p-Index From 2014 - 2019
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal CAKRAWALA
Rosmaya, Ina
Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

PERSEPSI ORANG TUA TERHADAP MAKANAN JAJANAN ANAK-ANAK SEKOLAH DASAR DALAM PERSPEKTIF HUKUM

CAKRAWALA Vol 9, No 2: Desember 2015
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3660.691 KB)

Abstract

Makanan maupun minuman yang menjadi jajanan di sekolah harus mendapat perhatian dari orang tua dan guru. Pihak lain, guru mengetahui fenomena tersebut jika jajanan dijual di sekolah tidak aman. Bahkan orang tua pun mengakui mengetahui bahayanya, pernah terjadi gangguan kesehatan pada anaknya setelah mengkonsumsi salah satu makanan yang dijual pedangan di lingkungan sekolah. Sementara itu payung hukum yang mengatur tentang penjualan makanan anak-anak sekolah dasar dapat memberikan persepsi yang membuat para orang tua terlindungi dari bahaya tersebut atau tidak, karena akan menentukan sikap orang tua menghadapi kebutuhan anak-anak akan jajanan. Menggunakan metode deskriptif kualitatif, dengan metode wawancara yang bersifat terbuka, maka peneliti hendak menggambarkan persepsi orang tua dalam perspektif hukum tehadap jajanan anak-anak sekolah dasar. Baik ditinjau dari faktor-faktor atensi, ekspektasi serta memori yang mempengaruhi persepsi mereka dalam perspektif hukum terhadap jajanan anak sekolah dasar sampai sanksi-sanksi yang harus diberikan kepada penjual. Penelitian ini disampaikan bahwa faktor-faktor yang membentuk persepsi orang tua tehadap jajanan di sekolah dasar dilihat dalam perspektif hukum adalah faktor dari kewenangan pihak pimpinan atau kepala sekolah yang berada disekolah dan selain adalah faktor media massa yang mempengaruhi persepsi orang tua siswa sekolah dasar terhadap jajanan. Menurut orang tua murid sekolah dasar bahwa pimpinan atau kepala sekolah merupakan penentu pembuat keputusan segala sesuatu yang berkaitan demi kebaikan kehidupan di lingkungan sekolah. Sedangkan media massa merupakan sumber informasi bagi pengetahuan merekan untuk mengetahui peraturan-peraturan atau hukum berlaku dalam hubungan jajanan yang dikonsumsi msyarakat terutama murid sekolah dasar.

PERSEPSI MAHASISWA TERHADAP RADIKAL-TERORISME MELALUI WEBSITE DAN SOCIAL MEDIA

CAKRAWALA Vol 10, No 2: Desember 2016
Publisher : Badan Penelitian dan Pengembangan Provinsi Jawa Timur

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (876.228 KB)

Abstract

Terjadinya tindak pidana terorisme tidak dapat dikatakan dapat muncul dengan sendirinya, melainkan ada faktor lain yang dapat mendorong munculnya tindak pidana terorisme seperti perkembangan situasi dunia global mempunyai pengaruh yang sangat besar. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi seperti media sosial rentan dimanfaatkan untuk aksi terorisme, sehingga masyarakat terutama generasi muda agar mewaspadai penggunaan media sosial tersebut. Para tokoh masyarakat dan ahli komunikasi mewaspadai kaum muda termasuk kalangan mahasiswa sebagai orang muda yang rentan terhadap pengaruh tindak pidana terorisme. Hal ini disebabkan karena tugas mahasiswa sebagaimana kalangan kampus yang tak mungkin tidak akrab dengan dunia teknologi komunikasi yang seringkali dipergunakan sebagai sarana pembelajaran di Perguruan Tinggi. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan metode wawancara mendalam sesuai pedoman wawancara yang bersifat terbuka (in depth interview guide). Peneliti hendak menggambarkan persepsi mahasiswa terhadap radikal-terorisme melalui penggunaan website dan media sosial, baik ditinjau dari faktor-faktor atensi, ekpektasi, serta memori yang mempengaruhi persepsi mereka. Dari penelitian ini dapat disampaikan bahwa faktor-faktor yang membentuk presepsi mahasiswa terhadap radikal terorisme melalui website dan sosial media adalah (1) Melihat dan mengamati secara terus menerus dan berulang-ulang maka tidak menutup kemungkinan akan terpengaruh, apalagi jika mahasiswa tersebut sudah memiliki dasar-dasar/pengetahuan tentang radikalisme maka ia bisa mengembangkannya, (2) Lingkungan keluarga yang tidak dapat memberi kenyamanan, sehinggga perasaaannya secara mental tidak terkontrol dengan baik. (3) Apalagi didorong dengan pemahaman agama yang salah, orang tersebut tidak dapat mencerna dengan baik apa yang dibaca, didengar dan dilihat di website/ media sosial sehingga bisa saja terpengaruh.