Watanabe, Seiichi
Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Published : 3 Documents
Articles

Found 3 Documents
Search

KEMATANGAN GONAD BEBERAPA JENIS IKAN BUNTAL (Tetraodon lunaris, T. fluviatilis, T. reticularis) DI PERAIRAN UJUNG PANGKAH, JAWA TIMUR [Gonad Maturity of Some Puffer Fishes (Tetraodon lunaris, T. fluviatilis, T. reticularis) in Ujung Pangkah, East] Sulistiono, nFN; Kurniati, Tri Hastuti; Riani, Etty; Watanabe, Seiichi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 1, No 2 (2001): Desember 2001
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v1i2.197

Abstract

Pengamatan terhadap kematangan gonad beberapa jenis ikan buntal (Tetraodon lunaris, T. fluviatilis, T. reticularis) dilakukan sejak Maret 2000 sampai April 2001 di perairan Ujung Pangkah, Jawa Timur. Sampel ikan ditangkap per bulan dengan menggunakan gill net (mata jaring 2,5 dan 4,5 cm). Gonad diambil, diawet dengan formaldehide 40 % dan ditimbang beratnya (sampai ketelitian 0.1 g) di laboratorium. Pengamatan tingkat kematangan gonad dilakukan secara morfologis. Analisis dilakukan untuk menentukan nisbah kelamin (J/B) dan indeks somatik gonad (GSI). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui musim pemijahan dari beberapa jenis ikan tersebut. Hasil pengamatan didapatkan bahwa jenis Tetraodon reticularis memiliki nisbah kelamin sebesar 1,6:1, T. fluviatilis sebesar 1,2:1 dan T. reticularis sebesar 1,9:1. Tingkat kematangan gonad jenis T. lunaris dan T. reticularis umumnya tidak matang dan matang awal (TKG I dan II) dan tidak ditemukan dalam keadaan matang gonad (TKG III dan IV). T. fluviatilis ditemukan mulai pada tingkat kematangan gonad 1 sampai V dengan prosentase TKG IV terbanyak pada bulan April. Berdasarkan nilai indeks kematangan gonad (IKG) pada T. fluviatilis, didapatkan bahwa nilai tersebut bervariasi 0,01-3.87 (jantan) dan 0.18-2.43 (betina) dengan nilai terbesar pada bulan April. Pada T. lunaris, nilai IKG bervariasi 0,04-5.74 (jantan) dan 0,01-3,62 (betina) dengan nilai terbesar dijumpai pada bulan Mei. Sedangkan pada T. reticularis nilai IKG    bervariasi 0,10-0,83 (jantan) dan 0,05-3,13 (betina). Berdasarkan TKG dan IKG tersebut, didapatkan bahwa puncak musim pemijahan diperkirakan terjadi pada bulan April untuk T. fluviatilis. Sedangkan untuk T. lunaris dan T. reticularis masih belum dapat ditentukan musim pemijahannya.ABSTRACTStudy on the gonad maturity of some puffer fishes (Tetraodon lunaris, T. fluviatilis, T.reticularis) had been done from March 2000 to April 2001 in Ujung Pangkah water, East Java. Samples were caught monthly using gill net mesh sized 2,5 and 4,5 cm. Gonads were removed, preserved by formaldehyde 40% and weighed by electronic balances (0.1 g approximately). Gonad maturity stage was classified morphologically according to the gonad classification. Analysis was done to estimate sex ratio and gonad somatic index (GSI). This study aimed to know spawning season of those fishes. Sex ratio of Tetraodon reticularis, T. fluviatilis and T. reticularis werel.6:l. 1.2:1, and 1.9:1, respectively. Immature and premature gonads were found in T. lunaris', immature, premature, maturing, mature gonads were found in T. fluviatilis, with a peak percentage in April: and immature and premature gonads were found in    T. reticularis. Gonad somatic index (GSI) varied 0,04-5.74 (male) and 0.01-3.62 (female) for T. lunaris with a peak one    in    May;    0,01-3,87 (male) and 0,18-2,43 (female) with a peak one in April for T. fluviatilis', and 0,10-0,83 (male) and 0,05-0,57 (female) for T. reticularis. According to the gonad maturity and gonad somatic index, a peak of spawning season was estimated    to be    in    April for T. fluviatilis. While for the T. lunaris and T. reticularis could not be estimated their spawning season.
PENGAMATANISILAMBUNG BEBERAPA JENISIKAN BUNTAL ('Tetraodon reticularis, T. fluviatilis, I lunaris) DI PERAIRAN UJUNG PANGKAH, JAWA TIMUR [Study on the Stomach Contents of Some Puffer Fishes (Tetraodon reticularis, T. fluviatilis, T. lunaris) in Ujung Pangkah Waters, East Java] Sulistiono, nFN; Lubis, Delismawati; Affandi, Ridwan; Watanabe, Seiichi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 1, No 1 (2001): Juni 2001
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v1i1.153

Abstract

Study on the stomach contents of some puffer fishes (Tetraodon reticularis, T. fluviatilis, T. lunaris) was done from March 2000 to April 2001 in Ujung Pangkah Waters, East Java. Samples were collected monthly using gill net mesh sized of 2.5 and 4.5 cm. Stomach content was preserved by formalin 10% and observed under microscope (50 magnification). Analysis was carried out to estimate Index of Stomach content (ISC) and Index of Preponderance (IP). The result showed that main food of male Tetraodon reticularis was Balamis sp.. suplemen food was bivalva and debris, and additional food, gastropods and crab. While main food of female fish was Balamis sp., suplemen food w'as debris and bivalve, and additional food was shrimp, crab, and gastropoda. Main food of male T. fluviatilis was Balamis sp., suplemen food was gastropoda, additional food was shrimp, bivalve, fish and green mussel. While for female fish, the main food was Balamis sp., suplemen food was bivalve and shrimp, and additional food was gastropoda, crab, fish and bivalve. Main food of male T. lunaris was fish, suplemen food was bivalve, shrimp and gastropoda, and additional food was Balanus sp., crab, green mussel and unidentified organisms. While main food of female fish was fish, suplemen food was shrimp and bivalva, and additional food was Balanus sp., crab, gastropoda and unidentified organisms. The ISC seems on August (male) and September (female) for T. reticulates, on April (male) and May (female) for T. fluviatilis, and on April (male) and December (female) for T. lunaris. ABSTRAKPengamatan terhadap isi lambung beberapa jenis ikan buntal (Tetraodon reticularis, T. fluviatilis, T. lunaris) dilakukan sejak Maret 2000 sampai April 2001 di perairan Ujung Pangkah, Jawa Timur. Sampel ikan ditangkap per bulan dengan menggunakan gill net (mata jaring 2,5 dan 4,5 cm). Isi lambung diawet dengan formalin dan diamati di laboratorium. Analisis dilakukan untuk menentukan indeks isi lambung (ISC) dan indeks bagian terbesar (IP). Hasil pengamatan didapatkan bahwa jenis Tetraodon reticularis jantan memiliki makanan utama berupa Balanus sp., makanan pelengkap berupa bivalva, serasah, dan an makanan tambahan berupa ikan, gastropoda dan kepiting. Sedangkan untuk ikan betina, makanan utama berupa Balanus sp., makanan pelengkap berupa serasah dan bivalve, dan makanan tambahan berupa udang, kepiting dan gastropoda. T. fluviatilis jantan memiliki makanan utama berupa Balanus sp., makanan pelengkap berupa gastropoda, makanan tambahan berupa udang, bivalve dan ikan. Sedangkan untuk ikan betina makanan utamanya berupa Balanus sp., makanan tambahan berupa bivalve dan udang, dan makanan pelengkap berupa gastropoda, kepiting, ikan dan bivalve. T. lunaris jantan makanan utamanya berupa ikan, makanan pelengkap berupa bivalve, udang dan gastropoda, dan makanan tambahannya berupa Balanus sp., kepiting, bivalve dan organisme tak teridentifikasi. Sedangkan untuk jenis ikan betina memiliki makanan utama berupa ikan, makanan pelengkap berupa udarrg dan bivalve, dan makanan tambahannya berupa Balamis sp., kepiting, gastropoda dan organisma tak teridentifikasi. T. reticulates terlihat memiliki ISC yang lebih tinggi pada bulan Agustus (Jantan) dan September (betina), T. fluviatilis pada bulan April (jantan) dan Mei (betina), dan T. lunaris pada bulan April (jantan) dan Desember (betina).
MORPHOLOGICAL VARIATION OF THE SILVER WHITING Sillago sihama Forskal IN INDONESIA Sulistiono, nFN; Yuniar, nFN; Watanabe, Seiichi; Yokota, Masashi
Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 2, No 1 (2002): Juni 2002
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32491/jii.v2i1.233

Abstract

Study on the morphological variation of the silver whiting (Sillago sihama) was conducted using samples collected in some locations in Indonesia (Ujung Pangkah-East Java Province, Segara Anakan-Central Java Province, Arafuru Sea-Maluku Province and Dumai-Riau Province) using gill net and mini trawl from 1995 to 1998. Some meristics and morphometries characters were observed to estimate population characteristics. Some meristics characters (pectoral rays, scales at lateral line and scales at caudal peduncle), and some morphometries characters (the body depth, caudal peduncle length, predorsal length, length of dorsal fin base 2, length of pectoral fin, length of pelvic fin, head length, head width, snout length, suborbital width, orbit to pre opercle angle and eye diameter-devided by total length) were important characters to investigate local population. Using multivariate analysis, they could not show a significations among local population of S. sihama, therefore it seems signification in the local population of Arafuru Sea group and others.ABSTRAKPengamatan terhadap variasi morfologi ikan putih (Sillago sihama) di Indonesia dilakukan dengan menggunakan sampel ikan dari beberapa lokasi (Ujung Pangkah-Jawa Timur, Segara Anakan-Jawa Tengah, Laut Arafuru-Maluku dan Dumai-Propinsi Riau) dengan menggunakan jaring insang dan mini trawl dari tahun 1995 sampai 1998. Beberapa parameter meristik dan morfometrik dilakukan pengamatannya untuk mengetahui karakter populasi. Beberapa karakter meristik (panjang jari-jari sirip dada, sisik pada linea lateralis dan sisik pada batang ekor), dan karakter morfometrik (tinggi badan, panjang batang ekor, panjang depan sirip punggung, panjang dasar sirip punggung ke 2, panjang sirip dada, panjang sirip perut, panjang kepala, lebar kepala, panjang hidung, lebar antar mata, panjang antara mata dan tutp insang depan, lebar mata yang dibagi dengan panjang total) merupakan karakter yang penting dalam pengamatan populasi lokal. Dengan menggunakan analisis multivariate, belum menampakkan perbedaannya antar populasi S. sihama, namun demikian terdapat perbedaan antara kelompok populasi Laut Arafuru dibandingkan dengan yang lain.