p-Index From 2014 - 2019
0.444
P-Index
This Author published in this journals
All Journal JURNAL SIMETRIK
Articles

Found 2 Documents
Search

Mitigasi karakter muka air banjir dari morfometri DAS Wai Loning – Negeri Laha, berbasis Geographic Information System (GIS) Pattiselanno, Steanly Reynold. R.
JURNAL SIMETRIK Vol 7, No 2 (2017)
Publisher : Politeknik Negeri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1327.777 KB) | DOI: 10.31959/js.v7i2.48

Abstract

Karakter sungai di Pulau Ambon memiliki ciri hanya satu aliran sungai utama dari hulu ke hilir ataupun satu aliran sungai utama yang akan terbagi menjadi beberapa anak sungai di arah hilir.  Ini berbeda dengan karakter sungai Wai Loning yang membelah Negeri Laha yang menerima aliran dari dua sungai utama lainnya yaitu Wai Sakula dan Wai Tengah, yang menyebabkan potensi debit banjirnya menjadi berkali lipat lebih banyak terutama di musim hujan.Berdasarkan hal tersebut, maka diperlukan suatu kajian studi penelitian tentang potensi karakter muka air banjir aliran sungai pada DAS yang dibentuk oleh kesatuan aliran Wai Sakula – Wai Tengah – Wai Loning, yang pastinya membutuhkan survey kawasan DAS demi mengumpulkan parameter morfometri DAS. Data teknis yang diperlukan untuk DAS Wai Loning berupa morfometri sungai yang meliputi: luas DAS, panjang DAS, lebar DAS, kemiringan data gradien sungai, orde dan tingkat percabangan sungai, kerapatan sungai, dan bentuk DAS.Berdasarkan hasil identifikasi data  WRb= 12,33 dan Rc = 0,25, maka DAS Wai Loning yang terbentang antara 3°40’6,51” - 3°43’19,50” LS dan 128°1’17,20” - 128°5’26,98” BT dengan luas 35.674.050,00 m2 (35,67 km2) atau 3.567,405 Ha, dan keliling 41.990,00 m (41,99 km) termasuk karakter DAS dimana sungainya mengalami kenaikan dan penurunan muka air banjir yang berlangsung dengan cepat serta karakter debit puncak yang datang dengan cepat, begitu juga penurunannya.
IDENTIFIKASI SEMPADAN SUNGAI WAI RUHU TERDAMPAK GENANGAN, BERDASAR ANALISA DEBIT BANJIR RENCANA (Q) METODE RASIONAL MODIFIKASI KALA ULANG 2, 5, 10, 50 TAHUN Pattiselanno, Steanly Reynold. R.
JURNAL SIMETRIK Vol 8, No 2 (2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat (P3M) Politeknik Negeri Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1159.127 KB) | DOI: 10.31959/js.v8i2.191

Abstract

Kebutuhan lahan untuk tempat tinggal menjadikan kecenderungan tepi kota yang lahannya berada di lereng-lereng bukit dikonversi untuk menjadi lahan pemukiman.  Akibatnya area hijau menjadi berkurang yang berimbas pada kehilangan area tangkapan air pada DAS yang menjadikan ancaman kekurangan sumber air kedepan, serta ancaman banjir yang bisa terjadi sewaktu-waktu sebagai efek beban pada lereng yang semakin bertambah.DAS Wai Ruhu termasuk salah satu kawasan yang terdegradasi akibat konversi lahan tangkapan menjadi pemukiman warga. Penataan ruang yang cenderung mengikuti pendekatan kebutuhan tanpa memperhatikan aspek konservasi tanah dan air di sebuah DAS, secara signifikan akan mengakibatkan kehilangan banyak air yang berfungsi untuk resapan alami, penurunan kualitas sungai dan hilangnya kehidupan ekosistem air. Untuk menganalisa masalah dampak limpasan pada DAS Wai Ruhu maka digunakanlah sebuah kajian metode rasional modifikasi kala ulang durasi waktu 2, 5, 10 dan 50 tahun dengan GIS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa debit kumulatif banjir rencana dengan nilai terendah terjadi pada anak sungai pada sub DAS ke-7, berlaku untuk periode ulang 2 tahun = 0,352 m3/det, periode 5 tahun = 0,502 m3/det, periode 10 tahun = 0,579 m3/det dan periode 50 tahun = 0,716 m3/det.  Sedangkan debit kumulatif banjir rencana dengan nilai tertinggi terjadi pada anak sungai pada sub DAS ke-17, dan berlaku untuk periode ulang 2 ; 5 ; 10 dan 50 tahun yaitu masing-masing sebesar 21,057 ; 29,937 ; 34,590 ; 42,730 m3/det. Limpasan pada masing-masing anak sungai di DAS Wai Ruhu dengan tinggi minimum (tidak ada limpasan), terjadi di masing-masing anak sungai pada sub DAS ke-2, 4, 5, 7, 10, 11, 13, 15 dan ke-16 untuk periode ulang 2 tahun karena merupakan sungai pensuplai debit banjir awal ke anak sungai lainnya, sedangkan tinggi maksimum terjadi pada anak sungai di sub DAS ke-6 yaitu sebesar 4,8009 m dari muka air sungai normal.  Lebar minimum limpasan, terjadi pada sub DAS yang sama dengan tinggi minimum, sedangkan lebar maksimum terjadi pada anak sungai di sub DAS ke-12 yaitu selebar 60,2991 m dari tepi sungai.