Bangsawan, Merah
Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang Bandar Lampung Indonesia

Published : 11 Documents
Articles

Found 11 Documents
Search

HUBUNGAN POLA HIDUP TERHADAP KEJADIAN BUNGKUK OSTEOPOROSIS TULANG BELAKANG WANITA USIA LANJUT DI KOTA BANDAR LAMPUNG

Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik Vol 8, No 1 (2012): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang Bandar Lampung Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Osteoporosis adalah suatu keadaan berkurangnya kepadatan massa tulang. Kehilangan massa tulangini terjadi dalam proses yang lambat dan tanpa adanya gejala serta resiko osteoporosis meningkat dengan bertambahnya usia. Penelitian dilaksanakan di Posyandu Lanjut Usia Kecamatan Rajabasa Kota Bandar Lampung, dengan tujuan utamanya melakukan eksplorasi deskriptif dalam fenomena kesehatan tentang hubungan pola hidup terhadap kejadian bungkuk osteoporosis tulang belakang. Desain penelitian cross sectional yaitu penelitian yang bersifat survei deskriptif korelatif. Populasi adalah seluruh wanita lanjut usia (≥ 60 tahun), masih mampu berjalan, dan bertempat tinggal di Kecamatan Rajabasa yaitu berjumlah 70 orang wanita usia lanjut. Metode analisis data dengan uji statistik Chi-Square, dengan tingkat kemaknaan 5% (α = 0,05). Hasil penelitian didapatkan dari 70 responden berdasarkan distribusi pola makan, ada 32,9% yang memiliki pola makan kurang baik dan 67,1% yang memiliki pola makan baik, distribusi aktivitas fisik atau ber-olah raga teratur terdapat 47,1% yang melakukan aktivitas fisik kurang baik dan 52,9% yang melakukan aktivitas fisik baik. Berdasarkan distribusi kebiasaan merokok sebesar 14,3% dan 85,7% tidak memiliki kebiasaan merokok, berdasarkan kebiasaan minum kopi yaitu 42,9% dan 57,1% tidak memiliki kebiasaan minum kopi, sedangkan berdasarkan distribusi kebiasaan mengkonsumsi obat-obatan tertentu ada 20% dan 80% tidak mengkonsumsi obat-obatan tertentu. Kejadian bungkuk osteoporosis tulang belakang sebesar 32,9% dan 67,1% lainnya tidak menderita bungkuk osteoporosis tulang belakang. Hasil uji statistik diperoleh adanya hubungan yang bermakna antara pola makan, pola aktivitas fisik, kebiasaan merokok, dan kebiasaan meminum kopi terhadap kejadian bungkuk osteoporosis tulang belakang, sedangkan hubungan tidak bermakna antara kebiasaan memium kopi terhadap kejadian bungkuk osteoporosis tulang belakang.

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEJADIAN HIPERTENSI

Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik Vol 11, No 2 (2015): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang Bandar Lampung Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hipertensi adalah tekanan darah 140/90 mmHg ke atas, diukur di kedua lengan tiga kali dalam jangka beberapa minggu. Menurut faktor pencetus timbulnya hipertensi adalah merokok, kurang berolahraga, kegemukan (obesitas), jenis kelamin, faktor genetik, dan usia. WHO (World Health Organization) Indonesia memiliki angka 15% dari 230 juta penduduk Indonesia menderita hipertensi. Provinsi Lampung tahun 2012 hipertensi merupakan penyakit ketiga dari 10 besar penyakit dengan jumlah kasus 71.034 kasus (11 %) dari 645.255 kasus. Tujuan penelitian ini mengetahui hubungan antara 6 faktor penyebab hipertensi yakni jenis kelamin, olahraga, merokok, usia, keturunan, dan obesitas dengan kejadian hipertensi di Desa Karang Anyar, Kecamatan Jati Agung, Kabupaten Lampung Selatan. Metode penelitian korelasi dengan pendekatan cross-sectional. Populasi berjumlah 155 orang penderita hipertensi.Hasil penelitian didapatkan terdapat tiga faktor yang berhubungan dengan kejadian hipertensi, yakni faktor jenis kelamin dengan p-value 0,04, faktor merokok p-value 0,04 dan faktor usia p-value 0,01 dimana p-value=0,05sehingga terdapat hubungan yang bermakna antara faktor jenis kelamin, merokok dan usia dengan kejadian hipertensi di Desa Karang Anyar. Terdapat tiga faktor yang tidak berhubungan dengan kejadian hipertensi yakni faktor Berolahraga p-value 0,17, keturunan p-value 0,12, obesitas p-value 1,93 sehingga tidak terdapat hubungan yang bermakna antara faktor olahraga, keturunan dan obesitas dengan kejadian hipertensi di Desa Karang Anyar. Hasil penelitian disarankan kepada masyarakat untuk menjaga dan mengatur pola hidup sehat, tidak merokok, aktif berolahraga secara rutin, untuk mencegah terjadinya komplikasi dan menstabilkan tekanan darah.

EFEK KOMBINASI BACAAN AL QURAN DAN TERAPI FARMAKOLOGIS TERHADAP PENURUNAN INTENSITAS NYERI PADA PASIEN FRAKTUR EKSTREMITAS

Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik Vol 9, No 1 (2013): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang Bandar Lampung Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penanganan nyeri  dengan pemberian terapi farmakologi menimbulkan efek samping oleh karena itu disarankan untuk menggunakan kombinasi dengan terapi non farmakologi. Salah satunya yaitu bacaan Al Quran (Murotal) yang  dapat menstimulus gelombang delta sehingga pendengarnya  menjadi tenang, tentram, dan nyaman. Efek yang ditimbulkan diharapkan   menurunkan intensitas nyeri yang dialami pasien seperti pasien fraktur ekstremitas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek kombinasi bacaan Al Quran dan terapi farmakologis terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien fraktur ekstremitas di Ruang Rawat Inap RSAM  Propinsi  Lampung. Desain penelitian menggunakan kuasi eksperimen pre-post test with group control dengan sampel sebanyak 31  yang dirawat pada bulan Juli hingga Agustus 2012. Hasil penelitian memperoleh kesimpulan bahwa terdapat perbedaan efek kombinasi bacaan Al Quran dan terapi farmakologis yang bermakna terhadap penurunan intensitas nyeri pada pasien fraktur ekstremitas di Ruang Rawat Inap RSAM  Propinsi  Lampung dengan p value=0,003. Disarankan agar Hasil penelitian  dapat diaplikasikan di  ruang rawat inap RS Abdul Moeloek Propinsi Lampung  dalam rangka pengembangan  tindakan keperawatan terutama yang berhubungan dengan terapi non farmakologis sebagai alternatif terapi dalam pengelolaan nyeri pada pasien fraktur. Juga penelitian ini dapat dilanjutkan pada pasien selain fraktur ektermitas dan sampel  yang lebih banyak lagi dengan mempertimbangkan factor jenis kelamin, umur dan pengalaman nyeri yang pernah dialami pasien.

FAKTOR RISIKO YANG MEMPERCEPAT TERJADINYA KOMPLIKASI GAGAL JANTUNG PADA KLIEN HIPERTENSI

Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik Vol 9, No 2 (2013): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang Bandar Lampung Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Studi berbasis masyarakat telah menunjukkan bahwa hipertensi dapat berkontribusi bagi perkembangan gagal jantung sebanyak 50-60% dari pasien. Pada pasien hipertensi, risiko gagal jantung meningkat sebesar 2 kali lipat pada laki-laki dan 3  kali lipat pada wanita (Said Alvin, 2011). Laporan angka kejadian penyakit di Bandar Lampung tahun 2011 pada triwulan ketiga, jumlah penderita gagal jantung sebanyak 155 orang dengan jumlah laki laki terbanyak dan meninggal 14 orang, sedangkan pada tahun 2010, pasien yang menjalani perawatan gagal jantung di RSUDAM  Provinsi Lampung sebanyak 504 orang, 39 pasien atau 46,43% mengalami gagal jantung akibat hipertensi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempercepat terjadinya komplikasi gagal jantung pada klien hipertensi di RSUDAM Provinsi Lampung.Penelitian ini menggunakan desain penelitian cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah klien hipertensi yang melakukan perawatan baik rawat jalan maupun rawar inap di RSUDAM Provinsi Lampung. Besar sampel dalam penelitian ini sebanyak 97 responden dengan teknik sampling yang digunakan adalah quota sampling.Hasil penelitian pada penelitian ini didapatkan bahwa tidak ada hubungan antara usia saat pertama menderita hipertensi dengan kecepatan timbulnya komplikasi gagal jantung pada klien hipertensi, tidak ada hubungan antara jenis kelamin dengan kecepatan timbulnya komplikasi gagal jantung pada klien hipertensi, tidak ada hubungan antara terkontrolnya hipertensi dengan kecepatan timbulnya komplikasi gagal jantung pada klien hipertensi. Sesuai dengan hasil penelitian tersebut, maka disarankan untuk penelitian selanjutnya untuk membandingkan jumlah risiko yang dimiliki oleh pasien terhadap timbulnya komplikasi gagal jantung.

Dukungan Keluarga dan Koping Stres pada Lansia yang Mengalami Masalah Kesehatan Fisik di Satu Desa pada Kabupaten Lampung Selatan

Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik Vol 13, No 2 (2017): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang Bandar Lampung Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Gangguan kesehatan yang dialami lansia menyebabkan stresor karena merasa menurunnya kesehatan menyebabkan lansia khawatir terhadap keselamatan jiwa, menjadi beban bagi keluarga karena harus mengurus dan merawat lansia ketika sakit serta menjadi beban bagi keluarga karena harus menanggung biaya pengobatan untuk membayar jasa medis saat berobat ke pelayanan kesehatan sehingga lansia merasa tidak berguna. Jumlah lansia di Kabupaten Lampung Selatan sebanyak 46.140 lansia, di mana jumlah laki-laki sebanyak 22.898 lansia dan perempuan sebanyak 23.242 lansia. Masalah kesehatan fisik banyak yang menderita penyakit seperti hipertensi, rhematoid artritis, gastritis dan influenza (Badan Pusat Statistik, 2014).Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan desain atau rancangan penelitian cross sectional yaitu ingin mengetahui hubungan antara dua variabel atau lebih yakni hubungan antara dukungan keluarga dengan koping stres pada lansia yang mengalami masalah kesehatan fisikdi LKS. Al-Akhsan Desa Hajimena, Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2016.Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh lansia yang menjadi anggota LKS Al-Akhsan Desa Hajimena berdasarkan data dari pengurus LKS.Al-Ikhsan Desa Hajimena bulan Agustus 2016 yaitu sebanyak 80 orang lansia. Sampel penelitian ini adalah total populasi yang berarti seluruh populasi dalam penelitian dan dibatasi oleh kriteria inklusi sebanyak 58 orang lanjut usia. Hasil analisis dengan mengunakan uji chi squareterdapat hubungan antara dukungan keluarga dengan koping stres pada lansia yang mengalami masalah kesehatan  dengan p value sebesar 0,000. Dari hasil penelitian ini disarankan untuk dapat dilakukan penyuluhan terhadap responden dan masyarakat mengenai perlunya gukungan keluarga terhadap koping stres.

Pengaruh Aromaterapi Lavender terhadap Penurunan Intensitas Nyeri Pasien Paska Operasi Sectio Caesarea

Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik Vol 14, No 1 (2018): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang Bandar Lampung Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Persalinan sectio caesarea memiliki nyeri lebih tinggi sekitar 27,3% dibandingkan dengan persalinan normal yang hanya sekitar 9% (Pratiwi dkk, 2012). Terdapat alternatif dalam penanganan nyeri dengan nonfarmakologi berupa teknik relaksasi pernapasan menggunakan aromaterapi lavender. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui pengaruh teknik relaksasi aromatherapi lavender terhadap penurunan intensitas nyeri pada post operasi sectio caesarea.Metode penelitian Quasi Experiment dengan rancangan non-equivalent control group. Teknik pengambilan sampel accidental sampling, diperoleh sampel 24 responden yang terbagi dalam kelompok intervensi dan kontrol. Pengumpulan data menggunakan instrument Numerical Rating Scale (NRS). Uji statistik menggunakan Uji Wilcoxon.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada penurunan rasa nyeri pada kelompok intervensi dari 6.92 menjadi 3.83 (skala nyeri ringan) dan didapatkan rata-rata skala nyeri ibu post operasi sectio caesareasebelum dan sesudah pada kelompok kontrol yaitu 6.92 dan5.25. Setelah dilakukan Uji Wilcoxon menunjukkan bahwa ada perbedaan yang bermakna antara kelompok kontrol dan kelompok intervensi sebelum dan sesudah dilakukan teknik relaksasi aromatherapi lavender terhadap penurunan intensitas nyeri pada post operasi sectio caesarea dengan p value 0.000 (p value < 0.05). Peneliti menyarankan agar pihak rumah sakit perlu mempertimbangkan agar perawat maupun bidan dapat mengaplikasikan pemberian aromatherapi sebagai terapi komplementer untuk menurunkan nyeri post sectio caesarea sesuai keadaan pasien dan SOP yang ada.

ANALISIS KARAKTERISTIK PEKERJA DENGAN GANGGUAN KETULIAN PEKERJA PABRIK KELAPA SAWIT

Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik Vol 10, No 2 (2014): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang Bandar Lampung Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Hasil survey di pabrik es di Jakarta menunjukkan terdapat gangguan pendengaran pada 50% karyawan disertai peningkatan ambang dengar sementara sebesar 5-10 dB, karyawan yang telah bekerja terus-menerus selama 5-10 tahun (Hendarmin, 2005). Hasil penelitian Hatta, dkk (2010) di Pabrik Pengolahan Kelapa Sawit PTPN 7 diperoleh hasil, dari 17 sampel terdapat 9 orang merasakan keluhan gangguan pendengaran subjektif (53%), bahkan dapat menyebabkan kehilangan pendengaran yang sifatnya permanen. Berdasarkan permasalahan tersebut, tujuan penelitian adalah untuk menguji karakteristik pekerja (umur, lama kerja, dan penggunaan APP) terhadap gangguan ketulian pekerja pabrik kelapa sawit unit usaha Rejosari PTPN VII Kecamatan Natar, Lampung Selatan tahun 2012.Desain penelitian cross sectional. Jumlah sampel dalam penelitian ini total populasi yaitu 34 orang pekerja pabrik. Penelitian dilaksanakan dari bulan Nopember -  bulan Desember 2012. Uji hipotesis digunakan adalah Chi-Square test ( = 0,05). Hasil uji hipotesis hubungan antara umur terhadap gangguan ketulian ternyata p value = 0,023, lama kerja terhadap gangguan ketulian p value = 0,002, dan antara penggunaan APP terhadap gangguan ketulian pvalue 0,031, sehingga p value < 0,05 yang berarti semua variabel yang diteliti menunjukkan ada hubungan yang signifikan terhadap gangguan ketulian pekerja pabrik kelapa sawit unit usaha Rejosari. 

PENDIDIKAN DAN PENGETAHUAN PADA IBU YANG MEMPUNYAI BAYI USIA 6-12 BULAN DENGAN PEMBERIAN ASI EKSKLUSIF

Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik Vol 10, No 1 (2014): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang Bandar Lampung Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ASI eksklusif adalah ASI yang diberikan pada bayi tanpa makanan tambahan atau cairan sampai umur 6 bulan (Suryoprajogo, 2009:53). Faktor-faktor pemberian ASI sangat mempengaruhi pemberian ASI eksklusif,tingkat pendidikan dan pengetahuan merupakan salah satu faktor yang mempengaruhi pemberian ASI eksklusif.Tujuan penelitian,mengetahui hubungan pendidikan dan pengetahuan ibu yang mempunya bayi usia 6-12 bulan terhadap pemberian ASI eksklusif di  Desa Donomulyo Lampung Timur Tahun 2013. Jenis penelitian Analitik dengan pendekatancross sectional. Penelitian dilakukan pada tanggal 28 juni s/d 9 juli 2013. Pengambilan sampel menggunakan teknik Simpel Random Sampling dengan jumlah responden 52 orang.Analisis data dengan menggunakan uji chi square.Hasil penelitian membuktikan bahwa pada α 5% ada hubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dan pemberian ASI eksklusif dengan nilai p= 0,013, dan ada hubungan yang signifikan juga antara tingkat pengetahuan ibu terhadap pemberian ASI eksklusif dengan nilai p= 0,000. Kesimpulan bahwa tingkat pendidikan dan pengetahuan ibu yang mempunyai bayi usia 6-12 bulan berhubungan dengan pemberian ASI eksklusif di Desa Donomulyo Lampung Timur Tahun 2013. Saran untuk petugas kesehatan lebih meningkatkan  penyuluhan tentang kesehatan, terutama tentang pemberian ASI sehingga masyarakat khususnya ibu-ibu menyusui dapat mengetahui secara jelas tentang kandungan ASI, keuntungan bagi ibu dan bayi jika memberikan ASI secara eksklusif. 

KARAKTERISTIK IBU YANG TIDAK MELAKUKAN PEMERIKSAAN PAP SMEAR

Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik Vol 12, No 1 (2016): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang Bandar Lampung Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Berdasarkan laporan RSAM (2013),ditemukan: tahun 2011 ada 28 kasus cancer serviks mengalami infeksi dan 16 kasus lesi prakanker, tahun 2012 ada 35 kasus cancer serviks dan tahun 2013 ada 38 kasus cancer serviks  tahun (setiap tahun mengalami peningkatan kasus cancer serviks di Indonesia semakin diperburuk lagi yaitu 70% kasus cancer serviks sudah berada dalam stadium lanjut, ketika datang ke rumah sakit yang menyebabkan sulit untuk diatasi, bahkan kasus berakhir dengan kematian. Oleh karna itu perlu sosialisasi gerakan pemeriksaan pap smear untuk mendeteksi dini cancer serviks oleh RS. Jenis penelitian adalah deskriptif. Populasi penelitian adalah ibu-ibu yang tidak melakukan pemeriksaan pap smear, datang ke Poliklinik Kebidanan RSUDAM Provinsi Lampung, umur 17-55 tahun. Jumlah populasi penelitian = 80 responden. Sampel: total populasi, instrumen data: kuesioner, dan analisis data univariat, uji presentase (%). Hasil penelitian didapatkan bahwa karakteristik ibu yang tidak melakukan pemeriksaan pap smear adalah berdasarkan umur yang tertinggi adalah ibu yang berumur 17-45 tahun, termasuk dalam klasifikasi umur reproduksi sebesar 46 orang ibu (57,50%) berdasarkan tingkat pengetahuan tentang pemeriksaan pap smear yang tertinggi adalah ibu dengan kriteria pengetahuan cukup sebesar 38 orang ibu (47,50%) berdasarkan paritas yang tertinggi adalah paritas lebih dari satu anak, termasuk dalam klasifikasi paritas multipara yaitu sebesar 36 orang ibu (45,00%). Berdasarkan status pekerjaan yang tertinggi adalah ibu yang pekerjaannya pegawai Negeri Sipil (PNS) sebesar 23 orang ibu (28,75%). Berdasarkan status perkawinan yang tertinggi adalah ibu yang menikah sebanyak 67 orang ibu (83,75%). Berdasarkan pendidikan yang tertinggi adalah lulus pendidikan Perguruan Tinggi yaitu sebanyak 30 orang ibu (37,50%),dan lulus pendidikan SMA atau sederajat sebanyak 28 orang ibu (35,00%).Diharapkan petugas kesehatan dapat member1kan penyuluhan tentang perlunya pemeriksaan Pap Smear untuk deteksi dini kanker serviks 

PENGARUH TERAPI DISTRAKSI VISUAL DENGAN MEDIA VIRTUAL REALITY TERHADAP INTENSITAS NYERI PASIEN POST OPERASI LAPARATOMI

Jurnal Ilmiah Keperawatan Sai Betik Vol 14, No 2 (2018): Jurnal Keperawatan
Publisher : Jurusan Keperawatan Poltekkes Kemenkes Tanjung Karang Bandar Lampung Indonesia

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Nyeri post operasi laparotomi dapat dikelola dengan terapi farmakologi dan non farmakologi. Perawat memiliki peran yang sentral dalam upaya penurunan nyeri melalui berbagai modalitas keperawatan mandiri. Salah satunya adalah teknik distraksi visual dengan media virtual reality. Penelitian bertujuan untuk mengetahui pengaruh terapi distraksi visual dengan media virtual reality terhadap intensitas nyeri pada pasien post operasi laparatomi.Desain penelitian ini adalah pra eksperimen dengan rancangan one group pretest-posttest.Teknik sampling menggunakan teknik purposive sampling dengan jumlah sampel sebanyak 11 responden. Data nyeri dikumpulkan pre dan post tindakan, selanjutnya dianalisis secara univariat dan bivariat dengan uji Wilcoxon. Hasil penelitian diperoleh rata- rata intensitas nyeri sebelum terapi distraksi visual dengan media virtual reality 5.18dengan  standar deviasi 0.751. Sedangkan intensitas nyeri sesudah terapi 3.55 dengan standar deviasi 1.036.Hasil uji statistik didapatkan hasil p-value 0.002 (p-value 0.002 < α 0.05), maka disimpulkan ada pengaruh terapi distraksi visual dengan media virtual reality terhadap intensitas nyeri pada pasien post operasi laparatomi. Peneliti menyarankan agar terapi distraksi visual dengan media virtual reality digunakan sebagai salah satu intervensi mandiri keperawatan pada masalah nyeri pasien post operasi.