Kinasih, Angkit
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

GAMBARAN AKTIVITAS FISIK SISWA DENGAN IMT KATEGORI GEMUK DI SEKOLAH DASAR DESA BUTUH Nugroho, Arya Mahendra Aji; Kinasih, Angkit; Messakh, Sanfia Tesabela
e- Jurnal Mitra Pendidikan Vol 2 No 8 (2018): Jurnal Mitra Pendidikan Edisi Agustus
Publisher : Kresna Bina Insan Prima

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (236.002 KB)

Abstract

Kegemukan menjadi masalah global di semua negara, kegemukan dapat menyerang semua orang. Prevalensi kegemukan pada anak usia 6-12 tahun mengalami peningkatan sangat tinggi, hal ini akibat ketidakseimbangan antara konsumsi energi yang tinggi dibandingkan dengan aktivitas fisiknya. Untuk mengatasinya kegemukan ini diharuskan sering beraktivitas fisik dan pengecekan berat badan dengan mengukur Indeks Massa Tubuh. Penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan aktivitas fisik siswa dengan kategori IMT gemuk di desa Butuh. Metode yang digunakan dalam penelitian ini yaitu deskriptif kuantitatif dengan menghitung IMT dan mengukur aktivitas fisik dengan instrumen The Physical Activity Questionnaire for Children (PAQ-C) yang dimodifikasi. Dalam penelitian ini ditemukan total populasi 259 siswa, 25 siswa mengalami kegemukan dengan presentase intensitas aktivitas fisik 4% sangat ringan, 36% ringan, 48% sedang, 8% berat, 4% sangat berat. Disimpulkan bahwa aktivitas fisik siswa SD Butuh cukup baik dengan kategori sedang, dibandingkan siswa  lainnya yang  rendah aktivitas fisiknya.
Hubungan Aktivitas Fisik dan Obesitas terhadap Peak Expiratory Flow pada Siswa SMAN 1 Candiroto Temanggung Jawa Tengah Kinasih, Angkit; Puspita, Dhanang; - UKSW Salatiga, Naftalione Efata Kristnanda
IJMS - Indonesian Journal on Medical Science Vol 5, No 1 (2018): IJMS 2018
Publisher : IJMS - Indonesian Journal on Medical Science

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (482.822 KB)

Abstract

Abstract: Obesity is a world health problem caused by abnormalities or diseases by the accumulation of fat tissue in an excessive body. The maximum expiratory velocity of a person can achieve in liters per minute (L / min) or liters per second (L / sec). Body Mass Index (BMI) affects maximum expiratory velocity. A person with BMI 18.5-24.9 (normal category) has low vital pulmonary capacity compare to a person with BMI >25 (obesity category) who has vital lung capacity. Research aim was to determine the relationship between obesity and maximum expiratory velocity among students in SMA Negeri 1 Candiroto Temanggung. The study was conducted on 66 respondents aged 15-18 years. Research measurement for maximum expiratory velocity used spirometer while body mass index used weight divide to height (meters). Result showed there was a positive relationship between body mass index and maximum expiratory velocity. Majority respondents showed body mass index and maximum expiratory velocity results above average. Conclusion was daily routine physical activity affects body mass index and maximum expiratory velocity. Vital capacity of the lungs of obesity people who did daily routine physical activity had better than who did not do daily routine physical activity. Daily routine physical activity takes effect of body mass index, maximum expiratory velocity and keep healthy body.Keywords: body mass index, cardio respiration, physical activity, obesity, maximum expiratory velocity Abstrak: Obesitas merupakan masalah kesehatan dunia disebabkan suatu kelainan atau penyakit ditandaii oleh penimbunan jaringan lemak di tubuh secara berlebihan. PEF adalah kecepatan arus puncak ekspirasi maksimal yang bisa dicapai oleh seseorang, dinyatakan dalam  liter per menit (L/menit) atau liter per detik (L/detik). IMT sangat berpengaruh pada PEF dikarenakan IMT yang >25 kategori obesitas akan memiliki kapasitas vital paru-paru yang sangat rendah dibandingan yang memiliki IMT 18,5-24,9 kategori normal yang memiliki kapasitas vital paru-paru yang besar. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui hubungan obesitas terhadap PEF pada siswa di SMA Negeri 1 Candiroto Temanggung. Penelitian dilakukan pada 66 partisipan siswa SMA Negeri 1 Candiroto Temanggung usia 15–18 tahun, hasil dari IMT dengan presentase BB/ TB2 (m) yang hasilnya >25 dan pengukuran PEF dengan spirometer. Peningkatan IMT dengan peningkatan fungsi paru pada pemeriksaan spirometri bahwa IMT menunjukan hubungan yang positif dengan PEF. Hasil grafik dilihat dari beberapa sampel yang IMT dan PEF tinggi diatas rata-rata. Kesimpulannya aktivitas fisik dengan rutin memengaruhi IMT dan PEF dikarenakan hasil kapasitas vital orang obesitas yang rutin melakukan aktivitas fisik akan lebih baik dibandingan yang tidak melakukan aktivitas fisik sama sekali. Rutin melakukan aktivitas fisik berpengaruh pada IMT, PEF dan menjaga tubuh tetap sehat, terjauh dari penyakitKata kunci : Aktivitas fisik, IMT, Kardiorespirasi, Obesitas, PEF.
FUNGSI UME KBUBU DAN AKTIVITAS PENGHUNINYA SAAT CUACA DINGIN DI DESA BINAUS, KABUPATEN TIMOR TENGAH SELATAN – NUSA TENGGARA TIMUR Puspita, Dhanang; Tauho, Kristiani D.; Nusawakan, Arwyn W.; Kinasih, Angkit
KRITIS Vol 25 No 1 (2016)
Publisher : Center for Sustainable Development Studies - Fakultas Pascasarjana Interdisiplin UKSW

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (309.787 KB)

Abstract

The natural climate of Nusa Tenggara Timur (NTT) is dry all the year. However, prior to wet season, the region will suffer from cold weather, particularly in August. Ume kbubu and ume naek, both are traditional houses of Timorese especially for those who come from Mollo. Ume kbubu is used as a kitchen and barn, while ume naek is used for shelter and receiving guests. This paper will explain the functional change of ume kbubu during cold weather. The research took place at Binaus village, Timor Tengah Selatan district in August 2016 using observation to monitor the people’s activity. Measurement of the temperature was conducted for 24 hours. At night the temperature outside might reach 20°C, and 22°C in ume naek, while in ume kbubu, it can reach 35 - 37°C. The low temperature, both outside and in ume naek, causing the residents to  replace their activities in the warm ume kbubu. By evening, the people are usually sleeping in ume naek, but in cold weather, they sleep at ume kbubu. The conclusion of this research is there was a functional change of ume kbubu in the community activity during cold weather
Hubungan Antara Aktivitas Fisik dengan Kekambuhan ISPA Pada Anak Usia Sekolah di Kecamatan Bringin Kabupaten Semarang Tomatala, Sinsyeba; Kinasih, Angkit; Kurniasari, Maria Dyah; De Fretes, Fiane
Jurnal Keperawatan Respati Yogyakarta Vol 6, No 1 (2019): Januari 2019
Publisher : Universitas Respati Yogyakarta

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (53.221 KB)

Abstract

Tumbuh dan kembang anak mencakup 2 peristiwa yang berbeda, tetapi saling berkaitan. Sistem kekebalan tubuh yang dipengaruhi oleh aktivitas fisik digunakan untuk melawan penyakit infeksius. Salah satu contoh penyakit infeksius adalah infeksi saluran pernapasan akut (ISPA). Pada tahun 2012, di Jawa Tengah angka kematian bayi, 80% dan anak usia 6- 12 tahun 23% disebabkan oleh ISPA pneumonia. Tujuan dari penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan antara aktivitas fisik dengan kejadian ISPA pada anak usia sekolah yang berada di Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia sekolah sebanyak 62 orang yang memiliki riwayat pernah menderita ISPA di Kecamatan Bringin, Kabupaten Semarang. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif deskriptif. Data primer diambil dengan menggunakan instrumen kuesioner PAQ-C untuk mengukur aktivitas fisik. Berdasarkan hasil uji korelasi dengan menggunakan uji Spearman, dapat diketahui adanya hubungan antara aktivitas fisik dengan ISPA dimana nilai p-value 0,107 hal ini menunjukkan bahwa nilai signifikasinya 0,01 yang berarti ada hubungan antara aktivitas fisik dengan ISPA tetapi hubungannya lemah. Selain itu, didapatkan juga nilai koefisien korelasi 0,206, nilai tersebut adalah positif sehingga menunjukan bahwa, semakin tinggi responden dengan riwayat ISPA melakukan aktivitas fisik, maka semakin tinggi resiko responden mengalami kekambuhan ISPA.
Analisis Perbedaan Peak Expiratory Flow (PEF) Pada Atlet Olahraga Renang dan Lari Putra, Kukuh Pambuka; Kinasih, Angkit; Nugraha, Ardi Purwa
Journal of Health Vol 6 No 1 (2019): Journal of Health - January 2019
Publisher : LPPM STIKES Guna Bangsa

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (863.197 KB)

Abstract

Latar Belakang: Asma merupakan penyakit kronis yang dapat dijumpai di semua usia. Data Riset Kesehatan Dasar (RISKESDAS) 2013 menunjukan prevalensi di Indonesia sebesar 4,5%. Penyakit asma berpengaruh terhadap kecepatan ekspirasi pada paru-paru. PEF adalah kecepatan ekspirasi maksimal yang bisa dicapai oleh seseorang, dinyatakan dalam liter per menit (L/menit) atau liter per detik (L/detik). PEF dapat diukur menggunakan PEF meter. PEF meter merupakan alat untuk mengukur kecepatan ekspirasi maksimal. Olahraga yang bersifat aerobik seperti renang dan lari adalah olahraga yang dianjurkan untuk penderita asma.  Tujuan: Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perbedaan PEF pada individu yang rutin melakukan olahraga renang dan lari.  Metode: Penelitian ini merupakan studi komparatif. Subyek penelitian ini adalah 20 atlet yang aktif olahraga renang dan 20 atlet yang aktif olahraga lari yang ditentukan dengan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan uji t independent. Hasil: Hasil penelitian menggunakan uji t independent nilai sig.0,890 yang menyatakan rata–rata nilai PEF atlet renang dan lari sama. Kesimpulan: Berdasarkan penelitian nilai PEF atlet renang lebih tinggi dibandingkan nilai PEF atlet lari.
“Perspektif Ibu Terhadap Penyakit Infeksi Diare Pada Balita “ Studi Kualitatif di Puskesmas Mananga, Kecamatan Mamboro Desa Wendewa Utara Kabupaten Sumba Tengah Jawang, Eriska Peku; Sanubari, Theresia Pratiwi Elingsetyo; Kinasih, Angkit
Jurnal Keperawatan Muhammadiyah Vol 4, No 1 (2019): JURNAL KEPERAWATAN MUHAMMADIYAH
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURABAYA

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (157.909 KB)

Abstract

 Infectious diseases is a very dangerous disease, especially in children under 5 years old. Diarrhea be one of infectious diseases that the commonly encountered. It is estimated that more than 10 million children were less than 5 years die each year where around 20% die of infections diarrhea. Progress in reducing diarrheal diseases influenced by the perception of attitudes and knowledge of every member of society, especially mother perspective because its important role in the prevention and process treatment of diarrheal diseases. The objective  of this study is  to determine mother perspective of diarrhea on children under 5 years old in central Sumba. This study used a qualitative research design with in-depth interview. Number of research participants whor  mothers. Research location was in of North Wendewa Village, Mananga Health Center in Central Sumba District.  Results:  The mother's perspective on diarrheal infection is influenced by factors such as lack of knowledge, maternal behavior, economy, environment and health services. Conclusion: The formation of a mother's perspective  are influenced by factors such as lack of knowledge, level of education, as well as lack of sources of information obtained from various media and resulting in maternal behavior in dealing with infectious diseases. The others caused by low economic factors, inadequate environment and health services.