Arena
Vol 3, No 1 (2012)

PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERBASIS OLAHRAGA


Amrozi Khamidi Himawan Wismanadi,



Article Info

Publish Date
01 Jan 2012

Abstract

  PENYELENGGARAAN PENDIDIKAN BERBASIS OLAHRAGA Amrozi Khamidi Himawan Wismanadi   Abstrac In the implementation of education as a lifetime process of human development, sport has an absolute role in the development and growth of human. Sport canbe a powerful tool for physical andmental formation of the nation. Physical formationaccompanied with sportexercises will strengthenthe human body andits functions. Moreover, school management is a joint effort to form an educational institution and it includes many components such as goals, curriculum, human resources and school infrastructures. Since it involves many components and many people, it is necessary to arrange a good job division, and actually this is the real function of the education management. Sport-based education is the educational institution that specializes in an exploration of the science of sports, whether it is sport schools, special classes for sport or sport faculties and departments. Keywords: educational management, sport-based education   PENDAHULUAN Olahraga merupakan suatu kegiatan yang melibatkan gerak tubuh, relaksasi dan rekreasi serta sarana hiburan yang sangat menyenangkan. Dalam pembelajaran disekolah olahraga memberikan dampak pengiring yang positif bagi peserta didik misalnya ajaran fair play diolahraga mendidik siswa untuk bersikap toleransi, menjunjung asas kemanusiaan dan membantu mengikis kebrutalan siswa yang identik dengan tawuran antar pelajar yang akhir-akhir ini makin marak terjadi. Perilaku disiplin dalam kegiatan olahraga membuat siswa mampu menjadi pribadi yang santun dan menghargai sesama dan juga waktu. Pengelolaan pembinaan olahraga di sekolah yang ditata dengan baik juga bisa menghasilkan prestasi olahraga yang nantinya membawa nama baik sekolah, daerah dan negara dalam pentas olahraga. Olahraga mendidik siswa untuk mampu berfikir dengan lebih jernih, karena dengan berolahraga secara teratur maka peredaran darah di dalam tubuh akan semakin lancar. Peredaran darah yang lancar akan meningkatkan penyerapan oksigen yang lebih banyak ke otak sehingga individu akan mampu berfikir lebih jernih dan lebih baik. Pada zaman dahulu orang berfikir olahraga adalah hal yang sia-sia, tidak menghasilkan dan tidak bisa dijadikan sandaran hidup. Namun seiring perkembangan zaman fakta berkata lain, lewat olahraga banyak orang menjadi sukses, terkenal dan memiliki penghasilan lewat olahraga Amrozi Khamidi adalah  Dosen Penkep.Or FIK UNESA Himawan Wismanadi adalah  Dosen Ikor FIK UNESA   Amrozi Khamidi, Penyelenggaraan Pendidikan Berbasis Olahraga         tersebut. Olahraga dapat mendatangkan penghasilan baik menjadi seorang atlit maupun menjadi pelatih olahraga, sehingga olahraga semakin dianggap perlu untuk didalami maupun dikembangkan. Dapat dikatakan bahwa selain membentuk tubuh yang bugar olahraga juga mampu dijadikan pekerjaan yang dapat diandalkan. Bahkan banyak atlit-atlit yang berprestasi dapat menjadi pegawai negeri sipil karena telah dianggap berjasa dalam mengharumkan daerah dan negaranya.             Keberadaan pendidikan berbasis olahraga di Indonesia saat ini sudah ada, namun masih terbatas jumlahnya dan tidak berkelanjutan. Pendidikan olahraga yang merupakan pendidikan formal baru ada pada tingkat SMA, S1, S2 dan S3. Sedangkan yang merupakan pendidikan nonformal baik berupa sekolah maupun diklat dimulai dari usia dini seperti SSB, SBB, diklat bulutangkis dan beberapa pembinaan oleh klub yang kurang lebih dari usia SD hingga SMA ditambah pembinaan di beberapa PPLP dan PPLM. Dari latar belakang diatas peneliti tertarik untuk mengetahui penyelenggaraan pendidikan berbasis olahraga baik yang formal dan nonformal tersebut. Peneliti tidak meneliti secara mendetail program pembinaan di sekolah-sekolah berbasis olahraga tersebut namun hanya pada aspek penyelenggaraan sekolahnya saja. Hasil penelitian ini nantinya peneliti berharap bisa menghasilkan sumbangan pemahaman realita terhadap penyelenggaraan pendidikan khususnya penyelenggaraan pendidikan berbasis olahraga sehingga di masa selanjutnya dapat terbentuk sistem penyelenggaraan pendidikan olahraga yang berjenjang dan berkelanjutan. Rusli Lutan (2000) menyebutkan ”Bahwa proses latihan meliputi tahapan: 1) perkembangan multilateral, 2) spesialisasi, 3) prestasi puncak. Berikut salah satu contoh tabel tahap-tahap mulai belajar, spesialisasi dan usia puncak berprestasi sebagai pertimbangan dalam mengembangkan pembinaan olahraga.     Cabang Olahraga Usia Permulaan Olahraga Usia Spesialisasi Usia Untuk Prestasi Puncak Atletik 10 - 12 13 – 14 18 -23 Bola basket 7 – 8 10 – 12 20 -25 Tinju 13 – 14 15 – 16 20 – 25 Balap sepeda 14 – 15 16 – 17 21 – 24 Loncat Indah 6 – 7 8 – 10 18 – 22 Anggar 7 – 8 10 – 12 20 – 25 Senam putri 6 – 7 10 – 11 14 – 18 Senam putra 6 – 7 12 – 14 18 – 24 Dayung 12 -14 16 – 18 22 – 24 Sepak bola 10 – 12 11 – 13 18 – 24 Renang 3 – 7 10 – 12 16 – 18 Tenis 6-8 12 – 14 22 – 25 Bola voli 11-12 14 – 15 20 – 25 Angkat besi 11- 13 15 – 16 21 – 28 Gulat 13 – 14 15 – 16 24 – 28 Tabel 1.1   Tahapan proses latihan olahraga  (Rusli Lutan 2000) METODE PENELITIAN Desain Penelitian Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi multi kasus. Pengumpulan data penelitian ini menggunakan tiga macam metode, yaitu (1) observasi; (2) wawancara dan (3) dokumentasi. Proses analisis data dengan deskriptip dilakukan dengan tiga jalur kegiatan yaitu (1) reduksi data atau penyederhanaan data (data reduction); (2) paparan data (display); (3) penarikan kesimpulan (conclusion verifying). Dalam penelitian ini akan diadakan pengecekan keabsahan data yang meliputi kredibilitas, depentabilitas dan konfirmabilitas. Informan dalam penelitian ini yaitu di SSB meliputi pelatih, manajer, pemain dan pengurus PSSI Surabaya. Di SMANOR Sidoarjo meliputi Kepala sekolah, guru olahraga, siswa dan Diknas Pendidikan setempat, sedangkan di perguruan tinggi  meliputi pimpinan perguruan tinggi meliputi Rektor, PR 1, PR 2 PR 3 dan PR 4. Dekan/ Direktur Pasca , Pembantu dekan/ Asdir, Kajur, Kaprodi serta dosen dan karyawan Fakultas Ilmu Keolahragaan UNESA. Adapun langkah yang  dilakukan dalam menganalisis data penelitian ini adalah membaca, mempelajari, menelaah seluruh data. Selanjutnya dilakukan reduksi terhadap data untuk memilah-milahkan data. Selanjutnya dilakukan pengorganisasian data dengan jalan mengklasifikasi, dan mengkategorikan data sesuai dengan masalah penelitian. Proses analisis data dengan deskriptip dilakukan dengan tiga jalur kegiatan yang dilakukan secara bersamaan, yaitu (1) reduksi data atau penyederhanaan data (data reduction), (2) paparan/sajian data (display) dan (3) penarikan kesimpulan atau verifikasi (conclusion verifying). HASIL DAN PEMBAHASAN Hasil Temuan Kasus 1, Kasus 2, Kasus 3 dan Kasus 4 Fokus Pertama:  Karaketeristik pendidikan berbasis olahraga yang meliputi (a)  visi misi sekolah, (b) Iklim Akademik, dan (c) prestasi sekolah.  a)        Visi dan misi sekolah adalah: (1) Berprestasi olahraga, intelektual berlandaskan imtaq dan berkepribadian bangsa, (2) Berperan dalam pendidikan ilmu olahraga, (3) Meningkatkan kualitas SDM, (4) Lulusan yang handal, berkualitas dan kompetitif. b)        Keunikan sekolah adalah: (1)  Pendidikan formal dan non formal, (2) Di bawah PSSI, Diknas dan DIKTI, (3) Teori di kelas dan praktek di lapangan selain SSB tidak ada kelas. c)        Prestasi sekolah adalah: (1) Prestasi Olahraga dan tenaga ahli tingkat nasional dan internasional, (2) Di dibidang olahraga. Fokus Kedua: Karaketeristik kurikulum dan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) yang meliputi: (a) acuan kurikulum, (b) target dan tujuan kurikulum dan (c) metode pembelajaran dan proses kegiatan belajar mengajar (KBM). a.         Acuan kurikulum adalah: (1) Materi yang diajarkan sesuai kurikulum Diknas/ Dikti dan pengalaman pelatih, (2) Acuan kurikulum dari  lembagan pend. umum dan lembaga olahraga. b.        Target dan tujuan kurikulum adalah: (1)  Mencerdaskan dan membtk atlit muda berprestasi dan tenaga ahli dalm ilmu olahraga, (2) Keseimbangan antara materi,latihan dan mampu mengelola dan memimpin program penelitian, (3) Tujuan kurikulum adalah berprestasi di lapangan, berbudi pekerti , dan berkarya dalam ilmu olahraga, (4) Sifat keterbukaan sehingga siswa dapat berprestasi di lapangan dan menentukan program/ arah cita-citanya. c.         Metode pembelajaran dan proses KBM  adalah: (1)  Teori di kelas, secara tutorial, presentasi dan kuliah mandiri dan praktek di lapangan, (2) KBM sekolah formal pada     hari efektif dan SSB di luar jam sekolah formal, (3) Intensitas latihan sesuai jadwal KBM Fokus ketiga:  Profil Sumber Daya Manusia (SDM)  yang meliputi: (a)  perencanaa strategis SDM, (b) pembagian tugas dan (c) keefektifan manajemen SDM. a.         Perencanaan strategis SDM  adalah: (1)  Guru/pelatih min berijazah S1/S2/  S3/profesor/ mantan atlit, (2) Perencanaan strategis yang mengikuti perkembangan zaman dan kemandirian, (3) Tujuannya untuk menghasilkan lulusan yang intelektual dan handal, tenaga ahli dalam ilmu olahraga, (4) Peningkatan SDM melalui studi lanjut, sandwich program, diklat, dan pelatihan. b.        Pembagian tugas  adalah: (1) Ketua/kepala, (2) Koordinator program studi, (3) Guru/dosen/pelatih , (4) Administrasi (1-4 ada di SSB dan SMANOR) dan di S1/S2/S3 UNESA terdapat (5) Direktur/Dekan, (6) Pembantu Direktur/Pembantu Dekan, (7) Ketua Laboratorium. c.         Keefektifan manajemen SDM  adalah: (1) Perencanaan program di SMANOR, FIK dan PPs UNESA tertuang dalam program jangka pendek dan panjang, sedangkan di SSB tidak ada, (2) Manajemen di SMANOR, FIK dan PPs UNESA lebih terstruktur daripada di SSB, (3) Pengawasan dari lembaga pendidikan tidak terdapat di SSB Fokus keempat:  Sarana dan Prasarana Pendidikan  yang meliputi: (a) gedung, (b) laboratorium, (c) lapangan, (d) multi media, (e) media informasi dan komunikasi dan (f) sarana prasarana penunjang pendidikan. a.         Sarana gedung  adalah: (1) SSB tidak memiliki sarana gedung, sedangkan (2) SMANOR, FIK UNESA, S2/S3 Olahraga PPs UNESA memiliki sarana gedung untuk menunjang proses belajar mengajar baik teori maupun praktek. b.        Sarana laboratorium  adalah: (1)  SSB Tidak memiliki sarana laboratorium, sedangkan (2) SMANOR, FIK UNESA, S2/S3 Olahraga PPs UNESA memiliki sarana laboratorium baik laboratorium olahraga dan laboratorium untuk pelajaran umum. c.         Sarana lapangan  adalah: (1)  Lapangan untuk cabang olahraga yang menjadi mata pelajaran, di PPs lebih menekankan pada pendalam materi bukan praktek, sedangkan (2) Status kepemilikan adalah milik sekolah, sewa dan pinjam. d.        Sarana multi media  adalah: (1)  SSB tidak memiliki sarana multi media, sedangkan (2) SMANOR,  FIK UNESA dan S2/S3 Olahraga PPs UNESA memiliki komputer dan LCD sebagai sarana multi media. e.         Sarana informasi dan komunikasi  adalah: (1)  SSB tidak memiliki sarana informasi dan komunikasi, sedangkan (2) Sarana media informasi dan komunikasi yang dimiliki   SMANOR dan S1/S2/S3 UNESA berupa telivisi, telepon, radio, media cetak dan komputer untuk mengakses situs internet. f.         Sarana prasarana penunjang pendidikan  adalah: (1)  Arena dan alat penunjang olahraga yang sesuai dengan mata pelajaran  yang ada dan penunjang proses pendidikan, (2) Status kepemilikan milik sekolah, pribadi dan pemerintah. Hasil penelitian ini dapat disimpulkan sebagai berikut: (1) visi dan misi lembaga pendidikan berbasis olahraga menjadi acuan penciptaan program dan pencapaian tujuan lembaga yang memadukan ilmu umum dan ilmu olahraga, keunikan lembaga menggambarkan perbedaan dengan lembaga pendidikan umumnya, prestasi lembaga mencerminkan keberhasilan yang memadukan antara keberhasilan pendidikan umum dan prestasi olahraga; (2) acuan kurikulum lembaga pendidikan berbasis olahraga adalah dasar yang digunakan dalam pengembangan materi pengajaran yang memadukan kurikulum pelajaran umum dan ilmu olahraga, target dan tujuan kurikulum lembaga merupakan keseimbangan antara keberhasilan pendidikan umum dan olahraga dan pembentukan atlit-atlit berprestasi, metode dan proses kegiatan belajar mengajar (KBM) memadukan antara pemberian materi pelajaran dan praktek olahraga mampu menghasilkan keberhasilan pendidikan umum dan prestasi olahraga; (3) perencanaan strategis sumber daya masyarakat menjadi acuan pengembangan lembaga yang terprogram mampu mensejajarkan lembaga dalam mengikuti tuntutan perubahan zaman, pengelolan pembagian tugas  mengacu pada struktur organisasi diatur oleh lembaga pendidikan yang lebih tinggi mampu menjembatani proses manajemen yang efektif dan dinamis, peningkatan keefektifan manajemen diawali dengan pembagian tugas yang tepat sesuai peningkatan kualitas SDM berdampak pada keberhasilan; (4) pengelolaan sarana gedung dilakukan dengan memperhatikan manfaat serta kebutuhan dalam penyampaian materi dan disesuikan dengan kapasitas siswa serta tuntutan perkembangan lembaga, penerapan pendidikan melalui sarana laboratorium mempermudah siswa menerima materi serta pendalaman kemampuan siswa mengikuti perubahan, pengembangan sarana lapangan mutlak dilakukan khususnya terhadap cabang olahraga yang  ada dan mengikuti rencana pengembangan sekolah, penyediaan dan pengelolaan sarana multi media mempermudah proses belajar mengajar juga menjadikan lulusan yang menguasai dan mengikuti perkembangan teknologi, penyediaan dan pengelolaan sarana media informasi dan komunikasi mempermudah dan menambah wawasan dan menjadikan lulusan yang menguasai dan mengikuti perkembangan informasi, penyediaan dan pengadaan sarana penunjang pendidikan tidak mutlak  milik sekolah tetapi pemanfaatan dan kerjasama dengan pihak lain dapat ditempuh untuk mencapai tujuan lembaga.   PENUTUP            Penelitian ini merekomendasikan: (1) pentingnya penyelenggaraan pendidikan berbasis olahraga diselenggarakan secara formal serta berjenjang dan berkelanjutan; (2) adanya kurikulum yang tepat dan ditunjang SDM yang berkualitas yang sesuai dengan bidang ilmunya mutlak harus ada; (3) peningkatan SDM melalui rekrutmen dan peningkatan kualitas melalui pendidikan lanjut, sandwich, penataran dan pelatihan sangat dibutuhkan; (4) penambahan fasilitas agar semakin lengkap di tunjang perawatan dan optimalisasi penggunaan sarana prasarana sangat diperlukan; (5) pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Negara Pemuda Olahraga memberi dukungan serta memfasilitasi terbentuknya pendidikan berbasis olahraga berjenjang dan berkelanjutan. DAFTAR RUJUKAN   Australian Coaching Council. 1992. Beginning Coaching : Level 1 Coach’s Manual. Canberra : Australian Coaching Council Incorpotated   Bogdan, S. C. & Biklen, S. K. 1982. Qualitative Research For Education. An Introduction to Theory and Methods. Avenue,Boston,Massachusetts.   Kemenegpora. 2006. Penyusunan Kurikulum dan Bahan Ajar Pelatih Olahraga Usia Dini. Kemnegpora   Kosasi, E. 1985. Olahraga Teknik & Program Latihan. Jakarta: Akademika Presindo.   Lutan, R . 2000. Dasar-dasar Kepelatihan. Jakarta: Dep. P & K, Direktorat Jenderal Pendidikan dasar & menengah.   Miles, M. B. dan Hubermen, A.M. 1992. Qualitative Data Analisis. Diterjemahkan oleh Tjejep, R. R. 1992. Analisis data kualitatif. Jakarta: Penerbit Universitas Indonesia   Sajoto M., 1998. Pembinaan kondisi Fisik Dalam Olahraga. Jakarta :             Depdikbud Dirjen Pendidikan Tinggi Proyek Pengembangan Lembaga Pendidikan Tenaga Pendidikan.   Sonhadji, K. 1997. Dasar-dasar Penelitian Kualitatif. Makalah disajikan dalam Seminar Metodologi Penelitian Kuantitatif dan Kualitatif  Program Pasca Sarjana IKIP Malang. Malang 9 September.   Triani, E. 2008. Klub Olahraga di Sekolah Kian Marak. www.sekolahidaman.com 16/12/2009   Weiss, M. R. 2005. Coaching Children to Embrace a "Love of the game". http://coaching.usolympicteam.com. 15/11/2009   Wieczorek, E: 1975 : Masalah Masalah Organisasi Dan manajemen Keolahragaan : Olympic Solidarity Of International Olympic Committee.  


Copyrights © 2012







Original Source : http://ejournal.unesa.ac.id/index.php/jurnal_arena/article/view/5802
Google Scholar : Check in googleschoolar