cover
Filter by Year
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Articles by issue : Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
9
Articles
Klonidin 1,5 Mcg/Kgbb Intravena Dibandingkan Dengan Fentanil 2 Mcg/ Kgbb Intravena Terhadap Respon Hemodinamik Akibat Tindakan Laringoskopi dan Intubasi Endotrakeal

Susanto, Agus, Tanra, Husni

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Laringoskopi dan intubasi endotrakhea suatu tindakan yang sering dilakukan pada anestesi umum maupun dalam manajemen jalan napas. Sering terjadigaejolak hemodinamik akibat tindakan ini, dan langkah-langkah penanggulangan perlu diambil untuk mencegah kejadian tersebut. Klonidin diharapkan dapat mengurangi gejolak hemodinamik akibat laringoskopi-intubasi. Tujuan : Menilai efek premedikasi klonidin 1,5 mcg/kgBB intravena dibandingkan dengan premedikasi fentanil 2 mcg/kgBB intravena terhadap respon hemodinamik akibat tindakan laringoskopi dan intubasi endotrakeal. Metode : Penelitian ini dilakukan pada 40 pasien dibagi dalam 2 kelompok dengan uji klinik tersamar ganda. Yang mendapat klonidin 1,5 mcg/kgBB (kelompok K, n=20) dan yang mendapat fentanil 2 mcg/kgBB (kelompok F,n=20), keduanya diinduksi dengan propofol 2 mg/kgBB dan atracurium 0.5 mg/kgBB. Laju jantung (LJ), tekanan darah sistolik (TDS), tekanan darah diastolik (TDD) dan tekanan arteri rerata (TAR) diukur saat basal, setelah pemberian klonidin atau fentanil, setelah induksi anestesi, saat intubasi endotrakeal, dan menit 1,2,3,4,5 setelah intubasi endotrakeal. Hasil : Meskipun terjadi peningkatan LJ, TDS,TDD dan TAR saat intubasi namun didapatkan penurunan lebih rendah pada kelompok K. Pada kelompok K terjadi penurunan TDS pada menit ke-1 (p0.013), menit ke-2(p=0.037) ,TDD menit ke-1 (p=0.048),TAR menit ke-1 (p=0.012) yang bermkana setelah intubasi endotrakeal.Kesimpulan: Klonidin 1,5 mcg/kgBB dan fentanil 2 mcg.kgbb intravena sama-sama dapat menekan respon hemodinamik saat laringoskopi dan intubasi endotrakeal namun pada penelitian ini lebih bermkna pada klonidin.

Perbandingan Efektivitas Spray Mometasone Furoat dan Deksamethason Intravena dalam Mengurangi Nyeri Tenggorokan setelah Operasi pada Anestesi Umum Intubasi Endotrakeal

Wirdiyana, Dian

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Banyak faktor pada intubasi endotrakeal yang dapat menyebabkan nyeri tenggorokan setelah operasi sebagai akibat dari trauma pada mukosa. Spray mometasone furoat adalah kortikosteroid potensi sedang yang dapat mencegah influx sel-sel inflamasi ke dalam mukosa. Deksamethason adalah kortikosteroid potensi kuat dengan sifat analgetik dan antiinflamasi.Tujuan:  meneliti perbandingan efektivitas spray mometasone furoat dan deksamethason intravena dalam mengurangi nyeri tenggorokan setelah operasi pada anestesi umum intubasi endotrakeal. Metode : Penelitian ini bersifat double blind. Lima puluh delapan pasien yang akan menjalani operasi dengan anestesi umum intubasi endotrakeal dipilih secara acak. Sampel yang memenuhi kriteria inklusi di bagi dalam 2 grup. Grup M (n = 29) diberikan spray mometasone furoat 100 mcg pada cuff pipa endotrakeal, pita suara, epiglottis, dan faring saat intubasi endotrakel dan grup D (n = 29) diberikan deksamethason 10 mg intravena 30 menit sebelum intubasi endotrakeal. Dilakukan penilaian terhadap insiden dan derajat nyeri tenggorokan pada jam ke-1, ke-6, dan ke- 24 setelah ektubasi. Analisis statistik dilakukan dengan uji mann-whitney dan chi square, dengan p < 0,05 bermakna secara signifikan. Hasil : Terdapat perbedaan yang bermakna baik insiden maupun derajat nyeri tenggorokan pada jam ke-1 setelah ekstubasi pada kedua kelompok (p<0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna baik insiden maupun derajat nyeri tenggorokan pada jam ke-6 dan ke-24 setelah ekstubasi pada kedua kelompok (p>0,05). Kesimpulan : Spray mometasone furoat dapat mengurangi nyeri tenggorokan setelah operasi anestesi umum intubasi endotrakeal.

Efektivitas Midazolam Untuk Pencegahan Mual Muntah Pascabedah Pada Prosedur Laparaskopi

Jamiludin, Jamiludin, AAA, Husain

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar belakang : Seluruh pasien yang menjalani pembedahan beresiko untuk mengalami mual dan muntah pasca bedah (PONV). Kejadian PONV menjadi gejala yang sangat merugikan terutama setelah prosedur pembedahan ambulatori serta mengganggu proses pemulihan pasca anestesi dan pembedahan sehingga memperpanjang waktu perawatan. Laparoskopi adalah suatu prosedur pembedahan minimal invasif yang disertai insidens PONV cukup tinggi. Penyebab tingginya angka kejadian PONV pada pembedahan laparaskopi disebabkan oleh gas yang digunakan untuk insuflasi dan menyebabkan penekanan pada nervus vagus yang memiliki hubungan dengan pusat muntah di medulla oblongata. Selain itu, penyebab lain seperti teknik anestesi, jenis kelamin, nyeri, perawatan pasca operatif dan data demografik pasien yang berhubungan dengan pengaruh terjadinya emesis. Midazolam sebagai agen anti emetik dan  anxiolitik yang  menurunkan sintesis, pelepasan dan efek pasca sinaptik dopamin serta menhambat reuptake adenosin, sehingga menurunkan input dopamin dan 5-HT3 terhadap CRTZ dan mengurangi input dari thalamus yang mempengaruhi langsung pusat muntah.Tujuan: mengevaluasi pemberian midazolam sebagai agen anti emetik dan  anxiolitikMetode: Empat puluh delapan pasien yang akan menjalani prosedur pembedahan laparaskopi elektif secara acak dibagi menjadi dua kelompok. Setelah diberikan obat premedikasi, kelompok M (n=24) diberikan midazolam 35 μg/kgBB intravena kelompok O (n=24) diberikan ondansetron 4 mg intravena. Selama prosedur anestesi, pemakaian opioid dan lama operasi dicatat. Kemudian kejadian mual muntah pasca bedah diamati dan dicatat selama periode 8 jam pascabedah.Hasil: Kejadian mual muntah setelah prosedur pembedahan laparaskopi pada penelitian ini diukur menggunakan skor PONV dengan interval 30 menit selama di ruang pemulihan dan setiap 1 jam di ruang perawatan selama 8 jam pasca bedah. Pada penilitian ini, terdapat perbedaan yang bermakna diantara kedua kelompok dengan hasil p=0,022 (p<0,05) pada waktu pengamatan P2 (60 menit pasca bedah)    .Kesimpulan: Midazolam 35 μg/kgBB setelah premedikasi pada anestesi umum pada prosedur pembedahan laparaskopi elektif menurunkan kejadian mual muntah pascabedah terutama pada 1 jam pasca bedah.

Pengaruh Asam Traneksamat pada Profil Koagulasi Pasien yang Mendapatkan Ketorolak

., Hijrineli, Harahap, Mohamad Sofyan, Soenarjo, Soenarjo

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Intra-operative bleeding is one of the challenges in anesthesia. Management of bleeding is an important modality for the anesthesiologist to maintain the patient in a state of physiological homeostasis. Ketorolac is a nonsteroidal anti-inflammatory drugs (NSAIDs) are often used as intraoperative and postoperative analgesia in surgical patients. NSAID use as a post-surgical analgesia has side effects such as interference with the function of hemostasis, is one of its manifestations extended bleeding time. Tranexamic acid can reduce the amount of bleeding and save the use of coagulation factors durante operations, and thus is expected to improve the coagulation profile (PPT and aPTT) of patients who received ketorolac.Objectives: To investigate the effect of Tranexamic acid administration to PPT and aPTT in patients given ketorolacMethod: This study is a clinical experimental study with randomized controlled blind design in Central Operating Theatre of Kariadi Hospital Semarang. Sample was taken from patient using simple random sampling and divided into two group. The first group (KI) was administered ketorolac and tranexamic acid .Second group (K II) was given ketorolac and placebo. Statistical analysis was performed with SPSS 16 for Windows.Result: Preoperatively, PPT between groups were not significantly different (KI : 12.27±0.811 ;K II: 12.89±1.041; p: 0.083), and so were preoperative aPTT (K I: 30.01±2.060 ; K II: 31.43±3.632 ; p: 0.196). In 2 hours post operative PPT were prolonged in both groups but were not significantly different between groups ( K I : 13.17±1.202 ; K II: 13.60±1.648; p: 0.417). aPTT value in 2 hours post operative were significantly different between groups ( K I: 31.31±1.518; K II: 32.5667±3.899; p: 0.007). In 6 hours post operative, PPT K I were shortened ( 12.43±0.8314), but K II were still prolonged (13.793±1.384; p: 0.003). In aPTT, K I shortened (29.4533±1.465), as well as K II(34.74±3.967; p: 0.004) but the difference between groups were significant.Conclusion: Statistically, Tranexamic acid administration provide significant improvement the coagulation profile in patients given ketorolac.Keywords : Ketorolac, Tranexamic acid, PPT, aPTTABSTRAKLatar Belakang: Perdarahan intra operatif adalah salah satu tantangan dalam bidang anestesi. Penanganan perdarahan merupakan modalitas yang penting bagi ahli anestesi untuk mempertahankan keadaan pasien dalam homeostasis fisologis. Ketorolak adalah obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) yang sering digunakan sebagai analgesia intraoperatif maupun post operatif pada pasien bedah. Penggunaan OAINS sebagai analgesia paska bedah memiliki efek samping berupa gangguan pada fungsi hemostasis, salah satu manifestasinya adalah memperpanjang waktu perdarahan. Asam traneksamat dapat menurunkan jumlah perdarahan dan menghemat pemakaian faktor faktor koagulasi durante operasi, dan demikian diharapkan akan memperbaiki profil koagulasi (PPT dan aPTT)pasien yang mendapatkan ketorolak.Tujuan: Mengetahui pengaruh pemberian asam traneksamat terhadap PPT dan aPTT pasien yang mendapatkan ketorolakMetode: Penelitian ini merupakan uji eksperimental klinis dengan desain acak tersamar di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUP Dr. Kariadi Semarang. Sampel diambil dari pasien yang menjalani operasi menggunakan “simple random sampling”dan dibagi menjadi dua kelompok : Kelompok 1 (K1) diberikan diberikan ketorolak 30 mg iv dan Asam traneksamat 1 gram intravena; Kelompok 2 (K2) diberikan diberikan ketorolak 30 mg iv dan placebo. Pasien dinilai PPT dan aPTT sebelum operasi, 2 jam pasca operasi dan 6 jam pasca operasi. Analisis statistik dengan SPSS for Windows versi 16.Hasil: Pada periode pre operatif, rerata PPT kedua kelompok cenderung tidak berbeda bermakna (KI : 12.27±0.811detik ;K II: 12.89±1.041; p: 0.083), demikian pula aPTT pre operatif (K I: 30.01±2.060 detik ; K II: 31.43±3.632 ; p: 0.196). Pada 2 jam post operatif terjadi pemanjangan PPT pada kedua kelompok namun beda kedua kelompok tidak bermakna ( K I : 13.17±1.202 detik K II: 13.60±1.648; p: 0.417). Perbedaan nilai aPTT 2 jam pasca operasi kedua kelompok tersebut bermakna secara statistik ( K I: 31.31±1.518 detik K II: 32.5667±3.899; p: 0.007). Pada 6 jam pasca operasi, PPT K I memendek ( 12.43±0.8314), namun K II tetap memanjang (13.793±1.384; p: 0.003). Pada nilai aPTT, K I memendek (29.4533±1.465),K II (34.74±3.967; p: 0.004) .Simpulan: Pemberian asam traneksamat dapat memperbaiki studi koagulasi pasien yang mendapatkan ketorolak secara bermakna secara statisticKata kunci : Ketorolak, Asam traneksamat, PPT, aPTT

Pengaruh Simvastatin Terhadap Kadar Proliferasi Limfosit Mencit Balb/C yang Diinduce Sepsis dengan LPS

Kharmayani, Made Ryan, Lutfi, Haris, Soesilowati, Danu

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Latar Belakang : Statin, inhibitor 3-hidroxy-3-methylglutaryl coenzyme A (HMG-CoA) reductase merupakan agen yang paling efektif dalam menurunkan lipid dan mempunyai efek pleiotrofik yaitu anti inflamatori dan immunomodulatori. Statin juga memodifikasi interaksi interseluler dan kemotaksis seluler pada sistem imun serta berpotensi mempengaruhi limfosit T dengan cara menghambat iinteraksi antara adhesi molekul seluler leukocyte function-associated antigen-1 (LFA-1) dan intercellular adhesion molecule-1 (ICAM-1), juga menurunkan interferon gamma (IFN -ɣ) yang berperan dalam ekspresi class II major histocompatibilty complex (MHC II) pada antigen precenting cells (APC) dan merupakan proses penting dalam aktivasi sel T. Penurunan ekspresi MHC II berakibat pada inhibisi aktivasi CD 4 limfosit, sehingga mengakibatkan penurunan diferensiasi T helper-1 (Th1) dan pelepasan sitokin proinflamasi juga menurun.Tujuan : Membuktikan efek simvastatin dosis bertingkat peroral pada mencit yang diberi LPS intraperitoneal terhadap penurunan kadar proliferasi limfosit.Metode : Penelitian eksperimental laboratorik dengan desain randomized post test only controlled group pada 20 ekor mencit Balb/c yang disuntik lipopolisakarida 10 mg/KgBB intraperitoneal dan simvastatin dosis 0,03 mg, 0,06 mg dan 0,12 mg peroral. Mencit dibagi menjadi 4 kelompok secara random, yaitu K1 sebagai control,  K2 yang mendapat simvastatin 0,03 mg, K3 yang mendapat simvastatin 0,06 mg dan K4 yang mendapat simvastatin 0,12 mg. Pemeriksaan limfosit diambil dari kultur limpa setelah 72 jam pemberian simvastatin. Uji statistik yang digunakan adalah parametrik ANOVA dan dilanjutkan PosterioriHasil : Kadar rerata limfosit kelompok K1 (1,546 ± 0,106), K2 (0,541 ± 0,046), K3 (0,471 ± 0,013) dan K4 (0,553 ± 0,02). Terdapat penurunan kadar limfosit secara signifikan pada kelompok K2, K3 dan K4 dibanding K1 dengan p <0,05. Tidak terdapat perbedaan bermakna antara kadar limfosit kelompok K2 dengan kelompok K3 dan K4 ( p>0,05) tetapi didapatkan perbedaan bermakna antara kelompok K3 dibandingkan kelompok K4 ( p<0,05).Simpulan : Simvastatin secara signifikan menurunkan kadar proliferasi limfosit pada mencit yang diberi LPS intraperitoneal. Dosis 0,06 mg memiliki efek menekan kadar proliferasi limfosit paling besar.

Perbedaan Pemberian Midazolam dan Ketamin Terhadap PaCO2 dan HCO3 pada Pasien dengan Ventilator

Istanto, Tatag, Primatika, Aria Dian, Leksana, Ery

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground:Sedation is given as much as 42-72% in patients treated in the Intensive Care Unit (ICU). Drugs that can be used, midazolam and ketamine, are different in terms of the effect on blood vessels.Objective : To find the difference in the value of PaCO2 and HCO3 via arterial blood gas analysis in patients at ICU who received midazolam as sedation compared with the use of ketamine.Methods: An experimental clinical randomized double-blind trial in patients using the ventilator in the ICU. Subjects (n: 28) were divided into 2 groups, K1 and K2, received ketamine and midazolam as sedation. Given for 24 hours with varying doses with a target depth of sedation of subjects on Ramsay Score 3. Then examined the value of blood gas analysis at 0, 6 and 24 hours.Results: Characteristics of the subjects age has a normal distribution of data. Results in comparison to 0 and 24 hours, groups of K1 and K2 on the value of HCO3 has a value of p = 0.565 (p> 0,05). And in PaCO2 values indicate significance at p = 0.12 (p> 0.05).Conclusion: There is no significant difference in PaCO2 dan HCO3 values when using ketamine and midazolam as sedation in subjects with ventilators between 0 to 24 hours.Keywords : midazolam, ketamine, sedation, ventilator, blood gas analysisABSTRAKLatar belakang: Sekitar 42 – 72% pasien yang dirawat di Unit Rawat Intensif (URI) diberikan sedasi. Obat yang digunakan yaitu midazolam dan ketamin, yang berbeda efeknya terhadap pembuluh darah.Tujuan: Mengetahui perbedaan nilai PaCO2 dan HCO3 darah arteri pasien yang dirawat di URI yang menerima midazolam dibandingkan dengan ketamin.Metode: Penelitian ini merupakan uji klinik eksperimental acak tersamar ganda pada subjek yang menggunakan ventilator di URI. Subjek (n : 28) dibagi menjadi K1 yang mendapat sedasi ketamin dan K2 yang mendapat midazolam. Sedasi diberikan selama 24 jam, dosis bervariasi, target Ramsay Score 3. Diperiksa nilai analisis gas darah pada jam ke- 0, 6 dan 24.Hasil: Hasil perbandingan pada jam ke- 0 dan ke- 24 kelompok K1 dan K2 nilai HCO3 p=0,565 (p>0,05). Nilai PaCO2 menunjukkan kemaknaan sebesar p=0,12 (p>0,05)Kesimpulan : Terdapat perbedaan yang tidak bermakna pada penggunaan ketamin maupun midazolam sebagai sedasi terhadap nilai PaCO2 dan HCO3 pada subjek yang menggunakan ventilator antara jam ke- 0 dan ke- 24.Kata kunci : midazolam, ketamin, sedasi, ventilator, analisis gas darah

Peran Plasmafaresis pada Terapi Pasien Sepsis dengan Myasthenia Gravis

Imron, Ahmad, Aditianingsih, Dita

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Plasmapheresis is potential to remove harmful or toxic mediator from the circulation. Plasmapheresis have been showed significantly improve outcome in autoimmune disease. The theurapetic efficacy and safety of plasmapheresis in the treatment of the patient in the severe sepsis and septic shock have been studied.Case: A 18 years old female was diagnosed after respiratory failure due to myasthenia gravis and severe sepsis due to pneumonia. She was referred from other hospital after the failure of anticholinesterase drugs to treat the symptomp of myasthenia gravis. Chest x-ray showed infiltrates at paracardial and basal right lung. Therapy had been given during the ICU stay are antibiotic, supportive drugs, and plasmapheresis was performed for 4 times. After appropiate antibiotic had given and plasmapheresis had been performed, the patient showed improvement of the musclestrength. PatienT successfully weaned from ventilator at day-9, and return to the ward at day-10.Summary: Plasmapheresis plays important role in the treatment of myasthenia gravis with sepsis. Plasmapheresis is utilized to remove a variety of offending plasma pathogens, such as antibodies, abnormal immunoglobulins and circulating immune complexesKeywords : Myasthenia gravis, plasmapharesis, intensive careABSTRAKPendahuluan : Plasmapheresis berpotensi untuk menghilangkan mediator berbahaya atau beracun dari sirkulasi . Plasmapheresis telah menunjukkan peningkatan keluaran yang bermakna pada penyakit autoimun . Kemanjuran theurapetic dan keamanan plasmapheresis dalam pengobatan pasien di sepsis berat dan syok septik telah dipelajari .Kasus : Seorang perempuan berusia 18 tahun didiagnosis dengan gagal nafas karena myasthenia gravis dan sepsis berat akibat pneumonia . Dia dirujuk dari rumah sakit lain setelah kegagalan obat antikolinesterase untuk mengobati gejala dari myasthenia gravis. x foto thorax menunjukkan infiltrat di paru-paru kanan paracardial dan basal . Terapi yang diberikan selama di ICU adalah antibiotik , obat-obatan suportif, dan plasmapheresis dilakukan selama 4 kali . Setelah antibiotik yang sesuai diberikan dan plasmapheresis selesai, pasien menunjukkan perbaikan kekuatan otot. Pasien berhasil disapih dari ventilator pada hari ke - 9 , dan kembali ke bangsal di hari - 10 .Ringkasan : Plasmapheresis memainkan peran penting dalam pengobatan myasthenia gravis dengan sepsis . Plasmapheresis digunakan untuk menghapus berbagai factor pemicu dalam plasma , seperti antibodi , imunoglobulin abnormal dan kompleks imun dalam sirkulasiKata kunci : Myasthenia gravis, plasmapharesis, terapi intensif

Manajemen Anestesi pada Pasien dengan Kistoma Ovarii Permagna

Sinantyanta, Hadyan, Gde Sujana, Ida Bagus

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Management of anesthesia in patients with cystoma ovarian permagna is a challenge because it requires careful preparation and have a high risk during the perioperative periodCase : A woman 25 years old attending with a growing abdomen experienced since the 15 months before admission, the patient complained of slight difficulty breathing. Activity began to decrease, difficult to walk. Patients with 109 cm abdominal circumference. Ultrasound examination showed a large cystoma with ascites . CT scan of the abdomen showed a large cystic mass with a size of 30,3 x 34,9 x42,1 cm with solid components are urging the intestine and the presence of hydronephrosis degrees IV and III in the left- right , minimal intraperitoneal ascites fluid.General Anesthesia were delivered by ET intubation. .  The surgery lasted for 2 hours, cystoma successfully removed intact ovary weighed 23 kg. Intraoperative bleeding patients about 500 ml , and 1600 ml of urine production. After 19 hours of observation in the intensive care unit was extubated . After the third day the patient is allowed to be treated in the room . Weight 30 kg patient in the room. Normal physical activity and without complaints of pain with VAS scale ( visual analog score) as silent as it moved 2 cm 0 cm . Patients were allowed to go home after day 8 post for outpatient surgery.Summary: Management of anesthesia has been conducted to a woman with cystoma ovarian permagna. The surgery was a great success and patient dismissed after day 8 post op. Pendahuluan : Manajemen anestesi pada pasien dengan kistoma ovarium permagna merupakan tantangan karena memerlukan persiapan yang cermat dan memiliki risiko tinggi selama periode perioperatif .Kasus :   Seorang wanita berusia 25 tahun datang dengan keluhan perut membesar  sejak 15 bulan sebelum masuk rumah sakit, pasien mengeluhkan kesulitan bernapas. Aktivitas mulai berkurang, terdapat kesulitan berjalan. Pasien memiliki lingkar perut 109 cm. Pemeriksaan USG menunjukkan kistoma besar dengan ascites. CT scan abdomen menunjukkan massa kistik besar dengan ukuran 30,3 x 34,9 x42 ,1 cm dengan komponen padat mendesak usus dan adanya hidronefrosis derajat IV dan III di kiri-kanan, cairan asites minimal intraperitoneal.Dilakukan anestesi dengan anestesi umum dengan intubasi. Operasi berlangsung selama 2 jam, kistoma berhasil diangkat secara utuh denganberat massa saat ditimbang 23 kg. Perdarahan intraoperatif sekitar 500 ml, dan produksi urin 1600 ml. Setelah 19 jam pengawasan di unit perawatan intensif, pasien diekstubasi. Setelah hari ketiga pasien dirawat di ruangan. Berat pasien 30 kgdiruangan. Aktivitas fisik normal dan tanpa keluhan nyeri dengan skala VAS ( skor analog visual) saat diam dan saat bergerak 2 cm 0 cm. Pasien diijinkan pulang ke rumah setelah hari ke-8 pasca operasi untuk rawat jalan.Ringkasan: Manajemen anestesi telah dilakukan pada wanita dengan kistoma ovarium permagna.Operasi berjalan sukses dan pasien diperbolehkan pulang ke rumah setelah hari ke-8 pasca operasi untuk rawat jalan

Penatalaksanaan Anestesi pada Koreksi Atresia Esophagus dan Atresia Esofagus

Lubis, Fadli Armi, Arifin, Hasanul

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 3 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Esophageal atresia is a congenital medical condition (birth defect) which affects the digestive tract. Congenital anatomical defect is caused by an abnormal embryological development of esophageal fistula forming tracheoesofageal. Surgical repair is the definitive treatment for EA and TEF. Due to fistula, the airway tract is altered and the anesthesiologist should face a unique challenge on its management Case : A baby boy, admitted to hospital with main complaint vomitus after breastfed. Physical findings shown as crackles on breath sound. Intubation using awake technique. During operation, hemodynamic was stable, maintanance with sevoflurane MAC 1%, fentanyl 4 μg/hr, and rocuronium 0,5 mg/hr. When desaturation occured, we stop the operation, we check the tube in place, gave adequate ventilation, after a while the saturation rises and then the operation procedure continued. However, anastomose of esophagus could not be done because the distance between the defect was too far. Duration of the operation was about 4 hours. Awake intubation technique was used. Hemodynamic was stable during surgery, and found TEF type C. After surgery patient was taken cared in NICU and 3 days later the patient died.Summary : Good anesthetic management using "awake intubation" and good ventilation is a chosen technique in this case. The operation lasted 4 hours with stable hemodynamics. However, because the operation did not successfully correct the defect, then the postoperative outcome were futile.   Pendahuluan : Atresia esofagus adalah suatu kondisi medis bawaan ( cacat lahir ) yang mempengaruhi saluran pencernaan . Cacat bawaan anatomi disebabkan oleh perkembangan embrio abnormal fistula esofagus membentuk tracheoesofageal . Bedah perbaikan adalah pengobatan definitif untuk EA dan TEF . Karena fistula , saluran napas diubah dan ahli anestesi harus menghadapi tantangan unik pada manajemenKasus : Seorang bayi laki-laki , masuk rumah sakit dengan keluhan utama muntah setelah disusui . Temuan fisik ditemukan ronki basah kasar pada suara napas . Intubasi menggunakan teknik intubasi sadar . Selama operasi , hemodinamik stabil , maintanance dengan sevofluran MAC 1 % , fentanil 4 mg / jam , dan rocuronium 0,5 mg / jam . Durasi operasi adalah sekitar 4 jam . Hemodinamik stabil selama operasi , dan menemukan TEF tipe C. Ketika desaturasi terjadi , kami menghentikan sejenak operasi, kami memeriksa posisi ETTat , memberikan ventilasi yang cukup , setelah beberapa saat saturasi naik dan kemudian operasi dilanjutkan . Meski demikan anastomose esofagus gagal dilakukan karena jarak antara cacat itu terlalu jauh . Setelah pasien operasi diambil dirawat di NICU dan 3 hari kemudian pasien meninggal.Ringkasan: Manajemen anestesi baik menggunakan " intubasi sadar " dan ventilasi yang baik adalah teknik yang dipilih dalam kasus ini . Operasi berlangsung 4 jam dengan hemodinamik stabil. Namun, karena operasi tidak berhasil memperbaiki cacat tersebut , maka hasil pasca operasi kurang baik.