cover
Filter by Year
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Articles by issue : Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
7
Articles
Heparin Intravena Terhadap Rasio PF pada Pasien Acute Lung Injury (ALI) dan Acute Respiratory Distress Syndrome (ARDS)

Kisara, Aditya, Harahap, Mohamad Sofyan, Budiono, Uripno

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Acute respiratory distress syndrome (ARDS) gained major medical attention with the availability of mechanical ventilation and establishment of intensive care units. ALI/ ARDS patient are associated with aggravate or initiate pulmonary inflammation and lung damage through fibrin deposition. Heparin may reduce pulmonary inflammation and fibrin deposition. We therefore assessed whether low dose intravenous heparin improved arterial PO2/FiO2 (PF ratio)Objectives: To analize effect of low dose intravenous heparin on PF Ratio in ALI/ARDS patients with Mechanical Ventilation Methods: Thirty patients expected to require mechanical ventilation for more than 48 hours were enrolled in a randomized trial divided into two groups (n=15). Group 1 were gived heparin 10 iu/kgbw/hr and group 2 as control. Mann-Whitney U test and post hoc test with LSD was performed to compare these groups.Results: Intravenous heparin was not associated with a significant improvement PF ratio in day 0 (p=0,152), day 1 ( p=0,287) and day 2 (p=0,879). The average daily of thrombocytes were not significant at both heparin group and control grup ( p=0,216 in day 0, p=0,911 in day 1 and p=0,941 in day 2) .Conclusions: Intravenous heparin with dose 10 unit/kgbw/hr in ALI/ARDS patients with mechanical ventilator was not associated with improvement of PF ratio. Further trials are required to confirm these findings.Keywords : ALI/ARDS, mechanical ventilator, intravenous heparin  Latar Belakang: Dengan adanya ICU dan penggunaan ventilator mekanik, ARDS menjadi salah satu perhatian di bidang medis. Pasien ALI/ ARDS berhubungan dengan reaksi inflamasi dalam paru-paru dan terjadinya deposit fibrin yang mengakibatkan kerusakan paru, salah satu tandanya adalah terjadi penurunan PF Ratio. Heparin mungkin dapat mengurangi proses inflamasi dan deposit fibrin dalam paru. Pada penelitian ini dilakukan penilaian apakah pemberian heparin intravena dosis rendah dapat meningkatkan nilai perbandingan PO2/FiO2 (PF ratio).Tujuan: Untuk menilai pengaruh pemberian heparin intravena pada pasien ALI/ARDS dengan ventilator mekanik.Metode: Tiga puluh pasien yang diperkirakan membutuhkan ventilator minimal dua hari dipilih secara acak dan di ikutkan dalam penelitian. Group pertama ( 15 pasien) diberi heparin 10 unit/kgbb/ jam dan group kedua sebagai kontrol. Untuk membandingkan rerata kedua group digunakan tes Mann-Whitney U dan dilakukan uji post hoc dengan LSD.Hasil: Pemberian heparin intravena tidak menunjukkan peningkatan rasio PF secara bermakna baik pada hari 0 (p=0,152) , hari 1 (p=0,287) atau hari 2 (p=0,287). Jumlah rata-rata trombosit juga menunjukkan perbedaan yang tidak bermakna baik pada hari 0 (p=0,216), hari 1 (p=0,911) atau hari 2 (p=0,941).Simpulan: Pemberian heparin intavena dengan dosis 10 unit/kgbb/ jam pada pasien ALI/ARDS dengan ventilator mekanik menghasilkan rasio PF yang berbeda tidak bermakna dengan kelompok kontrol. Penelitian lebih lanjut diperlukan untuk mengkonfirmasi hasil penelitian ini

Pengaruh Simvastatin Terhadap Kadar Nitric Oxide Makrofag Mencit Balb/C yang Diberi Lipopolisakarida

Nugroho, Taufik Eko, Harahap, Mohamad Sofyan, Jatmiko, Heru Dwi

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Nitric oxide (NO) has a potential role in pathogenesis of systemic hypotension in septic shock. Endotoxin will increases NO release which influenced of proinflamatory cytokine. Simvastatin suppresses endotoxin induced proinflamatory cytokines production as a result of lipopolysaccharides, so the NO production can be inhibited.Objective: to prove the effect of simvastatin 0,03 mg;0,06 mg and 0,12 mg peroral on intraperitoneal cause NO level on Balb/c mice with intraperitoneal injection of lipopolysaccharide become lower.Methods: a randomized post test only controlled group laboratoric experimental studied on 20 male Balb/c mice divided into 4 groups and injected intraperitoneally with lipopolysaccharide 20mg/kg and 6 hours later were gived simvastatin. K1 as the control group ; K2, K3, and K4 administrered with simvastatin 0,03 mg;0,06 mg; and 0,12 mg peroral. NO was taken from peritoneal macrophage culture and observed by Griess method. The results were analyzed by ANOVA and post hoc statistical assays.Results: NO level K1(0,680±-0,116), K2(0,313±0,136), K3(0,109±0,005) and K4 (0,091±0,011). There were significant decrease in NO level between K2, K3 and K4 than K1 (p<0,05). There were no significant difference in NO level between K2 than K3 and K4 (p=0,001), also between K3 and K4(p>0,05).Conclusion: Simvastatin significantly lowernitric oxide level in mice intraperitoneal macrophagesKeywords : simvastatin, lipopolysaccharide, nitric oxide. Latar belakang: Nitric oxide (NO) berperan dalam patogenesis terjadinya hipotensi sistemik pada syok septik. Pajanan endotoksin akan menyebabkan peningkatan pelepasan NO yang dipengaruhi oleh aktivasi sitokin proinflamasi. Simvastatin diduga menekan produksi sitokin proinflamasi akibat pajanan lipopolisakarida (LPS),  sehingga pembentukan NO dapat dihambat.Tujuan: Membuktikan pengaruh pemberian simvastatin dosis 0,03 mg, 0,06 mg dan 0,12 mg peroral dapat menyebabkan kadar NO mencit yang diberi lipopolisakarida intraperitoneal menjadi lebih rendah.Metode: Penelitian eksperimental laboratorik dengan desain randomized post test only controlled group pada 20 ekor mencit Balb/c yang disuntik lipoplisakarida intraperitoneal dan simvastatin dosis 0,03 mg; 0,06 mg dan 0,12 mg peroral. Mencit dibagi menjadi 4 kelompok secara random, yaitu K1 sebagai kontrol, K2 yang mendapat simvastatin 0,03 mg, K3 yang mendapat simvastatin 0,06 mg, dan K4 yang mendapat simvastatin 0,12 mg. Pemeriksaan NO diambil dari kultur makrofag intraperitoneal setelah 6 jam pemberian simvastatin dengan metode Griess. Uji statistik yang digunakan adalah parametrik ANOVA dan dilanjutkan uji Posteriori.Hasil: Kadar rerata NO pada kelompok K1(0,680±0,116), K2(0,313±0,136), K3 (0,109±0,005) dan K4(0,091±0,011). Terdapat penurunan yang bermakna kadar NO pada kelompok K2, K3 dan K4 dibanding K1 dengan p <0,05. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara kadar NO kelompok K2 dengan kelompok K3 dan K4, serta kelompok K3 dibanding K4 (p > 0,05).Simpulan: Simvastatin secara bermakna dapat menyebabkan kadar NO makrofag intraperitoneal mencit yang diinduksi lipopolisakarida menjadi lebih rendah.

Pengaruh Blok Paravertebral Injeksi Tunggal dan Multipel Terhadap Kadar Kortisol Plasma Pasien Tumor Payudara Yang Dilakukan Eksisi Biopsi

Nugraha, Dian, Sasongko, Himawan, Witjaksono, Witjaksono

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Mostly, definitive treatment for breast surgery was done under general anaesthesia. But general anaesthesia was not able to inhibit pain transmission to the brain. It also have side effects such as postoperative nausea and vomiting. There are some regional anaesthesia techniques such as infiltration, epidural and thoracal paravertebral block. Paravertebral block technique is by injecting local anaeshesia to block somatic and symphatetic ipsilaterally above and below injection site. Surgical trauma can attenuate stress response (local and systemic), increase of cortisol level is one the endocrine systemic response.Objective: To compare the difference effects between single injection and multiple injection thoracal paravertebral block in plasma cortisol and VAS in breast cancer patients undergoing biopsy excision.Methods: Sample consists of 20 patients undergoing biopsy excision. Blood samples were taken at 8 in the morning before surgery and 8 tomorrow morning. VAS was checked at hour-0 (when the patient enter the recovery room) and hour-24. Patients divided into 2 groups, multiple (M) injection group and single (T) injection group. Normality of data was tested by Shapiro-Wilk the distribution is normal. Analytical analysis done with pre and post test group design.Results: General characteristics on each group has normal distribution (p>0,05). Plasma cortisol level after surgery in group M (224,73 ± 0,73) and T (234,01 ± 0,84) was lower than before surgery in group M (256,55 ± 0,91) and T (258,34 ± 0,91) but not significantly different (p>0,05). VAS after surgey hour-0 in group M (3,5 ± 0,2) was lower than group T (3,9 ± 0,2) and significantly different (p=0,02). VAS after surgey hour -24 in group M (3,3 ± 0,7) was lower than group T (3,7 ± 0,7) but not significantly different (p=0,388).Conclusion: VAS at hour-0 in group M was significantly lower than group T. There is no differences in plasma cortisol level and VAS hour-24 between multiple (M) injection group and single (T) injection group in patient undergoing biopsy excision.Keywords : paravertebral block single injection, paravertebral block multiple injection, cortisol, VAS. ABSTRAKLatar Belakang: Tindakan bedah definitif payudara banyak dilakukan dengan anestesi umum. Namun, dengan anestesi umum ada sebagian rangsang nyeri yang tidak terhambat ke otak dan medulla spinalis. Anestesi umum juga dikaitkan dengan insidensi mual dan muntah. Beberapa tehnik anestesi regional yang pernah disebutkan dalam literatur untuk operasi payudara antara lain dengan infiltrasi lokal, anestesi epidural torakal dan blok paravertebral torakal. Blok paravertebral torakal merupakan teknik injeksi lokal di samping vertebra torakal yang menyebabkan blokade saraf somatik dan simpatik ipsilateral pada dermatom torakal di atas dan di bawah lokasi injeksi. Trauma pembedahan menyebabkan respon inflamasi lokal dan respon metabolik endokrin sistemik. Respon sistemik setelah pembedahan meliputi peningkatan hormon katabolik seperti katekolamin, kortisol, renin, aldosteron, dan glukagon.Tujuan: Membandingkan pengaruh antara blok paravertebral injeksi tunggal dan multipel terhadap kadar kortisol plasma dan VAS pasien yang dilakukan operasi eksisi biopsi.Metode: Penelitian ini dilakukan pada 20 penderita tumor payudara yang menjalani operasi eksisi biopsi. Pengambilan sampel darah perifer untuk pemeriksaan kortisol pada jam 8 pagi sebelum operasi dan jam 8 pagi besoknya. Nilai VAS diperiksa pada jam ke-0 (saat pasien masuk ruang pemulihan), dan jam ke-24. Penderita dikelompokkan secara random menjadi 2 kelompok. Kelompok M mendapat injeksi multipel dan kelompok T mendapat injeksi tunggal. Dilakukan uji normalitas distribusi kadar kortisol darah dan VAS dengan menggunakan Shaphio-Wilk test. Apabila p>0,05 maka distribusinya disebut normal. Analisis statistik dilakukan untuk menguji perbedaan kelompok dengan pre dan post test group design, signifikan bila p<0,05.Hasil: Data karakteristik sampel penelitian tiap kelompok terdistribusi normal(p>0,05). Kadar kortisol plasma pasca operasi pada kelompok M (224,73 ± 0,73) dan T (234,01 ± 0,84) lebih rendah dibandingkan sebelum operasi pada kelompok M (256,55 ± 0,91) dan T (258,34 ± 0,91) tetapi tidak berbeda bermakna (p>0,05). VAS pasca operasi jam ke-0 pada kelompok M (3,5 ± 0,2) lebih rendah dibanding kelompok T (3,9 ± 0,2) dan berbeda bermakna (p=0,02). VAS pasca operasi jam ke-24 pada kelompok M (3,3 ± 0,7) lebih rendah dibanding kelompok T (3,7 ± 0,7) tetapi tidak bermakna (p=0,388).Kesimpulan: VAS pasca operasi jam ke-0 kelompok M lebih rendah secara signifikan dibanding kelompok T. Tidak didapatkan perbedaan bermakna pada kadar kortisol plasma dan VAS jam ke-24 pasca operasi antara injeksi multipel (M) dan injeksi tunggal (T) pada pasien yang menjalani eksisi biopsi.

Perbandingan Pemberian Heparin Subkutan dan Intravena terhadap Studi Koagulasi dan D-Dimer Pasien dengan Risiko Trombosis Vena

Kusdaryono, Sigit, Soesilowati, Danu, Sasongko, Himawan

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Backgrounds: Thrombosis is the leading cause of death in the United States. About 2 millions of people died every year because of arterial and venous thrombosis. About 80-90% is for known cause. Thrombosis also cause significant morbidity, one of them is Deep Vein Thrombosis (DVT) that may be followed by pulmonary embolism. Without thromboprophylaxis, the incidence of acquired DVT in hospitals is 10-40% on all medical and surgical patient, objectively and 40-60% on major orthopaedics operation.Objectives: To compare the effectivity of subcutaneous and intravenous heparin prophylaxis dose on D-Dimer, PPT, and aPTT levels in patients with the risk of deep vein thrombosis.Methods: This is a pre and post test group design study, conducted on 20 patients who have the risk of developing deep vein thrombosis. Blood sample was taken 1 hour after heparin injection, and put into a EDTA containing bottle. Sample sent to laboratorium for examination. Subject divided into two groups by random sampling. Group A received heparin intravenously and group B received heparin subcutaneously. Statistical analysis will be conducted to test the difference between groups using SPSS version 15.Result : The test resulted in no significant difference in aPTT and PPT between intravenous group and subcutaneous group (p > 0,05). Test results in D-Dimer between groups also showed no significant difference(p > 0.05)Conclusion : No significant differences produced in PPT, aPTT and D-Dimer levels between intravenously and subcutaneously administered heparin for prevention of deep vein thrombosis.Keywords : heparin intravenous , heparin subcutaneous , aPTT levels and D-Dimer levels ABSTRAKLatar Belakang :Trombosis di Amerika Serikat adalah penyebab kematian terbanyak. Sekitar 2 juta orang meninggal setiap tahun karena trombosis arteri dan vena. Dengan 80-90% thrombosis diketahui penyebabnya. Trombosis juga menyebabkan morbiditas yang signifikan, salah satunya adalah trombosis vena dalam (Deep Vein Thrombosis, DVT) yang dapat berlanjut menjadi emboli paru. Tanpa tromboprofilaksis, kejadian DVT nosokomial adalah 10-40% dari keseluruhan pasien medis dan bedah dan 40-60% pada pasien pasca bedah ortopedi mayor.Tujuan: Untuk membandingkan efektivitas dosis profilaksis heparin subkutan dan intravena terhadap nilai D-Dimer, PPT dan aPTT pada pasien dengan risiko trombosis vena dalam.Metode: Penelitian ini menggunakan desain kelompok pre dan post test dan dilakukan pada 20 pasien dengan risiko trombosis vena dalam. Sampel darah diambil setelah 1 jam injeksi heparin, kemudian disimpan dalam botol yang mengandung EDTA. Sampel dikirim ke laboratorium untuk pemeriksaan. Subyek dibagi menjadi dua kelompok secara random sampling. Grup A menerima heparin intravena dan kelompok B menerima heparin subkutan. Analisis statistik dilakukan untuk menguji perbedaan antar kelompok dengan SPSS versi 15.Hasil: Hasil pemeriksaan aPTT dan PPT antara kelompok intravena dan subkutan tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (p> 0,05). Hasil pengujian pada D-Dimer intravena dan subkutan juga tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan (p> 0,05).Kesimpulan: Tidak ada perbedaan yang signifikan antara pemberian heparin intravena dan subkutan dalam nilai aPTT, PPT dan D-Dimer sebagai pencegahan risiko thrombosis vena dalam.

Pengaruh Profilaksis Trombosis Vena Dalam dengan Heparin Subkutan dan Intravena terhadap aPTT dan Jumlah Trombosit pada Pasien Kritis di ICU RSUP Dr. Kariadi Semarang

Wicaksono, Satrio Adi, Pujo, Jati Listiyanto, Leksana, Ery

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Heparin has been used as therapy and as primary prophylaxis of Deep Vein Thrombosis (DVT), although the safety of heparin, especially in critically ill patients who are at high risk of bleeding is still a subject of debate. There is no comparative study that clearly show the effectivity and safetty of subcuteneous heparin as DVT prophylaxis.Objective: To investigates the difference between the effect of subcutaneous heparin compared to intravenous heparin as DVT prophylaxis to the aPTT and platelet counts in critically ill patients in the intensive care unit (ICU) Dr. Kariadi Hospital Semarang.Method: Clinical trials were conducted to 30 patients for 3 days by administering subcutaneous heparin 5000 IU bid for group SK (n = 15) and intravenous heparin 500 IU per hour for group IV (n = 15), several parameters of coagulation were compared (D-dimer, platelet counts, aPTT) in critically ill patients in the intensive care unit (ICU) Dr. Kariadi Hospital Semarang.Result: After 3 days administration of DVT prophylaxis, significant decreased levels of D-dimer were obtained in both groups, SK groups 959.73(1127.539) (p=0.05) and IV groups 1621.33(1041.654) (p=0.00), but no significant changes in aPTT values, SK groups 0.032(0.5284) (p=0.815) and IV groups 0.068(0.5718) (p=0.652). Insignificant decrease were found in SK group platelet counts 413.3(51489.76) (p=0.815), but in IV group this decrease were significant 30186.6(53488.86) (p=0.046).Conclusion: Subcutaneous heparin 5000 IU bid and intravenous heparin 500 IU per hour as a DVT prophylaxis can significantly reduce the level of D-dimer. No significant changes were observed in the value of aPTT in both groups but there is a significant decrease in platelet count in IV group. Keywords : heparin, DVT, D-dimer, aPTT, platelet count  ABSTRAKLatar belakang: Heparin telah digunakan sebagai terapi maupun sebagai profilaksis primer TVD, walaupun keamanan heparin khususnya pada pasien kritis yang memiliki risiko tinggi perdarahan masih merupakan subyek perdebatan. Belum ada studi prospektif komparatif yang tegas menunjukkan efektivitas dan keamanan pemberian heparin subkutan sebagai profilaksis TVD pada pasien kritis di ICU.Tujuan: Untuk mengetahui perbedaan pengaruh pemberian heparin subkutan dibandingkan intravena sebagai profilaksis TVD terhadap nilai aPTT dan jumlah trombosit pada pasien kritis di ICU.Metode: Uji klinik dilakukan pada 30 pasien selama 3 hari dengan pemberian heparin subkutan 5000 IU b.i.d sebagai kelompok SK (n=15) dan heparin 500 IU/jam intravena sebagai kelompok IV (n=15) kemudian dibandingkan beberapa parameter koagulasi (D- dimer, aPTT dan trombosit) pada pasien kritis di ICU.Hasil: Setelah 3 hari diberikan profilaksis TVD didapatkan hasil yang bermakna penurunan kadar D-dimer pada kedua kelompok, kelompok SK 959.73(1127.539) (p=0.05) dan kelompok IV 1621.33(1041.654) (p=0.00). Tetapi didapatkan hasil yang tidak bermakna pada perubahan nilai aPTT, kelompok SK 0.032(0.5284) (p=0.815) dan kelompok IV 0.068(0.5718) (p=0.652). Perubahan jumlah trombosit didapatkan hasil tidak bermakna pada kelompok SK 413.3(51489.76) (p=0.815) sedangkan pada kelompok IV didapatkan perubahan yang bermakna dalam penurunan jumlah trombosit 30186.6(53488.86) (p=0.046).Simpulan: Pemberian heparin subkutan 5000 IU b.i.d dan heparin 500 IU/jam intravena sebagai profilaksis TVD secara bermakna dapat menurunkan kadar D-dimer. Tetapi didapatkan hasil yang tidak bermakna pada perubahan nilai aPTT dan perubahan yang bermakna pada kelompok heparin IV dalam penurunan jumlah trombosit

Pemberian Lidokain 1,5 mg/Kg/Jam Intravena untuk Penatalaksanaan Nyeri Pasien Pasca Laparatomi

Hartawan, Dicky, Satoto, Hariyo, Budiono, Uripno

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: An effective post operative pain management is an important thing and one of the problem for anaesthesiologist. One of the surgery with high pain level postoperative is laparotomy. Previous study show that IVLI (intravenous lidocaine infusion) is effective to reduce post operative pain for abdominal surgery.Objective: Understanding the use of lidocaine intravena 1,5 mg/kg/hr as an alternative for post operative pain management for laparotomy.Method: This study is an clinical experimental study with non-randomized blind design in Central Operating Theatre of Kariadi Hospital Semarang. Sample was taken from laparotomy patient using consecutive sampling and divided to two group. The first group was given lidocaine 1 mg/kg/iv 30 minute before skin incision and continued with lidocaine 1,5 mg/kg/iv until 48 hours postoperative. Second group was given placebo. VAS (Visual Analog Score) and hemodynamic parameter postoperative of patient was measured, if VAS was more than 5 than patient got a rescue analgesia. Statistical analytic with SPSS 17 for Windows.Results: Postoperative there was significant difference between groups in the need of rescue analgesia (4 vs 15 subject respectively, p=0.01), the use of opioid (12,9±1,53 vs 16,57±2,59 mg respectively, p=0.01), VAS 12 hours (3,8±0,88 vs 5,3±0,56 respectively, p=0.00),VAS 24 hours (4,1±0,54 vs 5,6±0,62 respectively, p=0.00), VAS 48 hours (4,5±0,51 vs 5±0,0 respectively,p=0,02), and the heart rate (p=0.00).Conclusion: The injection of intravenous lidocaine 1,5 mg/kg is effective in pain management for post laparotomy and reduce the use of analgetic opioid in pain management for post laparotomy.Keywords : intravenous lidocaine, VAS, hemodynamic ABSTRAKLatar Belakang: Penanggulangan nyeri post operasi yang efektif merupakan salah satu hal yang penting dan menjadi problema bagi ahli anestesi. Salah satu jenis pembedahan dengan tingkat nyeri pasca operasi tinggi adalah laparotomi. Menurut penelitian terdahulu IVLI (intravenous lidokain infusion) berpotensi dan efektif untuk mengurangi nyeri paska operasi pada kasus bedah abdominal.Tujuan: Mengetahui apakah penggunaan lidokain intravena 1,5mg/kg/jam dapat menjadi salah satu alternatif pengelolaan nyeri paska operasi laparotomiMetode: Penelitian ini merupakan uji eksperimental klinis dengan desain acak tersamar di Instalasi Bedah Sentral (IBS) RSUP Dr. Kariadi Semarang. Sampel diambil dari pasien yang menjalani operasi laparatomi menggunakan “consecutive sampling” dan dibagi menjadi dua kelompok : Kelompok 1 (K1) diberikan lidokain 1mg/kg/iv 30 menit sebelum insisi kulit dan dilanjutkan dengan lidokain 1,5mg/kg/jam sampai 48 jam paska operasi; Kelompok 2 (K2) diberikan plasebo. Pasien dinilai Score Analog Visual dan parameter hemodinamik post operatif, bila SAV >5 pasien mendapatkan rescue analgesia. Analisis statistik dengan SPSS for Windows versi 17.Hasil: Pasca operasi terdapat perbedaan bermakna pada kebutuhan rescue analgesia (4 vs 15 subjek , p=0.01), waktu dimulainya rescue analgesia(jam ke 18.0±6.92 vs 14.5±5.19, p=0.01), penggunaan opioid (12,9±1,53 vs 16,57±2,59 mg , p=0.01), VAS 12 jam (3,8±0,88 vs 5,3±0,56, p=0.00),VAS 24 jam (4,1±0,54 vs 5,6±0,62, p=0.00),VAS 48 jam (4,5±0,51 vs 5±0,0,p=0,02), dan laju jantung (p=0,00) kedua kelompokSimpulan: Pemberian Lidokain 1,5 mg/kg intravena cukup efektif dalam pengelolaan nyeri post laparotomi dan dapat menurunkan kebutuhan penggunaan analgetik opioid dalam pengelolaan nyeri post laparotomi

Anestesi pada Pediatrik dengan Kelainan Porfiria Herediter

Rukmana, Agus, Arifin, Johan

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 3 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The porphyrins play a critical role in biology, being involved in a wide range of reactions related to oxygen utilization, transport, storage or formation. The synthetic pathway involved in the production of the porphyrins is complex and is key wordgoverned by a sequence of enzymes. A defect in any of these enzymes results in accumulation of the preceding intermediaries and produces one form or another of the diseases known as the porphyrias.Four hereditary types of porphyria are now classified as acute porphyrias. Enzymatic defects result in accumulation of porphyrin precursors (usually ALA and PGB). The quantity of these precursors may be normal or slightly increased in latent periods but increase to toxic levels during a porphyric crisis. Iatrogenic induction of ALA synthetase by administration of certain triggers (classically barbiturates) is only one of several factors which contribute to porphyric crisis. Signs and symptoms of acute porphyric attack consist primarily of neurologic dysfunction, which occurs secondary to neurotoxicity of ALA or diminished intraneuronal heme levels.Any patient in whom porphyria is suspected requires a careful history, including a detailed family history, and thorough physical examination, including a careful neurological assessment, paying particular attention to the presence or absence of peripheral neuropathy and autonomic instability. Appropriate anesthetic management of porphyria requires knowledge of the type of porphyria (acute vs non -acute), assessment of latent versus active (crisis) phase, awareness of clinical features of porphyric attack, and knowledge of safe pharmacologic intervention disorders.Preoperative preparation in a patient with porphyric include the careful assessment of fluid balance and electrolyte status. Technic anesthetic can be regional or general anesthesia depend on patient condition. Premedication, technic anesthetic, induction, maintenance and post anesthesia must be considerable safe for the patient Keywords : porphyria, hereditary of porphyria, anesthetic management  ABSTRAKPasien dengan porfiria terjadi perubahan biologi yang penting diketahui berkaitan dengan penggunaan oksigen, transportasi, bentuk dan penyimpanan. Jalur sintetis yang terlibat dalam produksi porfirin kompleks dan melibatkan banyak enzim. Defek pada salah satu hasil enzim dalam akumulasi perantara sebelumnya menghasilkan satu bentuk atau bentuk lain dari penyakit yang dikenal sebagai porfiria.Empat jenis dari porfiria herediter diklasifikasikan sebagai porfiria akut. Cacat enzimatik mengakibatkan akumulasi prekursor porfirin (biasanya ALA dan PGB). Jumlah prekursor ini mungkin normal atau sedikit meningkat pada periode laten tetapi peningkatan selama krisis porphyric dapat menyebabkan bahaya pada tubuh. Induksi iatrogenik dari sintetase ALA dengan pemberian pemicu tertentu (barbiturat) hanya salah satu dari beberapa faktor yang berkontribusi terhadap krisis porphyric. Tanda dan gejala serangan porphyric akut terutama terdiri dari disfungsi neurologis, yang terjadi sekunder pada neurotoksisitas ALA atau berkurang tingkat heme intraneuronal.Setiap pasien yang dicurigai porfiria membutuhkan anamnesa yang teliti mengenai riwayat penyakit, termasuk riwayat keluarga dan pemeriksaan fisik secara menyeluruh, termasuk penilaian neurologis. Titk berat perhatian khusus pada ada atau tidak adanya neuropati perifer dan ketidakstabilan otonom.Manajemen anestesi pada porfiria membutuhkan pengetahuan tentang jenis porfiria (akut vs non-akut), penilaian laten dibandingkan aktif (fase krisis), kesadaran gambaran klinis serangan porphyric, dan pengetahuan tentang intervensi farmakologis yang aman.Persiapan pra operasi pada pasien dengan porphyric meliputi penilaian keseimbangan cairan elektrolit dan status. Teknik anestesi dapat dilakukan regional ataupun anestesi umum tergantung pada kondisi pasien. Premedikasi, teknik anestesi, induksi, pemeliharaan dan pasca anestesi harus yang cukup aman bagi pasien.