Restuti, Ratna Dwi
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Expression of Tumor Necrosis Factor - α (TNF-α) and Interleukin 1-β (IL1-β) in Chronic Tubotympanic Suppurative Otitis Media Darmawan, Anton Budhi; Soesatyo, Marsetyawan HNE; Restuti, Ratna Dwi; Surono, Agus
Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran) Vol 50, No 1 (2018): SUPPLEMENT
Publisher : Journal of the Medical Sciences (Berkala Ilmu Kedokteran)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.283 KB) | DOI: 10.19106/JMedScieSup0050012018020

Abstract

Chronic Suppurative Otitis Media (CSOM) is a common public health problem worldwide and a major cause of hearing impairment. It is also one of the neglected disease especially in developing countries. Cytokines are a group of glycoproteins that play a role in strengthening the immune and inflammatory reactions in various diseases, including inflammation of the middle ear. Some of the important inflammatory mediators found in middle ear fluids are Tumor Necrosis Factor-α (TNF-α) and Interleukin-1β (IL-1β). Cytokines are thought to play a role in the ongoing inflammatory regulation. The aim of this study was to compare the expression of TNF-α and IL-1β in tubotympanic CSOM and in healthy control group. The mean of TNF-α serum level in tubotympanic CSOM was 0,553±1,59 pg/ ml, and 0,587±2,13 pg/ ml in control group. There was no statistically different of TNF-α between two groups (P > 0,05). Mean of IL-1β serum level in the tubotympanic CSOM and control group were 0,633±0,92 and 0,302±0,48, respectively. Although IL-1β levels were higher in the patient group, the difference was not statistically significant (P > 0,05).
Metode biakan jaringan kolesteatoma pasien otitis media supuratif kronik tipe bahaya Restuti, Ratna Dwi
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 43, No 1 (2013): Volume 43, No. 1 January - June 2013
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.284 KB) | DOI: 10.32637/orli.v43i1.12

Abstract

Background: Tissue culture is a technique to multiply cells or tissue in vitro. With tissue culture cells can be studied as well as the nature of the application. Similarly, tissue culture methods can be applied also to cholesteatoma of chronic suppurative otitis media patients that can be used to study the nature of cholesteatomas to the cellular level. Purpose: The purpose of this study was to get tissue culture methods for cholesteatomas, so that the steps, techniques and specific tools for culturing cholesteatoma can be determined, also the number of cells that were planted, good environment in order to obtain cell viability and good culture results. Methods: This study consists of three phases: 1) Preliminary research phase aimed to determine the method of cell culture techniquesof cholesteatomas keratinocytes. 2) The stage of planting keratinocyte cells. 3) Phase keratinocytes cell harvest (harvest). Results: After this study, to get the optimal growth and viability, it would require the following methods: 1) Petri dish used for growing cholesteatomas keratinocyte cell is 1 cmdiameter petri dish; 2) The number of cells that were grown per cm2 of surface area of planting was 1-2 x 104cells per cm2; 3) The tripsinization time while harvesting cell was 30 seconds. Conclusion: Culture of cells was taken from the dispersion of certain organ which was done by enzymatic, mechanical and chemical disaggregation. Cultured keratinocytes had a short span of time and could be mixed with fibroblasts. Keratinocytes had a very limited replication half-life and there was a relationship between age and decline in the number of generations. This was associated with age, changes in the cell membrane and matrix components.Keywords: tissue culture, cholesteatoma, CSOM. ABSTRAKLatar belakang: Biakan jaringan merupakan suatu teknik memperbanyak sel atau jaringan secara in vitro. Dengan biakan jaringan dapat dipelajari berbagai sifat sel serta aplikasinya. Demikian juga jaringan kolesteatoma pasien otitis media supuratif kronik dapat digunakan metode biakan jaringan untuk mempelajari sifat jaringan kolesteatoma hingga tingkat sel. Tujuan: Tujuan penelitian ini adalah untuk mencari metode biakan jaringan kolesteatoma, sehingga didapatkan tahap-tahap biakan beserta teknik operasional baik alat spesifik yang digunakan, jumlah sel yang ditanam, lingkungan yang baik sehingga diperoleh viabilitas sel dan hasil biakan yang baik. Metode: Penelitian ini terdiri atas tiga tahap yaitu: 1) tahap penelitian pendahuluan yang bertujuan untuk menentukan metode teknik biakan sel keratosit kolesteatoma, 2) tahap menanam sel keratosit, 3) tahap memanen sel keratosit (harvest). Hasil: Setelah penelitian ini, untuk mendapatkan hasil pertumbuhan dan viabilitas yang optimal, maka diperlukan metode sebagai berikut: 1) petri yang digunakan untuk menanam sel keratinosit kolesteatoma adalah petri dengan diameter 1 cm, 2) jumlah sel yang ditanam per-cm2 luas permukaan bidang tanam adalah 1-2 x 104 sel per-cm2, 3) waktu tripsinisasi saat pengangkatan sel adalah 30 detik. Kesimpulan: Biakan sel adalah biakan yang diambil dari dispersi sel organ tertentu yang dilakukan dengan cara enzimatik, mekanik dan disagregasi secara kimiawi. Biakan keratinosit memiliki rentang waktu yang pendek dan hendaknya diwaspadai tercampur dengan fibroblas. Keratinosit memiliki waktu paruh replikasi yang sangat terbatas dan terdapat hubungan antara usia dengan penurunan jumlah generasi. Hal ini dikaitkan dengan usia, perubahan membran sel dan komponen matriks.Kata kunci: kultur jaringan, kolesteatoma, otitis media supuratif kronik.
Posisi elektroda intrakoklea dan ECAP sebagai pedoman pemetaan pada tuli sensorineural dengan implan koklea Zizlavsky, Semiramis; Restuti, Ratna Dwi; Pandelaki, Jacub; Mansyur, Muchtaruddin; Hermani, Bambang; Ranakusuma, Teguh; Eddin, Edrial; Waspadji, Sarwono
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 44, No 1 (2014): Volume 44, No. 1 January - June 2014
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (734.352 KB) | DOI: 10.32637/orli.v44i1.77

Abstract

Latar belakang: Implan koklea merupakan pilihan utama untuk habilitasi pendengaran dan berbicara pada anak tuli sensorineural berat bilateral. Pengaturan comfortable dan threshold level berdasarkan nilai evoked compound action potential (ECAP) direkam dengan neural responses imaging (NRI) saat pemetaan. Tujuan: Memperoleh nilai ECAP sebagai acuan pemetaan berdasarkan jarak elektroda intrakoklea ke modiolus, jarak terpanjang elektroda nomor satu dengan elektroda berhadapan, jarak marker dengan lubang kokleostomi dan faktor lainnya. Metode: Anak tuli sensorineural usia 2-10 tahun, menggunakan implan koklea dengan desain contour atau straight terdiri dari 16 elektroda, 120 channel sebagai subjek penelitian. Subjek penelitian sebanyak 46 telinga (39 anak), terpasang implankoklea diperoleh secara konsekutif dengan desain potong lintang. Perekaman ECAP elektroda 3-5, 8-10, 13-15 mewakili daerah apeks, medial dan basal. Hasil tomografi komputer resolusi tinggi koklea dengan program OsiriX dilakukan rekonstruksi 3D untuk menilai posisi dan jarak elektroda. Analisis data diawali dengan univariat dan uji korelasi Spearman ‘s pada bivariat. Kandidat faktor yang berperan disertakan pada regresi ganda untuk mendapatkan faktor determinan ECAP. Comfortable zone untuk populasi diperoleh dari analisis area pada distribusi normal menggunakan comfortable level. Hasil: Diperoleh persamaan yaitu: (rerata ECAP)=-21,19+5,87 rerata jarak elektroda ke modiolus (mm)+1.31, rerata threshold level (cu)+0.48 lama penggunaan implan koklea (bulan). (R square=0.60). Comfortable zone diperoleh dengan ECAP yang berada pada variasi 84-87,5% comfortable level. Kesimpulan: Jarak elektroda ke modiolus, lama penggunaan implan koklea dan t level merupakan faktor determinan ECAP. Nilai ECAP dapat digunakan untuk mengidentifikasi penyimpangan jarak elektroda dan memperoleh comfortable zone.Kata kunci : ECAP, implan koklea, lokasi elektroda, tuli sensorineuralABSTRACT Background: Currently cochlear implant remains a preferred choice in hearing and speechhabilitation in children with bilateral profound SNHL. Comfortable and threshold level setting based on ECAP value is recorded by NRI during mapping. Purpose: To obtain ECAP value as mapping guidance based on the distance between electrode to modiolus, the longest distance between electrode number one with the ones it faces, the distance between marker and cochleostomy and other factors. Methods: Research subject were children with SNHL, between 2-10 years old using CI with 16 electrodes, 120 channels. There were 46 ears (39 children) with CI chosen consecutively by cross sectional design. Using NRI, ECAP was recorded on electrode 3-5, 8-10, 13-15 that represent the apex, medial and basal area. Their cochlears were examined with HRCT then 3D reconstruction with OsiriX programto determine the electrode position and calculate the distance. Data analysis started with univariat 1 and bivariat with Spearman’ correlation. Candidates’ factor were analysed with multiregression test to gain ECAP determinant factor. Comfortable zone for population was gained from area analysis in normal distribution using comfortable level. Results: The equation found were: y (average ECAP)=21.19+5.87 the average electrodes to modiolus distance (mm)+1.31, threshold level (cu)+0.48 CI length use (months). (R square=0.60).Comfortable zone was acquired with ECAP between 84-87,5% comfortable level variation. Conclusion: The electrode to modiolus distance, duration of CI use and t level are ECAP determinant factor. The value of ECAP can be used as guidance to identify electrode distance deviation and to gain comfortable zone.Keywords: cochlear implant, ECAP, electrode location, sensoryneural hearing loss 
Pengaruh deksametason terhadap proliferasi sel, kadar IL-α, dan TNF-α pada biakan kolesteatoma Restuti, Ratna Dwi
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 44, No 1 (2014): Volume 44, No. 1 January - June 2014
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (298.098 KB) | DOI: 10.32637/orli.v44i1.78

Abstract

Latar belakang: Kolesteatoma merupakan suatu struktur berbentuk kantung, terdiri atas epitel gepeng berlapis yang selalu mengalami proses keratinisasi. Mengapa kolesteatoma bersifat invasif, hiperproliferatif, agresif, dan residif, hal ini perlu diselidiki. Deksametason merupakan salah satu kortikosteroid sintetik yang memiliki potensi tinggi sebagai preparat anti-inflamasi. Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk membuktikan bahwa pertumbuhan kolesteatoma dapat dihambat secara medikamentosa (dengan deksametason). Metode: Penelitian ini merupakan eksperimen yang dilakukan di laboratorium. Studi ini membandingkan 2 kelompok, yaitu kelompok biakan keratinosit kolesteatoma yang diberideksametason sebagai kelompok perlakuan dan kelompok biakan yang tidak diberi perlakuan. Hasil: Pada penghitungan sel setelah 48 jam kultur dan 24 jam ditambahkan deksametason, terdapat perbedaan bermakna antara kelompok kontrol dengan kelompok perlakuan yang dimulai dengan dosis 10 µg. Pemberian dosis tertinggi, yaitu 100 µg menyebabkan kelompok dosis tersebut berbeda bermakna dengan semua kelompok lainnya. Kesimpulan: Dibuktikan bahwa tingkat reduksi sel berhubungan dengan penambahan dosis deksametason (dose-dependent). Deksametason dapat menghambat proliferasi selpada biakan keratinosit kolesteatoma dengan dosis minimal 10 µg/mL. Kata kunci: kolesteatoma, keratinosit, proliferasi sel, interleukin-1α, tumor necrosis factor-α ABSTRACTBackground: Cholesteatoma is a sac-shaped structure, arise from stratified squamous epithelium which is constantly undergoing process of keratinization. Why the nature of cholesteatoma is invasive, hyperproliferative, aggressive, and recurrent need to be studied. Dexamethasone is a synthetic corticosteroid which has a high anti-inflammatory action. Objective: The aim of this study was to prove that cholesteatoma growth can be inhibited medically by dexamethasone. Methods: This study was conducted as a laboratory experiment. We compared two groups, the first one were cholesteatoma keratinocyte cultures given dexamethasone as the treatment group and the second group were untreated cultures. Results: In cells counting after 48 hours of culture and 24 hours of dexamethasone administration, there was a significant difference between the control group and the treatment group that was started at a dose of 10 µg. The highest dose given gorup, 100 µg caused significant difference with all other groups. Conclusion: The rate of reduction of cells associated with the addition of dexamethasone dose (dose-dependent). Dexametasone can inhibit cell proliferation in keratinocyte with minimal inhibitory dose of 10 µg/mL. Keywords: Cholesteatoma, keratinocyte, cell proliferation, interleukin-1α, tumor necrosis factor-α
Komplikasi intratemporal dan intrakranial pada otitis media akut anak Priyono, Harim; Restuti, Ratna Dwi; Iswara, Andre; Handryastuti, Setyo
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 41, No 1 (2011): Volume 41, No. 1 January - June 2011
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (346.733 KB) | DOI: 10.32637/orli.v41i1.55

Abstract

Background: Acute otitis media (AOM) is an acute inflammation in the middle ear caused by various factors such as blockage of Eustachian tube, infection and allergy. Purpose: The case report is to forewarn general practitioners and ENT specialists concerning AOM potentially causes intratemporal and intracranial complications. Case: We report an eleven-years-old girl with acute otitis media with intratemporal complications (labirynthitis and sensorineural hearingloss) and intracranial complication (meningitis). Case management: The recent management of acute otitis media with complications includes  empiric antibiotics, analgesic, anti-inflammatory drugs and miringotomy with ventilation tube insertion. Conclusion: The accuracy of diagnosing AOM with complication depends on the clinical symptomps such as vertigo, fever, seizure, meningism and unconsciousness. The pneumatic otoscopy examination is the gold standard in diagnosing AOM. Our patient was given antibiotics for 14 days, anti- inflamation and myringotomy with ventilation tube insertion procedure. Keywords: acute otitis media, intracranial complications, intratemporal complications    Abstrak :  Latar belakang: Otitis media akut (OMA) merupakan peradangan akut yang berlangsung di telinga tengah akibat berbagai faktor predisposisi seperti sumbatan tuba Eustachius, infeksi dan alergi.Tujuan: Kasus ini diajukan untuk mengingatkan dokter umum maupun spesialis THT mengenali gejala komplikasi OMA pada anak yang mempunyai potensi menimbulkan komplikasi intratemporal dan intrakranial. Kasus: Dilaporkan satu kasus OMA dengan komplikasi intratemporal (labirintitis dan tuli saraf) dan intrakranial (meningitis) pada anak perempuan usia 11 tahun.Penatalaksanaan: Penatalaksanaan otitis media akut dengan komplikasi intrakranial dan intratemporal mencakup pemberian antibiotik empiris, analgetik, anti-inflamasi dan tindakan miringotomi dengan pemasangan pipa ventilasi. Kesimpulan: Ketepatan dalam mendiagnosis OMA dengan komplikasi tergantung pada gejala klinis yang bisa dikenali seperti pusing berputar, demam, kejang, kaku kuduk dan penurunan kesadaran. Pemeriksaan otoskopi pneumatik merupakan gold standard dalam membantu diagnosis. Terapi untuk kasus ini terdiri atas antibiotik selama 14 hari, anti-inflamasi dan tindakan berupa miringotomi dengan pemasangan pipa ventilasi.Kata kunci: otitis media akut, komplikasi intrakranial, komplikasi temporal
Tatalaksana karsinoma sel skuamosa kanalis akustikus eksternus Restuti, Ratna Dwi; Maryadi, Iman Pradana; Saleh, Rangga Rayendra
Oto Rhino Laryngologica Indonesiana Vol 49, No 1 (2019): Volume 49, No. 1 January-June 2019
Publisher : PERHATI-KL

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1107.78 KB) | DOI: 10.32637/orli.v49i1.289

Abstract

Latar belakang: Keganasan pada kanalis akustikus eksternus (KAE) merupakan kasus yang jarang terjadi, kurang dari 0,2 % dari seluruh keganasan pada regio kepala dan leher. Secara histologis, karsinoma sel skuamosa merupakan jenis karsinoma terbanyak, terjadi pada 80% kasus. Karsinoma sel skuamosa KAE masih menjadi tantangan bagi praktisi medis dalam mendiagnosis dan menatalaksana. Tujuan: Hingga saat ini, belum ada algoritma yang spesifik dalam menatalaksana kasus ini, sehingga membutuhkan pengetahuan yang mendalam mengenai anatomi dan teknik pembedahan, serta ditunjang dengan adanya tim multidisiplin dalam menangani kasus keganasan KAE. Laporan kasus: Tulisan ini melaporkan 4 kasus pasien karsinoma sel skuamosa KAE yang menjalani bermacam modalitas tatalaksana dengan keluaran yang bervariasi. Metode: Telaah literatur berbasis bukti mengenai tatalaksana karsinoma sel skuamosa KAE melalui database Cochrane dan Pubmed Medline. Berdasarkan kriteria inklusi dan ekslusi didapatkan satu jurnal yang relevan dengan kasus yang dilaporkan. Hasil: Karsinoma sel skuamosa liang telinga terutama ditatalaksana dengan terapi pembedahan. Modalitas tambahan yang dapat diberikan adalah kemoterapi dan radioterapi. Terapi pembedahan seringkali meninggalkan defek yang besar sehingga memerlukan tindakan rekonstruksi. Kesimpulan: Tatalaksana karsinoma sel skuamosa KAE seringkali membutuhkan pendekatan multidisiplin dan kompleks terutama pada kasus stadium lanjut. Angka harapan hidup yang lebih baik akan dicapai dengan mendiagnosis dan menatalaksana kasus ini secara dini. Background: Cancer of the external auditory canal (EAC) is a rare tumor, representing less than 0.2% of all head and neck cancers. Histologically, squamous cell carcinoma comprises more than 80% of cases. Squamous cell carcinoma (SCC) of the EAC is still a therapeutic challenge for medical specialists in its diagnosis and management. Purpose: Up to date, there is no specific treatment guidelines available due to SCC low incidence. The attending physician must have asubstantial knowledge of literatures as well as anatomy and surgical techniques, supported by an appropriate cancer center with adequate multidisciplinary team to offer the best therapy in accordance with the needs of the cancer clinical stages. Cases: This paper reports 4 cases of squamous cell carcinoma of the EAC which underwent various treatment modalities, and yielded also various outcomes. Method: Evidence based literature study about squamous cell carcinoma of EAC was performed through Cochrane and Pubmed Medline database. Based on inclusion and exclusion criteria, one study was found relevant to these cases. Results: The particular choice of SCC management of EAC is surgery, yet SCC of the EAC requires additional modalities such as chemotherapy and radiotherapy. Surgery often leaves a large defect which requires a reconstructive procedure. Conclusion: Cancer of EAC management requires a multidisciplinary approach, especially it is more complex in the advanced stage of SCC. An early stage diagnosis and prompt management will lead to a better survival rate.