Kusumawati, Widya
Indonesian Journal of Nutritional Epidemiology and Reproductive

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Efek Senam Hamil Terhadap Stres Inkontinensia Urin (SIU) Pada Ibu Hamil Di Wilayah Kerja Puskesmas Tiron Kusumawati, Widya; Jayanti, Yunda Dwi
coba Vol 7 No 1 (2018): Nopember 2018
Publisher : Akademi Keperawatan Dharma Husada Kediri

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (255.169 KB) | DOI: 10.32831/jik.v7i1.183

Abstract

Kehamilan membawa begitu banyak perubahan pada tubuh seorang wanita sehingga tidak mengejutkan bila timbul beberapa ketidaknyamanan selama kehamilan. Salah satu ketidaknyamanan yang sering timbul pada kehamilan adalah stres inkontinensia urin (SIU). Stres inkontinensia urin (SIU) merupakan jenis inkontinensia yang paling sering ditemukan, dengan angka prevalensi sekitar 14,7-52%. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui efek senam hamil terhadap stres inkontinensia urin (SIU) pada kehamilan. Penelitian ini merupakan penelitian komparasi dengan pendekatan cross sectional. Lokasi penelitian di Puskesmas Tiron pada bulan April - Juli 2018. Sampel penelitian sebanyak 30 responden kelompok senam dan 30 responden kelompok kontrol dengan menggunakan tehnik purposive sampling. Data stres inkontinensia urin pada kehamilan diperoleh melalui instrumen kuesioner. Analisa data menggunakan uji Wilcoxon Man-Whitney U Test dengan tingkat kemaknaan α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari 30 responden kelompok senam, terdapat 16 responden (53,33%) mengalami stres inkontinensia urin ringan, dan terdapat 3 responden (10%) mengalami stres inkontinensia urin berat. Hasil analisa diperoleh nilai p = 0,018, yang artinya ada efek yang signifikan senam hamil terhadap stres inkontinensia urin (SIU) pada kehamilan. Hasil penelitian ini dapat dijadikan oleh tenaga kesehatan dalam memberikan pelayanan dan konseling kehamilan untuk membantu mengurangi keluhan stres inkontinensia urin (SIU) pada kehamilan.
The Correlation of Preeclampsia between Low Birth Weight (LBW) with Maternity (In RS Aura Syifa Kediri in March 2016) Kusumawati, Widya; Kartikasari, Yanuarista
Indonesian Journal of Nutritional Epidemiology and Reproductive Vol 1 No `1 (2018)
Publisher : Indonesian Journal of Nutritional Epidemiology and Reproductive

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Preeclampsia and eclampsia is still a major cause of maternal mortality and perinatal mortality were high. Preeclampsia is dangerous because it can affect all organs of the body of pregnant women. The disorder is also adversely affect the fetus, because it can cause the fetus of oxygen and nutrients. Lack of nutrients and oxygen obtained cause fetal growth retardation and lead to birth with low birth weight (LBW). The purpose of this study was to determine the relationship of preeclampsia with LBW in Aura Shifa Hospital Kediri. This research used a correlational study design with a retrospective approach. The research was conducted on April 11 - 16 May 2016. The population in this study were all birth mothers in RSIA Aura Syifa in March 2016, with a total sampling technique obtained a sample of 291 respondents. The variables in this study were the independent variables was birth mothers with preeclampsia, and the dependent variable was LBW. Data collection using checklist through medical record, data processing include editing, coding, scoring, tabulating, and analyzed using Fisher's Exact Test with α 0,05. Results showed that incidence of preeclampsia in Aura Shifa Hospital Kediri March 2016 were 22 cases (7.6%) and the incidence of LBW in Aura Shifa Hospital Kediri March 2016 there were 38 cases (13.0%). Fisher's Exact Test Results Test results obtained significance of 0.000 which is smaller than (α). From the results of this study concluded that there is a relationship of preeclampsia with LBW in Aura Shifa Hospital Kediri. Strong synergy between health workers and pregnant women is expected to detect early pregnancy complications, especially preeclampsia, so that health workers will be faster in handling it.
HUBUNGAN PERSALINAN SEKSIO SESAREA DENGAN KEJADIAN ASFIKSIA NEONATORUM PADA IBU BERSALIN (Di RS Aura Syifa Kabupaten Kediri Bulan Maret Tahun 2016) KUSUMAWATI, WIDYA; DWI JAYANTI, LELY
JURNAL KEBIDANAN Vol 5 No 2 (2016): JURNAL KEBIDANAN
Publisher : AKADEMI KEBIDANAN DHARMA HUSADA KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.134 KB)

Abstract

Persalinan seksio sesarea adalah salah satu penyebab kematian maternal dan merupakan faktor resiko terjadinya asfiksia neonatorum.Asfiksia terjadi tanpa didahului gejala dan tanda gawat janin, hal ini disebabkan karena bayi prematur, persalinan dengan tindakan, salah satunya adalah seksio sesarea.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan persalinan seksio sesarea dengan kejadian asfiksia neonatorum. Rancangan penelitian ini adalah korelasional dengan pendekatan retrospektif.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin dan bayi yang dilahirkan sebanyak 291 responden dengan jumlah sampel 291 responden. Teknik pengambilan sampel adalah total sampling. Variabel independen dalam penelitian ini adalah persalinan seksio sesarea dan variabel dependen adalah asfiksia neonatorum. Pengumpulan data dengan rekam medik bulan Maret tahun 2016, pengolahan data dengan menggunakan editing, coding, scoring, dan tabulating. Kemudian dianalisa dengan uji statistik chi kuadrat.      Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat persalinan seksio sesarea sebanyak 118 ibu bersalin (40,5%) dan kasus bayi dengan asfiksia sebanyak 109 bayi (37,4%). Dari uji chi square didapatkan ρ value = 0,587 (dengan derajat kemaknaan ρ > 0,05) sehingga ρ value = 0,587 > 0,05, maka H1 ditolak artinya dapat disimpulkan tidak ada hubungan antara persalinan seksio sesarea dengan kejadian asfiksia neonatorum pada ibu bersalin di RS Aura Syifa Kabupaten Kediri. Petugas kesehatan, khususnya bidan sebagai ujung tombak pada pelayanan kesehatan ibu dan anak, harus dapat mendeteksi secara dini adanya komplikasi dalam kehamilan dengan cara melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin sehingga dapat mendeteksi secara dini adanya kasus gawat darurat sehingga dapat menurunkan angka kematian ibu dan bayi.      
HUBUNGAN PREEKLAMPSIA DENGAN KEJADIAN PERSALINAN PRETERM PADA IBU BERSALIN (Di RS Aura Syifa Kabupaten Kediri Bulan Maret Tahun 2016) kusumawati, widya; Krisnawati, Lilis
JURNAL KEBIDANAN Vol 6 No 1 (2017): JURNAL KEBIDANAN
Publisher : AKADEMI KEBIDANAN DHARMA HUSADA KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.503 KB)

Abstract

Kehamilan resiko tinggi memberikan dampak besar terhadap Angka Kematian Ibu (AKI), salah satunya adalah preeklampsia. Dampak yang dapat ditimbulkan dari preeklampsia pada ibu yaitu kelahiran prematur, oliguria, kematian, sedangkan dampak pada bayi yaitu pertumbuhan janin terhambat, oligohidramnion, dapat pula meningkatkan morbiditas dan mortalitas.Persalinan preterm menyebabkan kematian sampai 28% bayi baru lahir.Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui hubungan preeklampsia dengan kejadian persalinan preterm. Rancangan penelitian ini adalah korelasi dengan pendekatan retrospektif.Populasi penelitian ini adalah seluruh ibu bersalin sebanyak 291 responden.Teknik penelitian menggunakan teknik total sampling, dimana seluruh populasi dijadikan sampel.Variabel independen dalam penelitian ini adalah ibu bersalin dengan preeklampsia dan variabel dependent adalah persalinan preterm. Pengumpulan data menggunakan rekam medik pada bulan Maret tahun 2016, pengolahan data dengan menggunakan editing, coding, scoring, dan tabulating. Kemudian dianalisis dengan menggunakan uji statistik Chi kuadrat dengan taraf signifikan 0,05. Hasil penelitian ini menunjukkan kejadian preeklampsia sebanyak 22 responden (7,6%) dan yang mengalami persalinan preterm sebanyak 27 responden (9,3%). Berdasarkan perhitungan dengan SPSS Versi 22 didapatkan p = 0,975 (p > 0,05). Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa H1 ditolak, yang artinya tidak ada hubungan antara preeklampsia dengan persalinan preterm. Preeklampsia tidak selalu diiringi denganproses persalinan preterm. Petugas kesehatan, khususnya bidan sebagai ujung tombak pada pelayanan kesehatan ibu dan anak, harus dapat mendeteksi secara dini adanya komplikasi dalam kehamilan dengan cara melakukan pemeriksaan kehamilan secara rutin sehingga dapat mendeteksi secara dini adanya kasus gawat darurat,dan dapat berperan aktif dalam menurunkan angka kematian ibu dan bayi.    
GAMBARAN FAKTOR-FAKTOR RISIKO KEJADIAN PREEKLAMPSIA PADA IBU BERSALIN DENGAN PREEKLAMPSIA (Di RS Aura Syifa Kabupaten Kediri bulan Februari – April tahun 2016) Kusumawati, Widya; Wijayanti, aida Ratna
JURNAL KEBIDANAN Vol 6 No 2 (2017): JURNAL KEBIDANAN
Publisher : AKADEMI KEBIDANAN DHARMA HUSADA KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (196.765 KB)

Abstract

Preeklampsia merupakan sekumpulan gejala yang muncul selama kehamilan dengan usia lebih dari 20 minggu dengan tanda-tanda hipertensi, oedema, dan proteinuria. Penyebab preeklampsia belum diketahui, dan masih merupakan disease of theory. Tujuan penelitian untuk mengetahui faktor-faktor risiko kejadian preeklampsia pada ibu bersalin. Desain penelitian adalah deskriptif, populasi semua ibu bersalin dengan preeklampsia sebanyak 43 ibu bersalin, menggunakan teknik total sampling, variabel dalam penelitian ini variabel tunggal yaitu faktor-faktor risiko kejadian preeklampsia pada ibu bersalin dengan preeklampsia. Pengumpulan data menggunakan rekam medik pada bulan Februari – April 2016, pengolahan data dengan menggunakan editing, coding, scoring, dan tabulating, kemudian data dianalisa menggunakan prosentase. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor-faktor risiko kejadian preeklampsia pada ibu bersalin dengan preeklampsia berdasarkan jumlah paritas (primigravida sejumlah 19%, multigravida 81%), usia (< 20 sejumlah 7%, 20-35 sejumlah 56%, > 35 sejumlah 37%), faktor lain (distensia rahim berlebihan sejumlah 17%, hipertensi kronis sejumlah 2%, riwayat preeklampsia sejumlah 14%, dan tidak ada faktor sejumlah 67%). Kesimpulan dari hasil penelitian ini faktor-faktor risiko kejadian preeklampsia pada ibu bersalin dengan preeklampsia berdasarkan paritas tertinggi  multigravida, usia tertinggi pada rentang 20-35 tahun, dan faktor lain karena distensia rahim berlebihan, hipertensi kronis serta riwayat preeklampsia. Risiko preeklampsia pada ibu bersalin dari berbagai faktor tersebut dapat dijadikan gambaran oleh tenaga kesehatan untuk memberikan informasi kepada ibu-ibu hamil dan lebih mengutamakan pada antenatal care sedini mungkin untuk mendeteksi preeklampsia.    
HUBUNGAN USIA IBU BERSALIN DENGAN KEJADIAN PREEKLAMPSIA (Di RS Aura Syifa Kabupaten Kediri Bulan Maret Tahun 2016) Kusumawati, Widya; Mirawati, Inneke
JURNAL KEBIDANAN Vol 7 No 1 (2018): JURNAL KEBIDANAN
Publisher : AKADEMI KEBIDANAN DHARMA HUSADA KEDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (222.812 KB)

Abstract

Preeklampsia merupakan penyakit dengan gejala klinis berupa hipertensi dan proteinuria yang timbul karena kehamilan akibat vasospasme dan aktivasi endotel saat usia kehamilan di atas 20 minggu. Menurut Bobak (2007), usia yang rentan mengalami preeklampsia adalah usia <20 tahun atau >35 tahun. Keadaan alat reproduksi yang belum siap menerima kehamilan mempunyai risiko lebih besar untuk mengalami kecenderungan naiknya tekanan darah, sehingga meningkatkan terjadinya preeklampsia. Sedangakan pada usia  > 35 tahun, rentan terjadinya berbagai penyakit dalam bentuk hipertensi dan eklampsia. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara usia ibu bersalin dengan kejadian preeklampsia di RS Aura Syifa Kabupaten Kediri Bulan Maret Tahun 2016. Desain penelitian ini adalah korelasi dengan pendekatan retrospektive. Populasi penelitian ini sebanyak 291 ibu bersalin, pengambilan sampel menggunakan teknik total sampling. Variabel independen penelitian ini adalah usia ibu bersalin dan variabel dependennya adalah kejadian preeklampsia. Data diperoleh dari rekam medik pada bulan Maret 2016 yang direkap dengan checklist dan diolah menggunakan editing, coding, scoring, tabulating. Kemudian dianalisis dengan uji statistic chi kuadrat dengan taraf signifikan 5%. Hasil penelitian menunjukkan dari 291 ibu bersalin, yang menderita preeklampsia mayoritas berusia 20-35 tahun (4,5%) dan minoritas berusia <20 tahun  (0,7%). Berdasarkan analisa data menggunakan chi kuadrat,   tabel = 5,991 sedangkan   hitung = 337,47, maka   hitung >   tabel, maka H1 diterima. Artinya ada hubungan antara usia ibu bersalin dengan kejadian preeklampsia. Diharapkan petugas kesehatan memberikan penyuluhan kepada ibu hamil dan bersalin dengan cara ANC teratur sesuai jadwal yang ditentukan untuk dapat mengetahui komplikasi secara dini pada ibu hamil maupun bersalin.