Ulya, Afriani
UNIVERSITAS GADJAH MADA

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

HASRAT PENGARANG DALAM NOVEL A THOUSAND SPLENDID SUNS: PERSPEKTIF LACANIAN Ulya, Afriani; Pujiharto, Pujiharto
ATAVISME Vol 21, No 2 (2018): ATAVISME
Publisher : Balai Bahasa Jawa Timur

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (376.234 KB) | DOI: 10.24257/atavisme.v21i2.475.133-149

Abstract

Penelitian ini mengungkapkan hasrat pengarang dalam novel A Thousand Splendid Suns karya Khaled Hosseini, yang merupakan hasrat-hasrat pengarang sebagai subjek yang berkekurangan dan berhasrat untuk memperoleh keutuhan identitasnya. Penelitian ini menjawab dua pertanyaan: bagaimana hasrat Khaled Hosseini termanifestasikan dalam novel A Thousand Splendid Suns?; “hasrat menjadi” dan “hasrat memiliki” Khaled Hosseini yang seperti apa yang termanifestasikan dalam novel A Thousand Splendid Suns? Penelitian dilakukan dengan menggunakan teori dan metode psikoanalisis Lacan. Psikoanalisis Lacan membahas hasrat manusia melalui bahasa (penanda) dengan mekanisme metafora dan metonimia. Hasil penelitian membuktikan bahwa novel A Thousand Splendid Suns merupakan manifestasi dari hasrat dan kekurangan yang ada pada diri Khaled Hosseini sebagai pengarang melalui hasrat untuk menjadi (narsistik) dan hasrat memiliki (anaklitik).This study reveals the author's desire in Khaled Hosseini's A Thousand Splendid Suns, which is the author's desires as a subject of lack and desires to obtain his identity. This study will answer two questions: 1) How does Khaled Hosseini's desire manifested in A Thousand Splendid Suns?; 2) What is the Khaled Hosseini’s desire-to-be and desire-to-have manifested in A Thousand Splendid Suns?. This study was done by using theory and method of Lacanian psychoanalysis. Lacanian psychoanalysis discusses human desire through language (signifier) with metaphor and metonymy mechanisms. The results prove that A Thousand Splendid Suns is a manifestation of the desires and lack that exist in Khaled Hosseini as the author through the desire to be (narcissistic) and the desire to have (anaclitic).
THE INDIVIDUATION OF HERO IN KHALED HOSSEINI’S THE KITE RUNNER Ulya, Afriani; ., Muarifuddin
ETNOREFLIKA: Jurnal Sosial dan Budaya Vol 4 No 3 (2015): Volume 4 Nomor 3, Oktober 2015
Publisher : Laboratorium Jurusan Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Halu Oleo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1144.249 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis proses Individuasi Hero dalam novel karya Khaled Hosseini yang berjudul The Kite Runner berdasarkan kasus psikoanalitik. Fenomena ini ditunjukkan oleh psikologi Amir. Masalah dalam penelitian ini dirumuskan: Bagaimana dengan Individuasi Hero pada novel The Kite Runner karya Khaled Hosseini "?. Sumber data dalam penelitian ini adalah novel The Kite Runner yang diterbitkan pada tahun 2003 di Amerika. Data dikumpulkan dengan melakukan pencatatan, pratinjau, dan penafsiran untuk mendapatkan analisis lengkap tentang Individuasi Hero dalam novel The Kite Runner karya Khaled Hosseini. Psikoanalitik oleh Carl Gustav Jung digunakan sebagai alat analisis untuk mendukung temuan di The Individuasi Hero dalam novel The Kite Runner. Hasil analisis ditemukan bahwa Individuasi Hero dalam The Kite Runner karya Khaled Hosseini, di mana Amir sebagai karakter utama, mampu mencapai proses individuasi dengan adanya Persona, Anima, Shadow, dan Self dalam kepribadiannya. Selain itu, karakter utama mampu mentransformasi psyche tersebut dalam pikiran sadar dan pada saat yang sama melakukan sinkronisasi serta harmonisasi, yang berarti bahwa karakter utama mampu meminimalkan persona, menyadari animanya, menyeimbangkan bayangannya, meningkatkan dirinya secara bertahap mengarah ke hirarki tertinggi di pusat jiwa. Proses individuasi dari karakter utama terjadi ketika ia harus menghadapi kenyataan suram dan memaksanya untuk kembali ke Kabul untuk menyelamatkan Sohrab (putra Hassan) yang mendapatkan pelecehan seksual. Setelah menyadari bahwa ia telah menjadi pengecut sejati, Amir merasa yakin bahwa ia dapat membayar kembali kebaikan yang diberikan oleh Hassan dengan cara kembali ke Kabul untuk menyelamatkan Sohrab (putra Hassan). Amir berusaha keras untuk mengatasi semua rintangan demi menyelamatkan Sohrab. Ketika Amir berhasil melihat Sohrab, penyamarannya terbongkar. Ternyata Assef, menjadi kaki tangan pemimpin Taliban, adalah dalang dibalik penguncian. Assef digunakan untuk mengintimidasi Amir dan ia juga seorang Pashtunese. Amir memohon belas kasihan agar Sohrab diperbolehkan untuk dibebaskan, tapi ia menolaknya. Amir memanfaatkan momen untuk membayar kebaikan yang diberikan oleh Hassan. Akhirnya, Amir berhasil membebaskan Sohrab, membawanya ke Amerika Serikat, dan mengadopsinya sebagai anaknya sendiri. Kata kunci: individuation, hero, persona, anima, shadow, self