Aritonang, Erfan Andrianto
Lembaga Penelitian Universitas Trisakti

Published : 2 Documents
Articles

Found 2 Documents
Search

Prospek Pemanfaatan Biji Pepaya sebagai Biomaterial Pengendali Populasi Tikus Liar melalui Mekanisme Antifertilitas Aritonang, Erfan Andrianto
Oceana Biomedicina Journal Vol 2, No 1 (2019): Oceana Biomedicina Journal
Publisher : Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/obj.v2i1.19

Abstract

Tikus liar merupakan satwa liar yang paling sering bersosialisasi dengan masyarakat dan merupakan salah satu vektor serta penyebar penyakit yang beberapa diantaranya bersifat zoonosis. Pengendalian tikus liar sangat penting dilakukan guna mengurangi terjadinya penyakit zoonosis yang diakibatkan oleh hewan tersebut. Metode yang efektif digunakan sebagai pengendali populasi tikus liar adalah melalui mekanisme antifertilitas. Salah satu bahan yang memiliki mekanisme antifertilitas adalah biji pepaya. Kandungan saponin, flavonoid, alkaloid, dan papain pada biji pepaya terbukti memberikan efek infertil pada mencit dan tikus putih, dimana mencit dan tikus putih merupakan hewan yang semarga dengan tikus liar. Hewan yang semarga memiliki susunan anatomi dan fisiologis yang serupa, sehingga pengaruh antifertilitas tersebut menjadi sebuah prospek untuk mengembangkan biji pepaya sebagai biomaterial pengendali populasi tikus liar. Populasi tikus liar yang dihambat akan berdampak pada penurunan angka kejadian zoonosis dalam masyarakat.
GAMBARAN MAKROSKOPIS GINJAL MENCIT (Mus musculus) JANTAN MODEL UROLITHIASIS DENGAN PEMBERIAN INFUSUM SELEDRI (Apium graveolens) Aritonang, Erfan Andrianto; Sjafarjanto, Agus; Solfaine, Rondius
PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN PROSIDING SEMINAR NASIONAL CENDEKIAWAN 2018 BUKU I
Publisher : Lembaga Penelitian Universitas Trisakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis gambaran maksroskopis ginjal mencit (Mus musculus) model urolithiasis dengan pemberian infusum seledri (Apium graveolens). Penelitian terbagi dalam empat perlakuan yaitu K 1 (akuades); K 2 (induser urolithiasis);  S 1 (infusum seledri 20%, setelah satu jam kemudian diberi induser urolithiasis); dan S 2 (infusum seledri 40%, setelah satu jam kemudian diberi induser urolithiasis). Induser urolithiasis adalah 0,75% etilen glikol dan 2% amonium klorida. Perlakuan dilakukan selama 10 hari, nekropsi dan analisis makroskopis ginjal dilakukan pada hari ke-11. Analisis makroskopis meliputi skoring gambaran makroskopis ginjal, panjang dan tebal ginjal, serta bobot ginjal mencit. Data hasil skoring gambaran makroskopis ginjal di analisis menggunakan uji Chi Kuadrat, sedangkan panjang dan tebal ginjal serta bobot ginjal dianalisis menggunakan uji Anova. Hasil skoring gambaran makroskopis ginjal kelompok S 1 dan S 2 terhadap kelompok K 2 menunjukan adanya perbedaan yang nyata (p>0,05). Hasil rata-rata panjang dan tebal ginjal kanan setiap kelompok adalah 0,80; 0,38(K 1); 1,08; 0,50(K 2); 1,05; 0,48 (S 1); dan 0,975; 0,47(S 2) dan rata-rata panjang dan tebal ginjal kiri setiap kelompok adalah 0,83; 0,36(K 1); 0,94; 0,44(K 2); 0,94; 0,44(S 1); 0,89; 0,39(S 2). Hasil rata-rata bobot ginjal setiap kelompok adalah 0,259 ± 0,50(K 1); 0,372 ± 0,44(K 2); 0,370 ± 0,41(S 1); dan 0,325 ± 0,079(S 2). Uji statistik ANOVA terhadap ukuran dan bobot ginjal mencit kelompok S 1 dan S 2 terhadap kelompok K 2 tidak berbeda nyata (p>0,05).