Articles

Found 8 Documents
Search

KIVFA-8 Studi Kasus: Profil Mineral Makro Pada Sapi Perah Yang Mengalami Retensi Plasenta di Kunak Kabupaten Bogor Wulansari, Retno; Esfandiari, Anita; Widhyarti, Sus Derthi; Choliq, Chusnul; Mihardi, Arief Purwo; Maylina, Leni; Suryono, .
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Susu merupakan salah satu bahan pangan yang sangat penting bagi masyarakat untuk memenuhi kebutuhan gizinya. Peningkatan kesadaran masyarakat akan pentingnya susu sebagai salah satu sumber gizi yang penting berefek terhadap kebutuhan susu nasional terus meningkat pula. Namun kebutuhan yang tinggi ini belum diimbangi dengan produksi susu nasional yang baru mencapai 3.29% per tahun, sehingga kekurangan akan kebutuhan susu ini masih harus diimport dari negara lain. Rata-rata produksi susu di Indonesia dari setiap sapi masih relatif rendah, sekitar 10-12 liter/ekor/hari (Deny 2014). Keterbatasan produksi susu dari dalam negeri ini disebabkan oleh masih belum maksimalnya produksi susu dari setiap sapi perah yang dimiliki oleh peternak di Indonesia.Manajemen pemeliharaan yang baik dalam usaha peternakan sapi perah sangat diperlukan untuk dapat meningkatkan produksi susu, salah satunya antara lain manajemen pakan. Pakan harus memenuhi unsur-unsur penting diantaranya mineral makro dan mikro dalam jumlah yang secukupnya.Masalah kesehatan yang sering ditemui pada sapi perah awal laktasi umumnya berupa gangguan metabolik, seperti milk fever dan ketosis (Divers & Peek 2008). Hipokalsemia adalah kelainan metabolik dimana mekanisme homeostasis gagal untuk mempertahankan konsentrasi Ca darah normal saat awal laktasi (Chamberlain et al. 2013). Kejadian ini sering didahului dengan kondisi hipokalsemia subklinis pada saat bunting dan kering kandang, tetapi tidak teramati oleh peternak (Goff 2008). Retensi Plasenta merupakan salah satu manifestasi dari gangguan metabolik akibat tidak cukupnya konsentrasi mineral pada hewan post partus. Sapi secara normal akan melepaskan plasenta dalam waktu 3 -6 jam post partus. Retensi atau tertahannya plasenta lebih dari 8 – 12 jam pada induk post partus dapat dipertimbangkan sebagai suatu kondisi yang abnormal (Diver & Peek 2008. Salah satu predisposisi adalah tidak adanya program manajemen pakan atau pemberian suplemen mineral yang tidak tepat, sebagaimana disajikan pada studi kasus berikut.
KIVSA-4 Identifikasi Klinis Kristaluria pada Kasus Feline Lower Urinary Track Disease (FLUTD) di Klinik Hewan Maximus Pet Care Mihardi, Arief Purwo; Paramita, Intan Maria; Pakpahan, Sherli Noviaria; Widodo, Setyo
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Feline lower urinary tract disease (FLUTD) terjadi karena adanya disfungsi dari kantung kemih maupun uretra pada kucing.  Salah satu simptom dari FLUTD yaitu polakiuria tanpa disertai poliuria, adanya stranguria dan hematuria (Gunn-Moore 2003; Westroop dan Buffington 2010).  Menurut Hostutler et al. (2005), hampir kebanyakan kucing yang mengalami LUTD terjadi karena terjadinya feline idiopathic, interstitial cystitis, urolitiasis, infeksi bakterial pada saluran urinari, malformasi anatomi saluran urinari, neoplasia, behavioral disorder, dan gangguan syaraf seperti refleks dysnergia.  Seperti yang dilaporkan Dorsch et al. (2014), dari 302 ekor kucing yang mengalami LUTD terdapat feline idiopathic cystitis (FIC) (55%), infeksi bakterial saluran urinari (18,9%), uretral plug (10,3%) dan urolithiasis (7%).  Kojrys et al. (2017) juga melaporkan 385 kucing yang mengalami LUTD terdapat 60,7% mengalami FIC, 17,4% obstruksi uretra akibat plug, 7,8% infeksi bakterial saluran urinari, 13% mengalami urolitiasis, 1 % terjadinya hiperplasia.Hampir sebagian besar kejadian LUTD diikuti dengan adanya obstruksi.  Menurut laporan Kojrys et al. (2017), FLUTD diikuti terjadi obstruksi uretra pada 229 kucing.  Umumnya obstruksi ini terjadi pada kucing jantan (204 ekor) dan hanya terdapat 25 ekor terjadi pada kucing betina.  Obstruksi ini biasanya terjadi pada kasus FIC yakni 129 ekor dan 67 ekor mengalami urolitiasis.  Menurut Osborne dan Lulich (2006), jenis kristal urin yang sering ditemukan pada kasus urolitiasis seperti struvit, kalsium oksalat, urat, sistin ataupun campuran.  Studi ini dilakukan untuk mengetahui karakteristik kristalurin yang terjadi pada 13 ekor kucing yang mengalami LUTD.
KIVSA-5 Pijat Uretra (Urethral Massage) Alternatif Penanganan Kasus Obstruksi Uretra akibat FLUTD pada Kucing Jantan Paramita, Intan Maria; Mihardi, Arief Purwo; Pakpahan, Sherly Noviaria; Widodo, Setyo
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Obstruksi uretra merupakan salah satu manifestasi dari kasus Feline Lower Urinary Tract Disease (FLUTD) yang sering muncul dan bila tidak mendapatkan perawatan yang baik akan menimbulkan kematian. Obstruksi uretra dapat terjadi akibat keberadaan kalkuli, serta urethral plug yang tersusun atas mukoprotein, blood clot, kristal, hingga kalkuli. Obstruksi urethra lebih sering terjadi pada kucing jantan dibandingkan kucing betina (Hostutler et. al. 2005). Hal ini terjadi akibat anatomi uretra kucing jantan lebih panjang dan berbentuk selongsong yang mempermudah kejadian pengendapan kristal dan mukoprotein membentuk plug yang menghambat aliran urin keluar melalui uretra. Kucing yang mengalami obstruksi uretra dapat dikenali dari adanya perubahan frekuensi urinasi dan perubahan tingkah laku urinasi (Gunn-Moore 2002). Beberapa kucing menunjukkan gejala muntah, nyeri di abdomen, lemah, lesu, nafsu makan turun, ulcer di rongga mulut, hingga penurunan bobot badan yang signifikan (Berent 2011). Diagnosa obstruksi uretra dapat dilakukan dengan palpasi kondisi vesica urinaria (VU). Vesica urinaria kucing yang mengalami obstruksi uretra akan teraba besar, tegang, dan keras karena terisi penuh oleh urin. Teknik yang disarankan untuk memperlancar aliran urin adalah dengan memberikan obat obatan yang bersifat antispasmodik seperti atropin untuk merelaksasikan lumen uretra, melakukan pijat uretra atau “milking technique” selama beberapa menit pada uretra yang sudah dilubrikasi, irigasi uretra menggunakan kateter, cystocentesis, hingga urethrostomy (Gaskell 1978). Pemasangan kateter, cystocentesis, hingga urethrostomy merupakan tindakan invasi yang dilakukan apabila tindakan lain tidak berhasil dilakukan. Tindakan invasif memiliki resiko jika tidak dilakukan secara lege artis. Osborne et. al. (1996) menyatakan bahwa tindakan kateterisasi mampu menginduksi terjadinya trauma hingga penyempitan uretra akibat infeksi karena adanya benda asing yang dimasukkan dalam tubuh kucing tersebut.Salah satu alternatif memperbaiki aliran urin adalah dengan melakukan tindakan pijat uretra. Osborne et. al. (1978) menyarankan melakukan tindakan ini sebelum melakukan tindakan invasi lainnya. Tindakan kateterisasi dilakukan apabila pijatan uretra tidak mampu melancarkan aliran urin. Studi ini dilakukan untuk mengetahui efektivitas teknik pijat uretra dalam menangani kasus obstruksi uretra pada 10 ekor kucing jantan yang mengalami FLUTD.
KIVSA-6 Stomatitis Kompleks pada Seekor Anak Kucing Andriani, Monika Danaparamitha; Mihardi, Arief Purwo; Pakpahan, Sherly Noviaria; Sovinar, Malni
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

ABSTRAK: Stomatitis kompleks merupakan suatu kondisi gangguan pada area rongga mulut yang mengalami stomatitis, glossitis, dan gingivitis disertai adanya ulcer. Seekor anak kucing ras campuran datang dengan keluhan tidak mau makan dan hipersalivasi selama 1 minggu. Penetapan diagnosa diperoleh dari hasil temuan klinis pada saat pemeriksaan fisik pasien. Peradangan yang terjadi pada hewan ini menyebabkan kesakitan pada area mulut, gusi, dan lidah. Kondisi tersebut mengakibatkan kesulitan makan dan diduga sudah berjalan kronis. Pengobatan yang dilakukan adalah terapi suportif melalui cairan infus dan antibiotik secara intravena. Prognosa dari hasil pemeriksaan tersebut adalah dubius infausta.
KIVP-3 Pengamatan Performa Pada Sapi FH Jantan yang Diberi Suplementasi Mineral Zinc Widhyai, Sus Derthi; Sajuthi, Dondin; Widodo, Setyo; Esfandiari, Anita; Wulansari, Retno; Wijaya, Agus; Choliq, Chusnul; Lelana, Agus; Maylina, Leni; Mihardi, Arief Purwo
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

Permintaan dunia terhadap protein hewani sangat besar dan terus meningkat setiap tahunnya. Kebutuhan yang meningkat tidak dibarengi dengan kemampuan penyediaan protein hewani yang cukup sehingga sebagian besar dipenuhi melalui import. Pemenuhan protein dalam negeri diharapkan mampu meningkatkan kualitas maupun kuantitas daging melalui perbaikan mutu nutrisi sehingga mampu bersaing dengan pihak luar. Salah satu sumber protein hewani selain dari ternak potong, adalah memanfaatkan sapi jantan dari sapi perah FH. Oleh karena itu ternak jantan dapat digunakan sebagai alternatif sumber protein hewani dalam upaya untuk penyediaan pangan asal ternak.  Pembangunan peternakan diarahkan agar produk ternak dalam negeri mampu bersaing dengan produk ternak impor dalam rangka memantapkan ketahanan pangan nasional. Mineral Zn dilaporkan mampu memperbaiki skor marbling karkas [1].  Hal ini penting untuk memperbaiki kualitas karkas daging sebagai sumber protein hewani. Belum banyak informasi tentang efek suplementasi Zn terhadap pertambahan bobot badan terutama pada sapi FH jantan. Oleh karena itu pengamatan tentang suplementasi Zn terhadap performa (bobot badan) pada sapi FH jantan perlu dilakukan.
PF-4 Immune Response of Dry Holstein Vaccinated by Killed Avian Influenza H5N1 Vaccine Esfandiari, Anita; Murtini, Sri; Widhyari, Sus Derthi; Wulansari, Retno; Febram, Bayu; Maylina, Leni; Mihardi, Arief Purwo
Hemera Zoa Proceedings of the 20th FAVA & the 15th KIVNAS PDHI 2018
Publisher : Hemera Zoa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB)

Abstract

The establishment and spread of highly pathogenic avian influenza (HPAI) viruses of the H5N1 subtype in birds and coincident infections in humans since 2003 have raised concerns that we may be facing an influenza pandemic caused by an H5N1 influenza virus [4]. Globally, from January 2003 to 2 March 2017, there were 860 cases of human infection with avian influenza A(H5N1) virus reported from 16 countries worldwide. Of these 860 cases, 454 were fatal (CFR of 53%). The last case was reported from Indonesia on 26 September 2017 [7]. Although the human cases of H5N1 in Indonesia has decreased significantly since 2010, according to WHO until 2017 there have been reported 200 cases H5N1 in  human with 168 cases of deaths. The last case was reported from Indonesia on 26 September 2017. This is indicate Indonesia as the highest fatal case of H5N1 globally. With continued incidence of avian influenza due to existing AI H5N1 viruses in poultry, the avian influenza H5N1 has been believed remain to threaten Indonesia [6].Passive immunization using specific antibody against AI H5N1 from bovine colostrum is one of an alternative to control H5N1 virus infection due to lack of H5N1 vaccine production for human. Bovine colostrums consider an ideal alternative antibody source, as the antibody in the bovine’s blood is transported to mammary gland easily and accumulates in the colostrum in large quantities. As a “biological factory”  and the source of natural antibody, bovine colostrum could be designed to produce the specific antibody against certain disease for animal and human by immunizing the dry cow (with the antigen of interest).Vaccine is an antigenic material used to produce active immunity against diseases. Vaccination is the administration of vaccine to the individual to generate immunity against a disease [2]. According to [1], the exposure of a dry cow against antigen (vaccine) will produce specific antibody in their blood circulation. Therefore, evaluation on the status of antibody against AI H5N1 following the vaccination of dry Holstein cows with killed AI H5N1 vaccine is needed. 
Kasus urolitiasis pada kucing persia betina Mihardi, Arief Purwo; Hidayat, Putra R; Nurlatifah, Aisyah; Permata, Ni Putu Wirananda Ayuning; Kristianty, Tri Ayu
ARSHI Veterinary Letters Vol 3, No 1 (2019): ARSHI Veterinary Letters - Februari 2019
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (468.616 KB) | DOI: 10.29244/avl.3.1.13-14

Abstract

Urolithiasis merupakan gangguan pada hewan jantan maupun betina berupa adanya kristal atau batuan pada traktus urinarius seperti vesika urinaria. Tulisan ini melaporkan kasus urolitiasis pada seekor kucing ras persia bernama Suki berjenis kelamin betina dibawa pemiliknya datang ke klinik dengan keluhan sulit urinasi dan ada respon sakit saat urinasi.  Kucing tersebut sebelumnya pernah datang ke klinik dengan gejala stranguria dan hematuria. Vesika urinaria kucing tidak tegang namun ditemukan hematuria saat dilakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan penunjang dilakukan dengan radiografi dan ditemukan masa radioopaque di dalam vesika urinaria.  Kucing didiagnosa urolitiasis dan diterapi dengan cystotomi untuk mengambil masa di dalam vesika urinaria. Pengobatan pasca-cystotomi diberikan obat antiinflamasi, antinyeri dan antibiotik.  Kucing  tersebut menunjukkan persembuhan yang lebih baik pasca-cystotomi.
Profil Elektrolit Serum Pedet Sapi yang Diinfeksi Escherichia coli K-99 dan Diberi Mikrokapsul Imunoglobulin-G Anti E. coli Mihardi, Arief Purwo; Esfandiari, Anita; Widhyari, Sus Derthi; Murtini, Sri
Jurnal Veteriner Vol 20 No 2 (2019)
Publisher : Faculty of Veterinary Medicine, Udayana University and Published in collaboration with the Indonesia Veterinarian Association

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (71.575 KB) | DOI: 10.19087/jveteriner.2019.20.2.158

Abstract

Escherichia coli (E. coli) K-99 infection cause acute diarrhea in calves which may reduce electrolyte, such as sodium and potassium.  The experiment was conducted to study the sodium and potassium profiles in calves infected by E. coli and received immunoglobulin G anti E. coli K99 microcapsules.  Sixteen calves, 4 – 6 days years old, were grouped into four groups, consists of four calves, i.e. negative control/NC group (the calves were not infected by E. coli K-99 and no treatments); positive control/PC group (the calves were infected by E. coli K-99 and no treatments); treatment 1/P1 group (the calves were infected by E. coli K-99 and received colostrum suspension of IgG anti E. coli K-99); and treatment 2/P2 group (the calves were infected by E. coli K-99 and received microcapsules of IgG anti E. coli K-99).  Escherichia coli K-99 were infected to all calves except the NC group orally with the dosage of 5 × 1010 cfu/ml.  Suspension and microcapsules of IgG anti E. coli K-99 for each calf were given orally with dosage of 1.76 gram IgG anti E. coli K-99 per day.  Serum were collected from jugular vein at 0, 24, 48, 72, and 168 hours after E. coli K99 infection. The sodium and potassium concentrastion were analyzed using a spectrophotometer. Results of the experiment indicated that the concentration of sodium and potassium were not significantly different among groups.  Sodium concentration of P2 group was relatively higher than PC or P1 and showed increased concentration 168 hours after infection.  Potassium concentration of P2 were higher than the PC group, but lower than NC and P1 group.  In conclusion, the administration of IgG anti E. coli K-99 microcapsules was not significantly change the sodium and potassium concentration, but may maintain the stability of sodium level in calves infected by E. coli K-99.