cover
Filter by Year
Jurnal Anestesiologi Indonesia
Published by Universitas Diponegoro
Jurnal Anestesiologi Indonesia (JAI) diterbitkan oleh Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) dan dikelola oleh Program Studi Anestesiologi dan Terapi Intensif Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (UNDIP) bekerjasama dengan Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan Terapi Intensif (PERDATIN) cabang Jawa Tengah.
Articles by issue : Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
10
Articles
Pengaruh Variasi Genetika Cyp2c19 Terhadap Efek Sedasi Midazolam Intravena

Sismadi, Sukmiasi, Budiono, uripno

JAI (Jurnal Anestesiologi Indonesia) Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : The cytochrome P450 plays an important role in the metabolism of many drugs, chemicals and carcinogens. CYP2C19 is often a major concern because of the high difference in each individual and each population. Based on the capacity of CYP2C19 in the metabolism sustrat, a person can be classified as extensive metabolizers (EM), intermediate metabolizers (IM) and poor metabolizers (PM). Which has the effect of midazolam sedation, anxiolytic, and anterograde amnesia is metabolized through the CYP2C19 enzyme. These drugs are often used as a premedication drug or as a co- induction. In clinical practice that is common with the usual dose of midazolam, not all patients show the expected effect. Therefore, the study of genetic i nfluences on intravenous midazolam biotransformation.Objectives: Assess the effects of intravenous midazolam on the EM genotype, IM and PMMethods : The study 24 patients undergoing elective surgery in the installation department of the Central Surgical Dr Kariadi Semarang, inclusion and exclusion criteria, with ASA physical status I. Previously people with an explanation of the procedures that will be undertaken and expressed willingness in the sheet informed consent. Desain phase II clinical trials research using cross sectional study to assess the effects of midazolam on the bodys metabolic functions. Allele / CYP2C19 polymorphisms were identified by PCR- RFLP technique.Results : The results showed the general characteristics of patients with no laboratory abnormalities, had no complications or side effects of midazolam. Sedation score 5 minutes after administration of midazolam there were no significant differences between men and women (3.3 ± 0.59), and found no significant association between age with the sedation score (r = 0.250, P = 0.183). CYP2C19 genotype distribution was found respectively 6 (20%) of EM, 16 (53.3%) IM and eight (26.7%) PM. These three genotypes there were no significant differences by age, sex and sedation score.Conclusion: There is no significant relationship between the scores of sedation with genotypes EM, IM and PM of CYP2C19.Keywords : Intravenous Midazolam, metabolism, CYP2C19ABSTRAKLatar Belakang : Sitokrom P450 berperan penting dalam metabolisme obat, zat kimia dan karsinogen. CYP2C19 sering menjadi perhatian utama karena tingginya perbedaan ditiap individu maupun tiap populasi. Berdasarkan kapasitas CYP2C19 dalam metabolisme sustrat, seseorang dapat dikelompokkan sebagai extensive me tabolizers (EM), intermediate metabolizers (IM) dan poor metabolizers (PM). Midazolam yang mempunyai efek sedasi, ansiolitik dan anterograde amnesia dimetabolisme melalui enzim CYP2C19. Obat ini sering digunakan sebagai obat premedikasi ataupun sebagai koinduksi. Pada praktek klinis sering dijumpai dosis midazolam yang lazim, ternyata tidak semua pasien menunjukkan efek yang diharapkan. Diteliti seberapa besar pengaruh genetik terhadap biotransformasi midazolam intravena.Tujuan: Menilai efek midazolam intravena pada genotipe EM, IM dan PMMetode : Penelitian pada 24 pasien yang menjalani bedah elektif di Instalasi Bedah Sentral RS UP Dr Kariadi Semarang, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan status fisik ASA I. Sebelumnya penderita mendapatka n penjelasan tentang prosedur yang akan dijalani serta menyatakan kesediaannya dalam informed consent. Desain penelitian uji klinik fase II ini menggunakan cross sectional untuk menilai efek midazolam terhadap fungsi metabolisme tubuh. Alel/polimorfisme CY P2C19 diidentifikasi dengan tehnik PCR- RFLP.Hasil : Dari hasil penelitian menunjukkan karakteristik umum penderita tidak terdapat kelainan laboratorium, tidak mengalami komplikasi atau efek samping terhadap midazolam. Skor sedasi 5 menit setelah pemberian midazolam midazolam tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara laki -laki dan perempuan (3,3 ± 0,59), serta tidak ditemukan hubungan yang bermakna antar usia dengan nilai skor sedasi (r=0,250 ; P=0,183). Distribusi genotip CYP2C19 ditemukan masing-masing 6 (20%) EM, 16 (53,3%) IM dan 8 (26,7%) PM. Ketiga genotip tidak terdapat perbedaan yang bermakna dengan usia, jenis kelamin maupun skor sedasi.Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara nilai skor sedasi dengan genotip EM, IM dan PM dari CYP2C19.

Pengaruh Variasi Genetika Cyp2c19 Terhadap Efek Sedasi Midazolam Intravena

Sismadi, Sukmiasi

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : The cytochrome P450 plays an important role in the metabolism of many drugs, chemicals and carcinogens. CYP2C19 is often a major concern because of the high difference in each individual and each population. Based on the capacity of CYP2C19 in the metabolism sustrat, a person can be classified as extensive metabolizers (EM), intermediate metabolizers (IM) and poor metabolizers (PM). Which has the effect of midazolam sedation, anxiolytic, and anterograde amnesia is metabolized through the CYP2C19 enzyme. These drugs are often used as a premedication drug or as a co- induction. In clinical practice that is common with the usual dose of midazolam, not all patients show the expected effect. Therefore, the study of genetic i nfluences on intravenous midazolam biotransformation. Objectives: Assess the effects of intravenous midazolam on the EM genotype, IM and PM Methods : The study 24 patients undergoing elective surgery in the installation department of the Central Surgical Dr Kariadi Semarang, inclusion and exclusion criteria, with ASA physical status I. Previously people with an explanation of the procedures that will be undertaken and expressed willingness in the sheet informed consent. Desain phase II clinical trials research using cross sectional study to assess the effects of midazolam on the bodys metabolic functions. Allele / CYP2C19 polymorphisms were identified by PCR- RFLP technique. Results : The results showed the general characteristics of patients with no laboratory abnormalities, had no complications or side effects of midazolam. Sedation score 5 minutes after administration of midazolam there were no significant differences between men and women (3.3 ± 0.59), and found no significant association between age with the sedation score (r = 0.250, P = 0.183). CYP2C19 genotype distribution was found respectively 6 (20%) of EM, 16 (53.3%) IM and eight (26.7%) PM. These three genotypes there were no significant differences by age, sex and sedation score. Conclusion: There is no significant relationship between the scores of sedation with genotypes EM, IM and PM of CYP2C19. Keywords : Intravenous Midazolam, metabolism, CYP2C19 ABSTRAK Latar Belakang : Sitokrom P450 berperan penting dalam metabolisme obat, zat kimia dan karsinogen. CYP2C19 sering menjadi perhatian utama karena tingginya perbedaan ditiap individu maupun tiap populasi. Berdasarkan kapasitas CYP2C19 dalam metabolisme sustrat, seseorang dapat dikelompokkan sebagai extensive me tabolizers (EM), intermediate metabolizers (IM) dan poor metabolizers (PM). Midazolam yang mempunyai efek sedasi, ansiolitik dan anterograde amnesia dimetabolisme melalui enzim CYP2C19. Obat ini sering digunakan sebagai obat premedikasi ataupun sebagai koinduksi. Pada praktek klinis sering dijumpai dosis midazolam yang lazim, ternyata tidak semua pasien menunjukkan efek yang diharapkan. Diteliti seberapa besar pengaruh genetik terhadap biotransformasi midazolam intravena. Tujuan: Menilai efek midazolam intravena pada genotipe EM, IM dan PM Metode : Penelitian pada 24 pasien yang menjalani bedah elektif di Instalasi Bedah Sentral RS UP Dr Kariadi Semarang, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan status fisik ASA I. Sebelumnya penderita mendapatka n penjelasan tentang prosedur yang akan dijalani serta menyatakan kesediaannya dalam informed consent. Desain penelitian uji klinik fase II ini menggunakan cross sectional untuk menilai efek midazolam terhadap fungsi metabolisme tubuh. Alel/polimorfisme CY P2C19 diidentifikasi dengan tehnik PCR- RFLP. Hasil : Dari hasil penelitian menunjukkan karakteristik umum penderita tidak terdapat kelainan laboratorium, tidak mengalami komplikasi atau efek samping terhadap midazolam. Skor sedasi 5 menit setelah pemberian midazolam midazolam tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara laki -laki dan perempuan (3,3 ± 0,59), serta tidak ditemukan hubungan yang bermakna antar usia dengan nilai skor sedasi (r=0,250 ; P=0,183). Distribusi genotip CYP2C19 ditemukan masing-masing 6 (20%) EM, 16 (53,3%) IM dan 8 (26,7%) PM. Ketiga genotip tidak terdapat perbedaan yang bermakna dengan usia, jenis kelamin maupun skor sedasi. Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara nilai skor sedasi dengan genotip EM, IM dan PM dari CYP2C19.

Skor Histologi C-Erbb-2, Proliferasi Endotel Pembuluh Darah: Pada Infiltrasi Levobupivakain Terhadap Penyembuhan Luka

Trisasi, Curniawati, ., Marwoto

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Postoperative acute pain stimulates clinical pathophysiologic symptoms, depress immune responses which leads to delayed wound healing process. Levobupivacaine is a long acting local anaesthetic, proven good for pain control. Angiogenesis plays an important role in wound healing. C -erbB-2 is a family of epidermal growth factor receptor that becomes ac tively mitogenic when binds to EFGR ligand, and stimulates cell proliferation. Levobupivacaine infiltration enhances c -erbB-2 expression, leads to endothelial blood vessel proliferation and improves wound healing. Objective : To prove the difference between histologic score of c-erbB-2, endothelial blood vessel proliferation of the wound healing process with and without levobupivacaine infiltration and to prove the correlation between c-erbB-2 and endothelial blood vessel proliferation. Methode : This study was an animal experimental study with randomized post test only control group design. Randomly 15 Wistar rats were divided into 3 groups. Groups I was the group for control without treatment. Group II, rats that got incisions without levobupivacain infiltration.Group III, rats that got incisions and levobupivacaine infiltration every 8 hours for 24 hours. C-erbB-2 at the site of the wound was analized using the histologic score from samples with immunohistochemistry staining and the amount of AgNOR expressed by mAgNOR and pAgNOR. The samples were taken from th tissue biopsy on 5 day. Data were analyzed using Kruskal Wallis test. The correlation between histologic score c-erbB-2 and the amount of AgNOR were analyzed using Spearmans correlation test. Results : This study showed that the tissue with levobupivacaine had higher c-erbB-2 histologic score (7,2±2,16 vs 9,9±1,29), and mAgNOR (5,94±0,15 vs 11,86±1,02), than tissue without levobupivacaine that significantly different (p=0,015 and p=0,02). There was a correltion between c-erbB-2 and mAgNOR (π=0,693). Conclusions : The expressions levels c-erbB-2 and mAgNOR in levobupivacaine infiltration group are higher than without levebupivacaine infiltration group. There is a correlation between the c-erbB-2 and mAgNOR. Keywords : Levobupivacaine, c-erbB-2, AgNOR, wound healing ABSTRAK Latar Belakang : Nyeri akut paska bedah memicu timbulnya gejala klinis patofisiologis, menekan respon imun, sehingga menyebabkan penurunan sistem imun yang akan menghambat penyembuhan luka. Levobupivakain, anestetik lokal durasi panjang efektif mengurangi nyeri akut. Proses angiogenesis merupakan pilar utama penyembuhan luka. C-erbB-2 adalah reseptor mitogenik yang ekspresinya pada endotel pembuluh darah bila berikatan dengan ligand yang sesuai menyebabkan sel berproliferasi. Infiltrasi levobupivakain akan meningkatkan ekspresi c-erbB-2 dan proliferasi sel endotel pembuluh darah sehingga mempercepat penyembuhan luka. Tujuan : Membuktikan adanya perbedaan skor histo logi c-erbB-2 dan proliferasi endotel pembuluh darah antara tikus yang diinfiltrasi levobupivakain dengan yang tidak pada proses penyembuhan luka tikus Wistar. Metode : Merupakan penelitian eksperimental pada hewan coba, randomized post test only control group design, menggunakan tikus Wistar. Sampel 15 ekor dibagi menjadi 3 kelompok; kelompok I kontrol, kelompok II insisis subkutis tanpa infiltrsi levobupivakain, kelompok III insisi subkutis dan infiltrasi levobupivakain setiap 8 jam selama 24 jam.Ekspresi c-erbB-2 dan nilai AgNOR yang dihitung sebagai mAgNOR dan pAgNOR pada sekitar luka insi si dinilai dengan skor histologi dengan menggunakan pengecatan secara imunohistokimia, yang diambil dari biopsi jaringan pada hari kelima. Data dianalisis dengan uji beda Kruskal-wallis. Hubungan antara c-erbB-2, mAgNOR dan pAgNOR dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil : Rerata skor histologi c-erbB-2 dan mAgNOR pada kelompok infiltrasi levobupivakain lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa infiltrasi levobupivakain, yaitu untuk c-erbB-2 7,2±2,16 vs 9,9±1,29 dan mAgNOR 5,94±0,15 vs 11,86±1,02, dan secara statistik berbeda bermakna (p=0,015 dan p=0,02). Hubungan antara c-erbB-2 dan mAgNOR secara statistik bermakna (r=0,693;p=0,004). Pada pAgNOR tidak didapat perbedaan yang bermakna antara kelompok tersebut. Simpulan: Ekspresi c-erbB-2 dan indeks proliferasi sel yang dinyatakan dengan mAgNOR pada kelompok dengan infiltrasi levobupivakain lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok tanpa infiltrasi levobupivakain. Terdapat hubungan antara c-erbB-2 dan mAgNOR pada proses penyembuhan luka.

Pengaruh Midazolam, Atrakurium Terhadap Fasikulasi Dan Kenaikan Kadar Kreatin Fosfokinase Akibat Suksinilkolin

Nugroho, R. Cristianto, Lian Siregar, Abdul

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Succinylcholine is commonly used for intubating fascilitation in emergency and day-case anesthesia. Most occured side effects of succinylcholine is fasciculation, myalgia, and elevation of blood creatine phosphokinase level. Atracurium, like other depolarizing muscle relaxants, had been proved as a gold standard for pretreatment againts these side effects. Midazolam, that has been known as popular premedication drug, has not been studied most for these utilities yet. Objective : The aim of this study was to prove that pretreatment with midazolam 0,03 mg/Kg or atracurium 0,05 mg/Kg could reduce fasciculation, myalgia and elevation of CPK level following succinylcholine administration. Method : This study was designed as double blind randomly clinical trial on 54 patients underwent elective surgery, 16–40 years age. ASA I-II and fullfill the inclusion criterias. Before pretreatment drug had beengiven, a blood sample for preinduction creatine phosphokinase level measurement were taken. Patients was divided into three groups of pretreatment drugs, receiving midazolam 0,03 mg/Kg, atracuri um 0,05 mg/Kg and NaCl 0,9% (control group). Three minutes later, anesthesia was induced with thiopentone 4-5 mg/Kg and succinylcholine 1,5 mg/Kg. Fasciculations were scored followed by intubation. Twenty four hours after operation, myalgias were scored and a blood sample for post operation CPK level measurement were taken. Statisticsl analysis were performed by Anova-post hoc Bonferroni test, chi square – Wilcoxon Signed Ranks test and Spearman correlation test. Result : The characteristic features of the three groups are similar. Threre are significantly reduction of fasciculation incidence (p<0,01), myalgia incidence (p<0,01) and CPK level elevation in atracurium group (p<0,05). In midazolam group, myalgia incidence is significantly reduced (p<0,01) but CPK level is only slight reduced (p=0,086) and there is no reduction of fasciculation incidence (p=0,125). The only significant correlation proved is between myalgia and CPK level elevation (corr.coef = 0,334; p = 0,013). Conclusions : Atracurium is proved to be effective for pretreatment againts fasciculation, myalgia and elevation of CPK level. Midazolam is as effective as atracurium to reduce myalgia, less effective to reduce CPK level and not effective to reduce fasciculation. Keywords : pretreatment, fa sciculation, myalgia, CPK elevation, succinylcholine. ABSTRAK Latar Belakang : Pemakaian suksinilkolin sebagai fasilitas intubasi masih merupakan pilihan dalam anestesia, terutama untuk kasus emergensi dan rawat jalan. Efek samping yang sering timbul adalah fasikulasi, mialgia dan kenaikan kadar kreatin fosfokinase (CPK) darah. Atrakurium, seperti pelumpuh otot non depolarisasi lain, telah teruji sebagai baku emas pretreatment terhadap efek samping ini. Sedangkan Midazolam, yang populer sebagai obat premedikasi belum banyak diteliti sebagai pretreatment. Tujuan : Membuktikan bahwa pretreatment midazolam 0,03 mg/KgBB atau atrakurium 0,05 mg/KgBB dapat mengurangi fasikulasi, mialgia, dan kenaikan kadar kreatin fosfokinase darah akibat pemberian suksinilkol in. Metode : Penelitian ini dirancang untuk uji klinis acak tersamar ganda terhadap 54 penderita yang akan menjalani operasi elektif, usia 16 – 40 tahun, status fisik ASA I-II dan memenuhi kriteria inklusi. Sebelum mendapat obat pretreatment, dilakukan pengambilan darah untuk pemeriksaan kadar kreatin fosfokinase pra perlakuan. Penderita dibagi menjadi tiga kelompok sesuai pretreatment yang diberikan, yaitu midazolam 0,03 mg/KgBB iv, atrakurium 0,05 mg/KgBB iv dan kontrol mendapat NaCL 0,9%. Tiga menit kemudian semua penderita diinduksi dengan Tiopental 4-5 mg/KgBB iv dan suksinilkolin 1,5 mg/KgBB iv. Fasikulasi yang timbul dinilai, dilanjutkan dengan intubasi. Duapuluh empat jam pasca operasi dilakukan penilaian mialgia dan pengambilan darah untuk pemeriksaa n kadar kreatin fosfokinase pasca perlakuan. Uji statistik menggunakan uji Anova – Post hoc Bonferroni dan uji Kai kuadrat – Wilcoxon Signed Rank serta uji korelasi dari Spearman. Hasil : Data karakteristik penderita berbeda tidak bermakna pada ketiga kelompok. Pada kelompok atrakurium terjadi penurunan kejadian fasikulasi ( p<0,01 ), mialgia ( p<0,01 ) dan kenaikan kadar kreatin fosfokinase yang bermakna ( p<0,05 ). Pada kelompok midazolam terjadi penurunan kejadian mialgia yang bermakna ( p<0,01 ), sedikit kenaikan kadar kreatin fosfokinase ( p=0,086 ) dan tidak terjadi penurunan kejadian fasikulasi (p=0,125). Pada uji korelasi tehadap tiga variabel terikat hanya tampak korelasi bermakna antara mialgia dan kenaikan kadar kreatin fosfokinase (koef.kor = 0,034; p = 0,013). Kesimpulan : Atrakurium sebagai pretreatment terbukti efektif mengurangi fasikulasi, mialgia maupun kenaikan kadar kreatin fosfokinase darah. Midazolam sama efektifnya dengan atrakurium dalam hal mengurangi mialgia, namun kurang efektif untuk mengurangi kenaikan kadar kreatin fosfokinase dan tidak efektif untuk mencegah fasikulasi.

Pengaruh Pretreatment Magnesium Sulfat Dan Atrakurium Terhadap Perubahan Tekanan Intraokuler Akibat Suksinilkolin

Suyuti, Imam, Panji, IGN, Softyan Harahap, Mohamad

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Succinylcholine is the only one muscle relaxant with rapid action and short duration, but it has some side effects, such as increasing of intraocular pressure. Precurarisation with non depolarizing muscle relaxants could prevent this but may increase the succinylcholine dose. Magnesium sulphate works competitively in the neuromuscular junctionon prejunctionaly site. Purpose : To proof that magnesium sulphate pretreatment to prevent has the same efficiency with atracurium in preventing the increased of intraocular pressure caused by succinylcholine administration. Methods : The study was clinical trial stage II, with double blind randomized controlled trial. The number of samples was 54 patients divided into 2 groups; Group I :threated with magnesium sulphate 40 m/kg intravenously in l0 minutes, 3 minutes before inductin. Group II : administrationNaCl20 in in l0 ml, subsequently atracurium 0,05 ml/kg in 3 ml, 3 minutes before induction, in l0minutes, 13 minutes before induction, subsequently NaCl 3 ml, 3 minutes before induction. Results : There was no increased in intraoccular pressurc 2 minutes after succinylcholine administration both groups. But there was a decreased in intraoccular pressure on both goups. There was, no Siqnificant change of intraoccular pressure in both groups after sucynilcholine administration Conclusion : There was no intraocular prcssure increase after succinylcholineadministration in patients treated by magnesium sulphate, and atracurium. There was no significant difference in the change of intraocular pressure after pretreatment with magnesium sulphate and also atracurium. Keywords : Succinylcholine atracurium, magnesium sulphate, intraocular pressure. ABSTRAK Latar belakang : Suksinilkolin satu-satunya pelumpuh otot dengan onset cepat dan durasi kerja sangat singkat, tetapi mempunyai efek samping diantaranya menaikkan tekanan intraokuler. Prekurarisasi dengan pelumpuh otot non depolarisasi menyebabkan peningkatan dosis suksini lkolin. Magnesium bekerja secara kompetitif pada neuromuscular junction menduduki prejunctional site. Tujuan : Membuktikan bahwa pretreatment magnesium sulfat sama baiknya dengan pretreatment atracurium untuk mencegah kenaikan tekanan intraokuler akibat pem berian suksinilkolin. Metode : Penelitian ini merupakan uji klinis tahap II, dirancang sebagai double blind randomized controlled trial. Sampel 54 pasien, dibagi dalam 2 kelompok; kelompok I : diberikan magnesium sulfat 40 mg/kg diencerkan sampai 20 ml, i.v dimasukkan dalam 10 menit, 13 menit sebelum induksi, dilanjutkan NaCl 3 ml3 menit sebelum induksi. Kelompok II (kontrol) : mendapatkan NaCl 20 ml dimasukkan dalam l0 menit, dilanjutkan atracurium 0.05 mg/kg diencerkan sampai 3 ml, 3 menit sebelum induksi. Tekanan intraokuler diukur sebelum perlakuan, 2 menit setelah pemberian suksinilkolin dan segera setelah intubasi. Hasil : Tidak terjadi peningkatan tekanan intraokuler 2 menit setelah pemberian suksinilkolin pada kelompok I maupun kelompok II, justru terjadi penurunan tekanan intaokuler pada kedua kelompok. Tidak terdapat perbedaan yang bermakna, pada perubahan tekanan intraokuler setelah pemberian suksinilkolin pada kelompok I maupun II. Simpulan : Tidak terjadi kenaikan tekanan intraokuler setelah pemberian suksinilkolin pada pasien yang mendapat pretreatment magnesium sulfat, maupun yang mendapat pretreatment atracurium. Tidak terdapat perbedaan yang bermaknapada perubahan tekanan intraokuler setelah pernberian magnesium sulfat maupun atracurium.

Pemantauan Tekanan Intra Kranial

Winarno, Igun, Sofyan Harahap, Mohamad

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Treatment of patients with increased intra-cranial pressure in the pressure began with monitor with invasive and non invasive way before the management of surgical and non surgical. It was instrumental in the field of management of anesthesia for intra -cranial pressure lowering to keeping the airway, keeping the emotional stability of patients with sedation drugs and anelgetik, the use of drugs and inhalation agents that do not affect intra-cranial pressure and cope with the effects that arise later. Keywords : - ABSTRAK Penanganan penderita dengan peningkatan tekanan intra kranial di mulai dengan memonitor tekanannya sendiri baik dengan cara invasive maupun non invasive, kemudian dengan pengelolaan secara bedah dan non bedah. Pengelolaan dibidang anestesi sangat berperan untuk menurunkan tekanan intra kranial yaitu dimulai dengan menjaga jalan nafas, menjaga kestabilan emosi penderita dengan obat-obat sedasi dan anelgetik, penggunaan obat -obatan dan agent inhalasi yang tidak mempengaruhi tekanan intra kranial serta mengatasi efek yang timbul kemudian.

Regulasi Aliran Darah Cerebral Dan Aneurisma Cerebral

Dwi Cahyo, Iwan, Listiyanto Pujo, Jati Listiyanto Puj, Sofyan Harahap, Mohamad

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRACT Change in the cerebral blood flow having the regulations vidual considering so great role of the brain for the life . Factors that might affect the regulation of the flow of blood to the brain one of them was the actions and anesthetic drugs during anesthesia . To avoid gord bad that might happen need to learn about auto regulation cerebral blood well . The use of medicinal also need to consider . Operation to head takes time relative long operasi than the others . The brain of a distinctive have the ability to regulate the flow of blood against : 1. The activity of functional and metabolic ( flow metabolism coupling and metabolic regulation ) 2. The change in pressure perfusi perssure autoregulation. 3. Oxygen saturation is change or carbon dioxide of the arteries Besides the bloodstream the brain can change through a direct influence of relations between the special centers in the brain and the blood vessels ( neurogenic regulation ) Changes in the flow of blood to the brain having the risk of fatal in determining the prognosis . Death caused by the most aneurisma from arteri breakage in the brain and hurt the head caused by a traffic accident . A diagnosis aneurisma difficult or too late to be known . A doctor well ektra to the heart of hearts anesthetic in patients with the monitor hemodynamic and maintaining hemodynamic not experienced that the high risk to avoid the rupture of aneurysm. Keywords : - ABSTRAK Perubahan aliran darah ke otak memiliki regulasi tersendiri mengingat begitu besar peranan otak bagi kehidupan. Faktor-faktor yang dapat mempengaruhi regulasi aliran darah ke otak salah satunya adalah tindakan dan obat anestesi selama pembiusan. Untuk menghindari akibat buruk yang mungkin terjadi perlu dipelajari tentang auto regulasi darah serebral dengan baik. Penggunaan obat juga perlu dipertimbangkan. Operasi dibagian kepala membutuhkan waktu relative lama dibandingkan operasi yang lainnya. Otak mempunyai kemampuan yang khas untuk mengatur aliran darah terhadap : 1. Aktivitas fungsional dan metabolic (flow metabolism coupling and metabolic regulation). 2. Perubahan pada tekanan perfusi (perssure autoregulation) 3. Perubahan kandungan oksigen atau karbondioksida dari arteri. Selain itu aliran darah otak dapat berubah melalui pengaruh langsung dari hubungan antara pusat-pusat khusus di otak dan pembuluh darah (Neurogenic Regulation). Perubahan aliran darah ke otak memiliki resiko yang fatal dalam menentukan prognosis. Kejadian kematian paling banyak disebabkan aneurisma dari arteri yang pecah didalam otak serta cidera kepala yang disebabkan suatu kecelakaan lalu lintas. Diagnosis Aneurisma sulit dilakukan atau terlambat untuk diketahui. Seorang dokter anestesi dituntut ektra hati hati dalam membius pasien dengan cara memantau hemodinamik dan menjaga hemodinamik tidak mengalami gejolak yang tinggi untuk menghindari resiko pecahnya aneurisma.

Pengaruh Variasi Genetika Cyp2c19 Terhadap Efek Sedasi Midazolam Intravena

Sismadi, Sukmiasi, Budiono, Uripno

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : The cytochrome P450 plays an important role in the metabolism of many drugs, chemicals and carcinogens. CYP2C19 is often a major concern because of the high difference in each individual and each population. Based on the capacity of CYP2C19 in the metabolism sustrat, a person can be classified as extensive metabolizers (EM), intermediate metabolizers (IM) and poor metabolizers (PM). Which has the effect of midazolam sedation, anxiolytic, and anterograde amnesia is metabolized through the CYP2C19 enzyme. These drugs are often used as a premedication drug or as a co- induction. In clinical practice that is common with the usual dose of midazolam, not all patients show the expected effect. Therefore, the study of genetic i nfluences on intravenous midazolam biotransformation. Objectives: Assess the effects of intravenous midazolam on the EM genotype, IM and PM Methods : The study 24 patients undergoing elective surgery in the installation department of the Central Surgical Dr Kariadi Semarang, inclusion and exclusion criteria, with ASA physical status I. Previously people with an explanation of the procedures that will be undertaken and expressed willingness in the sheet informed consent. Desain phase II clinical trials research using cross sectional study to assess the effects of midazolam on the bodys metabolic functions. Allele / CYP2C19 polymorphisms were identified by PCR- RFLP technique. Results : The results showed the general characteristics of patients with no laboratory abnormalities, had no complications or side effects of midazolam. Sedation score 5 minutes after administration of midazolam there were no significant differences between men and women (3.3 ± 0.59), and found no significant association between age with the sedation score (r = 0.250, P = 0.183). CYP2C19 genotype distribution was found respectively 6 (20%) of EM, 16 (53.3%) IM and eight (26.7%) PM. These three genotypes there were no significant differences by age, sex and sedation score. Conclusion: There is no significant relationship between the scores of sedation with genotypes EM, IM and PM of CYP2C19.Keywords : Intravenous Midazolam, metabolism, CYP2C19ABSTRAKLatar Belakang : Sitokrom P450 berperan penting dalam metabolisme obat, zat kimia dan karsinogen. CYP2C19 sering menjadi perhatian utama karena tingginya perbedaan ditiap individu maupun tiap populasi. Berdasarkan kapasitas CYP2C19 dalam metabolisme sustrat, seseorang dapat dikelompokkan sebagai extensive me tabolizers (EM), intermediate metabolizers (IM) dan poor metabolizers (PM). Midazolam yang mempunyai efek sedasi, ansiolitik dan anterograde amnesia dimetabolisme melalui enzim CYP2C19. Obat ini sering digunakan sebagai obat premedikasi ataupun sebagai koinduksi. Pada praktek klinis sering dijumpai dosis midazolam yang lazim, ternyata tidak semua pasien menunjukkan efek yang diharapkan. Diteliti seberapa besar pengaruh genetik terhadap biotransformasi midazolam intravena. Tujuan: Menilai efek midazolam intravena pada genotipe EM, IM dan PM Metode : Penelitian pada 24 pasien yang menjalani bedah elektif di Instalasi Bedah Sentral RS UP Dr Kariadi Semarang, yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi, dengan status fisik ASA I. Sebelumnya penderita mendapatka n penjelasan tentang prosedur yang akan dijalani serta menyatakan kesediaannya dalam informed consent. Desain penelitian uji klinik fase II ini menggunakan cross sectional untuk menilai efek midazolam terhadap fungsi metabolisme tubuh. Alel/polimorfisme CY P2C19 diidentifikasi dengan tehnik PCR- RFLP. Hasil : Dari hasil penelitian menunjukkan karakteristik umum penderita tidak terdapat kelainan laboratorium, tidak mengalami komplikasi atau efek samping terhadap midazolam. Skor sedasi 5 menit setelah pemberian midazolam midazolam tidak terdapat perbedaan yang bermakna antara laki -laki dan perempuan (3,3 ± 0,59), serta tidak ditemukan hubungan yang bermakna antar usia dengan nilai skor sedasi (r=0,250 ; P=0,183). Distribusi genotip CYP2C19 ditemukan masing-masing 6 (20%) EM, 16 (53,3%) IM dan 8 (26,7%) PM. Ketiga genotip tidak terdapat perbedaan yang bermakna dengan usia, jenis kelamin maupun skor sedasi. Simpulan: Tidak terdapat hubungan yang bermakna antara nilai skor sedasi dengan genotip EM, IM dan PM dari CYP2C19.Kata kunci : Midazolam intravena, metabolisme, CYP2C19

Skor Histologi C-Erbb-2, Proliferasi Endotel Pembuluh Darah: Pada Infiltrasi Levobupivakain Terhadap Penyembuhan Luka

Trisasi, Curniawati, ., Marwoto

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Postoperative acute pain stimulates clinical pathophysiologic symptoms, depress immune responses which leads to delayed wound healing process. Levobupivacaine is a long acting local anaesthetic, proven good for pain control. Angiogenesis plays an important role in wound healing. C -erbB-2 is a family of epidermal growth factor receptor that becomes ac tively mitogenic when binds to EFGR ligand, and stimulates cell proliferation. Levobupivacaine infiltration enhances c -erbB-2 expression, leads to endothelial blood vessel proliferation and improves wound healing. Objective : To prove the difference between histologic score of c-erbB-2, endothelial blood vessel proliferation of the wound healing process with and without levobupivacaine infiltration and to prove the correlation between c-erbB-2 and endothelial blood vessel proliferation. Methode : This study was an animal experimental study with randomized post test only control group design. Randomly 15 Wistar rats were divided into 3 groups. Groups I was the group for control without treatment. Group II, rats that got incisions without levobupivacain infiltration.Group III, rats that got incisions and levobupivacaine infiltration every 8 hours for 24 hours. C-erbB-2 at the site of the wound was analized using the histologic score from samples with immunohistochemistry staining and the amount of AgNOR expressed by mAgNOR and pAgNOR. The samples were taken from th tissue biopsy on 5 day. Data were analyzed using Kruskal Wallis test. The correlation between histologic score c-erbB-2 and the amount of AgNOR were analyzed using Spearmans correlation test. Results : This study showed that the tissue with levobupivacaine had higher c-erbB-2 histologic score (7,2±2,16 vs 9,9±1,29), and mAgNOR (5,94±0,15 vs 11,86±1,02), than tissue without levobupivacaine that significantly different (p=0,015 and p=0,02). There was a correltion between c-erbB-2 and mAgNOR (π=0,693). Conclusions : The expressions levels c-erbB-2 and mAgNOR in levobupivacaine infiltration group are higher than without levebupivacaine infiltration group. There is a correlation between the c-erbB-2 and mAgNOR.Keywords : Levobupivacaine, c-erbB-2, AgNOR, wound healingABSTRAKLatar Belakang : Nyeri akut paska bedah memicu timbulnya gejala klinis patofisiologis, menekan respon imun, sehingga menyebabkan penurunan sistem imun yang akan menghambat penyembuhan luka. Levobupivakain, anestetik lokal durasi panjang efektif mengurangi nyeri akut. Proses angiogenesis merupakan pilar utama penyembuhan luka. C-erbB-2 adalah reseptor mitogenik yang ekspresinya pada endotel pembuluh darah bila berikatan dengan ligand yang sesuai menyebabkan sel berproliferasi. Infiltrasi levobupivakain akan meningkatkan ekspresi c-erbB-2 dan proliferasi sel endotel pembuluh darah sehingga mempercepat penyembuhan luka. Tujuan : Membuktikan adanya perbedaan skor histo logi c-erbB-2 dan proliferasi endotel pembuluh darah antara tikus yang diinfiltrasi levobupivakain dengan yang tidak pada proses penyembuhan luka tikus Wistar. Metode : Merupakan penelitian eksperimental pada hewan coba, randomized post test only control group design, menggunakan tikus Wistar. Sampel 15 ekor dibagi menjadi 3 kelompok; kelompok I kontrol, kelompok II insisis subkutis tanpa infiltrsi levobupivakain, kelompok III insisi subkutis dan infiltrasi levobupivakain setiap 8 jam selama 24 jam.Ekspresi c-erbB-2 dan nilai AgNOR yang dihitung sebagai mAgNOR dan pAgNOR pada sekitar luka insi si dinilai dengan skor histologi dengan menggunakan pengecatan secara imunohistokimia, yang diambil dari biopsi jaringan pada hari kelima. Data dianalisis dengan uji beda Kruskal-wallis. Hubungan antara c-erbB-2, mAgNOR dan pAgNOR dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil : Rerata skor histologi c-erbB-2 dan mAgNOR pada kelompok infiltrasi levobupivakain lebih tinggi dibandingkan kelompok tanpa infiltrasi levobupivakain, yaitu untuk c-erbB-2 7,2±2,16 vs 9,9±1,29 dan mAgNOR 5,94±0,15 vs 11,86±1,02, dan secara statistik berbeda bermakna (p=0,015 dan p=0,02). Hubungan antara c-erbB-2 dan mAgNOR secara statistik bermakna (r=0,693;p=0,004). Pada pAgNOR tidak didapat perbedaan yang bermakna antara kelompok tersebut. Simpulan: Ekspresi c-erbB-2 dan indeks proliferasi sel yang dinyatakan dengan mAgNOR pada kelompok dengan infiltrasi levobupivakain lebih tinggi dibandingkan dengan kelompok tanpa infiltrasi levobupivakain. Terdapat hubungan antara c-erbB-2 dan mAgNOR pada proses penyembuhan luka.Kata kunci : Levobupivakain, c-erbB-2, AgNOR, penyembuhan luka

Pengaruh Midazolam, Atrakurium Terhadap Fasikulasi Dan Kenaikan Kadar Kreatin Fosfokinase Akibat Suksinilkolin

Nugroho, R. Cristianto, Siregar, Abdul Lian

Jurnal Anestesiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2009): Jurnal Anestesiologi Indonesia
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Anestesiologi dan terapi Intensif

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Background : Succinylcholine is commonly used for intubating fascilitation in emergency and day-case anesthesia. Most occured side effects of succinylcholine is fasciculation, myalgia, and elevation of blood creatine phosphokinase level. Atracurium, like other depolarizing muscle relaxants, had been proved as a gold standard for pretreatment againts these side effects. Midazolam, that has been known as popular premedication drug, has not been studied most for these utilities yet. Objective : The aim of this study was to prove that pretreatment with midazolam 0,03 mg/Kg or atracurium 0,05 mg/Kg could reduce fasciculation, myalgia and elevation of CPK level following succinylcholine administration. Method : This study was designed as double blind randomly clinical trial on 54 patients underwent elective surgery, 16–40 years age. ASA I-II and fullfill the inclusion criterias. Before pretreatment drug had beengiven, a blood sample for preinduction creatine phosphokinase level measurement were taken. Patients was divided into three groups of pretreatment drugs, receiving midazolam 0,03 mg/Kg, atracuri um 0,05 mg/Kg and NaCl 0,9% (control group). Three minutes later, anesthesia was induced with thiopentone 4-5 mg/Kg and succinylcholine 1,5 mg/Kg. Fasciculations were scored followed by intubation. Twenty four hours after operation, myalgias were scored and a blood sample for post operation CPK level measurement were taken. Statisticsl analysis were performed by Anova-post hoc Bonferroni test, chi square – Wilcoxon Signed Ranks test and Spearman correlation test. Result : The characteristic features of the three groups are similar. Threre are significantly reduction of fasciculation incidence (p<0,01), myalgia incidence (p<0,01) and CPK level elevation in atracurium group (p<0,05). In midazolam group, myalgia incidence is significantly reduced (p<0,01) but CPK level is only slight reduced (p=0,086) and there is no reduction of fasciculation incidence (p=0,125). The only significant correlation proved is between myalgia and CPK level elevation (corr.coef = 0,334; p = 0,013). Conclusions : Atracurium is proved to be effective for pretreatment againts fasciculation, myalgia and elevation of CPK level. Midazolam is as effective as atracurium to reduce myalgia, less effective to reduce CPK level and not effective to reduce fasciculation.Keywords : pretreatment, fa sciculation, myalgia, CPK elevation, succinylcholine.ABSTRAK Latar Belakang : Pemakaian suksinilkolin sebagai fasilitas intubasi masih merupakan pilihan dalam anestesia, terutama untuk kasus emergensi dan rawat jalan. Efek samping yang sering timbul adalah fasikulasi, mialgia dan kenaikan kadar kreatin fosfokinase (CPK) darah. Atrakurium, seperti pelumpuh otot non depolarisasi lain, telah teruji sebagai baku emas pretreatment terhadap efek samping ini. Sedangkan Midazolam, yang populer sebagai obat premedikasi belum banyak diteliti sebagai pretreatment. Tujuan : Membuktikan bahwa pretreatment midazolam 0,03 mg/KgBB atau atrakurium 0,05 mg/KgBB dapat mengurangi fasikulasi, mialgia, dan kenaikan kadar kreatin fosfokinase darah akibat pemberian suksinilkol in. Metode : Penelitian ini dirancang untuk uji klinis acak tersamar ganda terhadap 54 penderita yang akan menjalani operasi elektif, usia 16 – 40 tahun, status fisik ASA I-II dan memenuhi kriteria inklusi. Sebelum mendapat obat pretreatment, dilakukan pengambilan darah untuk pemeriksaan kadar kreatin fosfokinase pra perlakuan. Penderita dibagi menjadi tiga kelompok sesuai pretreatment yang diberikan, yaitu midazolam 0,03 mg/KgBB iv, atrakurium 0,05 mg/KgBB iv dan kontrol mendapat NaCL 0,9%. Tiga menit kemudian semua penderita diinduksi dengan Tiopental 4-5 mg/KgBB iv dan suksinilkolin 1,5 mg/KgBB iv. Fasikulasi yang timbul dinilai, dilanjutkan dengan intubasi. Duapuluh empat jam pasca operasi dilakukan penilaian mialgia dan pengambilan darah untuk pemeriksaa n kadar kreatin fosfokinase pasca perlakuan. Uji statistik menggunakan uji Anova – Post hoc Bonferroni dan uji Kai kuadrat – Wilcoxon Signed Rank serta uji korelasi dari Spearman. Hasil : Data karakteristik penderita berbeda tidak bermakna pada ketiga kelompok. Pada kelompok atrakurium terjadi penurunan kejadian fasikulasi ( p<0,01 ), mialgia ( p<0,01 ) dan kenaikan kadar kreatin fosfokinase yang bermakna ( p<0,05 ). Pada kelompok midazolam terjadi penurunan kejadian mialgia yang bermakna ( p<0,01 ), sedikit kenaikan kadar kreatin fosfokinase ( p=0,086 ) dan tidak terjadi penurunan kejadian fasikulasi (p=0,125). Pada uji korelasi tehadap tiga variabel terikat hanya tampak korelasi bermakna antara mialgia dan kenaikan kadar kreatin fosfokinase (koef.kor = 0,034; p = 0,013). Kesimpulan : Atrakurium sebagai pretreatment terbukti efektif mengurangi fasikulasi, mialgia maupun kenaikan kadar kreatin fosfokinase darah. Midazolam sama efektifnya dengan atrakurium dalam hal mengurangi mialgia, namun kurang efektif untuk mengurangi kenaikan kadar kreatin fosfokinase dan tidak efektif untuk mencegah fasikulasi. Kata kunci : pretreatment, fasikulasi, mialgia, kenaikan CPK, suksinilkolin.