Suminto, - -
Journal of Aquaculture Management and Technology

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

PENGARUH pH MEDIA PEMIJAHAN YANG BERBEDA TERHADAP PERSENTASE JANTAN & BETINA DAN KELULUSHIDUPAN IKAN CUPANG (Betta splendens Regan)

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (337.658 KB)

Abstract

Ikan cupang (Betta splendens Regan) merupakan salah satu jenis ikan hias yang mempunyai nilai ekonomis tinggi. Ikan cupang yang berkelamin jantan mempunyai warna yang lebih menarik dan memiliki nilai komersial lebih tinggi daripada betina. Upaya untuk memperoieh persentase jantan dapat dilakukan dengan cara manipulasi lingkungan dengan menggunakan pH. Tujuan dari penelitian adalah untuk mengetahui penggunaan pH yang berbeda pada media pemijahan terhadap persentase jantan & betina dan kelulushidupan Ikan Cupang (Betta splendens Regan). Bahan yang digunakan untuk mengatur pH adalah asam fosforik (H3PO4) yang sudah banyak digunakan oleh kalangan pembudidaya ikan hias untuk pemijahan. Penelitian ini dilakukan pada bulan Oktober 2016 hingga Januari 2017 di Pokdakan APPIHIS jalan perbalan nomer 39 Semarang. Penelitian ini dilakukan menggunakan metode eksperimental desain, Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 3 perlakuan dan 4 kali ulangan. Perlakuan dalam penelitian ini adalah penggunaan pH yang berbeda pada media pemijahan Ikan Cupang. Perlakuan tersebut adalah A yang merupakan perlakuan dengan pH 6, Perlakuan B dengan pH 7 dan Perlakuan C dengan pH  8.  Data yang diamati meliputi persentase jantan dan betina (%), kelulushidupan (SR) dan kualitas air. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan pH yang berbeda memberikan pengaruh nyata (P<0,05) terhadap persentase jantan dan betina sedangkan SR tidak berpengaruh nyata (P>0,05). Perlakuan C menghasilkan persentase jantan paling tinggi sebesar 70,41 %. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran layak untuk budidaya Ikan Cupang (Betta splendens Regan). Betta fish (Betta splendens Regan) is one of ornamental fish with high economic value. Male betta fish have more attractive color and higher commercial value than females. The male percentage obtains by environment manipulation using potential of hydrogen (pH). The aims of the study was to determine the effect of pH differences on spawning media to the male & female percentage and also survival rate of betta fish (Betta splendens Regan). Materials used to regulating the pH is phosphoric acid (H3PO4) that already used in spawning process widely by the ornamental fish breeders. This research conducted in October 2016 until January 2017 in APPIHIS secretariat at Perbalan street number 39 Semarang. This research was used the experimental design method, designed by in completely randomized design with 3 treatments and 4 replications. The treatment in this study was the use of pH diffenrences on betta fish spawning media. Those treatments are treatment A with an pH 6, treatment B with an pH 7 and treatment C with pH 8. The observed data are male and female percentage (%), survival rate (SR) and water quality. The result shows that pH differences had significant effect (P <0.05) on males and females percentage, while it is not significant in SR (P> 0.05). The treatment C showed that highest male percentage of 70.41%. The culture media water quality were on proper range for betta fish (Betta splendens Regan) culture.

PENGARUH PEMBERIAN DIET MIKROALGA YANG BERBEDA (Chlorella vulgaris, Chaetoceros calcitrans, Nannochloropsis oculata DAN Tetraselmis chuii) TERHADAP PERTUMBUHAN DAN REPRODUKSI Diaphanosoma brachyurum

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (473.5 KB)

Abstract

Pakan alami dalam akuakultur sangatlah penting bagi pemeliharaan larva. D. brachyurum merupakan salah satu pakan alami yang pergerakannya lambat dan berenang bebas dalam kolom air, serta mempunyai nilai kandungan nutrisi yang tinggi. Kultur D. brachyurum memerlukan pengkajian diet mikroalga untuk mendapatkan performa pertumbuhan terbaik. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh diet mikroalga yang berbeda terhadap performa pertumbuhan (kepadatan populasi, laju pertumbuhan dan produksi telur) D. brachyurum dan mendapatkan diet mikroalga yang memberikan hasil performa pertumbuhan (kepadatan populasi, laju pertumbuhan dan produksi telur) D. brachyurum terbaik. Metode penelitian menggunakan RAL dengan 4 perlakuan 4 ulangan yang kepadatannya 1 ind/ml. Diet yang digunakan untuk kultur D. brachyurum adalah Chlorella vulgaris; Chaetoceros calcitrans; Nannochloropsis oculata; dan Tetraselmis chuii. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian diet mikroalga yang berbeda berpengaruh nyata (P<0,05) pada performa pertumbuhan D. brachyurum. Diet T. chuii menghasilkan kepadatan terbaik pada anakan (neonata) (3,013±1,582 ind/ml), juvenil (2,513±0,638 ind/ml), dewasa (7,325±1,981 ind/ml), dewasa bertelur (4,050±2,401 ind/ml) dan dewasa beranak (8,975±1,569 ind/ml). Kepadatan total juga pada diet T. chuii (25,875±1,142 ind/ml) yang merupakan nilai tertinggi. Diet T. chuii juga menunjukkan hasil terbaik dan berbeda nyata (P<0,05) dibanding perlakuan lain pada laju pertumbuhan (0,163±0,002 /hari). Diet N. oculata menunjukkan hasil terbaik serta berbeda nyata (P<0,05) pada produksi telur (3,446±0,363 telur/ind), namun tidak berbeda nyata terhadap Chaetoceros calcitans (3,104±0,705 telur/ind). The live food organisme in aquaculture is very important for larvae rearing. D. brachyurum is one of the live food organisme  which slow movement and has capabiity as a free swimmer in water column, and has a high nutritional value. The study of D. brachyurum fed by different microalgal diets needs to be conducted in order to perceive its growth performance. This study aimed to determine the effect of different microalgal diets on growth performance (population density, growth rate and egg production) of D. brachyurum and suitable microalgal that supperied growth performance (population density, growth rate and egg production) of D. brachyurum. The method of this study was experimental laboratory which used completely random design (CRD) with 4 treatment and 4 replicates. The initial density of D. brachyurum was 1 ind/ml. The diets that used in this study here Chlorella vulgaris; Chaetoceros calcitrans; Nannochloropsis oculata; and Tetraselmis chuii. The results of this study showed that different microalgal diets had significant effect (P<0,05) on growth performance of D. brachyurum. The highest density of the neonata (3.013±1.582 ind/ml), juvenile (2,513±0.638 ind/ml), adult (7,325±1,981 ind/ml), adult spawn (4,050±2,401 ind/ml) and adult childbearing (8,975±1,569 ind/ml) was on D treatment (fed by T. Chuii). The highest total density of D. brachyurum (25.875±1.142 ind/ml) was on D treatment (fed by T. Chuii). D. brachyurum that fed by T.chuii had best growth rate value (0.163±0.002/day) significantly different (P<0.05) than other treatments. D. brachyurum that fed by N. oculata had best egg production value (3.446±0.363 eggs/ind) significantly different (P<0.05), but not significantly different with egg production value of D. brachyurum that fed by C. calcitrans (3.104±0.705 eggs/ind).

PENGARUH PENAMBAHAN PROBIOTIK PADA PAKAN YANG MEMANFAATKAN SUMBER PROTEIN DARI TEPUNG TELUR AYAM AFKIR TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN NILA (Oreochromis niloticus)

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 7, Nomor 1, Tahun 2018
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (664.194 KB)

Abstract

Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan budidaya terpenting ketiga dunia setelah karper dan salmon serta memiliki nilai ekonomis tinggi. Tingginya harga pakan merupakan salah satu kendala utama dalam membudidayakan ikan nila, serta efisiensi pemanfaatan pakan masih rendah yang mengakibatkan biaya produksi tinggi, untuk pakan saja mencapai 60-70% dari total biaya produksi. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan probiotik pada pakan dan memanfaatkan sumber protein dari tepung telur ayam afkir. Probiotik yang digunakan adalah probiotik buatan Laboratorium Departemen Akuakultur Undip. Metode eksperimen dan rancangan acak lengkap (RAL) telah digunakan pada penelitian ini dengan 4 perlakuan dan masing-masing 3 kali ulangan. Ikan uji yang digunakan berupa benih ikan nila merah (O. niloticus) (bobot rerata 2,77±0,11 g) dengan kepadatan 1 ekor/L dipelihara selama 42 hari. Perlakuan yang digunakan yaitu Perlakuan A (pakan tanpa pemberian probiotik), Perlakuan B (disemprotkan probiotik 2,5 x 107 CFU/g pakan), perlakuan C (disemprotkan probiotik 5 x 107 CFU/g pakan), perlakuan D (disemprotkan probiotik 7,5 x107 CFU/g pakan). Data yang diukur meliputi Total Konsumsi Pakan (TKP), Efisiensi Pemanfaatan Pakan (EPP), Rasio Konversi Pakan (FCR), Rasio Efisiensi Protein (PER), Laju Pertumbuhan Relatif (RGR) dan Kelulushidupan (SR). Hasil penelitian menunjukan bahwa pakan yang diberi probiotik menghasilkan pertumbuhan dan efisiensi pakan lebih baik dari pakan yang tidak diberi probiotik, secara kuantitatif perlakuan D cenderung memberikan nilai tertinggi pada EPP sebesar 84,30±12,07%, FCR sebesar 1,20±0,16, PER sebesar 2,46±0.35% dan RGR sebesar 4,34±0.70%/hari dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap TKP dan SR. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan nila merah (O. niloticus) yaitu suhu 26-310C; pH 6,7-7,3; dan DO 3,33-6,58 mg/l. Tilapia (Oreochromis niloticus) is the third most important cultured fish in the world after carp and salmon and has the high economic value. The high price of feed is one of the obstacles in tilapia fish farming development. Low feed efficiency causes high production cost, for feed only which reach about 60-70% of total production cost. This can be overcome by the use of probiotics in fishfeed and utilizes its protein content from rejected chicken eggs flour. The probiotics used are artificial probiotics made by Departemen of Aquaculture Undip Laboratory. Completely randomized experimental and design methods (RAL) were used in this study with 4 treatments and 3 replications respectively. The sample fish used was red tilapia seed (O. niloticus) (average weight 2.77±0.11 g) with initial density 1 ind/L which maintained for 42 days. The treatments were Treatment A (without probiotics), Treatment B (probiotics 2.5 x 107 CFU/g of feed), Treatment of C (probiotics 5 x 107 CFU/g of feed), and Treatment D (probiotic 7,5 x 107 CFU/g of feed). The parameters of this research were Feed Consumtion rate (TKP), Feed Utilization Efficiency (EPP), Food Convertion Rate (FCR), Protein Efficiency Ratio (PER), Relative Growth Rate (RGR) and Survival Rate (SR). The results showed that Treatment D gave the highest score on EPP of 84.30 ± 12.07%, FCR of 1.20 ± 0.16, PER of 2.46 ± 0.35% and RGR of 4.34 ± 0.70%/day and no significant effect (P> 0,05) on TKP and SR. Water quality on maintenance media is within a reasonable range for the maintenance of tilapia (O. niloticus) that were temperature 26-31oC; pH 6.7-7.3; and DO 3.33-6.58 mg/l.

PENGARUH PEMBERIAN PAKAN MIKROALGA YANG BERBEDA (Chlorella vulgaris., Chaetoceros calcitrans., Nannochloropsis oculata., dan Tetraselmis chuii) TERHADAP PERFORMA PERTUMBUHAN Tigriopus sp.

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 3, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (648.371 KB)

Abstract

Ketersediaan pakan alami diperlukan untuk budidaya ikan baik fitoplankton maupun zooplankton yang dimanfaatkan untuk pakan larva ikan. Salah satu zooplankton yang diberikan sebagai pakan larva yaitu Tigriopus sp. Tigriopus sp. dapat digunakan sebagai salah satu pengganti pakan alami seperti artemia ataupun rotifer karena memiliki nutrisi cukup tinggi untuk pertumbuhan ikan. Produksi Tigriopus sp. dapat ditingkatkan dengan pemberian mikroalga. Tujuan Penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pakan mikroalga terhadap performa pertumbuhan Tigriopus sp. Selain itu penelitian ini bertujuan  untuk mendapatkan pakan dengan hasil terbaik pada performa pertumbuhan terbaik kepada Tigriopus sp. Metode penelitian yang digunakan eksperimental labotaris laboraturium secara langsung di Laboraturium Pakan Hidup, Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara, Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 4 ulangan. Kultur Tigriopus sp. dengan menggunakan botol kaca 50 ml, dengan volume air laut 20 ml, dan kepadatan awal Tigriopus sp. stadia dewasa 1 individu ml-1. Perlakuan pakan berdasarkan pada dosis 0,01 mg berat kering mikroalga unruk setiap satu individu copepoda. Perlakuan antara lain A(Chlorella vulgaris), B (Chaetoceros calcitrans), C (Nannochloropsis oculata), D (Tetraselmis chuii). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian pakan alami berbeda nyata (P<0,05) terhadap kepadatan total, laju pertumbuhan dan produksi telur. Kepadatan total (116,10±5,88),  laju pertumbuhan (0,238±0,003), dan produksi telur (5,84±0,21). Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa pakan Chlorella vulgaris dan Tetraselmis chuii masing-masing menghasilkan kepadatan total populasi, laju pertmbuhan dan produksi telur terbaik. Pakan Chlorella vulgaris disarakan sebagai pakan untuk pengembangan kultur Tigriopus sp. selanjutnya. The availability of natural feed is required for the surviving of fish for example both phytoplankton and zooplankton can be used as the natural feed for larvae. One of kinds the zooplankton given as natural feed for larvae is Tigriopus sp. Tigriopus sp. Is onekind of natural feed for open ocean fish can be used as an alternatif natural food such as artemia or rotifer. Tigripus sp. has a high nutrient, that is very important for the surviving of the fish. To develop production of Tigripus sp. High quality food is important such as microalga. This study given 5 different types of microalgae to determine it’s  effect to the growth performance of Tigriopus sp. Moreover, tis research aims to find the appropiate microalga which able to give the best result on the growth of Tigriopus sp. The research method  is hand on  experiment in Laboraturium Pakan Hidup Balai Besar Perikanan Budidaya Air Payau (BBPBAP) Jepara wore Completely Randomized Research Design (CRD) with 4 treatments and 3 repitation. Tigriopus sp. culture used 50 ml glass bottles,contained 20 ml culture media with density 20 individuals per ml. Microalgal Pakan treatment based on 0.01 mg microalgal dry weight for one individu of copepod. Research treatments a (Chlorella Vulgaris), B (Chaetoceros calcitrans), C (Nannochloropsis oculata), D (Tetraselmis chuii).  The experimental result showed that the given of different microalgal Pakan had significant effect (P< 0,05) for  density of the Tigriopus sp.  (116.10 ± 5.88), the rate of growth (0,238 ± 0.003),and egg production (0,238±0,003). Conclusion based on this experimental result was Chlorella Vulgaris and Tetraselmis chuii Pakan produced the best result each density of the Tigriopus sp., the rate of growth and egg production. Chlorella Vulgaris was suggested as the Pakan for the next development of Tigriopus sp. culture. 

PEMANFAATAN TEPUNG TELUR AYAM AFKIR DALAM PAKAN BUATAN YANG BERPROBIOTIK TERHADAP EFISIENSI PEMANFAATAN PAKAN, PERTUMBUHAN DAN KELULUSHIDUPAN LELE DUMBO (Clarias gariepinus)

Journal of Aquaculture Management and Technology Volume 6, Nomor 4, Tahun 2017
Publisher : Journal of Aquaculture Management and Technology

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (464.891 KB)

Abstract

Ikan lele dumbo (Clarias gariepinus) merupakan ikan konsumsi air tawar yang banyak digemari oleh masyarakat. Tingginya harga pakan merupakan salah satu kendala dalam pengembangan budidaya ikan lele dumbo. Efisiensi pemanfaatan pakan masih rendah mengakibatkan biaya produksi pada pakan mencapai 60-70%. Hal ini dapat diatasi dengan penggunaan tepung telur ayam afkir yang mengandung nutrisi cukup tinggi dan mudah diperoleh dengan harga yang murah. Tepung telur ayam afkir mengandung protein kasar sebesar 54.14%, lemak kasar sebesar 22,44%, serat kasar sebesar 5,85%, abu sebesar 10,67% serta bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) sebesar 6,90%. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui pengaruh penambahan tepung telur ayam afkir sebagai pakan terhadap efisiensi pemanfaatan pakan, pertumbuhan dan kelulushidupan ikan lele dumbo (C. gariepinus). Penelitian ini menggunakan metode eksperimental menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 kali ulangan. Ikan uji yang digunakan berupa benih ikan lele dumbo (C. gariepinus) (bobot rerata 2.04±0.05 g) dengan kepadatan 1 ekor/L yang dipelihara selama 42 hari. Perlakuan yang digunakan yaitu Perlakuan A (0% tepung telur ayam afkir), perlakuan B (15% tepung telur ayam afkir), perlakuan C (30% tepung telur ayam afkir), perlakuan D (45% tepung telur ayam afkir). Variabel data yang diukur meliputi TKP, EPP, FCR, RGR, SR dan kualitas air. Hasil penelitian penambahan tepung telur ayam afkir pada pakan buatan berpengaruh nyata (P<0,05) terhadap TKP, EPP, FCR, PER, RGR dan tidak berpengaruh nyata (P>0,05) terhadap SR. Perlakuan C memberikan nilai tertinggi pada TKP sebesar 156,84 gram, EPP sebesar 83,13%, FCR 1,16, PER sebesar 2,45% dan RGR sebesar 7,65%/hari. Kualitas air pada media pemeliharaan terdapat pada kisaran yang layak untuk pemeliharaan ikan uji. Dumbo catfish (Clarias gariepinus) is the consumption of freshwater fish are much favored by many people. The high price of feed is one of the constraints in the development of fish farming clarias gariepinus. The efficiency of feed utilization is still low result in production costs on feed reach 60-70%. This can be overcome by the use of chicken eggs rejects flour containing high nutrients and easily obtained at low prices. Chicken eggs rejects flour protein rough of 54.14%, 22.44% of rough fat, coarse fiber of 5.85%, ashes of 10.67% and extract without nitrogen (BETN) of 6.90%. The purpose of this research is to know the influence of the addition of chicken eggs rejects flour as fodder against the efficiency of feed utilization, growth and survival rate the dumbo catfish (C. gariepinus). This research was used experimental methods using a completed randomized design (RAL) with 4 treatments and three replicates. The fish test is used in the form of the seed fish of dumbo catfish (C. gariepinus) (weighted average 2.04 ± 0.05 g) with a density of 1 head/L observed during 42 days. The treatments used, namely Treatment A (0% chicken eggs rejects flour), treatment B (15% chicken eggs rejects flour), treatment C (30% chicken eggs rejects flour), treatment (45% chicken eggs rejects flour). The variables include scene,TFC, FUE, FCR, PER, RGR, SR, and water quality. The results showed that the addition of chicken eggs reject flour in artificial feed gave significant effect (P < 0.05) on TFC, FUE, FCR, PER and RGR and had no effect (P > 0.05) on SR. C Treatment gave the highest value on the TFC of 156,84 grams ,FUE of 83.13%, FCR of 1,16, PER of 2,45%, and RGR of 7,65%/day. Water quality of media contained in a decent range for maintenance of the Dumbo catfish culture