Sugiarti, Mimi
Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Published : 6 Documents
Articles

Found 6 Documents
Search

Hubungan Derajat Keparahan DBD Dengan Kadar Albumin Pada Penderita Demam Berdarah Dengue Di RSUD Dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung Nurminha, Nurminha; Sugiarti, Mimi; Aulia, Mahrifa Gita
Jurnal Analis Kesehatan Vol 7, No 2 (2018): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (284.087 KB) | DOI: 10.26630/jak.v7i2.1200

Abstract

Demam Berdarah Dengue adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh virus dengue dari famili Flaviviridae  yang terdiri dari 4 serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3, dan DEN-4. Infeksi dengue memperlihatkan spektrum klinis yang bervariasi  dari  derajat  ringan  sampai  berat. Pasien  yang terinfeksi  virus dengue sering ditemukan adanya peningkatan akut permeabilitas vaskuler yang mengarah pada perembesan plasma dengan bukti hipoalbuminemia. Penelitian ini bertujuan  untuk  mengetahui  hubungan  antara  derajat  keparahan  DBD  dengan kadar albumin pada penderita demam berdarah dengue di RSUD dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. Jenis penelitian ini adalah analitik dengan desain cross sectional. Analisa data menggunakan uji korelasi Spearman dan dilanjutkan dengan uji Anova one way. Hasil penelitian menunjukkan dari 30 pasien didapatkan penderita DBD derajat I sebanyak 43.3%, DBD derajat II sebanyak 33.3%, DBD derajat III sebanyak 16.7%, dan DBD derajat IV sebanyak 6.7%. Rerata kadar albumin penderita DBD derajat I, II, III, dan IV berturut-turut 3.7g/dL, 3.2 g/dL, 3.1 g/dL, dan 2.4 g/dL. Uji korelasi Spearman  didapatkan  p-value  0.000  (p<0.05)  dengan  nilai  koefisien  korelasi (r =-0.737) dan pada uji Anova diperoleh p-value 0.000 (p<0.05) menunjukkan bahwa ada hubungan yang bermakna antara derajat keparahan DBD dengan kadar albumin penderita DBD.
Pengaruh Khemoterapi Terhadap Jumlah Trombosit Pasien Penderita Kanker di RS Abdul Moeloek Provinsi Lampung Sugiarti, Mimi
Jurnal Analis Kesehatan Vol 4, No 2 (2015): Jurnal Analis Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kanker adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh pertumbuhan sel-sel jaringan tubuh yang tidak normal. Secara umum pengobatan kanker dilakukan dengan cara pembedahan (operasi), penyinaran (radioterapi), dan khemoterapi. Khemoterapi adalah pemberian obat untuk membunuh sel kanker. Khemoterapi merupakan terapi sistemik, yang berarti obat menyebar ke seluruh tubuh dan dapat mencapai sel kanker yang telah menyebar jauh atau metastase ke tempat lain. Trombositopenia merupakan komplikasi yang mungkin terjadi pada khemoterapi untuk tumor- tumor padat. Telah dilakukan penelitian tentang pengaruh khemoterapi terhadap jumlah trombosit pasien penderita kanker di RS Abdul Moeloek Provinsi Lampung.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh khemoterapi terhadap jumlah Trombosit.  Metode yang digunakan deskriptip, analisa data secara univariat dilanjutkan dengan bivariat menggunakan uji t berpasangan. Sebagai populasi  seluruh pasien kanker yang menjalani khemoterapi di RSAM pada bulan Januari sampai  Desember 2014 berjumlah 384 pasien, sampel yang memenuhi kriteria berjumlah 94 pasien. Hasil penelitian  dari 94 sampel yang diteliti diperoleh jumlah rata rata trombosit sebelum khemoterapi adalah 409.957 sel, rata rata setelah khemoterapi adalah 341.936 sel, jumlah tertinggi sebelum khemoterapi adalah 774.000 sel jumlah tertinggi setelah khemoterapi adalah 589.000 sel, jumlah terendah sebelum khemoterapi adalah 165.000 sel, jumlah terendah setelah khemoterapi adalah 123.000 sel. Hasil uji t menunjukkan  nilai mean perbedaan antara pengukuran sebelum khemoterapi dan setelah khemoterapi adalah sebesar 68.021,277 dengan standar deviasi 96.415,987  hasil uji statistik didapat nilai p 0,000 maka dapat disimpulkan ada perbedaan yang signifikan antara jumlah trombosit sebelum khemoterapi dengan setelah khemoterapi.
HUBUNGAN TINGKAT PENATALAKSANAAN PENGENDALIAN DIABETIK DENGAN KADAR HbA1c PADA PENDERITA DIABETES MELLITUS TIPE 2 DI RSUD dr.H.ABDUL MOELOEK BANDAR LAMPUNG SUGIARTI, MIMI; Apiati, Fitri
Jurnal Analis Kesehatan Vol 5, No 2 (2016): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Diabetes Mellitus ( DM ) merupakan penyakit kronis berjangka panjang yang bila diabaikan dapat menyebabkan komplikasi diabetik. Komplikasi tersering yang dialami Diabetes Mellitus ( DM ) tipe 2 adalah neuropati, retinopati, nefropati dan penyakit jantung koroner. Penatalaksanaan pengendalian diabetik berperan penting dalam mencegah komplikasi diabetik yang disertai dengan pemeriksaan kadar HbA1c secara berkala yang digunakan untuk menilai status glikemik jangka panjang. Penelitian bertujuan untuk mengetahui tingkat penatalaksaan pengendalian diabetik dan hubungannya dengan kadar HbA1c pada Penderita Diabetes Mellitus ( DM ) tipe 2 di Rumah Sakit Umum dr.H.Abdul Moeloek Bandar Lampung. Rancanganpenelitian yang digunakan merupakan penelitian yang bersifat analitik dengan pendekatan disain Cross Sectional dengan jumlah responden sebanyak 45 orang. Variabel penatalaksanaan pengendalian diabetik meliputi edukasi, terapi nutrisi medis, latihan jasmani dan terapi farmakologis. Analisa univariat dilakukan dengan menghitung persentase distribusi frekuensi setiap variabel dan kadar HbA1c serta analisa bivariat menggunakan ujiKorelasi Product Moment. Hasil penelitian menunjukkan 95 % dapat diyakini bahwa terdapat hubungan yang yang berkorelasi negatif antara tingkat penatalaksanaan pengendalian diabetik dengan kadar HbA1c pada penderita Diabetes mellitus tipe 2 di Rumah Sakit Umum dr.H.Abdul Moeloek Bandar Lampung dengan nilai koefisien korelasi ( r ) hitung > koefisien korelasi ( r ) tabel.
Gambaran Kadar Nitrit pada Beberapa Produk Daging Olahan di Bandar Lampung Tahun 2014 SUGIARTI, MIMI
Jurnal Analis Kesehatan Vol 4, No 1 (2015): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Daging tidak selalu dimasak dari daging segar, tetapi juga dapat dikonsumsi dalam bentuk yang sudah diolah dan diawetkan seperti korned sapi, burger dan daging giling. Pengawet yang digunakan adalah nitrit yang berfungsi untuk menghambat pertumbuhan bakteri Clostridium botulinum.   Selain itu Nitrit juga berfungsi untuk mempertahankan warna  merah pada  daging  olahan tersebut. Batas  maksimum penggunaan Nitrit  menurut Permenkes RI No. 33 tahun 2012  yaitu 30 mg/kg. Pemakaian yang berlebihan dapat menyebabkan keracunan, dan dapat membentuk senyawa nitrosamin yang bersifat karsinogen. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui apakah terdapat natrium nitrit pada daging olahan   dan apakah kadar natrium nitrit pada daging olahan  memenuhi syarat. Penelitian bersifat deskriptif, yaitu menganalisa kadar natrium nitrit dalam daging olahan . Daging olahan yang diambil sebagai sampel adalah korned, burger dan daging giling. Pemeriksaan dilakukan dengan cara visual, uji warna, uji kualitatif, dan kuantitatif. Secara kuantitatif  menggunakan metode spektrofotometri. Data yang diperoleh merupakan data primer dan dianalisis menggunakan analisis univariat dengan mengukur nilai rata-rata, minimal, maksimal dan presentase kadar nitrit dalam daging olahan. Hasil penelitian dari 53 sampel daging olahan yang diperiksa 50( 94,33%) sampel mengandung nitrit dan 3(5,67%) sampel tidak mengandung nitrit.Kadar natrium nitrit tertinggi sebesar 19,408 mg/kg dengan rata- rata sebesar 11,249 mg/kg, terendah 1,606 mg/kg. Berdasarkan Permenkes RI No. 33 tahun 2012 maka 50 sampel yang positip 100% masih memenuhi batas aman penggunaan natrium nitrit yaitu dibawah 30 mg/kg.
Efektivitas Air Rebusan dan Air Perasan Lengkuas Merah (Alpinia purpurata K.schum) dalam Menghambat Pertumbuhan Trichophyton rubrum Jamur Penyebab Kutu Air (Tinea pedis) Sulistianingsih, Eka; Sugiarti, Mimi
Jurnal Kesehatan Vol 9, No 3 (2018): Jurnal Kesehatan
Publisher : Politeknik Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (408.02 KB) | DOI: 10.26630/jk.v9i3.971

Abstract

Tinea pedis is dermatophytosis in the feet, especially between the fingers and soles of the feet. Chronic fungal infections in the form of peeling and skin rupture are the main manifestations, accompanied by pain and itching. Antifungal drugs have limitations, such as a narrow spectrum of antifungals, adverse effects on certain tissues and resistance to certain antifungals. One of the plants that are used for treatment is red-angled Galangal (Alpinia purpurata K.Schum). The research objective was to compare the effectiveness of boiled water and red galangal juice (Alpinia purpurata K.schum) in inhibiting the growth of fungus Trichophyton rubrum which causes water flea (Tinea pedis). The research was experimental with a completely randomized design (CRD) design. The independent variable is red galangal juice (Alpinia purpurata K.schum) and red galangal boiled water (Alpinia purpurata K.schum) with a concentration of 10%, 20%, 30%, 40%, 50%, 60%, 70%, 80 %, 90%, 100% and the dependent variable is the growth of fungus Trichophyton rubrum. Data analysis used the ANOVA test, followed by the BNT test (Smallest Real Difference) and T-test.The results showed that red galangal boiled water (Alpinia purpurata K.schum) did not have the ability to inhibit the growth of Trichophyton rubrum fungi. Red galangal juice (Alpinia purpurata K.schum) has the ability to inhibit the growth of fungi Trichophyton rubrum and the minimum concentration that can inhibit the growth of fungi Trichophyton rubrum is 10% with a mean inhibitory zone of 24.37 mm.
Gambaran Kadar Kolesterol Total pada Pasien Terapi Bekam di tempat Pelayanan Kesehatan Tradisional Bekam Herbal Center (BHC) Kedaton Kota Bandar Lampung SUGIARTI, MIMI; RISANG SETO, YOGA RAHMANDA
Jurnal Analis Kesehatan Vol 5, No 1 (2016): JURNAL ANALIS KESEHATAN
Publisher : Politeknik Kesehatan, Kementerian Kesehatan Tanjungkarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (44.739 KB) | DOI: 10.26630/jak.v5i1.459

Abstract

Bekam merupakan salah satu pemanfaatan pelayanan kesehatan tradisonal (yankestrad). Bekam diartikan sebagai peristiwa penghisapan darah dengan alat menyerupai tabung, serta mengeluarkannya dari permukaan kulit dengan penyayatan/penusukkan yang kemudian ditampung di dalam gelas. Salah satu manfaat dari bekam yaitu berperan dalam penurunan kadar kolesterol total dalam darah. Dalam prosesnya, plak-plak kolesterol berlebih dalam darah akan terbawa keluar tubuh. Hal ini dimaksudkan untuk memperbaiki sirkulasi darah. Tujuan penelitian untuk mengetahui gambaran kadar kolesterol total pada pasien terapi bekam di tempat Pelayanan Kesehatan Tradisional Bekam Herbal Center (BHC) Kedaton Kota Bandar Lampung.     Penelitian bersifat deskriptif dengan variabel penelitian adalah pasien terapi bekam dan kadar kolesterol total serum pasien bekam di tempat Pelayanan Kesehatan Tradisional Bekam Herbal Center (BHC) Kedaton Kota Bandar Lampung, sampel 30 orang dari keseluruhan populasi sebesar 292 orang pada bulan Juli 2015. Pengambilan darah vena pertama dilakukan sebelum pembekaman, pengambilan darah vena kedua dilakukan 1 hari setelah pembekaman pada sampel yang sama,  dibandingkan hasil pemeriksaan kadar kolesterol total sebelum dan setelah pembekaman. Pemeriksaan kadar kolesterol total menggunakan metode fotometer enzimatik. Analisa data menggunakan analisa univariat. Hasil penelitian didapatkan kadar  kolesterol sampel sebelum bekam memiliki nilai terendah 128,3 mg/dL, nilai tertinggi 356,7 mg/dL, dan nilai rata-rata 206 mg/dL. Kadar kolesterol total sampel setelah bekam memiliki nilai terendah 119,9 mg/dL, nilai tertinggi 278,2 mg/dL, dan nilai rata-rata 177,5 mg/dL. Dari total 30 sampel, pasien terapi bekam 93,33% mengalami penurunan kadar kolesterol total dan 6,67% tidak mengalami penurunan (tetap) kadar kolesterol total.