cover
Filter by Year
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Articles by issue : Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
5
Articles
Perbedaan Agregasi Trombosit pada Penderita yang Mendapat Propofol dan Penthotal

., Arliansah, Nurcahyo, Widya Istanto, Satoto, Hariyo

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Perioperative bleeding is a serious and common problem in surgery. Some induction anesthetic agents are thought to inhibit platelet aggregation. The propofol and penthotal had effect on platelet aggregation. Objective : Determine the difference effects of propofol and penthotal administration on platelet aggregation. Method: An Randomized Clinical Control Trial study on 34 patients who received general anesthesia, divided into two groups (n: 17). Both groups received Propofol or Penthotal were examined TAT before and five minutes after induction All data were analyzed by pair t -test and independent t-test for Propofol or Penthotal and platelet aggregation. Result : Maximal platelet aggregation before and after the administration of propofol and penthotal is significant, difference. In propofol and penthotal group, the percentage of maximal platelet aggregation was 54,93±9,38 and 66,26±8,94 (p=0,0001). We found 64,71% hypoaggregation, 17,65% mild hypo aggregation and 17,65% normo aggregation on propofol group, and 11,76% of hypo aggregation, 23,53% mild hypoaggregation and 64,71% normoaggregation on penthotal group. Statistically, propofol caused significant hypoaggregation of platelet compared to penthotal). Conclusion : Propofol significantly lowers the percentage of maximal platelet aggregation and causes more hypoaggregation than penthotal.Keywords : propofol, penthotal, ADP, platelet aggregationABSTRAKLatar belakang : Perdarahan perioperatif merupakan masalah yang sering dihadapi dalam setiap operasi. Penggunaan obat anestesi induksi mempunyai pengaruh menghambat agregasi trombosit. Propofol dan Penthotal mempengaruhi Agregasi Trombosit. Tujuan: Membuktikan perbedaan pengaruh Propofol dan Penthotal terhadap Agregasi Trombosit. Metode: Merupakan penelitian Randomized Clinical Control Trial pada 34 pasien yang menjalani anestesi umum, dibagi menjadi 2 kelompok (n=17), Propofol dan Penthotal. Masing-masing kelompok diperiksa TAT sebelum induksi dan 5 menit setelah induksi. Uji statistik pair t-test dan independent t-test terhadap propofol atau penthotal dan agregasi trombosit. Hasil: Agregasi maksimal trombosit, sebelum dan sesudah pemberian propofol atau penthotal berbeda bermakna. Kelompok penthotal persentase agregasi maksimal trombosit 68,73 ± 6,06% dan propofol 54,68 ± 9,55%, menunjukkan perbedaan yang bermakna antara keduanya (p=0,001). Hasil sesudah perlakuan, kelompok propofol 14 orang hipoagregasi (82,4%), dan 3 orang normoagregsi (17,6%). Sementara kelompok penthotal 5 orang hipoagregasi (29,4%), dan sisanya 12 orang normoagregasi (70,6%). Secara statistik propofol secara bermakna menyebabkan hipoagregasi daripada penthotal. Kesimpulan : Propofol secara bermakna menurunkan agregasi maksimal trombosit dan menyebabkan hipoagregasi lebih banyak daripada penthotal.Kata kunci : propofol, penthotal, ADP, agregasi trombosit

Pengelolaan Cairan Pediatrik

Kisara, Aditya, Satoto, Hariyo, Arifin, Johan

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Different fluids in children with fluid administration in adults, physiology of body fluids, renal and cardiovascular different from adults affect the type of fluid in children. For ease of maintenance amount of fluid in the childs needs can use the formula of Holliday. Maintenance fluid requirements should be added in children with fever and sweating a lot hypermetabolic status. In children who will operation, fluid replacement should be fasting. All the fluids lost during surgery should be replaced with isotonic crystalloid fluids, colloid or blood products.Keywords : -ABSTRAKPemberian cairan pada anak berbeda dengan pemberian cairan pada dewasa. fisiologi dari cairan tubuh, ginjal dan kardiovaskuler yang berbeda dari orang dewasa mempengaruhi jenis cairan yang diberikan pada anak. Untuk memudahkan menghitug jumlah kebutuhan cairan rumatan pada anak dapat digunakan rumus dari Holliday dan Segar. Kebutuhan cairan rumatan harus ditambah pada anak dengan demam keringat yang banyak dan status hipermetabolik. Pada anak yang akan mejalani operasi, perlu diberikan cairan pengganti puasa. Semua cairan yang hilang selama operasi harus diganti dengan cairan isotonik kristaloid, koloid atau produk darah.Kata kunci : -

Penggunaan Sedasi dan Pelumpuh Otot di Unit Rawat Intensif

Istanto, Tatag, Pujo, Jati Listiyanto, Soesilowati, Danu

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Sedation should be administered to patients with critical illness who were treated in the ICU, it is used to reduce patient anxiety reducing patient anxiety of invasive measures, monitoring and treatment, reducing the oxygen demand by reducing the activity of the patient and amnesia effect of treatment in ICU. Muscle paralytic rarely used in the ICU for sedation usually be enough to calm the patient and provide patient comfort with mechanical ventilation. The use of excessive sedation or slightly increased patient morbidity. The use of paralytic muscle in a long time has many disadvantages to be considered, even more so when there is impaired hepatic and renal function in patients.Keywords : -ABSTRAKSedasi sebaiknya diberikan pada pasien dengan penyakit kritis yang dirawat di ICU, hal ini digunakan untuk mengurangi kecemasan pasien mengurangi kecemasan pasien terhadap tindakan invasif, monitoring dan pengobatan, mengurangi kebutuhan oksigen dengan mengurangi aktivitas pasien dan menimbulkan efek amnesia terhadap perawatan di ICU. Pelumpuh otot jarang digunakan di ICU karena biasanya sedasi saja sudah mencukupi untuk menenangkan pasien dan memberikan kenyamanan pasien dengan ventilasi mekanik. Penggunaan sedasi yang terlalu berlebihan atau telalu sedikit meningkatkan angka morbiditas pasien. Penggunaan pelumpuh otot dalam waktu lama memiliki banyak kerugian yang harus dipertimbangkan, terlebih lagi bila terdapat gangguan fungsi hepar dan ginjal pada pasien.Kata kunci : -

Perbandingan Kadar IL-10 Serum dengan dan Tanpa Infiltrasi Levobupivakain pada Nyeri Pasca Insisi

Rofii, Mochamad, Satoto, Hariyo, Harahap, Mohamad Sofyan

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Incicion pain provokes the increase of glucocorticoid hormone that extends periode of the wound healing. Pain transmission will be inhibited by Levobupivacaine 0,25 % infiltration. This therapy will decrease the cellular immunity suppression so the macrop hage function in helping the T cell activation are not inhibited. This cell activation will increase the IL-10 serum level. Objective : To compare IL-10 serum level with and without Levobupivacaine 0,25 % infiltration post incicion. Methods : This laboratoric experimental study was designed with randomized post test only control group method on thirty five Wistar rats. The experimental group was devided randomly into three groups. The control group (K) contained 5 Wistar rats, group P1 and P2 contained 15 Wistar rats of each. In the group K, the rats were anesthesized without incicion and without Levobupivacaine 0,25 % infiltration, the IL-10 serum level was examined on the day one. In the group P1, the rats were anesthesized followed with 2 cm subcutaneous depth incicion and without Levobupivacaine 0,25 % injection. And in the group P2 , the rats were anesthesized followed by 2 cm subcutaneous depth incicion and Levobupivacaine 0.25 % infiltration was administered. The reinfiltration on the group P1 and P2 w as administered every 8 hour twice daily. IL- 10 serum level was examined on the day 1, 2 and 3. And then compared among three group.The statistic datas were analysed with SPSS 10,0 for windows programme. Results : The mean of rats body weight among three groups were not significantly different ( p = 0,874 ). IL-10 serum level in the group K was 0,13 ± 0,02 pg/ml. The level of IL-10 serum in the group P1 on day one was 0,16 ± 0,12 pg/ml ; day two was 0,16 ± 0,06 pg/ml and day three was 0,18 ± 0,07 pg/ml. There were 23 % increased of IL-10 serum level on the day one and day two, 38 % on the day three in the group P1. The IL-10 serum level in group P2 on day one, two and three were 0,21 ± 0,15 pg/ml ; 0,30 ± 0,11 pg/ml ; 0,29 ± 0,13 pg/ml respectively. And in the group P2 there were 61 % increased of IL -10 serum level on the day one, 130 % on the day two and 123 % on the day three respectively. IL-10 serum level among three groups were significantly different with p = 0,000. The clinical parameter datas in the three groups were normaly distributed. The increase of IL -10 serum level was highest in group with Levobupivacaine 0,25 % infiltration on day two ( p < 0,05 was considered significant ). Conclusions : Infiltration of Levobupivacaine 0,25 % is increased IL-10 serum level. There are 23 % increased of IL-10 serum level on the day one and day two, 38 % on the day three in the group P1. And in the group P2 there are 61 % increased of IL -10 serum level on the day one, 130 % on the day two and 123 % on the day three respectively. The highest IL-10 serum level is 130 % that achieve in group with Levobupivacaine 0,25 % infiltration on day two.Keywords : IL-10 serum level, Levobupivacaine 0,25 % infiltration, incision pain.ABSTRAKLatar belakang : Nyeri insisi menyebabkan peningkatan hormon glukokortikoid yang memperlama penyembuhan luka. Transmisi nyeri dapat dihambat dengan infiltrasi Levobupivakain 0,25 %. Terapi ini akan mengurangi supresi imunitas seluler sehingga fungsi makrofag dalam membantu aktifasi sel T tidak terhambat. Aktifasi sel T ini diduga akan meningkatkan kadar IL-10 serum. Tujuan : Membandingkan kadar IL-10 serum dengan dan tanpa infiltrasi Levobupivakain 0,25 %. Metode : Dilakukan penelitian eksperimental laboratorik dengan disain “Randomized Post test only control group design”, pada tigapuluh lima ekor tikus Wistar. Kelompok penelitian dibagi menjadi tiga kelompok secara acak. Kelompok kontrol (K) lima ekor tikus, kelompok Perlakuan 1 (P1) dan kelompok Perlakuan 2 (P2) masing-masing limabelas ekor tikus. Kelompok kontrol (K) tikus dibius, tanpa insisi dan tanpa infiltrasi lalu diperiksa kadar IL-10 serumnya pada hari pertama. Kelompok Perlakuan 1 (P1) tikus dibius lalu dilakukan insisi sepanjang 2 cm dipunggung kedalaman subkutis dan injeksi tanpa Levobupivakain 0,25 % disekitar luka. Kelompok Perlakuan 2 (P2) tikus dibius laku dilakukan insisi sepanjang 2 cm dipunggung kedalaman subkutis dan infiltrasi dengan Levobupivakain 0,25 % disekitar luka. Injeksi pada kelompok P1 dan infiltrasi pada kel ompok P2 diulangi dua kali tiap 8 jam selama 24 jam. Kadar IL-10 serum kelompok P1 dan kelompok P2 diperiksa pada hari ke pertama, kedua dan ketiga. Dibandingkan kadar IL-10 serum antara ketiga kelompok. Analisis statistik dengan program SPSS 10,0 for windows. Hasil : Dari hasil pengamatan rerata berat badan tikus pada ketiga kelompok berbeda tidak bermakna dengan p = 0,874 ( p > 0,05 ). Kadar IL-10 serum pada kelompok K 0,13 ± 0,02 pg/ml, sedangkan kelompok perlakuan 1 (P1) hari pertama 0,16 ± 0,12 pg/ml ; hari kedua 0,16 ± 0,06 pg/ml dan hari ketiga 0,18 ± 0,07 pg/ml. Terjadi kenaikan sebesar 23 % pada hari pertama dan hari kedua serta 38 % pada hari ketiga pada kelompok perlakuan 1 (P1). Kadar IL-10 serum kelompok P2 pada hari pertama, kedua dan ketiga adalah 0,21 ± 0,15 pg/ml : 0,30 ± 0,11 pg/ml ; 0,29 ± 0,13 pg/ml. Terjadi kenaikan sebesar 61 % pada hari pertama, 130 % pada hari kedua dan 123 % pada hari ketiga. Data parameter klinis ketiga kelompok terdistribusi normal ( p > 0,05 ). Kadar IL-10 serum pada ketiga kelompok berbeda bermakna dengan nilai p 0,000 (p < 0,05). Kenaikan kadar IL-10 serum tertinggi adalah pada kelompok dengan infiltrasi Levobupivakain 0,25 % pada hari kedua yaitu sebesar 130 %. Kesimpulan : Infiltrasi Levobupivakain 0,25 % disekitar luka insisi meningkatkan kadar IL -10 serum. Terjadi kenaikan sebesar 23 % pada hari pertama dan hari kedua serta 38 % pada hari ketiga pada kelompok perlakuan 1 (P1). Dan pada kelompok perlakuan 2 (P2) terjadi kenaikan sebesar 61 % pada hari pertama, 130 % pada hari kedua dan 123 % pada hari ketiga. Kenaikan kadar IL-10 serum tertinggi adalah pada kelompok infiltrasi dengan Levobupivakain 0,25 % yang terjadi pada hari kedua yaitu sebesar 130 %.Kata kunci : Kadar IL-10 serum, infiltrasi levobupivakain 0,25 % , nyeri insisi

Pengaruh Infiltrasi Levobupivakain pada Skor Histologis MHC Kelas 1 pada Penyembuhan Luka

Primatika, Aria Dian, Budiono, Uripno, eksana, Ery

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 2, No 2 (2010): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Post operative acute pain stimulates clinical pathofisiologic symptoms, suppreses immune respons, reduces the activity of the immune system and inhibits wound healing. Levobupivacaine is a long acting local anaesthetic, suitable for pain control. Presenting class I MHC antigens to cytotoxic T lymphocytes, this is important to response immune. The ability of cytotoxic T lymphocytes to kill infected target cells depends on the amount of class I MHC expression. Objective : To prove the influence of levobupivacaine infiltration on class I MHC expression. Methods : This study was an animal experimental study with randomized post test only control group design. Randomly 15 Wistar rats were divided into 3 groups. Group I was the group for control without treatment. Group II, rats that got incisions without levobupivacaine infiltration. Group III, rats that got incisions and levobupivacaine infiltration dosed 12.6 mcg/gram BW every 8th hours for 24 hours. The expression class I MHC cell around wound incision was analized with histologic score from samples with immunohistochemistry stainning. Samples were taken from tissue biopsy on 5th day because in normal wound healing the amount of lymphocytes T were significant at 5th day and the peak at 7th day. Data were analyzed using Kruskal-Wallis test. Results : This study showed that control group have the expression of class I MHC with histologic scor mean 4.92. The incission tissue with levobupivacaine has lower class I MHC histologic score (mean value 5,26) than group without levobupivakain (mean value 8,12). There was a significant difference of class I MHC (p=0,011). Conclusions : The expression of class I MHC (histologic score) in levobupivacaine infiltration group is lower than without levobupivacaine infiltration group.Keywords : levobupivacaine, histologic score MHC Class I, wound healingABSTRAKLatar belakang: Nyeri akut pasca pembedahan memicu timbulnya gejala klinis patofisiologis, menekan respons imun, sehingga menyebabkan penurunan sistem imun yang akan menghambat penyembuhan luka. Levobupivakain, anestetik lokal durasi panjang yang efektif mengurangi nyeri akut. MHC kelas I sebagai petanda permukaan sel yang terinfeksi memberi sinyal pada sel T sitotoksik sehingga fungsinya dalam respons imun sangat penting. Kemampuan limfosit T sitotoksik untuk melisiskan sel merupakan fungsi langsung dari banyaknya MHC kelas I yang diekspresikan. Tujuan: Membuktikan pengaruh infiltrasi anestetik lokal levobupivakain terhadap ekspresi MHC kelas I. Metode: Dilakukan penelitian eksperimental pada hewan coba, randomized post test only control group design, menggunakan tikus Wistar. Sampel 15 ekor dibagi menjadi 3 kelompok; kelompok I kontrol, kelompok II insisi subkutis tanpa infiltrasi levobupivakain, kelompok III insisi subkutis dan infiltrasi levobupivakain dosis 12,6 mcg/gram BB setiap 8 jam selama 24 jam. Ekspresi MHC kelas I pada sekitar luka insisi dinilai dengan skor histologi dengan menggunakan pengecatan secara imunohistokimia. Biopsi jaringan diambil pada hari kelima karena pada penyembuhan luka normal jumlah limfosit T bermakna pada hari kelima dan mencapai puncak pada hari ketujuh. Data dianalisis dengan uji beda Kruskal-Wallis. Hasil: Penelitian menunjukan pada kelompok kontrol terdapat ekspresi MHC kelas I dengan hasil rerata skor histologi 4,92. Hasil rerata skor histologi MHC kelas I pada kelompok levobupivakain lebih rendah (8,12) dibanding kelompok tanpa levobupivakain (5,26) dan secara statistik berbeda bermakna (p=0,011). Simpulan: Ekspresi MHC kelas I (skor histologi MHC I) pada kelompok dengan infiltrasi levobupivakain lebih rendah dibandingkan dengan kelompok tanpa infiltrasi levobupivakain.Kata kunci : levobupivakain, skor histologis MHC Kelas I, penyembuhan luka