Nugraha, Media Fitri Isma
Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

SEX DETERMINATION IN INDONESIAN PUFFERFISH Tetraodon palembangensis Bleeker, 1852: IMPLICATION FOR AQUACULTURE AND CONSERVATION Nugraha, Media Fitri Isma; Subamia, I Wayan; Sudarto, Sudarto; Purbowasito, Wahyu
Indonesian Aquaculture Journal Vol 6, No 1 (2011): (June 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (178.722 KB) | DOI: 10.15578/iaj.6.1.2011.37-45

Abstract

The study was based on eight specimens from a single population of Palembang pufferfish. We used a comprehensive approach comprise behavioral record, the Random Amplified Polymorphism DNA technique, exteriorly genital observation and the description of morphological coloration distinctive to recognize gender. Annotation from captivity has yielded that two genders in couple were possessed the prominent social respond in shoaling-fidelity. When the gonadal process has been released by maternal part, eggs and offspring were kept by male and there is no tolerable contact of female were given, here the female has become more cannibalism. Male adult has more brown-blackish and occasionally more flukes-dark on the half upper horizontal body it has less towering bulk and only has one genitalial hole. Female furthermore is recognizable with the present hight-bulk and has more yellow overall flukes in coloration and widely bright yellowish-dark from abdomental part to the edge of middle half of the body. Contrary, female has two genitalian holes. RAPD also has confirmed a concordance linkage what we are previously expected. We found an important mutation 176 bp for both gender. Among the scaffold obtained, scaffold 33 is a common scaffold identified within T. palembangensis and Takifugu, it has a sufficient score bit of 36.2 with a length of nucleotide 1,758,880 bp. Moreover, this scaffold is the result from primer OPP-19 in the female of T. palembangensis, we thus can finally distinguish their sex status. The scaffold 33 might relate to the gene SOX. Our attempt may hatch a new horizon for institutional developers, aquarist and conservationist in case of surety for sustainable natural population and to ensure their stock for consumption and trading ornament requirement.
EMBRYONIC DEVELOPMENTAL STAGES OF IKAN PALMAS (Polipterus senegalus senegalus) Subamia, I Wayan; Nugraha, Media Fitri Isma; Sugito, Slamet
Indonesian Aquaculture Journal Vol 3, No 2 (2008): (December 2008)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (233.167 KB) | DOI: 10.15578/iaj.3.2.2008.119-124

Abstract

The purpose of these observations was to identify the stages of the embryo development of ikan palmas (Polypterus senegalus senegalus) and determine the length of duration of each stage. Broodstocks were cultured in aquaria 6 cm x 72 cm x 50 cm in size. The broodstock were stocked at ratio of 1:1 and fed ad libitum with earthworm, small feed fish (ting sea fish) and golden snail. The Palmas broodstocks here naturally spawned in artificial nests made of split plastic raffia in resembling the aquatic plant found in the natural habitat of ikan palmas. After 21 days of culture period, the broodstock began to lay eggs in gradually for 20 days. The average diameter of the eggs was 25 μm. The embryo developed in 24 hours after fertilization and hatched out three days after the embryo had developed.
Pembentukan mother plant Bacopa australis secara In-vitro dan aklimatisasi dalam aquascape air tawar Nugraha, Media Fitri Isma; Yunita, Rossa; Lestari, Endang Gati; Ardi, Idil
Media Akuakultur Vol 12, No 2 (2017): (Desember, 2017)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (427.926 KB) | DOI: 10.15578/ma.12.2.2017.85-94

Abstract

Tanaman air adalah bagian penting dari ekosistem air tawar. Salah satu spesies yang terkenal adalah Bacopa australis. Hobiis aquascape saat ini memiliki ketertarikan tinggi terhadap tanaman air dengan kualitas yang bagus dari setiap spesiesnya. Metode perbanyakan tanaman air tanpa tanah, lahan pertanian dan air perlu dilakukan untuk memenuhi keinginan tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan formula media kultur jaringan dan zat pengatur tumbuh yang tepat untuk multiplikasi dalam perakitan mother plant (tanaman induk) Bacopa australis, serta mendapatkan media terbaik untuk aklimatisasi. Media yang digunakan adalah media Murashige dan Skoog (MS) A padat dengan perbedaan konsentrasi zat pengatur tumbuh. Perlakuan uji dalam kombinasi zat pengatur tumbuh (a) 0,50 mg/L BAP + 0,50 mg/L kinetin; (b) 0,50 mg/L BAP; dan (c) 0,50 mg/L 2,4-D. Aklimatisasi tanaman induk dilakukan pada berbagai media antara lain 1) pasir silika + pupuk aqua soil amazonia, 2). pasir malang + pupuk aqua soil amazonia, 3) pasir silika + pupuk cair; 4) pasir malang + pupuk. Hasil yang diperoleh, yaitu formula media kultur terbaik untuk multiplikasi tunas tanaman B. australis secara in-vitro adalah media MS (A) yang diperkaya dengan 0,5 mg/L BAP + 0,5 mg/L kinetin, sedangkan aklimatisasi terbaik pada media pasir malang + pupuk aqua soil amazonia.Water plant is an important part of freshwater ecosystems. One of the famous species is Bacopa australis. Today, many aquascape hobbyists have a high interest in aquatic plant species that have good aesthetic appearances. To answer this challenge, a new method in-vitro propagation of aquatic plants, planted without soil, agricultural land and water was conducted. The aim of this research was to find the best growth regulator hormon formula and aclimatisation medium, in creating the mother plant Bacopa australis. The medium used was MS (Murashige and Skoog, 1974) with different growth regulator hormon, i.e: (a) 0.50 mg L-1 BAP + 0.50 mg L-1 kinetin, (b) 0.50 mg L-1 BAP, (c) 0.50 mg L-1 2.4-D. The aclimatisation of the mother plant candidates used four treatments, i.e: (1) silica sand + aqua soil amazonia fertilizer, (2) malang sand + aqua soil amazonia fertilizer, (3) silica sand + liquid fertilizer, (4) malang sand + liquid fertilizer. The results showed that the best formula for in-vitro multiplication mother plant of Bacopa australis was MS medium with 0.5 mg/L BAP + 0.5 mg/L kinetin (treatment A). The best medium aclimatisation was malang sand + aqua soil amazonia fertilizer medium. 
SPESIES ASING SEBAGAI SALAH SATU PEMBATAS DALAM BUDIDAYA COPEPODA PADA BAK TERKONTROL Nugraha, Media Fitri Isma; Sumiarsa, Gede Suwarthama
Media Akuakultur Vol 4, No 1 (2009): (Desember 2009)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (95.196 KB) | DOI: 10.15578/ma.4.1.2009.45-49

Abstract

Copepoda adalah golongan crustacean yang dapat dijadikan sebagai pakan alami untuk larva ikan. Secara umum copepoda tergolong dalam empat ordo yaitu Calanoida, Cyclopoida, Harpacticoida, dan Monstrilidae. Di Balai Besar Riset Perikanan Budidaya Laut, Gondol, Copepoda yang dibudidayakan adalah jenis Harpacticoida yaitu Tisbe sp. yang pemeliharaannya dikerjakan dalam bak terkontrol. Copepod ini diberi pakan berupa fitoplankton, scoot’s emulsion, pelet ikan, dan ragi, serta sedikit penambahan probiotik. Pembatas selama budidaya adalah sulitnya produksi naupli copepoda secara massal, hal ini dikarenakan waktu bertelur yang tidak seragam antara individu copepoda, sehingga tidak bisa ditentukan waktu yang tepat untuk panen nauplii secara besarbesaran. Pembatas kedua adalah lambatnya reproduksi copepoda yaitu 14 hari jika dibandingkan dengan rotifer yang hanya dua hari. Pembatas ketiga adalah adanya spesies asing atau predator yang menyerang copepoda pada kondisi tertentu, seperti tingginya nutrisi pakan pada bak pemeliharaan.
COPEPODA: SUMBU KELANGSUNGAN BIOTA AKUATIK DAN KONTRIBUSINYA UNTUK AKUAKULTUR Nugraha, Media Fitri Isma; Hismayasari, Intanurfemi Bacandra
Media Akuakultur Vol 6, No 1 (2011): (Desember 2011)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/ma.6.1.2011.13-20

Abstract

Ulasan ini mencoba memperkenalkan dan manfaat jasad renik copepoda untuk domain manusia. Perannya sebagai basal kehidupan akuatik dan taksa vertebrata lainnya sering dilupakan, pada ulasan ini pula akan mengenalkan jasanya pada akuakultur. Copepoda digolongkan dalam Phylum Crustacean, yang berukuran sangat kecil sekitar 60-200 μm. Copepoda menghuni hampir setiap lapisan perairan dari permukaan sampai dasar lautan. Jasad renik ini dijadikan sebagai indikator kesuburan perairan, juga sebagai konsumen tingkat pertama yang memberikan gizi berupa EPA dan DHA pada setiap jenis biota perairan. Sejarah manusia pertama kali mengenal copepoda pasca kesuksesan ekspedisi Challenger 1872-1876. Kepedulian kita dalam mengenal spesies ini berarti telah membantu dalam mewujudkan keseimbangan ekosistem. Atas dasar kepedulian dan untuk keseimbangan alam dan lingkungan, maka multi institusional yang bergerak dalam domain akuakultur telah mengoleksi dan mengembangbiakkan satu sub spesies dari copepoda ini di dalam sebuah bak terkontrol, dan dijadikan sebagai sumber pakan alami larva kultivan.
PERBANYAKAN TANAMAN HIAS AIR Bacopa australis SECARA IN VITRO PADA BERBAGAI FORMULASI HORMON MEDIA PERTUMBUHAN Yunita, Rossa; Lestari, Endang Gati; Mastur, Mastur; Nugraha, Media Fitri Isma
Media Akuakultur Vol 13, No 2 (2018): (December, 2018)
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Kelautan da

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (184.778 KB) | DOI: 10.15578/ma.13.2.2018.75-82

Abstract

Suksesnya pembentukan indukan (mother plant) tanaman hias air Bacopa australis pada penelitian sebelumnya, mendorong perbanyakan tanaman dengan menggunakan teknik kultur in vitro secara massal untuk menghasilkan bibit Bacopa australis dalam jumlah yang banyak dan relatif lebih cepat. Tujuan penelitian adalah mendapatkan formulasi media yang tepat untuk induksi tunas, multiplikasi tunas, dan induksi perakaran yang cepat secara in vitro dari Bacopa australis. Penelitian ini terdiri atas tiga tahapan kegiatan, yaitu induksi tunas, multiplikasi tunas, dan induksi akar. Hasil penelitian menunjukkan formulasi media yang terbaik induksi tunas Bacopa australis secara in vitro adalah MS + BA 0,3 mg/L. Formulasi media yang optimal untuk multiplikasi tunas adalah MS + BA 0,5 mg/L + Thidiazuron 0,1 mg/L dan induksi perakaran adalah MS + IBA 0,5 mg/L.The successful establishment of mother plant Bacopa australis in the previously related research opens an opportunity to produce relatively fast and in large quantities Bacopa australis seeds using in vitro mass culture techniques. The objective of the study was to determine suitable formulated media for shoot induction, shoot multiplication, and root induction of Bacopa australis. This study consisted of three research stages, namely shoot induction, shoot multiplication, and root induction. The results showed that the best formulated media for in vitro Bacopa australis shoot induction was MS + BA 0.3 mg/L. The optimal formulated media for shoot multiplication was MS + BA 0.5 mg/L + Thidiazuron 0.1 mg/L and for root induction was MS + IBA 0.5 mg/L.