both groups showed that the difference was not statistically significant (p> 0.05) and similarly, the incidence of hypotension.Conclusion: 0.5% hyperbaric bupivacaine 0.06 mg/ cm for subarachnoid block at cesarean section has similar efficacy and hemodynamic profile with 0.5% hyperbaric Bupivacaine 12.5 mg.Keywords : bupivacaine, height, effective dose, subarachnoid block, cesarean sectionABSTRAKLatar Belakang: Anestesi spinal lebih disukai untuk bedah sesar dikarenakan onset cepat, teknik sederhana, relatif mudah dilakukan dan menimbulkan relaksasi otot yang sempurna dibandingkan dengan anestesi epidural, dan profil keselamatan ibu lebih besar dibandingkan dengan anestesi umum. Meskipun demikian, anestesi spinal dapat menyebabkan hipotensi, yang memberi dampak morbiditas pada ibu dan janin. Frekuensi dan derajat hipotensi dipengaruhi oleh dosis subarakhnoid anestesi lokal, sehingga diperlukan penentuan dosis minimal yang efektif untuk anestesi spinal.Tujuan: Mengetahui efektivitas dan profil hemodinamik dosis bupivakain hiperbarik 0,5% 0,06 mg/cm untuk blok subarakhnoid pada bedah sesar.Metode: Sebanyak 40 orang ibu hamil yang memenuhi kriteria inklusi dibagi secara acak menjadi dua kelompok, yaitu 20 orang pada kelompok I mendapat bupivakain 0,5% hiperbarik 0.06 mg/cmTB, dan 20 orang pada kelompok II mendapat bupivakain 0,5% hiperbarik 12,5 mg. Dilakukan pencatatan dari sebelum hingga 45 menit setelah tindakan anestesi spinal terhadap beberapa variabel, yaitu tanda vital, kejadian hipotensi, jumlah efedrin yang diberikan, waktu blok sensorik, dan blok motorik.Hasil: Pada kelompok I, onset blok sensorik pada dermatom T10 tercapai pada 1,61±0,617 menit paska injeksi obat, berbeda tidak bermakna bila dibandingkan kelompok II yaitu 1,47 ± 0,655 menit (p>0.05). Semua blok sensorik pada penelitian ini berhasil mencapai dematom T4. Onset blok sensorik pada dermatom T4 tercapai pada 2,55±0,56 menit paska injeksi obat pada kelompok I, berbeda tidak bermakna bila dibandingkan kelompok II yaitu 2,45±0,594 menit (p>0.05). Perbedaan rerata tekanan sistolik, tekanan diastolik, tekanan arteri rerata, laju jantung dan jumlah efedrin yang digunakan pada kedua kelompok menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna secara statistik (p>0,05), demikin pula dengan angka kejadian hipotensi.Simpulan: Bupivakain 0,5% hiperbarik 0,06 mg/cm Tinggi Badan untuk blok subarakhnoid pada bedah sesar memiliki efektivitas dan profil hemodinamik serupa dengan Bupivakain 0,5% hiperbarik 12,5 mg.Kata kunci : bupivakain, tinggi badan, dosis efektif, blok subarachnoid, bedah sesar

Perbandingan Efek Pemberian Ketamin 0,15 Mg/Kgbb Iv Prainsisi dan Ketamin 0,15 Mg/Kgbb Iv Pascabedah terhadap Kebutuhan Analgesik Morfin Pascabedah pada Pasien Operasi Ortopedi Ekstremitas Bawah

Room, Asyikun Nasyid, Tanra, A Husni, Ahmad, Muhammad Ramli, Arif, Syafri Kamsul, Ilhamjaya, .

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Ketamin telah digunakan sebagai analgesia perioperatif sejak lama. Namun cara pemberian yang efektif masih belum jelas.Tujuan : membandingkan efek pemberian ketamin prainsisi, selama operasi dan 24 jam pascabedah dengan pemberian ketamin selama 24 jam pascabedah terhadap kebutuhan morfin pascabedah.Metode : Penelitian ini merupakan uji tersamar acak ganda. Total sampel 50 dibagi dalam 2 kelompok pasien dengan operasi ortopedi ekstremitas bawah dengan anestesi spinal. Kelompok pertama, mendapatkan ketamin 0,15 mg/kgBB IV prainsisi + 0,1 mg/kg/jam selama operasi dan 24 jam pascabedah.  Kelompok kedua mendapatkan ketamin 0,15 mg/kgBB IV pascabedah + 0,1 mg/kg/jam selama 24 jam pascabedah. Kedua kelompok mendapatkan analgesia pascabedah morfin via patient-controlled analgesia dengan loading dose 2 mg, bolus dose 1 mg dan lockout interval 7 menit. Jangka waktu pemberian morfin pertama pascabedah dihitung dari akhir operasi hingga saat pemberian morfin loading dose atas permintaan pasien; konsumsi morfin pascabedah dihitung dalam 24 jam.Hasil : Tidak ada perbedaan yang bermakna di antara kedua kelompok baik dalam waktu pemberian analgesik pertama (p=0,055) maupun konsumsi morfin dalam 24 jam (p=0,351).Simpulan : Ketamin tidak memiliki efek analgesia preventif pada pasien yang menjalani anestesi spinal.

Perbandingan Efektivitas Premedikasi MgSO4 40 mg/Kgbb dengan Klonidin 1 mcg/Kgbb Intravena sebagai Ajuvan untuk Teknik Hipotensi Kendali pada Bedah Sinus Endoskopik Fungsional

Purwaningrum, Kausarina, Wahab, Abdul, Seweng, Arifin

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Controlled hypotensive anaesthesia technique in functional endoscopic sinus surgery may reduce bleeding during surgery. It makes the field of view clearer and complication can be avoided.Objective: Compare effectiveness premedication MgSO4 40 mg/kgBW with clonidine 1 mcg/kgBW intravenously as an adjuvant to controlled hypotensive anaesthesia technique in functional endoscopic sinus surgery with general anaesthesia.Methods: This is an experimental research using single blind random sampling technique. Total sample 48 people underwent functional endoscopic sinus surgery. Samples were divided into two groups, first group given premedication MgSO4 40 mg/kgBW (n=24) and second group given clonidine 1 mcg/kgBW (n=24). During controlled hypotensive anaesthesia period, otolaryngologist gave a numeric assessment to the  field of operation using Fromme and Boezzart scale every 15 minutes. Data non parametric tested by Mann-Whitney test.Result: The view of operating field in functional endoscopic sinus surgery on both groups showed no significant difference (p>0,05).Conclusion: Premedication MgSO4 40 mg/kgBW intravenously equally effective compared to clonidine 1 mcg/kgBW as an adjuvant for controlled hypotensive anaesthesia technique and gave the operating field clearer view in functional endoscopic sinus surgery.Keywords : effectiveness, MgSO4, Clonidine, adjuvant, controlled hypotensive anaesthesia technique, functional endoscopic sinus surgeryABSTRAKLatar belakang: Teknik hipotensi kendali akan mengurangi perdarahan sehingga lapang pandang operasi lebih jelas dan kemungkinan komplikasi dapat dihindari.Tujuan: Membandingkan efektivitas premedikasi MgSO4 40 mg/kgBB dengan Klonidin 1 mcg/kgBB intravena sebagai ajuvan teknik hipotensi kendali pada bedah sinus endoskopik fungsional pada anestesi umum.Metode: Penelitian eksperimental secara acak tersamar tunggal. Total sampel 48 orang yang menjalani bedah sinus endoskopik fungsional. Sampel dibagi dalam dua kelompok perlakuan, kelompok pertama diberikan premedikasi MgSO4 40 mg/kgBB (n=24) dan kelompok kedua diberikan Klonidin 1 mcg/kgBB (n=24).  Selama periode hipotensi kendali, setiap 15 menit ahli THT memberikan penilaian numerik dari kondisi lapangan operasi menggunakan skala Fromme dan Boezzart. Data non parametrik diuji dengan uji Mann-Whitney.Hasil: Tampilan lapangan pandang operasi pada bedah sinus endoskopik fungsional pada kedua kelompok tidak berbeda bermakna (p>0,05)Simpulan: Premedikasi MgSO4 40 mg/kgBB intravena sama efektif dengan Klonidin 1 mcg/kgBB sebagai ajuvan dalam teknik hipotensi kendali dan memberikan tampilan lapangan operasi yang bersih pada bedah sinus endoskopik fungsional. Kata kunci : Efektivitas, MgSO4, klonidin, ajuvan, hipotensi kendali, bedah sinus endoskopik fungsional

Perbedaan Sedasi Midazolam dan Ketamin terhadap Base Excess Pasien dengan Ventilator

Adhiany, Eka, Jatmiko, Heru Dwi, Budiono, Uripno

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Agitation and nervousness are usuallly occured at above 70% patients of Intensive Care Unit (ICU), so that sedatives and analgetics are needed. Sedatives that can be used are midazolam and ketamine that different in terms of the effect on blood vessels.Objective: To find the difference in value of base excess (BE) in arterial blood gas analysis in patients ICU using midazolam compared with the use of ketamine as sedation.Methods: This study is an experimental clinical trial that randomized double-blind trial in patients using the ventilator in the intensive care unit. Patients (n: 28) were divided into 2 groups, K1 that received ketamine as sedation and K2 that received midazolam as sedation. The patients are given sedation for 24 hours with varying doses with a target depth of sedation of patients on Ramsay Score 4. Examined the value of blood gas analysis at 0, 6th, and 24th hours.Results: The comparison of midazolam sedation with ketamine showed significant differences on the value of base excess using ketamine sedation at 0 hour and 6th hour alone with p = 0.04 (P <0.05), while for the 0 hour and 24th hour to obtain a non-significant differences where p = 0.55, and for the 6th hour and 24th hour also found no significant differences with p = 0.786.Conclusion: There is no significant difference in the results of arterial blood base excess in patients using the ventilator within 24 hours compared with midazolam given ketamine.Keywords : midazolam, ketamine, sedation, blood gas analysis, base excessABSTRAKLatar belakang: Agitasi dan kecemasan sering terjadi pada pasien-pasien Intensive Care Unit (ICU). Kejadian kecemasan berkisar di atas 70% dari pasien-pasien ICU). Ini membutuhkan pemberian obat sedasi dan analgesia. Obat sedasi yang dapat digunakan antara lain midazolam dan ketamin. Kedua obat ini memiliki perbedaan dalam efek ke pembuluh darah.Tujuan: Untuk menemukan perbedaan nilai base excess (BE) melalui analisa gas darah arteri pasien ICU yang menggunakan midazolam dibandingkan dengan ketamin sebagai sedasi.Metode: Suatu uji klinik eksperimental yang dilakukan secara acak tersamar ganda pada pasien yang menggunakan ventilator di unit rawat intensif. Pasien (n : 28) dibagi menjadi 2 kelompok, K1 yang mendapat sedasi ketamin dan K2 mendapat midazolam. Pasien diberikan sedasi selama 24 jam dengan dosis bervariasi dengan target kedalaman sedasi pasien pada Ramsay Score 4, kemudian diperiksa nilai analisis gas darah pada jam ke-0, 6, dan 24.Hasil: Hasil perbandingan sedasi midazolam dengan ketamin ini menunjukkan perbedaan bermakna pada nilai base excess yang menggunakan sedasi ketamin jam ke-0 dan jam ke-6 saja dengan nilai p=0,04 (p<0.05), sedangkan untuk jam ke-0 dan jam ke-24 didapatkan perbedaan yang tidak bermakna dimana p=0,55, dan untuk jam ke-6 dan jam ke-24 juga didapatkan perbedaan yang tidak bermakna dimana p=0,786.Simpulan: Tidak ada perbedaan yang bermakna pada hasil pemeriksaan base excess darah arteri pada pasien menggunakan ventilator dalam 24 jam yang diberikan midazolam dibandingkan dengan ketamin. Kata kunci : midazolam, ketamin, sedasi, analisis gas darah, base excess

Manajemen Anestesi pada Pasien dengan Chiari Malformation dan Syringomyelia

Kurniawan, Tomas Ari, Sinardja, I Ketut

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Chiari malformation is an anatomical abnormality of cerebellum where the cerebellar tonsils descend toward the foramen magnum and cause a series of clinical symptoms. In general, this disorder has 4 types of classification based on the degree of severity of anatomical abnormalities of the cerebellum. In some cases, the disorder is also accompanied by syringomyelia. Actions that can be done to reduce the clinical symptoms such as by decompressing the skull bone occipital part, so as to reduce the symptoms of an emphasis on the down part of the cerebellum.Case: Our patients had Chiari malformation type 2 in the presence of syringomyelia. Clinical symptoms appear in the form of head and neck pain back, accompanied by weakness in the left hand. Through surgery, performed the foramen magnum decompression and duroplasty. Anesthesia is done under general anesthesia intravenously, given induction with propofol and fentanyl, propofol intravenous maintenance dose of 100 mcg/kg/min. Postoperative pain patients managed with epidural analgesia which is mounted on the cervical spine area as high as 3, with a regimen of 0.1% bupivacaine and morphine 0.5 mg in a volume of 5 ml.Summary: Chiari malformation is the anatomical abnormalities of the cerebellum that has dangerous potential. Compression occurs at the foramen magnum can cause bulbar palsy and apnea. Decompression actions undertaken to prevent the occurrence of paralysis. Patients with Chiari malformation and syringomyelia is often accompanied by hydrocephalus. Planned anesthetic management should not cause an increase in intra-cranial pressure.Keywords : Chiari malformation,syringomyelia.ABSTRAKLatar belakang: Chiari malformation merupakan kelainan anatomi dari otak kecil dimana tonsil cerebellum turun ke arah Foramen magnum dan menimbulkan serangkaian gejala klinis. Secara umum kelainan ini memiliki 4 tipe klasifikasi berdasarkan derajat beratnya kelainan anatomi dari cerebellum. Pada beberapa kasus dijumpai kelainan juga disertai dengan syringomyelia. Tindakan yang bisa dikerjakan untuk mengurangi gejala klinis antara lain dengan melakukan dekompresi pada tulang cranium bagian occipital, sehingga dapat mengurangi gejala penekanan pada bagian cerebellum yang turun.Kasus: Pasien kami mengalami Chiari malformation tipe 2 dengan adanya syringomyelia. Gejala klinis yang muncul berupa nyeri kepala dan leher bagian belakang, disertai dengan kelemahan pada tangan kiri. Melalui tindakan operatif, dikerjakan dekompresi foramen magnum dan duroplasty. Anestesi dikerjakan dengan anestesi umum intravena, diberikan induksi dengan propofol dan fentanyl, pemeliharaan dengan propofol intravena dosis 100 mcg/kg/menit. Nyeri paska operasi pasien dikelola dengan epidural analgesia yang dipasang pada daerah setinggi vertebra cervical 3, dengan regimen bupivakain 0,1% dan morfin 0,5 mg dalam volume 5 ml.Ringkasan: Chiari malformation adalah kelainan anatomi cerebellum yang memiliki potensi berbahaya. Kompresi yang terjadi pada foramen magnum dapat menyebabkan terjadinya bulbar palsy dan menyebabkan apnea. Tindakan dekompresi dikerjakan untuk mencegah terjadinya kelumpuhan tersebut. Pasien dengan Chiari malformation seringkali disertai dengan syringomyelia dan hidrosefalus. Manajemen anestesi yang direncanakan sebaiknya tidak menimbulkan peningkatan tekanan intra kranial. Kata kunci : Chiari malformation, syringomyelia.

Manajemen Anestesi Untuk Koreksi Skoliosis pada Pasien Chiari Malformasi Post Dekompresi Foramen Magnum

Rismantara, I. D. G. Tresna, Suarjaya, I Putu Pramana

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: There are complications in the management of anesthesia for correction of thoracic scoliosis in patients with Chiari malformation post foramen magnum decompression periopoeratif because there are complex issues that accompany it.Case: Anesthesia is used for correction of scoliosis in patients with Chiari Malformation post foramen magnum decompression with limited mobilization of the neck. In the X-ray examination found sublaminer semirigid instrumentation of the neck. MSCT visible on thoracic scoliosis with a curvature center on Thorakal 9 with Cobb s Angle 60º. Examination of cardiovascular, respiratory and neurological within normal limits.Curvature degrees of scoliosis in these patients is still under 70º so it does not compress heart and lungs, but there are complications to perform intubation. This can be overcome by using a fiberoptic instrument in a state of non sleep apnea using 50 mcg fentanyl and propofol 50 mg followed by balance anesthesia using continuous infusion propofol, N2O, O2, vecuronium and fentanyl intermittnent and the hipotension control techniques .Post- anesthesia patients received epidural analgesia with 2 catheters with the end of one catheter is in thoracal 3 and other in thoracal 12. Each wears 0.5 mg morphine and bupivacaine 0.1 %. Patients were evaluated 2 days in ICU with no neurological defects and free of pain, then patient moved to the treatment room.Summary: Management of anesthesia in thoracic scoliosis correction surgery becomes a very important thing because of the complexity of perioperative problems that accompany it. Cardiovascular and respiratory function is most likely impaired that need special attention. Assessment of the degree of severity of skoliosisnya can provide a predictive value to the problems that may occur perioperatively. Patients with impaired mobility of the neck can be complications when performing laryngoscopy-intubation. Post surgery if both cardiovascular and respiratory function are good, considerate extubation may be an option. Postoperative analgesics should be adequate to deal with the pain because the pain can be cause cardiovascular and respiratory instability complicating post-surgery.Keywords : Thoracic scoliosis, chiary malformation, cobb’s angleABSTRAKLatar belakang: Terdapat penyulit pada manajemen anestesi untuk koreksi skoliosis thorakalis pada pasien chiari malformasi post dekompresi foramen magnum karena terdapat permasalahan periopoeratif kompleks yang menyertainya.Kasus: Digunakan tindakan anestesi untuk koreksi skoliosis pada pasien dengan Chiari Malformasi post dekompresi foramen magnum dengan keterbatasan mobilisasi leher. Pada pemeriksaan rontgen didapatkan semirigid sublaminer instrumentasi pada leher. pada MSCT terlihat skoliosis thorakalis dengan pusat kelengkungan pada Thorakal 9 dengan Cobb’s Angle 60º. Pemeriksaan kardiovaskular, respirasi dan neurologis dalam batas normal.Derajat kelengkunan skoliosis pada pasien ini masih dibawah 70º sehingga tidak menekan jantung dan paru, tetapi terdapat penyulit untuk melakukan intubasi, hal ini bisa diatasi dengan memakai alat fiberoptik dalam kondisi sleep non apneu menggunakan fentanyl 50mcg dan propofol 50 mg dilanjutkan dengan balance anestesia menggunakan propofol kontinyu, N2O, O2, vecuronium dan fentanyl intermittnent serta tekhnik hipotensi kendali.Pasca anestesi pasien mendapat analgesi dengan 2 kateter epidural dengan ujung kateter setinggi Thorakal 3 dan ujing kateter lainnya setinggi Thorakal 12. Masing-masing memakai 0,5mg morfin dan bupivacaine 0,1%. Pasien dievaluasi 2 hari di ICU, tidak ada defek neurologis dan bebas nyeri kemudian di pindah ke ruang perawatan.Ringkasan: Manajemen anestesi pada operasi Koreksi skoliosis thorakalis menjadi suatu hal yang sangat penting karena begitu kompleksnya permasalahan perioperatif yang  menyertainya.  Fungsi  kardiovaskular  dan  respirasi  adalah  yang  paling  mungkin terganggu sehingga perlu mendapat perhatian khusus. Penilaian terhadap derajat keparahan dari  skoliosisnya  dapat  memberikan  suatu  nilai  prediksi  terhadap  permasalahan  yang mungkin terjadi perioperatif. Pasien  dengan  gangguan  pada  mobilitas  dari  leher  dapat  menjadi  penyulit  saat melakukan  laringoskopi-intubasi. Post operasi jika fungsi kardiovaskular dan respirasi baik, pertimbangan ekstubasi dapat menjadi pilihan. Analgetik post operasi harus adekuat untuk menangani nyeri karena nyeri dapat dapat menimbulkan instabilitas kardiovaskular dan respirasi yang menjadi penyulit paska operasi.Kata kunci : Skoliosis thorakalis, chiary malformation, cobb’s angle

Keberhasilan Setelah Henti Jantung selama Torakotomi Emergensi disebabkan Luka Penetrasi Trauma Torak pada Kondisi Dengan Keterbatasan Fasilitas

Camary, Mumya, Nasution, Akhyar H, Arifin, Hasanul

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: An emergency thoracotomy (sometimes referred to as a resuscitative thoracotomy) is a thoracotomy typically done in order to resuscitate a person who has been severely injured after sustaining a severe trauma involving the thoracic cavity.  Cardiac arrest can occur durante procedure of emergency thoracotomy which need internal massage and defibrillation, A quick management with  The combination of clinical foreknowledge, ability to spot changing clinical signs, and even-tempered surgical courage to perform simple but lifesaving procedures can bring about a profound difference in outcome for the chest injured patient even in resource limited settings.Case: Male, 31 years old, predicted body weight 70 kg admitted to Haji Adam Malik Hospital with main complained  stab wound on the left chest. Supine chest x-ray shown massive left-sided hemothorax. Chest wound was opened on the left antero lateral by surgeon and seen left lung collapse with estimated  blood  lost 2500 ml are taken from the left hemithorax, surgeon make a decision to do sternotomy and then found Left internal mammary artery was  torn and was ligated, found the right ventricle lacerated but no bleeding from the wound. Cardiac arrest occurs and the surgeon starts internal cardiac massage, continuing fluid resuscitation, 15 minutes after rescucitating cardiac arrest ECG shown VF , Internal defibrillation at 20 joules, ECG shown sinus tachycardia 145/min, after control bleeding, the operation  procedure are done after chest drain insertion bilateral. The patient was shifted to surgical ICU for observation. Patient was stable and there were no complications in postoperative periode. Patient was discharged on 8th postoperative day.Summary: The decision to perform emergency thoracotomy involves careful evaluation of the scientific, ethical, social and economic issues. A quick management with  The combination of clinical foreknowledge, ability to spot changing clinical signs, and even-tempered surgical courage to perform simple but lifesaving procedures can bring about a profound difference in outcome for the chest injured patient even in resource limited settings. Time saving is live saving.Keywords : emergency thoracotomi, cardiac arrestABSTRAKLatar Belakang: Sebuah torakotomi darurat (kadang-kadang disebut sebagai torakotomi resusitasi) adalah torakotomi yang dilakukan untuk meresusitasi seseorang yang telah terluka parah setelah mengalami trauma berat pada rongga dada. Henti jantung dapat terjadi selama prosedur torakotomi yang memerlukan pijat jantung internal dan defibrilasi. Manajemen yang cepat dengan Kombinasi ramalan klinis, kemampuan untuk melihat perubahan tanda-tanda klinis, dan keberanian untuk melakukan prosedur bedah sederhana namun menyelamatkan nyawa dapat membawa perbedaan hasil bagi pasien luka dada bahkan di tempat dengan sumber daya terbatas.Kasus: Laki-laki, 31 tahun, berat badan perkiraan 70 kg dirawat di Rumah Sakit Haji Adam Malik dengan keluhan luka tusuk di dada kiri. Pemrisaan ronsen dada menunjukkan hemothorax luas di sisi kiri. Dokter bedah membuka dada yang terkena luka tusuk dan terlihat kolaps paru dengan darah diperkirakan 2.500 ml dari hemitoraks kiri, ahli bedah memutuskan untuk melakukan sternotomy dan kemudian menemukan robekan pada arteri mamaria interna kiri dan diligasi, ditemukan robek ventrikel kanan tetapi tidak ada pendarahan dari luka. Serangan jantung terjadi dan ahli bedah mulai pijat jantung internal dan resusitasi cairan, 15 menit setelahnya EKG menunjukkan VF, defibrilasi internal pada 20 joule, EKG menunjukkan sinus takikardia 145/min, setelah mengontrol perdarahan, prosedur operasi selesai dan dilakukan pemasangan selang dada. Pasien dipindahkan ke ICU untuk observasi. Pasien stabil dan tidak ada komplikasi pada pasca operasi . Pasien dipulangkan pada harike 8 pasca operasi.Ringkasan: Keputusan untuk melakukan torakotomi darurat melibatkan evaluasi yang cermat di bidang  ilmiah, isu-isu etika, sosial dan ekonomi. Manajemen yang cepat dengan Kombinasi ramalan klinis, kemampuan untuk melihat perubahan tanda-tanda klinis, dan keberanian untuk melakukan prosedur bedah sederhana namun menyelamatkan nyawa dapat membawa perbedaan hasil bagi pasien luka dada bahkan di tempat dengan sumber daya terbatasTabungan Waktu adalah tabungan hidup.Kata kunci : torakotomi darurat, henti jantung

Perbedaan Elektrolit Plasma dan Tekanan Darah antara Preload Ringer Asetat Malat Dibandingkan dengan Ringer Laktat; The Difference in Plasma Electrolyte and Blood Pressure Between Preload Ringer Acetate Malate Compared to Ringer Lactate

Ifar, Yudhowibowo Irianto, Doso, Sutiyono ., Widya, Nurcahyo Istanto

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 6, No 1 (2014): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Background: Providing preload to prevent hypotension in spinal anesthesia may affect the balance of bodys fluid. Objectives: To observe the difference in change of plasma electrolyte concentrations (Na, K, Cl) and blood pressure after spinal anesthesia between preload 20cc/kgBB Ringer Acetate Malate (RAM) compared to Ringers Lactate (RL). Method: This is an experimental study phase II clinical trial randomized double-blind. The selection of samples obtained from consecutive random sampling with sample number 38. Group I (n = 19) received preload 20 cc/kg Ringer Acetate Malate and group II (n = 19) received preload 20 cc/kg Ringers Lactate. Before granting preload, patient blood samples taken for examination electrolyte concentration (Na, K, Cl) plasma. After preload administration and 30 minutes after the blood samples were taken for examination electrolyte concentration and blood pressure measured. Statistical test with paired t-test test. Result: The difference in Na concentration changes before preload and  Na after preload and Na 30 minutes after preload between the group was significantly different. While the difference in Natrium concentration changes in preload after preload compared with Na 30 minutes after preload between the group was not significantly different. Difference in K concentration changes in K  before preload, K after preload and K 30 minutes after preload between the group were not significantly different. Difference in Cl concentration changes Cl before 30 minutes after preload between the group significantly different. While the difference in Cl concentration changes of Cl before  preload and Cl concentrations after 30 minutes post preload between the group was not significantly different. Systolic pressure significantly different (p<0.005) between groups preload RAM and RL occurred between the 25th minute after spinal by the 30th minute after the spinal. As for the variable diastolic preassure significantly different (p<0.005) between groups preload RAM and RL occurred between the 15th minute after spinal and 20th minute after spinal Conclusion: Ringer Acetate Malate rises Na and Cl  concentration in spinal anesthesia patient higher than Ringer Lactate immediately after loading, but no further electrolyte concentration difference were documented.  Blood pressure changes were not significantly different between groups Keywords : preload RAM, preload RL, electrolytes (Na, K, Cl), blood pressureABSTRAK Latar belakang: Pemberian preload untuk mencegah hipotensi pada anestesi spinal dapat mempengaruhi keseimbangan cairan tubuh. Tujuan: Untuk melihat perbedaan elektrolit plasma dan tekanan darah antara preload RAM dibandingkan dengan RL. Metode: Penelitian eksperimental uji klinis tahap II secara acak tersamar ganda. Pemilihan sampel secara Consecutive Random Sampling didapat jumlah sampel 38 orang. Kelompok I (n=19) mendapat preload 20 cc/kgBB RAM dan kelompok II (n=19) mendapat preload 20 cc/kgbb RL. Sebelum  preload, diambil sampel darah untuk pemeriksaan konsentrasi elektrolit plasma. Setelah  preload dan 30 menit setelah itu dilakukan pengambilan sampel darah untuk pemeriksaan konsentrasi elektrolit plasma. Pengukuran tekanan darah dilakukan sebelum anestesi spinal dan segera setelah anestesi spinal tiap 5 menit sampai 30 menit. Uji statistik dengan uji paired t-test. Hasil: Selisih Na sebelum preload dan Na setelah preload dengan Na 30 menit setelah preload antara kelompok yang mendapat preload RAM dan RL berbeda bermakna. Sedangkan selisih Na setelah preload  dengan Na 30 menit setelah preload berbeda tidak bermakna. Selisih K sebelum  preload, K setelah preload dan 30 menit setelah preload dan K 30 menit setelah preload berbeda tidak bermakna. Selisih Cl sebelum dan Cl 30 menit setelah preload berbeda bermakna. Selisih Cl sebelum dan Cl setelah preload dan konsentrasi Cl setelah 30 menit preload berbeda tidak bermakna. Terdapat perbedaan tekanan sistolik yang bermakna antara kelompok preload  RAM dan RL  terjadi antara menit ke-25 sampai menit ke-30 setelah spinal. Sedangkan untuk variabel tekanan darah diastolik terdapat perbedaan yang bermakna antara kelompok preload  RAM dan RL  terjadi antara menit ke-15 sampai menit ke-20 setelah spinal. Simpulan: RAM meningkatkan konsentrasi Na dan Cl lebih tinggi dibanding RL pada pasien dengan spinal anestesi segera setelah dilakukan loading, tetapi perbedaan konsentrasi elektrolit lebih jauh tidak ditemukan. Tidak ada perubahan tekanan darah yang bermakna diantara kedua kelompok.   Kata kunci : preload RAM, preload RL, elektrolit (Na, K, Cl), tekanan darah