Widanarni, nFN
Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Induksi pematangan gonad ikan patin siam Pangasianodon hypopthalmus (Sauvage, 1878) jantan dengan pemberian ekstrak cabe jawa Piper retrofractum Vahl. melalui pakan [Induction on gonadal maturation of male striped catfish Pangasianodon hypopthalmus (Sauvage, 1878) using Javanese long pepper extract Piper retrofractum Vahl. enriched feed]

Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (506.533 KB)

Abstract

Javanese long pepper is an aphrodisiac plants that have hormonal effects. This study aimed to evaluate the using of Javanese long pepper extract (JLPE) enriched feed to accelerate the gonadal maturation of male striped catfish. The dose 37.5 and 187.5 mg kg body weight-1 day-1 JLPE enriched feed were given on treatments compared to 17-a methyl testosterone (50 ^g kg body weight-1 week-1) and control. The treatments were given for 8 weeks on male striped catfish fish weighed 250±18.6 g. Gonadosomatic index of JLPE treatment higher than control since the second week (p<0.05), also testosterone levels in 187.5 mg kg body weight-1 day-1 JLPE treatment to control (p<0.05). The spermatozoa dispersion reached 75% in JPLE treatment higher than control (p<0.05), althought there was not significant difference on spermatocrite level (p> 0.05). Therefore, JLPE treatment at dose 187.5 mg kg body weight-1 day-1 increased the reproductive performance and sperm quality of male striped catfish. AbstrakCabe jawa merupakan salah satu tanaman yang memiliki efek hormonal sebagai afrodisiak. Penelitian ini bertujuan un-tuk mengevaluasi pemberian ekstrak cabe jawa (ECJ) melalui pakan terhadap akselerasi pematangan gonad ikan patin siam jantan. Perlakuan yang diberikan meliputi ECJ dengan dosis 37,5 dan 187,5 mg kg ikan-1 hari-1, dibandingkan dengan 17-a Metiltestosteron (50 ^g kg ikan-1 minggu-1) dan kontrol selama 8 minggu. Perlakuan ECJ menunjukkan in-deks kematangan gonad lebih tinggi dibandingkan kontrol sejak minggu ke-2 (p<0,05). Kadar testosteron darah pada perlakuan ECJ 187,5 mg kg ikan-1 hari-1 lebih tinggi dibandingkan kontrol (p<0,05). Pada minggu ke-8, sebaran spermatozoa perlakuan ECJ mencapai 75%, sedangkan sebaran spermatozoa kontrol kurang dari 50%. Kepadatan, volume, dan motilitas sperma perlakuan ECJ dan 17a-metiltestosteron lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol (p<0,05) pada minggu ke-8, namun kadar spermatokrit menunjukkan hasil yang sama (p>0,05). Perlakuan ECJ 187,5 mg kg ikan'1 hari-1 meningkatkan performa reproduksi dan kualitas sperma ikan patin siam jantan.

Kinerja pertumbuhan ikan lele dumbo, Clarias gariepinus Burchel 1822, yang dikultur pada sistem berbasis bioflok dengan penambahan sel bakteri heterotrofik [Growth performance of catfish, Clarias gariepinus Burchel 1822, cultured in biofloc-based system with addition of the heterotrophic bacteria cells]

Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 15, No 2 (2015): Juni 2015
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (395.261 KB)

Abstract

Super-intensive fish culture activities can lead the deterioration of water quality. Biofloc technology application can reduce the ammonia wastes and converts into bacterial biomass that can be used as a food source for fish. This study aimed to analyze the influence of heterotrophic bacterial cell concentrations in water and feed supplementation to improve the culture performances of catfish (C. gariepinus) on biofloc-based culture system. The experiments were conducted within 42 days consisted of five treatments, namely: (K-): system without biofloc, (K+) system with biofloc, (A) biofloc + L1k cells (102 CFU mL-1), (B) biofloc + L1k cells (104 CFU mL-1), and (C) biofloc + L1k cells (106 CFU mL*). The results showed that the growth performance of catfish cultured in biofloc system with the addition heterotrophic bacterial cell concentrations at 104 CFU mL-1 showed the best results compared to other treatments, with the value of survival rate was 92.67% ± 6.92, feed conversion ratio was 0.90 ± 0.07, and daily growth rate of 6.10% ± 0.09. Bacterial cells abundance were ranging from 104 CFU mL-1 up to 108 CFU mL-1, either with or without the addition of hetero-trophic bacterial cells. AbstrakPenerapan teknologi bioflok mampu mengurangi limbah amonia menjadi biomassa bakteri yang dapat dijadikan sebagai sumber pakan bagi ikan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh konsentrasi sel bakteri heterotrofik da-lam air dan pakan suplemen untuk meningkatkan pertumbuhan ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) pada sistem berba-sis bioflok. Percobaan dilakukan dengan lima perlakuan, yaitu: (K-) Tanpa bioflok, (K +) Bioflok, (A) Bioflok + L1k (102 CFU mL-1), (B) Bioflok + L1k (104 CFU mL-1), dan (C) Bioflok + L1k (106 CFU mL-1). Empat hari sebelum dilakukan pemeliharaan (H-4) diinokulasikan bakteri heterotrofik sebanyak 10 ml m-3 air dengan konsentrasi sesuai perlakuan dan molase cair 10 g ke media pemeliharaan. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 42 hari, dengan frekuensi pem-berian pakan 2 kali sehari dan tingkat pemberian pakan 5% dari biomassa ikan. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 42 hari dengan frekuensi pemberian pakan 2 kali sehari dan tingkat pemberian pakan 5% dari biomassa ikan. Penambahan sel bakteri L1k ke dalam media budidaya dilakukan seminggu sekali sebanyak 10 ml m-3 dengan konsentrasi sel 102, 104, dan 106 CFU ml-1. Penambahan molase dilakukan setiap hari ke media bioflok dengan rasio C:N akhir sebesar 15:1. Kinerja pertumbuhan ikan yang diamati meliputi parameter kelangsungan hidup, pertumbuhan, rasio konversi pakan, populasi sel bakteri total dan sel bakteri L1k. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja produksi ikan lele dumbo pada perlakuan bioflok lebih baik dibanding tanpa bioflok. Penambahan sel bakteri heterotrofik L1k 104 CFUml-1 menunjukkan hasil terbaik dengan nilai tingkat kelangsungan hidup 92,67% ± 6,92, rasio konversi pakan 0,90 ± 0,07, dan laju pertumbuhan harian 6,10% ± 0,09. Kelimpahan sel bakteri total berkisar dari 104 CFU mL-1 hingga 108 CFU mL-1, baik dengan maupun tanpa penambahan sel bakteri heterotrof.

Produksi yuwana ikan patin Pangasianodon hypophthtalmus (Sauvage 1878) pada sistem budi daya berbasis bioflok dengan penambahan sumber karbon berbeda [Pangasianodon hypophthalmus (Sauvage 1878) juvenile production using biofloc technology with different carbon sources]

Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16, No 1 (2016): Februari 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.448 KB)

Abstract

Intensive aquaculture system decreases water quality through the increment of metabolic waste products such as organic nitrogen. The biofloc technology is an alternative solution to avoid the impact of high nutrients disposal in aquaculture production system. This study aimed to evaluate the impacts of biofloc technology using different carbon sources on the production performance of juvenile striped catfish, Pangasianodon hypophthalmus. Completely randomized design with 4 treatments (3 replications) was used in this research i.e.: (A) molasses carbon source, (B) tapioca carbon source, (C) wheat carbon source, and (D) without additional carbon. The juveniles length 2.26±0.12 cm, initial average body weight 0.17±0.05 g were reared for 30 days. Twelve glass tanks (60 cm x 30 cm x 40 cm) filled with 36 L freshwater were used as the experimental culture units. The fish were fed three times daily with a commercial feed containing 27% of crude protein. External organic carbon was added daily two hours after feeding at C/N 15 estimated ratio. The observed parameters i.e.: floc profile, the nutritional content of biofloc, water quality, survival rate, final body length, daily growth rate, feed conversion ratio, protein retention, and lipid retention. The best results showed by molasses treatment, the highest fish survival rate (97.41±0.16 %), longest standard length (2.84±0.1 cm) and decreased feed conversion ratio (0.36±0.04). Abstrak Sistem budi daya intensif menurunkan kualitas air melalui peningkatan produk sisa metabolisme seperti nitrogen or-ganik. Penerapan teknologi bioflok adalah solusi alternatif untuk menghindari dampak buruk pembuangan nutrisi tinggi dalam sistem produksi akuakultur. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pengaruh teknologi bioflok yang menggunakan sumber karbon berbeda pada kinerja produksi yuwana ikan patin (Pangasianodon hypophthal-mus). Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan acak lengkap dengan empat perlakuan (tiga kali ulang-an) yaitu: (A) sumber karbon molase, (B) sumber karbon terigu, (C) sumber karbon tapioka, dan (D) tanpa penam-bahan karbon. Yuwana ikan patin berukuran panjang awal 2,26±0,12 cm ekor-1 dan bobot rata-rata awal 0,17±0,05 g ekor-1 dipelihara selama 30 hari. Dua belas akuarium (60 cm x 30 cm x 40 cm) diisi dengan air 36 L digunakan seba-gai unit percobaan budi daya. Ikan diberi makan tiga kali sehari dengan pakan komersial mengandung protein 27%. Penambahan karbon dilakukan setiap hari 2 jam setelah makan dengan estimasi rasio C/N 15. Parameter pengamatan meliputi: profil flok, kandungan nutrisi tepung flok, kualitas air, kelangsungan hidup, pertumbuhan panjang baku, la-ju pertumbuhan harian, rasio konversi pakan, retensi protein, dan retensi lemak. Perlakuan dengan penambahan sumber karbon molase menunjukkan kelangsungan hidup tertinggi (97,41±0,16 %), pertumbuhan panjang baku (2,84±0,1 cm), dan menurunkan rasio konversi pakan (0,36±0,04).

Respons imun dan kinerja pertumbuhan ikan lele, Clarias gariepinus (Burchell 1822) pada budi daya sistem bioflok dengan sumber karbon berbeda serta diinfeksi Aeromonas hydrophila

Jurnal Iktiologi Indonesia Vol 16, No 3 (2016): Oktober 2016
Publisher : Masyarakat Iktiologi Indonesia (MII )

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (936.142 KB)

Abstract

One of the diseases that often attack the catfish is motile aeromonas septicemia (MAS) caused by Aeromonas hydrophila. This study aimed to evaluate the immune responses and growth performance of catfish that cultivated on biofloc systems with different carbon sources and infected by A. hydrophila. This study was conducted over 30 days, consists of five treatments with three replications viz., providing molasses carbon source (A), tapioca flour (B), wheat flour (C), positive control (D) and a negative control (E). The results showed that the immune response such as total erythrocytes, hematocrit, hemoglobin concentration, total leukocyte, phagocytic activity, and respiratory burts activity at molasses (A), tapioca flour (B),and wheat flour (C) treatment showed better results than the control. Carbon sources from molasses, tapioca and wheat were able to increase total bacteria and decrease the growth of A. hydrophila in the waters as well as in catfish organs. Catfish growth performance in biofloc system with tapioca flour carbon source provide daily growth rate which was higher and significantly different (p <0.05) than control. While the biofloc system with molasses, tapioca and wheat carbon source could decrease feed conversion ratio and increase the retention of the protein. Retention of lipid in the biofloc system with molasses carbon source showed the highest results. The addition of molasses, tapioca and wheat as carbon sources into bioflock system could reduce the abundance of A. hydrophila, while immune response and growth performance of catfish increase well.Abstrak Salah satu penyakit yang sering menyerang ikan lele adalah Motil Aeromonad Septicemia yang disebabkan oleh bakteri Aeromonas hydrophila. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi respon imun dan kinerja pertumbuhan ikan lele yang dibudidayakan pada sistem bioflok dengan sumber karbon yang berbeda serta diinfeksi oleh A. hydrophila. Peneli- tian dilakukan selama 30 hari, menggunakan rancangan acak lengkap yang terdiri atas lima perlakuan dengan tiga ulangan yaitu penambahan sumber karbon molase (A), tepung tapioka (B), tepung terigu (C), kontrol positif (D), dan kontrol negatif (E). Hasil penelitian menunjukkan bahwa respon imun seperti total eritrosit, hematokrit, kadar hemoglo- bin, jumlah leukosit, aktivitas fagositosis, dan ledakan pernapasan pada perlakuan molase (A), tepung tapioka (B), dan tepung terigu (C) menunjukkan hasil yang lebih baik daripada kontrol. Sumber karbon molase, tapioka, dan terigu mampu meningkatkan total bakteri dan menekan pertumbuhan A. hydrophila di air dan organ ikan lele. Kinerja pertum- buhan ikan lele di sistem bioflok dengan sumber karbon tepung tapioka memberikan laju pertumbuhan harian yang le- bih tinggi dan berbeda nyata (P <0,05) dibandingkan kontrol. Sistem bioflok dengan sumber karbon molase, tapioka, dan terigu dapat menurunkan nisbah konversi pakan dan meningkatkan retensi protein. Retensi lemak dalam sistem bio- flok dengan sumber karbon molase menunjukkan hasil tertinggi. Penambahan sumber karbon molase, tapioka, dan teri- gu dalam sistem bioflok dapat menurunkan kelimpahan A. hydrophila dan meningkatkan respon imun dan kinerja per- tumbuhan ikan lele.