cover
Filter by Year
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Articles by issue : Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
9
Articles
Pengaruh Pemberian Parecoxib Terhadap Kadar Il-6 dan Intensitas Nyeri Pascabedah Laparotomi Ginekologi

Haeruddin, Heriady, Ahmad, Muhammad Ramli

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Post operative pain still an issue in the post operative management.Approximately 80% patients undergo surgery has had acute post operative pain whichhipothetically mediated by interleukin 6 (IL-6): a proinflamation cytokine that hasimportant role in pain physiology. Objective : The aim of this research is to measure Interleukin 6 (IL-6) concentration andpost operative pain intensity in the use of combination Parecoxib 40 mg intravenouswith epidural analgesic bupivakain and fentanyl for patients undergo gyneacologylaparotomy. Methods : This is an experimental research using double blind random technique.Total sample 50, which divided into 2 groups consist of 25 subjects each which haddone gyneacologic laparotomy. One group had Parecoxib 40 mg before surgery and12 hours after surgery, while the control group had placebo. Both of groups hadepidural analgesic using bupivacain 0,5% and fentanyl, and post operative analgesiccontinuous with bupivacain 0,125% and fentanyl 2 ug/ml 5 ml/hour. The painasessment using NRS chart at 2, 12, and 24 hours post operative. Result : IL-6 serum on both groups had elevation with the peak level on 24 hours postoperative. No significant difference in IL-6 serum elevation (p>0,05). No differencealso in assessment post operative pain scale using NRS chart in both groups. Conclusion : Analgesic combination between Parecoxib 40 mg IV with epiduralanalgesic bupivacain 0,125% can’t lower IL-6 patient serum who undergogynecologic laparotomy. Latar Belakang : Nyeri pascabedah masih merupakan masalah dalam periodepascabedah. Sekitar 80% pasien yang menjalani pembedahan mengalami nyeri akutpascabedah. Interleukin-6 (IL-6) merupakan sitokin proinflamasi yang berperanpenting dalam fisiologi nyeri. Tujuan : Penelitian ini bertujuan mengukur kadar IL-6 dan intensitas nyeripascabedah pada penggunaan kombinasi Parecoxib 40 mg intravena dengananalgesia epidural bupivacain dan fentanyl pada pasien yang menjalani laparotomiginekologi. Metode : Dilakukan penelitian eksperimental secara acak pada 50 pasien yang dibagimenjadi dua kelompok, masing-masing 25 subyek yang menjalani bedah laparotomiginekologi. Sebelum dan 12 jam setelah pembedahan Kelompok Parecoxibmendapatkan Parecoxib 40 mg sedangkan Kelompok Kontrol mendapatkan plasebo.Pada kedua kelompok mendapatkan anestesi selama pembedahan dengan anestesiepidural bupivacain 0,5% dan fentanyl dilanjutkan analgesia epidural pascabedahkontinu dengan bupivacain 0,125% dan fentanyl 2 ug/ml 5 ml/jam. Penilaian nyeridengan NRS diam bergerak dan dilakukan pada 2 jam, 12 jam, dan 24 jampascabedah. Hasil : Pada IL-6 serum pada kedua kelompok mengalami peningkatan dengan kadarpuncak pada pengukuran 24 jam pascabedah. Tidak ada perbedaan peningkatankadar IL-6 antara kedua kelompok (p>0,05). Demikian pula pada penilaian skalanyeri dengan NRS diam dan bergerak, tidak ditemukan perbedaan antara keduakelompok. Kesimpulan : Kombinasi analgesia parecoxib 40 mg iv dengan analgesia epiduralbupivacain 0,125% tidak dapat menurunkan kadar IL-6 serum pada pasien yangmenjalani laparotomi ginekologi.

Efek Dexmedetomidine 0,2 ug/kgbb Intravena terhadap Insiden Delirium saat Pulih Sadar dari Anestesi Umum pada Pasien Pediatrik

Hendrawan, Cahya, Arif, Syafri Kamsul

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Dexmedetomidine gives sedation effect, analgesic and anxiolitik afterintravenous administration. Isoflurane and Sevoflurane associated with delirium effectwhen awakening from general anesthesia. This research using placebo as control, weevaluate delirium effect from single dose dexmedetomidine when awakening fromgeneral anesthesia with Isoflurane as inhalation agent in pediatric patients whomundergo elective operation. Method : This is a double blind research. There are 46 children (age 3-10 years old)selected randomly had dexmedetomidin 0,2 ug/kg weight or placebo before the surgeryended. One hour after surgery, we evaluate delirium score. We noted ekstubation time,awakening, and side effect from dexmedetomidin. We also asessed post operative painusing objective pain scale (OPS). Result : The delirium effect when awakening from general anesthesia in the groupgiven dexmedetomidine are better than the placebo group (P<0,05). Post operativepain are similar in both groups. Ekstubation time and awakening time inDexmedetomidin group are longer than placebo group, but not qualified statistically.No side effect (hypotension and bradicardia) in both groups. Conclusion : We conclude that dexmedetomidine 0,2 ug/kgBB intravenous proven tominimize delirium incidens when awakening from general anesthesia with isofluranewith childen undergo elective surgery. Latar Belakang : Dexmedetomidine memberikan efek sedasi, analgesia, dan anxiolitiksetelah pemberian intravena. Isofluran dan sevofluran dihubungkan dengan angkakejadian delirium saat pulih sadar dari anestesi umum pada pasien pediatrik. Padapenelitian dengan menggunakan placebo sebagai kontrol, kami mengevaluasi efek daridosis tunggal dexmedetomidine pada delirium saat pulih sadar dari anestesi umumpada pasien pediatrik yang menjalani pembedahan elektif menggunakan anestesiumum dengan isofluran. Metode : Pada penelitian acak tersamar ganda ini , 46 anak (usia 3-10 tahun) dipilihsecara acak mendapatkan dexmedetomidin 0,2ug/kgBB atau placebo pada akhirpembedahan. Semua pasien mendapatkan obat anestesi yang standar. Setelahpembedahan, nilai delirium saat pulih sadar dari anestesi umum diukur sampai 1 jampascabedah. Waktu ekstubasi, waktu pulih sadar, dan efek samping daridexmedetomidine dicatat. Setelah pembedahan nyeri pasien diukur denganmenggunakan objective pain scale (OPS) . Hasil : Nilai delirium saat pulih sadar dari anestesi umum pada kelompokdexmedetomidine lebih baik daripada kelompok placebo (P<0,05). Nilai nyeri samapada kedua kelompok (P>0,05). Waktu ekstubasi dan waktu pulih sadar lebih panjangpada kelompok dexmedetomidin tetapi tidak bermakna secara statistik (P>0,05). Tidakada efek samping (hipotensi dan bradikardi) pada kedua kelompok. Kesimpulan : Kami menyimpulkan bahwa Dexmedetomidine 0,2ug/kgBB intravenadapat mengurangi insiden delirium saat pulih sadar dari anestesi umum denganisofluran pada anak yang menjalani pembedahan elektif.

Perbedaan Pengaruh HES 6% (200) Dalam NaCl 0,9% dan Dalam Larutan Berimbang pada Base Excess dan Strong Ion Difference Pasien Seksio Sesaria dengan Anestesi Spinal

Hasyim, Djatun, Samodro, Ratn, Sasongko, Himawan, Leksana, Ery

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : On cesarean section with spinal anesthesia, colloid administration aspreload is more effective than crystalloid. This preload using colloid with its differentsolvent has its own effect to the acid base balance. Therefore the use of colloid-solvent-based-on is being improved. Objectives : to analyze the effect of HES 6% in balanced solution with HES 6% in NaCl0,9% on Base Excess (BE) and Strong Ion Difference (SID) on cesarean sectionpatients with spinal anesthesia.Method: this is an experimental clinical trial, double blind randomized withconsecutive sampling, divided into two groups (n=12), HES 6% in balanced solutionand HES 6% in NaCl 0,9%. Statistical analysis were performed with SPSS forWindows version 16. Result : Group HES 6% in NaCl 0,9% has significant difference for BE before andafter administration (p < 0,05). While BE before and after administration on HES 6%in balanced solution has insignificant difference (p > 0,05). Group HES 6% in NaCl0,9% has significant difference for SID before and after administration (p < 0,05).While SID before and after administration on HES 6% in balanced solution hasinsignificant difference (p > 0,05). Conclusion : there are significant declination of BE and SID on group of HES 6% inNaCl 0,9% than on group of HES 6% in balanced solution.  Latar belakang : Pada bedah sesar dengan anestesi spinal, pemilihan koloid sebagaicairan preload lebih efektif ketimbang kristaloid. Pemberian cairan koloid denganpelarut yang berbeda sebagai preload ini memiliki dampak terhadap keseimbanganasam basa tubuh. Sehingga pemilihan koloid berdasarkan pelarutnya mulaidipertimbangkan. Tujuan : Melihat pengaruh pemberian HES 6% dalam larutan berimbang dengan HES6% dalam NaC1 0,9% terhadap Base Excess (BE) dan Strong Ion Difference (SID)pada pasien bedah sesar dengan anestesi spinal. Metode : Merupakan uji klinik eksperimental yang dilakukan secara acak tersamarganda, dengan consecutive sampling, dibagi menjadi 2 kelompok (n=12) yaitukelompok HES 6% dalam larutan berimbang dan HES 6% dalam NaC1 0,9%. Ujistatistik untuk membandingkan nilai BE dan SID pada masing-masing kelompokmenggunakan SPSS for Windows versi 16. Hasil : Nilai BE sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok HES 6% dalam NaCI0,9%, memiliki perbedaan yang bermakna (p < 0,05). Sedangkan nilai BE sebelumdan sesudah perlakuan pada kelompok HES 6% dalam larutan berimbang memilikiperbedaan yang tidak bermakna (p > 0,05). Nilai SID sebelum dan sesudah perlakuanpada kelompok HES 6% dalam NaC1 0,9%, memiliki perbedaan yang bermakna (p0,05). Sedangkan nilai SID sebelum dan sesudah perlakuan pada kelompok HES 6%dalam larutan berimbang memiliki perbedaan yang tidak bermakna (p > 0,05). Kesimpulan : Terdapat penurunan BE dan SID secara bermakna pada kelompok HES6% dalam NaC1 0,9% dibanding pada kelompok HES 6% dalam larutan berimbang.

Pengaruh Premedikasi Klonidin terhadap Interval Q-Tc dan Skor Rate Pressure Product pada Laringoskopi Intubasi

Noor, Fajrian, Hidayat, Soni, Witjaksono, Witjaksono, Budiono, Uripno

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Endotracheal intubation laryngoscopy is an act done in generalanesthesia. Laryngoscopy and intubation actions than can cause trauma, can alsocause cardiovascular changes in the form of increased blood pressure, increased heartrate, increased scores rate pressure product (RPP) which increased cardiac oxygendemand and Q-Tc interval prolongation by sympathetic stimulation caused bylaryngoscopy intubation. Role of clonidine premedication administration aims toreduce cardiovascular changes of decreased blood pressure and decreased heart rate. Objective : This study aimed to study the effect of oral clonidine tablets for bloodpressure, heart rate, Q-Tc interval and score rate pressure product (RPP) duringlaryngoscopy intubation Methods : Forty-eight subjects aged 14-40 years with ASA physical status I and II, withno sign of trouble intubation were randomly divided into groups of clonidine (KI) andthe control group (K II). KI group get oral clonidine premedication 0.15 mg 2 hoursbefore surgery, while K2 placebo. Both groups received the same treatment aslaryngoscopy intubation. Blood pressure, heart rate, Q-Tc interval and RPP score iscalculated at 2 minutes post-induction, 2 min and 5 min after intubation laryngoscopy. Results : heart rate, RPP Score and QTc intervals did not differ significantly betweenthe two groups. However blood pressure in the clonidine group was significantly lowerin the clonidine group. Conclusions : Premedication with oral clonidine 0.15 mg dose did not affect the Q-Tcinterval, RPP scores, and heart rate were significantly laryngoscopy intubation inadult patients. Latar belakang : Laringoskopi intubasi endotrakea merupakan tindakan yang banyakdilakukan pada anestesi umum tindakan laringoskopi dan intubasi selain dapatmenimbulkan trauma, juga dapat menimbulkan gejolak kardiovaskuler berupapeningkatan tekanan darah, peningkatan laju jantung, peningkatan score ratepressure product (RPP) yaitu peningkatan kebutuhan oksigen jantung danpemanjangan interval Q-Tc oleh stimulasi simpatik akibat laringoskopi intubasiPeran pemberian premedikasi klonidin bertujuan untuk mengurangi gejolakkardiovaskuler berupa penurunan tekanan darah dan penurunan laju jantung. Tujuan : Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh pemberian klonidintablet oral terhadap tekanan darah, laju jantung, interval Q-Tc dan skor rate pressureproduct (RPP) saat laringoskopi intubasi. Metode : Empat puluh delapan subjek berusia 14-40 tahun dengan status fisik ASA Idan II, tanpa tanda kesulitan intubasi dibagi secara acak menjadi kelompok klonidin(K I) dan kelompok kontrol (K II). Kelompok KI mendapatkan premedikasi klonidinoral 0,15 mg 2 jam sebelum operasi sedangkan K2 mendapatkan plasebo. Keduakelompok mendapatkan perlakuan yang sama saat laringoskopi intubasi. Tekanandarah, laju jantung, interval Q-Tc dan skor RPP dihitung pada 2 menit pasca induksi,2 menit dan 5 menit pasca laringoskopi intubasi. Hasil : Laju jantung, Skor RPP dan interval QTc tidak berbeda bermakna antarakedua kelompok . Akan tetapi tekanan darah pada kelompok klonidin secara bermaknalebih rendah pada kelompok klonidin Simpulan : Premedikasi klonidin oral pada dosis 0,15 mg tidak mempengaruhiinterval Q-Tc, skor RPP, dan laju jantung secara bermakna pada laringoskopiintubasi pasien dewasa.

Pengaruh Induksi Propofol dan Ketamin terhadap Kadar Procalcitonin Plasma

Rofiq, Aunun, Arifin, Johan, Witjaksono, Witjaksono

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Procalcitonin used as one of the inflammatory response to infection.Induction of anesthesia used drugs known to affect the increase in procalcitoninObjective: Determine the effect of differences in propofol and ketamine on levels ofprocalcitonin in general anesthesiaMethod: a quasi experimental study on 16 subjects who performed general anesthesia.The samples were divided into 2 groups each of 8 samples, group 1 and 2 get a dose ofpropofol 2.5 mg / kg intravenous or ketamine 2 mg / kg intravenous as an anestheticinduction drugs. anesthesia were mainained with O2 and N2O with a ratio of 50%:50%. Subject blood samples were taken before induction, 4 hours and 24 hoursfollowing induction.Results: There were significant difference in procalcitonin levels before and aftertreatment in the propofol group (K1) (p = 0.008) and no significant difference in theketamine group (K2) (p = 1,00). Procalcitonin levels amid values K1 and K2 were0.175 ± 0.1 and 0.05 ± 0.05. Propofol causes marked elevated levels of procalcitonincompared to ketamine (p = 0.053)Conclusion: Propofol significantly increased procalcitonin levels compared toketamineKeywords : propofol, ketamine, procalcitonin, general anesthesiaABSTRAKLatar belakang: Procalcitonin merupakan salah satu petanda respon inflamasiterhadap infeksi. Obat induksi anestesi dapat mempengaruhi kadar procalcitoninplasma.Tujuan: Menilai pengaruh propofol dan ketamin terhadap kadar procalcitonin dalaminduksi general anestesiMetode: Studi quasi experimental terhadap 16 subjek yang menjalani generalanestesi. Sampel dibagi menjadi grup 1 yang mendapatkan propofol dengan dosis2,5 mg/kgbb intravena dan grup 2 yang mendapatkan ketamin dengan dosis 2 mg/kgbbintravena sebagai obat induksi anestesi selama prosedur penelitian, anestesi rumatanO2 dan N2O dengan rasio 50%:50%. Sampel darah subjek diambil sebelum induksi,jam ke-4 dan jam ke -24.Hasil: Didapatkan perbedaaan kadar procalcitonin bermakna sebelum dan sesudahperlakuan pada kelompok propofol (K1) (p=0,008) dan perbedaan tidak bermaknapada kelompok ketamin (K2) (p=1,00). Nilai tengah kadar procalcitonin K1 dan K2adalah 0,175±0,1 dan 0,05±0,05. Propofol menyebabkan peningkatan kadarprocalcitonin lebih tinggi dibandingkan ketamin (p=0,053)Kesimpulan : Propofol secara bermakna meningkatkan kadar procalcitonindibandingkan ketamin

Penatalaksanaan Anestesi Pada Total Anomalous Pulmonary Venous Drainage

Ririh Wiyatmoko, Bagus Damar, Koto, Chairil Gani

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Background : TAPVD is one of cyanotic congenital heart disease. There is noconnection between pulmonary vein and left atrium; pulmonary vein was directlydrain into right atrium or systemic vein (innominate, superior cava, Azygus, inferiorcava or portal vein) through alternative ways (vertical vein). All venous blood draininto right atrium, thus the patient life depend on the connection between left and rightatrium.Case: 12 years old boy with major complain exhausted and weight gain difficulty.Echocardiography show supracardiac TAPVD (to innominate vein), large ASD (rightto left shunt), mild tricuspid regurgitation and moderate pulmonary hypertension.Anesthetic management aimed to reduce pulmonary blood flow through controlledventilation dan quick extubation after repair procedure was finished. Central venouspressure, arterial line and pulmonary arterial pressure monitoring is very useful.Perioperative pulmonary hypertension could be treated with hyperventilation,oxygenation, alkalinization, deep sedation dan muscle relaxant.Keywords : Total Anomalous Pulmonary Venous Drainage, congenital heart disease, anesthesia Pendahuluan: TAPVD merupakan salah satu CHD yang bersifat sianotik. TAPVDmerupakan anomali vena paru kongenital yang mana tidak ada hubungan antarapembuluh darah paru dan atrium kiri; vena paru terhubung langsung ke atrium kananatau ke vena sistemik (inominata, vena cava superior, Azygus, vena cava inferior atauvena portal) oleh jalur alternatif (vena vertikal). Karena semua darah vena kembali keatrium kanan, sehingga kelangsungan hidup penderita tergantung pada koneksi antaraatrium kiri dan kanan.Kasus: Anak laki-laki 12 tahun dengan keluhan cepat lelah dan berat badan sulit naik.Ekokardiografi menunjukkan adanya TAPVD supracardiac (ke V.inominata), ASDbesar (pirau kanan ke kiri), TR mild dan PH moderate. Prinsip manajemen anestesidengan mengurangi aliran darah ke paru melalui kontrol ventilasi dan pertimbangkanekstubasi cepat setelah repair. Monitoring dengan CVP, LA pressure dan PA pressuresangat membantu. Hipertensi pulmonal perioperatif ditangani dengan hiperventilasi,oksigen 100%, alkalinisasi, sedasi dalam dan pelumpuh otot.

Penggunaan Opioid sebagai Balans Anestesi pada Craniotomi Emergensi dengan Meningioma

Solihat, Yutu

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACTBackground: Balanced anesthesia is a technique of general anesthesia based on theconcept that administration of mixture agent inhalation and intravenous orcombinations anesthesia technique for desired advantages effect anesthesia. Opioidas one component of balanced anesthesia proven can reduce perioperative pain andanxiety, decrease somatic and autonomic responses to airway manipulation, improvehemodynamic stability during noxious stimulation due to surgery, lower requirementsfor inhaled anesthetics, and provide immediate postoperative analgesia. The goal ofmaintenance anesthesia in neurosurgery is controlling brain tension through controlcerebral metabolic rate for oxygen consumption (CMRO2) and cerebral blood flow(CBF). The specific anesthetic regimen is a combination of drugs that favorably affectscerebral hemodynamics, CMRO2, and intracranial pressure (ICP) to provide goodoperating conditions and to enhance the probability of a quality outcome. Opioidgenerally produce modest decreases in the cerebral metabolic rate (CMR) andintracranial pressure although such changes are influenced by the concomitantadministration of other agents and anesthetics.Case: A female, 42 years old, predicted body weight 60 kg was admitted to thehospital with main complain decreased level of consciousness suddenly.(meningioma) on the parietal lobe.History of headache was found, no vomittus, and noseizure. Physical examination revealed sensorium Glasgow Coma Scale 10 (E3M5V2),status hemodynamic,we respiratory, laboratory and radiology findings were withinnormal limits. Patient was scheduled for craniotomy emergency tumor removal undergeneral anesthesia intubation using endotracheal tube with opioid in balancedanesthesia using fentanil.Operation lasted for 3 hours. Intravenous injection of midazolam (2 mg) aspremedication was administered prior to anesthesia induction, fentanil 250 ug iv(titration) was given 5 minute before propofol injection to reach peak level beforeintubation. Induction with propofol 100 mg iv (titration) and muscle relaxant withrocuronium 50 mg iv was given. During anesthesia patient fully controlled, maintenancedO2:air 2l:2l, sevoflurane 0,5-1%, rocuronium 10 mg/hours/iv and fentanil 100-200 ug/hours/iv syringe pump. Totally fentanil used was 900 ug and at the end of surgery patientextubated. Pain management post operative used in ICU was fentanil 500 uq/24 hours/ivand ketorolac 30 mg/8 hours/iv. Reassessed the level of consciousness post operative inICU was GCS 15.Discussions: It has been reported that opioid in balanced anesthesia with tumor removal(meningioma) in emergency craniotomy provide good operating conditions and excellentoutcome. Opioid in balanced anesthesia is a good choice for this case. Plasma opioidconcentrations required to blunt hemodynamic responses to laryngoscopy, trachealintubation, and various noxius stimuli, as well as plasma opioid concentration associatedwith awakening from anesthesia and proven not increased cerebral metabolic andintracranial pressure. Opioid dosage is titrated to the desired effect based on surgicalstimulus and revealed good recovery. Keywords : Opioid in balanced anesthesia, neuroanesthesia, emergency craniotomy, meningioma.ABSTRAKLatar Belakang: Balans anestesi adalah teknik anestesi umum berdasar konseppemberian campuran agen inhalasi dan intravena atau teknik anestesi kombinasi untukmendapatkan keuntungan efek anestesi.Opioid sebagai salah satu komponen balans anestesi terbukti dapat mengurangi nyeriperioperatif dan cemas, mengurangi respon somatik dan respon otonom terhadapmanipulasi saluran napas, meningkatkan stabilitas hemodinamik selama rangsang nyerioperasi, kebutuhan anestesi inhalasi yang lebih rendah, dan memberikan analgesi segerapasca operasi. Tujuan maintenans anestesi pada bedah saraf adalah mengontrol tekananotak melalui kontrol tingkat konsumsi oksigen metabolisme otak (CMRO2) dan alirandarah otak (CBF). Preparat anestesi spesifik merupakan kombinasi obat yangmenguntungkan hemodinamik serebral, CMRO2, dan tekanan intrakranial (ICP) untukmemberikan kondisi operasi yang baik dan untuk meningkatkan kemungkinan hasil yangberkualitas. Opioid umumnya menghasilkan penurunan sederhana dalam tingkatmetabolisme otak (CMR) dan tekanan intrakranial meskipun perubahan tersebutdipengaruhi dengan pemberian agen lain.Kasus: Seorang wanita, 42 tahun, berat badan 60 kg dirawat di rumah sakit dengankeluhan utama penurunan kesadaran tiba-tiba. CT scan menunjukkan tumor(meningioma) pada lobus parietal. Terdapat riwayat sakit kepala, tidak ada muntah, dantidak kejang. Pemeriksaan fisik menunjukkan Glasgow Coma Scale 10 (E3M5V2), statushemodinamik, pernafasan, pemeriksaan laboratorium dan radiologi dalam batas normal.Pasien dijadwalkan untuk kraniotomi pengangkatan tumor emergensi di bawah anestesiumum, intubasi dengan endotrakeal tube dan opioid dalam balans anestesi menggunakanfentanil . Operasi berlangsung selama 3 jam. Injeksi intravena midazolam 2 mg sebagaipremedikasi diberikan sebelum induksi anestesi, fentanil 250 ug/iv (titrasi) diberikan 5menit sebelum injeksi propofol untuk mencapai tingkat puncak sebelum intubasi. Induksidengan propofol 100 mg iv (titrasi) dan pelumpuh otot dengan rokuronium 50 mg iv.Selama anestesi, pasien dikontrol secara total, maintenans O2:udara 2l : 2l, sevofluran0,5-1 % , rocuronium 10 m / jam/iv dan fentanil 100-200 ug/jam/ iv syringe pump. Totalfentanil digunakan adalah 900 ug dan pada akhir operasi pasien diekstubasi. Manajemennyeri pasca operasi yang digunakan di ICU adalah fentanil 500 uq/24 jam/iv danketorolak 30mg/ 8 jam/iv. Pada asesmen ulang tingkat kesadaran pasca operasi di ICUdidapatkan GCS 15.Pembahasan: Opioid dalam balans anestesi pada pengangkatan tumor (meningioma)pada kraniotomi emergensi memberikan kondisi dan hasil operasi yang baik. Opioiddalam balans anestesi adalah pilihan yang baik untuk kasus ini. Konsentrasi plasmaopioid yang diperlukan untuk menumpulkan respon hemodinamik terhadap laringoskopi,intubasi trakea, dan berbagai rangsangan noxius, serta konsentrasi plasma opioid yangterkait dengan kebangkitan dari anestesi dan terbukti tidak meningkatkan metabolismeotak dan tekanan intrakranial. Opioid dosis dititrasi untuk efek yang diinginkanberdasarkan stimulus bedah dan menghasilkan pemulihan yang baik.

Pengawasan Curah Jantung

Helmi, Mochamat

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cardiac ouput has a major role to determine tissue oxygen delivery and bloodpressure, therefore its monitoring became fundamental. Uptil now, the thermodilutionsystem remains a gold standard in cardiac output monitoring. However, it is wellknown that this system has many risks due to its invasive methods. Therefore, the lessinvasive, safe, accurate and easy to use cardiac output monitorings are underdevelopments. The aim of this review is to describe some cardiac output monitoringmethods. Keywords : cardiac ouput, hemodynamic, hemodynamic monitorings, less invasive.  Sebagai faktor penentu dari hantaran oksigen ke jariangan dan juga tekanan darah,curah jantung menjadi komponen penilaian hemodinamik yang penting.Penggunaanteknik thermodilusi yang menjadi standar baku, telah banyak diketahui mempunyairesiko karena teknik invasifnya. Sehingga teknik pengawasan CO yang kurang invasif,aman,akurat dan mudah digunakan, terus mengalami perkembangan. Tinjauanpustaka ini akan mamaparkan mengenai beberapa macam metode pengawasan CO.

Pengaruh Preventif Multimodal Analgesia Terhadap Dinamika Kadar Il - 1β, Intensitas Nyeri Pada Pascabedah Laparotomi Ginekologi

Hisyam, Muhammad, Bahar, Burhanuddin, Ahmad, Muhammad Ramli

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 5, No 2 (2013): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Background: Postoperative pain is an extremely important issue facing patientspostoperative. Although our knowledge of the mechanisms of postoperative pain hasbeen a lot of progress, but not yet optimal management of postoperative pain and stilloften neglected. Interleukin (IL) 1β is one of the proinflammatory cytokine levels willrise when the inflammatory process.Objective: This study aims to compare the level of IL-1β between the group receivingepidural bupivacaine 0.125% combined with 40 mg parecoxibe and the one treatedwith epidural bupivacaine 0.125% used as multimodal preventive analgesia aftergynecological laparotomy operation.Method: A randomised double blind experiment was administered to 50 patients withphysical status (ASA PS) II who would experience gynecological laparotomyprocedure with epidural anesthesia. The study subjects were divided into twotreatment groups, one with a combination between epidural bupivacaine 0,125% andparecoxib 40 mg (n = 25) and the other one with a placebo combination with NaCl0,9% (n = 25). Each would have epidural anesthesia during operation and thepostoperative analgesia. Thirty-five minutes before surgery, the patients’ bloodsample was taken for IL-1β level measurement and so was at 2 and 24 hours aftersurgery. Statistical analysis used statistical software, Mann-Whitney U test and Levanetest.Result: Average level of IL-1β in parecoxib group was 1,05±1,25 pg/mlpreoperatively, 1,24 ± 1,54 pg/ml 2 hours postoperative and 1,82 ± 2,16 pg/ml 24hours postoperative. In control group, IL-1β level was 1,65±1,69 pg/ml preoperatively,2,55±2,77 pg/ml 2 hours postoperative and 1,96±1,97 pg/ml 24 hours postoperative.Average NRS score between resting and moving was not significantly different at 2, 12and 24 hours postoperative (p>0,05).Conclusion: Combination of epidural bupivacaine 0,125% with parecoxibe 40 mgdecrease IL-1β level at 2 hour after the surgery. Keywords : Bupivacaine, Epidural , IL-1β, Laparotomy Gynecology, Parecoxib  Latar Belakang: Nyeri pascabedah merupakan permasalahan sangat penting yangdihadapi pasien pascabedah. Meskipun pengetahuan kita tentang mekanisme nyeripascabedah sudah mengalami banyak kemajuan, namun pengelolaan nyeripascabedah belum optimal dan masih sering terabaikan. Interleukin (IL) 1β adalahsalah satu sitokin proinflamasi yang kadarnya akan meningkat bila terjadi prosesinflamasi.Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan kadar IL-1β, skala NRS, padakelompok yang mendapatkan epidural bupivakain 0,125% kombinasi parecoxib 40 mgdengan kelompok yang mendapatkan epidural bupivakain 0,125% yang digunakansebagai multimodal preventif analgesia pascabedah laparotomi ginekologi.Metode: Penelitian eksperimental dilakukan secara acak pada 50 pasien denganstatus fisik (ASA PS) II yang akan menjalani prosedur laparotomi ginekologi dengananestesi epidural. Subyek penelitian dibagi dalam dua kelompok perlakuan, yaknikelompok pertama dengan kombinasi parecoxib 40 mg (n=25) dan kelompok keduadengan kombinasi plasebo NaCl 0,9% (n=25). Kedua kelompok tersebut mendapatkananestesi epidural selama operasi dan sebagai analgesia pascabedah. Pengambilansampel darah pasien dilakukan 35 menit sebelum pembedahan untuk pengukurankadar IL-1 β, selanjutnya dilakukan pada 2 jam dan 24 jam pascabedah. Analisisstatistik menggunakan uji Mann-Whitney U dan Levane test.Hasil: Rerata kadar IL-1β prabedah pada kelompok parecoxib 1,05±1,25 pg/ml, 1,24± 1,54 pg/ml untuk 2 jam pascabedah dan 1,82 ± 2,16 pg/ml pada 24 jam pascabedah.Kelompok kontrol, kadar IL-1β prabedah 1,65±1,69 pg/ml, 2,55±2,77 pg/ml untuk 2jam pasca bedah pg/ml, dan 1,96±1,97 pg/ml pada 24 jam pascabedah. Tidak adaperbedaan bermakna rerata skor NRS diam dan bergerak 2 jam, 12 jam, dan 24 jampascabedah diantara kedua kelompok sampel (p>0,05).Kesimpulan: Kombinasi epidural bupivakain 0,125% dengan parecoxib 40 mg dapatmenurunkan kadar IL-1β pada 2 jam pascabedah.