AMANAH, Dian Mutiara
INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Published : 8 Documents
Articles

Found 8 Documents
Search

Physiological responses of bio-silica-treated oil palm seedlings to drought stress (Tanggap fisiologi bibit kelapa sawit yang diberi bio-silika terhadap cekaman kekeringan)

E-Journal Menara Perkebunan Vol 87, No 1 (2019): April, 2019
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Silica (Si) in the form of soluble silicic acid [H4SiO4] was an element that makes plants more resistant to drought stress through biochemical or molecular processes and contributing to growth stimulation under biotic and abiotic stress conditions. The objective of this study was to determine the response of oil palm seedlings to drought stress by the bio-Si application. The experiment was arranged in complete random design (CRD) with ten replicates.  Bio-Si was developed in solid and liquid forms with a dissolved Si content at least 10% (w/v). The eight combinations of solid bio-Si application per seedling were: (i) blank (without fertilizers), (ii) 5 g NPK 15-15-15, (iii) 5 g NPK 15-15-15 + 109cfu of Si-solubilizing microbes (SSM), (iv-viii) 5 g NPK 15-15-15 + 2.5; 5.0; 7.5; 10 g bio-Si; and 5 g Na2SiO3.  On the other hand, liquid bio-Si application per seedling were: (i) blank (without fertilizers), (ii) 5 g NPK 15-15-15, (iii) 5 g NPK 15-15-15 + 109cfu of SSM, (iv-viii) 5 g NPK 15-15-15 + 25 mL; 50 mL; 75 mL; 100 mL bio-Si; and 50 mL Na2SiO3. Drought stress tolerance was analyzed by using proline concentration, nitrate reductase activity (NRA), chlorophyll content, and stomatal closure in the leave of oil palm seedlings. Based on the physiological response, this research indicates that bio-Si application could induce seedling tolerance to drought stress. The bio-Si treatments gave a positive response of proline concentration, nitrate reductase activity (NRA), chlorophyll content, and stomatal closure. The doses of 5 g NPK 15-15-15 + 7.5 g solid bio-Si and 5 g NPK 15-15-15 + 75 mL liquid bio-Si per seedling were a recommended to increase oil palm seedlings tolerance to drought stress.[Key words: bio-Si, chlorophyll, nitrate reductase activity, Si-solubilizing microbes]. AbstrakSilika (Si) dalam bentuk terlarut asam silikat [H4SiO4]merupakan unsur yang dapat menyebabkan tanaman lebih tahan terhadap cekaman kekeringan melalui proses biokimia atau molekuler dan menstimulasi pertumbuhan dalam kondisi cekaman biotik dan abiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui respons fisiologi bibit kelapa sawit yang diberi bio-Si terhadap cekaman kekeringan. Penelitian didesain dengan rancangan acak lengkap (RAL) dan sepuluh ulangan. Bio-Si dikembangkan dalam bentuk padat dan cair dengan kadar Si terlarut minimal 10 % (b/v). Delapan aplikasi bio-Si padat per bibit adalah: (i) blanko (tanpa pupuk), (ii) 5 g NPK 15-15-15, (iii) 5 g NPK 15-15-15 + 109cfu mikrob pelarut silika, (iv-viii) 5 g NPK 15-15-15 + 2,5 g; 5,0 g; 7,5 g; 10 g bio-Si, dan 5 g Na2SiO3. Sementara untuk aplikasi bio-Si cair per bibit adalah: (i) blanko (tanpa pupuk), (ii) 5 g NPK 15-15-15, (iii) 5 g NPK  15-15-15 + 109cfu mikroorganisme pelarut silika (MPS), (iv-viii) 5 g NPK 15-15-15 + 25 ml; 50 ml; 75 ml; dan 100 mLbio-Si, dan 50 ml Na2SiO3. Pengamatan yang dilakukan meliputi analisis prolin, aktivitas nitrat reduktase (ANR), kandungan klorofil, serta morfologi stomata pada daun bibit kelapa sawit. Berdasarkan data fisiologi yang diperoleh dari kegiatan penelitian ini, aplikasi bio-Si dapat meningkatkan ketahanan bibit kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan. Perlakuan bio-Si memberikan respon positif terhadap konsentrasi prolin,aktivitas nitrat reduktase (ANR), kandungan klorofil, serta morfologi stomata.Dosis 5 g NPK 15-15-15 + 7,5 g bio-Si padat dan 5 g NPK 15-15-15 + 75 mLbio-Si cair dapat direkomendasikan untuk meningkatkan ketahanan bibit kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan.  [Kata kunci: bio-Si, klorofil, aktivitas nitrat reduktase, mikroorganisme pelarut silika].

Biostimulasi pertumbuhan vegetatif tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) pada fase awal di lahan kering (Biostimulation of vegetative growth of sugarcane (Saccharum officinarum L.) in the initial phase on dry land)

E-Journal Menara Perkebunan Vol 86, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

AbstractThe expansion of sugarcane areas as a support to national sugar production has shifted to sub-optimal dry land. In drought stress conditions, early growth of sugarcane usually can inhibite and decrease its productivity. This study aimed to test the efficacy of organic biostimulant in increasing vegetative growth of sugarcane in the dry land. Firstly, seedlings were submerged with biostimulant of Citorin-Rfor overnight. Secondly, the biostimulant application of Citorin-S was carried out by foliar sprayat age1 and4 months old trees. Humicacid 0.5% (v/v) was applied in soil before planting while the application of mycorrhiza was carried out by direct pouring on soil during planting. The results showed that the initial vegetative growth of biostimulant-treated sugarcane stem diameter and length were 23% wider and 27% higher compared to that of control, respectively. In subsequent growth cycle, all observed vegetative parameters showed higher growth value in the biostimulant-treated sugarcanes than that of the control. Plant height, stem diameter and number of tillers of biostimulant-treated sugarcanes had significantly higher values than that of the control. P3 treatment (organic biostimulant plus humic acid and mycorrhiza) was the best treatment. The height and diameter of P3 sugarcane stems were 47% wider and 59% higher, respectively, compared to that of control at 107 DAP.[Keywords: biostimulant, plant height, stem diameter, number of tillers, number of leaves] Abstrak Penambahan areal tanaman tebu untuk mendukung peningkatan produksi gula nasional telah bergeser ke areal sub-optimal lahan kering. Pada kondisi cekaman kekeringan, pertumbuhan awal tebu biasanya terhambat dan dapat menurunkan produktivitas saat panen. Penelitian ini bertujuan menguji efikasi biostimulan organik untukmeningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman tebu pada fase awal di lahan kering. Perlakuan biostimulan Citorin-R diaplikasikan pada benih dengan cara perendaman semalam. Perlakuan kedua, biostimulan Citorin-S disemprotkanpada saat tanaman tebu berumur 1 dan 4 bulan secara foliar spray. Aplikasi asam humat 0,5 % (v/v) di tanah dilakukan sebelum tanam, sedangkan aplikasi mikoriza dilakukan dengan pemberian langsung pada tanah saat penanaman bagal tebu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pertumbuhan vegetatif awal tanaman tebu perlakuan memiliki diameter batang sekitar 23% dan tinggi tanaman 27% lebih tinggi daripada tebu kontrol. Pada pertumbuhan selanjutnya, semua parameter vegetatif yang diamati menunjukkan nilai pertumbuhan yang lebih tinggi pada tanaman tebu perlakuan daripada kontrol. Tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah anakan secara statistik berbeda nyata lebih tinggi pada tanaman tebu perlakuan daripada kontrol. Perlakuan P3 (biostimulan organik plus asam humat dan mikoriza) adalah perlakuan terbaik. Tinggi dan diameter batang tanaman tebu P3 masing-masing 47% dan 59% lebih besar daripada batang tanaman kontrol pada 107 hari setelah tanam (HST).  [Kata kunci :biostimulan, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah anakan, jumlah daun]

Pengaruh biostimulan terhadap pertumbuhan vegetatif tanaman tebu varietas PSJT-941 [Effects of biostimulants on vegetative growth of sugarcane variety PSJT-941]

E-Journal Menara Perkebunan Vol 85, No 1 (2017): April, 2017
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 A plant biostimulan made of local seaweed, Citorin, has been developed and tested increase productivity some seasonal crops such as rice, maize, soybean, chilli and onion. The research aimed to evaluate the effects of the biostimulant application on vegetative growth and productivity of sugarcane varieties PSJT-941 in polybag. The biostimulant was applied at three different stages of development of the sugarcane. With or without the addition of humic acid based biostimulan or mycorrhiza. Biostimulant-R was applied at the time the cane seedlings just before planted by by soaking in 100 ppm biostimulan for overnight, plant sugarcane leaves sprayed aged 1 month to 10 ppm Biostimulant-S much 25 ml per plant, 4 months old foliar sprayed with Biostimulant-S 10 ppm as 120 ml per plant. Of the six treatments (P2 - P7) used all showed better vegetative growths that than the control plants without biostimulan (P1). The best treatment was P3, the rise in the average height of the plants reached 13%, which is a combination of soaking and spraying Biostimulant-S 10 ppm. The following best were the treatment of P6 and P5 those were using a combination of humic acid based biostimulan plus mycorrhiza, and humic acid without mycorrhizae. Likewise, its influence on the number of tillers, P3 is the best treatment by enhancing the number of tillers on average 26% higher than the control. Next was P5 and P6. Meanwhile the influence on the average weight of harvested sugarcane, the best treatment is P7 reached 1.25 kg / per sugarcane or increased 47.1%. Next is the treatment of P4 and P6. As for the effect on the sugar content, the best treatment is P4 reached 11.2 % Bix per sugarcane or increased 13.1 %. Next is the treatment of P5 and P7. Based on the results of the assessment scoring system of three parameters the rooting, weight and sugar yield, the best treatment is the treatment of P5 and P4 P7 later, each with a total score of 13, 12, and 10. [Keywords: Plant biostimulants, productivity, sugar yield, Saccharum officinarum]AbstrakBiostimulan tanaman berbasis rumput laut lokal, Citorin, telah dikembangkan dan diuji meningkatkan produktivitas beberapa tanaman pangan semusim antara padi, jagung, kedelai, cabe, dan bawang merah. Tujuan penelitian ini adalah meneliti pengaruh aplikasi biostimulan tersebut pada pertumbuhan vegetatif dan produktivitas tanaman tebu varietas PSJT-941 di polibeg. Biostimulan diaplikasi pada tiga tingkat perkembangan yang berbeda dari tanaman tebu. Dengan atau tanpa penambahan biostimulan berbasis asam humat atau mikoriza, Biostimulan-R, diaplikasikan pada saat bibit tebu yang akan ditanam, direndam terlebih dahulu dalam dosis 100 ppm selama semalam, tanaman tebu umur 1 bulan disemprot daun dengan Biostimulant-S 10 ppm sebanyak 25 ml per tanaman, umur 4 bulan disemprot daun dengan Biostimulan-S 10 ppm sebanyak 120 ml per tanaman. Dari enam perlakuan (P2 – P7) yang digunakan semuanya menunjukkan pertumbuhan vegetatif yang lebih baik daripada tanaman kontrol tanpa biostimulan (P1).  Terhadap tinggi tanaman tebu umur perlakuan terbaik adalah P3, kenaikan tinggi rata-rata tanaman mencapai 13%, yaitu kombinasi perendaman dalam Biostimulan-R 100 ppm dan penyemprotan Biostimulan-S 10 ppm. Yang berikutnya adalah perlakuan P6 dan P5 yaitu menggunakan kombinasi biostimulan berbasis asam humat plus mikoriza, dan asam humat tanpa mikoriza. Demikian juga pengaruhnya terhadap jumlah anakan, perlakuan P3 adalah yang terbaik dengan peningkat jumlah anakan rata-rata mencapai 26% lebih tinggi daripada kontrol. Berikutnya adalah P5 dan P6. Sementara itu pengaruhnya terhadap rerata bobot batang tebu dipanen, perlakuan terbaik adalah P7 mencapai 1,25 kg/per batang atau naik 47,1%. Berikutnya adalah perlakuan P4 dan P6. Adapun pengaruhnya terhadap kandar gulanya, perlakuan terbaik adalah P4 mencapai 11,2 % Brix atau naik 13,1%. Berikutnya adalah perlakuan P5 dan P7.  Berdasarkan hasil penilaian dengan sistem skoring dari 3 parameter perakaran, bobot panen dan rendemen gula, maka perlakuan terbaik adalah perlakuan P7 kemudian P5 dan P4, masing-masing dengan skor total 13, 12, dan 10.                                  [Kata kunci:  Biostimulan tanaman, produktivitas, rendemen gula, Saccharum officinarum]

Pengaruh biostimulan terhadap toleransi kekeringan dan pertumbuhan tanaman tebu varietas Kidang Kencana di rumah kaca (Effect of biostimulants on drought tolerance and growth of sugarcane var. Kidang Kencana at green house)

E-Journal Menara Perkebunan Vol 86, No 1 (2018): April, 2018
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Increasing productivity and sugar yield of sugarcane are required to meet the increasing demand for sugar. Biostimulants application is one of the effort to increase the productivity and rendement of sugar, especially at drought stress conditions. The purpose of this study was to determine the effect of biostimulants on the performance of sugarcane var. Kidang Kencana known susceptible to drought stress. The research was conducted in the greenhouse with several biostimulant treatments i.e. P0: Control, P1: Citorin-R, P2: Citorin-R and Citorin-S (1x spray) P3: Citorin-R and Citorin -S (2x spray), P4: Citorin-R, Citorin-S (1x spray) and Humic Acid, P5: Citorin-R, Citorin-S (1x spray), Humic Acid and Mycorrhiza, P6: Citorin-R, Citorin-S (2x spray), Humic Acid and Mycorrhiza. All treatments were subjected with drought stress started from 4 months after planting. The biostimulant treatments resulted in better growth and yield on treated-biostimulan compared to these of control. The best treatment for the vegetative growth and the productive parameters was P6. The plant height, stems diameter, segment number, weight, and sap volume at P6 were respectively 32.2%, 5.5%, 24.0%, 53.2% and 44.7% higher than the control. The best treatment for the sugar yield was P5 and the productivity parameters was P6 respectively, 42.5% and 70.5% higher than the control. The best treatments contained Citorin biostimulant. Humic Acid and Mycorrhiza which increased growth and sugar yield of Kidang Kencana sugarcane at drought stress conditions.[Keywords: drought stress Kidang Kencana variety, plant biostimulant, productivity, sugar yield]. AbstrakPeningkatan produktivitas dan rendemen gula tanaman tebu diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gula yang terus meningkat. Aplikasi biostimulan merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan produktivitas dan rendemen gula khususnya pada kondisi tercekam kekeringan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pemberian beberapa produk biostimulan terhadap produktivitas tanaman tebu varietas Kidang Kencana yang rentan cekaman kekeringan. Penelitian dilakukan di rumah kaca dengan perlakuan beberapa perlakuan biostimulan pada tanaman tebu, yaitu P0: Kontrol, P1: Citorin-R, P2: Citorin-R dan Citorin-S (1x semprot) P3: Citorin-R dan Citorin-S (2x semprot), P4: Citorin-R, Citorin-S (1x semprot) dan Asam Humat, P5: Citorin-R, Citorin-S (1x semprot), Asam Humat dan Mikoriza, P6: Citorin-R, Citorin-S (2x semprot), Asam Humat dan Mikoriza. Seluruh perlakuan diberi kondisi cekaman kekeringan pada 4 bulan setelah tanam. Perlakuan biostimulan memberikan pengaruh serta hasil yang lebih baik dibandingkan dengan kontrol baik fase vegetatif maupun produktif. Perlakuan terbaik selama fase vegetatif hingga 5 bulan setelah tanam adalah P6. Tinggi batang panen, diameter batang panen, jumlah ruas batang, bobot batang dan volume nira pada P6 meningkat 32,2%, 5,5%, 24,0%, 53,2% dan 44,7% lebih tinggi dibandingkan dengan kontrol. Perlakuan terbaik untuk parameter rendemen gula adalah P5 dan produktivitas gula adalah P6, masing-masing 42,5% dan 70,5% lebih tinggi dibandingkan kontrol. Perlakuan terbaik tersebut mengandung komponen biostimulan yaitu Citorin, Asam Humat dan Mikoriza yang dapat meningkatkan pertumbuhan dan rendemen gula tanaman tebu Kidang Kencana pada kondisi cekaman kekeringan. [Kata kunci: cekaman kekeringan, varietas Kidang Kencana, biostimulan tanaman, produktivitas, rendemen gula].

Biostimulasi pertumbuhan vegetatif tanaman tebu (Saccharum officinarum L.) pada fase awal di lahan kering (Biostimulation of vegetative growth of sugarcane (Saccharum officinarum L.) in the initial phase on dry land)

E-Journal Menara Perkebunan Vol 86, No 2 (2018): Oktober 2018
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2305.134 KB)

Abstract

AbstractThe expansion of sugarcane areas as a support to national sugar production has shifted to sub-optimal dry land. In drought stress conditions, early growth of sugarcane usually can inhibite and decrease its productivity. This study aimed to test the efficacy of organic biostimulant in increasing vegetative growth of sugarcane in the dry land. Firstly, seedlings were submerged with biostimulant of Citorin-Rfor overnight. Secondly, the biostimulant application of Citorin-S was carried out by foliar sprayat age1 and4 months old trees. Humicacid 0.5% (v/v) was applied in soil before planting while the application of mycorrhiza was carried out by direct pouring on soil during planting. The results showed that the initial vegetative growth of biostimulant-treated sugarcane stem diameter and length were 23% wider and 27% higher compared to that of control, respectively. In subsequent growth cycle, all observed vegetative parameters showed higher growth value in the biostimulant-treated sugarcanes than that of the control. Plant height, stem diameter and number of tillers of biostimulant-treated sugarcanes had significantly higher values than that of the control. P3 treatment (organic biostimulant plus humic acid and mycorrhiza) was the best treatment. The height and diameter of P3 sugarcane stems were 47% wider and 59% higher, respectively, compared to that of control at 107 DAP.[Keywords: biostimulant, plant height, stem diameter, number of tillers, number of leaves] Abstrak Penambahan areal tanaman tebu untuk mendukung peningkatan produksi gula nasional telah bergeser ke areal sub-optimal lahan kering. Pada kondisi cekaman kekeringan, pertumbuhan awal tebu biasanya terhambat dan dapat menurunkan produktivitas saat panen. Penelitian ini bertujuan menguji efikasi biostimulan organik untukmeningkatkan pertumbuhan vegetatif tanaman tebu pada fase awal di lahan kering. Perlakuan biostimulan Citorin-R diaplikasikan pada benih dengan cara perendaman semalam. Perlakuan kedua, biostimulan Citorin-S disemprotkanpada saat tanaman tebu berumur 1 dan 4 bulan secara foliar spray. Aplikasi asam humat 0,5 % (v/v) di tanah dilakukan sebelum tanam, sedangkan aplikasi mikoriza dilakukan dengan pemberian langsung pada tanah saat penanaman bagal tebu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai pertumbuhan vegetatif awal tanaman tebu perlakuan memiliki diameter batang sekitar 23% dan tinggi tanaman 27% lebih tinggi daripada tebu kontrol. Pada pertumbuhan selanjutnya, semua parameter vegetatif yang diamati menunjukkan nilai pertumbuhan yang lebih tinggi pada tanaman tebu perlakuan daripada kontrol. Tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah anakan secara statistik berbeda nyata lebih tinggi pada tanaman tebu perlakuan daripada kontrol. Perlakuan P3 (biostimulan organik plus asam humat dan mikoriza) adalah perlakuan terbaik. Tinggi dan diameter batang tanaman tebu P3 masing-masing 47% dan 59% lebih besar daripada batang tanaman kontrol pada 107 hari setelah tanam (HST).  [Kata kunci :biostimulan, tinggi tanaman, diameter batang, jumlah anakan, jumlah daun]

Acclimatization and early growth of tissue culture-derived Stevia rebaudiana at low altitude area in Bogor, Indonesia (Aklimatisasi dan pertumbuhan awal Stevia rebaudiana asal kultur jaringan pada dataran rendah di Bogor, Indonesia)

E-Journal Menara Perkebunan Vol 87, No 1 (2019): April, 2019
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aklimatisasi merupakan masa transisi sebelum kultur in vitro dapat ditanam di lingkungan ex vitro. Di daerah tropis, stevia seyogianya ditanam di dataran tinggi. Pengembangan klon stevia yang sesuai untuk dataran rendah di kawasan tropis sangat penting untuk memungkinkan penggunaan mekanisasi pada pertanaman stevia yang luas. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh kondisi eksplan dan periode hardening terhadap daya hidup dan pertumbuhan pada tahap aklimatisasi dan pertumbuhan awal stevia klon BS 22 pada area terbuka di dataran rendah di wilayah tropis. Penelitian pertama dilangsungkan menggunakan umur tunas yang berbeda: 0, 1, 2, dan 3 minggu yang dikultur pada media padat sebagai sumber bahan eksplan. Penelitian kedua menggunakan satu buku stevia pada periode hardening dalam media cair selama 1, 4, 7 dan 10 hari. Aklimatisasi dilaksanakan dengan menanam eksplan dalam medium tumbuh campuran pada multi-tray dan diletakkan di dalam sungkup plastik tertutup selama 1 bulan. Tanaman yang berhasil hidup kemudian dipindah ke polibeg pada area terbuka dengan sinar matahari penuh. Pengamatan daya hidup dan pertumbuhan dilakukan pada akhir tahap aklimatisasi dan setelah 2 bulan di area terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan umur 1 minggu yang dikultur pada media padat mempunyai daya hidup tertinggi yakni 83%. Buku tunggal stevia yang dikultur pada medium cair pada tahap hardening selama 4 hari meningkatkan daya hidup menjadi 97% selama aklimatisasi 1 bulan. Setelah aklimatisasi, tinggi tanaman secara rata-rata adalah 2,6 cm dengan 10,6 helai daun. Tanaman yang dipindah ke area terbuka tumbuh pesat dengan tinggi tanaman mencapai 12 cm dengan 30 helai daun dan daya hidup 63% setelah 2 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa stevia klon BS 22 mungkin sesuai untuk dataran rendah di daerah tropis.  [Kata kunci: tanaman pemanis, eksplan tunas, tahap hardening, daya hidup, tropika] AbstractAcclimatization is a transition period before in vitro culture can be planted in ex vitro environment. In the tropical region, stevia is should be planted at high altitude areas. The development of stevia clones suitable for low land area in the tropics is important to make it possible to apply mechanization in a large scale stevia plantation. The purpose of this research was to determine the effect of explant conditions and hardening period on survival rate and growth during acclimatization stage and early growth of stevia clone B 22 in an open area at low altitude area in the tropics. The first experiment was conducted using different shoot ages: 0, 1, 2 and 3 weeks cultured on solid media as an explant material source. The second experiment was using single node of stevia in different hardening periods in liquid media for 1, 4, 7 and 10 days.  Acclimatization was carried out by planting the explants on a mixture growing medium in multi-trays and placed inside a closed plastic tunnel for 1 month. The survival rate and growth parameters were observed at the end of acclimatization stage and after 2 months in the open area. The results show that 1-week explant age on solid media had the highest survival rate at 83%. Hardening single node of shoot in a liquid medium for 4 days increased the survival rate to 97% in 1 month acclimatization stage.  After acclimatization, the plant height on average was 2.6 cm with 10.6 leaves. The survived plants planted in an open area grew rapidly to 12 cm in height with 30 leaves and survival rate 63% within 2 months. It indicates that stevia clone BS 22 may suitable for a low altitude area in the tropics. [Key words: sweetener plant, shoot explant, hardening period, survival rate, tropics]  

Physiological responses of bio-silica-treated oil palm seedlings to drought stress (Tanggap fisiologi bibit kelapa sawit yang diberi bio-silika terhadap cekaman kekeringan)

E-Journal Menara Perkebunan Vol 87, No 1 (2019): April, 2019
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Silica (Si) in the form of soluble silicic acid [H4SiO4] was an element that makes plants more resistant to drought stress through biochemical or molecular processes and contributing to growth stimulation under biotic and abiotic stress conditions. The objective of this study was to determine the response of oil palm seedlings to drought stress by the bio-Si application. The experiment was arranged in complete random design (CRD) with ten replicates.  Bio-Si was developed in solid and liquid forms with a dissolved Si content at least 10% (w/v). The eight combinations of solid bio-Si application per seedling were: (i) blank (without fertilizers), (ii) 5 g NPK 15-15-15, (iii) 5 g NPK 15-15-15 + 109cfu of Si-solubilizing microbes (SSM), (iv-viii) 5 g NPK 15-15-15 + 2.5; 5.0; 7.5; 10 g bio-Si; and 5 g Na2SiO3.  On the other hand, liquid bio-Si application per seedling were: (i) blank (without fertilizers), (ii) 5 g NPK 15-15-15, (iii) 5 g NPK 15-15-15 + 109cfu of SSM, (iv-viii) 5 g NPK 15-15-15 + 25 mL; 50 mL; 75 mL; 100 mL bio-Si; and 50 mL Na2SiO3. Drought stress tolerance was analyzed by using proline concentration, nitrate reductase activity (NRA), chlorophyll content, and stomatal closure in the leave of oil palm seedlings. Based on the physiological response, this research indicates that bio-Si application could induce seedling tolerance to drought stress. The bio-Si treatments gave a positive response of proline concentration, nitrate reductase activity (NRA), chlorophyll content, and stomatal closure. The doses of 5 g NPK 15-15-15 + 7.5 g solid bio-Si and 5 g NPK 15-15-15 + 75 mL liquid bio-Si per seedling were a recommended to increase oil palm seedlings tolerance to drought stress.[Key words: bio-Si, chlorophyll, nitrate reductase activity, Si-solubilizing microbes]. AbstrakSilika (Si) dalam bentuk terlarut asam silikat [H4SiO4]merupakan unsur yang dapat menyebabkan tanaman lebih tahan terhadap cekaman kekeringan melalui proses biokimia atau molekuler dan menstimulasi pertumbuhan dalam kondisi cekaman biotik dan abiotik. Tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui respons fisiologi bibit kelapa sawit yang diberi bio-Si terhadap cekaman kekeringan. Penelitian didesain dengan rancangan acak lengkap (RAL) dan sepuluh ulangan. Bio-Si dikembangkan dalam bentuk padat dan cair dengan kadar Si terlarut minimal 10 % (b/v). Delapan aplikasi bio-Si padat per bibit adalah: (i) blanko (tanpa pupuk), (ii) 5 g NPK 15-15-15, (iii) 5 g NPK 15-15-15 + 109cfu mikrob pelarut silika, (iv-viii) 5 g NPK 15-15-15 + 2,5 g; 5,0 g; 7,5 g; 10 g bio-Si, dan 5 g Na2SiO3. Sementara untuk aplikasi bio-Si cair per bibit adalah: (i) blanko (tanpa pupuk), (ii) 5 g NPK 15-15-15, (iii) 5 g NPK  15-15-15 + 109cfu mikroorganisme pelarut silika (MPS), (iv-viii) 5 g NPK 15-15-15 + 25 ml; 50 ml; 75 ml; dan 100 mLbio-Si, dan 50 ml Na2SiO3. Pengamatan yang dilakukan meliputi analisis prolin, aktivitas nitrat reduktase (ANR), kandungan klorofil, serta morfologi stomata pada daun bibit kelapa sawit. Berdasarkan data fisiologi yang diperoleh dari kegiatan penelitian ini, aplikasi bio-Si dapat meningkatkan ketahanan bibit kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan. Perlakuan bio-Si memberikan respon positif terhadap konsentrasi prolin,aktivitas nitrat reduktase (ANR), kandungan klorofil, serta morfologi stomata.Dosis 5 g NPK 15-15-15 + 7,5 g bio-Si padat dan 5 g NPK 15-15-15 + 75 mLbio-Si cair dapat direkomendasikan untuk meningkatkan ketahanan bibit kelapa sawit terhadap cekaman kekeringan.  [Kata kunci: bio-Si, klorofil, aktivitas nitrat reduktase, mikroorganisme pelarut silika].

Acclimatization and early growth of tissue culture-derived Stevia rebaudiana at low altitude area in Bogor, Indonesia (Aklimatisasi dan pertumbuhan awal Stevia rebaudiana asal kultur jaringan pada dataran rendah di Bogor, Indonesia)

E-Journal Menara Perkebunan Vol 87, No 1 (2019): April, 2019
Publisher : INDONESIAN RESEARCH INSTITUTE FOR BIOTECHNOLOGY AND BIOINDUSTRY

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Aklimatisasi merupakan masa transisi sebelum kultur in vitro dapat ditanam di lingkungan ex vitro. Di daerah tropis, stevia seyogianya ditanam di dataran tinggi. Pengembangan klon stevia yang sesuai untuk dataran rendah di kawasan tropis sangat penting untuk memungkinkan penggunaan mekanisasi pada pertanaman stevia yang luas. Tujuan penelitian ini adalah menentukan pengaruh kondisi eksplan dan periode hardening terhadap daya hidup dan pertumbuhan pada tahap aklimatisasi dan pertumbuhan awal stevia klon BS 22 pada area terbuka di dataran rendah di wilayah tropis. Penelitian pertama dilangsungkan menggunakan umur tunas yang berbeda: 0, 1, 2, dan 3 minggu yang dikultur pada media padat sebagai sumber bahan eksplan. Penelitian kedua menggunakan satu buku stevia pada periode hardening dalam media cair selama 1, 4, 7 dan 10 hari. Aklimatisasi dilaksanakan dengan menanam eksplan dalam medium tumbuh campuran pada multi-tray dan diletakkan di dalam sungkup plastik tertutup selama 1 bulan. Tanaman yang berhasil hidup kemudian dipindah ke polibeg pada area terbuka dengan sinar matahari penuh. Pengamatan daya hidup dan pertumbuhan dilakukan pada akhir tahap aklimatisasi dan setelah 2 bulan di area terbuka. Hasil penelitian menunjukkan bahwa eksplan umur 1 minggu yang dikultur pada media padat mempunyai daya hidup tertinggi yakni 83%. Buku tunggal stevia yang dikultur pada medium cair pada tahap hardening selama 4 hari meningkatkan daya hidup menjadi 97% selama aklimatisasi 1 bulan. Setelah aklimatisasi, tinggi tanaman secara rata-rata adalah 2,6 cm dengan 10,6 helai daun. Tanaman yang dipindah ke area terbuka tumbuh pesat dengan tinggi tanaman mencapai 12 cm dengan 30 helai daun dan daya hidup 63% setelah 2 bulan. Hal ini menunjukkan bahwa stevia klon BS 22 mungkin sesuai untuk dataran rendah di daerah tropis.  [Kata kunci: tanaman pemanis, eksplan tunas, tahap hardening, daya hidup, tropika] AbstractAcclimatization is a transition period before in vitro culture can be planted in ex vitro environment. In the tropical region, stevia is should be planted at high altitude areas. The development of stevia clones suitable for low land area in the tropics is important to make it possible to apply mechanization in a large scale stevia plantation. The purpose of this research was to determine the effect of explant conditions and hardening period on survival rate and growth during acclimatization stage and early growth of stevia clone B 22 in an open area at low altitude area in the tropics. The first experiment was conducted using different shoot ages: 0, 1, 2 and 3 weeks cultured on solid media as an explant material source. The second experiment was using single node of stevia in different hardening periods in liquid media for 1, 4, 7 and 10 days.  Acclimatization was carried out by planting the explants on a mixture growing medium in multi-trays and placed inside a closed plastic tunnel for 1 month. The survival rate and growth parameters were observed at the end of acclimatization stage and after 2 months in the open area. The results show that 1-week explant age on solid media had the highest survival rate at 83%. Hardening single node of shoot in a liquid medium for 4 days increased the survival rate to 97% in 1 month acclimatization stage.  After acclimatization, the plant height on average was 2.6 cm with 10.6 leaves. The survived plants planted in an open area grew rapidly to 12 cm in height with 30 leaves and survival rate 63% within 2 months. It indicates that stevia clone BS 22 may suitable for a low altitude area in the tropics. [Key words: sweetener plant, shoot explant, hardening period, survival rate, tropics]