This Author published in this journals
All Journal AUSTENIT
Articles

Found 9 Documents
Search

PENGARUH MEDIA PENDINGIN DAN KONDISI PEMOTONGAN BAJA AISI 1045 TERHADAP KEKASARAN PERMUKAAN PADA PROSES CNC MILLING Suryana, Didi; Putri, Fenoria; Romli, Romli
AUSTENIT Vol 6, No 1 (2014): AUSTENIT 06012014
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (629.302 KB)

Abstract

Jenis pendinginan salah satu parameter yang mempengaruhi nilai kekasaran dari hasil permesinan. Niai kekasaran permukaan merupakan salah satu parameter spesifik geometris yang harus dipenuhi pada proses pemotongan logam. Karena proses pemotongan akan menyebabkan terjadi peningkatan temperatur baik terhadap benda kerja maupun alat potongnya maka jika temperatur ini jika tidak dikontrol akan mempengaruhi sifat mekanik bahan dan alat potong/pahat yang dipakai. Parameter lain yang juga berperan adalah kecepatan potong dan kecepatan pemakanan. Penelitian ini dilakukan untuk menghasilkan suatu persamaan regresi pengaruh media pendingin dan kondisi pemotongan baja AISI 1045 terhadap nilai kekasaran permukaan pada proses CNC milling. Data hasil penelitian dihitung secara statistik pada kondisi pemotongan dengan variasi cutter speed 500 s.d 1500 rpm, variasi feed rate 20 s.d 40 mm/menit dan dept of cut konstan 1 mm. Pada proses pemesinan/pemotonan dengan media pendingin campuran 1 oli dan 60 air, persamaan regresinya Y = 3,588 – 0,002 X1 + 0,004X2, media pendingin campuran 1 oli dan 40 air persamaan regresinya Y = 4,137 – 0,003X1 + 0,004X2 dan media pendingin campuran 1 oli dan 20 air persamaan regresinya Y = 4,137 – 0,003X1 + 0,004X2. Kondisi pemotongan yang sangat mempengaruhi nilai kekasaran secara parsial adalah Cutter speed sedangkan feed rate tidak begitu mempengaruhi.  
PENERAPAN TEKNOLOGI ELEKTROLISA LARUTAN AIR-KOH UNTUK MENINGKATKAN EFEKTIVITAS PENGGUNAAN KOMPOR GAS LPG Arnoldi, Dwi; Putri, Fenoria; Sailon, Sailon
AUSTENIT Vol 4, No 02 (2012): AUSTENIT 04022012
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (535.004 KB)

Abstract

Semakin menipisnya persediaan bahan bakar minyak membuat manusia berfikir keras untuk menghemat pemakaian bahan bakar, terutama untuk keperluan memasak. Konversi minyak tanah ke LPG hanyalah solusi sementara karaena BBG tersebut suatu ketika akan habis juga. Penelitian ini bertujuan untuk menerapkan teknologi penghematan LPG untuyk keperluan memasak skala rumah tangga. Teknologi yang dikembangkan berupa Elektrolisi larutan Air–K0H (Kalium Hodroksida). Prinsipnya adalah dengan memberikan beda tegangan listrik terhadap larutan, serta terbentuk molekul-molekul Hiodrogen dan Oksigen yang dapat meningkatkan nilai kalor LPG. Penelitian dimulai dengan  kegiatan rancang bangun Mesin Elektriliser yang dilengkapi dengan sarana pendukung serta instrumen pengujian yang diperlukan. Gas LPG yang sudah didoping selanjutnya  dipakai untuk mendidihkan air dengan massa 10 kg. Kinerja Elektroliser ditunjukkan oleh pengurangan waktu pendidihan air. Vaiabel bebas yang ditetapkan adalah komposisi larutan, sedang variabel hasil adalah waktu yang diperlukan untuk mendidihkkan  air. Hasil Pengujian yang telah dilaksanakan untuk berbagai komposisi larutan adalah: - Komposisi larrutan 25 % , waktu didih, telt = 35,2 menit, Efektivitas, e = 0,23- Komposisi larrutan 30 % , waktu didih, telt = 31,6 menit, Efektivitas, e = 0,29- Komposisi larrutan 35 % , waktu didih, telt = 30,2 menit, Efektivitas, e = 0,34- Komposisi larrutan 40 % , waktu didih, telt = 32,3 menit, Efektivitas, e = 0,29Dengan metode turunan pertama fungsi parabola, diperoleh kodisi optimum larutan adala konsentrasi 36,5 % yang menghasilkan efektivitas maksimum   0,3245.  Sebagai data pembanding adalah pendidihan air tanpa melibatkan sisitem elektrilisis yang mghasilkan waktu pendidihan, tkon = 45,6 menit.
ANALISA PENGARUH VARIASI KUAT ARUS DAN JARAK PENGELASAN TERHADAP KEKUATAN TARIK, SAMBUNGAN LAS BAJA KARBON RENDAH DENGAN ELEKTRODA 6013 Putri, Fenoria
AUSTENIT Vol 2, No 02 (2010): AUSTENIT 02022010
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (606.245 KB)

Abstract

Las busur listrik atau umumnya disebut dengan las listrik adalah suatu proses penyambungan logam dengan menggunakan tenaga listrik sebagai sumber panas. Pengelasan pada masa sekarang ini sangat berperan penting baik dalam bidang rekayasa, konstruksi maupun perbaikan logam. Dalam melakukan pengelasan banyak faktor yang dapat mempengaruhi hasil pengelasan itu sendiri diantaranya : cara dan prosedur pengelasan, alat dan bahan yang dibutuhkan, elektroda yang digunakan, kuat arus yang dipakai dan jarak kampuh yang digunakan. Kuat arus dan jarak kampuh inilah yang diteliti. Metodologi yang digunakan dalam pengambilan data spesimen adalah metode analitik yaitu data yang dikoleksi dan diteliti dijadikan petunjuk dalam penelitian, metode status yaitu sampel yang dipilih dianalisa karakteristiknya, kemudian hasil pengelasan diuji kekuatan tarik, kekerasan dan struktur mikronya, metode evaluasi yaitu data yang didapat dievaluasi untuk mendapatkan hasil yang optimal. Dari hasil penelitian dan pengujian yang dilakukan dengan menggunakan arus 70 A – 110 A dengan jarak kampuh 1 mm dan 2 mm, diperoleh arus 110 A dengan jarak kampuh 1 mm yang memiliki kekuatan tarik maksimum yaitu 507,33 N/mm2. Makin besar arus dan makin besar jarak pengelasan maka makin lebar weldment yang terjadi.
PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA SURYA SKALA LABORATORIUM Putri, Fenoria
AUSTENIT Vol 5, No 1 (2013): AUSTENIT 05012013
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.865 KB)

Abstract

Energi memegang peranan yang sangat penting bagi kehidupan manusia bahkan bagi kemajuan suatu negara. Seluruh aktifitas kehidupan manusia bisa dilakukan dengan melibatkan penggunaan energi. Kebutuhan akan energi tidak hanya diperoleh dari bahan bakar ataupun pembangkit listrik, namun dapat diperoleh dengan cara memanfaatkan  energi matahari, dalam hal ini cahaya matahari ditangkap oleh solar cell, melalui sel fotovoltaik selanjutnya diubah menjadi energi listrik, akan tetapi energi listrik yang diperoleh masih berarus DC (Direct Current / Arus Searah). Arus DC diubah menjadi arus AC (Alternating Current / Arus Bolak-Balik) melalui Inverter supaya bisa dipakai pada beban (load). Baterai digunakan sebagai penyimpan arus dari Inverter yang dapat digunakan  apabila  pada  keadaan  malam  hari  atau  keadaan  hujan.  Pada pengujian ini dilakukan sebanyak tiga kali, pada hari pertama pengujian sampai dengan hari ketiga pada situasi cuaca cerah diperoleh bahwa intensitas cahaya tertinggi terjadi pada jam 12 siang dan daya yang diserap serta terpancar dari sinar matahari terjadi pada jam 12 siang, intensitas cahaya matahari tidak selalu meningkat, ada kalanya menurun, terjadi perbedaan daya yang diserap oleh solar cell dengan daya yang dipancarkan oleh matahari, hal ini membuktikan bahwa daya yang diserap oleh solar cell dipengaruhi oleh kemiringan sudut solar cell serta dipengaruhi juga oleh besar kecilnya intensitas cahaya matahari dan pergerakan awan
KAJI EKSPERIMENTAL MESIN STIRLING TIPE β MENGGUNAKAN VARIASI BAHAN BAKAR BIOMASSA Putri, Fenoria; Arnoldi, Dwi; Seprianto, Dicky
AUSTENIT Vol 5, No 2 (2013): AUSTENIT 05022013
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (332.34 KB)

Abstract

Dengan  latar  belakang  semakin  menipisnya  cadangan  bahan  bakar  mineral, maka  tujuan  jangka  panjang  dari  penelitian  ini  adalah  memberikan  solusi alternatif untuk mendapatkan energi mekanik yang tidak bergantung dengan bahan bakar mineral. Target khusus yang ingin dicapai adalah sosialisasi pemakaian bahan bakar nabati (biomassa) yang bersifat tarbarui (renewable). Metode yang dikembangkan adalah pemanfaatan Energi kalor dari pembakaran Biomassa untuk menggerakkan mesin Stirling. Penelitian ini bersifat Induktif dengan metode Kaji Eksperimental. Penelitian dimulai dengan melakukan Rancang bangun satu unit prototipe mesin Stirling tipe β satu silinder dengan kapasitas 5000 cc, dilanjutkan dengan melakukan pengujian mesin. Prototipe sudah diujicobakan beroperasi dengan tiga jenis bahan bakar biomassa, yaitu: gas hasil fermentasi ampas tebu, gas hasil fermentasi sampah basah serta api hasil pembakaran serbuk kayu gergajian dengan hasil sebagai berikut :Gas hasil fermetasi ampas tebu, menghasilkan data-data: putaran optimum mesin 950 rpm, daya spsifik 456 Watt/kg b bakar dan efisiensi 23 %Gas  hasil  fermetasi  sampah     basah,  menghasilkan  data-data:  putaran optimum mesin 720 rpm, daya spsifik 405 Watt/kg b bakar dan efisiensi 21%Serbuk kayu gergajian, menghasilkan data-data: putaran optimum mesin 680 rpm, daya spsifik 324 Watt/kg b bakar dan efisiensi 21%
PENGARUH BESAR ARUS LISTRIK DAN PANJANG BUSUR API TERHADAP HASIL PENGELASAN. Putri, Fenoria
AUSTENIT Vol 1, No 02 (2009): AUSTENIT 01022009
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (618.826 KB)

Abstract

Definisi pengelasan menurut DIN (Deutsche Industrie Norman) adalah ikatan metalurgi pada sambungan logam atau logam paduan yang dilakukan dalam keadaan lumer atau cair. Dengan kata lain, las merupakan sambungan setempat dari beberapa batang logam dengan menggunakan energi panas. Mengelas merupakan salah satu cara menyambung logam dengan menggunakan panas. Salah satu cara menyambung logam selain dengan menggunakan las gas adalah dengan cara menggunakan las listrik, ini yang biasa disebut dengan las busur listrik atau umumnya disebut las listrik. Las listrik adalah suatu proses penyambungan logam dengan menggunakan tenaga listrik sebagai sumber panas dan elektroda sebagai bahan tambah. Penyalaan busur api dapat dilakukan dengan dua cara untuk pesawat las AC penyalaan busur api yang digunakan dengan cara menggoreskan elektroda pada benda kerja, sedangkan untuk mesin las DC, penyalaan yang digunakan dengan cara disentuhkan atau dihentakkan pada benda kerja Dalam memilih besarnya arus yang digunakan, tergantung pada besar kecilnya diameter elektroda dan jenis serta tipe elektroda yang digunakan, karena tiap-tiap elektroda memiliki ampere minimum dan maximum. Pada prakteknya dipilih ampera pertengahan atau rata. Jarak panjang pendeknya busur api sangat berpengaruh terhadap hasil pengelasan. Panjang busur (L) yang normal adalah kurang lebih sama dengan diameter (D) kawat inti elektroda. Bila panjang busur api tepat (L=D), maka cairan elektroda akan mengalir dan mengendap dengan baik, bila busur api terlalu panjang (L>D), maka timbul bagian-bagian yang berbentuk bola dari cairan elektroda, bila busur api terlalu pendek (L
ANALISA PENGARUH VARIASI KUAT ARUS DAN JARAK PENGELASAN TERHADAP NILAI KEKERASAN SAMBUNGAN LAS BAJA KARBON RENDAH DENGAN ELEKTRODA 6013 METODE ANAVA Putri, Fenoria
AUSTENIT Vol 4, No 01 (2012): AUSTENIT 04012012
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (617.203 KB)

Abstract

The process of connecting two or more pieces of metal using electricity as a heat source and the electrode material added as named by the electric arc welding. Welding of the worlds most widely used in industry today, this is due to the welding process has advantages when compared with the other connections are: less expensive, the process is relatively faster, lighter, and in more varied engineering and construction. The selection of the current strength and type of electrodes is one of the most important in the welding process, in particular electric arc welding. Materials used in this research process is a low carbon steel and to obtain the optimal results of data processing is done using the method ANAVA. Brinnel hardness testing method aims to determine the hardness of a material. Brinnel intended for testing materials that have hardness Brinnel to 400 HB. Penetration tool used is a hardened steel ball indenter with a diameter of 2.5 mm. From the results of research and testing conducted by using the current 70 A - 110 A with a distance of 1 mm seam and 2 mm, current 110 A with a distance of 1 mm seam which has a high hardness value is 174.5453 BHN. The greater the flow and the larger distance widened welding weldment is happening.
INOVASI PADA PENGEREMAN SEPEDA MOTOR KONVENSIONAL MENGGUNAKAN METODE ABS (ANTILOCKED BRAKE SYSTEM) Putri, Fenoria; Widagdo, Tri; Mardiana, Mardiana; Ginting, Muchtar
AUSTENIT Vol 10, No 1 (2018): AUSTENIT 10012018
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (852.929 KB)

Abstract

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh seringnya terjadi kecelakaan lalu-lintas, terutama pada pengoperasian sepeda motor. Salah satu factor penyebabnya adalah pada sistem pengereman. Ketika kendaraan harus berhenti mendadak karena sesuatu hal maka roda sepeda motor akan terkunci (locked), sehingga antara ban dan permukaan jalan akan terjadi gesekan kinetis yang berdampak pada hilangnya pengendalian sepeda motor. Penelitian ini memiliki tujuan umum untuk mendapatkan sistem pengereman sepeda motor yang lebih efektip, sehingga dapat meningkatkan keamanan bagi pengendara sepeda motor. Metode penelitian bersifat kaji eksperimental yang dimulai dengan rancang bangun komponen ABS (antilocked Brake System). Eksperimen dilakukan dengan cara mengoperasikan kendaraan bermotor manual pada kecepatan tertentu, selanjutnya kendaraan di rem kejut. Respon pengereman dilihat dari jarak tempuh kendaraan sampai dengan posisi berhenti. Perlakuan tersebut juga dilakukan pada sepeda motor yang menggunkan sistem ABS. Keberhasilan penggunaan sistem ABS dianalisis dengan cara membandingkan kedua data pengereman tersebut. Dari kegiatan rancang bangun pengereman ABS dan dilanjutkan dengan pengujian, dapat disimpulkan antara lain:-        Terjadi hubungan linier antara kecepatan dan jarak pengereman, baik untuk pengereman konvensional maupun pengereman ABS.-        Frekwnwbsi getaran optimum untuk pengereman ABS adalah fopt = 11,5 cps, kapasitor yang dipakai mempunyai spesifikasi C = 130 μF-        Pengereman ABS yang dikembangkan bersifat luwes (flexible), artinya dapat dimodifikasi sesuai dengan kebutuhan-        Komponen ABS murah hargya dan tersedia di berbagai toko suku cadang kendaraan bermotor-        Perangkat keras ABS mudah dalam perawata serta perbaikan jika terjadi kerusakan.
ANALISA PENGARUH SUDUT DAN WAKTU PENYEMPROTAN TERHADAP UJI KEKASARAN PERMUKAAN MATERIAL BAJA ST 50 PADA PROSES SANDBLASTING HB, Indra; Putri, Fenoria; Riawan, Dito
AUSTENIT Vol 10, No 2 (2018): AUSTENIT 10022018
Publisher : AUSTENIT

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (806.945 KB)

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui  pengaruh tekanan udara dan jarak nozzle terhadap kekasaran permukaan baja ST 50 setelah dilakukan proses sandblasting. Analisis ini menggunakan variabel independen yaitu tekanan udara dan jarak nozzle. Variabel dependennya adalah kekasaran permukaan. Sampel penelitian ini adalah baja ST 50. Pengumpulan data dilakukan dengan studi kepustakaan, wawancara, dan observasi. Metode statistik menggunakan Analisis Regresi Linear Berganda, dengan pengujian hipotesis uji statistik t. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa hubungan antara tekanan udara dan jarak nozzle dengan tingkat nilai kekasaran permukaan benda terdapat pengaruh yang signifikan. Kemampuan variabel tekanan udara dan jarak nozzle didalam mempengaruhi variabel rata-rata kekasaran sebesar 89,002%, sedangkan sisanya sebesar 10,998% dipengaruhi oleh faktor lain.