Harijono, Bambang
Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Published : 7 Documents
Articles

Found 7 Documents
Search

Pengelolaan Anestesi untuk Eksisi Tumor Intradura Intramedula (IDIM) Setinggi Vertebra Cervical 5-6 dengan Panduan Intraoperative Neurophysiological Monitoring

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 7, No 3 (2018)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Eksisi tumor intradura intramedula (IDIM) dengan bantuan intraoperative neurophysiological monitoring (IOM) merupakan suatu teknik pembedahan yang bertujuan agar eksisi tumor dilakukan semaksimal mungkin, dengan meminimalkan defisit neurologis akibat pembedahan. Penanganan anestesi pada eksisi tumor IDIM dengan bantuan IOM ini, seorang ahli anestesi perlu menguasai ilmu dan keterampilan neuroanestesi untuk pembedahan tulang belakang, selain itu juga pemilihan teknik, jenis dan dosis obat yang mendukung pelaksanaan pembedahan dengan IOM ini. Seorang laki-laki usia 52 tahun dengan tumor IDIM setinggi vertebra cervical 5–6 menjalani pembedahan eksisi tumor dengan bantuan IOM. Pembedahan dilakukan di bawah pengaruh anestesi umum dengan induksi intravena. Laringoskopi dilakukan dengan video laryngoscope. Pembedahan dilakukan dengan panduan IOM, selama anestesi diberikan total intravenous anesthesia tanpa pemberian pelumpuh otot tambahan setelah intubasi. Pembedahan berlangsung selama enam jam dan tumor dapat terangkat seluruhnya. Tantangan selama periode perioperatif adalah penilaian dan persiapan prabedah yang teliti, posisi pasien dan pemilihan teknik anestesi yang tepat.Anesthesia Management for Cervical 5-6 Intradural Intramedullary (IDIM) Tumor under Intraoperative Neurophysiological Monitoring GuidanceExcision of intradural intramedullary (IDIM) tumor using intraoperative neurophysiological monitoring (IOM) is one surgical technique aiming to excise tumor as maximum as possible, with minimum neurological deficit. In anesthesia management for IDIM tumor excision under IOM guidance, an anesthesiologist is required to master neuroanesthesia knowledge and skill, especially for spine surgery. Moreover, understanding the art of anesthesia technique, drug and dose supporting surgery with IOM. A male patient, 52 years old, with IDIM tumor at the level of cervical 5-6th underwent surgery for tumor excision using IOM. Surgery was done under general anesthesia, started with intravenous induction, and intubation was done using video laryngoscope. Surgery was done under IOM guidance, total intravenous anesthesia was implemented and no additional muscle relaxant was given after intubation. Surgery lasted for six hours and tumor was resected completely. Challenges during perioperative period are meticulous preoperative assessment and preparation, patient positioning and appropriate anesthesia technique.

Anestesia untuk Corpus Callosotomy

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Corpus Callosotomy sering dilakukan pada anak-anak dengan ”drop attacks” atau atonic seizure, pada anak tersebut secara tiba-tiba tonus otot hilang/ lemas, yang akan menyebabkan anak jatuh kelantai saat berjalan. Juga dilakukan pada seseorang dengan kejang tonic-klonic menyeluruh yang tidak terkontrol dengan terapi obat-obatan, atau Grandmal epilepsi, atau dengan “massive jerking movement”. Seorang anak laki-laki, umur 2,5 tahun, dengan keluhan utama: kejang, 8–10 kali setiap hari, sejak penderita umur 4 bulan. Sudah mendapat terapi dari poliklinik syaraf, kejang hanya berkurang. Dipersiapkan operasi dengan pemeriksaan laboratorium lengkap, pemeriksaan penunjang, pemeriksaan EEG dan MRI. Dilakukan Corpus Callosotomy, post operasi dirawat di ICU selama 2 hari, kemudian pindah ruangan, dan selanjutnya pulang. Intensitas kejang berkurang. Penanganan pada penderita ini terdapat masalah khusus yaitu masalah anestesia pada anak-anak dan masalah neuroanestesia. Memerlukan persiapan operasi yang khusus sehingga dapat menentukan fokus epilepsI dengan tepat dan terapi operasi yang tepat pula.Anesthesia for Corpus CallosotomyCorpus callosotomy is most often performed for children with “drop attacks”, or atonic seizure, in which a sudden loss of muscle tone cuases the child fall to the floor. It also performed in people with uncontrolled generalized tonic-clonic, or grand mal, or with massive jerking movement. A 2.5 year-old boys for corpus callosotomy indicated for the treatment of intractable epilepsi. With chief complaint frequent seizure since 4 month old and frequent convulsion 8–10 time per day. Preparing pre operative must be complete including  Electroencephalogram and Magnetic Resonance Image (MRI) for detection focal epilepsi. Post operative periode in ICU and than go to ward two day latter. Intensity of seizure decreased more than pre operative condition. Management this patient need serious attention, special cases for children anesthesia and neuroanesthesia. It also need to special prepare for this patient, until to found good outcome.

Tata Kelola Anestesi pada Bedah Fossa Posterior

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 4 (2012)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fossa posterior merupakan daerah yang cukup sempit, dimana didalamnya terdapat otak kecil, batang otak serta saraf kranial. Kelainan-kelainan yang dapat terjadi pada cerebellum adalah tumor, perdarahan maupun iskemia. Penatalaksanaan anestesi pada fossa posterior harus sangat hati-hati dan teliti, baik pada periode prabedah, bedah maupun pascabedah. Selain itu juga diperhatikan terkait masalah posisi pasien yang sangat spesifik. Pada periode pascabedah harus hati-hati untuk menentukan apakah dilakukan ekstubasi atau tetap dalam kondisi terintubasi. Monitoring terhadap jalannya anestesi serta kemungkinan terjadinya komplikasi adalah hal yang sangat penting. Pencegahan terhadap kemungkinan terjadinya komplikasi harus dilakukan. Setelah operasi selesai, diharapkan pasien dapat segera sadar untuk dilakukan penilaian neurologis. Apabila akan diekstubasi, harus dilakukan dengan hati-hati untuk menghindari kenaikan TIK akibat batuk dan bucking. Anesthetic Management in Posterior Fossa Surgery Posterior fossa is a narrow space, which is occupying by cerebellum, brain stem and cranial nerves. The abnormalities that can be happen in cerebellum including neoplasm, hemorrhage or ischemia. Anesthesia management in posterior fossa surgery must be done with caution and thorough, in preoperative, intraoperative and postoperative period. In addition, the patient position is must be cleared and specified before. In the postoperative period, the physician must be carefull in determine, which is extubated or keep in intubation conditions. Monitoring on the anesthetic and the possibility to a complication is a very important condition too. Prevention on the possibility for any complication must be taken. In postoperative period, hopefully the patient can awake as soon as possible, so the neurological examination can be done. If the patient will extubated, this procedures have to very smooth and no coughing and bucking for prevent the elevated ICP. 

Perioperatif Anestesi Pada Kraniotomi Penderita Cedera Otak Berat

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cedera otak traumatik (TBI) merupakan penyebab kematian dan kecacatan pada penderita, apabila tidak mendapatkan pertolongan yang cepat dan tepat. Diperlukan peran seorang ahli anestesi dalam hal penanganan, yang dimulai sejak pra rumah sakit sampai perawatan neuro intensif. Standar terapi cedera otak traumatik selalu mengalami kemajuan dari tahun ke tahun, yang diharapkan bisa mencapai hasil yang maksimal dalam menangani kasus trauma kepala. Seorang laki-laki, usia 37 tahun, berat badan 75 kg, tinggi badan 170 cm. Penderita rujukan dari rumah sakit di kabupaten dengan diagnosa cedera otak berat. Mulai dari kejadian sampai masuk kamar operasi membutuhkan waktu 12 jam. Terjadi penurunan GCS dari 11 (3,3,5) ke 8 (2,2,4) kemudian 7 (1,2,4) dan dilakukan intubasi di ruang resusitasi, sebelum masuk kamar operasi. Dilakukan kraniotomi selama 7 jam untuk evakuasi hematoma subdural. Setelah operasi, dilakukan monitoring tekanan intrakranial (ICP) dan tindakan untuk terapi hipertensi intrakranial. Hari ketiga post operasi dilakukan tracheostomi. Hari ke lima post operasi, GCS 2,X,5 (dengan tracheostomi) dan penderita alih rawat ke bangsal. Penanganan penderita cedera otak traumatik seharusnya sudah dilakukan di tempat kejadian trauma dan berkesinambungan sampai perawatan intensif. Dengan adanya petugas trauma care yang terlatih di setiap daerah, diharapkan tidak terjadi keterlambatan dalam penanganan penderita yang juga akan berdampak pada hasil akhir penderita. Pemilihan obat anestesi disesuaikan dengan situasi dan kondisi penderita, termasuk kondisi rumah sakit. Semua itu mempunyai tujuan utama untuk mencegah kerusakan sekunder, serta diharapkan akan mengurangi mortalitas dan kecacatan penderita trauma.Perioperative Anesthesia In Craniotomy For Severe Traumatic Brain InjuryTraumatic brain injury (TBI) is a major cause of death and dissability in patient, if it doesn’t get any therapy quickly and accurately. Anesthesiologist is important in case to handling the therapy from the accident site until in the neuro intensive care. A standard therapy in TBI is always moving forward by years, that is expected to achieve maximal results in that case. A man, 37 years old, weight 75 kg, height 170 cm. This patient was referral from another hospital in counties with severe head injury. Takes 12 hours, from the accident event until the patient arrive in the operating room. GCS is continues to drop from 11( 3,3,5) to 8 (2,2,4) and became 7 (1,2,4) then the intubation is taking place in the resuscitation room, before the patient get into the operation room. Craniotomy was done in 7 hours to evacuate subdural hematoma. After surgery, ICP monitoring and intracranial hypertension therapy was taken. In the 3rd day after surgery, tracheostomy was given to the patient. In the 5th day after main surgery, GCS is 2, X, 5 (with tracheostomy) and move to ward. The treatments of patient with TBI should taken on the site of accident until the patient in intensive care unit. A trained emergency staff in every region is expected in patient management effectively, that can affect in final results. The selection of anesthesia agent is depends on both patient and hospital, condition and circumstances. All of it, has a primary purpose to prevent secondary damage and expected to reduce mortality and disability in patients.

Manajemen Anestesia pada Anak dengan Nasofrontal Meningoencephalocele dan Hydrocephalus Non-Communicant

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 1 (2012)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Meningoencephalocele adalah defek kongenital yang sangat jarang, tapi insidennya tinggi di Asia Tenggara, termasuk di Indonesia. Penderita dengan nasofrontal meningoencephalocele memerlukan koreksi pembedahan sedini mungkin karena adanya kelainan bentuk wajah, gangguan pandangan, bertambahnya ukuran meningoencephalocele disebabkan bertambahnya prolaps cerebri dan risiko infeksi. Dalam laporan ini kami presentasikan kasus seorang bayi 9 bulan dengan meningoencephalocele naso-orbital dan hydrocephalus non communican yang menjalani operasi VP shunt dan eksisi cele. Adanya massa tersebut, baik meningoencephalocele nasofrontal atau frontoethmoidal maupun occipital, menimbulkan kesulitan bagi ahli anestesi mulai saat induksi, pemeliharaan anestesi dan pasca operasinya. Menjadi tantangan bagi ahli anestesi dalam pengelolaan meningoencephalocele, dimana sebagian besar penderitanya adalah anak-anak yang mempunyai kesulitan tersendiri, termasuk mengamankan jalan nafas dengan intubasi dan adanya massa yang akan mempersulit ventilasi saat induksi, adanya massa pada nasofrontal serta nasoethmoidal yang berhubungan dengan komplikasinya dan penilaian yang tepat terhadap perdarahan dan hipotermia.Anesthesia Management for A child with Nasofrontal Meningoencephalocele and Hydrocephalus Non CommunicantMeningoencephaloceles are very rare congenital malformations in the world that have a high incidence in the population of Southeast Asia, include in Indonesia. Children with nasofrontal meningoencephaloceles should have surgical correction as early as possible because of the facial dysmorphia, impairment of binocular vision, increasing size of the meningoencephalocele caused by increasing brain prolapse, and risk of infection of the central nervous system. In this report, we presented a case of a 9 months-old baby girl with nasofrontal meningoencephalocele and hydrocephalus non communican, posted for VP shunt (ventriculo-peritoneal shunt) and cele excision. Because of the mass, nasofrontal or frontoethmoidal and occipital meningoencephalocele leads the anaesthetist to problems since the preoperative visit, time of induction, maintenance of anaesthesia during the operation until post operative care. Anaesthetic challenges in management of meningoencephalocele, which most of the patients are children, include ventilation, intubation and securing the airway with intubation with the mass in nasofrontal and nasoethmoidal with its associated complications and accurate assessment of bloodloss and prevention of hypothermia.

Pengelolaan Perioperatif Anestesi pada Pasien dengan Pembedahan Hipofisis Surgery

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 2 (2012)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pengelolaan perioperatif pada pasien yang menjalani pembedahan kelenjar hipofisis bervariasi sesuai dengan ukuran lesi hipofisis, jenis lesi, metode pembedahan yang digunakan serta fungsi endokrin yang ideal pra-pembedahan. Permasalahan tertentu pada kebanyakan pasien berhubungan dengan kondisi hipersekresi hormon primer serta komplikasi yang menyertainya. Hal ini disebabkan karena tidak adanya metode yang terbaik untuk semua pasien yang menjalani proses pembedahan. Kelenjar hipofisis terletak didasar tulang tengkorak, didalam sella turcica, tepat dibelakang chiasma optica. Kelenjar ini dibagi menjadi dua bagian, yaitu; pars anterior (adenohipofisis) dengan area 75% yang merupakan bagian paling besar, dan pars posterior (neurohipofisis) yang menyatu dengan hipotalamus. Kelenjar ini mensekresi hormon yang juga dikontrol oleh hipotalamus secara hormonal impuls nervus. Tumor hipofisis pada umumnya berasal dari daerah anterior hipofisis, bersifat jinak dan secara gambaran histologis menyerupai kelenjar hipofisis yang normal. Diperlukan adanya serangkaian pemeriksaan awal sebelum dilakukan tindakan bedah pada pasien. Pengelolaan anestesi pada saat proses pembedahan, disesuaikan dengan teknik pembedahan yang dilakukan. Hal lain yang juga tidak kalah pentingnya adalah monitoring kondisi pascabedah pada neurointensive care yang terkait dengan komplikasi dan metode penggantian hormon sementara setelah tindakan bedah dilakukan. Pemahaman mengenai penilaian pra operasi, tata laksana intra operatif, komplikasi yang mungkin terjadi, teknik pembedahan dan cara-cara pencegahan komplikasi, merupakan dasar keberhasilan perawatan pasien perioperatif sehingga mencegah morbiditas dan mortalitas.Perioperative Management Anesthesia on Patients Undergoing PituitaryPerioperative management on patients undergoing pituitary surgery is varies according to the size of pituitary lesion, type of lesion, surgical method used and the ideal preoperative function of endocrine. Specific problems in most patients relate to primary hormonal hypersecretion conditions and its complications. It cause by the absence of best methods for all patients undergoing this kind of surgery. Pituitary glands lie on the floor of the skulls bone, in sella turcica, right behind the chiasma optica. This glands was divided into two parts, pars anterior (adenohypophyse), its about 75% which is the biggest part of it, and the pars posterior (neurohypophyse) that fused with hypothalamus. This gland secretes hormone that controlled impuls nervus by the hypothalamus. In general, pituitary tumor was came from pars anterior, benign adenoma and histoligically same with a normal glands. A series of initial evaluation is required before the surgery take to the patients. Anesthesia management in the surgery is adapted to its technique. The other things that is equally important is post operative monitoring in neurointensive care, according to complications and transient hormone replacement method after the surgery. The understanding of preoperative assessment, intraoperative management, potential complication, surgical methods and several ways to prevent complications are the fundamental for successful perioperative patients care to prevent morbidity and mortality. 

Peran Neuro Critical Care Pada Tata Laksana Pasien Cedera Aksonal Difus

Jurnal Neuroanestesi Indonesia Vol 1, No 3 (2012)
Publisher : Departement of Anesthesiology and Intensive Care Dr. Hasan Sadikin Hospital Bandung

Show Abstract | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Cedera aksonal difus (Diffuse Axonal Injury / DAI) adalah keadaan penderita dengan kehilangan kesadaran, lebih dari 6 jam pada cedera otak traumatik berat dan tanpa lesi masa intrakranial. Berdasar lama kondisi koma pada pasien, DAI dibagi menjadi 3 kategori, kelas I (ringan), kelas II (sedang), kelas III (berat). Bila tidak ditangani dengan cepat dan tepat, kemungkinan pasien akan mengalami cacat permanen dan tetap dalam kondisi vegetative. Peran Neuro Anestesi dan Critical Care adalah untuk menangani penderita, dimulai dari tempat kejadian trauma hingga perawatan neurointensif. Seorang wanita, umur 18 tahun, berat badan 50 kg, tinggi 165 cm. Mengalami kecelakaan sepeda motor, kemudian penderita pingsan mulai dari tempat kejadian sampai dibawa ke rumah sakit. Dilakukan monitoring tekanan intrakranial (ICP) dan perawatan cedera otak traumatik berat pada umumnya. Pada hari ke 4 setelah trauma, penderita mulai sadar, dapat diperintah dan dengan nilai Glasgow Outcomes Scale (GOS): 3 (cacat parah). DAI terjadi karena cedera otak berat setelah trauma sehingga menyebabkan penurunan kesadaran tanpa adanya lesi masa intrakranial maupun iskemik. Bermacam-macam teori dikemukakan mengenai terjadinya DAI. Penatalaksanaan DAI tidak ada yang khusus, dilaksanakan penanganan seperti pada cedera otak traumatik umumnya, hanya diperlukan pencegahan cedera sekunder dan mempertahankan tekanan intrakranial (ICP) dalam kondisi normal. Prognosa tergantung dari jenis DAI yang terjadi. The Role Of Neurocritical Care On Diffuse Axonal Injury Management Diffuse Axonal Injury (DAI) is a state of long-time unconsciousness, more than 6 hours in severe traumatic brain injury and without mass lesions of intracranial. According to how long the patient still in coma condition, DAI is divided into 3 categories, grade I (mild), grade II (moderate), grade III (severe). If this condition not addressed quickly and accurately, the patient may will get a permanent disability and still in a vegetative state condition. The importance of Neuro-anesthesiologist and Critical Care is to take care of the patient, from the trauma site until in the neurointensive care. A woman, 18 years old, weight 50 kg, height 165 cm. She had a motorcycle accident and unconscious from the trauma site until she got into the hospital. Intra Cranial Pressure (ICP) Monitoring and a treatment of traumatic brain injury in general was performes. On the 4th day after trauma, the patient began to understand the command that was given and the GOS (Glasgow Outcomes Scale) is 3 (severe disability). DAI occurs due to severe brain injury after trauma resulting in impairment of consciousness with the absence of intracranial mass lesions and also ischemia. The various theories bring to the surface regarding the occurrence of DAI. The management in DAI is nothing specials, it contains the treatment in traumatic brain injury in general, the prevention of secondary injury and maintain ICP in normal condition is essentials. The prognosis is depends on the type DAI that was occurs.