KALIMAH
Vol 11, No 2 (2013): (September 2013)

Inquisisi Gereja: Noda Hitam Sejarah Barat

Husaini, Adian ( Universitas Ibnu Khaldun Bogor )



Article Info

Publish Date
10 Sep 2013

Abstract

As one foothold to create perspective in understanding the growing phase in the politics of the Christian West, is reviewing Inquisition. In fact it was an Institutional Church, in its trace of history incised dark history. Inquisition, is not excessive to say as a real symbol of the violence perpetrated the Christian West against resistances that emerged from society; Either from other faiths, as well as Christians who deemed to have been out the Church’s mainstream. However it should be noted, Inquisition has resulted an infiltration adapted to the field of Islamic Studies. Equipped with study of Western history, emerged perspective that seems to generalize the political history situation both of religion. This is certainly a fatal problematic, where the conceptual different of religions –in this case Islam and Christian- turned into something that was not respected. The identity of religions may not be generalized by one angle polemic. It is important to be held an identification problem exclusively to provide a clear solution indeed. In this case, the church provides one; secularization (Sebagai salah satu pijakan untuk mendudukkan perspektif dalam memahami fase yang berkembang dalam politik Barat Kristen, adalah mengkaji Inkuisisi Gereja. Ia nyatanya adalah sebuah Institusi Gereja yang di perjalanannya belah menorehkan sejarah hitam. Inkuisisi, tidaklah berlebihan jikalau dikatakan sebagai simbol nyata kekerasan yang dilakukan Barat Kristen terhadap perlawanan-perlawanan yang muncul dari akar rumput masyarakat; baik dari pemeluk agama lain, maupun pemeluk agama Kristen yang dianggap keluar mainstream. Namun perlu dicatat, bahwasanya ternyata Inquisisi Gereja ini telah menghasilkan sebuah infiltrasi yang teradopsikan kepada bidang Studi Islam (Islamic Studies). Bermodalkan studi sejarah Barat, muncullah perspektif yang terkesan menyamaratakan situasi sejarah politik kedua agama. Hal ini tentunya menjadi sebuah problematika yang fatal, di mana perbedaan konseptual agama-agama –dalam kasus ini Islam dan Kristen- menjadi sesuatu yang tidak diindahkan. Identitas setiap agama tentunya tidak mungkin disamaratakan hanya berdasarkan polemik dari satu sudut. Penting tentunya diadakan sebuah identifikasi masalah secara eksklusif guna mengambil langkah yang jelas. Dalam hal ini, gereja memberikan sebuah solusi; sekularisasi.)

Copyrights © 2013