This Author published in this journals
All Journal ALQALAM Al-Ahkam
Karomah, Atu
Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

JAWARA DAN BUDAYA KEKERASAN PADA MASYARAKAT BANTEN Karomah, Atu
ALQALAM Vol 25 No 3 (2008): September - December 2008
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1339.858 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v25i3.1689

Abstract

]awara merupakan salah satu dari entitas dari masyarakat Banten yang cukup terkenal Ia dikenal bukan saja karena pengaruh kharismanya yang melewati batas-batas geografis, tetapi juga budaya kekerasan yang melekat padanya. Sehingga ia dikenal sebagai subculture of violence dalam masyarakat Banten. Sebagai subkultur kekerasan, jawara memiliki motif-motif tertentu dalam melakukan kekerasan. Mereka pun mengembangkan gaya bahasa atau tutur kata yang khas, yang terkesan sangat kasar (sompra) dan penampilan diri yang berbeda dari mayoritas masyarakat, seperti berpakaian hitam dan memakai senjata golok.Kekerasan yang dilakukan jawara pada umumnya dimaknai oleh yang bersangkutan sebagai upaya pembelaan terhadap orangyang dipandang melakukan pelecehan harga diri yang menyebabkan yang bersangkutan merasa malu. Pelecehan terhadap harga diri dinterpretasikan oleh kalangan jawara sebagai pelecehan terhadap kapasitas dan kapabilitas diri dan ini sangat terkait dengan peran dan status sosial di masyarakat. Karena itu pelecehan terhadap harga diri dipahami sebagai pelecehan terhadap peran dan statusnya di masyarakat.Batasan tentang pelecehan harga diri itu memang tidak tegas karena itu sering dinterpretasikan secara suryektif oleh pelakunya. Sehingga yang menyebabkan kasus pelecehan harga diri itu berbagai macam seperti tuduhan pencurian, gangguan terhadap istri atau pacar, balas dendam atau kekalahan dalam politik desa atau persaingan bisnis. Dalam konteks ini kekerasan yang dilakukan jawara memang sangat terkait denngan "konstruksi maskulinitas" dalam budaya masyarakat.Kekerasan yang dilakukan jawara selain sebagai sarana untuk mempertahankan harga diri, kekerasan juga dipandang sebagai alat untuk meraih posisi atau status sosial lebih tinggi sebagai seorang jawara yang disegani dalam lingkungan komunitas mereka. Sehingga mereka biasa menjadi pimpinan jawara (bapak buah) denga memiliki sejumlah pengikut (anak buah). Bahkan dengan posisi dan status sosial ini mereka pula dapat meraih kedudukan formal dalam lingkuugan institusi formal seperti menjadi jaro, kepala desa, bahkan untuk menjadi bupati atau wali kota.Kata Kunci: Jawara, Budaya Kekerasan, Banten
FAKTOR-FAKTOR KEMUNCULAN GERAKAN RADIKAL DALAM ISLAM KAROMAH, ATU
ALQALAM Vol 28 No 3 (2011): September-December 2011
Publisher : Center for Research and Community Service of UIN Sultan Maulana Hasanuddin Banten-Serang City-Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (817.86 KB) | DOI: 10.32678/alqalam.v28i3.888

Abstract

This article focuses on the causes of the radicalism of religions which sometimes perform violence. The modern thinkers believe that religion will fade and loss its role in a society when the society develops to be a modern society. They also believe that the advancement of various sciences will make religion as merely the past inheritance of human being that will be lost along with the development of modernization. Therefore, the social scientist generally believe that 'the death of religion' from human life all over the world is marking the time. The emergence of radicalism of religion in the social and political life of contemporary society is caused by various closely related factors. The radicalism of religion is indicated by the attitude of several adherents who perform denial to human values by performing harshness and terrorism. The adherents of a religion frequentfy assume that they are the only right ones without any compromise, non-history, and anti-dialogues in understanding the holy texts so that they are labeled as fundamentalists, extremists, radicalists, and so on. There are many factors causing emergence of radicalism of religion such as politics, social, economy, culture and theology. Key Words: Radicalism, crisis of modernity, fundamentalism  
PERLINDUNGAN HAK-HAK TAHANAN DALAM PANDANGAN KUHAP Karomah, Atu
Al-Ahkam Vol 13 No 2 (2017): Juli-Desember 2017
Publisher : Faculty of Sharia State Islamic University of Sultan Maulana Hasanuddin Banten

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.498 KB) | DOI: 10.32678/ajh.v13i2.1763

Abstract

Penahanan merupakan salah satu bentuk tindakan penghentian kemerdekaan seseorang, yang dalam penerapannya seringkali berbenturan dengan hak asasi manusia. Sering kali terjadi tindakan sewenang-wenang oleh penyidik dalam melakukan upaya paksa dilakukan tanpa prosedur yang tepat sehingga tersangka pelaku tindak pidana seperti sudah divonis dihukum bersalah sebelum dinyatakan bersalah berdasarkan kekuatan hukum yang tetap. Pemeriksaan tersangka yang dilakukan oleh penyidik (polisi), seringkali dilakukan dengan tindakan kekerasan dan intimidasi serta bentuk-bentuk pemaksaan lainnya hanya untuk mendapatkan keterangan dan bukti keterlibatan tersangka dalam sebuah perkara. Tulisan ini berusaha mengelaborasi tentang pandangan Hak Asasi Manusia (HAM) dalam memandang penahanan yang dilakukan oleh penyedik (penegak hukum). Kata Kunci: Hak Asasi Manusia, hak tahanan, hukum pidana.