Paramita, Ni Made Diana Pradnya
Indonesia Medicus Veterinus

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Daya Tahan Daging Kambing yang Diberikan Infusa Daun Salam (Syzygium polyanthum) pada Suhu Ruang Paramita, Ni Made Diana Pradnya; Suada, I Ketut; Budiasa, Ketut
Indonesia Medicus Veterinus Vol 7 No 6 (2018): Volume 7 (6) 2018
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Daging kambing mengandung protein cukup tinggi dan terdapat pula kandungan asam amino esesensial yang lengkap dan seimbang. Akibat adanya komponen  nutrisi yang terkandung dalam daging kambing, maka daging kambing  juga merupakan media yang baik untuk pertumbuhan bakteri, sehingga mudah mengalami kerusakan dan pembusukan.Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui daya tahan daging kambing yang diberikan infusa daun salam pada peletakan suhu ruang yang ditinjau dari bau, warna, pH, dan kadar air. Penelitian dilakukan secara eksperimental menggunakan Rancangan Acak Kelompok (RAK) pola faktorial yaitu empat faktor konsentrasi 0%, 5%, 10%, dan 15%  infusa daun salam dan dilakukan pengamatan waktu 0, 3, 6, dan 9 jam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan perendaman infusa daun salam dengan konsentrasi (0%, 5%, 10%, dan 15%) berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap bau dan pH pada lama peletakan, sedangkan warna daging berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap konsentrasi dan lama peletakan. Konsentrasi infusa daun salam tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap kadar air daging kambing. Pemberian daun salam sebagai pengawet alami berpengaruh baik terhadap daya tahan daging kambing.
Studi Kasus : Babesiosis Pada Anjing Persilangan Paramita, Ni Made Diana Pradnya; Widyastuti, Sri Kayati
Indonesia Medicus Veterinus Vol 8 No 1 (2019): Vol 8 No 1 (2019)
Publisher : Indonesia Medicus Veterinus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Babesiosis adalah penyakit parasit yang disebabkan oleh Babesia sp dan didistribusi didalam sirkulasi darah. Babesiosis pada anjing disebabkan oleh Babesia canis (subfilum: apicomplexa, ordo: piroplasmida, genus: babesia, spesies Babesia canine) yang diperantai oleh caplak (tick-borne) yaitu caplak-anjing coklat Rhipicephalus sanguineus sebagai vektor utama. Hasil pegamatan ditemukan kasus babesiosis pada anjing campuran pom dan peking, berjenis kelamin jantan usia 8 bulan di Denpasar, Bali. Tanda klinis yang tampak dari infeksi Babesia sp pada anjing kasus yaitu nafsu makan berkurang, haemoglobinuria dan terdapat eritema pada bagian abdomen. Pada hasil pemeriksaan darah lengkap didapatkan interpretasi bahwa anjing mengalami anemia normositik hiperkromik leukositosis, limfositosis, dan eosinophilia. Pemeriksaan ulas darah tipis teramati adanya agen Babesia. Anjing ini diterapi dengan pemberian Antibiotik clindamycin (10mg/kg BB, q: 12 jam, PO) dua kali sehari selama dua minggu, dan terapi suportif menggunakan livron B-pleks untuk meningkatkan daya tahan tubuh diberikan selama 7 hari. Hasil evaluasi terhadap anjing penderita menunjukan baha dalam waktu 4 hari nafsu makan hewan kasus sudah kembali normal dan memerlukan waktu 14 hari sampai menunjukan tanda-tanda perbaikan klinis.