Basri, Ahmad Hasan
Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

ANALISIS FAKTOR-FAKTOR YANG BERKONTRIBUSI TERHADAP SERANGAN ULANG PADA PASIEN PENYAKIT JANTUNG KORONER (Analysis of Factors Contributing to Recycling at Patient of Coronary Heart Diseases) Basri, Ahmad Hasan; Ningsih, Suciati
Journals of Ners Community Vol 8, No 1 (2017): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (306.716 KB)

Abstract

Seseorang yang pernah terserang penyakit jantng koroner (PJK) mempunyai kecenderungan lebih besar akan mengalami serangan ulang, terutama bila faktor risiko dapat diubah tidak ditanggulangi dengan baik sehingga banyak kejadian pasien masuk rumah sakit dengan riwayat sebelumnya PJK yang memerlukan perawatan lanjutan atau dengan kasus yang sama. Tujuan penelitian ini untuk menganalisis faktor-faktor yang berkontribusi terhadap serangan ulang pada pasien penyakit jantung koroner. Desain penelitian menggunakan deskripsi analitik menggunakan prespektif Cross Sectional. Penelitian ini dilaksanakan di Ruang ICU RS Muhammadiyah Gresik. Teknik pengambilan sampel dengan purposive sampling, dimana didapatkan sebanyak 36 responden pada bulan Oktober 2016. Penelitian ini diambil menggunakan kuesioner dan lembar observasi setelah itu ditabulasi dan dianalisis menggunakan uji Chi Square dengan bantuan program SPSS 16.0. Penelitian ini menunjukkan bahwa, usia dengan nilai α = 0.003 < 0.05, jenis kelamin α = 0.004 < 0.05, riwayat keluarga dengan nilai α = 0.004 < 0.05, hipertensi α = 0.001 < 0.05, merokok dengan nilai α = 0.001 < 0.05 maknanya ada huungan. Hai ni dapat disimpulkan bahwa ada hubungan usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, hipertensi dan merokok dengan kejadian serangan ulang PJK. Berdasarkan penelitian diharapkan masyarakat mampu meningkatkan pengendalian dalam pencegahan dan angka resiko serangan ulang PJK dalam kehidupan sehari-hari. Usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, merokok, dan hipertensi merupakan faktor-faktor yang berkontribusi terhadap serangan ulang PJK. Kata kunci : Usia, jenis kelamin, riwayat keluarga, hipertensi, merokok, serangan ulang PJK A person who ever had coronary heart disease (CHD) has a greater tendency to experience repeated attacks of CHD, especially when risk factors can be changed are not addressed properly, so many the incidence of patients admitted to hospital with a previous history of CHD who require further care or with the same case. The study design using the analytical description Cross Sectional perspective. This research was conducted in the ICU Muhammadiyah Gresik Hospital. The sampling technique purposive sampling, which found as many as 36 respondents in October 2016. This study was taken using a questionnaire and observation sheet after it was tabulated and analyzed using Chi Square test with SPSS 16.0. This study showed that age with the value of α = 0.003< 0.05, sex α = 0.011
PENGARUH MENGUNYAH PERMEN KARET TERHADAP PERISTALTIK USUS POST APPENDIKTOMI Basri, Ahmad Hasan; Sulistiyawati, Nunuk
Journals of Ners Community Vol 9, No 1 (2018): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (244.765 KB)

Abstract

Appendiktomi yaitu tindakan pembedahan dengan pengangkatan appendiks yang meradang, pasca appendiktomi dapat menyebabkan kehilangan peristaltik normal selama 24 sampai 48 jam, intervensi keperawatan yang dapat diberikan yaitu mengunyah permen karet untuk mengembalikan peristaltik usus menjadi normal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh mengunyah permen karet terhadap peristaltik usus pada pasien post appendiktomi.Penelitian ini menggunakan desain pra-eksperimental jenis One-shot case study pra test post test design. Populasi adalah pasien post appendiktomi sebanyak 28 pasien di Ruang Dahlia RSUD Ibnu Sina.  Sampel berjumlah 26 pasien diambil secara purposive sampling. Variabel independen adalah mengunyah permen karet dan variabel dependen adalah peristaltik usus. Data dikumpulkan dengan menggunakan instrumen lembar observasi dan SOP mengunyah permen karet yang dilakukan 3x per hari selama 30 menit selama mengunyah, kemudian data dianalisa menggunakan Paired T Test.            Sebelum dilakukan mengunyah permen karet peristaltik usus seluruh responden tidak normal, sedangkan sesudah intervensi 90% responden peristaltik usus menjadi normal. Hasil uji Paired T Test p=0.000 dimana p<0.05 artinya ada pengaruh mengunyah permen karet terhadap peristaltik usus.Peristaltik usus pada pasien post appendiktomi dapat dilakukan dengan upaya mengunyah permen karet. Mengunyah permen karet dapat dijadikan SOP dan diterapkan oleh perawat di rumah sakit. Kata Kunci: Mengunyah permen karet, peristaltik usus, post appendiktomi.Appendectomy is surgical action by removal of inflamed appendix, appendectomy of one of the abdominal surgical procedures. During the surgery may cause a normal peristaltic loss for 24 - 48 hours. Priority nursing action is chew the bubble gum to restore of intestinal peristaltic to normal. This research is to know the effect of chew the bubble gum on intestinal peristaltic post-appendectomy patient.This research used pre-experimental design type One-shot case study pre-test and post-test design. This population was post-appendectomy patient as much 28 patients in Dahlia Room RSUD Ibnu Sina. 26 samples of patients were taken by purposive sampling. The independent variable is effect of chew the bubble gum and the dependent variable is intestinal peristaltic. Data were collected using observation sheet instrument and SOP chew the bubble gum done 3 times a day for 30 minutes each chew, then data analyzed using Paired T Test.            Before chew the bubble gum, intestinal peristaltic all of respondents are not normal, whereas after intervention 90% of respondents intestinal peristaltik intestine to be normal. Based on result from Paired T Test P: 0.000 where P <0.05 that’s means chew the bubble gum have significant effect to intestine peristaltic.Intestinal peristaltic on patient post-appendectomy can be done by chewing the bubble gum. Chewing gum can be used as SOP and applied by nursed at the hospital.Keywords: Chew the bubble gum, intestinal peristaltic, post-appendectomyDOI: 10.5281/zenodo.1404575
EFEKTIVITAS KLASIK MUSIK TERAPI DAN murrotal TERAPI UNTUK MENURUNKAN TINGKAT PASIEN KECEMASAN PRE OPERASI OPERATION (Effectiveness of Classical Music Therapy and Murrotal Therapy To Decrease The Level of Anxiety Patients Pre Surgery Operation) Suwanto, Suwanto; Basri, Ahmad Hasan; Umalekhoa, Mustamin
Journals of Ners Community Vol 7, No 2 (2016): Journals of Ners Community
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (327.603 KB)

Abstract

ABSTRAK Kecemasan merupakan respon dasar manusia terhadap bahaya tidak bisa dihindari dan salah satu reaksi yang paling umum untuk penyakit ini. terapi musik klasik dan terapi murrotal dapat mengurangi tingkat kecemasan pada pasien, hal ini berguna untuk proses penyembuhan karena dapat mengurangi rasa sakit dan dapat menyediakan klien merasa lebih santai. Tujuan dari ini dipelajari adalah untuk menggambarkan efektivitas terapi musik klasik dan terapi murrotal untuk menurunkan tingkat penderita kecemasan operasi pra-operasi.Penelitian ini adalah untuk mengetahui perbedaan efektivitas terapi musik klasik dan terapi murrotal dan desain yang digunakan quasy eksperimental (desain pre-post test), Populasi 20 pasien dengan pra operasi (minor) menggunakan teknik purposive sampling, data yang dikumpulkan terapi murrotal dan terapi musik klasik dengan observasi, wawancara terstruktur, kemudian dianalisis dengan Wilcoxon dan Mann Whitney tes.Hasil statistik Wilcoxon menunjukkan bahwa terapi dengan musik klasik (P 0,004.) Terapi murrotal (P 0002) berdua ada pengaruh penurunan tingkat kecemasan, uji Mann-Whitney menunjukkan hasil yang signifikan dari perhitungan (α) = 0,001 <0 05 berarti H0 ditolak dan H1 diterima berarti bahwa ada perbedaan antara penurunan tingkat kecemasan terapi musik klasik dan terapi murrotal mana terapi murrotal lebih efektif daripada musik klasik.Berdasarkan hasil penelitian terapi musik klasik dan terapi murrotal bersama-sama ada pengaruh tetapi hanya terapi murrotal yang lebih tenang, santai begitu dalam dan nyaman. Kata Kunci : Terapi musik klasik, Terapi murottal, Kecemasan. ABSTRACT Anxiety is a basic human response to danger is not inevitable and one of the most common reaction to the disease. Classical music therapy and murrotal therapy can reduce the level of anxiety in patients, it is useful for the healing process because it can reduce pain and can provide clients feeling more relaxed. The purpose of this studied was to describe the effectiveness of the of classical music therapy and murrotal therapy to decrease the level of anxiety patients  pre-surgery operation.This research was to determine differences in the effectiveness of classical music therapy and therapy murrotal and design used experimental quasy (pre-post test design), The population of 20 patients with preoperative (minor) used the technique of purposive sampling, data collected murrotal therapy and classical music therapy by observation, structured interview, then were analysed with Wilcoxon and Mann Whitney test.Wilcoxon statistic result showed that therapy with classical music (P 0,004.) Therapy murrotal (P 0,002) were both there is influence of the decline of levels of anxiety, Mann-Whitney test showed significant results of the calculation (α) = 0,001 <0 05 means H0 refused and H1 was received means that there were a difference between the reduction in anxiety level classical music therapy and therapy murrotal where murrotal therapy more effective than classical music.Based on the results of the research of classical music therapy and murrotal therapy together there were influence but only murrotal therapy that is more calm, relaxing so deep and comfortable. Keyword : Therapy mucic classical, Therapy murrotal, Anxiety.DOI : 10.5281/zenodo.1405473
HUBUNGAN FASILITAS RUANG RAWAT INAP DENGAN TINGKAT KEPUASAN PASIEN BPJS (The Relationship Between in Ward Facilities with the Level of BPJS Patient Satisfaction) Basri, Ahmad Hasan; Leoganda, Dadang Filani
Journals of Ners Community Vol 7, No 1 (2016)
Publisher : Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Gresik

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1934.222 KB)

Abstract

ABSTRAK                                                                    Kesehatan adalah kebutuhan dasar manusia untuk hidup layak produktif sehingga perlu penyelenggaraan pelayanan kesehatan yang terkendali dalam biaya dan mutu pelayanan yang diberikan. Upaya yang dilakukan untuk mempertahankan fasilitas kesehatan ruang rawat inap di sebuah rumah sakit dalam memberikan fasilitas kesehatan pada pasien BPJS harus sama tidak membeda-bedakan pasien. Tujuan dari penelitian ini untuk menjelaskan hubungan fasilitas ruang rawat inap dengan tingkat kepuasan pasien BPJS.            Desain penelitian ini adalah cross sectional. Pengumpulan data tentang fasilitas ruang rawat inap dan tingkat kepuasan pasien BPJS menggunakan kuesioner kemudian dianalisis menggunakan rank sperman corelation, sampel yang digunakan adalah pasien sebanyak 25 orang.            Hasil analisa statistik hubungan fasilitas ruang rawat inap dengan tingkat kepuasan pasien BPJS adalah p= 0,034 yang berarti ada hubungan fasilitas ruang rawat inap dengan tingkat kepuasan pasien BPJS, dengan derajat korelasi hubungan r=0,426 yang artinya mempunya korelasi kuat.            Semakin baik fasilitas ruang rawat inap maka akan berdampak pada peningkatan kepuasan pasien. Pasien merasa puas ketika di rawat di rumah sakit akan merekomendasikan ke orang lain atau keluarga tentang kelengkapan fasilitas yang dimiliki setiap ruangan yang ada di rumah sakit dan ini sekaligus dapat menjadi promosi tersendiri untuk perkembangan rumah sakit kedepannya.Kata Kunci :Fasilitas Ruang Rawat Inap, tingkat kepuasan pasien BPJS. ABSTRACT Health is a basic human need to live decent and productive so it needs health service that good cost and quality controlled. The efforts that undertaken to maintain health facility in wards at the hospital that providing health facilites to patient should not discriminate between BPJS patient and others. The purpose of this study to clarify the relationship of patient in ward facilities with the level of patient satisfactions of BPJS system.This study used cross sectional design. Data collection of inpatient facilities and patient satisfaction used a questionnaire. The analyzed used Rank Spearman Correlation, the patient sample was 25 patients.            Statistical analysis of the relationship inpatient facilities with BPJS patient satisfaction level was p=0,034, it means there was a relationship inpatientfacilities with BPJS patient satisfaction level, with relationcorelation degree r=0,426 which had strong corelation. The better patientfacilities in ward will impact on improving patient  satisfaction. Patients are satisfy when treated to the hospital would recommend to other people or their families about the completeness of facilities of every room in the hospital and it also can be a separate promotion for the future development of the hospital.Keywords: In Ward Facilities, BPJS patient ssatisfaction.