Berita Kedokteran Masyarakat
Vol 34, No 10 (2018)

Aspek budaya, agama, dan medis dari praktik sunat anak perempuan di desa di Jawa Tengah


Hamidah, Siti Muawanah, Daryanti, Menik Sri, Triratnawati, Atik



Article Info

Publish Date
17 Dec 2018

Abstract

Latar belakang: sunat perempuan berjalan karena adanya keyakinan bahwa sunat perempuan adalah bagian ajaran agama islam yang harus dipatuhi. Selain itu sunat perempuan juga dilatarbelakangi oleh adanya keyakinan pada kebudayaan leluhur yang harus dilestarikan. Kebudayaan adalah suatu hasil karya yang diciptakan oleh masyarakat yang dapat dipelajari dan diwariskan kepada generasi selanjutnya secara turun-temurun. Kebudayaan dan masyarakat adalah satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan satu sama lain. Salah satu contoh dari kebudayaan yang ada di masyarakat adalah tradisi sunat. Pengertian sunat secara umum yaitu pemotongan sebagian dari organ kelamin. Sunat ternyata tidak hanya dilaksanakan pada laki-laki saja tetapi juga pada perempuan. Salah satu daerah di Jawa yang masih melaksanakan sunat perempuan yaitu masyarakat Desa Penanggungan Kecamatan Gabus, Pati, Jawa Tengah. Masyarakat Desa Penanggungan mempercayai jika sunat perempuan wajib untuk dilaksanakan seperti pada sunat laki-laki.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui alasan-alasan praktik sirkumsisi anak perempuan serta pertimbangan medis, agama dan budaya dalam mempertahankan praktik sirkumsisi anak perempuan di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati, Jawa Tengah. Metode yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif. Lokasi penelitian berada di Desa Penanggungan, Kecamatan Gabus, Pati, Jawa Tengah. Subyek penelitian adalah masyarakat Desa Penanggungan yang menyunatkan anak perempuannya, bidan setempat dan tokoh agama sebanyak 20 Informan. Pengumpulan data memakai observasi, wawancara mendalam, dan dokumentasi.Validitas data memakai teknik triangulasi. Analisis data memakai fase pengumpulan data kualitatif yang terdiri atas pengumpulan data, reduksi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan. Hasil Penelitian: Praktik sunat anak perempuan yang masih berjalan di Desa Penanggungan sampai sekarang dilatarbelakangi oleh adanya keyakinan bahwa praktik sunat anak perempuan masuk didalam ajaran agama yang harus dipatuhi. Praktik Sunat perempuan sendiri menjadi tradisi yang ada di Desa Penanggungan tetapi tidak dianggap tradisi yang besar seperti sunat pada laki-laki, sehingga dalam pelaksanaannya dirayakan secara terbatas atau sederhana. Proses praktik sunat perempuan berlangsung dalam 3 tahap, yaitu tahap persiapan, tahap pelaksanaan dan tahap sesudah pelaksanaan. Proses pelaksanaan sunat perempuan dilakukan oleh dukun ataupun bidan. Masyarakat masih menjalankan tradisi sunat anak perempuan dikarenakan kegiatan ini dipercaya masyarakat dapat menghilangkan suker (kotoran) anak perempuan yang dibawa anak dari sejak didalam kandungan ibu, selain itu praktik sunat perempuan sudah berjalan dari sejak orangtua mereka terdahulu.  Hal ini sudah melekat sebagai warisan leluhur, dan jika anak cucu tidak melaksanakan sunat maka anak cucu tersebut dianggap tidak berbakti dan tidak menghargai orangtua terdahulu, karena kegiatan sunat anak perempuan ini biasanya di sertakan acara berjanjen dimana berjanjen sendiri adalah kegiatan berdoa bersama untuk mendoakan masa depan anak perempuan yang disunat beserta mendoakan orangtua terdahulu yang sudah meninggal. Sedangkan masyarakat yang memilih bidan untuk melakukan praktik sunat anak perempuan dikarenakan masyarakat yang telah percaya bahwa bidan lebih terampil dalam pelaksanaan sunat anak perempuan dengan ilmu kesehatan yang bidan tempuh selama sekolah dan bidan menggunakan alat modern serta steril untuk menyunat anak perempuan, dan faktor penyebab bertahannya sunat perempuan yaitu faktor kesakralan sunat perempuan, faktor kewajiban sosial untuk melaksanakan sunat perempuan dan faktor fungsional dari sunat perempuan (fungsi ketundukan pada pemuka agama, fungsi kesehatan dan fungsi sosial). Saran yang dapat penulis rekomendasikan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: bagi pemerintah sebaiknya perlu melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai tindakan sunat perempuan yang lebih benar dan melakukan evaluasi terkait dengan sunat perempuan secara berkelanjutan. Sedangkan bagi tenaga medis, perlu meningkatkan pemberdayaan pengetahuan keluarga/orang tua yang mempunyai anak perempuan melalui kegiatan Posyandu dengan memberikan penjelasan terkait kesehatan mengenai pentingnya menjaga kesehatan reproduksi wanita


Copyrights © 2018







Original Source : http://journal.ugm.ac.id/bkm/article/view/38984
Google Scholar : Check in googleschoolar

Journal Info

Abbrev

bkm

Publisher

Subject

Medicine & Pharmacology

Description

Jurnal Berita Kedokteran Masyarakat adalah Jurnal Ilmiah di bidang Kesehatan Masyarakat yang diterbitkan oleh Program Pendidikan Kedokteran Komunitas (PPKK) Fakultas Kedokteran Universitas Gadjah Mada yang bekerja sama dengan Perhimpunan Dokter Kedokteran Komunitas dan Kesehatan Masyarakat Indonesia ...