Jurnal Mentari
Vol 13, No 1 (2010)

KONSELING ISLAMI SEBAGAI PENDEKATAN PARIPURNA DALAM MENJAWAB PERUBAHAN NILAI




Article Info

Publish Date
04 Jan 2013

Abstract

PENDAHULUAN   Allah swt. menciptakan makhluk dengan bentuk yang paling baik dibandingkan dengan makhluk lain. Di dalam dirinya terdapat dua unsur yang tidak dapat dipisahkan antara satu dengan yang lainnya, yaitu unsur jasmani dan rohani. Dengan dua unsur inilah manusia menjalankan tugasnya sebagai khalifah di atas dunia ini, memberdayakan kehidupan untuk kesejahteraan hidupnya di dunia dan akhirat. Di dalam menjalankan fungsinya, manusia menghadapi ujian dan tantangan yang berat. Ujian tersebut dapat berupa nikmat atau musibah. Di dalam pandangan Islam, hal ini merupakan ujian keimanan. Allah swt. berfirman di dalam Alquran surat Alankabut, ayat 2-3, yang artinya “Apakah manusia itu mengira bahwa mereka dibiarkan (saja) mengatakan kami telah beriman, sedangkan mereka tidak diuji lagi.” Masyarakat Aceh pascatsunami patut bersyukur atas nikmat, yaitu banyaknya fasilitas yang dibangun, situasi keamanan kondusif, aktivitas sosial meningkat. Namun, di sisi lain, kita perlu bertanya pada diri kita, sudahkah kita menjadi orang yang bersyukur dan dapat menggunakan nikmat itu dengan baik? Aceh dalam situasi global saat ini, kehidupan semakin kompetitif dan membuka peluang untuk mencapai status dan tingkat kehidupan yang lebih baik. Dampak positif dari kondisi global telah mendorong manusia untuk terus berpikir dan meningkatkan kemampuan. Namun, globalisasi itu juga mempunyai dampak negatif. Syamsu Yusuf[1] dalam bukunya, Landasan Bimbingan dan Konseling mengatakan dampak negatif dari globalisasi adalah (1) keresahan hidup di kalangan masyarakat yang semakin meningkat karena banyaknya konflik, stress, kecemasan, dan frustasi. (2) adanya kecenderungan pelanggaran disiplin, kolusi dan korupsi, makin sulit ditegakkannya ukuran baik, jahat, benar, salah secara tegas. (3) adanya ambisi kelompok yang dapat menimbulkan konflik, tidak saja konflik psikis, tetapi juga konflik fisik. (4) pelarian dari masalah melalui jalan pintas yang bersifat sementara dan adiktif seperti penggunaan obat-obatan terlarang. Agaknya, apabila kita renungkan, di tengah-tengah masyarakat, terjadi pergeseran nilai, yaitu (1)  dari kehidupan yang religius bergeser ke arah kehidupan materialistik. Masyarakat cenderung hidup hedonistik dan konsumtif, mengejar kepuasan, mengabaikan aspek ruhaniyahnya. (2) masyarakat kita dahulu dikenal dengan masyarakat yang cinta kebersamaan, saling tolong menolong, sekarang bergeser ke arah hidup individualistik dan kontrol sosial lemah. (3) pengalaman ritual keagamaan mulai kendor, ada saja di tengah-tengah masyarakat orang yang tidak salat, tidak puasa, bahkan salat jumat pun ditinggalkannya. (4) konflik individu, keluarga, dan sosial meningkat, kekerasan terhadap anak, sehingga ada anak yang kabur dari rumahnya, kekerasan rumah tangga yang mengakibatkan peningkatan perceraiaan, tawuran antar warga desa yang hanya disebabkan oleh maslah kecil. (5) pergaulan bebas merangkak naik. Akibatnya, penyakit aids naik kuantitasnya dari tahun ke tahun, ada kasus bayi dari hasil hubungan gelap yang tak berdosa dibuang begitu saja, serta banyak kasus lainnya di tengah-tengah masyarakat yang sangat meresahkan dan memprihatinkan. Dengan demikian, banyak manusia sekarang ini yang sebenarnya tidak menemukan lagi makna hidupnya dan mengindap gangguan psikis. Ahmad Mubarak, sebagaimana dikutip Erhamwilda, dalam bukunya Konseling Islami, mengatakan bahwa ada beberapa gangguan kejiwaan manusia modern. Gangguan dimaksud adalah: (1) kecemasan, (2) kesepian, (3) kebosanan, (4) perilaku menyimpang, dan (5) psikosomatik.[2]   PEMBAHASAN Sumber Masalah bagi Manusia Sumber-sumber masalah yang dihadapi oleh manusia sebagai faktor penghambat dalam memperoleh kebahagiaan perlu digali. Dalam hal ini, Erhamwilda mengemukakan beberapa faktor yang menjadi sumber masalah bagi manusia.   Jasad/fisik (tubuh dan organ tubuh) Secara biologis, jasad/fisik harus kuat dan sehat, dan gangguan pada salah satu bagian tubuh, anggota tubuh, maupun sistem kimiawi tubuh akan mengakibatkan manusia bermasalah. Manusia yang tidak dapat merawat diri dan menjaga kesehatan tubuhnya akan bermasalah. Masalah-masalah pada fisik akan berpengaruh pada kondisi psikis atau kejiwaan seseorang, meskipun tidak berarti setiap kali orang merasakan gangguan fisik akan merasakan penderitaan secara psikisnya. Sebaliknya, kondisi psikis seseorang akan mempengaruhi fisiknya, dan tidak semua orang yang menderita psikisnya juga menjadi sakit fisiknya. Ada orang yang karena fisiknya merasa amat menderita, dan ada orang meskipun mengalami berbagai kekurangan fisik bisa tetap bahagia. Ini artinya bahwa meskipun keadaan fisik seseorang turut menyumbang pada kebahagiaan seseorang, tetapi tidak berarti keadaan fisik seseorang jadi penentu kebahagiaannya.   Qalbun/Hati Hati yang tidak bersih dan tidak lagi bersih akan menjadi sumber utama munculnya kegelisahan, kekhawatiran, ketidakpuasan, kecemasan, ketakutan, kebosanan, dan sejenisnya yang akan menjadi sumber ketidakbahagiaan pada diri individu. Sebaliknya, hati yang suci yang diberi cahaya oleh Allah akan menjadikan seseorang merasakan ketenangan serta mampu merasakan kebahagiaan. Rasullullah saw. bersabda, “Ingatlah dalam tubuh manusia itu ada segumpal daging. Bila ia baik akan baiklah seluruh tubuh itu, tetapi bila ia rusak, maka akan rusak pulalah tubuh itu seluruhnya. Segumpal daging itu adalah hati (Qalbu).” Dalam hadis lain yang diriwayatkan oleh Ka’bul Ahbar melalui Aisyah r.a., bahwa Nabi Muhammad saw bersabda, “ Manusia itu kedua matanya adalah pemberi petunjuk, kedua telinganya adalah corong, lidahnya adalah juru bahasa, kedua tangannya adalah sayap. Kedua kakinya adalah pos, sedangkan rajanya adalah hati. Apabila raja itu baik, maka baik pula tentara-tentaranya.” Ahmad Fariz sebagaimana  dikutip Erhensible, dalam kitabnya Tazkiyat Annufus, kitab yang berisi pemikiran Imam Ibnu Rajab Alhambali, Alhafiz  Ibnu Qayyim Aljauziyah, dan Imam Alghazali membagi hati manusia dalam tiga katagori, yaitu:   Hati yang sakit (qalbun maridh) Menurut Abdullah Gymnastiar, hati yang sakit adalah ibarat cermin yang tidak terawat, sehingga penuh noktah-noktah (titik-titik) hitam. Akibatnya, setiap benda, sebagus apa pun yang disimpan di depannya akan tampak lain dalam pantulannya. Orang yang menderita (qalbun maridh) akan sulit menilai secara jujur apa pun yang tampak didepannya. Misalnya, ketika seseorang melihat orang lain sukses, timbul iri dan dengki di dalam hatinya atau melihat orang lain memperoleh rezeki, lalu timbul resah, gelisah, dan dapat juga benci di dalam hatinya. Di dalam hati yang sakit (qalbun maridh), di satu sisi terdapat cinta (mahabbah) kepada Allah, yaitu iman, ikhlas, dan tawakkal kepada-Nya, tetapi di sisi lain terdapat rasa cinta pada hawa nafsu, rasa tamak untuk meraih kemenangan dan mementingkan kehidupan dunia. Tentang hal ini, Rasulullah saw bersabda, “Andaikata setan-setan itu tidak mengerubungi hati anak adam, niscaya mereka dapat memandang ke alam malaikat yang ada di langit.“ (H.R Ahmad).   Hati yang mati (qalbun mayyit) Hati yang mati adalah hati yang sepenuhnya dikuasai oleh hawa nafsu sehingga ia terhalang untuk mengenal tuhannya. Hari-hari ia penuh dengan kesombongan terhadap Allah swt. Oleh karena itu, ia sama sekali tidak mau beribadah kepada Allah. Dia tidak mau menjalankan perintah dan semua yang diridhai-Nya. Hati semacam ini dikendalikan oleh hawa nafsu dan keinginannya saja, tanpa peduli keinginannya tersebut, apakah melanggar aturan Allah atau tidak. Ia berhamba kepada selain Allah.   Hati yang selamat (qalbun salim) Orang yang memiliki hati yang selamat hidupnya selalu penuh dengan zikir dan istiqfar. Hati ini diselimuti kecintaan (mahabbah) dan tawakkal kepada Allah serta keikhlasan menjadi hiasan hidupnya. Ia selalu riza terhadap apa yang telah diberikan oleh Allah swt. Dari ketiga macam hati tersebut, jelaslah bahwa sumber masalah-masalah yang dirasakan oleh seseorang adalah kalbu yang sakit dan akan lebih bermasalah jika kalbunnya mati. Keadaan hati ini akan menentukan seluruh sikap dan perilaku seseorang dalam memenuhi kebutuhan hidunya, dan memberi bentuk pada gaya hidup (life style). Orang yang tunduk kepada hawa nafsu dan pemenuhan kebutuhan fisik, misalnya untuk makan, dia akan makan  apa saja dan kapan saja ia ingin makan, tidak peduli halal/haram, bahkan tidak peduli membahayakan fisiknya atau tidak. Karena kuatnya dorongan hawa nafsu, akal dan pikirannya pun tidak berfungsi untuk menyeleksi dan mengatur apa yang akan dimakannya. Demikian juga jika dorongan amarahnya muncul karena sakit hati, ia tidak akan segan-segan melakukan tindakan sadisme. Dalam pemenuhan dorongan keingintahuan manusia yang tunduk pada hawa nafsu, contoh lain adalah jika ingin menyelidiki sesuatu, tidak peduli jika proses dan hasil penyelidikannya merugikan orang banyak. Perilaku yang tunduk pada hawa nafsu akan menyenangkan individu sesaat, tetapi akan membawa masalah pada saat yang lain, baik buat dirinya maupun buat lingkungan/sosialnya.[3]   Konseling Islami Setelah kita melihat perubahan nilai yang ada di tengah-tengah masyarakat dan faktor-faktor yang dapat menjadi masalah bagi manusia, maka diperlukan konseling Islami berdasarkan Alquran dan Assunnah, terlebih lagi di tengah-tengah masyarakat Aceh ini yang kental dengan nilai Islamnya. Konseling ini sangat penting untuk mengubah sikap dan perilaku individu ataupun masyarakat yang dalam praktiknya dilakukan oleh konselor yang propesional.   Pengertian Konseling Islami Secara etimologis, konseling berasal dari kata ‘counsel’ yang berarti nasihat. Dengan demikian, konseling mempunyai arti memberi nasihat.[4] Di dalam Islam, memberi nasihat merupakan suau ajaran yang sangat mendasar. Rasulullah saw. bersabda, “Agama itu adalah nasihat.“[5] Fudhail Ibn ‘Iyadl mengatakan bahwa kemuliaan yang diperoleh oleh generasi kami bukanlah karena salat dan puasa, melainkan karena murah hati, lapang dada, dan suka memberi nasihat. Rasulullah saw. dalam sebuah pernyataannya mengatakan, bahwa salah satu di antara kewajiban sesama umat Islam adalah apabila seorang dimintai nasihat hendaklah ia memberi nasihat.[6] Secara terminologi, M. Hamdani Bakran[7] mengatakan bahwa konseling Islami adalah suatu aktivitas memberi bimbingan, pelajaran dan pedoman kepada individu yang meminta bimbingan (klien) dalam hal bagaimana seharusnya klien dapat mengembangkan potensi akal pikirannya, kejiwaannya, keimanan dan keyakinan serta dapat menanggulangi problematika hidup dan kehidupannya dengan baik dan benar secara mandiri yang berparadigma kepada Alquran dan Assunnah Rasulullah saw. Selanjutnya, ia mengatakan, ciri khas konseling Islam adalah: Berparadigma kepada wahyu dan keteladanan para nabi, rasul dan ahli warisnya.Hukum konselor memberikan konseling kepada klien dan klien yang meminta bimbingan kepada konselor adalah wajib dan suatu keharusan, bahkan merupakan ibadah.Akibat konselor menyimpang dari wahyu dapat berakibat fatal bagi dirinya sendiri maupun konseling/klien  dan Allah saw. menghukum mereka sebagai orang yang mendustakan agama (kafir), melanggar agama dengan sengaja dan terang-terangan (zalim), menganggapnya mudah dan mengabaikan agama (fasik).Sistem konseling Islam dimulai dengan pengarahan kepada kesadaran nurani dengan sebab terjadinya penyimpangan-penyimpangan; kemudian setelah tampak dalam cahaya kesucian dalam dada (qalbu), akal pikiran dan kejiwaan, baru proses pembimbingan dilakukan dengan mengajarkan pesan-pesan Alquran dalam mengantarkan individu kepada perbaikan-perbaikan diri secara esensial dan diiringi dengan (alhikmah), yaitu rahasia–rahasia di balik segala peristiwa yang terjadi di dalam hidup dan kehidupan.Konselor sejati dan utama adalah mereka yang dalam proses konseling selalu di bawah bimbingan atau pimpinan Allah saw. dan Alquran.Prinsip dan Tujuan Konseling IslamiPrinsip konseling Islami Menurut Magid sebagaimana dikutip Syamsu Yusuf[8], mengatakan konseling Islami mempunyai beberapa prinsip, yaitu; Kerahasiaan (confidentiality)Kepercaan (trust)Kecintaan berbuat baik kepada orang lainMengembangkan sikap persaudaraan atau menciptakan sikap damai di antara sesamaMemperhatikan masalah-masalah  kaum MusliminMemiliki kebiasaan untuk mendengarkan yang baikMemahami budaya orang lain Adanya kerja sama antara ulama dan konselorMemiliki kesadaran hokumBertujuan untuk meningkatkan keimanan dan ketakwaan kepada Allah saw.Menjadikan Nabi Muammad saw. sebagai model (uswah hasanah) utama dalam kehidupan, khususnya sikap kasih-sayang kepada orang lain.   Tujuan konseling Islami Berdasarkan makna di atas, layanan konseling Islami secara umum bertujuan agar individu menyadari jati dirinya sebagai hamba Allah dan khalifah di muka bumi, serta mampu mewujudkan amal salih untuk mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.     Secara khusus, konseling Islami bertujuan membantu individu agar memiliki sikap, kesadaran, pemahaman dan perilaku sebagai berikut. Memiliki kesadaran akan hakikat dirinya sebagai makhluk dan hamba Allah swt. Memiliki kesadaran akan fungsi hidupnya di dunia sebagai khalifah. Memahami dan menerima keadaan dirinya sendiri (kelebihan dan kekuranganya) secara sehat.Memiliki kebiasaan yang sehat dalam cara makan, tidur, dan menggunakan waktu luang. Bagi yang sudah berkeluarga seyogyanya menciptakan iklim kehidupan keluarga yang fungsional. Memiliki komitmen diri untuk senantiasa mengamalkan ajaran agama (ibadah) dengan sebaik baiknya, baik yang bersifat (hablun minallah) maupun (hablun minannas).Memiliki sikap dan kebiasaan belajar atau bekerja yang positif.Memahami masalah dan menghadapinya secara wajar, tabah atau sabar.Mampu mengubah persepsi atau minat.Mampu mengambil hikmah dari musibah (masalah) yang dialami.Memahami faktor-faktor yang menyebabkan timbulnya masalah atau stes.Mampu mengontrol emosi dan berusaha meredamnya dengan introspeksi diri Metode konseling Konseling dalam Islam mempunyai beberapa metode yang masing-masing memiliki kekhususan dan pengaruh dalam jiwa. Beberapa konselor dianggap professional apabila bisa memilih metode yang sesuai dengan klien, yaitu metode yang bersumber dari Alquran dan Assunnah, serta mengambil model konseling yang diterapkan Rasullullah saw. Metode-metode tersebut, antara lain, adalah: a)      Konseling dengan metode pembelajaran langsung Hal ini dilakukan dengan cara mengemukakan kesalahan dengan menerangkan penyebabnya. Rasulullah bersabda: “Apabila seseorang hendak makan, maka makanlah dengan tangan kanannya. Sesungguhnya setan makan dengan tangan kirinya.”   Cara mengemukakan kesalahan ini dilakukan dengan pemberian nasihat yang baik dan arahan yang sederhana dan mengena. Dalam sebuah hadis yang diriwayatkan oleh Bukhari dan Muslim dari Abu Salamah, berkata: ”Dahulu ketika aku masih di bawah tanggungan Rasulullah, tanganku selalu berpindah-pindah dari piring yang satu ke piring yang lain ketika aku sedang makan. Lalu, Rasulullah menasihatiku, wahai anak muda, sebutlah nama Allah ketika makan, makan dengan tangan kananmu, dan makanlah apa yang ada di dekatmu.   b)      Konseling dengan metode canda dan celoteh Konseling ini hadir akibat perpaduan antara canda dan pengamatan. Hal ini terlaksana dengan mengoptimalkan pikiran dan membuang kebosanan yang lazim terjadi pada konseling hingga jiwa pun tergerak untuk memahaminya dengan baik.   Diriwayatkan oleh Imam Muslim, bahwa ada seorang laki-laki yang datang kepada Rasulullah agar ia bisa mendapatkan seekor unta sebagai sedekah hingga ia bisa meletakkan dan membawa perhiasan dan pernak-pernik rumahnya di atas punggung unta itu. Lalu, Rasulullah berkata: “Aku akan memberimu anak unta betina. Lalu, laki-laki itu pun berkata:: ‘Ya Rasulullah, apa yang bisa aku lakukan dengan anak unta betina? Rasululllah menjawab: “Bukankah unta tidak akan melahirkan kecuali anak unta?” (H.R. Muslim)   Akan terapi, dengan metode canda dan celoteh ini mempunyai pengaruh yang besar dalam terapi mental seorang klien karena metode ini jauh dari kesan sok menggurui, sok politis, sosialis, dan publikatis.   c)      Konseling dengan metode pukulan dan hukuman Rasulullah bersabda: “Perintahkan anak-anakmu untuk menunaikan salat pada saat mereka berumur tujuh tahun. Pukullah mereka apabila tidak mau mengerjakannya pada umur sepuluh tahun, serta pisahkan tempat tidur antara mereka (lelaki dan perempuan).” (H.R.Muslim).   Gantunglah cambuk di tempat yang bisa terlihat oleh semua anggota keluarga, sesungguhnya ialah yang bisa menyeimbangkan perilaku  mereka.   Konseling dengan metode pukulan telah dipertegas kedudukannya di dalam Islam sebagai langkah terakhir dari semua langkah yang ada. Hal ini sebagaimana disebutkan dalam firman Allah dalam Alquran: “Wanita-wanita yang kamu khawatirkan nusyuznya, maka nasihatilah mereka dan pisahkan mereka dari tempat tidur mereka dan pukullah mereka. Kemudian, jika mereka menaatimu maka janganlah kamu mencari-cari jalan untuk menyusahkannya. Sesubngguhnya Allah maha tinggi lagi maha besar.” ( Q.S. Annisa, 34) Hal ini bukan berarti harus selalu menggunakan kekerasan apabila dirasa bahwa cara yang lebih ringan sudah memadai. Sesungguhnya, cara kekerasan itu bertentangan dengan tabiat manusia. Cara kekerasan baru bisa digunakan apabila tidak ada lagi cara lain yang efektif. Islam menetapkan metode hukuman fisik dalam konsep konseling Islami dengan membuat batasan-batasan yang tidak boleh dilanggar. Batasan-batasan itu adalah: Tidak memukul pada tempat-tempat yang sensitif dan pukulan tidak boleh sampai menyakiti (berbekas). Oleh karena itu, wajah adalah salah satu tempat yang tidak boleh dipukul. ( Imam Muslim, shahih Bukhari)Metode hukuman fisik ini baru bisa diterapkan pada anak yang sudah berumur sepuluh tahun yang diawali dengan hukuman fisik yang ringan. Jumlah pukulan pun berkisar antara satu hingga tiga pukulan, tergantung dari jenis kesalahan yang dibuatnya. Pada saat anak sudah beranjak remaja, maka jumlah pukulan boleh ditambah (Hadis riwayat. Muslim) Hal ini sebagaimana sabda Rasullullah saw.: “Janganlah mencambuk/memukul lebih dari sepuluh cambukan kecuali apabila ia melakukan tindak kejahatan yang telah ditetapkan hukumannya oleh Allah. Tidak selayaknya mendelegasikan hukuman fisik ini kepada orang lain untuk menghindari konflik.   d)               Konseling dengan metode isyarat Dalam hadis riwayat Imam Muslim disebutkan bahwa Abbas berkata kepada Rasullullah, “Aku melihatmu berpaling dari wajah sepupumu. Lalu, Rasulullah bersabda: “Aku  melihat seorang budak wanita yang sudah dewasa dan seorang anak laki-laki yang sudah dewasa. Aku takut setan masuk di antara keduanya.“   e)                Konseling dengan metode suri teladan Pengaruh keteladanan sangat kuat. Oleh karena itu, konselor hendaklah menjadi teladan dalam hal yang baik, naik teladan dalam ibadah, akhlak, dan muamalahnya. Allah berfirman  “Jadilah engkau pemaaf, suruhlah orang mengerjakan yang makruf serta berpalinglah daripada orang-orang yang bodoh.” (Q.S. Ala’raf  199)   “Maka disebabkan rahmat dari Allahlah, kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu.  Oleh karena itu, maafkanlah mereka dalam urusan itu. Kemudian, apabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya.” (Q.S. Ali Imran  159).   f)                 Konseling dengan metode dialog Dalam sebuah hadis, Abdullah Ibnu Al’ash berkata, aku mendengar Rasullullah bersabda: “Apakah kalian mengetahui siapakah orang Muslim itu?” Para sahabat menjawab, “Allah dan Rasulnya yang mengetahui”. Lalu, beliau berkata,” Muslim adalah membuat kaum muslimin lainnya selamat dari tangan dan lisannya.”   Ini adalah metode sangat efektif bagi jiwa manusia. Masih ada beberapa metode lagi seperti pengasingan, celaan, dan hukuman keras lainnya.[9]   g)                Teknik Konseling Konseling merupakan suatu aktivitas yang hidup dan mengharapakan akan lahirnya perubahan-perubahan dan perbaikan-perbaikan yang sangat didambakan oleh konselor dan klien. Untuk mencapai tujuan yang mulia ini, diperlukan beberapa teknik yang memadai. Teknik konseling ada dua: tenik yang bersifat lahir dan teknik yang bersifat batin. Teknik yang bersifat lahir, dengan menggunakan alat yang dapat dilihat, didengar, dan dirasakan oleh klien, yaitu dengan menggunakan tangan dan lisan. Dalam penggunaan tangan tersirat beberapa makna, yaitu menggunakan kekuatan (power) dan otoritas; keinginan, kesungguhan dan usaha yang keras termasuk di dalamnya sentuhan tangan. Untuk yang terakhir ini, dia mengatakan terhadap klien yang mengalami stress atau ketegangan dapat diberikan sedikit pijatan atau tekanan pada urat dan otot yang tegang sehingga akan dapat mengendorkan urat dan otot, khususnya bagian kepala, leher dan pundak.Teknik ini di samping dapat meringankan secara fisik, dapat juga memberikan sugesti dan keyakinan awal, bahwa semua permasalahan yang dihadapi akan dapat terselesaikan. Hal ini didasarkan pada sebuah hadis yang bersumber dari Usman bin Abu Al’ash, bahwasanya ia pernah mengadukan penderitaanya kepada Rasulullah saw. karena ia telah menemukan suatu penyakit di tubuhnya sejak ia masuk Islam. Lalu, Rasulullah bersabda kepadanya ”Letakkanlah tanganmu pada tubuhmu yang merasa sakit, lalu ucapkanlah bismillah sebanyak tiga kali dan berdoalah dengan kalimat aku berlindug dengan Allah dari kejahatan yang aku temui dan yang aku waspadai. ”(H.R.Muslim). Selanjutnya, ia mengatakan,penggunaan tangan bukan saja pada klien yang mengalami penyimpangan perilaku karena gangguan kejiwaan yang disebabkan oleh masalah yang bersifat alamiah pada alam nyata, seperti stress, depresi, narkotik, ringan, alkhohol, tetapi dapat pula digunakan untuk menghilangkan sesuatu yang berasal dari alam transidental seperti pengaruh setan, iblis, atau jin.   Termasuk penggunaan teknik konseling secara lahir adalah penggunaan lisan seperti memberi nasihat, wejangan, himbauan, dan ajakan yang baik dan benar, membaca doa/berdoa dengan lisan, dengan air liur dan hembusan. Aisyah mencerikan bahwa Rasulullah menderita sakit, beliau membaca surat Alfalak dan Annas untuk penyembuhan dirinya dan ia membaca sambil meniupkan. Tatkala sakitnya keras, saya membacakanya, lalu usapkan dengan tangan beliau demi mengharapkan berkahnya.   Adapun teknik konseling yang bersifat batin, yaitu teknik yang hanya dilakukan dalam hati dengan doa dan harapan, namun tidak ada usaha dan upaya yang keras secara konkret seperti dengan menggunakan tangan dan lisan.   Selanjutnya, dikatakan bahwa teknik konseling yang ideal adalah dengan kekuatan keinginan, dan usaha keras serta sungguh- sungguh dan diwujudkan dengan nyata melalui perbuatan, baik dengan menggunakan fungsi tangan dan lisan maupun sikap–sikap yang lain. Tujuan utamanya adalah membimbing dan mengantarkan individu kepada perbaikan dan perkembangan eksistensi diri dan kehidupanya, baik hubungan dengan Tuhan, diri sendiri, lingkungan keluarganya, kerjanya dan lingkungan masyarakat.[10]   PENUTUP A. SimpulanManusia sebagai khalifah mempunyai kewajiban memberdayakan kehidupan ini dengan baik untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan dunia dan akhirat.Situasi global saat ini, tidak terkecuali di Aceh, membuat kehidupan manusia semakin kompetitif dan membuka peluang untuk mencapai status dan tingkat kehidupan yang lebih baik. Di sisi lain situasi global juga mempunyai dampak negatif yang mengakibatkan gangguan kejiwaan seperti kecemasan, kesepian, kebosanan perilaku penyimpangan psikosomatis.Hal ini diperlukan adanya konseling Islami dalam rangka mengubah sikap dan perilaku individu ataupun masyarakat yang dalam praktiknya dilakukan oleh konselor yang professional.Jurusan BPI Fakultas Dakwah merupakan salah satu lembaga pendidikan yang mencetak calon konselor yang professional. Untuk itu, diperlukan kajian terus-menerus tentang kurikulum dan proses belajar-mengajar, serta kerja sama dengan pemerintah atau dinas dan lembaga terkait.   B. Rekomendasi Jurusan BPI hendaknya terus berupaya menemukan jati dirinya mendidik calon-calon sarjana yang professional dalam bidang konseling Islami, terus menelaah kurikulum yang tepat, berkerja sama dengan pihak terkait untuk itu.Ketua jurusan BPI agar membuat terobosan baru, yaitu membuat pendidikan profesi untuk konseling Islami 1 tahun lamanya bagi alumni Jurusan BPI Fakultas Dakwah.Jurusan BPI mengembangkan SDM dengan mengirim dosen untuk studi banding/magang di laboratorium konseling di perguruan tinggi terkait/lembaga swadaya masyarakat yang membuka praktikum konseling.Jurusan BPI hendaknya mengadakan MoU dengan pemerintah atau dinas terkait atau lembaga swasta lainnya untuk magang/praktikum bagi mahasiswa.   Jurusan BPI berkerja sama dengan dinas kesehatan dan dinas sosial untuk menyelanggarakan ulama visit/pendampingan untuk pasien di rumah sakit, panti asuhan atau rumah singgah.Jurusan BPI hendaknya dapat membuka layanan konseling untuk umum. Diharapkan kepada pemerintah/dinas terkait untuk membuka kesempatan kepada lulusan Fakultas Dakwah, khususnya jurusan BPI untuk magang, kemudian bisa direkrut sebagai karyawan.Dimohon kepada pemerintah/dinas terkait untuk memberikan masukan-masukan yang berharga untuk menyempurnakan kurikulum atau proses pendidikan pada jurusan BPI.Dimohon kepada pemerintah/dinas terkait untuk dapat berkerja sama dalam pelatihan, penelitian, dan pengabdian masyarakat yang ada relevansinya dengan jurusan BPI. DAFTAR  PUSTAKA Yusuf, Syamsu dan A. Juntika Nurihsan. 2006. Landasan Bimbingan dan Konseling. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.   Erhamwilda. 2009. Konseling Islami.  Yogyakarta: Graha Ilmu.   Horaby, A.S. Oxford Advance Learners Dictionary of Current English, London: Oxford University Pers.   Al-Dimasyqi, Abu Zakariya Yahya Ibn Syaraf Al-Nawawi. 2000. Riyadul Alsalihin. Beirut: Resalah Publisher.   Ibnu Hajar Al‘asqalani, Bulugh Al-Maram. 2001. Beirut: Muassasah Alrayan.   Adz-Dzaky, M. Hamdani Bakran. 2001. Psikoterapi dan Konseling Islam. Jakarta: Fajar Pustaka Baru.   Azzahrani, Musfir bin Said. Al-Tanjih Wa Al-Irsyad Al-Nafsi (Konseling Terapi), penerjemah Sari Narulita dan Miftahul Jannah. 2005. Jakarta: Gema Insani. [1] Syamsu Yusuf dan A. Juntika Nurihsan, Landasan Bimbingan dan Konseling, 2006, PT Remaja Rosdakarya, Bandung, Cet. 2, hlm. 1.   [2] Erhamwilda, Konseling Islami, 2009, Graha Ilmu, Yogyakarta, Cet. 1, hlm. 53.   [3] Ibid, Hlm 57-60; 72-76. [4] A.S. Horaby, Oxford Advance Learners Dictionary of Current English, London, Oxford University Pers. [5] Abu Zakariya Yahya Ibn Syaraf Al-Nawawi Al-Dimasyqi, Riyadl Al- Shalihin, 1421 H/2000M, Resalah Publisher, Beirut, Libanon, Cet. 3, hlm. 92. [6] Ibnu Hajar Al‘asqalani, Bulugh Al-Maram, 1421/2001, Muassasah Al- Rayan, Beirut, Libanon. [7] M. Hamdani Bakran Adz-Dzaky, Psikoterapi dan Konseling Islam, 2001, Fajar Pustaka Baru, Jakarta, Cet. 1, hlm. 137-138.   [8] Syamsu Yusuf, op. cit., hlm.71.   [9] Musfir bin Said Az-Zahrani, Al-Tanjih Wa Al-Irsyad Al-Nafsi (diterjemahkan, Konseling Terapi), penerjemah Sari Narulita dan Miftahul Jannah, 1426 H/2005M, Gema Insani, Jakarta, Cet.1, hlm. 37-45.   [10] M. Hamdani Bakram Adz-Dzakky, Op. Cit, Hlm. 154-163.  

Copyrights © 2010