cover
Filter by Year
ISLAMICONOMIC: Jurnal Ekonomi Islam
Articles by issue : Vol 7, No 2 (2016)
6
Articles
ISLAMISASI ILMU EKONOMI

BEIK, IRFAN SAUQI

ISLAMICONOMIC: Jurnal Ekonomi Islam Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (386.309 KB)

Abstract

Abstract. Islamization of Economics. Islamic doctrine teaches all areas of human life. How to extract economic principles in the Quran and hadith are the biggest challenge todays, and then makes it into a body of knowledge as well to build it into a theoretically and practically discipline that differ significantly from the schools of the existing the conventional economics. But the critique and issue come up those Islamic financial services only "follow" the conventional economics, so the scientific originality is often questionable. In the process of Islamization economy, which has been carried out, namely through the development of well-being and poverty measurement tool that is based on the concept with CIBEST Model. CIBEST Model is an effort to develop a welfare approach to poverty based on the conception that a tool to measure well-being and poverty are not solely based on purely material, but also spiritual approach. It is based on the concept of fulfillment, where the al-Qur’an and Hadith has outlined those basically human needs consists of two things, the material and spiritual needs.Abstrak. Islamisasi Ilmu Ekonomi. Islam merupakan ajaran yang mencakup seluruh bidang kehidupan. Tantangan terbesar saat ini adalah bagaimana mengekstraksi prinsip-prinsip ekonomi dalam Al-Qur’an dan hadits, kemudian menurunkannya menjadi sebuah body of knowledge sekaligus membangunnya menjadi sebuah disiplin ilmu yang secara teoritis dan praktis berbeda signifikan dengan mazhab-mazhab ilmu ekonomi konvensional yang ada. Namun muncul kritik bahwa ekonomi syariah hanya “mengekor” ekonomi konvensional semata, sehingga orisinalitas keilmuannya sering dipertanyakan. Dalam proses islamisasi ekonomi, yang telah dilakukan, yaitu melaui pengembangan alat ukur kesejahteraan dan kemiskinan yang didasarkan pada konsep syariah dengan Model CIBEST. Model CIBEST adalah upaya untuk mengembangkan pendekatan kesejahteraan kemiskinan yang didasarkan pada konsepsi bahwa alat untuk mengukur kesejahteraan dan kemiskinan tidak semata mata didasarkan pada material semata, namun juga pendekatan spiritual. Hal ini didasarkan pada konsep pemenuhan kebutuhan, dimana al-Quran dan Hadis telah menggariskan bahwa pada dasarnya kebutuhan manusia terdiri atas dua hal, yaitu kebutuhan material dan spiritual.

PENGARUH KEPUASAN MUZAKKI, TRANSPARANSI DAN AKUNTABILITAS PADA LEMBAGA AMIL ZAKAT TERHADAP LOYALITAS MUZAKKI (Studi Persepsi Pada LAZ Rumah Zakat)

YULIAFITRI, INDRI, KHOIRIYAH, ASMA NUR

ISLAMICONOMIC: Jurnal Ekonomi Islam Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.909 KB)

Abstract

Abstract. The Influence of Muzakki Satisfaction, Transparency and Accountability in the Amil Zakat Institution toward Loyalty Muzakki (Perception Study on LAZ Rumah Zakat). This study aimed to analyze the effect of each variable that Muzakki satisfaction, transparency and accountability in the Amil Zakat Institution toward loyalty Muzakki. As a nonprofit organization, Lembaga Amil Zakat needs to pay attention the Muzakki satisfaction, transparency and accountability of institutions to increase loyalty Muzakki. In this study, data were collected through a questionnaire with accidental sampling. Respondents in this study were Muzakki or person paying zakat through LAZ Rumah Zakat. The analysis multiple linear regression technique used to solve it. The results showed that both independent variables are Muzakki satisfaction and transparency has positive influence on loyalty Muzakki. This means that the more high satisfaction Muzakki and transparency of the institution, the more high loyalty of Muzakki. On the other hand, the accountability of independent variables have no influence on loyalty Muzakki.Abstrak. Pengaruh Kepuasan Muzakki, Transparansi dan Akuntabilitas Pada Lembaga Amil Zakat Terhadap Loyalitas Muzakki (Studi Persepsi Pada LAZ Rumah Zakat). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh masing-masing variabel yaitu kepuasan muzakki, transparansi dan akuntabilitas pada Lembaga Amil Zakat terhadap loyalitas muzakki. Sebagai organisasi nonprofit, Lembaga Amil Zakat perlu memerhatikan kepuasan para muzakki, transparansi dan akuntabilitas lembaganya untuk meningkatkan loyalitas muzakki. Dalam penelitian ini data dikumpulkan melalui kuesioner dengan accidental sampling. Responden pada penelitian ini adalah muzakki atau orang yang membayarkan zakat melalui LAZ Rumah Zakat. Teknik analisis yang digunakan adalah analisis regersi linear berganda.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa kedua variabel independen yaitu kepuasan muzakki dan transparansi mempunyai pengaruh yang positif terhadap loyalitas muzakki.Artinya semakin tinggi kepuasan muzakki dan transparansi lembaga maka semakin tinggi pula loyalitas muzakki. Sedangkan variabel independen akuntabilitas tidak memiliki pengaruh terhadap loyalitas muzakki.

PARADIGMA PEMBANGUNAN EKONOMI; SATU ANALISIS TINJAUAN ULANG DARI PERSPEKTIF EKONOMI ISLAM

SYAMSURI, SYAMSURI

ISLAMICONOMIC: Jurnal Ekonomi Islam Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (370.927 KB)

Abstract

Abstract. Paradigm of Economic Development; Perspective of Islamic Economics Analysis. The capitalist economic system has failed because the rich exploiting the poor and a socialist economic system justifies the poor seize property of the rich. This problem becomes an important issue for the Muslim economists. Paradigm both the liberal system is exploitative, unfair and treats people not as people. Not pay attention to moral values and akhlaqs, a dichotomy between religion and economics, make man a slave of development and not development for human. This paper is a reflection phenomenon of damage to the environment, social inequality and poverty not been abated. So the liberal economic theories and concepts need to be reviewed by presenting a new economic development concept that comes from revelation that is the Quran and hadith. Finally, from the discussion can be concluded that economic development can not be achieved except with implementing Islamic guidance in everything. And the nature of development must necessarily multi-dimensional, included the gratification of physical and ruh. Economic development must also be able to create a balance between individual interests and the interests of society, kindness balanced and consistent according the rules of Islam. Measure of the success of development if the concept of caliphate, ‘adalah, and tazkiyah can meet all basic needs of every human being and nature conservation around for the long term future generations.Abstrak. Paradigma Pembangunan Ekonomi; Satu Analisis Tinjauan Ulang Dari Perspektif Ekonomi Islam. Kegagalan sistem ekonomi kapitalis yang membenarkan orang kaya mengeksploitasi orang miskin, dan sistem sosialis membenarkan orang miskin merampas harta orang kaya menjadi satu isu penting bagi para ekonom muslim. Paradigma kedua sistem liberal tersebut bersifat eksploitatif dan tidak fair serta memperlakukan manusia bukan sebagai manusia. Mengesampingkan nilai moral dan akhlak, memisahkan antara agama dengan ekonomi, dan menjadikan manusia hamba pembangunan, bukan pembangunan untuk manusia. Makalah ini merupakan satu refleksi fenomena dari kerusakan alam, ketimpangan sosial, kemiskinan yang tidak berkunjung reda. Sehingga teori dan konsep ekonomi liberal perlu ditinjau ulang dengan menyajikan satu konsep pembangunan ekonomi baru yang bersumber dari wahyu yaitu al-Quran maupun hadith. Akhirnya dari pembahasan dapat disimpulkan bahwa pembangunan ekonomi tidak akan dapat dicapai melainkan dengan menjalankan ajaran Islam secara kaffah, dan sifat pembangunan mestilah multi dimensi yang merangkumi pemuasan secara fisik maupun ruh. Termasuk pembangunan ekonomi juga mesti dapat menciptakan keseimbangan antara kepentingan individu dan kepentingan masyarakat, kebaikan yang seimbang dan konsisten sesuai kaedah-kaedah agama Islam. Tolak ukur keberhasilan pembangunan ini apabila tuntutan khilafah, ‘adalah dan tazkiyah dapat memenuhi seluruh keperluan dasar setiap insan dan pelestarian alam sekitar untuk jangka panjang generasi selanjutnya.

RIBA, GHARAR DAN MORAL EKONOMI ISLAM DALAM PERSPEKTIF SEJARAH DAN KOMPARATIF: SATU SOROTAN LITERATUR

MAULIDIZEN, AHMAD

ISLAMICONOMIC: Jurnal Ekonomi Islam Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (353.116 KB)

Abstract

Abstract. Riba, Gharar And Moral Islamic Economics In Historical And Comparative Perspective: A Literature Review. There are several definitions of Islamic banking in the narrow sense, namely interest-free bank. Though the fight against usury command is a cornerstone of Islamic finance but the debate about the significance of the word "Riba" precisely still persistent. since the beginning of the advent of Islam, the majority of scholars has adopted a strict definition of usury, that all forms of interest can be said to be riba. but the debate continually held until now. some opinions reject these definitions and argued that Islam tolerate a reasonable interest rate. Therefore, this article will explain about riba and significance. then will explain about gharar as well as approaches to religion on these issues. On this last point, will be explained on the debate riba and gharar in historical and comparative perspective.Abstrak. Riba, Gharar Dan Moral Eknomi Islam Dalam Perspektif Sejarah dan Komparatif: Satu Sorotan Literatur. Dalam arti sempit definisi dari perbankan syariah yaitu bebas bunga. Meskipun perintah meniadakan riba dijadikan landasan dari keuangan Islam, tapi perdebatan tentang riba justru masih terus-menerus. Sejak awal kedatangan Islam, mayoritas ulama telah mengadopsi definisi yang ketat dari riba, bahwa semua bentuk bunga dapat dikatakan riba. Tetapi perdebatan terus berlangsung hingga sekarang, beberapa pendapat menolak definisi ini dan berpendapat bahwa Islam mentolerir tingkat bunga yang wajar. Oleh karena itu, artikel ini akan menjelaskan tentang riba dan signifikansi. Kemudian akan menjelaskan tentang gharar melihat pendekatan agama pada isu-isu ini. Pada poin terakhir, akan dijelaskan berkaitan riba perdebatan riba dan gharar dalam perspektif sejarah dan komparasi.

EKONOMI ISLAM DALAM KAJIAN FIQH KONTEMPORER; STUDI AWAL TENTANG JAMINAN FIDUSIA

BAIHAQI, WAZIN

ISLAMICONOMIC: Jurnal Ekonomi Islam Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (394.229 KB)

Abstract

Abstract. Preliminary Study on Fiduciary in Fiqh Contemporary of Islamic Economics Studies. The main purpose of Islamic law is for the benefit of the people. The benefit is measured by the jurisprudence usul doctrine known as al kulliyatul kahms or sharia maqashid. One of the goals of Islamic law is hifdz al-mal (to maintain and guarantee of property ownership). The implementation of economic law to regulate all economic activities should be ensured to give benefits to Muslims. Therefore, Islam provides the rules of muamalah in commercing, leasing, fiduciary, etc. Nowadays, the diversity forms of economic transactions increasing rapidly, one of them is fiduciary. Fiduciary is a form of guarantee that adopted by the legal system of law in Indonesia from Netherlands since the colonial era to the present. Fiduciary guarantee begins popular used as a follow-up agreement on financing transactions; this is because the collateral still handling in the guarantor, also provide the convenience for the guarantor to take the advantage from the collateral. This model almost not discussed in the classical fiqh muamalah although some jurists have discussed about it. As the response of the development of economic transactions, it would need to practice more about the fiduciary in the discourse perspective of Islamic economics law. In order to avoid the Maisir, Gharar, Haram, and Riba in Islamic transactions, therefore, the National Sharia Council (DSN) issued the fatwa Number. 68 /DSN-MUI/III/2008 about the Rahn Tasjily that similar to the fiduciary while still complying with the rules of fiqh muamalah.Abstrak. Ekonomi Islam Dalam Kajian Fiqh Kontemporer Studi Awal Tentang Jaminan Fidusia. Studi Awal Tentang Jaminan Fidusia Dalam Kajian Fiqh Kontemporer Ekonomi Islam. tujuan utama hukum dalam Islam adalah untuk kemaslahatan ummat. kemaslahatan tersebut diukur dengan doktrin ushul fiqh yang dikenal dengan sebutan al kulliyatul kahms atau maqashid syariah. Salah satu tujuan dari hukum Islam adalah hifdz al-mal yaitu memelihara dan menjamin kepemilikan harta benda. Pelaksanaan hukum ekonomi untuk mengatur segala kegiatan ekonomi haruslah dapat dipastikan memberi kemanfaatan bagi ummat Islam. Oleh karena itu, Islam memberikan aturan-aturan dalam muamalah seperti jual beli, sewa-menyewa, gadai dan sebagainya. Kini bentuk transaksi ekonomi semakin beragam, salah satunya adalah bentuk jaminan fidusia. Fidusia merupakan bentuk jaminan yang dipraktekkan di Belanda kemudian diadopsi oleh sistem hukum di Indonesia sejak zaman kolonialisme hingga sekarang. Jaminan fidusia semakin populer digunakan sebagai perjanjian ikutan dalam transaksi pembiayaan, karena barang jaminan tetap dalam penguasaan pemberi jaminan sehingga memberi kemudahan bagi pemberi jaminan untuk memanfaatkan barang jaminan. Model jaminan seperti ini tidak banyak dibahas dalam fiqh muamalah klasik walaupun beberapa fuqaha telah membahasnya. Sebagai respon dari perkembangan transaksi ekonomi, perlu kiranya praktek jaminan fidusia ini diangkat dalam wacana perspektif hukum ekonomi Islam. Dengan pertimbangan kemaslahatan ummat agar terhindar dari transaksi ekonomi yang mengandung Maisir, Gharar, Haram, Riba, dan Bathil. Oleh karena itu, Dewan Syari’ah Nasional (DSN) mengeluarkan fatwa Nomor 68/DSN-MUI/III/2008 tentang rahn tasjily yang memiliki bentuk perjanjaian yang hampir sama dengan jaminan fidusia namun tetap memenuhi kaidah-kaidah fiqh muamalah

DEVELOPING ISLAMIC ECONOMICS AS A BODY OF KNOWLEDGE: ISSUES AND CHALLENGES

FURQONI, HAFAS

ISLAMICONOMIC: Jurnal Ekonomi Islam Vol 7, No 2 (2016)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) Universitas Islam Negeri (UIN)

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (269.373 KB)

Abstract

Abstract. Developing Islamic Economics as a Body of Knowledge: Issues and Challenges. Islamic economics is challenged whether it can be called a discipline in the sense of having a clear subject-matter, well-organized body of knowledge, methodology to appraise theories and systematic accumulation of knowledge. Islamic economics is still in the formative stage to be a discipline. Systematization of its body of knowledge is still in the progress. Many fundamental issues need to be seriously addressed by the scientific community for Islamic economics to be a legitimate discipline. This paper attempts to identify several challenges to be answered by Islamic economics scientific community in their effoert to develop a solid body of knowledge of Islamic economics. Embarking from the Islamic worldview that gives foundations in our understanding of economic phenomena, efforts are to be put to develop the conceptual scheme, methodology to appraise and evaluate theory and Islamic ethics framework. The answer to those challenges will determine the scientific direction of Islamic economics, ensurea sustainable growth of knowledge and expedite the speed of the evolutional process of Islamic economics towards becoming a distinct discipline.Abstrak. Mengembangkan Ekonomi Islam sebagai Inti dari Ilmu Pengetahuan: Masalah dan Tantangan. Ekonomi Islam ditantang apakah itu dapat disebut disiplin dalam arti materi yang jelas, inti dari ilmu pengetahuan yang terorganisir dengan baik, metode untuk menilai teori dan akumulasi sistematis ilmu pengetahuan. Ekonomi Islam masih dalam tahap formatif untuk menjadi suatu disiplin. Sistematisasi bod nya pengetahuan masih dalam kemajuan. Banyak masalah mendasar perlu ditangani serius oleh komunitas ilmiah untuk ekonomi Islam menjadi disiplin yang sah. Tulisan ini mencoba untuk mengidentifikasi beberapa tantangan yang harus dijawab oleh ekonomi Islam komunitas ilmiah dalam effoert mereka untuk mengembangkan tubuh yang kuat dari pengetahuan ekonomi Islam. Memulai dari pandangan dunia Islam yang memberikan dasar-dasar dalam pemahaman kita tentang fenomena ekonomi, upaya yang harus dihukum untuk mengembangkan skema konseptual, metodologi untuk menilai dan mengevaluasi kerangka teori dan etika Islam. Jawaban untuk tantangan-tantangan akan menentukan arah ilmiah ekonomi Islam, ensurea pertumbuhan yang berkelanjutan pengetahuan dan mempercepat kecepatan proses evolusional ekonomi Islam menuju menjadi disiplin yang berbeda.