Articles

Found 5 Documents
Search

Korelasi kecepatan hantaran saraf tepi nervus medianus dengan derajat keparahan carpal tunnel syndrome (cts) menggunakan global symptom score (gss) Kamilah, Rona Hawa; Fatimah, Nyimas; Zulissetiana, Eka Febri
Jurnal Kedokteran Kesehatan : Publikasi Ilmiah Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya Vol 5, No 2 (2018): April 2018
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (432.024 KB)

Abstract

Carpal tunnel syndrome (CTS) merupakan cidera akibat pekerjaan terbanyak kedua yang sering dijumpai. Beberapa studi menyebutkan bahwa kompresi saraf akan menyebabkan kondisi iskemik yang menyebabkan terjadinya perubahan kecepatan hantaran saraf dan berhubungan dengan derajat keparahan klinis yang dialami penderita CTS. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui korelasi kecepatan hantaran saraf tepi nervus medianus dengan derajat keparahan klinis CTS menggunakan global symptom score (GSS). Penelitian ini menggunakan metode analitik dengan desain potong lintang. Populasi penelitian ini adalah semua pasien CTS di Intalasi Rehabiltasi Medik RSUP dr. Mohammad Hoesin. Sampel penelitian menggunakan teknik consecutive sampling, yaitu penentuan sampel dengan mengambil semua pasien CTS yang datang ke Instalasi Rehabilitasi Medik pada bulan September-Oktober tahun 2017 secara berurutan sampai memenuhi sampel minimal dan memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Analisis data dilakukan dengan menggunakan uji Pearson. Dari 28 subjek penelitian, terdapat korelasi antara kecepatan hantaran saraf tepi nervus medianus dengan derajat keparahan CTS menggunakan GSS di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. KHS sensorik memilki korelasi bermakna (p=0,000) dengan arah korelasi positif dan kekuatan korelasi kuat (r=0,667) terhadap total skor GSS. KHS motorik memilki korelasi bermakna (p=0,048) dengan arah korelasi positif dan kekuatan korelasi sedang (r=0,436) terhadap total skor GSS. Terdapat korelasi yang bermakna antara kecepatan hantaran saraf tepi nervus medianus dan derajat keparahan klinis CTS.
The Status of Oxidants and Antioxidants in Children with Nephrotic Syndrome Lestari, Hertanti Indah; Zulissetiana, Eka Febri; Melizah, Ardesy
Bioscientia Medicina : Journal of Biomedicine and Translational Research Vol 2 No 1 (2018): Bioscientia Medicina: Journal of Biomedicine and Translational Research
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya (Faculty of Medicine, Universitas Sriwijaya) Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1078.425 KB)

Abstract

Background: The nephrotic syndrome (NS) resistance and relapse to treatment pose challenges in the management of NS. Several experimental studies on both animals and humans have assessed the association between NS and the balance between the oxidants and anti-oxidants. The study aims to compare the status of oxidants and anti-oxidants of NS patients between the massive proteinuria, the remission, the steroid resistance and the control groups. Methods:  a cross-sectional design to assess the status of oxidants and antioxidants in children with the nephrotic syndrome. The eligible subjects were divided into four groups, the massive proteinuria group, the remission group, the steroid resistant group and the control group. The status of oxidants and anti-oxidant were evaluated with the Malondialdehyde (MDA) and the Total Antioxidant Status (TAS), respectively. Results: The highest mean MDA levels was observed in the steroid resistant group followed by the massive proteinuria group and the remission group. The mean MDA level of the proteinuria group (massive proteinuria and steroid-resistant) is higher than the remission group. The mean TAS levels in the remission group were higher than the massive proteinuria group, but the difference was not statistically significant. Moreover, the mean difference of SAT between the proteinuria group and without proteinuria was not statistically significant. Conclusions: The oxidative stress marker (MDA) was higher in the NS patients with proteinuria than the patients without proteinuria. The difference in the total anti-oxidant status in NS patients with massive proteinuria, remission and steroid resistance were not statistically significant.   Keywords: Nephrotic syndrome, oxidative stress, anti oxidant 
Pengaruh Minyak Ikan Toman (Channa micropeltes) Terhadap Fungsi Kognitif Mencit Putih (Mus musculus L.) Galur Swiss Webster Jantan Zulissetiana, Eka Febri; Cahyaputra, ariefqi Naufaldi; Sinulingga, Sadakata

Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu faktor utama yang memengaruhi fungsi kognitif adalah asupan zat gizi.  Asupan zat gizi yang harus diperhatikan antara lain asam lemak omega-6, asam lemak omega-3 seperti Eicosapentaenoic Acid (EPA) dan Docosahexaenoic Acid (DHA) dan asam lemak tak jenuh. Omega-3 banyak dikandung pada ikan salah satunya ikan toman. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian minyak ikan toman (Channa micropeltes) terhadap fungsi kognitif mencit putih (Mus musculus L.) galur Swiss Webster jantan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental dengan rancangan pre-posttest with control group design. Subjek penelitian adalah 30 ekor mencit putih (Mus musculus L.) galur Swiss Webster jantan, umur 4-10 minggu, berat badan 20-35 gram yang dibagi menjadi 5 kelompok: kontrol positif (K1), kelompok kontrol negatif (K2), kelompok mencit yang diberikan dosis minyak ikan toman sebanyak 5%  (K3), kelompok mencit yang diberikan dosis minyak ikan toman sebanyak 10% (K4) dan kelompok mencit yang diberikan dosis minyak ikan toman sebanyak 20% (K5) masing-masing sebanyak 6 ekor mencit. Fungsi kognitif dinilai menggunakan Uji MWM yang dilakukan sebanyak 2 kali. Pemberian minyak ikan toman selama 14 hari (p<0,05) mengurangi waktu latensi pada dosis tinggi (20%). Sementara itu, kelompok dengan dosis rendah dan sedang (5% dan 10%) tidak menunjukkan adanya pengaruh pemberian minyak ikan toman terhadap waktu latensi. Minyak ikan toman (Channa micropeltes), dosis 20% meningkatkan fungsi kognitif mencit putih (Mus Musculus L.) galur Swiss Webster jantan.
Faktor-Faktor yang Berperan dalam Keterlambatan Tatalaksana Strabismus pada Anak Down Syndrome Nopina, Riski Fitri; Trisna, Linda; Zulissetiana, Eka Febri
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 50, No 3 (2018): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.427 KB)

Abstract

Down Syndromemerupakan salah satu masalah kesehatan pada anak berkebutuhan khusus. Salah satu gejala yang meliputi karakteristik fisik bermanifestasi pada mata yaitu strabismus.Studi yang dilakukan di Rhode Island Hospital pada tahun 1993 menunjukkan bahwa banyak orang tua yang tidak mengenali kondisi kesehatan mata anaknya karena pengetahuan tentang strabismus yang rendah sehingga orang tua terlambat untuk melakukan tatalaksana pada anak mereka. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang berperan dalam keterlambatan tatalaksana strabismus pada anak DS.Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan 11 responden. Pengambilan data dilakukan dengan Focus Group Discussion, wawancara mendalam dan observasi terhadap orang tua anak DS dengan strabismus. Faktor pendorong keterlambatan tatalaksana strabismus pada anak DS yaitu pengetahuan tentang strabismus dan tatalaksananya yang rendah, biaya yang tidak memadai dan anggapan orang tua bahwa tatalaksana strabismus tidak penting. Sikap orang tua anak DS yaitu ada yang ingin memeriksakan anak ke dokter mata untuk tatalaksana lebih lanjut dan ada yang tidak berniat untuk memeriksakan anak ke dokter mata untuk tatalaksana lebih lanjut. Faktor pemungkin keterlambatan tatalaksana strabismus yaitu sosialisasi tentang strabismus dan tatalaksananya tidak pernah dilaksanakan. Faktor Penguat keterlambatan tatalaksana strabismus pada anak DS yaitu orang tua yang tidak pernah mendapatkan informasi tentang strabismus dan tatalaksananya dari petugas kesehatan maupun keluarga. Pengetahuan, sikap dan praktik orang tua anak DS berperan dalam keterlambatan tatalaksana strabismus pada anak DS di SLB-B Negeri Pembina Palembang.
Effect of Hydrotherapy on Pain Intensity and Functional Ability in Lumbar Disk Herniation (LDH) Patients that Undergo Non-operative Procedure Rahmadhani, Theresa; Fatimah, Nyimas; Zulissetiana, Eka Febri
Majalah Kedokteran Sriwijaya Vol 51, No 1 (2019): Majalah Kedokteran Sriwijaya
Publisher : Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (215.308 KB)

Abstract

Hernia nukleus pulposus (HNP) lumbal merupakan penyakit yang paling sering menjadi penyebab nyeri punggung bawah dan disabilitas fungsional. Beberapa studi menyebutkan bahwa hidroterapi merupakan terapi efektif untuk pasien dengan nyeri punggung bawah. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh hidroterapi terhadap penurunan intensitas nyeri dan perbaikan kemampuan fungsional pasien HNP lumbal. Jenis penelitian ini adalah praeksperimental dengan desain one group pretest-posttest. Pengambilan data dilakukan melalui wawancara langsung mengenai intensitas nyeri yang diukur menggunakan visual analogue scale (VAS) dan kemampuan fungsional yang diukur menggunakan Modified Oswestry Low Back Pain Disability Questionnaire sebelum dan sesudah hidroterapi selama 4 minggu dengan durasi satu kali seminggu. Uji normalitas data dilakukan dengan metode Shapiro-Wilk dan selanjutnya dianalisa dengan Paired t-Test atau Wilcoxon. Dari 30 subjek penelitian, didapatkan bahwa hidroterapi berpengaruh terhadap penurunan intensitas nyeri (p<0,001) dan perbaikan kemampuan fungsional (p<0,001) pasien HNP lumbal yang tidak menjalani tindakan operatif di Instalasi Rehabilitasi Medik RSUP dr. Mohammad Hoesin Palembang. Terdapat pengaruh hidroterapi terhadap intensitas nyeri dan kemampuan fungsional pasien HNP lumbal yang tidak menjalani tindakan operatif.