Prabawa, Made Suryanatha
KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

Mitigasi Spasial terhadap Bencana Sosial di Permukiman Johar Baru, Jakarta Pusat Prabawa, Made Suryanatha; Indriani, Wita; Dewiyanti, Heni
Jurnal Arsitektur ZONASI Vol 2, No 1 (2019): Jurnal Arsitektur Zonasi Februari 2019
Publisher : KBK Peracangan Arsitektur dan Kota Program Studi Arsitektur Fakultas Pendidikan Teknologi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17509/jaz.v2i1.15062

Abstract

Abstract: Sosial disasters is a disaster caused by event involving humans such as sosial conflicts between groups or between communities, and terror. Johar Baru Sub-District is famous as a sub-district with an average population density of 60.433person/km2. These conditions make it included as the most densely populated residential area in Southeast Asia. The population density in it’s settlements was exacerbated by riot action through brawls between youngsters/teenagers gank in Johar Baru Sub-District. This research try to explore and find the actual cause of the brawls that can occur with related studies to it’s surrounding densely urban residential environment. Several literatures were used such as (1) personal space and crowdings; (2)environmental stress, stress, and coping strategy; (3)sosial exclusion; and (4) Causes of Conflicts Theory. The Research is descriptive-qualitative with primary and secondary data analysis. Research shows that the conditions of spatial density in the Johar Baru Settlement is quite dense especially in the Kampung Rawa and Galur Village (Kelurahan). Examples of homes in slums area also indicate the cause of brawl can occur. Identification of hangouts and brawls also shows brawls as sosial disasters that need to be followed up. Spatial mitigation as a solution is carried out with the principle of mobile and flexible. The principle was formulated in the form of a mobile architecture and vertical garden as a solution of spatial utilization in the homes of residents who can reduce the intensity of brawls by presenting useful new activities.  Keywords: Population Density; Brawl; Spatial Mitigation Abstrak: Bencana tidak hanya sebatas bencana alam, namun juga terdapat bencana yang disebabkan oleh manusia. Salah satu bencana yang disebabkan oleh manusia adalah bencana sosial. Bencana sosial adalah bencana yang disebabkan oleh peristiwa yang melibatkan manusia seperti konflik sosial antar kelompok atau antar komunitas masyarakat, dan terror. Kecamatan Johar Baru terkenal sebagai kecamatan dengan tingkat kepadatan penduduk rata-rata 60.433Jiwa/Km2. Kondisi tersebut membuatnya termasuk sebagai wilayah permukiman terpadat se-Asia Tenggara. Kepadatan penduduk dalam permukimannya tersebut diperparah dengan terkenalnya Johar Baru sebagai wilayah Tawuran antar geng Remaja. Penelitian ini mencoba menggali penyebab tawuran tersebut dapat terjadi terkait dengan kondisi densitas spasial yang tinggi, disusul dengan memberi solusi mitigasi dalam bentuk mitigasi spasial berbasis ilmu arsitektur. Didalam menggali isu penelitian ini, terdapat beberapa literatur yang dipergunakan seperti (1) personal space & crowding; (2) tekanan lingkungan, stress dan coping strategy; (3)eksklusi sosial,; dan (4)teori penyebab konflik. Penelitian bersifat deskriptif-kualitatif dengan metode analisa data primer dan sekunder. Penelitian menunjukkan bahwa kondisi densitas spasial di Permukiman Johar Baru cukup padat khususnya pada Kelurahan Kampung Rawa dan Galur. Contoh rumah tinggal pada kawasan kumuh juga mengindikasikan sebab dari tawuran dapat terjadi. Identifikasi titik-titik nongkrong serta tawuran juga memperlihatkan tawuran sebagai bencana sosial yang perlu untuk ditindaklanjuti. Mitigasi spasial sebagai solusi dilakukan dengan prinsip mobile dan fleksibel. Prinsip tersebut digubah dalam bentuk mobile architecture dan vertical garden sebagai solusi pemanfaatan spasial didalam lingkungan rumah warga yang dapat mengurangi itensitas tawuran dengan menghadirkan kegiatan baru bermanfaatKata Kunci: Kepadatan Penduduk; Tawuran; Mitigasi Spasial
Fenomena Ruang Saling Berbagi Bale Banjar Titih Sebagai Model Ruang Bermukim Perkotaan di Denpasar Prabawa, Made Suryanatha; Pratiwi, Ni Made Widya
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol 6, No 2 (2018): Desember 2019
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1562.778 KB) | DOI: 10.22225/undagi.6.2.1026.75-81

Abstract

Bale Banjar Titih is a Bale Banjar standing in the trade center of Denpasar that besides containing the traditional activities of Banjar itself, also contains a busy market activities. The research problems are to uncover the existence of cohabitation space of Bale Banjar Titih, a traditional space that mix with a busy commercial area in Denpasar. Research questions are to ask what kind of aspects that influence the space of Bale Banjar so that it can transform to be a multifunctional space (tradition and economy)? how Banjar that bears traditional norm could mix up with modern urban commercial activities?. To answer the questions, the method applies qualitative research. It seeks to uncover cohabitation space phenomenon of actors involved in Bale Banjar Titih. Findings have shown that spatial problems can be solved through Spatial solutions that can be achieved through establishment of relationships between Banjar residents with merchants by the implementation of Tri Hita Karana (collaborate to achieve harmonious life). Cohabitation space in Bale Banjar Titih can be achieved through profit aspects of cooperation, be it financially or in terms of employment opportunities offered. Tri Hita Karana as traditional norms of Balinese people-between the residents and outsiders of the merchants, play important roles towards consensus regarding the spatial issues where developing urban activities could prosper. Fokus riset arsitektural ini adalah munculnya ruang saling berbagi (co-habitation space) pada Bale Banjar Titih. Bale Banjar berbaur langsung dengan kehidupan urban Kota Denpasar, didominasi oleh kegiatan perdagangan yang berdiri di tengah pusat perdagangan Denpasar (Pasar Badung dan Pasar Kumbasari). Persoalan yang akan diteliti adalah bagaimana Bale Banjar Titih dapat memiliki ruang saling berbagi didalam ruang kehidupan sosial (adat istiadat) warga banjar yang dapat bersinergi dengan kehidupan perekonomian (pedagang). Riset arsitektural bertujuan mengungkap fenomena ruang saling berbagi Bale Banjar Titih tersebut baik secara fisik dan non-fisik ini melalui metoda penelitian kualitatif. Pendekatan Grounded Theory dipergunakan terutama untuk mengungkap lebih dalam mengenai faktor-faktor yang memunculkan ruang saling berbagi pada setting lokasi Bale Banjar Titih. Fokus penelitian ada pada aspek metafisiknya (nilai-nilai interaksi ruang) dianalisa dengan teori tentang: keterikatan tempat; mata pencaharian; teritori spasial; hubungan antara teritori dan setting perkotaan; serta penelitian-penelitian terdahulu. Dari para aktor yang terlibat (sosio-kultural dan ekonomi urban). Pengumpulan data dilakukan melalui observasi dan wawancara. Temuan penelitian ini adalah melalui Makna Bale Banjar, Keterikatan tempat, mata pencaharian, dan teritori, hubungan timbal balik keuntungan dan rasa toleransi dapat terwujud antar aktor ruang, hal ini menjadikan ruang saling berbagi dapat terselenggara dengan nyaman dan tertib pada Bale Banjar Titih.
FENOMENA KOTADESASI: WANGAN DAN BLUMBANG PADA PERMUKIMAN MENDUT, JAWA TENGAH, INDONESIA Pradnyaswari Anasta Putri, Ni Putu Ratih; Prabawa, Made Suryanatha
Undagi : Jurnal Ilmiah Jurusan Arsitektur Universitas Warmadewa Vol 5, No 2 (2017): Desember, 2017
Publisher : Universitas Warmadewa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (9265.878 KB) | DOI: 10.22225/undagi.5.2.404.1-8

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini membahas mengenai bagaimana ruang sosial-komunal wangan dan blumbang dapat bertahan dalam urbanisme permukiman Mendut. Lokus penelitian yakni permukiman Mendut terletak pada wilayah bagian Kelurahan Mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. Kecamatan Mungkid terletak di wilayah selatan Kabupaten Magelang. Kelurahan Mendut terletak di wilayah selatan Kecamatan Mungkid. Kecamatan Mungkid merupakan pusat pemerintahan Kabupaten Magelang. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan pendekatan penelitian yakni grounded theory. Data – data dikumpulkan dengan pengamatan, ilustrasi, dan data dokumen-dokumen. Analisis data dilakukan dengan zigzag process. Zigzag process adalah proses menuju lapangan kemudian mengumpulkan data, dan dianalisa, proses ini terus menerus dijalankan hingga menemukan data paling tepat untuk menjawab pertanyaan penelitian. Dalam penelitian ini disimpulkan bahwa arus perkembangan Permukiman tidak menjadi sesuatu yang dapat menghilangkan nilai budaya wangan dan blumbang akibat dari warga yang menganggap wangan sebagai norma bermukim, sehingga keberadaan blumbang juga tetap terjaga. Terjaganya blumbang juga adanya kebutuhan hidup dan masih terjaganya nilai interaksi. Melalui wangan dan blumbang tersebut menandakan adanya nilai budaya permukiman Mendut yang dipertahankan walaupun lingkungan permukiman telah banyak melalui perbaikan-perbaikan akibat urbanisme. Fenomena Kotadesasi Permukiman Mendut kental tergambarkan pada nilai ruang pada Wangan dan Blumbang yang ada bagi warga permukiman mendut. Kata kunci: Wangan, Blumbang, Urbanisme ABSTRACT This research focused on how social-communal space of wangan and blumbang can exist in the Mendut settlement that got strucked by urbanism. Research located in Keluarahan mendut, Kecamatan Mungkid, Kabupaten Magelang. This research using qualitative approach by grounded theory methods. All Data gathered by observation, illustration, and documents data. Data analysis done by zigzag process. Zigzag process is go to the research location process and then collecting data, and then anlyze it, this cycle of process must be done until got all data that most connected to the research issues. This research findings have gone through conclusion that urbanism in Mendut Settlement do not banishing cultural value of Wangan and Blumbang, because people who live there make wangan as their norm of settlement, so that makes wangan existence keep exist until now. The existence of blumbang on the condition of urbanism gives a mark that there is still a social value of Mendut Settlement that kept by people although urbanism already on the site. There is Kotadesasi Phenomenon that happens through how people kept their environment and preserve their living value that exist until now and can’t banished by urbanism. Keywords: Wangan, Blumbang, Urbanism