Articles

Found 6 Documents
Search

Dagusibu, P3K (Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan) di Rumah dan Penggunaan Antibiotik yang Rasional di Kelurahan Nusukan Purwidyaningrum, Ika; Peranginangin, Jason Merari; Mardiyono, Mardiyono; Sarimanah, Jamilah
Journal of Dedicators Community Vol 3, No 1 (2019)
Publisher : Universitas Islam Nahdlatul Ulama Jepara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

The purpose of the service activity is to provide information and education to the public about dagusibu, P3K at home and rational use of antibiotics. Health counseling is needed by the community because it is known that the community. The GKSO Movement (Conscious Family Movement) is a program launched by the Indonesian Pharmacists Association (IAI) which is an effort to improve public understanding of medicines through dissemination of medicines, Dagusibu (Get, Use, Save and Dispose) medical equipment, medicine first aid treatment, and knowledge of antibiotics. The service partner, a resident of RT 08 RW 14, lacks awareness in maintaining cleanliness and still does not know the symptoms caused by an illness. The results of dedication show that citizens gain new knowledge and understand the material provided as a purpose of service
EVALUATION THE EFFICIENCY OF INPATIENT DRUG DISTRIBUTION IN THE PHARMACY DEPARTEMENT OF TARAKAN HOSPITAL IN CENTRAL JAKARTA Purwidyaningrum, Ika; Hakim, Lukman; Pujitami, Sri Wahyuni
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 2, No 1
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jmpf.53

Abstract

Drug management in Hospital which consist of stages are selection, procurement, distribution and use. Result of preliminary observation done in Pharmacy departement of Tarakan Hospital found some inefficiency problem in distribution steps such as expired and damage control, conformity of record to physical checks on drug management, etc. Therefore, it necessary to evaluation the efficiency rate of inpatient ward drug management distribution. Research design was descriptive, retrospective and concurrent with the evaluation of documents relating to inpatient drug distribution process. The study used a sample of drugs including Class A medicines criteria. Data collected in the form of qualitative and quantitative data from observations of documents and interviews with relevant officers. Data was presented in tabular and textual descriptions. Data evaluation was descriptive using SPSS. Measurement of the efficiency of drug distribution was done by using indicators of the efficiency of Depkes and WHO, then compared with that indicator to determine the existence of inefficiency. The results showed, that according to several indicators inpatient ward drug distribution was not been efficient, inefficiency drug management indicators at this stage of the distribution occurs on a match between the physical card stock while (93.27%).Damaged and / or expired drugs in 2008 was 0.23% in 2009 was 0.48%. Prescriptions are not served in 2008 was 1.52%, 2.28% in 2009. TOR in 2008 was 6 times and in 2008 was 6.9 times. Efficient distribution of drugs already on the length of service time and the availability of prescription drugs Key words: drug distribution, efficiency, Pharmacy departement of Tarakan Hospital
EVALUATION THE EFFICIENCY OF INPATIENT DRUG DISTRIBUTION IN THE PHARMACY DEPARTEMENT OF TARAKAN HOSPITAL IN CENTRAL JAKARTA Purwidyaningrum, Ika; Hakim, Lukman; Pujitami, Sri Wahyuni
JURNAL MANAJEMEN DAN PELAYANAN FARMASI (Journal of Management and Pharmacy Practice) Vol 2, No 1
Publisher : Faculty of Pharmacy, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2445.939 KB) | DOI: 10.22146/jmpf.53

Abstract

Drug management in Hospital which consist of stages are selection, procurement, distribution and use. Result of preliminary observation done in Pharmacy departement of Tarakan Hospital found some inefficiency problem in distribution steps such as expired and damage control, conformity of record to physical checks on drug management, etc. Therefore, it necessary to evaluation the efficiency rate of inpatient ward drug management distribution. Research design was descriptive, retrospective and concurrent with the evaluation of documents relating to inpatient drug distribution process. The study used a sample of drugs including Class A medicines criteria. Data collected in the form of qualitative and quantitative data from observations of documents and interviews with relevant officers. Data was presented in tabular and textual descriptions. Data evaluation was descriptive using SPSS. Measurement of the efficiency of drug distribution was done by using indicators of the efficiency of Depkes and WHO, then compared with that indicator to determine the existence of inefficiency. The results showed, that according to several indicators inpatient ward drug distribution was not been efficient, inefficiency drug management indicators at this stage of the distribution occurs on a match between the physical card stock while (93.27%).Damaged and / or expired drugs in 2008 was 0.23% in 2009 was 0.48%. Prescriptions are not served in 2008 was 1.52%, 2.28% in 2009. TOR in 2008 was 6 times and in 2008 was 6.9 times. Efficient distribution of drugs already on the length of service time and the availability of prescription drugs Key words: drug distribution, efficiency, Pharmacy departement of Tarakan Hospital
Analisis Distribusi Obat Rawat Inap di Instalasi Farmasi RSUD Tarakan Jakarta Pusat Purwidyaningrum, Ika
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 8 No 1 (2011): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3679.199 KB)

Abstract

Pengelolaan obat di rumah sakit terdiri dari tahap selection, procurement, distribution, dan use. Dari hasil observasi pendahuluan yang dilakukan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Umum Daerah Tarakan ditemukan beberapa masalah ketidakefisienan pada tahap distribution diantaranya yaitu sistem inventory obat yang kurang baik misalnya kontrol terhadap obat rusak dan atau kadaluarsa dan ketidakkecocokan antara obat dengan kartu stok. Untuk itu perlu dilakukan analisis terhadap pengelolaan distribusi obat rawat inap. Penelitian menggunakan rancangan deskripsi bersifat retrospective dan concurrent, dengan melakukan evaluasi terhadap dokumen yang berhubungan dengan proses distribusi obat rawat inap. Penelitian menggunakan sampel obat yang termasuk kriteria obat kelas A. Data yang dikumpulkan berupa data kualitatif dan kuantitatif dari pengamatan dokumen serta wawancara dengan petugas terkait. Penyajian data dalam bentuk tabel dan uraian tekstual, analisis secara deskriptif menggunakan program SPSS. Pengukuran tingkat analisis distribusi obat dilakukan dengan menggunakan indikator efisiensi Depkes, Pudjaningsih (1996) dan WHO (1993), kemudian dibandingkan dengan hasil penelitian untuk mengetahui adanya ketidakefisienan. Hasil penelitian menunjukkan, menurut beberapa indikator distribusi obat rawat inap sebagian belum dan sudah efisien. Ketidakefisienan indikator pengelolaan obat pada tahap distribusi terjadi pada kecocokan antara jumlah fisik dengan kartu stok yaitu 93,27%; obat kadaluwarsa dan/atau rusak tahun 2008 adalah 0,23% tahun 2009 adalah 0,48%, TOR tahun 2008 adalah 6 kali dan tahun 2009 adalah 6,9 kali.
Uji Aktivitas Hipoglikemik Kombinasi Ekstrak Daun Ceplikan (Ruellia tuberosa L.) dan Glibenklamid pada Tikus Putih Jantan dengan Induksi Aloksan Yuniasakti, Bunga; Purwidyaningrum, Ika; Rahayu, Mamik Ponco
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 11 No 2 (2014): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1293.343 KB)

Abstract

Diabetes melitus merupakan suatu penyakit atau gangguan metabolisme yang ditandai dengan tingginya kadar gula darah disertai dengan gangguan metabolisme karbohidrat, lipid dan protein sebagai akibat insufiensi fungsi insulin. Pada penelitian ini daun ceplikan (Ruellia tuberosa L.) mengandung senyawa flavonoid, saponin dan tanin yang memiliki aktivitas hipoglikemik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek hipoglikemik kombinasi ekstrak daun ceplikan dengan glibenklamid, dosis efektif pada kombinasi tersebut, dan untuk mengetahui perbandingan efek hipoglikemik pada penggunaan ekstrak tunggal dengan kombinasi. Ekstrak daun ceplikan diperoleh dengan cara maserasi dengan pelarut etanol 70%. Kondisi diabetes hewan diperoleh dengan induksi aloksan monohidrat 100 mg/kg BB. Kelompok perlakuan dibagi menjadi 6 kelompok. Kelompok kontrol negatif CMC, kontrol positif glibenklamid (0,45 mg/kg BB), dosis tunggal ekstrak daun ceplikan (937,5 mg/kg BB), kombinasi ekstrak daun ceplikan dan glibenklamid (25%:75%; 50%:50%; 75%:25%). Penetapan kadar glukosa darah diukur dengan alat glukometer pada hari ke-7 dan ke-14. Hasil penelitian menunjukkan kombinasi ekstrak daun ceplikan dan glibenklamid memiliki aktivitas hipoglikemik dengan dosis efektif pada kombinasi 50%:50% ; 25%:75%. Penggunaan kombinasi ekstrak daun ceplikan dan glibenklamid mempunyai efek hipoglikemik yang lebih rendah dibanding ekstrak tunggal.
Uji Aktivitas Diuretik Ekstrak Daun Matoa (Pometia pinnata) pada Tikus Jantan Galur Wistar Purwidyaningrum, Ika; Dzakwan, Muhammad
Jurnal Farmasi Indonesia Vol 12 No 1 (2015): Jurnal Farmasi Indonesia
Publisher : Fakultas Farmasi Universitas Setia Budi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (303.242 KB)

Abstract

Daun matoa (Pometia pinnata) secara empiris digunakan sebagai antihipertensi. Obat diuretik berkorelasi dengan obat antihipertensi sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek diuretik ekstrak daun matoa. Ekstrak etanol daun matoa diujikan pada tikus putih jantan galur wistar. Hewan uji yang digunakan sebanyak 25 ekor yang dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan yaitu : kontrol negatif CMC 0,5%, Furosemid 3,6 mg/kg BB, ekstrak etanol daun matoa 50 mg/kg BB, ekstrak etanol daun matoa 100 mg/kg BB, ekstrak etanol daun matoa 150 mg/kg BB. Kemudian volume urin dicatat pada jam ke 1, 2, 3, 4, 5 dan 24 jam. Efek diuretik dapat dilihat dari hasil analisa data persen diuretik yang diperoleh dari volume urin tiap waktu pengamatan. Hasil dari penelitian ini adalah ekstrak daun matoa yang dilakukan uji diuretik. Berdasarkan data dan uji anava dapat diambil kesimpulan bahwa ekstrak etanol daun matoa dapat berkhasiat sebagai diuretik dan dosis efektif nya adalah 100 mg/kgbb.