cover
Filter by Year
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Articles by issue : Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
6
Articles
Perbedaan Jumlah Bakteri pada Sistem Closed Suction dan Sistem Open Suction pada Penderita dengan Ventilator Mekanik

Debora, Yusnita, Leksana, Ery, Sutiyono, Doso

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Bacterial colonization is identified as major mechanism in the pathogenesis of Ventilator Associated Pneumonia. Application of suction is one of the non -pharmacologic strategy to decrease number of Ventilator Associated Pneumonia (VAP) incidence. Since its introduction, closed tracheal suction system (CSS) has been reported offering microbial advantage over conventional open closed suction system (OSS).Objective: This research was aimed to identify the difference of bacterial count pre and post-intervention between CSS and OSS group.Method: This is a Randomized Control Group Pretest-Postest Design with Consecutive Sampling Approach. Number of subjects are 30 patients in whom equally distributed into 2 intervention groups; (15 closed suction system, 15 open suction system). Oral suction was performed every 12 hours for consecutive 48 hours. Secret of trachea was collected pre and post-intervention to identify for bacteria count and profile. Statistic analysis was conducted using Wilcoxon and Mann-Whitney test.Result: Bacterial count was significant different in group 1 (p=0,0010. Significant result was also identified in group II (p=0,005). Comparatively, pre and post intervention between group I and II was not significantly different (p=0,008).Conclusion: Closed suction system’s application in mechanically ventilated patients was confirmed with decrement in number of bacteria significantly. Comparatively, closed suction was not significantly better than OSS. However this research that although did not differ significantly, CSS’ performance was better than OSS.Keywords : Closed suction system, open suction system ABSTRAKLatar belakang: Kolonisasi bakteri didefinisikan sebagai mekanisme utama di dalam patogenesis Ventilator Associated Pneumonia (VAP). Penggunaan suction merupakan salah satu strategi dalam mengurangi jumlah kejadian Ventilator Associated Pneumonia (VAP). Closed tracheal suction system (CSS) dilaporkan memiliki keuntungan dalam aspek mikrobiologi bila dibandingkan dengan open closed suction system (OSS).Tujuan: Mengetahui efektivitas penggunaan closed suction system dibandingkan dengan open suction system pada penderita dengan ventilator mekanik.Metode: Merupakan penelitian Randomized Control Group Pretest-Postest Design with Consecutive Sampling Approach. Jumlah subyek adalah 30 orang yang dibagi menjadi 2 kelompok (15 closed suction system, 15 open suction system). Masing-masing kelompok diberikan oral hygiene tiap 12 jam selama 48 jam. Tiap kelompok diambil sekret dari trakhea sebelum dan sesudah perlakuan, untuk kemudian dilakukan pemeriksaan hitung jumlah dan jenis bakteri. Uji statistik dilakukan menggunakan Wilcoxon dan Mann -Whitney test.Hasil: Hitung bakteria berbeda bermakna pada kelompok I (p=0,001) dan berbeda bermakna pada kelompok II ( p=0,005). Analisis komparatif selisih skor sebelum dan sesudah perlakuan kedua kelompok berbeda tidak bermakna (p=0,008).Simpulan: Penggunaan closed suction system pada pasien dengan ventilasi mekanik mengurangi jumlah bakteri post-intervensi secara signifikan, demikian halnya dengan open suction system. Closed suction system tidak lebih baik dalam mengurangi jumlah bakteri pada penelitian ini.

Pengaruh Infus Dekstrosa 2,5 % NaCl 0,45% Terhadap Kadar Glukosa Darah Perioperatif pada Pasien Pediatri

Alfanti, Erna Fitriana, Budiono, Uripno, Arifin, Johan

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: In pediatric patients who undergo fasting period, every routine fluid infusion given should contain glucose because children had less glycogen supply in their liver, which can lead to fatal hypoglycemia especially for brain cell if oral glucose intakes are discontinued in few moments. Over the time, we usually use 5 % dextrose 0,45 % NaCl, but this may cause postoperative hyperglycemia. Therefore, we used 2,5 % dextrose 0,45 % NaCl which have less level of dextrose.Objective: To compare the effectiveness of 5% Dextrose 0,45 % NaCl and 2,5 % Dextrose 0,45 % NaCl to prevent hypoglycemia and hyperglycemia during and after surgery in pediatric patientst.Method: This research was a clinical trial stage 1 (human sample) on 48 patients undergoing surgery by general anesthesia. All patients underwent 4 hours fasting period and received premediacation. Peripheral blood sampling was performed before and after induction, and every 30 minutes during surgery for blood glucose measurement. Patients were randomly divided in two groups. Group I received 5% Dextrose 0,45% NaCl infusion and group two received 2,5% Dextrose 0,45% NaCl. The normality distribution of blood glucose level was tested by using Kolmogorov -Smirnov test. A normal distribution was determined by p>0,05. Analytical analysis was done to evaluate the difference of blood glucose level between two groups by using independent -t-test (normal distribution). The difference test of blood glucose between two groups were performed by using paired t-test (normal distribution)Result: The general characteristics of the subjects in each group had a normal distribution (p>0,05), showing homogen data (no significant difference; p>0,05) on all variables. Data before treatment in Group I (p=0,109) and group II (p=106) gave normal blood glucose level distribution (p>0,05). There was a non significant increase of blood glucose level (p>0.05) between preinduction (p=0.762) and postinduction (p=0.714). There was a significant difference on blood glucose level between the two groups 30 minutes and 150 minutes after induction (p=0.00). Blood glucose level in group I preinduction 102,36±4,31mg/dl,postinduction 106,0±44,17mg/dl , 30 menit 107,28±6,05 mg/dl, 60 menit 108,68±7,64 mg/dl, 90 menit 110,36±9,26 mg/dl, 120 menit 112,16±16,07 mg/dl dan 150 menit 114,64±22,38mg/dl. From periodic blood glucose level normality test, each group had normal distribution (p>0.05). The difference test of blood glucose level between the two groups gave a significant difference (p>0.05).Conclusion: Infusion of 2,5% Dextrose 0,45% NaCl significantly better not cause hypoglycemia from preoperative fasting and postoperative hyperglycemia in pediatric patients.Keywords : blood glucose, 5% Dextrose 0,45% NaCl, 2,5% Dextrose 0,45% NaCl, pediatric patients ABSTRAKLatar belakang : Dari pasien pediatri yang dipuasakan, semua cairan rutin diberikan harus mengandung glukosa dengan alasan pada anak hanya sedikit mempunyai cadangan glikogen di hepar, sehingga bila pemasukan per oral terhenti selama beberapa waktu akan dengan mudah menjadi hipoglikemia yang dapat berakibat fatal terutama bagi sel otak. Cairan dekstrosa 5% NaCl 0,45% dapat mencegah hipoglikemia tetapi menyebabkan hiperglikemia post operasi. Cairan infus dekstrosa 2,5% NaCl 0,45% yang mempunyai kadar glukosa lebih kecil, diperkirakan tidak menyebabkan hiperglikemia atau hipoglikemiaTujuan: Untuk membandingkan cairan infus dekstrosa 5% NaCl 0,45% dan cairan infus dekstrosa 2,5% NaCl 0,45% dalam mencegah terjadinya hipoglikemia dan hiperglikemia durante dan setelah operasi pada pasien pediatrikMetode: Penelitian ini merupakan uji klinik tahap 1 (subyek manusia) pada 48 penderita yang menjalani operasi dengan anestesi umum. Semua penderita dipuasakan 4 jam dan diberi obat premedikasi. Pengambilan sampel darah perifer untuk pemeriksaan GDS pre induksi, pasca induksi, tiap 30 menit durante operasi. Penderita dikelompokkan secara random menjadi 2 kelompok. Kelompok I mendapat infus dekstrosa 5% NaCl 0,45% dan kelompok II mendapat infus dekstrosa 2,5% NaCl 0,45%. Akan dilakukan uji normalitas distribusi kadar glukosa darah dengan menggunakan uji Kolmogorov -Smirnov. Apabila p>0,05 maka distribusinya disebut normal. Analisis analitik akan dilakukan untuk menguji perbedaan kadar glukosa antar kelompok dengan independent-t-test (distribusi normal). Uji beda kadar glukosa antar kelompok dengan menggunakan paired t -test (distribusi normal).Hasil : Karakteristik umum subyek pada masing–masing kelompok memiliki distribusi yang normal (p > 0,05), didapatkan data yang homogen (perbedaan yang tidak bermakna, p>0,05) dari semua variabel. Data sebelum perlakuan pada kelompok I (p= 0,109 ) dan kelompok II (p=0,106) memberikan hasil nilai kadar glukosa darah berdistribusi normal ( p > 0,05 ). Prainduksi ( p = 0,762 ) sampai sesaat setelah induksi ( 0,714 ) terjadi kenaikan kadar glukosa darah namun tidak bermakna ( p> 0,05 ) . Kadar glukosa antar kelompok berbeda bermakna pasca operasi mulai menit 30 sampai menit 150 ( p=0,00 ). Kadar glukosa darah pada kelompok I saat prainduksi 102,36±4,31 mg/dl, pasca induksi 106,0±44,17 mg/dl , 30 menit 107,28±6,05 mg/dl, 60 menit 108,68±7,64 mg/dl, 90 menit 110,36±9,26 mg/dl, 120 menit 112,16±16,07 mg/dl dan 150 menit 114,64±22,38 mg/dl. Uji normalitas variabel glukosa darah dilihat dari waktu, masing -masing kelompok memiliki distribusi yang normal ( p> 0,05 ) .Uji beda kadar glukosa darah antara kedua kelompok memberikan hasil berbeda bermakna ( p> 0,05 ).Simpulan: Pemberian cairan infus Dekstrosa 2,5 % NaCl 0,45 % lebih baik dari cairan D5 % NaCl 0,45% karena tidak menyebabkan terjadinya hipoglikemia dan hiperglikemia selama dan setelah operasi pada pasien pediatri

Pengaruh Simvastatin Terhadap Kapasitas Fagositosis Makrofag Pada Mencit Balb/C Yang Diberi Lipopolisakharida

Harahap, Sherliyanah, Jatmiko, Heru Dwi, Harahap, Mohamad Sofyan

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Simvastatin is included in a group of medicine called hydroxy metyl glutaryl (HMG Co) reductase inhibitors or statin. The effect of simvastatin on TNF -alpha neutralizing antibody is that statin (3-hydroxy-3-methylglutaryl) coenzyme reductase inhibitors has the pleiotropic actions effect that can improve the survival of sepsis patients.Objective: To prove the effect of simvastatin administration 0.03 mg, 0.06 mg and 0.12 mg PO on LPS intraperitoneal injected mice to the decrease of intraperitoneal macrophages’ phagocytosis capacity.Methods: Experimental design research on post test only control group. The samples were 20 male mice type balb/c. Mice are divided into 4 groups, consisted of control group (without simvastatin injection), treatment group 1,2,3 consecutively administered simvastatin 0.03 mg; 0.06 mg; and 0.12 mg PO respectively. Initially these groups were injected intraperitoneal lipopolysaccharida 20 mg/kg.Results: The mean capacity of macrophages’ phagocytosis for each groups: Control = 44,40+3,97; K 1 = 37,80+2,86; K 2 = 31,20+1,30; K 3 = 2,.00+4,30. The results of statistical tests between groups were shown significant differences between K1 with K3 and K4, between K2 with K3 and K4 (p<0,0,05). There were no significant differences between K1 dan K2, and between K3 and K4 (p>0.005).Conclusion: The administration of simvastatin 0.03 mg, 0.06 mg and 0,12 mg PO show significant differences on the intraperitoneal macrophages’ phagocytosis capacity compared to the control group of mice with lipopolisakharida injection.Keywords : Simvastatin, lipopolisakharida, macrophages’ phagocytosis. ABSTRAKLatar Belakang : Simvastatin merupakan grup obat yang disebut sebagai hydroxy metyl glutaryl (HMG Co) reductase inhibitors). Efek simvastatin terhadap TNF -alpha neutralizing antibody bahwa Statins (3-hydroxy-3-methylglutaryl) coenzyme reductase inhibitors memiliki efek pleiotropic actions, yang mampu memperbaiki survival penderita sepsis.Tujuan : Membuktikan efek pemberian simvastatin 0,03 mg, 0,06 mg dan 0,12 mg peroral pada mencit yang diberi LPS intraperitoneal terhadap penurunan kapasitas fagositosis makrofag intraperitoneal.Metode : Penelitian eksperimental desain the post test only controlgroup. Sampel penelitian 20 ekor mencit balb/c jantan. Mencit dibagi dalam 4 kelompok, yaitu kelompok Kontrol (tidak diberi simvastatin), kelompok Perlakuan 1,2,3 berturut-turut diberi simvastatin 0,03 mg; 0,06 mg; dan 0,12 mg peroral.Sebelumnya masing -masing kelompok disuntikkan lipopolisakarida 10 mg/kgBB intraperitoneal.Hasil : Rerata kapasitas fagositosis makrofag untuk masing-masing kelompok : Kontrol = 44,40+3.97; Perlakuan 1 = 37,80+2,86; Perlakuan 2 = 31,20+1,30; Perlakuan 3 = 23,00+4,30. Hasil uji statistik antar kelompok didapatkan perbedaan yang bermakna antara kelompok K1 dengan K3 dan K4, antara K2 dengan K3 dan K4 (p<0,0,05). Tidak terdapat perbedaan bermakna antara K1 dan K2, serta K3 dan K4. (p>0,0,05).Kesimpulan : Pemberian simvastatin dosis 0,06 mg dan 0,12 mg peroral menunjukkan perbedaan bermakna pada penurunan kapasitas fagositosis makrofag intraperitoneal dibanding kontrol pada mencit yang diberi lipopolisakarida.

Stabilitas Hemodinamik Propofol – Ketamin Vs Propofol – Fentanyl pada Operasi Sterilisasi / Ligasi Tuba

Prasetya, Laurentius Sandhie, A, Sudadi

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: Continuous TIVA technique using combination of propofol and fentanyl has been commonly used in RSUP Sardjito. These techniques could provide adequate anesthesia, but often cause a variety of durante operative hemodynamic changes. The combination of propofol and ketamine are expected to provide a comfortable anesthesia for surgery with a more stable durante operative hemodynamic changes.Methods: The study design was randomized controlled trial. The scope of the study were female who underwent tubal ligation operations with Metode Operasi Wanita (MOW) technique at the Instalasi Kontrasepsi Mantap RSUP. Dr. Sardjito Yogyakarta with continuous TIVA technique. Total 70 subjects that met criteria of inclusion were divided into two groups which consisted of 35 each. PK group used a combination of propofol 2 mg/kg and ketamine 0.5 mg/kg and were followed with propofol 2 mg/kg/hour and ketamine 0.5 mg/kg/hour intravenously. The PF group used a combination of propofol 2 mg / kg and fentanyl 1 mcg/kg and were followed with propofol 2 mg/kg/hour and fentanyl 1 mcg/kg/hour intravenously. Parameters of hemodynamic changes were systolic blood pressure (SBP), mean arterial pressure (MAP) and heart rate (HR) assessed at induction, incission and every 5 minutes until the operation was completed.Results: The change of hemodynamic parameters more than 10 % occurred in the PF group at the time of induction, after first incision and the fifth minute, in which the SBP decreased by 15.5 (7.26) %, MAP of 14.0 (8.34) %, HR 14.2 (6.52) % whereas in group PK, SBP decreased by 4.3 (2.72) % (p = 0.000), MAP of 4.6 (3.18) % (p =0.000) and HR of 3.5(2.63) % (p = 0.000) at the time of induction.Conclusion: The hemodynamic stability of the PK group was better than the PF group.Keywords : Continuous TIVA, propofol, ketamine, fentanyl ABSTRAKLatar belakang: Teknik TIVA kontinyu menggunakan kombinasi propofol dan fentanyl telah umum digunakan. Teknik tersebut dapat memberikan anestesi yang adekuat, namun dapat menyebabkan perubahan hemodinamik durante operatif yang bervariasi. Kombinasi propofol dan ketamin diharapkan dapat memberikan anestesi yang nyaman untuk pembedahan dengan perubahan hemodinamik durante operatif yang lebih stabil.Metode: Desain penelitian percobaan acak terkontrol. Ruang lingkup penelitian adalah pasien wanita yang menjalani operasi sterilisasi ligasi tuba dengan Metode Operasi Wanita dengan tehnik anestesi TIVA kontinyu. Subyek berjumlah 70 yang memenuhi kriteria inklusi, dibagi menjadi dua kelompok yang masing -masing terdiri dari 35. Kelompok PK adalah subyek yang menggunakan kombinasi propofol 2 mg/kgbb dan ketamin 0,5 mg/kgbb dilanjutkan pemeliharaan propofol 2 mg/kgbb/jam dan ketamin 0,5 mg/kgbb/jam intravena, sedangkan kelompok PF adalah subyek yang menggunakan kombinasi induksi propofol 2 mg/kgbb dan fentanyl 1 μg/kgbb dilanjutkan pemeliharaan propofol 2 mg/kgbb/jam dan fentanyl 1 μg/kgbb/jam intravena. Penilaian parameter perubahan hemodinamik meliputi tekanan darah sistolik (TDS), tekanan arteri rerata (TAR) dan laju denyut jantung (DJ) dinilai pada saat induksi, insisi dan durante operasi hingga selesai.Hasil: Penurunan parameter hemodinamik lebih dari 10 % terjadi pada kelompok PF pada saat induksi, insisi dan menit ke-5, dimana tekanan darah sistolik (TDS) menurun sebesar 15,5 (7,26) %, tekanan arteri rerata (TAR) menurun sebesar 14,0 (8,34) % dan laju denyut jantung (DJ) sebesar 14,2 (6,52) % sedangkan pada kelompok PK terjadi penurunan TDS sebesar 4,3 (2,72) % (p = 0,000), TAR of 4,6 (3,18) % (p =0,000) dan DJ sebesar 3,5(2,63) % (p = 0,000) saat induksi.Simpulan: Stabilitas hemodinamik kelompok PK lebih baik daripada kelompok PF.

Pengaruh Anestesi Regional dan General pada Sectio Cesaria pada Ibu dengan Pre Eklampsia Berat terhadap Apgar Score

Wijayanto, Nurhadi, Leksana, Ery, Budiono, Uripno

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : in patients with severe preeclampsia intubation is dangerous because of the actions associated with airway management and hemodynamic fluctuations that may occur. Spinal anesthesia avoided many risks associated with hypotensive but some studies have shown that spinal anesthesia is safe for both mother and fetus. debate about the influence of general anesthesia and spinal anesthesia on Apgar score is something interesting. Some research suggests that there was no difference in anesthesia on both of them but other studies say that the appreciation of the general anesthesia will result in a lower than spinal anesthesia.Objective: to compare the influence of general anesthesia and spinal anesthesia on children born to mothers with a sectio caesaria because of severe preeclampsia.Methods: an experimental study design with prospective randomized control trial study, the research group is divided into two (n: 8), Group I is the group that received general anesthesia with pentothal 5mg/bb dose and dose muscle paralytic suksinilkholis 1.5mg/bbConclusion: Apgar score in the group of spinal anesthetics are higher than general anesthesia in patients with sectio caesaria because of severe preeclampsia, but clinically by Apgar score categories of the two groups togetherKeywords : pre-eclampsia, Apgar score, spinal anesthesia, sectio Cesaria, hemodynamic ABSTRAKLatar belakang : pada pasien preeklampsia berat intubasi merupakan tindakan yang berbahaya karena berkaitan dengan menejeman jalan napas dan gejolak hemodinamik yang mungkin terjadi. Anestesi spinal banyak dihindari berkaitan dengan resiko hipotensinya namun beberapa penelitian telah menunjukkan bahwa anestesi spinal adalah aman bagi ibu maupun janin . perdebatan tentang pengaruh anestesi umum dan anestesi spinal terhadap Apgar score adalah sesuatu yang menarik. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa tidak ada perbedaan anestesi pada keduanya namun pada penelitian lainnya dikatakan bahwa dengan apresiasi umum akan menghasilkan anestesi yang lebih rendah daripada anestesi spinal.Tujuan : untuk membandingkan pengaruh anestesi umum dan anestesi spinal terhadap anak yang dilahirkan oleh ibu dengan sectio caesaria karena preeklampsia berat.Metode : merupakan penelitian eksperimental dengan desain penelitian prospective randomized control trial, kelompok penelitian dibagi menjadi dua (n:8), kelompok I merupakan kelompok yang mendapat anestesi umum dengan pentothal dosis 5mg/bb dan pelumpuh otot suksinilkholis dosis 1.5mg/bbKesimpulan : Apgar score pada kelompok anesthesi spinal lebih tinggi daripada anestesi umum pada pasien sectio caesaria karena preeklampsia berat, tetapi secara klinis berdasarkan kategori Apgar score kedua kelompok sama

Perbedaan Jumlah Bakteri Trakhea pada Tindakan Oral Hygiene Menggunakan Chlorhexidine dan Povidone Iodine pada Penderita dengan Ventilator Mekanik

Dewi, Fitri Hapsari, Pujo, Jati Listiyanto, Leksana, Ery

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 4, No 2 (2012): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background: pneumonia is a nosocomial infection that often occurs. Pneumonia can be caused by bacterial colonization in the trachea due to aspiration of upper respiratory tract bacteria. Oral hygiene in the upper respiratory tract can decrease the number of bacteria.Objective: To find the differences in decrease in the number of tracheal bacteria with oral hygiene chlorhexidine 0.2% and povidone iodine 1% on patients with mechanical ventilator.Methods: A randomized clinical control trial study on 30 patients with mechanical venti-lator. Patients were divided into 2 groups (n=15), group 1 using chlorhexidine 0.2% and group 2 using povidone iodine 1%. Each group was given oral hygiene every 12 hours for 48 hours. Each group was taken of tracheal secretions before and after treatment, for later examination counting the number and types of bacteria. Statistics using the Wil-coxon test and Mann-Whitney test (with degrees of significance <0.05).Results: This study found a decrease the number of bacteria trachea in chlorhexidine group 78.99 ± 69.105 (significant difference p=0.04) more than in the povidone iodine group 24.91 ± 104.764 (not significantly different p=0.75). While the comparative differ-ence in the two groups of test results obtained p=0144 (not significantly different).Conclusion: The decrease in the number of tracheal bacteria on oral hygiene with chlor-hexidine 0.2% was not different from povidone iodine 1%Keywords : chlorhexidine 0.2%, povidone iodine 1%, the number of tracheal bacteria, oral hygiene, mechanical ventilator.ABSTRAKLatar belakang: Pneumonia merupakan infeksi nosokomial yang sering terjadi. Pneumo-nia dapat disebabkan karena kolonisasi bakteri di trakhea karena aspirasi bakteri salu-ran nafas atas. Tindakan oral hygiene pada saluran nafas atas dapat menurunkan jumlah bakteri.Tujuan: Untuk mengetahui adanya perbedaan penurunan jumlah bakteri trakhea pada tindakan oral hygiene dengan chlorhexidine 0,2% dan povidone iodine 1% pada penderita dengan ventilator mekanik.Metode: Merupakan penelitian randomized clinical control trial pada 30 penderita den-gan ventilator mekanik. Penderita dibagi menjadi 2 kelompok (n=15), kelompok 1 meng-gunakan chlorhexidine 0,2% dan kelompok 2 menggunakan povidone iodine 1%. Masing -masing kelompok diberikan oral hygiene tiap 12 jam selama 48 jam. Tiap kelompok diambil sekret dari trakhea sebelum dan setelah perlakuan, untuk kemudian dilakukan pemeriksaan hitung jumlah dan jenis bakteri. Uji statistik menggunakan Wilcoxon dan Mann-Whitney test ( dengan derajat kemaknaan < 0,05 ).Hasil: Pada penelitian ini didapatkan penurunan jumlah bakteri trakhea pada kelompok chlorhexidine sebesar 78,99±69,105 ( berbeda bermakna p=0,04 ) lebih banyak bila dibandingkan pada kelompok povidone iodine 24,91±104,764 ( berbeda tidak bermakna p=0,75). Sedangkan pada uji selisih komparatif dua kelompok didapatkan hasil berbeda tidak bermakna ( p=0.144 ).Simpulan: Penurunan jumlah bakteri trakhea pada tindakan oral hygiene dengan chlor-hexidine 0,2% tidak berbeda bermakna dengan povidone iodine 1%