p-Index From 2014 - 2019
0.882
P-Index
This Author published in this journals
All Journal METANA
Broto, R.T.D. Wisnu
Universitas Diponegoro

Published : 5 Documents
Articles

Found 5 Documents
Search

Efektifitas Pemakaian Solvent Sebagai Pelarut Formula Insektisida Dalam Membasmi Nyamuk Aedes Aegypti Guna Mencegah Penyakit Demam Berdarah Dengue

METANA Vol 14, No 2 (2018): Desember 2018
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.11 KB)

Abstract

Formula yang ada dipasar bebas hanya dapat membunuh nyamuk saja, maka dalam penelitian ini akan dilakukan  Produksi formulasi insektisida sebagai insektisida alternative pembunuh nyamuk dan jentik, dimana agrisol dan dodecyl benzen sulfonat merupakan emulsifier nonionic dan anionic sert bersifat hydrophilic. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi emusifier yang tepat dalam proses formulasi insektisida, sehingga kestabilan emulsi antara minyak dengan air dalam waktu yang cukup lama Pada percobaan pembuatan emulsifier konsentrat kemudian dilakukan uji kestabilan emulsi antara minyak dan air serta uji effikasi Maka dapat diproduksi formula yang digunakan sebagai bahan dasar insektisida dalam membasmi nyamuk dan jentik nyamuk Aedes aigepty. Disamping itu juga dapat menjadi formula obat nyamuk (insektisida) alternatif yang mudah diaplikasikan oleh masyarakat. Hasil penelitian menunjukan bahwa emulsifier concentrat yang terbaik adalah pada percobaan dengan formula komposisi: 17,38% propoxure; Malathion 17,39% agrisol; 13,01%  DBS, 47,83 % Xyline dan 4,35% additive dalam % berat. Dengan total emulsifier yang digunakan 30,5 % w/w  equivalent dengan 30 EC  Dari uji kestabilan antara minyak dan air didapat pelarut yang terbaik adalah thiner, dengan membentuk micro emulsi pada lapisan air sampai 12 minggu lebih, kestabilan emulsi tercapai pada CMC 0,42 % v/v pada lapisan minyak. Dari uji effikasi dengan pengencer thiner sebanyak 10x setelah dianalisa profitabilitas sesuai LD 50, didapat dosis . 0,025 -0,25 % (v/v), baik untuk telur nyamuk maupun jentik Aedes aegypti dengan prosentasi kemation 45-90%  Effectiveness of Solvent Usage as a Solvent for Insecticide Formula in Eradicating Aedes Aegypti Mosquitoes to Prevent Dengue Hemorrhagic Fever Pesticide formulation which are available in market are only killed the mosquitos but not the larvae. Therefore Production formulation of insecticide as inscticide alternative to eridicate mosquitos and its larvae with agrisol and dodecyl benzen sulfonat as emulsifier nonionic and anionic hydrophilic. The reseach work was aimed to determine the best emulcifier concentrate in pesticide formulation  so that the emulsion of oil and water will be stable for a long time.  In reseach work the emulsifier concentrate was made, than emulsion stability test between oil and water as well as its effectivity were condected. This formulation could be used as active engridient for insecticide to kill Aedes aigepty mosquitos and its larvae and could be applied in the community.  The research showed that formulation consist of komposisi: 17,38% propoxure; Malathion 17,39% agrisol; 13,01%  DBS, 47,83 % Xyline dan 4,35% additive dalam % berat. Dengan total emulsifier yang digunakan 30,5 % w/w  equivalent 30% w/w.  Stability test of oil and water showed that the best solvent is thiner,  and formed micro emulsi on water film for more than 12 week.  Emulsion was stable by CMC 0,42 % v/v on oil film. From effication test and than analysis profitability revealed that LD 50, was . 0,025 -0,25 % (v/v), both for larvae and mosquitos presented dead 45-90%. 

Test Stability Of Natural Color Dyes From The Lether Fruit Of Palm’s Waste

METANA Vol 14, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (916.574 KB)

Abstract

The leather fruit of palm (Borassus flabilifer) is one of the local fruit native to Indonesia produced from palm plants are very abundant due to not knowing the season During this leather palm fruit  is still not widely used and is only regarded as wastes. The leather palm fruit  color has anthocyanin substances which are natural pigments reddish color. The extraction of the leather palm  by using different types of solvents include water, ethanol water mixture, the mixture of water - propanol, a mixture of water-ethanol-propanol, ethanol, a mixture of ethanol - propanol and propanol. The best extraction results were obtained by using ethanol solvent. Furthermore, stability test of pigment extract’s the leather fruit of palm (anthocyanin) to pH, temperature, light, and color was done by using UV-Vis spectrophotometer at maximum wavelength 520 nm. In the stability test of pigment extract’s the leather palm fruit (anthocyanin) to pH, pH range 0-5 with interval 1 obtained the best pH 1 with absorbance value 0,3965. Temperature stability test with temperature range 50 -100oC with 10oC range gives best temperature 50oC with absorbance value 0,387. The results of stability test of  pigment extract’s the leather fruit of palm (anthocyanin) to light showed decrease of absorbance value directly proportional to duration of irradiation The natural anthocyanin dye stability test derived from siwalan peel shows the extract with the greatest total anthocyanin having a large color intensity as well. Uji Stabilitas Zat Warna Alami  dari Limbah  Kulit buah Siwalan Buah siwalan (Borassus flabilifer) adalah salah satu buah lokal produk asli Indonesia yang dihasilkan dari tanaman lontar sangat melimpah karena tidak mengenal musim. Selama ini kulit buah siwalan masih belum banyak dimanfaatkan dan hanya dianggap sebagai limbah. Kulit buah siwalan mempunyai kandungan zat warna antosiaanin yang merupakan zat warna alami berwarna kemerah-merahan. Kulit buah siwalan di ekstraksi dengan menggunakan berbagai jenis solven antara lain air, campuran air etanol, campuran air – propanol, campuran air-etanol-propanol, etanol, campuran etanol – propanol dan propanol. Hasil ekstraksi terbaik didapatkan dengan menggunakan solvent etanol.  Selanjutnya dilakukan uji stabilitas ekstrak zat warna kulit buah siwalan (antosianin)  terhadap pH, suhu, sinar, dan warna dengan menggunakan spektrofotometer UV-Vis pada panjang gelombang maksimum 520 nm. Pada uji stabilitas ekstrak zat warna kulit buah siwalan (antosianin)  terhadap pH, rentang pH 0-6 dengan interval 1 didapat pH terbaik 1 dengan nilai absorbansi 0,3965. Uji stabilitas suhu dengan rentang suhu 50 -100oC dengan rentang 10oC menghasikan suhu terbaik 50oC dengan nilai absorbansi 0,387.  Hasil uji stabilitas ekstrak zat warna kulit buah siwalan (antosianin)  terhadap sinar menunjukkan penurunan nilai absorbansi berbanding lurus dengan lamanya penyinaran. Uji stabilitas zat warna alami antosianin yang berasal dari kulit buah siwalan menunjukkan ekstrak dengan total antosianin paling besar  memiliki intensitas warna yang besar pula.  

Efikasi Formula Insektisida Berbahan Aktif Propoxure Dan Malathion Terhadap Vektor Penyakit DBD

METANA Vol 14, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (892.068 KB)

Abstract

Beberapa formula insektisida tidak efektif untuk membasmi vektor penyakit Demam berdarah dengue sehingga digunakan formula kombinasi beberapa insektisida golongan organofosfat dan karbamat yang terbukti memenuhi standar Komisi Pestisida Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk  menguji efikasi formulasi campuran golongan organofosfat dan karbamat terhadap vektor DBD Aedes aegypti strain Semarang. Formulasi insektisida yang digunakan mempunyai komposisi propoxure 17 %, Malathion 3 %, agrisol 13 %, DBS 7 %, Xyline 55 %, dan additive 5 % (% berat). Uji efikasi (uji LD 50)dilakukan dengan menggunakan hewan uji nyamuk Aedes aegypti strain kota Semarang. Sebelum digunakan uji efikasi, formula insektisida cair diencerkan  10 kali dengan pelarut adthiner. Uji efikasi menunjukkan bahwa semua hewan uji tersebut 90% mati pada dosis 0,250 cc/L sehingga disimpulkan bahwa dosis yang terbaik untuk digunakan pada foging adalah 0,250  cc/ L.  Effication Test Of Insecticide Formula With Active Ingredient Of Propoxure And Malathion To DBD Disease Vector Several insecticide formulae have not been effective to eridicate the vector of dengue fever disease therefore the combination some insecticide of organophosphate and carbamate has been proved to match with Indonesian Pesticide Commision. The present work was aimed to do the effication test of  insecticide formulation of organophosphate and carbamate on vector of DBD. Insecticide formulation were consisted of 17 % propoxure, 3 % Malathion, 13 % agrisol, 7 % DBS, 55 % Xyline, and 5 % additive (% weight). Effication test (LD 50)use mosquitoes of Aedes aegypti Semarang strain. Prior the test the insecticide formulation was diluted 10 times with adthiner solvent. Effication test showed that 90%  mosquitoes was killed at dose of formulation 0,250 cc/L. Therefore it is conclused that 0,250 cc/L of insecticide formulation was recommed for Aedes aegypti fogging.

Biokatalisator Lipase Dedak Padi Untuk Proses Asidolisis Minyak Tuna Dan Asam Laurat

METANA Vol 14, No 1 (2018): Juni 2018
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (876.074 KB)

Abstract

Lipid terstruktur dengan medium chain fatty acid (MCFA) pada posisi luar dan polyunsaturated fatty acid (PUFA) pada posisi sn-2 memiliki nilai gizi dan absorbsi yang sangat baik. Dalam penelitian ini lipid terstruktur disintesis secara langsung melalui asidolisis enzimatis antara minyak ikan dan asam laurat. Reaksi dikatalisis oleh lipase dedak padi. Tujuan penelitian ini adalah mempelajari  perilaku dari reaksi asidolisis enzimatik minyak ikan tuna dan asam laurat, dengan kajian pengaruh biokatalis lipase dedak padi terhadap hasil asidolisis. Target yang ingin dicapai berupa data-data teknis laboratorium untuk perancangan, scale-up dan pengoperasian proses yang meliputi kinetika reaksi, studi produktifitas asam lemak, kondisi operasi yang optimum dan analisa tekno-ekonomi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsentrasi lipase dan suhu reaksi optimum berturut-turut 10% dan 50oC. Rasio mol optimum minyak ikan dan asam laurat adalah 1:10, dihasilkan inkorporasi asam laurat mencapai 62,8 mol%. Pada waktu inkubasi 12 jam, trigliserida menurun seiring dengan meningkatnya waktu inkubasi, sedangkan digliserida meningkat seiring dengan meningkatnya waktu inkubasi. Pada suhu reaksi di atas 50oC, trigliserida menurun seiring dengan meningkatnya suhu reaksi. Metode interesterifikasi ini cukup efektif untuk mensintesis lipid terstruktur spesifik. Lipase dapat digunakan dengan baik untuk sintesa Lipid Terstruktur dari minyak ikan tuna dengan asam laurat. Kondisi optimum reaksi adalah pada suhu 50oC, konsentrasi lipase 10%, perbandingan ratio substrat (Minyak ikan tuna : asam laurat) 1:10 selama 12 jam. Profil gliserida dari hasil asidolisis enzimatis adalah  78,1 % trigliserida, 32,2 % digliserida dan 11,9% monogliserida Lipase Rice Bran Biocatalystator For Asidolysis Process Tuna Oil And Lauric Acid Lipid structured with medium chain fatty acids (MCFA) in the outer position and polyunsaturated fatty acid (PUFA) in sn-2 position has excellent nutritional value and absorption. In this study structured lipids were synthesized directly through enzymatic acididisation between fish oil and lauric acid. The reaction was catalyzed by a specific lipase of 1.3 from the tertiary carotid rugose. The aim of this study was to study the behavior of enzymatic acidic reactions of tuna and lauric acid oils, with the study of the effect of rice bran biocatalyst on acidic acid yield. The targets to be achieved are technical laboratory data for design, scale-up and operation of processes including reaction kinetics, fatty acid productivity studies, optimum operating conditions and techno-economic analysis. The results showed that the optimum lipase concentrate  and temperature of the reaction were 10% and 50oC, respectively. The mole ratio of fish oil and lauric acid was 1:10 in which the incorporation of lauric acid was 62,80% (mol). Incubation time, 12 h, triglyceride decreased with an increase in incubation time. In contrast, the diglyceride increased with an increase in incubation time. At temperature higher than 50oC, triglyceride decreased with an increase in reaction temperature. The methode of interesterification was proven to be effective in synthezed specific structured lipids. Lipase rice brand, can be used successfully for the synthesis of structured lipids from tuna oil with lauric acid. Optimum reaction temperature is 50oC, lipase concentration of 10%, the ratio of substrate ratio (tuna fish oil: lauric acid) 1:10 for time incubation 12 hours. Profile gliseride from results acidolysis enzymatic triglycerides were 78.1%, 32.2% 11.9% diglycerides and monoglycerides.

Uji Stabilitas pH dari Daun Mangga Hasil Ekstraksi Dengan Menggunakan Metode Spektrofotometer

METANA Vol 15, No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Ekstraksi merupakan proses pemisahan dan isolasi zat dari suatu zat dengan penambahan pelarut tertentu untuk mengeluarkan komponen campuran dari zat padat atau zat cair. Pada penelitian ini dilakukan ekstraksi klorofilid dari daun mangga untuk mengetahui stabilitas reduksi klorofil hasil ekstraksi berupa ekstrak dan rafinat. Ekstraksi klorofilid dilakukan dengan alat ekstraktor berpengaduk yaitu dengan memotong daun mangga 1 cm kemudian di ekstraksi dengan pelarut Aquadest 25%:75% Isopropil Alkohol.  Pemilihan pelarut merupakan faktor yang menentukan dalam proses ekstraksi. Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemilihan pelarut adalah selektivitas, sifat pelarut, kemampuan untuk mengekstraksi, tidak bersifat racun, mudah diuapkan dan harganya relatif murah. Karakteristik ekstrak klorofilid menggunakan spektrofotometer untuk mengetahui absorbansi klorofil optimum dalam suatu variabel ekstrak dan rafinat serta uji pH untuk mengetahui stabilitas pH yang baik untuk mereduksi klorofil daun mangga. Hasil absorbansi klorofil optimum pada suhu 60OC dan waktu 70 menit pada ekstrak dan hasil stabilitas pH untuk mereduksi klorofil didapatkan pada pH 9 asam serta pH 2 basa.Extraction is the process of separating and isolating substances from a substance by adding a particular solvent to remove a mixed component of a solid or a liquid. In this study, extraction of chlorophyllid from mango leaves to determine the stability of chlorophyll reduction in the extract and raffinate. Extraction of chlorophyllid was done by stirring extractor that is by cutting mango leaves 1 cm then in extraction with Aquadest solvent 25%: 75% Isopropyl Alcohol. Selection of solvents is a decisive factor in the extraction process. Things to note in the selection of solvents are the selectivity, the properties of the solvent, the ability to extract, not toxic, easily evaporated and the price is relatively cheap. Characteristics of chlorophyll extract using spectrophotometer to determine the absorbance of optimum chlorophyll in an extract and raffinate variables and pH test to find out good pH stability to reduce mango leaf chlorophyll. The optimum chlorophyll absorbance results at 60OC and 70 minutes on the extract and the pH stability result to reduce chlorophyll was found at pH 9 acid and pH 2 base.