Permatasari, Endah
Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Published : 4 Documents
Articles

Found 4 Documents
Search

Talaksana Perioperatif Pasien dengan Reseksi Arteriovenous Malformation Intrakranial

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Tindakan pembedahan eksisi arteriovenous malformation (AVM) merupakan salah satu prosedur yang menantang di bidang neuroanestesia. Diagnosis AVM ditegakkan berdasarkan gejala klinis didukung pemeriksaan neuroradiologis. Untuk persiapan perioperatif pasien AVM yang optimal, ahli anestesi harus memahami patofisiologi AVM dan tatalaksananya. Terapi pada pasien AVM sangat tergantung pada ukuran diameter AVM dan lokasinya. Target utama dari operasi adalah memotong pasokan aliran darah ke AVM. Dengan tindakan reseksi AVM, bila AVM sudah dapat diidentifikasi maka pasokan aliran darah akan dihentikan dan dilakukan pengangkatan nidus. Pada kasus ini dilaporkan seorang wanita usia 19 tahun dengan nilai GCS 15, BB 59 kg, datang dengan keluhan sering sakit kepala semenjak 1 tahun sebelum masuk RS. Hasil angiografi otak menunjukan adanya gambaran AVM di lobus parietal kanan. Dilakukan tindakan reseksi AVM dan pembedahan berhasil dengan baik. Tidak timbul defisit neurologis pascabedah. Pascabedah pasien dirawat di ICU dan pindah keperawatan keesokan harinya.Perioperative Management Patient with Intracranial Arteriovenous Malformation ResectionArteriovenous malformation (AVM) resection is one of the most challenging procedures in neuroanesthesia. Right now, cerebrovascular surgery is frequently done. The diagnosis of intracranial AVM is based on clinical symptoms and is supported by neuroradiological examination. For optimal perioperative management of patients with intracranial AVM abnormalities, anaesthetist should understand the pathophysiology of the AVM disorder and its management. Therapy in AVM patients is highly dependent on the size of the AVM diameter and its location. The main target of surgery is to cut the blood supply to the AVM. In AVM resection, as soon as AVM can be identified, the blood supply will be stop anf the nidus will be remove. In this case report: a 19 year old woman, score GCS 15, 59 kg in weight cames with frequent headache since the previous years before entered the hospital. Brain angiographic results showed intracranial AVM features in the right parietal lobe. The patient underwent the AVM resection action and the operation was done successfully. No neurological deficit was found. Postoperative patients were admitted to the ICU and moved to the ward the next day.

Pulih Sadar Pascaanestesi yang Tertunda

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 3 (2017)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dengan penggunaan obat-obatan anestesi dengan kerja singkat, umumnya pasien dapat segera dibangunkan pascaoperasi dan pembiusan. Namun dapat terjadi proses pulih sadar yang tertunda karena berbagai penyebab. Proses pulih sadar yang tertunda pascaanestesi masih merupakan suatu masalah bagi ahli bedah dan anestesi. Seharusnya pada akhir operasi dan pembiusan, pasien sudah kembali ke tingkat kesadaran penuh, mampu mempertahankan reflex jalan nafas dengan ventilasi yang adekuat dengan nyeri yang terkendali. Waktu proses pulih sadar pascaanestesi dapat bervariasi dan tergantung dari berbagai faktor risiko terkait kondisi pasien prapembedahan, jenis anestesi yang diberikan dan lama operasi. Pulih sadar pascaanestesi yang tertunda terutama disebabkan oleh medikasi dan obat-obatan anestesi pada waktu perioperatif. Penyebabnya multifaktor dan obat-obatan anestesi tidak selalu menjadi penyebab. Apabila faktor penyebab lain telah dapat disingkirkan maka wajib dipertimbangkan yang menjadi penyebab adalah kelaian intrakranial akut. Sembari mencari penyebab, tatalaksana awalnya adalah mempertahankan jalan nafas, pernafasan dan sirkulasi. Walaupun proses pulih sadar yang tertunda pascaanestesi jarang ditemukan, mengenali gejala dan penyebab menjadi wajib untuk dapat dilakukan tatalaksana proses pulih sadar yang tertunda pascaanestesi sehingga dapat mengurangi morbiditas dan mortalitasnya. Diagnosis yang akurat adalah kunci tatalaksana dan ahli anestesi memegang peran penting dalam mencegah terjadinya komplikasi anestesi ini.Delayed Emergence from AnaesthesiaThe use of fast acting general anaesthetic agents leads to patients awaken quickly in the post operative period. However sometimes recovery is protracted and the list of possible causes in long. Delayed emergence from anaesthesia remains a major cause of concern both for anaesthesiologist and surgeon. Ideally, on completion of surgery and anaesthesia, the patient should be awake or easily arousable, protecting the airay, maintaining adequate ventilation and with their pain under control. The time taken to emerge to fully consciousness is affected by patient factors, anaesthetic factors, duration of surgery and painfull stimulation. The principal factor for delayed awakening from anaesthesia assumed to be the medications and anaesthestic agents used in the perioperatif period. Delayed emergene from anaesthesia is often multifactorial and anaesthetic agent may not always be the culprit. When other causes are excluded, the possibility acute intracranial event should be considered. While the specific cause is being sought , primary management is always support of airway, breathing and circulation. Although delayed emergence from general anesthesia is not uncommon, recognizing the cause and instituting timely treatment is imperative in condition where delayed therapy can increase morbidity and mortality. Accurate diagnosis is the key of management and anesthesiologist play a key role in the prevention of this anesthetic complication.

Penggunaan Dexmedetomidin untuk Operasi Meningioma Petroclival dengan Intraoperatif Neurophysiological Monitoring

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dexmedetomidin merupakan obat baru yang popular dalam neuroanesthesia dan neurocritical care. Tumor supratentorial yang tersering ditemui pada orang dewasa adalah glioma, meningioma dan adenoma hipofisis. Penggunaan intraoperative neurophysiological monitoring (IOM) dapat mengurangi risiko defisit neurologis pascaoperasi. Penggunaan IOM memiliki kelebihan karena dapat mendeteksi lebih dini kelainan saraf yang mungkin akan terjadi. Seorang pasien, wanita 45 tahun dengan berat badan 60 kg dengan diagnosis meningioma petroclival kiri. Pasien dilakukan operasi kraniotomi pengeluaran tumor. Selama operasi digunakan pemeliharaan obat dexmedetomidin dan propofol.Dilakukan pemantauan menggunakan IOM. Pembiusan dan operasi berlangsung selama 5 jam. Pasien langsung dibangunkan pascaoperasi dan dirawat di ICU. Anestesi untuk operasi tumor meningioma petroclival dengan pemantauan IOM membutuhkan suatu pemahaman mengenai patofisologi otak, pengaturan dan pemeliharaan perfusi otak serta menghindari komplikasi sistemik akibat cedera otak yang terjadi. Penggunaan IOM memperbaiki luaran pasien karena dapat mendeteksi lebih dini defisit neurologis sehingga intervensi dapat dilakukan lebih awal. Pemilihan obat-obat anestesi yang tepat menjadi kunci manajemen anestesi pelaksanaan kasus ini.Dibutuhkan komunikasi yang erat antara neurofisiologist, dokter anestesi dan ahli bedah untuk interpretasi IOM.The use of Dexmedetomidine for Craniotomy Meningioma Petroclival Tumor Removal with Intraoperative Neurophysiological MonitoringDexmedetomidine is a new drug gaining popularity in neuroanestesthesia and neurocritical care practice. The most common supratentorial tumor found in adults are gliomas, meningiomas and pituitary adenomas. The use of intraoperative neurophysiological monitoring (IOM) can reduce the risk of postoperative neurological deficits. Use of IOM has the advantage of early detection of neurological disorders that might happen. A patient, a 45-year-old woman with a body weight of 60 kgs and diagnosed with left meningioma petroclival. Patient is carried out a surgery craniotomy for tumor removal. During the procedure dexmedetomidine and propofol are used. The procedure lasts for 5 hours. Patient was awakened immediately postoperatively for further monitoring in the ICU. The use of IOM in craniotomy petroclival meningiomatumor removal requires an understanding of the brain patophysiology, maintenance of cerebral perfusion pressure and avoiding systemic complications of brain injury that might occur. Use of IOM may improve patient outcomes as it can detect neurological deficits more quickly so that intervention can occur earlier. Selection of the appropriate anesthetic drugs is the key implementation anesthetic management of this case. A close working working relationship of the monitoring team, the anesthesiologist, and the surgeon is the key to the successful conduct and interpretation of IOM.

Manajemen Anestesi Stroke Perioperatif

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Stroke perioperatif merupakan suatu kejadian katastropik yang meningkatkan mortalitas dan morbiditas, terutama pada usia di atas 65 tahun. Stroke perioperatif merupakan suatu momok (kejadian yang tidak diharapkan) bagi keluarga dan rekan sejawat yang merawat. Stroke perioperatif dapat bersifat iskemik atau hemoragik yang terjadi selama masa intraoperatif hingga 30 hari pascaoperasi. Faktor risiko terjadinya stroke perioperatif diantaranya adalah: usia lanjut, riwayat stroke dan Transient Ischemic Attack (TIA) sebelumnya, atrial fibrilasi, kelainan pembuluh darah dan metabolik. Umumnya stroke perioperatif tidak terjadi selama masa pembedahan atau saat pulih sadar, tetapi terjadi dalam 24 jam pertama pascabedah. Penanganan stroke perioperatif membutuhkan manajemen yang menyeluruh dan suatu kerjasama tim yang baik. Walaupun kejadiannya tidak banyak namun membutuhkan penanganan tepat karena tingkat morbiditas dan mortalitas yang tinggi serta mengakibatkan lama perawatan memanjang. Identifikasi awal pasien dan manajemen terpadu lintas keilmuan harus dilakukan untuk mencegah luaran yang buruk setelah terjadinya stroke perioperatif.Anesthetic Management of Perioperative StrokePerioperative stroke can be a catastrophic outcome for surgical patients and is associated with increased morbidity and mortality, especially in the age above 65. A perioperative stroke is an unexpected event for families and caring colleagues. A perioperative stroke may be an ischemic or haemorrhagic disorder that occurs intraoperatively or up to 30 days postoperatively. Risk factors for perioperative stroke include elderly, history of previous stroke and transient ischemic attack (TIA), atrial fibrillation, vascular and metabolic disorder. Most perioperative stroke generally does not occur during the intraoperative period or soon after recovering period but within the first 24 hours. Handling perioperative stroke requires a thorough management and a good teamwork. Perioperative stroke can be devastating, as they not only result in death but also prolong the length of hospital stay, increasing cost and greater likelihood of discharge to long term care facilities. Although the incidence is not much but this requires appropriate treatment because of high morbidity and mortality and also result in prolong length of hospital stay. Early identification and expeditious management involving a multidisciplinary approach is the key to avoid a poor outcome following perioperative stroke.