cover
Filter by Year
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Articles by issue : Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
7
Articles
Efektivitas Ketamin Sebagai Analgesia Preemptif Terhadap Nyeri Pasca Bedah Onkologi

Raharjo, Langgeng, Budiono, Uripno

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Excitatory amino acids participate in the activation of nociceptive dorsal horn neurons as agonists of the N-methyl-D-aspartate (NMDA) receptor. A. series of experimental data provides evidence that NMDA receptors play a significant role in neuronal plasticity and processes leading to central sensitization to pain. The concept of preemptive analgesia on the assumption that the administration of an analgesic dr µg before the occurrence of nociceptive input can prevent sensitization and thus improve postoperative analgesia.Objectives : The aim of our study was to test the hypothesis that preemtive ketamine administration would further reduce postoperative pain in oncology surgery.Method : Our institutional review board approved the study protocol, and all patients gave informed,written consent Patients were randomized to apreemptive or control group. Preoperatively visual analog scale (VAS) for pain assessment Patient received premedication with midazolam 0,07 mg/kg iv, sulfas atropin 0,0 2 mg/kg, metoclopramide 10 mg/kg at the operating room . Anesthesia was induced with thiopental 5 mg/kg iv,. Fentanyl 2 mg/kg was administered to facilitate tracheal intubation. Main tenance with atracurium 0,02 mg/kg IV if needed maintenance of anesthesia consisted of O :N O = 2 2 30%:70% and isoflurane 1%. In the preemtive group, ketamine bolus of 0,5 mg/kg IV was administered after induction of general anesthesia before incision. Postoperatively analgesia was achieved with meperidine 0,5 mg/kg iv as needed during the post anesthesia care unit (PACU) stay. The time that the patient first requested analgesic medication (TFA) was recorded if VAS pain scores > 3 cm (0= no pain, 10 = worst pain imaginable), vital sign pre and post operative. Meperidine consumption totals were recorded for the ward stay .Result : There were no statistically significant differences between the two groups in meperidine consumption total at 24 hours and VAS pain score, and there were statistically significant diferences between the two grups in the firs opioid required timeKeywords : ketamine, preemptive , analgesia ,oncology, surgery pain.ABSTRAKLatar belakang : Asam amino eksitatori berperan dalam aktivasi saraf nosisepsi kornu medula spinalis pada reseptor N-methyl-D-aspartate (NMDA). Data penelitian melaporkan reseptor NMDA berperan dalarn proses sensitisasi sentral terhadap nyeri. Analgesia preemptif berdasar bahwa pemberian obat analgesia sebelum input nosisepsi dapat mencegah sensitisasi dan memperbaiki nyeri pasca bedah.Tujuan : Mengetahui efetktifitas ketamin sebagai analgesia pre emptif, terhadap derajat nyeri pasca bedah onkologi.Metode : Merupakan penelitian eksperimental randomized past test only controlled group design. Empat puluh dua pasien yang menjalani operasi elektif onkologi dengan anestesi umum inhalasi di RS Dr. Kariadi Semarang; memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi dibagi dalam dua kelompok dicatat tanda vital pra bedah. Premedikasi dengan midazolam 0,07 mg/kgBB iv, metoclopramid l0 mg iv, aulfas atropin 0,01 mg/kgBB. Induksi dengan tiopental 5 mg/kgBB, atrakurium 0,5 m/kgBB, fentanyl 2 µ/kgBB dilakukan intubasi. Rumatan anestesi dengan N2O:O2=70%: 30%, isofluran 1% atrakurium intermiten kelompok kontrol (II) diberi NaCl 0,9%- Selesai operasi pasien diekstubasi, dilakukan observasi di ruang pemulihan. Bila skor nyeri atau nilai visualAnalog Scale (VAS) >3 cm diberi meperidin 0,5mg/kgBB iv. Dicatat tanda vital pasca bedah, waktu pertama kali diberikananalgetik di bangsal, diberi analgetik meperidin 0,5 mg/kgBB bila Vas > 3 cm. Dicatat jumlah total kebutuhan meperidin. Efek samping yang terjadi dicatat.Hasil : Jumlah meperidin yang diberikan dan nilai VAS dalam 24 jam tidak Berbeda bermakna pada dua kelompok (p=0,692 dan (p>0,05), dan berbeda bermakna pada waktu pertama kali diperlukan analgetik (F0,000).Simpulan : Ketamin dosis 0,5 mg/kgBB iv tidak memberikan efek analgesia preemptif pada operasi bedah onkologi.Kata kunci : ketamin, analgesia preemptif, nyeri pasca bedah onkologi.

Perbandingan Efektifitas Propofol Dan Tiopental Pada Intubasi Endotrakea Tanpa Pelumpuh Otot

., Sulistyowati, Satoto, Hariyo

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Administration offentanyl followed by propofol provides adequate conditions for tracheal intubation without muscle relaxants. Other hypnotic drµgs have not been thoroµghly investigated in this regard. Intubating conditions with fentanyl followed by propofol or thiopentone are compa red in this study.Method : In a randomized,double blind study 48 healthly ( ASA I & II ) males and females were assigned to one of two groups ( n = 24 ) .After atropine intravena 0,01 mg.kg-1 midazolam 0,07 mg.kg-1 were injected as premedication. Fentanyl 2 µg.kg-1 was injected over 90 sec followed by propofol 2 mg.kg-1 ( Group 1 ), thiopentone 5 mg.kg-1 ( Group 2). Ninety seconds after administration hypnotic drµgs , laryngoscopy and intubtion were attempted. Intubating conditions were assessed as excellent,good or poor on the basis of ease of ventilation, jaw relaxation,position of the vocal cords,and patient response to intubation and slow inflation of the endotracheal tube cuff.Results : Demographic and preclinical data were not significantly different. Cardiovascular responses were significantly different between two groups (p <0,005 ) in which use thiopentone as hypnotic drµg.Overall conditions at intubation were significantly (p <0,005 ) better, and the frequency of good conditions was significantly ( p < 0,005 ) higher in the propofol group compared the thiopentone group.No patiens was treated for hypotension or bradycrdia.Conclusion : Propofol 2 mg.kg-1 was superior to thiopentone 5 mg.kg-1.for tracheal intubation when combined withfentanyl 2 µg.kg-1 and no muscle relaxants.Keywords : Administration offentanyl , propofol, thiopenthone, tracheal intubationABSTRAKLatar belakang : Pemberian fentanyl yang diikuti dengan propofol memberikan kondisi yang cukup untuk fasilitasi intubasi endotrakea tanpa menggunakan pelumpuh otot. Beberapa obat hipnotis anestesi telah diselidiki pada saat ini. Intubasi endotrakea dengan menggunakan fentanyl diikuti dengan propofol atau thiopental tanpa menggunakan pelumpuh otot dibandingkan pada penelitian ini.Metode : Dengan metode randomisasi acak tersamar ganda. 48 pasien dengan ASA 1 & II dibagi ke dalam 2 kelompok ( n = 24 ). Setelah pemberian Sulfas atropin 0,01 mg/kgBB, midazolam 0,07 mg/kgBB sebagai premedikasi.Fentanyl 2 µg/kgBB diberikan intravena setelah 90 detik diberikan propofol 2 mg/kgBB ( kelompok I) dan tiopental 5 mg/kgBB ( kelompok II ) .Kemudian dilakukan ventilasi oksigen 6 L/menit selama 90 detik.Setelah itu laringoskopi intubasi dilakukan.Kemudahan intubasi endotrakea dinilai sebagai sempurna,baik dan buruk.Penilaian kemudahan intubasi endotrakea berdasarkan kemudahan ventilasi, relaksasi rahang, posisi pita suara dan respon pasien terhadap intubasi dan inflasi pada pipa endotrakea.Hasil : Data demograpik dan data pengukuran pra penelitian didapatkan hasil tidak berbeda.Respon kardiovaskuler sebelum dan sesudah intubasi endotrakea didapatkan hasil berbeda bermakna (p <0,005 ) lebih stabil pada penggunaan tiopental sebagai obat hipnosis.Seluruh kondisi pada intubasi endotrakea mendapatkan hasil berbeda bermakna ( p < 0,005 ) lebih baik, dan frekwensi intubasi endotrakea pada kondisi baik berbeda bermakna ( p < 0,005 ) lebih tinggi pada kelompok propofol dibandingkan dengan kelompok tiopental untuk intubasi endotrakea bila dikombinasikan dengan fentanyl 2 µg/kgBB tanpa menggunakan pelumpuh otot.Pada penelitian ini tidak ada pasien yang diterapi untuk kasus hipotensi dan bradikardi.Kesimpulan : Propofol 2 mg/kgBB lebih baik dari tiopental 5 mg/kgBB untuk intubasi endotrakea dengan kombinasifentanyl 2 µg/kgBB tanpa menggunakan pelumpuh otot.Kata kunci : pemberianfentanyl , propofol, thiopentone, intubasi endotrakea

Perbandingan Efek Sevofluran dan Isofluran Terhadap Jumlah Neutrofil Polimorfonuklear Perifer

Firman, Bob, Jatmiko, Heru Dwi

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Polymorphonuclear neutrophils are important components of theimmunological defence system which protect the human organism from invadingbacteria. Following injury, neutrophils are activated resulting in chemotaxis, endothelial adhesion, diapedesis, binding and phagocytosis of foreign material and intracellular killing. Reducing number of neutrophils will be followed by increasing risk of infection. Inhaled anaesthesia such as sevoflurane and isoflurane are known to imply neutrophil circulation dinamization during surgery.Purpose : To compare the effect of anaesthesia with sevoflurane and isoflurane on the number of peripheral polymorphonuclear neutrophilMethod : The study was designed as double blind randomly clinical trial on 36 patients underwent elective surgery at Dr Kariadi Hospital Semarang, 16-55 age, 20-25 kg/m2 BMI, 1-3 hours surgery time, ASA I. Blood sample from sevoflurane and isoflurane groups were taken before anesthesia, 15, 60 minutes, and after conscious stage. The absolute number of leucocytes and neutrophils were counted while blood pressure and heart rate recorded. In assessing the result, statistical significancy was tested by the Chi-square test and t-test with considered significant p < 0.05.Results : The characteristic data of the patients was not significantly different between the two groups, either blood pressure, heart rate, and time of surgery. There was no significant difference change on leucocytes number in each group and neither between the two groups. Neutrophils in sevoflurane group significantly reduced at 15 and 60 minutes, but not after conscious stage. In isoflurane group, neutrophils was not significantly different. And between two groups, significantly difference on neutrophils number found at 60 minutes.Conclusions : There is significant difference of the effect of sevoflurane and isoflurane on the peripheral polimorphonuclear neutrophil number, at 60 minutes.Keywords : anaesthesia, sevoflurane, isoflurane, neutrophilABSTRAKLatar belakang : Neutrofil polimorfonuklear berperan penting dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap invasi bakteri. Pada jaringan luka, neutrofil aktif menghancurkan kuman dalam beberapa tingkat, yaitu kemotaksis, adhesi endotel, menangkap, fagosit, dan membunuh. Jumlah polimorf yang menurun sering disertai dengan meningkatnya kerentanan terhadap infeksi. Agen anestesi inhalasi seperti sevofluran dan isofluran diketahui dapat menyebabkan dinamisasi jumlah neutrofil dalam sirkulasiTujuan: Membandingkan pengaruh anestesi dengan sevofluran dan isofluran terhadap jumlah neutrofil polimorfonuklear.Metode : Penelitian ini dirancang sebagai uji klinis acak tersamar ganda terhadap 36 orang pasien yang menjalani operasi elektif di RS Dr. Kariadi Semarang, dengan umur16- 2 55 tahun, IMT 20-25 kg/m , lama operasi 1-3 jam, dan ASA I. Sampel darah dari kedua kelompok diambil sebelum anestesi, menit 15, menit 60, dan setelah sadar. Jumlah leukosit dan neutrofil dihitung. Tekanan darah dan laju jantung dicatat. Uji statistik menggunakan Chi square dan t test dengan derajat kemaknaan p<0,05.Hasil : Karakteristik subyek penelitian menunjukkan hubungan yang tidak bermakna.Variabel tekanan darah, laju jantung, dan lama operasi jµga tidak bermakna. Jumlah leukosit pada masing -masing kelompok tidak berbeda, begitu jµga perbandingannya antar kedua kelompok. Jumlah neutrofil pada kelompok sevofluran menurun secara bermakna pada menit ke 15 dan menit ke 60, tetapi tidak demikian pada saat sadar.Pada kelompok isofluran jumlah neutrofil tidak berbeda bermakna. Pada uji beda antara kedua kelompok, terdapat perbedaan yang signifikan jumlah neutrofil pada menit ke 60.Simpulan : Terdapat perbedaan yang bermakna pengaruh sevofluran dan isofluran terhadap jumlah neutrofil polimorfonuklear, yaitu pada menit ke 60.Kata kunci : Anestesi, sevofluran, isofluran, neutrofil

Hubungan Cardiopulmonary Bypass Dengan Jumlah Neutrofil Polimorfonuklear Pada Pasien Yang Menjalani Coronary Artery Bypass Grafting

Kushendarto, Yanuar, Nurcahyo, Widya Istanto, Jatmiko, Heru Dwi

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Morbidity on the ischemic heart disease about 68 per 1000 persons or about 6.8%. Goal of IHD is revascularization of blocked vessels by farmacologic therapy or operatif therapy. (Percutaneous Coronary Intervention/PCI or Coronary Artery Bypass Graft/CABG). CABG can used cardio pulmonary bypass (CPB)/ On-Pump Coronary Artery Bypass or without CPB/ Off -Pump Coronary Artery Bypass (OPCAB). Organ disfuntion on the patient CABG with CPB machine related with Systemic Inflammatory Response Syndrome caused by operation or CPB machine factor. The purpose of this experiment is Cardio Pulmonary Bypass on Coronary Artery Bypass Graft with the amount of neutrofil polimorfonuklear, inflammation time caused many complication.Method : Patient who will CABG sampled to know ing neutrofil PMN on pra torakotomi, post torakotomi, minute 15 and minute 30 after using CPB machine.Result : the counting of neutrofil yieded yielded that there was significant difference between the amount of neutrofil on (pra torakotomi) compared with post torakotomi, minute 15 and minute 30 CPB (p < 0,05). There was significant difference too between the amount of neutrofil on (pra torakotomi) compared with neutrofil post torakotomi minute 30 CPB (p < 0,05) and minute 15 CPB and minute 30 CPB (p < 0,05). ). In contrast, there was no significant difference between neutrofil post torakotomi minute 15 CPB (p 0,05).Conclution : There was neutrofil increased on the patient CABG using CPB.Keywords : Cardio Pulmonary Bypass, Coronary Artery Bypass Grafting, neutrofil PMNABSTRAKLatar Belakang : Angka kejadian dan angka mortalitas penyakit jantung iskemik (Ischaemic Heart Disease/ IHD) masih cukup tinggi yaitu sekitar 68 tiap 1000 penduduk atau sekitar 6,8% dan jumlah penduduk. Pengobatan IHD bertujuan untuk revaskularisasi pembuluh darah yang tersumbat dapat menggunakan teknik farmakologik atau operatif (Percutaneous Coronary Intervention/ PCI atau Coronary Artery Bypass Graft/ CABG). Tindakan CABG dapat menggunakan mesin cardio pulmonary bypass (CPB)/ On-Pump Coronary Artery Bypass atau tanpa menggunakan mesin CPB / Off-Pump Coronary Artery Bypass (OPCAB). Kejadian disfungsi organ pada pasien yang menjalani operasi CABG dengan mesin CPB dihubungkan dengan Systemic Inflammatory Response Syndrome yang diakibatkan oleh berbagai faktor antara lain faktor tindakan operasi dan faktor mesin CPB tersebut. Tujuan penelitian ini untuk melihat pengaruh lamanya waktu Cardio Pulmonary Bypass pada operasi Coronary Artery Bypass Graft terhadap pola jumlah neutrofil p olimorfonuklear darah tepi, dapat merupakan suatu penanda respon inflamasi yang dapat menimbulkan berbagai macam komplikasi.Metode : Pasien yang akan menjalani operasi CABG diambil sampel darah untuk diperiksa gambaran neutrofil PMN pada pra torakotomi, post torakotomi, menit ke 15 dan menit ke 30 sete Fah pemasangan mesin CPB.Hasil : Uji beda jumlah neutrofil ditemukan perbedaan bermakna jumlah neutrofil pada menit ke (pra torakotomi) dengan post torakotomi, menit ke 15 dan menit ke 30 CPB (p < 0,05). Uji beda jµga ditemukan perbedaan bermakna pada jumlah neutrofil post torakotomi dengan menit ke 30 CPB (p < 0,05) dan menit ke 15 CPB dan menit ke 30 CPB (p < 0,05). Tetapi tidak ditemukan perbedaan bermakna jumlah neutrofil post torakotomi dengan menit ke 15 CPB (p 0,05).Simpulan : Terdapat peningkatan jumlah neutrofil pada pasien yang menjalani CABG menggunakan CPB.Kata kunci : Cardio Pulmonary Bypass, Coronary Artery Bypass Grafting, kadar neutrofil PMN 

Jarum Spinal dan Pengaruh Yang Mungkin Terjadi

Winarno, Igun, Sutiyono, Doso

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Technical success rate of spinal anesthesia is determined by manyfactors, including : drug dose, volume, position the patient and the complications that may arise. The effects can be associated with pharmacological drugs, the physiology of the body, and technical equipment used, especially the spinal needle. Side effects include spinal anesthesia, hypotension, bradycardia, hematome, where puncture wounds, bleeding, infection, trauma to the spinal cord and the incidence of headache after spinal anesthesia. Development of the spinal needle started long ago to the present, it is due to the spread of drugs that might happen, ease of deployment medicine, tissue tearing Subarachnoid, the release of CSF and the incidence of post dural headeche punctu m (PDPH). Along with the development progress of spinal needle type, has been much corrected all deficiencies to give the spinal anesthesia technique better.Keywords : -ABSTRAKTingkat keberhasilan teknik spinal anestesi ditentukan oleh banyak faktor, diantaranya : dosis obat, volume, posisi pasien serta komplikasi yang mungkin ditimbulkan. Efek yang ditimbulkan bisa berkaitan dengan farmakologis obat, fisiologi tubuh, teknis dan peralatan yang digunakan, terutama jarum spinal. Efek samping spinal anestesi diantaranya, hipotensi, bradikardi, hematome, luka tempat tusukan, perdarahan, infeksi, trauma medula spinalis dan kejadian nyeri kepala pasca anestesi spinal. Perkembangan penggunaan jarum spinal dimulai sejak lama sampai sekarang, hal ini berkaitan dengan penyebaran obat yang dimungkinkan terjadi, kemudahan penyebaran obat, robeknya jaringan subarakhnoid, keluarnya LCS dan kejadian post dural punctum headeche (PDPH). Seiring perkembangan kemajuan jenis jarum spinal, telah banyak dikoreksi segala kekurangan untuk memberikan hasil teknik spinal anestesi yang lebih baik.Kata kunci : -

Pengelolaan Intoksikasi Bupivakain

., Rindarto, Sutiyono, Doso

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Bupivacaine intoxication is a complication of the use of local anesthesia of the most feared , because the handling is difficult. Bupivacaine intoxication management begins with recognizing the symptoms early, the early recognition of symptoms and the sooner done the management will give a better prognosis . Bupivacaine intoxication management includes control of the airway to prevent hypoxia and acidosis, which would aggravate intoxication, ACLS standards for circulation intact, and the use of lipid emulsion to eliminate the toxic effects of bupivacaine.Keywords : -ABSTRAKIntoksikasi bupivakain merupakan komplikasi pemakaian anestesi lokal yang paling ditakuti, karena penanganannya yang sulit. Pengelolaan intoksikasi bupivakain dimulai dengan mengenali gejala awalnya, semakin awal gejala dikenali dan semakin cepat dilakukan pengelolaan akan memberikan prognosa yang lebih baik. Pengelolaan intoksikasi bupivakain meliputi penguasaan jalan nafas untuk menghindari hipoksia dan asidosis yang akan memperberat intoksikasi, standar ACLS agar sirkulasi tetap berjalan dan pemakaian emulsi lipid untuk mengeliminasi efek toksik dari bupivakain.Kata kunci : -

Perbandingan Antara Anestesi Regional Dan Umum Pada Operasi Caesar

Rofiq, Aunun, Sutiyono, Doso

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 3 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Spinal anesthesia and epidural blocks causing a decrease in blood pressure, which may affect both mother and fetus. There is no evidence suggest that RA is superior to GA in relation to mother and baby. A follow-up literature review or research to evaluate neonatal morbidity and maternal outcomes, such as relationship satisfaction with anesthesia techniques, it would be useful tofound the best techniques for sectio caesarea.Keywords : -ABSTRAKSpinal dan epidural anestesi menyebabkan penurunan substansial dari tekanan darah ibu, yang dapat mempengaruhi ibu dan janin . Tidak ada bukti dari tulisan ini yang menunjukkan bahwa RA lebih unggul GA dalam kaitannya dengan ibu dan bayi. Lanjutan tinjauan pustaka ataupun penelitian untuk mengevaluasi morbiditas neonatal dan hasil ibu, seperti hubungan kepuasan dengan teknik anestesi, akan berguna untuk mengungkap teknik terbaik untuk sectio caesarea.Kata kunci : -