Articles

Found 34 Documents
Search

PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA IKAN BAUNG (Mystus nemurus) DENGAN KEDALAMAN AIR YANG BERBEDA ., Rachimi; ., Farida; Susanto, Didik
BULETIN AL-RIBAATH Vol 12, No 2 (2015): Jurnal Al-Ribaath
Publisher : LPPM UM PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (597.959 KB) | DOI: 10.29406/br.v12i2.162

Abstract

Penelitian ini mengkaji dampak kedalaman air pada media pemeliharaan terhadap kelangsungan hidup dan pertumbuhan benih ikan baung (Mystus nemurus). Kajian dilakukan dengan menggunakan rancangan acak lengkap dengan memvariasikan kedalaman air media pemeliharaan pada kedalaman 15 cm, 20 cm, 25 cm, dan 30 cm. Penelitian ini dilaksanakan dengan sampel larva ikan sebanyak 40 ekor/L dengan waktu penelitian selama 35 hari meliputi 4 hari persiapan penelitian, 1 hari masa adaptasi larva ikan baung dan 30 hari masa pengamatan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kedalaman air yang terbaik dalam pemeliharaan larva ikan baung adalah pada pedalaman 15cm ditinjau dari pertumbuhan berat mutlak (0,32 g) dan pertumbuhan panjang mutlak (1,79 mm).This study examines the impact of water depth in the media maintenance on the survival and growth of yellow catfish (Mystus nemurus) larva. The study was conducted using a completely randomized design with varying water depth maintenance media at a depth of 15 cm, 20 cm, 25 cm and 30 cm. This research was conducted with a sample of fish larvae as many as 40 fish / L with research time during the 35 day study includes 4 days of preparation, one day adaptation period baung fish larvae and 30-day observation period. The results showed that the depth of the water is the best in the larval rearing fish in inland baung is 15cmditinjau of growth the absolute weight (0.32 g) and absolute length growth (1.79 mm).
PENGARUH KONSENTRASI PENYUNTIKAN HORMON HCG DAN OVAPRIM TERHADAP DAYA TETAS TELUR DAN SINTASAN LARVA IKAN KELABAU (Osteochilus melanopleura Blkr.) ., Rachimi; Raharjo, Eka Indah; Sudarsono, Andy
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 5, No 1 (2015): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (88.414 KB) | DOI: 10.29406/rya.v5i1.494

Abstract

Rancangan yang digunakan dalam penelitian ini menggunakan  Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan yang terdiri dari Perlakuan A : HCG : 300 IU/kg + ovaprim 0,6 ml/kg induk, Perlakuan B : HCG : 500 IU/kg + ovaprim 0,8 ml/kg induk, Perlakuan C : HCG : 700 IU/kg + ovaprim 1 ml/kg induk, Perlakuan D : HCG : 900 IU/kg + ovaprim 1,2 ml/kg induk. Hasil penelitian menunjukkan pemberian dosis HCG 900 IU/kg dan ovaprim 1,2 ml/kg induk pada peroses pemjahan ikan kelabau dapat mempersingkat waktu ovulasi ikan kelabau dan menghasilkan derajat pembuahan telur ikan kelabau (fertilisasi) mencapai 74,53%, menghasilkan daya tetas telur sebesar 72,22%. kelangsungan hidup larva tertingi mencapai 36,27% pada perlakuan HCG : 900 IU/kg dan ovaprim 1,2 ml/kg.Kata Kunci: HCG, Ovaprim, hatching rate, kelangsungan hidup larva, kelabau, Osteochilus melanopleura Blkr.
PENGGUNAAN EKSTRAK BIJI PALA (Myristica fragnans Houtt) SEBAGAI ANESTESI DALAM PROSES TRANSPORTASI SISTEM BASAH CALON INDUK IKAN BELIDA (Notopterus chitala ) ., Dayatino; Raharjo, Eka Indah; ., Rachimi
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 1, No 1 (2013): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (91.383 KB) | DOI: 10.29406/rya.v1i1.232

Abstract

Penelitian ini di laksanakan di BBI Kelansin Kecamatan Mentebah Kabupaten Kapuas Hulu dari 31 Juli sampai 6 Agustus 2013. Tujuan penelitian ini adalah untuk memperoleh kosentrasi optimal dari ekstrak biji pala yang dapat digunakan sebagai ansestasi untuk calon Induk ikan belida. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan meliputi A.0(kontrol),B. 3ppm C.5ppm dan D 7ppm. Sebagai unit percobaan calon induk ikan belida dengan ukuran 400-600 gram yang diangkut dengan mobil selama 12 jam. Hasil penelitian menunjukan bahwa pada masa induksi konsentrasi tercepat untuk memingsankan ikan belida adalah 7 ppm dengan waktu 7 menit. Untuk masa sedatif yang tercepat terhadap penyadaran ikan belida adalah dengan konsentrasi 3 ppm.Sedangkan kelangsungan hidup tertinggi terlihat pada konsentrasi 3 ppm dengan kelangsungan hidup 83,33%, dan tingkat kelangsungan hidup terendah terlihat pada perlakuan D (7 ppm) yaitu 16,67%. Konsentrasi ekstrak biji pala yang optimal untuk  pengangkutan ikan belida ukuran 400-600 adalah 3 ppm.Kata Kunci: Ekstrak Biji Pala, ikan belida, Anestasi
UJI TOKSISITAS DETERGEN CAIR TERHADAP KELANGSUNGANHIDUPIKAN TENGADAK (Barbonymus schwanenfeldii) Novitasari, Eliza; ., Rachimi; Prasetio, Eko
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 5, No 2 (2017): Jurnal Ruaya
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.778 KB) | DOI: 10.29406/rya.v5i2.716

Abstract

Penelitian  ini  bertujuan  menentukan  nilai ambang  batas  deterjen  cair terhadap kelangsungan hidup ikan tengadak selain itu menentukan  konsentrasi deterjen cair berpengaruh buruk terhadap kerusakan insang  dan  hati ikan tengadak. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) menurut Hanafiah (2012), yang terdiri dari 5 perlakuan dan 3 ulangan. Susunan perlakuan adalah Perlakuan  A   0%  dari   uji   Median    Lethal   Concentration, Perlakuan  B  10%  dari  uji   Median    Lethal   Concentration Perlakuan  C  20%  dari   uji   Median    Lethal   Concentration,Perlakuan   D  30%  dari   uji   Median    Lethal   Concentration, Perlakuan   E  40%  dari   uji   Median    Lethal.   Hasil penelitian menunjukkan dengan uji   median  lethal  consentration bahwa ambang batas dari   LC50  selama   96 terdapat pada perlakuan  B  dengan kadar deterjen  25,10 mg/l dan ditemukan nilai tengah 31,29 mg/l, pertumbuhan mutlak sebesar 0,39±0,09, perlakuan B yaitu 10 %, dengan tingkat kelangsungan hidup sebesar 73,33±5,77, dan perlakuan B uji kronis pada insang dan hati kerusakan ringan Kata Kunci :IkanTengadak, Pertumbuhan, KelangsunganHidup, UjiKronis
PENGARUH SUHU YANG BERBEDA TERHADAP WAKTU PENETASAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA IKAN BIAWAN (Helostoma temmincki) ., Farida; ., Rachimi; ., Adrianus
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 4, No 2 (2016): Jurnal Ruaya
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (84.851 KB) | DOI: 10.29406/rya.v4i2.695

Abstract

ABSTRAKPenelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu yang optimum pada proses penetasan telur ikan biawan. Rancangan percobaan adalah rancangan acak lengkap (RAL). Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan empat perlakuan dan tiga kali  ulangan. Konsentrasi Suhu antara lain adalah, Perlakuan A (26 °C), B (28 °C), C (30 °C), D (32 °C). Parameter pengamatan yang dilakukan adalah perkembangan embrio, waktu penetasan, derajat penetasan telur (HR), kelansungan hidup larva (SR). dan kualitas air. Hasil pengamatan penelitian  Pengaruh suhu yang berbeda terhadap waktu  penetasan dan kelangsungan hidup menunjukkan bahwa suhu yang terbaik untuk penetasan telur ikan biawan  adalah 27°C -28 °C. Sedangkan suhu terbaik 28 °C memberikan daya tetas tertinggi.Kata kunci : Suhu, penetasan telur dan kelansungan hidup larva biawan ABSTRACTThis study aims to determine the optimum temperature on fish egg hatching process biawan. The experimental design was a completely randomized design (CRD). This study used an experimental method with four treatments and three replications. The temperature of concentration include, Treatment A (26 ° C), B (28 ° C), C (30 ° C), D (32 ° C). Parameter observations made is the development of the embryo, hatching time, hatching eggs (HR), kelansungan live larvae (SR). and water quality. The results of observational studies Effect of different temperatures on hatching and survival time showed that the best temperature for hatching fish eggs biawan is 27 ° C -28 ° C. While the best temperature of 28C provide the highest hatchability.Keywords: temperature, hatching eggs and survival fish biawan
PENGARUH GETAH PEPAYA (Carica papaya L.) KERING TERHADAP DERAJAT PEMBUAHAN DAN PENETASAN TELUR IKAN JAMBAL SIAM (Pangasius hypothalamus) saputra indra, indra sukma; Raharjo, Eka Indah; ., Rachimi
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.837 KB) | DOI: 10.29406/rya.v3i1.475

Abstract

Terbatasnya ketersediaan benih ikan jambal siam tidak terlepas dari permasalahan yang ada pada pembenihan ikan. Meskipun ikan tersebut sudah dapat dipijahkan secara alami namun cukup rendahnya jumlah telur yang menetas dari seluruh telur yang telah dibuahi. Derajat penetasan telur ikan patin berkisar antara 30-60%, hal ini disebabkan karena telur ikan jambal bersifat adhesif atau memiliki daya rekat sehingga telur menumpuk pada salah satu areal pemijahan. Gumpalan telur menghambat masuknya oksigen pada telur sehingga bisa menghambat perkembangan telur dan akan berdampak terhadap daya tetas telur akan kecil. Lapisan lendir ini juga merupakan media ideal bagi pertumbuhan cendawan patogen. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi optimum getah pepaya kering dalam meningkatkan derajat pembuahan dan penetasan telur ikan jambal siam (Pangasius hypothalamus). Rancangan percobaan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL). Analisis statistik menggunakan ANAVA (Analysis of Variance) dan untuk mengetahui perbedaan antara perlakuan satu dengan perlakuan yang lainnya dilakukan Uji Beda Nyata Terkecil (BNT). Perlakuan yang dilakukan terdiri dari empat perlakuan pencucian telur yaitu A (control), B (10 ppm) C (20 ppm) dan D (30 ppm) dengan pengulangan sebanyak tiga kali. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan papain kasar yang berbeda memberikan pengaruh terhadap derajat pembuahan dan  daya tetas telur. Rata-rata derajat pembuahan dan daya tetas telur ikan jambal siam tertinggi terdapat pada perlakuan D (97,22 % dan 77,50%).Kata Kunci : papain kasar, derajat pembuahan, daya tetas telur, ikan jambal siam
Pengaruh Konsentrasi Minyak Sereh (Cimbopogon Citrates Dc Stapf) Terhadap Kelangsungan Hidup Pada Anestesi Benih Ikan Ringau (Datnioides Mescrolepis) Dengan Metode Transportasi Tertutup ., Rachimi; Raharjo, Eka Indah; Id’ham, Khoiron
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Ruaya
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (121.804 KB) | DOI: 10.29406/rya.v4i1.667

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh konsentrasi minyak sereh yang optimal sebagai pembiusan pada pengangkutan ikan ringau dengan metode transportasi tertutup. Penelitian ini di awali dari desa selimbau kabupaten Kapuas Hulu menggunakan transportasi darat dan berakhir di laboratorium basah Universitas Muhammadiyah Pontianak di kabupaten Kubu Raya dan penelitian ini dilaksanakan kurang lebih 14 jam pada bulan juli 2015. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan dengan konsentrasi minyak sereh yang dipergunakan adalah perlakuan. A, tanpa pembiusan (kontrol), Perlakuan B, Konsentrasi minyak sereh 1 ml/L, Perlakuan C, Konsentrasi minyak sereh 2 ml/L, Perlakuan D, Konsentrasi minyak sereh 3 ml/L. Parameter pengamatan yang dilakukan adalah tingkah laku ikan selama pembiusan, masa induksi dan masa sedatif serta kelangsungan hidup. Hasil dari pengamatan menunjukan minyak sereh cukup efektif untuk memingsankan benih ikan ringau (Datnioides mescrolepis)  untuk pengangkutan sistem tertutup. Hal ini dikarenakan Minyak sereh merupakan minyak atseri yang banyak mengandung senyawa geraniol sitronelol mampu menurunkan tingkat metabolisme ikan dengan cara membuat ikan pingsan atau menenangkan ikan. Senyawa tersebut berperan penting dalam mekanisme anestesi melalui jaringan pernapasan. Kata kunci : minyak sereh, anestesi, ikan ringau
PENGARUH PADAT TEBAR YANG BERBEDA TERHADAP PERTUMBUHAN DAN KELANGSUNGAN HIDUP BENIH IKAN TENGADAK(Barbonymus schwanenfeldii) ., Rachimi; Raharjo, Eka Indah; Halim, Dodi Abdul
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 3, No 1 (2014): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (120.395 KB) | DOI: 10.29406/rya.v3i1.480

Abstract

Ikan tengadak (Barbonymus Schanenfeldii) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang populasinya dialam mulai merun. Oleh karena itu perlu dilakukan upaya budidaya untuk memenuhi stok dan permintaan pasar. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui padat penebaran yang memberikan pertumbuhan dan kelangsungan hidup terbaik dalam sistem budidaya. Benih ikan tengadak yang berukuran 1-2 cm dan berat rata-rata 0,016 g ditebar dengan kepadatan 3, 5, 7, dan 9 ekor/liter dalam akuarium yang berukuran 60×30×40 cm3. Selama pemeliharaan, benih ikan ini diberi pakan komersil dua kali dalam satu hari yang di berikan pagi dan sore secara at satiation. Hasil penelitian menunjukan bahwa perlakuan padat penebaran yang berbeda memberikan pengaruh yang berbeda pada setiap perlakuan, tetapi tidak memberikan pengaruh pada kelangsungan hidup. Pertumbuhan terbaik adalah pada perlakun A kepadatan 3 ekor/liter.  Kata kunci: tengadak, Barbonymus schwanenfeldii, padat penebaran, pertumbuhan, kelangsungan hidup
PENGARUH DOSIS OVAPRIM TERHADAP LAMA WAKTU PEMIJAHAN, DAYA TETAS TELUR DAN KELANGSUNGAN HIDUP LARVA IKAN BIAWAN (HELOSTOMA TEMMINCKI) Raharjo, Eka Indah; ., Rachimi; ., Holidan
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 4, No 1 (2016): Jurnal Ruaya
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.008 KB) | DOI: 10.29406/rya.v4i1.691

Abstract

ABSTRAK Penelitian ini telah dilaksanakan di Balai Budidaya Ikan Sentral (BBIS) Anjongan, Kabupaten Mempawah Provinsi Kalimantan Barat. Waktu pelaksanaannya 14 Hari, meliputi 3 hari persiapan alat dan bahan dan 11 hari pengamatan penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan dosis hormon Ovaprim yang dapat menghasilkan lama waktu pemijahan, daya tetas telur dan sintasan hidup pada larva ikan biawan. Metode penelitian yang digunakan adalah metode eksperimen. Rancangan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL)  dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan. Variabel pengamatan meliputi waktu ovulasi, daya tetas telur (hatcing rate), kelangsungan hidup larva. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan bahwa pemberian dosis ovaprim yang berbeda berpengaruh nyata terhadap waktu ovulasi dan daya tetas telur ikan dan kelangsungan hidup ikan biawan. Nilai waktu ovulasi tercepat terdapat pada perlakuan B (dosis ovaprim 0,6 ml/kg bobot tubuh) dengan waktu ovulasi (8,79) jam.  Nilai daya tetas (hatching rate) tertinggi terdapat pada perlakuan B (dosis ovaprim 0,6 ml/kg bobot tubuh) sebesar 86,53 %, Nilai kelangsungan hidup larva biawan tertinggi terdapat pada perlakuan B (dosis ovaprim 0,6 ml/kg bobot tubuh) sebesar 86.51 %. Kualitas air selama pemijahan dan penetasan telur selama penelitian diperoleh suhu 27-29°C  pH berkisar antara 6,5-7. Oksigen terlarut adalah 5-6 ppm. Kata Kunci: dosis Ovaprim, lama waktu pemijahan, hatching rate, kelangsungan hidup, Helostoma temmincki.  ABSTRACTThis study was conducted at the Fish Farming Center of Balai Budidaya Ikan Sentral Anjongan, Kabupaten Mempawah, West Kalimantan Province. It took 14 days for preparation (3 days) and observation (11 days). This study aimed at determining  the dose of Ovaprime hormones that produced spawning period, and egg hatchability and survival rate of Biawan larvae The method used is an experimental method. Using exprimental methodand completely randomized design (CRD), this study used  4 treatments and 3 repetitions. The variabels employed in observation phase were ovulation time, egg hatchability rate, and larval survival. The study revealed that different ovaprim  dosing significantly affectedthe ovulation time and the egg hatchability and  survival of Biawan. The fastest value of ovulation time was found in treatment B (ovaprim dose of 0.6 ml / kg body weight) at ovulation time (8.79) hours.  The highest hatching rate was found in treatment B (ovaprim dose of 0.6 ml / kg body weight) amounted to 86.53%. Also, the highest value of Biawan larval survival was found in treatment B (ovaprim dose of 0.6 ml / kg body weight) amounted to 86.51%. In addition,  the quality of water for spawning and hatching eggs was at  a temperature of 27-29 ° C pH range between 6.5-7, and  the dissolved oxygen was 5-6 ppm. Keywords: Ovaprim dose,  spawning period, hatching rate, survival rate, Helostoma temmincki.
UJI POTENSI SARI BUAH BELIMBING WULUH (Averrhoa bilimbi L.) DALAM MENGHAMBAT PERTUMBUHAN BAKTERI Aeromonas hydrophila SECARA IN VITRO Andika, Ari; ., Sunarto; ., Rachimi
Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan Vol 5, No 1 (2015): Jurnal Ruaya : Jurnal Penelitian dan Kajian Ilmu Perikanan dan Kelautan
Publisher : UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONTIANAK

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (60.307 KB) | DOI: 10.29406/rya.v5i1.495

Abstract

Penelitian ini bertujuanuntuk mengetahui konsentrasi terbaik dari sari buah belimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dalam menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila secara in vitro.Pelaksanaan penelitian ini dilakukan di Laboratorium Budidaya Perairan Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Muhammadiyah Pontianak. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan dan 3 ulangan dengan konsentrasi sari buah belimbing wuluhantara lain adalah perlakuan A (kontrol), B (0,125 g/ml), C (0,5 g/ml), dan D (1 g/ml). Parameter pengamatan yang dilakukan adalahmengukur daya hambat pada kertas cakram yang telah dicelupkan dengan sari buah belimbing wuluh pada masing-masing konsentrasi. Hasil dari pengamatan menunjukansari buah belimbing wuluh pada kosentrasi 1 g/mlmemiliki daya hambat yang maksimal untuk menghambat pertumbuhan bakteri Aeromonas hydrophila secara in vitro. Hal ini dikarenakan sari buah belimbing wuluh mengandung zat antibakteri yaitu flavonoid dan fenol yang dapat merusak sel-sel bakteri Aeromonas hydrophila. Kata kunci : Belimbing wuluh, Aeromonas hydrophila, in vitro